AlFithrah

Al Fithrah Surabaya Wisuda 721 Santri, Pesan Menjaga Identitas Santri Menggema

SURABAYA – Suasana haru dan penuh kebanggaan menyelimuti pelaksanaan Wisuda Ke-24 Tahun Ajaran 2025/2026 Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya yang digelar pada 3–4 Juni 2026. Kegiatan yang berlangsung di Masjid Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah ini dihadiri oleh segenap Keluarga Ndalem Pengasuh Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya, dewan asatidz, wali santri, serta tamu undangan dari Kementerian Agama.

Pada hari pertama, hadir Kepala Bidang Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur, Imam Turmidi, S.Ag., M.H.I. Sementara pada hari kedua, hadir Kepala Seksi Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama Kota Surabaya, Fathul Mubin, S.Pd., M.Pd.I.

Sebanyak 721 santri resmi diwisuda yang terdiri atas 416 santri Program Pendidikan Diniyah Formal (PDF) Wustha Al Fithrah, 266 santri PDF Ulya Al Fithrah, 14 santri Ma’had Aly Al Fithrah, dan 25 santri MDT Jami’ah Al Fithrah. Prosesi diawali dengan pembacaan Tawasul, Istighotsah, Maulid fi Hubby, serta pembacaan surat keputusan kelulusan. Hari pertama dilaksanakan wisuda santri putri dan hari kedua dilaksanakan wisuda untuk santri putra.

Perjalanan Panjang Menuju Ilmu

Dalam sambutannya, Mewakili Keluarga Ndalem Pengasuh Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah, Nyai Siera En Nadia El Ishaqia menyampaikan rasa syukur atas keberhasilan para santri menyelesaikan pendidikan. Beliau menegaskan bahwa kelulusan bukanlah akhir dari proses belajar, melainkan awal dari pengamalan ilmu yang lebih luas di tengah masyarakat.

“Kita ini saat pertama kali masuk ke dalam pondok pesantren ibarat gelas yang kosong. Perlahan, gelas itu kini telah terisi dengan banyaknya ilmu, disertai dengan pengalaman dan banyaknya pelajaran hidup yang bisa menjadi pegangan anak-anakku semua di luar sana. Apa yang telah kalian istikomahkan di dalam pondok, semoga bisa diistikomahkan di rumah” pesan beliau.

Sementara pada Sambutan Kepala Pondok hari kedua, Ustadz Nashiruddin, M.Pd mengingatkan bahwa capaian para wisudawan lahir dari proses panjang yang penuh perjuangan. Menurutnya, setiap santri pernah berada pada fase sulit saat mempelajari kitab-kitab yang belum dipahami, namun akhirnya mampu bertahan hingga mencapai titik kelulusan.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Keluarga Ndalem yang senantiasa memberikan doa dan dukungan kepada para santri. Selain itu, para lulusan diharapkan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi agar ilmu yang diperoleh semakin berkembang dan berkelanjutan.

“Kami sangat berharap agar para santri terus melanjutkan pendidikan pada jenjang berikutnya. Apa yang telah diperoleh di pondok ini hendaknya diamalkan ketika berada di tengah masyarakat. Jika ingin sukses, maka harus dengan ilmu,” ujarnya.

Menjaga Identitas dan Martabat Santri

Sambutan mewakili wisudawan pada hari kedua disampaikan oleh Ahmad Hasan Hariri. Dalam pesannya, ia mengingatkan bahwa tantangan terbesar setelah lulus bukanlah meraih profesi tertentu, melainkan mempertahankan identitas sebagai santri.

“Yang susah bukan menjadi tentara atau dokter, tetapi tetap menjadi santri dan mempertahankan identitas santri,” ungkapnya.

Ia juga menekankan pentingnya adab dalam menuntut ilmu, khususnya penghormatan kepada guru sebagai bagian dari ta’dzimul ilmi. Menurutnya, keberhasilan seorang santri tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan, tetapi juga oleh keberkahan ilmu yang diperoleh melalui penghormatan kepada para pendidik, serta doa-doa yang tak pernah usai.

“Hari ini kita berdiri di tempat yang sama, tetapi setelah ini kita akan melangkah menuju jalan yang berbeda-beda. Meski langkah kita nanti tidak lagi berjalan berdampingan seperti hari ini, semoga kita tetap terhubung oleh doa dan nilai-nilai yang telah tumbuh di dalam tubuh kita” ujar Yunita Hikmatal Karimah dalam sambutannya mewakili wisudawati.

Momen haru semakin terasa ketika para wisudawan menerima medali dan sertifikat kelulusan yang diserahkan secara simbolis oleh pengasuh pesantren dan para guru. Sejumlah wali santri tampak meneteskan air mata sebagai ungkapan rasa syukur atas keberhasilan putra-putri mereka menyelesaikan pendidikan pesantren.

Ilmu yang Bermanfaat dan Pendidikan Berkelanjutan

Dalam sambutannya, Kepala Seksi Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama Kota Surabaya, Fathul Mubin, menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh wisudawan. Ia berpesan agar para lulusan terus mengajarkan Al-Qur’an dan menjaga nama baik pesantren di mana pun berada.

“Kalau sudah lulus pondok, jangan sampai lupa mengajar, terutama mengajarkan Al-Qur’an. Karena yang diajarkan adalah Al-Qur’an,” tuturnya.

Ia juga mengingatkan bahwa ukuran keberhasilan ilmu bukan hanya pada banyaknya pengetahuan yang dimiliki, tetapi pada manfaat yang diberikan kepada masyarakat. Menurutnya, salah satu faktor terbesar keberhasilan seseorang adalah doa orang tua yang menyertai setiap langkah perjuangan anak-anaknya.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah senantiasa menanamkan ilmu yang mengantarkan santri untuk semakin mengenal Allah SWT, memperkuat akhlak, serta menumbuhkan semangat pengabdian kepada umat.

“Ayok kita bersinergi, bagaimana anak-anak kita ini menjadi anak-anak yang berilmu, bertakwa sekaligus berakhlakul karimah. Karena kita harus yakin dengan ilmu yang tinggi, dengan akhlak yang mantap, insya Allah kita bisa eksis di manapun kita berada. Karena janji Allah, dalam QS. Al-Mujadalah ayat 11” jelas Bapak Imam Turmudi mewakili Kepada Kanwil Kemenag Jawa Timur.

Selain prosesi wisuda, acara juga dimeriahkan dengan penampilan hadrah, pembacaan puisi, dan persembahan dari para santri sebagai bentuk penghormatan kepada guru serta orang tua. Kegiatan ditutup dengan doa bersama dan sesi foto wisuda.

Melalui wisuda ini, Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya berharap para lulusan dapat menjadi generasi yang berilmu, berakhlakul karimah, serta mampu memberikan kontribusi positif bagi agama, bangsa, dan masyarakat.

Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya Selenggarakan Sholat Idul Adha Terbuka untuk Santri & Masyarakat


Ada yang berbeda di Idul Adha tahun ini. Momentum penyatuan hari raya antara Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama menjadi warna tersendiri bagi umat Islam di Indonesia. Kebersamaan itu terasa semakin kuat ketika ribuan jamaah memadati halaman Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya untuk mengumandangkan takbir dan melaksanakan sholat Idul Adha berjamaah.

Idul Adha 1447 H di Al Fithrah: Syiar, Kebersamaan, dan Tabarruk

Pada Rabu, 27 Mei 2026 M / 10 Dzulhijjah 1447 H, suasana di Masjid Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya sudah dipenuhi jamaah sejak dini hari. Tahun ini, sholat Idul Adha kembali dibuka untuk santri dan masyarakat umum.

Sholat dimulai pukul 06.09 WIB, yakni sekitar 10 menit setelah masuknya awal waktu duha, sebagaimana mengikuti anjuran agar pelaksanaan Id dilakukan pada waktu yang lapang.

صَلُّوا قَبْلَ الْخُطْبَةِ
“Laksanakanlah sholat sebelum khutbah.” (HR. Bukhari & Muslim)

Setelah rangkaian sholat dan khutbah selesai, jamaah mengikuti tradisi khas Al Fithrah: ziarah ke maqbarah Hadratusy Syaikh Romo KH. Ahmad Asrori Al-Ishaqy, Pengasuh Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah, yang kemudian dilanjutkan ramah tamah dengan hidangan nasi talaman yang menjadi sajian kebersamaan setiap Idul Adha.

Ribuan Daging Qurban untuk Masyarakat

Tahun ini, amanah qurban yang dititipkan oleh Keluarga Ndalem, para jamaah, serta masyarakat luar daerah kembali meningkat. Total hewan qurban: 23 ekor sapi, 17 ekor kambing dan 92 ekor domba (termasuk domba kiriman jamaah dari Singapura)

Hewan-hewan tersebut berasal dari jamaah di Surabaya, Gresik, Malang, serta beberapa daerah luar pulau.

Distribusi daging qurban diberikan kepada:

Tidak hanya dibagikan kepada santri, daging hewan qurban di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya juga akan didistribusikan kepada Keluarga Ndalem, Warga sekitar pesantren, Warga yang rumahnya digunakan sebagai maktab saat Haul Akbar Al Fithrah, Para pejabat yang berafiliasi dengan pesantren, para pengurus Al Khidmah serta para ulama sekitar.

Proses penyembelihan dilakukan bertahap selama tiga hari: Hari Raya Idul Adha + dua hari Tasyrik (11–13 Dzulhijjah), sesuai tuntunan syariat. Hal ini selaras dengan bunyi hadits:

أَيَّامُ التَّشْرِيقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ
Terjemah: “Hari-hari Tasyrik adalah hari makan, minum, dan mengingat Allah.” (HR. Muslim)

Kebersamaan yang Meneguhkan Syiar

Idul Adha tahun ini menjadi momen yang indah. Kesatuan momen berlebaran antara dua ormas besar semakin menambah spirit ukhuwah. Sementara di Al Fithrah, kebersamaan antara santri, masyarakat, dan para jamaah memberikan warna khas yang hangat, penuh barakah, dan sarat nilai keikhlasan.

Bukan hanya ibadah dan ritual, tetapi juga rasa syukur, sedekah, silaturahmi, serta tabarruk pada para muassis yang menjadi ruh keberkahan pesantren ini.

Bahtsul Masail Shughra: Berjamaah Tidak di Masjid

Selasa (5 Mei 2026) Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya selenggarakan Bahtsul Masail bulanan. Kegiatan yang dilaksanakan di Pendopo Al Fithrah ini diikuti oleh perwakilan dari Santri PDF Wustha Al Fithrah dan PDF Ulya Al Fithrah.

Bahtsul Masail sendiri adalah forum ilmiah khas pesantren untuk mendiskusikan dan menjawab berbagai masalah keagamaan, sosial, dan kemasyarakatan kontemporer berdasarkan kajian kitab kuning. Bahstul masail di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya dilaksanakan sekali setiap bulannya yang merupakan puncak dari kegiatan Musyawarah Kubro mingguan dan musyawarah harian.

Kegiatan dikoordinatori Majlis Kebersamaan dalam Kajian dan Pembahasan Imiah Al Fithrah ini kerap menyelesaikan permasalahan ibadah keseharian maupun muamalah yang sedang hangat diperdebatkan. Dalam majlis malam Rabu kali ini dibahas permasalahan sholat Jamaah.

Deskripsi Masalah

Mayoritas masyarakat muslim melaksanakan shalat berjamaah di masjid, terlebih pada momen hari raya seperti Idul Fitri dan Idul Adha. Pada momen itu jumlah jamaah biasanya membludak hingga melampaui kapasitas masjid. Oleh karena itu, area di luar bangunan masjid seperti halaman atau pelataran kerap digunakan untuk menampung jamaah tambahan.

Dalam suatu pelaksanaan shalat Idul Fitri, Fajar mendapati masjid di lingkungannya telah direnovasi menjadi bangunan yang lebih besar dan megah. Namun, karena banyaknya jamaah, sebagian pelaksanaan shalat meluas hingga ke pelataran luar masjid yang secara fisik bukan lagi bagian dari bangunan masjid.

Permasalahan muncul ketika pelataran tersebut terpisah dari area imam oleh tembok pembatas, sehingga makmum yang berada di pelataran tidak memiliki akses langsung untuk menuju imam. Dengan kata lain, tidak terdapat jalan yang menghubungkan posisi makmum dengan imam, baik secara langsung maupun melalui celah yang memungkinkan untuk dilalui.

Di sisi lain, dalam ketentuan fiqh shalat berjamaah, terdapat syarat tersambungnya jamaah dengan imam, baik melalui kesinambungan shaf maupun adanya kemungkinan الوصول إلى الإمام (kemungkinan untuk menuju imam). Selain itu, status tempat (apakah termasuk bagian dari masjid atau tidak) juga berimplikasi pada hukum ibadah tertentu seperti i‘tikaf yang mensyaratkan dilakukan di dalam masjid.

Pertanyaan:

  1. Apakah sah shalat berjamaah yang dilaksanakan di pelataran luar masjid, sementara antara makmum dan imam terhalang tembok serta tidak terdapat akses yang menghubungkan keduanya?
  2. Apakah sah pelaksanaan i‘tikaf di pelataran luar masjid tersebut yang secara fisik terpisah dari bangunan masjid?

Jawaban:

  1. Hukum berjamaahnya makmum di bagian depan shof yang sejajar dengan pintu samping tidak sah.

حاشية البُجَيْرِمِي على الخطيب (5/149)

( وَإِنْ صَلَّى) الْإِمَامُ فِي الْمَسْجِدِ وَالْمَأْمُومُ (خَارِجَ الْمَسْجِدِ) حَالَةَ كَوْنِهِ (قَرِيبًا مِنْهُ) أَيْ مِنَ الْمَسْجِدِ بِأَنْ لَا يَزِيدَ مَا بَيْنَهُمَا عَلَى ثَلَاثِمِائَةِ ذِرَاعٍ تَقْرِيبًا مُعْتَبَرًا مِنْ آخِرِ الْمَسْجِدِ لِأَنَّ الْمَسْجِدَ كُلَّهُ شَيْءٌ وَاحِدٌ لِأَنَّهُ مَحَلُّ الصَّلَاةِ فَلَا يَدْخُلُ فِي الْحَدِّ الْفَاصِلِ (وَهُوَ عَالِمٌ بِصَلَاتِهِ) أَيْ الْإِمَامِ الَّذِي فِي الْمَسْجِدِ بِأَحَدِ الْأُمُورِ الْمُتَقَدِّمَةِ (وَلَا حَائِلَ هُنَاكَ) بَيْنَهُمَا كَالْبَابِ الْمَفْتُوحِ الَّذِي لَا يَمْنَعُ الِاسْتِطْرَاقَ وَالْمُشَاهَدَةَ (جَازَ) الِاقْتِدَاءُ حِينَئِذٍ، فَلَوْ كَانَ الْمَأْمُومُ فِي الْمَسْجِدِ وَالْإِمَامُ خَارِجَهُ اعْتُبِرَتِ الْمَسَافَةُ مِنْ طَرَفِهِ الَّذِي يَلِي الْإِمَامَ، فَإِنْ حَالَ جِدَارٌ لَا بَابَ فِيهِ أَوْ بَابٌ مُغْلَقٌ مُنِعَ الِاقْتِدَاءُ لِعَدَمِ الِاتِّصَالِ، وَكَذَا الْبَابُ الْمَرْدُودُ وَالشُّبَّاكُ يَمْنَعُ لِحُصُولِ الْحَائِلِ مِنْ وَجْهٍ، إِذِ الْبَابُ الْمَرْدُودُ مَانِعٌ مِنَ الْمُشَاهَدَةِ وَالشُّبَّاكُ مَانِعٌ مِنَ الِاسْتِطْرَاقِ.

قَالَ الْإِسْنَوِيُّ: نَعَمْ، قَالَ الْبَغَوِيُّ فِي فَتَاوِيهِ: لَوْ كَانَ الْبَابُ مَفْتُوحًا وَقْتَ الْإِحْرَامِ فَانْغَلَقَ فِي أَثْنَاءِ الصَّلَاةِ لَمْ يَضُرَّ. انْتَهَى. أَمَّا الْبَابُ الْمَفْتُوحُ فَيَجُوزُ اقْتِدَاءُ الْوَاقِفِ بِحِذَائِهِ وَالصَّفُّ الْمُتَّصِلُ بِهِ وَإِنْ خَرَجُوا عَنْ الْمُحَاذَاةِ، بِخِلَافِ الْعَادِلِ عَنْ مُحَاذَاتِهِ فَلَا يَصِحُّ اقْتِدَاؤُهُ لِلْحَائِلِ.

Jika imam shalat di dalam masjid, dan makmum di luar masjid namun dekat dengannya — yaitu jarak antara keduanya tidak lebih dari kira-kira 300 hasta (+/- 150 meter), dihitung dari ujung masjid — karena seluruh masjid dianggap satu kesatuan, maka:

  • Jika makmum mengetahui shalat imam (melalui melihat atau mendengar),
  • dan tidak ada penghalang (seperti pintu terbuka yang tidak menghalangi lewat dan melihat),

maka sah bermakmum kepadanya.

Namun:

  • Jika ada dinding tanpa pintu, atau pintu tertutup → tidak sah (karena terputus).
  • Pintu tertutup atau jendela juga menghalangi (karena menghalangi pandangan atau akses).

Tambahan:

  • Jika pintu terbuka saat takbir lalu tertutup di tengah shalat → tidak membatalkan.
  • Orang yang sejajar pintu terbuka masih boleh bermakmum.
  • Tapi yang menyimpang dari jalur sejajar → tidak sah karena terhalang.

حاشية البيجوري (2/101)

قَوْلُهُ: (وَهُوَ – أَيْ: الْمَأْمُومُ – عَالِمٌ بِصَلَاتِهِ؛ أَيْ: الْإِمَامِ) أَيْ: بِأَحَدِ الْأُمُورِ الْمُتَقَدِّمَةِ؛ كَالرُّؤْيَةِ لِلْإِمَامِ أَوْ لِبَعْضِ صَفٍّ، وَكَسَمَاعِ صَوْتِهِ أَوْ صَوْتِ مُبَلِّغٍ. قَوْلُهُ: (وَلَا حَائِلَ هُنَاكَ) أَيْ: بِحَيْثُ يُمْكِنُ الْوُصُولُ إِلَى الْإِمَامِ، وَيُشْتَرَطُ هُنَا أَنْ يُمْكِنَ الْوُصُولُ إِلَيْهِ مِنْ غَيْرِ ازْوِرَارٍ وَانْعِطَافٍ، بِخِلَافِهِ فِيمَا تَقَدَّمَ.

(Di antara syarat berjamaah adalah) Makmum harus mengetahui keadaan imam, misalnya:

  • melihat imam atau saf,
  • atau mendengar suara imam / penyampai (muballigh).

Dan syarat tidak ada penghalang artinya:

  • bisa الوصول (akses) ke imam,
  • tanpa harus berbelok atau berputar (jalur langsung).
  • b. Hukum I’tikaf di tempat tersebut tidak sah karena tidak bukan bagian daripada masjid

فتح القريب المجيب (ص 142)

(فَصْلٌ) فِي أَحْكَامِ الِاعْتِكَافِ. وَهُوَ لُغَةً الْإِقَامَةُ عَلَى الشَّيْءِ مِنْ خَيْرٍ أَوْ شَرٍّ، وَشَرْعًا إِقَامَةٌ بِمَسْجِدٍ بِصِفَةٍ مَخْصُوصَةٍ.

I’tikaf: secara bahasa: menetap pada sesuatu (baik atau buruk), sedangkan secara syariat: diam di masjid dengan cara tertentu

حاشية البيجوري (2/461)

الِاعْتِكَافُ أَرْبَعَةٌ؛ وَهِيَ: اللُّبْثُ، وَالْمَسْجِدُ الْمُعْتَكَفُ فِيهِ، وَالشَّخْصُ الْمُعْتَكِفُ، وَالنِّيَّةُ. لَكِنْ بَعْضُهَا بِطَرِيقِ التَّصْرِيحِ؛ وَهُوَ اللُّبْثُ وَالْمَسْجِدُ، فَإِنَّ الْإِقَامَةَ هِيَ اللُّبْثُ. وَبَعْضُهَا لَا بِطَرِيقِ التَّصْرِيحِ؛ وَهُوَ الشَّخْصُ، فَإِنَّ الْإِقَامَةَ تَسْتَلْزِمُ الْمُقِيمَ، وَالنِّيَّةُ الَّتِي أَشَارَ إِلَيْهَا بِقَوْلِهِ: (بِصِفَةٍ مَخْصُوصَةٍ)، كَمَا أَشَارَ بِهِ إِلَى شُرُوطِ الشَّخْصِ الْمُعْتَبَرَةِ فِي الْمُعْتَكِفِ الْآتِيَةِ، وَلَوْ قَالَ كَمَا قَالَ غَيْرُهُ: (مِنْ شَخْصٍ مَخْصُوصٍ بِنِيَّةٍ) لَكَانَ أَوْضَحَ.

Rukun i’tikaf ada 4:

  1. Berdiam (لبث)
  2. Masjid
  3. Orang yang beri’tikaf
  4. Niat

Penjelasan:

  • “diam di masjid” sudah mencakup:
    • tempat (masjid)
    • aktivitas (diam)
  • Sedangkan:
    • orang → dipahami secara implisit
    • niat → ditunjukkan oleh “dengan sifat khusus”

Kalau disebut: “dari orang tertentu dengan niat” itu lebih jelas.

Terlepas dari keadaan berpisah jauh dari imam, pada dasarnya berjamaah itu harusnya saling berdekatan antar satu jamaah dengan jamaah lainnya. Sebagaimana disebutkan oleh Rasulullah SAW:


أَقِيْمُوا الصُّفُوْفَ، فَإِنَّمَا تَصُفُّوْنَ بِصُفُوْفِ الْمَلَائِكَةِ، وَحَاذُوْا بَيْنَ الْمَنَاكِبِ، وَسُدُّوا الْـخَلَلَ، وَلِيْنُوْا فِـيْ أَيْدِي إِخْوَانِكُمْ، وَلَا تَذَرُوْا فُرُجَاتٍ  لِلشَّيْطَانِ، وَمَنْ وَصَلَ صَفًّا وَصَلَهُ اللهُ ، وَمَنْ قَطَعَ صَفًّا قَطَعَهُ اللهُ
.

Luruskanlah shaf (di dalam shalat) kalian sebagaimana bershafnya para Malaikat, ratakanlah pundak-pundak kalian, tutupilah celah-celah, dan berlakulah lemah-lembut terhadap saudara (di sisi kiri dan kanan) kalian! Jangan biarkan satu celah pun untuk setan! Barangsiapa yang menyambung shaf, maka Allah Tabaraka wa Ta’ala akan menyambung (rahmat)Nya, dan barangsiapa yang memutuskan shaf, maka Allah akan memutuskan (rahmat)Nya.”[Shahih: HR. Ahmad (II/97-98), Abu Dawud (no. 666) dan al-Baihaqi dalam as-Sunanul Kubra (III/101). Lihat Shahiih at-Targiib wat Tarhiib (no. 495)]

Institut Al Fithrah Selenggarakan Kajian Akbar Nasional dalam Rangkaian FUD Fair 2026

Surabaya, 9 Mei 2026 — Institut Al Fithrah (IAF) Surabaya sukses menyelenggarakan Kajian Akbar Nasional sebagai puncak acara FUD Fair 2026, yang berlangsung pada Sabtu (09/05) di Gedung Timur Lt. 5 PonPes Assalafi Al Fithrah Surabaya.

FUD Fair 2026 merupakan agenda perdana hasil kolaborasi Fakultas Ushuluddin dan Dakwah (FUD) IAF Surabaya bersama Himpunan Mahasiswa Program Studi, yakni HMP Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT), HMP Ilmu Tasawwuf (ILTA), serta HMP Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI). Kegiatan ini menghadirkan berbagai perlombaan tingkat nasional yang kemudian ditutup dengan kajian bertema “Yaqin is Power, Qur’an is Direction.”

Mengenal Institut Al Fithrah

Institut Al Fithrah Surabaya adalah perguruan tinggi swasta berbasis pesantren yang terus berkembang di wilayah Surabaya Utara. Institusi ini didirikan pada tahun 2007 oleh Hadrotus Syaikh KH. Achmad Asrori Al Ishaqy bersama sejumlah tokoh pendidikan, di antaranya Prof. Dr. H. Soefjan Tsauri, M.Sc. (Peneliti Senior LIPI Jakarta).

Pertama kali didirikan, perguruan tinggi ini bernama Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin (STIU) Al Fithrah berdasar SK No. DJ.I/495/2007 dan kemudian berkembang serta berubah status menjadi Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al Fithrah pada tahun 2010. Saat ini, telah tersedia tiga fakultas dan tujuh program studi. Ke depan akan dibuka prodi-prodi baru sesuai dengan perkembangan dan diharapkan dapat beralih status menjadi Universitas Al Fithrah.

Kajian Akbar: Meneguhkan Yaqin dan Arah Hidup

Di tengah kehidupan modern yang semakin kompleks dan penuh distraksi, kajian ini menjadi momentum refleksi spiritual untuk menenangkan hati dan meneguhkan arah hidup.

Acara ini menghadirkan dua narasumber inspiratif:

  • Dr. H. Rosidi, S.Pd.I., M.Fil.I
    (Rektor IAF Surabaya & Ketua Umum Ath Thoriqoh Qodiriyah wan Naqsyabandiyah Al Utsmaniyyah)
    Tema: Ilmu Yaqin dan Implementasinya Menuju Kesempurnaan Hakiki
  • KH. Ma’ruf Khozin
    (Pengasuh PP Raudhatul Ulum Suramadu & Ketua Komisi Fatwa MUI Jawa Timur)
    Tema: Ketika Hati Kehilangan Arah, Al-Qur’an Jadi Solusi Keseimbangan Batin

Kajian dipandu oleh Ahmad Yusup, S.Ag, demisioner IAF Surabaya sekaligus penyiar Radio Surabaya.

Dalam sambutannya, Ketua Pelaksana M. Rico Al-Kurniawan menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta lomba dan hadirin yang telah berpartisipasi.

Pesan Inspiratif Para Narasumber

Dalam pemaparannya, Dr. Rosidi menekankan pentingnya keyakinan dalam kehidupan seorang hamba. Tema yang beliau sampaikan merupakan bahasan yaqin yang diambil dari Kitab Al-Muntakhobat karya KH. Ahmad Asrori Al-Ishaqy RA.

“Seorang hamba tergantung pada prasangkanya kepada Allah. Semakin positif keyakinannya, maka Allah akan memberikan sesuai dengan kadar keyakinan tersebut.”

“Yakin itu amat sangat penting” ucap beliau.

Sementara itu, KH. Ma’ruf Khozin mengingatkan bahwa Al-Qur’an tidak boleh hanya dijadikan “manual book” yang dibuka saat dibutuhkan saja.

Beliau mengutip konsep dari Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin tentang hati (qalb), serta menegaskan bahwa:

  • Al-Qur’an adalah obat hati (syifa’ lima fis sudhur)
  • Penyakit hati harus disembuhkan dengan pendekatan spiritual
  • Dorongan menuju keburukan seringkali lebih cepat daripada kebaikan, sehingga perlu penguatan ruhani

Pengumuman Pemenang FUD Fair 2026

Sebagai bagian dari rangkaian acara, panitia juga mengumumkan para pemenang berbagai lomba tingkat nasional.

Lomba Esai Ilmiah

  • Juara 1: Aisyah Chorijatun/Nahri (IAIAN Purworejo) — Nilai 96
  • Juara 2: Silsilu Durrotil Bahiyah (UIN KHAS Jember) — Nilai 95,9
  • Juara 3: Siti Zaenab (IAF Surabaya) — Nilai 95,7

MTQ Digital Nasional

  • Juara 1: Ahmad Faiz Al Haqqi — Nilai 96,7
  • Juara 2: Hasna’ Hurriyah Zalfa’ — Nilai 96,5
  • Juara 3: Wahyu Wardana — Nilai 96,4

Lomba Da’i Digital Nasional

  • Juara 1: Aril Saputra — Nilai 80,6
  • Juara 2: Naila Nur Khofifah Ambari — Nilai 78,1
  • Juara 3: Qorin Asyam Ramadanti — Nilai 78

Komitmen dan Harapan ke Depan

Dalam kesempatan tersebut, Rektor IAF Surabaya juga menyampaikan kabar penting bahwa dalam waktu dekat Institut Al Fithrah akan bertransformasi menjadi Universitas Al Fithrah. Selain itu, IAF secara konsisten mengirimkan mahasiswa untuk program pengabdian internasional ke Malaysia dan Singapura setiap tahunnya.

FUD Fair 2026 bukan sekadar ajang kompetisi, tetapi juga menjadi ruang pembinaan intelektual dan spiritual bagi generasi muda Islam. Melalui tema “Yaqin is Power, Qur’an is Direction”, kegiatan ini mengajak seluruh peserta untuk memperkuat keyakinan dan menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup di tengah tantangan zaman.

Pendaftaran Santri Baru Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT) Al Fithrah Tahun 2026-2027  M. / 1447-1448 H

Di era yang serba cepat dan penuh tantangan seperti sekarang ini, pendidikan formal yang ditempuh anak-anak setiap pagi memang sangat penting. Namun, pengalaman menunjukkan bahwa sekolah formal saja belum cukup untuk membentuk pribadi yang berakhlak, kuat dalam iman, dan teguh dalam karakter. Di sinilah madrasah diniyah mengambil peran penting sebagai pelengkap dan penguat pendidikan anak.

Madrasah diniyah bukan hanya tempat belajar agama, tetapi juga ruang pembentukan mental, moral, dan spiritual yang sangat dibutuhkan oleh generasi kita. Ketika pendidikan formal fokus pada pengetahuan umum, Madrasah Diniyah memperkuat pondasi yang lebih mendasar: adab, akhlak, dan kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Mengapa Madrasah Diniyah Begitu Penting?

1. Menanamkan Adab Sejak Usia Dini

Ilmu tanpa adab adalah kehampaan. Di madrasah diniyah, anak belajar bagaimana menghormati guru, menghargai sesama, menjaga ucapan, serta berperilaku sopan. Nilai-nilai ini seringkali tidak tersentuh secara mendalam di sekolah formal.

2. Menjaga Anak dari Arus Pergaulan Bebas

Waktu sore dan malam hari adalah waktu yang rawan bagi anak-anak untuk terpapar lingkungan negatif. Dengan mengikuti madrasah diniyah, mereka memiliki kegiatan positif dan terarah, sehingga terhindar dari pergaulan yang tidak sehat.

3. Membiasakan Ibadah dan Cinta Al-Qur’an

Anak-anak akan dibimbing untuk membiasakan sholat tepat waktu, membaca Al-Qur’an, mengenal ilmu fiqih, akidah, hingga sejarah Nabi. Kebiasaan baik ini akan tertanam kuat hingga dewasa.

4. Melatih Tanggung Jawab dan Disiplin

Mengikuti dua pendidikan — sekolah pagi dan madrasah sore/malam — membentuk mental anak agar terbiasa bertanggung jawab dan disiplin. Ini adalah karakter utama kesuksesan hidup.

5. Benteng Akidah di Tengah Tantangan Zaman

Perkembangan teknologi dan media sosial membawa dampak besar bagi pola pikir anak. Madrasah diniyah hadir sebagai benteng akidah yang menjaga agar anak tetap lurus dalam pemahaman agama.

Mengapa Harus di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya?

Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya dikenal sebagai pesantren salaf yang menjaga tradisi ilmu para ulama dan memadukannya dengan pendekatan pendidikan yang penuh kasih sayang. Dengan lingkungan pesantren yang religius, anak-anak tidak hanya diajarkan ilmu, tetapi juga dibentuk menjadi pribadi yang santun dan beradab.

Para ustadz dan ustadzah memberikan perhatian penuh dalam setiap proses belajar, sehingga anak bukan hanya paham pelajaran, tetapi juga menghidupkan ilmu tersebut dalam keseharian.

Ajak Anak, Saudara, dan Teman Menjadi Bagian dari Keluarga Besar Madrasah Diniyah Al Fithrah

Profil Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT) Al Fithrah

Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT) Al Fithrah adalah Pendidikan keagamaan bagi warga sekitar yang dilaksanakan ba’da Maghrib.

MDT Al Fithrah berdiri tahun 2002 dan terdaftar di Kementrian Agama Kota Surabaya dengan Nomor Statistik 311.2.35.78.0122.

Visi menyelenggarakan pendidikan keagamaan berbasis kutubu al-turats bagi santri non mukim.

Misi sebagai berikut :

  1. Mengembangkan pengetahuan santri pada teks-teks ke-islam-an klasik dan jawaban-jawaban atas permasalahan ke-Islam-an di masa sekarang;
  2. Melestarikan amaliyah salafus sholeh dan mensuritauladani akhlaqul karimah Baginda Habibillah Rasulillah Muhammad SAW.

Penerimaan Santri Baru Madrasah Diniyah Takmiliyah Al Fithrah Tahun Ajaran 2026

Madrasah Diniyah Takmiliyah Al Fithrah membuka kesempatan bagi calon santri baru untuk tahun ajaran 2026. Program ini ditujukan bagi peserta didik yang ingin memperdalam ilmu agama dalam lingkungan pendidikan yang kondusif dan bernuansa islami.

Pendaftaran dibuka dalam dua tahap. Tahap pertama berlangsung pada 1 Juni hingga 30 Juni 2026, sedangkan tahap kedua dibuka pada 1 Juli hingga 31 Juli 2026. Calon pendaftar diharapkan memanfaatkan periode ini dengan baik agar tidak melewatkan kesempatan bergabung.

Untuk melakukan pendaftaran, terdapat beberapa persyaratan yang harus dipenuhi, antara lain mengisi formulir pendaftaran, melampirkan fotokopi akta kelahiran dan kartu keluarga, menyediakan pas foto ukuran 3×4 sebanyak dua lembar, serta menyertakan fotokopi ijazah formal terakhir.

Adapun biaya pendaftaran meliputi administrasi sebesar Rp30.000, rapor Rp50.000, khidmah haul Rp30.000, kajian rutin Rp20.000, serta SPP satu semester sebesar Rp300.000. Pihak madrasah juga memberikan kemudahan dengan opsi pembayaran yang dapat diangsur.

Bagi calon santri atau wali yang membutuhkan informasi lebih lanjut, dapat menghubungi admin melalui WhatsApp di nomor +62881-5590-213.

Dengan adanya program ini, Madrasah Diniyah Takmiliyah Al Fithrah berharap dapat mencetak generasi yang berakhlak mulia dan berilmu, serta mampu mengamalkan nilai-nilai keislaman dalam kehidupan sehari-hari.