AlFithrah

Beriman dengan Hebat seperti Sayyidah Khadijah Al-Kubra

Ahad, 26 April 2026 — Suasana pagi di lingkungan pondok pesantren tampak khidmat. Para santri dengan jubah putih telah memenuhi masjid sejak pagi hari. Jamaah dari berbagai daerah, termasuk puluhan rombongan dari Jawa Tengah, sudah hadir bahkan sejak malam sebelumnya. Tim maktab pun telah menyiapkan penginapan guna menyambut kedatangan mereka.

Pada Ahad pagi itu, pondok pesantren menyelenggarakan rangkaian kegiatan Majelis Dzikir, Halal bi Halal, dan Haul Sayyidah Khadijah Al-Kubra. Acara dimulai pukul 07.00 WIB dengan pembacaan tawasul, istighotsah, dan Surat Yasin.

Kegiatan dilanjutkan dengan pembacaan kitab Al-Busyra fi Manaqib Sayyidah Khadijah Al-Kubra karya Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki. Setelah itu, para jamaah bersama-sama melantunkan nasyid, tahlil, serta maulid Adh-Dhiya’ al-Lami’ karya Habib Umar bin Hafidz.

Dalam kesempatan tersebut juga diumumkan beberapa agenda Haul Akbar yang akan diselenggarakan oleh Jamaah Al Khidmah dalam waktu dekat, di antaranya: Haul Akbar Bawean Ahad pagi 7 Mei 2026, Haul Akbar Karimun Jawa pada Sabtu malam Ahad 9 Mei 2026, Haul Akbar Bali pada Ahad pagi 17 Mei, Haul Akbar Lamongan pada Ahad pagi 31 Mei 2026, Haul Akbar Tegal Raya pada Sabtu malam Ahad 23 Mei 2026, dan Haul Akbar Makkah dan Umrah bersama Jamaah Al Khidmah, Ukhsafi Copler Community, Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah dan Keluaga Ndalem pada bulan November 2026.

Mengenal Sayyidah Khadijah Al-Kubra

Khadijah binti Khuwailid adalah sosok wanita agung dalam sejarah Islam. Beliau lahir sekitar tahun 555 M di Makkah, dari keluarga terpandang Quraisy. Ayahnya adalah Khuwailid bin Asad, seorang saudagar terhormat.

Sejak muda, Sayyidah Khadijah dikenal sebagai perempuan yang cerdas, mulia, dan sukses dalam bidang perdagangan. Karena kemuliaannya, beliau mendapat gelar “Ath-Thahirah” (wanita suci).

Kisah pernikahan beliau dengan Nabi Muhammad bermula ketika Sayyidah Khadijah mempercayakan dagangannya kepada Rasulullah muda. Kejujuran dan akhlak beliau membuat Sayyidah Khadijah terkesan, hingga akhirnya beliau mengutus perantara untuk melamar Rasulullah.

Pernikahan ini menjadi salah satu kisah rumah tangga paling mulia dalam Islam. Dari pernikahan tersebut lahirlah keturunan yang penuh keberkahan, termasuk Fatimah az-Zahra.

Sayyidah Khadijah juga adalah orang pertama yang beriman kepada Rasulullah ﷺ. Ketika wahyu pertama turun (QS. Al-Muzzammil dan Al-Muddatstsir), beliaulah yang pertama menenangkan dan menguatkan Rasulullah.

Beliau mendampingi dakwah dengan penuh pengorbanan, baik secara moral maupun materi. Seluruh hartanya digunakan untuk mendukung perjuangan Islam.

Meneladani Keimanan Sayyidah Khadijah

Dalam mauidzah hasanahnya, Habib Musthofa bin Idrus Al-Khirid dari Malang menegaskan bahwa Sayyidah Khadijah adalah teladan utama, khususnya bagi kaum perempuan.

Beliau adalah sosok Istri yang setia dan penuh cinta, Pendamping dakwah yang total, Sosok dengan akal yang sempurna, Wanita yang namanya terukir di hati Rasulullah ﷺ.

Ketika ada yang membandingkan dengan istri lain, Rasulullah tetap memuliakan Khadijah, menunjukkan betapa dalam cinta beliau kepadanya. Rasulullah SAW pernah dawuh:

مَا أَبْدَلَنِي اللَّهُ خَيْراً مِنهَا، لَقَدْ آمَنَت بِي إِذ كَفَرَ النَّاسُ، وَصَدَّقَتْنِي إِذْ كَذَّبَنِي النَّاسُ، وَآوَتِنِي إِذْ رَفَضَنِي النَّاسُ، وَوَاسَتَنِي إِذْ حَرَمَنِي النَّاسُ، وَرَزَقَنِي أَوْلَادَهَا إِذْ حَرَمَنِي أولادَ النِّسَاء

“Allah tidak memberikan ganti kepadaku wanita yang lebih baik darinya.Sungguh, dia beriman kepadaku ketika orang-orang mengingkariku.Ia membenarkanku ketika orang-orang mendustakanku.Ia melindungiku ketika orang-orang menolakku.Ia mengorbankan hartanya untukku ketika orang-orang menghalangiku. Dan Allah memberiku anak darinya ketika aku tidak mendapatkan anak dari wanita-wanita yang lain.”

Ciri-Ciri Orang Beriman

Terkait sifat dan ciri-ciri orang mukmin, Sayyidah Khadijah pernah menyampaikan dawuhnya Rasulullah SAW:

إِنَّ الْمُؤْمِنَ تَرَاهُ قُوَّةً فِي دِيْنِ، وَحَوْماً فِي لِيْنٍ، وَإِيْمَاناً فِي يَقِيْنٍ، وَحِرْصًا فِي عِلْمٍ، وَعِلْماً فِيْ حِلْمٍ، وَشَفَقَةً فِي مَحَبَّة، وَبِرًّا فِي اِسْتِقَامَةً، وَقَصْدًا فٍِي غِنَى، وَتَجَمُّلاً فِي فَاقَة، وَتَحَرَّجاً عَنْ طَمَعٍ ، وَكَسَباً فِي حَلَالٍ، وَنَشَاطًا فِي هُدَى، وَنَهِياً عَنْ شَهْوَةٍ، وَرَحْمَةً لِلْمَجْهُوْدٍ

Sesungguhnya seorang mukmin itu engkau lihat sebagai sosok yang kuat dalam agamanya, teguh namun tetap lembut, beriman dengan mantap, bersemangat dalam mencari ilmu, berilmu dengan kesabaran, penuh kasih dalam cinta, penuh kebaikan dalam istiqamah; sederhana dalam kekayaan, menjaga kehormatan saat kekurangan, menjauhi ketamakan, mencari rezeki dengan yang halal, bersemangat dalam petunjuk, menahan syahwat, dan mengasihi orang yang kelelahan.

إِنَّ المُؤْمِنَ لَا يَظْلِمُ مَن يُبْغِضُ،وَلَا يَأْثَمُ فِيْمَنْ يُحِبُّ، وَلَا يُضَيِّعُ مَا اسْتَودَعَ ، وَلَا يَحْسُدُ وَلَا يَطْعَنُ فِي الزَّلَازِلِ وَقُوْراً، فِي الرَّخَاءِ شَكُوْراً

Sungguh seorang mukmin itu tidak berbuat zalim kepada orang yang dibencinya, tidak berdosa dalam memperlakukan orang yang dicintainya, tidak mengabaikan amanah yang dititipkan kepadanya, tidak dengki, dan tidak mencela.Dalam masa goncangan ia tetap tenang; dalam masa kelapangan ia penuh syukur.”

Seluruh sifat ini tercermin dalam diri Sayyidah Khadijah Al-Kubra.

Pengorbanan Total untuk Dakwah

Sayyidah Khadijah mengorbankan seluruh hartanya demi perjuangan Rasulullah ﷺ. Bahkan disebutkan dalam kisah-kisah manaqib, di akhir hayatnya beliau tidak memiliki apa-apa lagi selain keimanan yang kokoh.

Keteguhan iman inilah yang menjadikan beliau sebagai salah satu wanita terbaik sepanjang masa.

Haul Sayyidah Khadijah Al-Kubra bukan sekadar mengenang sejarah, tetapi menjadi momentum untuk meneladani keimanan, kesetiaan, dan pengorbanannya.

“Sayyidah Khadijah yang sekarang kita hauli, tidak lain tujuannya adalah agar perempuan di lingkungan kita bisa meneladani beliau. (Majlis Haul) Ini adalah jalan untuk mencintai Rasulullah SAW dan keluarga Rasulullah SAW serta para sahabat. Kita berharap Mudah-mudahan perempuan bisa mengikuti jejaknya Sayyidah Khadijah” jelas Habib Musthofa Al-Khirid.

Semoga kita semua diberikan kekuatan untuk meneladani beliau dan mendapatkan keberkahan, serta ditutup hidup dengan husnul khatimah. Aamiin.

Kunjungan Rombongan Masjid Ar Raudhah Malaysia ke Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya

Pada hari Senin, 13 April 2026, Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah menerima kunjungan istimewa dari rombongan jamaah asal Malaysia. Kegiatan ini menjadi momentum penting dalam mempererat ukhuwah Islamiyah lintas negara sekaligus memperkuat nilai silaturahim antar lembaga keagamaan.

Rombongan dari Masjid Ar Raudhah Kelantan

Rombongan yang dipimpin oleh Asep Saepudin, pengurus perjalanan wisata religi dari Jakarta, membawa sebanyak 45 peserta yang berasal dari Masjid Ar Raudhah Lundang Kota Bharu Kelantan Malaysia. Adapun komposisi peserta terdiri dari 30 jamaah putra dan 15 jamaah putri.

Kunjungan ini bertujuan untuk belajar langsung dari sistem pendidikan pesantren, serta mengambil nilai-nilai positif yang dapat diterapkan di lingkungan mereka di Malaysia.

Waktu dan Tempat Pelaksanaan

Kegiatan dilaksanakan pada hari Senin, 13 April 2026 mulai pukul 13.00 – 14.00 WIB, bertempat di Pendopo Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya.

Acara berlangsung dengan khidmat dan penuh kehangatan, dengan susunan kegiatan dibuka dengan Tawasul dan Istighosah oleh Ust. Ilyas Rahman, S.Ud dilanjutkan Sambutan Pengurus Pondok oleh Ust. Dr. Fathur Rozi, M.H.I.

Sambutan Tamu disampaikan oleh Ust. Saibon yang dilanjutkan dengan Sesi Tanya Jawab serta diakhiri Penutup dan Doa oleh Ust. Mustaqim, M.Fil.I.

Silaturahim Ke Jawa

Rombongan dari Masjid Ar Raudhah Lundang Kota Bharu Kelantan Malaysia ini menempuh perjalanan selama 11 hari sejak 11 hingga 22 April 2026 dengan tema kegiatan “Jelajah Jawa”. Semoga perjalanan silaturrahmi mereka mendapatkan kemudahan rezeki, kesehatan dan panjang umur, sebagaimana janji Rasulullah SAW:

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

“Barang siapa ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung silaturahmi.” (HR. Sahih Bukhari No. 5986 dan HR. Sahih Muslim No. 2557)

Kunjungan ini juga diharapkan dapat menjadi jembatan kolaborasi antar pesantren dan lembaga Islam di Asia Tenggara, serta memperkuat semangat berbagi ilmu, pengalaman, dan nilai-nilai keislaman.

Pelajaran dari Apel Kanjeng Syaikh

Kanjeng Syaikh adalah julukan daripada Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani. Beliau adalah sosok ulama yang namanya tidak asing di telinga umat Islam Nusantara. Kisah tentangnya dibaca berulang melalui kegiatan majlis manaqib yang menceritakan kisah hidupnya.

Di antara kitab manaqib Kanjeng Syaikh yang tersebar luas di Indonesia adalah Kitab Al-Lujayn al-Dani karya Syaikh Abdul Karim Al-Barzanjy yang juga merupakan penulis kitab Maulid Al-Barzanjy.

Kitab Al-Lujayn Al-Dani ini kemudian dihimpun oleh Hadratusy Syaikh KH. Ahmad Asrori Al-Ishaqy ke dalam satu kitab yang berisikan runtutan Tawasul, Istighotsah, Yasin, Manaqib, Tahlil, Nasyid dan doa-doa yang biasa diamalkan oleh para Pengikut Tarekat Qodiriyah wan Naqsyabandiyah Al-Utsmaniyah.

Di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya, kegiatan manaqib diselenggarakan setiap Ahad Awal atau Ahad malam pertama bulan hijriyah. Ada kisah menarik tentang apel Kanjeng Syaikh. Berikut kisah lengkapnya.

Khalifah sowan Kanjeng Syaikh

Khalifah Abul Mudhoffar Yusuf (lahir 549 H / 1154 M.) adalah seorang keturunan raja yang hidup semasa dengan Kenjeng Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani (w. 561 H / 1166 M).

Beliau dikhabarkan sering sowan kepada Kanjeng Syaikh. Bukan jarang, beliau memaksa menunggu meskipun Kanjeng Syaikh tidak berkenan menemuinya. Dalam kunjungannya itu, Khalifah Abul Mudhoffar sering membawa buah tangan untuk diberikan kepada Kanjeng Syaikh.

أُرِيدُ شَيْاً مِنَ الْكَرَامَاتِ لِيَطْمَئِنَّ قَلْبِي

“Saya menginginkan karomah yang memenangkan hatiku” ungkap Khalifah Abul Mudhoffar.

“Apa yang kamu kehendaki” tanya Kanjeng Syaikh memperjelas.

Apel Keramat

تُفَاحًا مِنَ الغَيْبِ وَلَمْ يَكُنْ أَوَّانُهُ بِالْعِرَاقِ

“Sebuah apel dari alam gaib yang bentuknya tidak ada Irak” mantap Abul Mudhoffar.

Kanjeng Syaikh pun mengangkat tangannya ke langit dan tiba-tiba ada dua apel dalam genggamannya.

Kanjeng Syaikh pun memberikan salah satunya kepada Abul Mudhoffar.

Kanjeng Syaikh membelah apelnya dan ternampak putih bersih serta mengeluarkan bau misk apel tersebut. Abul Mudhoffar membelah apel di tangannya dan tampak busuk dipenuhi ulat.

يَا أَبَا الْمُطَفِّرِ هَذِهِ لَمَسَتْهَا يَدُ الظَّالِمِ فَدَوَّدَتْ كَمَا تَرَى وَهْذِهِ لَمَسَتْهَا يَدُ الْوِلَايَةِ فَطَابَتْ

“Yaa Abul Mudhoffar. Demikianlah apel yang dipegang oleh orang dalim, maka berulat sebagaimana Engkau lihat. Sedang apel yang ada di tangan kewalian ‘yadul wilayah’ akan menjadi bersih dan baik” jelas Kanjeng Syaikh.

Kesimpulan

Pisau di tangan orang yang baik akan menjadi peralatan pemenuhan kebutuhan yang kaya akan kemanfaatan.

Sebaliknya, pisau di tangan orang jahat akan mendatangkan kerugian dan mudarat. Wakadzalika al-waqtu

الوَقْتُ كَالسَّيْفِ إِنْ لَمْ تَقْطَعْهُ قَطَعَكَ

Waktu adalah seperti pisau. Jika kamu tidak menggunakannya untuk memotong, ia yang akan memotong mu.

Ada beberapa nama khalifah (raja) yang pernah semasa dengan Kanjeng Syaikh. Sebut ada Al-Muqtafi, memerintah: 530–555 H dan Al-Mustanjid, memerintah: 555–566 H. Tapi keduanya tidak meyakinkan sebagai objek cerita dalam kisah di atas, mengingat di akhir cerita Kanjeng Syaikh menyebut nama Yaa Abul Mudhoffar.

Kebaikan itu cahaya. Ia menyinari dan membuat bahagia sekitarnya.

Sebaliknya, kezaliman adalah kegelapan. Setiap apa yang ada di tangan kezaliman akan menjadi keburukan yang mematikan.

أَسْئَلُكَ بِجَاهِ الْجُدُودِ * وَالِي يُقِيمُ الْحُدُودَ

فِيْنَا وَيَكْفِي الْحَسُوْدَ * وَيَدْفَعُ الظَّالِمِينَ

As`aluka bijâhil-judûd(i) wâlî yuqîmul-hudûd(a)

Fînâ fayakfil-hasûd(a) wa yadfa’udh-dhâlimîn(a)

Kepada-Mu aku memohon dengan sunguh seorang pemimpin yang menegakkan batas-batas Di tengah kami, batas-batas yang mencegah orang-orang dengki dan membasmi orang-orang zalim.

Aamiin

Halal Bihalal Santri dan Asatidz Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah: Mengawali Hari Baik dengan Keberkahan Ilmu

Surabaya, 1 April 2026 — Setelah menikmati liburan selama satu bulan penuh di rumah masing-masing pada bulan Ramadhan dan Idul Fitri, para santri akhirnya kembali ke Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya pada Senin-Selasa, 30-31 Maret 2026. Hari ini mereka mengikuti kegiatan Halal Bihalal bersama seluruh jajaran Asatidz-asatidzah Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah. Momentum ini menjadi awal yang penuh keberkahan untuk memulai kembali perjalanan menuntut ilmu di tahun pelajaran berikutnya.

Mengawali Kegiatan di Hari Rabu: Hari yang Diberkahi dalam Tradisi Keilmuan

Dalam tradisi pesantren, pemilihan hari bukan sekadar kebiasaan, tetapi sarat nilai. Hari Rabu adalah hari baik untuk memulai suatu pekerjaan, sebagaimana disebutkan dalam Kitab Ta’limul Muta’allim:

مَا مِنْ شَيْئٍ بُدِئَ يَوْمَ الْأَرْبِعَاءِ إِلَّا وَقَدْ تَمَّ

“Tiada sesuatu yang dimulai pada hari Rabu kecuali akan selesai dengan sempurna.”

Tradisi keberkahan ini menjadi alasan mengapa kegiatan halal bihalal ini digelar pada hari Rabu, 1 April 2026, dengan harapan seluruh aktivitas pendidikan di tahun ini berjalan lancar dan paripurna.

Acara halal bihalal dimulai pukul 07.30 WIB, dibuka dengan rangkaian wadhifah yang dipimpin oleh jajaran asatidz sesepuh Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah. Tawasul oleh Ust. H. Khoirudin, S.Ud, Istighotsah oleh Ust. H. Moh. Sholeh, S.Ud, Maulid fi Hubby oleh Ust. H. Hadori, S.Ud, Doa fi Hubby oleh Ust. H. Lukman Bahrowi, S.Ud dan Ilahi Ya Karim oleh Ust. H. Ali, S.Ud.

Rangkaian ini menjadi penguat spiritual bagi seluruh santri sebelum memasuki masa belajar berikutnya.

Sambutan Kepala Pondok: Aturan untuk Mengawal Kesuksesan

Dalam sambutannya, Ust. Nashirudin, M.Pd selaku kepala pondok menyampaikan selamat datang kepada seluruh santri setelah masa liburan. Beliau juga memberikan apresiasi atas ketaatan santri terhadap aturan-aturan pondok.

“Aturan-aturan pondok itu dibuat untuk mengawal kita agar menjadi pribadi yang baik,” jelas Ust. Nashir.

Beliau juga menyampaikan permohonan maaf atas segala kekurangan yang terjadi selama ini, disertai doa:

جَعَلَنَا اللهُ وَإِيَّاكُمْ مِنَ الْعَائِدِيْنَ وَالْفَائِزِيْنَ وَالْمَقْبُوْلِيْنَ كُلُّ عَامٍ وَأَنْتُمْ بِخَيْرٍ

Semoga Allah menjadikan kami dan kalian semua termasuk golongan orang-orang yang kembali fitrah, orang-orang yang bahagia, diterima amal ibadahnya. Setiap tahun dalam keadaan baik.

Nasihat Sesepuh Pondok: Mondok Ibarat Menanam

Arahan dan nasihat kemudian disampaikan oleh sesepuh dan penasehat pondok, diwakili oleh Ust. H. Khoirudin, S.Ud. Beliau mengingatkan pentingnya kesabaran dan konsistensi dalam menuntut ilmu.

Beliau mengutip dawuh Hadratusy Syaikh KH. Ahmad Asrori Al-Ishaqi:

“Tolong sampaikan ke santri-santri. Wong mondok iku podo karo nandur.”

(Menjadi santri itu seperti menanam—butuh kesabaran hingga berbuah.)

Beliau juga menegaskan salah satu kunci sukses belajar yang tercantum dalam Ta’limul Muta’allim, yaitu irsyadu ustadz—mendapatkan bimbingan dan doa dari guru, bukan sekadar menerima pelajaran.

Penutup dengan Doa dan Mushafahah

Acara ditutup dengan doa bihaqqil Fatihah oleh Ust. Mustaqim, M.Fil.I. Setelah itu seluruh santri — baik putra maupun putri — melakukan mushafahah dengan para asatidz.

Kegiatan halal bihalal diikuti oleh seluruh unit pendidikan santri mukim di bawah naungan Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah. Meliputi PDF Wustha Al Fithrah, PDF Ulya Al Fithrah, Ma’had Aly Al Fithrah dan MDTJ Al Fithrah Surabaya

Halal bihalal sendiri identik dengan saling memaafkan dan bersalaman (mushafahah). Dalam sebuah hadis riwayat Abu Dawud disebutkan:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَلْتَقِيَانِ فَيَتَصَافَحَانِ إلاَّ غُفِرَ لَهُمَا قَبْلَ أنْ يَتَفَرَّقَا

“Tidaklah dua orang muslim bertemu lalu saling bersalaman, kecuali dosa-dosa keduanya diampuni sebelum mereka berpisah.”

Hadis ini menjadi dasar kuatnya tradisi mushafahah di lingkungan pesantren.

Kegiatan halal bihalal ini bukan sekadar formalitas tahunan, tetapi momentum menguatkan ukhuwah, membersihkan hati, dan memulai ikhtiar menuntut ilmu dengan semangat baru. Semoga seluruh aktivitas pendidikan di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah pada tahun ini senantiasa diberkahi dan disempurnakan oleh Allah SWT.

Rapat Koordinasi Guru PDF Ulya Al Fithrah: Menguatkan Tafaqqquh Fiddin dan Penyesuaian Kurikulum

Dalam rangka mengawali kembali kegiatan belajar mengajar pasca liburan Idul Fitri serta menyambut perubahan kalender pendidikan dari Hijriyah ke Masehi, Pendidikan Diniyah Formal (PDF) Ulya Al Fithrah Surabaya menggelar rapat koordinasi bagi seluruh ustadz dan ustadzah pada Selasa, 31 Maret 2026 bertempat di Pendopo.

Kegiatan ini menjadi momentum penting bagi lembaga dalam memperkuat kembali komitmen mencetak generasi tafaqquh fiddin, yaitu para pelajar yang mendalami ilmu agama secara utuh, mendalam, dan berkelanjutan. Dengan perubahan kalender dan dinamika pembelajaran modern, diperlukan penyusunan ulang strategi pembelajaran agar tetap selaras dengan visi pendidikan pesantren.

Acara dibuka dengan bacaan tawassul Al-Fatihah, dilanjutkan istighotsah dan Sholawat Fi Hubbi, sebagai bentuk permohonan keberkahan kepada Allah SWT agar rapat berjalan lancar dan membawa maslahat bagi lembaga. Dalam sesi ini dipandu beberapa asatidz sepuh. Tampak hadir Ust. Dr. H. Abdur Rosyid, M.Fil.I, Ust. H. Zainul Arif, S.Ud, Ust. H. Moh. Sholeh, S.Ud, Ust. H. Khoirudin, S.Ud, Ust. H. Ridwan, S.Ud dan asatid lainnya.

Apresiasi atas dedikasi

Dalam sambutannya, Kepala Pendidikan Diniyah Formal Ulya Al Fithrah, H. Nasiruddin, S.Pd., M.M., menekankan pentingnya ketepatan administrasi melalui sosialisasi jurnal mengajar dan absensi, serta perlunya menyesuaikan materi ajar dengan kalender pendidikan baru. Ini menjadi bagian dari peningkatan kualitas layanan pendidikan sekaligus bagian dari upaya menjaga kesinambungan belajar santri.

“Berdasarkan hasil penilaian assesor kemarin, kita (PDF Ulya Al Fithrah, red.) sudah mendapatkan nilai akreditasi A. Tapi ada satu yang kurang, berdasarkan saran yang disampaikan oleh salah seorang assesor yang merupakan dzurriyah Pondok Lirboyo, yaitu jurnal (mengajar)” jelas Ust. Nashir.

Dalam suasana masih bulan Syawal itu beliau juga tak lupa memohon maaf atas segala kurang dalam memberikan pelayanan.

“Kami juga menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada panjenengan semua atas dedikasinya dalam membersamai dan mengajar para santri semuanya” lanjut beliau.

Penyesuaian Materi Ajar

Agenda utama rapat kali ini adalah musyawarah materi ajar setiap mata pelajaran seiring perubahan kalender pendidikan. Dalan hal ini diisi dengan pengarahan dari Waka Kurikulum, Ust. Dzulfikar Nasrullah, S.Ud.

“Tahun ini santri kelas XII sudah tidak lagi kembali (karena sudah dinyatakan lulus), sehingga perlu adanya penyesuian terhadap kegiatan belajar mengajar” terang Ustadz Dzul.

Dalam kesempatan ini beliau juga memandu diskusi kelompok guru sesuai rumpun mata pelajaran yang fokus pembahasannya pada dua hal penting:

1. Penyesuaian materi ajar sesuai kalender Masehi

2. Pengaturan ulang waktu dan alokasi pembelajaran

Para pendidik diminta membawa kitab mata pelajaran untuk jenjang Isti’dad, kelas X, dan kelas XI agar proses musyawarah berjalan efektif dan terarah.

Mengawal Proses Tafaqquh fiddin

Melalui forum musyawarah tersebut, diharapkan tersusun langkah-langkah strategis yang mampu memperkuat proses pembelajaran, khususnya yang berorientasi pada pendalaman ilmu agama. Dengan demikian, setiap guru memiliki peran penting dalam menjaga ruh pendidikan pesantren, yaitu membentuk santri yang memahami agama secara menyeluruh (tafaqquh fiddin) sekaligus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Sebagai bentuk apresiasi, seluruh ustadz dan ustadzah yang hadir tepat waktu dan mengikuti acara hingga selesai akan memperoleh fasilitas transport dari panitia. Hal ini merupakan wujud penghargaan atas dedikasi dan partisipasi aktif tenaga pendidik dalam memajukan lembaga.

Acara ditutup dengan penyampaian hasil diskusi dan doa bersama, dipimpin oleh MC. Semoga seluruh rangkaian musyawarah ini membawa keberkahan dan menjadi langkah maju dalam meningkatkan mutu pendidikan di PDF Ulya Al Fithrah.