AL KHIDMAH ASEAN ADALAH TUNTUTAN

Spread the love

Ketika kali pertama Al Khidmah bertolak ke Yala, Thailand, 22 Maret 2012, Romo KH. Najib Zamzami mengutarakan sebuah cerita. Suatu ketika beliau bersama Hadratus Syaikh Achmad Asrori Al Ishaqy RA bersilaturrahim ke seorang Habib di Jakarta. Sang Habib menuturkan bahwa lantunan bacaan maulid dan dzikir Al Khidmah satu hari kelak akan berkumandang di tanah Thailand.

Cerita tersebut persis seperti diungkapkan oleh H. Hasanuddin, SH, Ketua Umum Pengurus Pusat Jama’ah Al Khidmah. 17 tahun yang lalu, tatkala Hadratus Syaikh RA masih sehat pernah dawuh supaya ada yang pergi ke Thailand. “Muridku ada di sana”, kata Hadratus Syaikh RA. Lima tahun yang lalu, kata Bung Has, dawuh tersebut diulangi lagi oleh Hadratus Syaikh RA, “Murid-muridku besuk terbanyak dari Thailand”. Sayangnya, hingga Hadratus Syaikh RA wafat pada tahun 2009, kesempatan untuk menunaikan dawuh Beliau RA belum sempat terlaksana.

Atas dasar itulah, Bung Has bersama segenap rombongan PP Al Khidmah dan Al Khidmah Kampus, pada tanggal 11-14 Desember 2012, melakukan serangkaian silaturrahim ke Thailand. Tujuannya tidak lain hanyalah untuk melunasi dawuh Hadratusy Syaikh RA tersebut. Kedatangan PP Al Khidmah di Thailand juga sebagai bagian dari tindak lanjut koordinasi serta berbagi semangat kepada pengurus baru Jama’ah Al Khidmah Thailand. Seperti diketahui bersama, pada tanggal 31 Mei 2012, telah dipilih Ustadz Ali Mateh sebagai Ketua dan Siti Hadijah, M.Pd, sebagai Sekretaris Pengurus Jama’ah Al Khidmah Thailand.

Ustadz Ali adalah penduduk asli Thailand dan saat ini menjadi Pimpinan Direksi Madrasah Darulhuda Witya, Yala, Thailand. Sedangkan Siti Hadijah juga merupakan warga asli Thailand dan sempat menempuh pendidikan S2 Jurusan Bahasa Indonesia di Malang. Itulah sebabnya di belakang namanya terdapat gelar Magister Pendidikan (M.Pd). Rombongan PP Al Khidmah sangat terbantu dalam hal komunikasi dengan penduduk asli Thailand karena Ibu Hadijah. Nyaris hampir sebagian besar santri dan pelajar Darulhuda tidak mengerti Bahasa Melayu. Kalaupun ada yang paham Bahasa Melayu, mereka adalah para guru dan pendidik Darulhuda. Untungnya sebagian guru ada yang mahir berbahasa Inggris. Sehingga komunikasi terkadang menggunakan Bahasa Inggris.

Kampus Darul Huda terletak di Yala, Thailand Selatan. Yala berbatasan dengan Rantau Panjang, Kelantan, Malaysia. Yala dan Kelantan dipisahkan oleh Kota Narathiwat. Selain Narathiwat, Pattani, dan sebagian Songkhla, hampir 80 persen populasi penduduk Yala (kurang lebih 5 persen dari jumlah penduduk Thailand) dihuni oleh warga muslim berpaham Sunni. Kampus Darulhuda adalah pesantren plus sekolah umum terbesar di Thailand Selatan. Darulhuda saat ini memiliki 6.235 pelajar mulai dari tingkat Taman Anak sampai Sekolah Menengah Atas. Sementara di Pesantren Darulhuda terdapat 4.360 santri dari berbagai daerah di Thailand.

Kamis, 13 Desember 2012, jam 10 siang, rombongan memasuki pemeriksaan imigrasi Rantau Panjang, Kelantan. Tiga mobil berplat Malaysia ditinggal di parkiran Rantau Panjang. Ustadz Ali Mateh dan Ibu Hadijah sudah menunggu di pintu masuk tanah Thailand. Setelah melewati proses imigrasi di depan Sungai Golok, rombongan PP Al Khidmah, menggunakan 3 mobil berplat Thailand, berangkat menuju Kampus Darulhuda, Yala, Thailand.

Perjalanan dari Sungai Golok ke Yala kurang lebih membutuhan satu setengah jam. Di sepanjang jalan, masih seperti Maret lalu, hampir di setiap 5-10 kilometer, bertemu pos penjagaan tentara. Namun yang membuat hati berdegup kencang adalah, dua hari sebelumnya, baru saja ada penembakan dua guru Budha di sebuah sekolah di Yala. Ditengarahi pembunuhnya adalah kelompok militansi muslim “Mujahidin”. Oleh karena peristiwa itulah pada dua hari itu, 12-13 Desember 2012, sekolah-sekolah di Yala diliburkan oleh Pemerintah Thailand. Akhirnya pun, dua Ustadz (Ustadz Yahya dan Ustadz Mukhlisin) yang sedianya akan ditinggal di Yala untuk melatih Hadrah dan Maulid, dibatalkan karena alasan keselamatan.

Betapapun suasana Yala saat itu sangatlah mencekam, keyakinan rombongan untuk menjalankan dawuh Hadratus Syaikh RA tetap mengalahkan segalanya. Siang itu juga, rombongan PP Al Khidmah diajak oleh Ustadz Ali ke Sekolah Menengah Darulhuda. Di sekolah ini telah menunggu ratusan santri dan pelajar. Di sebuah ruangan tua yang terhampar lebar, mereka menunggu kami untuk bersama-sama melantunkan bacaan dzikir dan maulid sebagai syi’ar.

Hadlarah majlis dzikir dipimpin oleh KH. Hakam dan bacaan istighosah dan doa dipimpin oleh Ustadz KH. Abdur Rosyid. Kemudian dilanjutkan dengan pembacaan Maulidurrasulullah SAW oleh Ustadz Mujib, Ustadz Yahya, Ustadz Mukhlisin, dan Ustadz Muzammil. Meski sebagian besar santri dan pelajar tampak belum sepenuhnya menguasai bacaan-bacaan yang dibawakan oleh para Ustadz, namun mereka tampak mengikuti majlis dzikir itu dengan khusuk.

Ada satu peristiwa unik yang membuat rombongan takjub. Menurut penuturan salah satu guru Darulhuda, sudah sejak lama daerah Yala tidak turun hujan. Namun, anehnya, saat dzikir mulai dilantunkan, air dari langit berjatuhan tanpa henti hingga majlis usai. Tanah Yala yang mulanya tampak gersang itu kembali sejuk oleh basahnya rintikan air hujan. Sungguh satu fenomena yang mengejutkan sekaligus membuat rombongan semakin yakin bahwa Hadratus Syaikh RA hadir, membawa dan menjadi “oasis” di tengah-tengah mereka. WalLahu a’lam bissowab.

Seusai dzikir, Dr. Afif Hasbullah, Rektor Universitas Islam Darul Ulum (UNISDA) Lamongan, dalam sambutannya, memberi kabar gembira kepada para santri dan pelajar Darulhuda. UNISDA siap memberi kesempatan beasiswa pendidikan S1 maupun S2 bagi lulusan Sekolah Menengah Atas Darulhuda. Hal yang sama disampaikan oleh Prof. Dr. Mahmutarom HR, SH, MH, bahwa Universitas Wahid Hasyim (UNWAHAS) juga membuka kesempatan beasiswa pendidikan bagi para siswa maupun pendidik untuk menempuh pendidikan S1 dan S2. Jumlah beasiswa yang ditawarkan oleh kedua kampus tersebut tidak main-main. Khusus untuk alumni Darulhuda, dua kampus tersebut menawarkan sedikitnya 100 beasiswa studi meliputi gratis biaya SPP dan living cost.

H. Hasanuddin, SH., dalam sambutannya mewakili Jama’ah Al Khidmah dan PP Al Fithrah, juga menawarkan beasiswa pendidikan bagi anak didik usia SD hingga SMA di Semarang dan beasiswamondok di PP Al Fithrah Kedinding Surabaya. Beasiswa untuk usia SD-SMA, menurut Bung Has, dianggap sangat penting dan strategis sebagai bagian dari ikhtiar untuk menularkan nilai-nilai pendidikan ala Hadratus Syaikh RA kepada generasi muda Thailand.

Seusai acara di Darulhuda, sekitar pukul 16.15 sore, rombongan PP Al Khidmah, dipandu oleh Ustadz Ali, diajak ke Islamic Institute, Mayo Pattani, Thailand Selatan. Islamic Institute merupakan sekolah rintisan Tuan Abdul Kadir Sohsubah dan didirikan pada tahun 1967. Selain sebagai Pesantren, Islamic Institute juga memiliki Sekolah Menengah Bawah dan Sekolah Menengah Atas. Total seluruh santri dan pelajar Islamic Institute kurang lebih 1500 orang. Sebagian santri dan pelajar Islamic Institute adalah warga penduduk sekitar sekolah. Saat ini Islamic Institute dipimpin oleh Tuan Haji Isma’il bin Tuan Abdul Kadir Sohsubah. Baik Islamic Institute Pattani maupun Darulhuda Yala merupakan sama-sama rintisan Tuan Abdul Kadir Sohsubah. Sehingga kalau dirunut garis nasabnya, pengasuh kedua kampus besar tersebut bersambungan darah.

Meskipun PP Al Khidmah baru kali pertama datang ke Pattani, namun sambutan dari civitas akademika Kampus Islamic Institute sangatlah hangat, ramah dan menyentuh. Tuan Haji Isma’il mengungkapkan rasa senang dan terima kasih kepada rombongan Al Khidmah Indonesia dan Malaysia atas perkenannya hadir di Islamic Institute. Selain bercerita tentang sejarah Tuan Abdul Kadir Sohsubah yang sangat legendaris di Thailand dan Malaysia, Tuan Haji Isma’il juga berharap tali silaturrahim antara Islamic Institute dan Jama’ah Al Khidmah terus terjalin selama-lamanya.

Sebagaimana di Darulhuda, Dr. Afif dan Prof. Mahmutarom, dalam sambutannya, kembali menawarkan kesempatan beasiswa pendidikan S1 maupun S2 baik di UNISDA maupun UNWAHAS kepada alumni dan pendidik Islamic Institute. Demikian pula Bung Has, dalam sambutannya, mengungkapkan bahwa pertemuan ini sangatlah baik karena ada keinginan bersama untuk menumbuhkan kecintaan kepada guru, orangtua dan wali-wali Allah SWT. Oleh karena itulah di tengah sambutannya, Bung Has mengajak semua yang hadir untuk mengirimkan hadiah Al Fatihah kepada Tuan Abdul Kadir Sohsubah.

Lepas Sholat Subuh, 14 Desember 2012, PP Al Khidmah didampingi para ulama’ Yala dan Pattani, berkesempatan sowan ziarah ke makan Dato’ Pasei. Tak seperti makam para Wali di Tanah Jawa, makam Dato’ Pasei tampak tak diistimewakan dan kurang terurus. Diceritakan oleh Bung Has, dahulu Hadratusy Syaikh RA pernah pula ‘menemukan’ makam Syaikh Jalaluddin Akbar dan Syaikh Ibrahim Samarqandy. Kondisi makamnya juga kurang terurus, persis seperti makam Dato’ Pasei. Kendati pun begitu, ziarah tetap dilaksanakan, karena Bung Has suatu ketika pernah menerima dawuh dari Hadratusy Syaikh RA bahwa Hadratus Syaikh RA adalah keturunan Samudera Pasai. Barangkali karena itulah Hadratusy Syaikh RA pernah dawuh bahwa “Murid-muridku besuk terbanyak dari Thailand”. Wallahu a’lam bish showab.

Ketika bacaan dzikir diucapkan, ada satu keanehan. Meskipun memiliki nama berbeda, lantunanSholawat Husainiyyah—sebagaimana dihimpun oleh Hadratus Syaikh RA—dibaca oleh sebagian penziarah di makam Dato’ Pasei. Hal tersebut semakin menambah keheranan Bung Has dan rombongan Al Khidmah, “Apakah betul Dato’ Pasei yang bersemayam di makam inilah ‘kakek’ Hadratusy Syaikh RA itu?”. Pattani memang kota tua yang penuh legenda. Sampai-sampai, diceritakan oleh Ustadz Ali, Ayah pejuang Indonesia, Cut Nyak Dien, konon, juga berasal dari kota ini. Wallahu a’lam bissowab.

Setelah menginap satu malam di Yala, dan berziarah ke Makam Dato’ Pasei, rombongan PP Al Khidmah kembali ke Kampus Darulhuda untuk perpisahan. Tanpa kami duga, pada hari itu merupakan perayaan hari Asyura’. Jika di Indonesia perayaan Asyura’ jatuh pada awal atau tengah bulan, maka di Darulhuda, perayaan Asyura’ jatuh pada akhir bulan.

Para santri dan pelajar tampak bersemangat bergotong royong “mengkacaukan” (mengaduk) Bubur Asyura’ di atas kawah-kawah besar. Gerimis hujan siang itu tidak kuasa menyurutkan semangat para santri dan pelajar. Mata mereka berbinar-binar. Tak terasa, rombongan Al Khidmah telah menyatu bersama mereka, mengaduk bubur Asyura’, sambil tertawa, berbagi ceria, berbagi sukacita, berbagi cerita.

Sembari menjinjing segepok bubur Asyura’, rombongan PP Al Khidmah Indonesia dan Malaysia kembali dari Yala menuju Kuala Lumpur. Rombongan itu pulang dengan membawa seonggok semangat baru, yang diamini bersama-sama di sepanjang perjalanan, bahwa Al Khidmah ASEAN adalah tuntutan zaman. [*]