AlFithrah

Ifsya al-Sirri: Belajar Menjaga Amanah dari Kisah Kanjeng Syaikh Abdul Qadir al-Jilani

Hari ini kita memasuki bulan Rabi’uts Tsani 1448 H. Bulan ini menjadi momentum mengenang guru kita Kanjeng Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani, yang wafat pada 11 Rabi’uts Tsani 561 H. Pada bulan yang sama kita kehilangan Hadratusy Syaikh KH. Muhammad Ustman Al-Ishaqy, tepatnya pada 5 Rabi’uts Tsani 1405 H. Ada kisah menarik dari Kanjeng Syaikh terkait ifsya al-sirri.

Dalam Islam sendiri, hifdz al-sirri atau menjaga rahasia merupakan bagian dari amanah. Sebaliknya, membuka dan menyebarkan rahasia tanpa alasan yang dibenarkan dikenal dengan istilah ifsya al-sirri (إفشاء السر), yaitu membocorkan sesuatu yang semestinya disimpan.

Salah satu kisah yang menarik untuk direnungkan adalah kisah Syaikh Abdul Qadir al-Jilani rahimahullah tentang bagaimana beliau menjaga sebuah perkara yang tidak semestinya diketahui oleh banyak orang. Kisah ini bukan hanya berbicara tentang sebuah peristiwa luar biasa, tetapi juga mengajarkan adab penting: tidak semua yang kita lihat, dengar, dan ketahui harus kita ceritakan kepada orang lain.

Rahasia yang Terjadi di Balik Perjalanan Malam Syaikh Abdul Qadir

Dalam kisah yang dinukil, Abu al-Hasan yang dikenal dengan Ibnu Thanthanah al-Baghdadi merupakan seseorang yang belajar kepada Syaikh Abdul Qadir al-Jilani. Ia begitu memperhatikan kebutuhan gurunya hingga sering begadang dan menunggu apabila sewaktu-waktu sang guru membutuhkan sesuatu.

Pada suatu malam di bulan Shafar tahun 553 H, Abu al-Hasan melihat Syaikh Abdul Qadir keluar dari rumah. Ia bermaksud memberikan sebuah kendi kepada sang guru, tetapi Syaikh Abdul Qadir tidak mengambilnya.

Beliau kemudian berjalan menuju pintu madrasah.

Yang terjadi berikutnya membuat Abu al-Hasan penasaran. Syaikh Abdul Qadir memberikan isyarat kepada pintu tersebut, lalu pintu itu terbuka. Sang Syaikh keluar, sedangkan Abu al-Hasan diam-diam mengikuti dari belakang.

Ia tidak ingin diketahui oleh gurunya.

Perjalanan kemudian berlanjut hingga Syaikh Abdul Qadir sampai di pintu kota Baghdad. Sekali lagi, pintu tersebut terbuka setelah beliau memberikan isyarat. Syaikh kemudian melanjutkan perjalanan hingga tiba di sebuah tempat yang belum pernah dikenal oleh Abu al-Hasan.

Di tempat itu terdapat sebuah bangunan yang menyerupai ribath. Di dalamnya ada enam orang yang sedang duduk. Ketika melihat Syaikh Abdul Qadir datang, mereka segera berdiri dan menyambut beliau dengan penuh penghormatan.

Abu al-Hasan memilih bersembunyi di balik sebuah tiang.

Tak lama kemudian, ia mendengar suara rintihan dari suatu tempat. Setelah beberapa saat, suara tersebut berhenti. Kemudian seorang laki-laki masuk ke arah tempat terdengarnya rintihan tadi dan keluar sambil membawa seseorang.

Peristiwa berikutnya semakin membuat Abu al-Hasan terkejut.

Datanglah seorang laki-laki yang kepalanya tidak tertutup dan kumisnya panjang. Ia berdiri di hadapan Syaikh Abdul Qadir. Laki-laki tersebut kemudian dibimbing untuk mengucapkan dua kalimat syahadat. Setelah itu, rambut dan kumisnya dicukur, lalu ia dikenakan penutup kepala dan diberi nama Muhammad.

Syaikh Abdul Qadir kemudian berkata kepada enam orang yang berada di tempat itu bahwa beliau memerintahkan agar orang tersebut menjadi pengganti orang yang telah meninggal.

Keenam orang itu menjawab dengan kepatuhan.

Setelah urusan tersebut selesai, Syaikh Abdul Qadir meninggalkan tempat itu. Abu al-Hasan kembali mengikuti beliau dari belakang.

Perjalanan yang terasa begitu jauh ternyata berakhir dengan cara yang mengherankan. Tidak lama kemudian, mereka kembali sampai di pintu Baghdad. Pintu itu kembali terbuka seperti sebelumnya. Syaikh Abdul Qadir kemudian melanjutkan perjalanan hingga sampai ke pintu madrasah. Pintu tersebut pun terbuka kembali.

Beliau akhirnya masuk ke rumahnya.

Keesokan harinya, Abu al-Hasan kembali menghadap Syaikh Abdul Qadir untuk belajar. Namun, ia merasakan kewibawaan gurunya begitu kuat hingga dirinya merasa takut dan kesulitan membaca kitab.

Syaikh Abdul Qadir kemudian berkata kepadanya dengan tenang:

“Wahai anakku, bacalah. Tidak apa-apa.”

Mendapat kesempatan tersebut, Abu al-Hasan memberanikan diri bertanya tentang apa yang ia lihat pada malam sebelumnya.

Syaikh Abdul Qadir Menjelaskan Rahasia yang Dilihat Muridnya

Syaikh Abdul Qadir kemudian menjelaskan perjalanan tersebut.

Tempat yang mereka datangi adalah Nahawand. Enam orang yang berada di sana adalah para abdal nujaba. Adapun orang yang sebelumnya terdengar merintih adalah orang ketujuh dari kelompok tersebut yang sedang sakit.

Ketika ajal orang itu telah tiba, Syaikh Abdul Qadir datang untuk menghadiri wafatnya.

Sedangkan orang yang membawa jenazahnya, menurut kisah tersebut, adalah Nabi Abu al-Abbas al-Khidhir RA yang mengambil jenazah tersebut untuk mengurus keperluannya.

Laki-laki yang kemudian dibaiat dan diberi nama Muhammad adalah seorang Nasrani dari Konstantinopel. Ia diperintahkan untuk mengucapkan dua kalimat syahadat dan kemudian dijadikan pengganti orang yang telah meninggal.

Bagi Abu al-Hasan, semua yang terjadi pada malam itu merupakan pengalaman yang luar biasa. Namun, justru setelah menjelaskan semuanya, Syaikh Abdul Qadir memberikan sebuah pesan yang sangat penting.

Beliau mengambil janji kepada Abu al-Hasan agar tidak menceritakan rahasia tersebut kepada siapa pun selama beliau masih hidup.

Dalam kisah itu disebutkan pesan Syaikh Abdul Qadir:

اِحْذَرْ مِنْ إِفْشَاءِ السِّرِّ فِي حَيَاتِي

“Berhati-hatilah, jangan sampai engkau menyebarkan rahasia ini selama aku masih hidup.”

Pesan tersebut menjadi inti penting dari kisah ini.

Bukan hanya tentang apa yang terjadi pada malam itu, tetapi tentang bagaimana seorang guru mengajarkan muridnya untuk menjaga amanah.

Abu al-Hasan telah melihat sesuatu yang tidak dilihat banyak orang. Namun, melihat sesuatu bukan berarti seseorang bebas menceritakannya. Mengetahui sesuatu juga bukan berarti seseorang berhak menyebarkannya.

Di situlah letak adab.

Larangan Menyebarkan Rahasia dalam Islam

Al-Qur’an mengingatkan orang-orang beriman agar tidak mengkhianati amanah. Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengkhianati Allah dan Rasul, dan janganlah kalian mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepada kalian, sedangkan kalian mengetahui.”

(QS. Al-Anfal: 27)

Rasulullah ﷺ juga memberikan peringatan keras mengenai membuka rahasia, terutama rahasia antara suami dan istri. Dari Abu Sa’id al-Khudri r.a., Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ مِنْ أَشَرِّ النَّاسِ عِنْدَ اللَّهِ مَنْزِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ الرَّجُلَ يُفْضِي إِلَى امْرَأَتِهِ وَتُفْضِي إِلَيْهِ ثُمَّ يَنْشُرُ سِرَّهَا

“Sesungguhnya seburuk-buruk manusia kedudukannya di sisi Allah pada hari kiamat adalah seorang laki-laki yang berhubungan dengan istrinya dan istrinya berhubungan dengannya, kemudian ia menyebarkan rahasianya.”

(HR. Muslim, no. 1437).

Hasan al-Bashri rahimahullah juga memberikan nasihat:

إِنَّ مِنَ الْخِيَانَةِ أَنْ تُحَدِّثَ بِسِرِّ أَخِيكَ

“Sesungguhnya termasuk pengkhianatan adalah ketika engkau menceritakan rahasia saudaramu.”

Nasihat ini sangat relevan dalam kehidupan sekarang. Terlebih di zaman media sosial, sebuah rahasia dapat berubah menjadi konsumsi banyak orang hanya dalam hitungan detik. Percakapan pribadi dapat di-screenshot, pesan dapat diteruskan, dan cerita seseorang dapat tersebar tanpa sepengetahuannya.

Karena itu, sebelum membagikan sebuah cerita, hendaknya kita bertanya: Apakah saya berhak menceritakannya? Apakah orang yang bersangkutan mengizinkannya? Apakah ada manfaat dari menyebarkannya? Atau justru akan menimbulkan mudarat?

Tidak Semua Rahasia Harus Disimpan dalam Setiap Keadaan

Menjaga rahasia bukan berarti menutup semua informasi meskipun penyampaiannya diperlukan untuk mencegah bahaya. Para ulama menjelaskan bahwa ada keadaan tertentu ketika sebuah informasi justru perlu disampaikan karena terdapat maslahat.

Al-Qur’an memberikan contoh melalui kisah seorang laki-laki dari ujung kota yang memperingatkan Nabi Musa a.s. mengenai rencana pembunuhan terhadap beliau:

وَجَاءَ رَجُلٌ مِنْ أَقْصَى الْمَدِينَةِ يَسْعَى قَالَ يَا مُوسَىٰ إِنَّ الْمَلَأَ يَأْتَمِرُونَ بِكَ لِيَقْتُلُوكَ فَاخْرُجْ إِنِّي لَكَ مِنَ النَّاصِحِينَ

“Dan datanglah seorang laki-laki dari ujung kota dengan bergegas-gegas seraya berkata, ‘Wahai Musa, sesungguhnya para pembesar negeri sedang berunding tentang engkau untuk membunuhmu. Oleh karena itu, keluarlah dari kota ini. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang memberi nasihat kepadamu.’”

(QS. Al-Qashash: 20)

Artinya, ukuran dalam menjaga atau menyampaikan rahasia adalah amanah dan maslahat. Jika sebuah rahasia memang dipercayakan untuk dijaga dan tidak ada alasan syar’i untuk membukanya, maka menyebarkannya merupakan perbuatan yang harus dihindari.

Kisah Syaikh Abdul Qadir al-Jilani memberikan pelajaran yang sangat dalam: semakin banyak seseorang mengetahui, semakin besar pula tanggung jawabnya untuk menjaga apa yang diketahuinya.

Menjadi orang yang dipercaya bukan karena mampu mengetahui banyak rahasia, tetapi karena mampu menjaga rahasia tersebut.

Di tengah kehidupan yang serba terbuka, menjaga rahasia adalah bentuk akhlak. Tidak menceritakan aib adalah bentuk kasih sayang. Tidak menyebarkan cerita pribadi adalah bentuk penghormatan.

Dan sebagaimana pesan yang tersirat dalam kisah Syaikh Abdul Qadir al-Jilani, terkadang diam bukan berarti tidak tahu, tetapi karena tahu kapan harus menjaga amanah.

Kita tidak harus menceritakan semua yang kita ketahui. Sebab, salah satu tanda kedewasaan dan kemuliaan akhlak adalah mengetahui apa yang boleh disampaikan dan apa yang harus tetap menjadi rahasia.

Apel Pagi PDF Ulya Al Fithrah September 2026, Tekankan Kedisiplinan dan Kesungguhan Santri

SURABAYA – PDF Ulya Al Fithrah Surabaya kembali melaksanakan apel pagi pada Kamis, 10 September 2026. Kegiatan yang dimulai pukul 07.00 WIB tersebut berlangsung di halaman PDF Ulya Al Fithrah Surabaya dan diikuti oleh seluruh santri, mulai dari kelas Isti’dad Ulya, kelas X, XI, hingga XII putra, serta asatidz PDF Ulya Al Fithrah.

Apel pagi menjadi salah satu momentum penting untuk memberikan arahan sekaligus membangun kedisiplinan santri dalam menjalani kegiatan pendidikan dan wadzifah di pondok.

Tawasul dan Pembacaan Al-Malhudot

Rangkaian apel pagi dibuka dengan Tawasul Al-Fatihah yang dipimpin oleh Ust. Edy Yusuf, S.Ud. Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan pembacaan Al-Malhudot oleh Ust. Nuril Mubin, M.Pd.

Al-Malhudot berisikan pesan dan harapan Hadratusy Syaikh KH. Ahmad Asrori Al Ishaqy yang disampaikan kepada para santri. Salah satu pesan yang ditekankan dalam kesempatan tersebut adalah pentingnya senantiasa menjaga kedisiplinan dan melatih kesungguhan dalam menjalani kehidupan.

“Senantiasalah melatih jiwa, bersungguh-sungguh dan sabar serta ridho atas cobaan, himpitan, gangguan, rintangan, hambatan dan halangan, dengan bertawakal dan bersandar kepada Allah SWT.”

Pesan tersebut menjadi pengingat bagi para santri bahwa proses pendidikan di pondok tidak hanya berkaitan dengan kemampuan akademik, tetapi juga pembentukan jiwa, kesabaran, kedisiplinan, dan keteguhan dalam menghadapi berbagai tantangan.

Kepala PDF Ulya Al Fithrah Ingatkan Agenda Akademik

Sesi berikutnya adalah amanat Pembina apel yang disampaikan langsung oleh Kepala PDF Ulya Al Fithrah, Ust. H. Nasiruddin, M.M. Dalam amanatnya, beliau mengingatkan para santri mengenai sejumlah agenda penting PDF Ulya Al Fithrah yang akan berlangsung hingga beberapa bulan ke depan. Agenda tersebut meliputi:

– Asesmen Harian: September 2026, pekan ke-2

– Asesmen Tengah Semester (ATS): Oktober 2026, pekan ke-2

– Tryout Imtihan Wathani: November 2026, pekan ke-1

– Asesmen Sumatif Akhir Semester (ASAS): 14–26 Desember 2026

– Imtihan Wathani: 21–23 Desember 2026

Beliau juga mengingatkan bahwa Asesmen Harian dan Asesmen Tengah Semester merupakan bagian penting dalam proses evaluasi pembelajaran. Karena itu, para santri diharapkan mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya.

Selain agenda tersebut, pada November 2026 juga akan dilaksanakan Tes Kemampuan Akademik (TKA). Beliau berharap seluruh santri kelas XII dapat mengikuti kegiatan tersebut meskipun pelaksanaannya tidak bersifat wajib.

Sementara itu, Desember 2026 akan menjadi bulan yang cukup padat dengan adanya pelaksanaan Imtihan Wathani (IW) dan ASAS Ganjil.

Dalam amanatnya, beliau menyampaikan beberapa pesan kepada para santri:

“Kesungguhan dan kedisiplinan kita, akan menentukan arah masa depan kita. Wadzifah di pondok akan menjadi landasan batin kita agar selamat di dunia dan akhirat” tutur beliau.

“Kalau bersungguh-sungguh insya Allah akan dimudahkan. Sebaliknya, Kalau bermalas-malasan jalannya semakin menyulitkan” pesan beliau.

Para santri juga diingatkan untuk meningkatkan kedisiplinan, baik dalam mengikuti kegiatan sekolah maupun menjalankan wadzifah di pondok.

Al-Qur’an dan turats juga menjadi bagian penting dalam proses pendidikan santri kelas XII, sekaligus menjadi salah satu syarat kelulusan. Karena itu, para santri diharapkan memberikan perhatian yang seimbang terhadap pendidikan akademik, Al-Qur’an, serta pembelajaran turats.

Apel Menjadi Momentum Mempererat Hubungan

Apel pagi PDF Ulya Al Fithrah tidak hanya menjadi kegiatan untuk mendengarkan nasihat dan menyampaikan informasi mengenai agenda pendidikan. Lebih dari itu, apel menjadi momentum untuk saling mengenal dan mempererat hubungan di lingkungan pondok.

Melalui kegiatan bersama seperti ini, hubungan antara santri dengan santri lainnya, santri dengan asatidz, serta santri dengan pengurus PDF Ulya Al Fithrah dapat semakin terjalin dengan baik.

Kebersamaan tersebut menjadi bagian dari proses pendidikan di pesantren. Sebab, keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kegiatan belajar di dalam kelas, tetapi juga oleh kedisiplinan, kebersamaan, keteladanan, dan kesungguhan dalam menjalankan seluruh aktivitas pondok.

Dengan berbagai agenda akademik dan kegiatan pondok yang akan datang, seluruh santri PDF Ulya Al Fithrah diharapkan dapat mempersiapkan diri dengan lebih baik, menjaga kedisiplinan, serta meningkatkan kesungguhan dalam belajar dan menjalankan wadzifah.

Semoga setiap langkah dan ikhtiar yang telah dilakukan oleh seluruh keluarga besar PDF Ulya Al Fithrah membuahkan hasil kebaikan dan keberkahan. Aamiiin.

Bersholawat Mengharapkan Rezeki

Mencari nafkah adalah bagian dari ibadah panjang manusia. Ia tidak kalah pentingnya dengan sholat, puasa dan bentuk-bentuk penghambaan lainnya. Ibadah yang panjang, sebab pelaksanaannya adalah selama hayat masih dikandung badan.

Memberi nafkah kepada keluarga adalah wajib bagi seorang ayah sebagai kepala keluarga. Terpenuhinya rezeki adalah bagian dari kebutuhan pokok yang harus dicukupi setiap harinya.

Terdapat banyak ayat dan hadits yang memerintahkan kita untuk menggapai rezeki-Nya yang telah ditebar di muka bumi. Tugas kita adalah berikhtiyar mendapatkannya, serta bertawakal untuk mendapat rezeki yang halalan lagi thoyiban.

Ibadah Bermotivasikan Rezeki

Di sebuah kelas ada seorang santri yang bertanya: “Wahai guru, bukankah ibadah itu seharusnya adalah dilakukan secara ikhlas. Tapi kenapa justru ketika dalam sholat pun, kita memohon kemudahan rezeki. Warzuqnii, ketika duduk di antara dua sujud misalnya”

Sang guru tersentak sejenak dengan pertanyaan muridnya. Ia membenarkan bahwa berharap imbalan tidak dianjurkan. Ia juga menegaskan bahwa memohon kelancaran rezeki, kesehatan, atau urusan duniawi kepada Allah SWT setelah menunaikan ibadah sangat dianjurkan.

Allah SWT menyukai hambanya yang mau berdoa memohon kepada-Nya. Secara jelas di dalam surat Al-Fatihah dikatakan: “Hanya kepada-Mu lah kami menyembah dan hanya kepada-Mu lah kami meminta pertolongan” (QS. Al Fatihah ayat 5).

Allah SWT berjanji akan mengabulkan doa hamba-Nya yang memohon kebaikan di dunia maupun di akhirat. Bahkan ada juga beberapa ibadah yang pernah dipraktikkan dan diajarkan oleh Rasulullah SAW yang tujuannya ‘menarik rezeki’.

Sholat Hajat, Sholat Dhuha, Membaca Waqi’ah, Beristighfar, dan lain sebagainya. Mengharapkan rezeki dari amalan-amalan ini sama artinya dengan meyakini janji Allah SWT. Dalam Alquran disebutkan:

قُلْتُ اسْتَغْفِرُوْا رَبَّكُمْ اِنَّهٗ كَانَ غَفَّارًاۙ   ۝١٠ يُّرْسِلِ السَّمَاۤءَ عَلَيْكُمْ مِّدْرَارًاۙ ۝١١

Lalu, aku berkata (kepada mereka), “Mohonlah ampun kepada Tuhanmu. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun. (QS. Nuh · Ayat 10) (Jika kamu memohon ampun,) niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu, (QS. Nuh · Ayat 11)

Allah SWT memerintahkan kita untuk beribadah. Menghambakan diri kepada-Nya. Dalam ke-sah-an pelaksanakannya, tidak ada kewajiban untuk ikhlas dalam melaksanakannya. Untuk keperluan kelancaran rezeki disunahkan untuk Sholat Liqadail Hajat dan Sholat Duha.

Para ulama menjelaskan bahwa derajat ibadah tertinggi adalah ikhlas, yakni beribadah murni karena cinta dan untuk mencari rida Allah SWT. Menjadikan rezeki sebagai motivasi pendorong semangat beribadah itu dibolehkan, tetapi tujuan utama ibadah haruslah tetap untuk mengabdi kepada-Nya.

Dalam pengajiannya, Hadratusy Syaikh bahwa yang penting jangan terang-terangan melaksanakan sholat, baca Alquran dan baca Sholawat dengan niat agar dimudahkan rezekinya. Tetap dengan niat lillahi ta’ala.

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَّحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ﴾ [ طه: 132]

Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa. [TaHa: 132]

Sholawat Agar Rezeki Deras

Sholawat memiliki akar kata yang sama dengan sholat. Sholat sendiri mempunyai arti doa secara bahasa. Artinya, orang yang sedang sholat ataupun bersholawat, sama halnya sedang berdoa.

Dalam kebanyakan shighot redaksi sholawat yang banyak dibaca, isinya adalah permohonan kepada Allah SWT untuk memberikan rahmat kepada Rasulullah SAW.

Di antara shighot sholawat yang berlaku di kalangan ulama salafus shalih adalah Sholawat Ar-Rizq al-Midrar. Redaksi Sholawat Ar-Rizq Al-Midrar ini tercatat dan terbukukan dalam Kitab An-Nafahat fi Maa Yata’allaqu bi al-Tarawih wa al-Witr wa al-Tasbih wa al-Hajat yang diterbitkan oleh Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya. Tepatnya di halaman 61.

Hadratusy Syaikh KH. Ahmad Asrori Al-Ishaqy mengijazahkan sholawat ini disamping ijazah bacaan Yasin fadhilah dan Waqi’ah fadhilah, serta hasbiyallah.

Lajeng, Ten mriki Kulo nambahi maleh nopo ijazah sholawat. Seng Endi ijazah sholawat niku kanggo nopo rizkine Ben deres. (terj: Kemudian, di sini Saya menambahkan ijazah sholawat. Yang mana bacaan sholawat ini bertujuan agar rezekinya deras)” kata beliau.

Jamaah seketika berseru amin setelah Hadratusy Syaikh KH. Ahmad Asrori memberikan ijazah ini.

Coba sampeyan, Kulo ngongkon Ten sampeyan. ‘Sampeyan waos nggih Niki ngken ndalu, insya Allah sampeyan mlebu suwargo’. Paling, mbenjeng mawon Yai. “Rizkine”, “nggih”. Wong Panceng sampeyan njaluk seng lang nyoto ngeten”.

(terj: Coba, kalau Saya memerintahkan kalian semua. ‘Anda nanti baca ini nanti malam ya, insya Allah masuk surga’. Paling ‘besok saja Yai’ (jawabannya)”. “Rezekinya (supaya lancar)”, “yaa”. Memang kalian ini sukanya yang langsung nyata” kata Hasratusy Syaikh dengan sesekali bercanda.

Berikut redaksi Sholawat Ar-Rizq al-Midrar tersebut:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً تُطِيلُ لَنَا بِهَا الْأَعْمَارَ وَتُزِيلُ بِهَا عَنَّا جَمِيعَ الْأَسْقَامِ وَالْأَخْطَارِ وَتُدِرُّ بِهَا عَلَيْنَا الرِّزْقَ الْمِدْرَارَ وَتَقْضِي لَنَا بِهَا جَمِيعَ الْأَوْطَارِ وَتُشَفِّعْهُ فِيْنَا عِنْدَكَ فِي دَارِ الدُّنْيَا وَدَارِ الْقَرَارِ بِرَحْمَتِكَ يَا غَفَّارُ يَا قَهَّارُ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ.
Allohumma Sholli ‘Ala Sayyidina Muhammadin Sholatan Tuthilu Lana Bihal A’mar Wa Tuzilu Biha ‘Anna Jami’al Asqom Wal Akhthor Wa Tudirru Biha ‘Alainar-Rizqol Midror Wa Taqdi Lana Biha Jami’al Author Wa Tusyaffi’hu fina ‘Indaka Fi Darid-Dunya Wa Daril Qoror Birohmatika Ya Goffar Ya Qohhar Wa ‘Ala Alihi Wa Shahbihi Wa Sallim
Artinya :
“Ya Alloh, limpahkanlah tambahan Rahmat dan keselamatan atas junjungan kami Nabi Muhammad Saw, keluarga dan para sahabatnya yang mana dengan limpahan Rahmat itu, Engkau memanjangkan Umur kami, Engkau menghilangkan segala penyakit dari diri kami, Engkau mengucurkan rezeki yang melimpah kepada kami, Engkau mengabulkan kebutuhan kami, Engkau memberikan Syafa’at di Dunia dan Akhirat kepada kami, wahai Zat yang Maha Pengampun lagi Maha Perkasa.”

Mengharap Dunia dengan Amal akhirat

Beliau Hadratusy Syaikh KH. Ahmad Asrori Al-Ishaqy menegaskan bahwa jika ada urusan duniawi yang diperoleh dengan menggunakan amal akhirat (dengan perantara membaca ayat-ayat atau surat tertentu dari Al-Quran, misalnya), itu pada hakikatnya bukan untuk memenuhi urusan duniawi secara murni.

Artinya, amal ibadah dan bacaan-bacaan doa yang dilaksanakan adalah bentuk tawakal. Sementara ikhtiyarnya adalah dengan melakukan pekerjaan-pekerjaan secara profesional.

Tidak bisa dipungkiri bahwa sebagai manusia sekaligus hamba, kita membutuhkan rezeki untuk kuat mendirikan ibadah dan memenuhi kebutuhan dunianya.

Rasulullah SAW sendiri secara umum mendoakan:

اَللَّهُمَّ اجْعَلْ رِزْقَ آلِ مُحَمَّدٍ قُوْتًا

“Ya Allah jadikanlah Rezeki keluarga Muhammad (seluruh umat yang beriman kepada Rasulullah SAW) berkecukupan.” (Al -Bukhari 4/222), Muslim 3/103, 8/217).

Mengakhiri tulisan ini. Jika ada yang mengadu ‘Saya sudah amalkan ini, baca ini, baca itu, tapi begini-begini aja’, maka kita perlu kita perlu luruskan bahwa rezeki itu terdiri dari dua macam. Ada rezeki dohir yang kelihatan mata dan ada rezeki bathin yang tidak nampak oleh mata.

Rezeki dohir berupa terpenuhinya kebutuhan duniawi dan rezeki yang batin berupa menerimanya hati terhadap keadaan yang menimpa. “Seng jeneng wong sugeh niku nopo? Wong seng atine nerimo” (Yang dinamakan kaya itu apa? Orang yang hatinya mudah menerima) dawuh Hadratusy Syaikh.

اَللَّهُمَّ اجْعَلْ رِزْقَنَا فِيْ هَذِهِ الدُّنْيَا قُوْتًا وَكَفَافًا

Ya Allah jadikanlah Rezeki kami di dunia ini sebagai kekuatan (melaksanakan ibadah) dan mencukupi kebutuhan. Aamiiin.

Oleh: Muhammad Zakki

Seminar Anti Bullying di Al Fithrah: Membentuk Pesantren yang Nyaman dan Bebas Perundungan

Surabaya, 24 Agustus 2026 — Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya terus berupaya menghadirkan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan mendukung perkembangan karakter santri. Salah satu upaya tersebut diwujudkan melalui Seminar dan Sosialisasi Anti Bullying dengan tema “Mondok Nyaman, Prestasi Gemilang: Mewujudkan Pesantren Bebas Bullying.”

Kegiatan yang digelar pada Senin, 24 Agustus 2026 M atau 11 Rabiul Awal 1448 H ini diinisiasi oleh Bimbingan Konseling (BK) Al Fithrah dan berlangsung di Gedung Lantai 5 Al Fithrah. Seminar diikuti oleh seluruh santri kelas VII PDF Wustha Al Fithrah dan Isti’dad Ulya Al Fithrah.

Kegiatan ini menjadi bagian dari ikhtiar pesantren untuk membangun kesadaran bersama mengenai pentingnya menjaga hubungan antarsantri agar tetap sehat, saling menghormati, dan jauh dari berbagai bentuk perundungan.

Acara dimulai dengan Tawassul Istighotsah oleh Ust. Abdulloh, M.Ag Mudir Ma’had aly dan Maulid Fi hubby oleh Ust. M. Khoiri, S.Ud, Pendidik PDF Wustha Al Fithrah, serta dilanjutkan dengan sambutan-sambutan.

Sambutan pertama disampaikan oleh Ust. Nur Yasin, S.Ud. Selaku Kepala PDF wustha Al Fithrah, beliau menyampaikan agar para santri tidak lagi malu untuk untuk datang ke ruang BK Al Fithrah. Sementara itu, Ust. M. Toha, S.Ud dalam sambutannya selaku Kepala Bagian Kewadhifahan meminta kerja sama santri untuk bersama membentuk lingkungan pesantren yang aman dan nyaman.

Membangun Kesadaran tentang Bullying di Lingkungan Pesantren

Pemateri pertama dalam seminar ini disampaikan oleh M. Nasir, S.Pd.,Gr. Beliau menjelaskan bahwa bullying atau perundungan merupakan perilaku yang dapat menyakiti, merendahkan, mengintimidasi, atau mengucilkan orang lain. Dampaknya tidak hanya berupa luka secara fisik, tetapi juga dapat memengaruhi kondisi psikologis korban, seperti munculnya rasa takut, tertekan, malu, tidak aman, hingga kehilangan kepercayaan diri.

Dalam kehidupan pesantren, persoalan tersebut perlu menjadi perhatian bersama. Santri hidup dan belajar dalam lingkungan yang sama dengan berbagai latar belakang karakter, kebiasaan, serta kemampuan. Perbedaan tersebut seharusnya menjadi ruang untuk belajar saling memahami, bukan menjadi alasan untuk merendahkan satu sama lain.

Waka Kesiswaan SMP YPP Nurul Huda ini juga meminta beberapa bentuk bullying yang perlu diwaspadai antara lain memukul, mengejek nama orang tua, mempermalukan teman, mengucilkan seseorang dari kelompok, mengancam, hingga menyebarkan aib melalui media sosial.

Hal penting yang ditekankan dalam seminar adalah bahwa tindakan bullying tidak selalu harus terjadi berkali-kali untuk mendapatkan perhatian. Tindakan serius yang dilakukan sekali pun, misalnya ancaman kekerasan atau mempermalukan seseorang di hadapan banyak orang, tetap perlu dihentikan dan ditindaklanjuti.

Karena itu, jangan menunggu perundungan terjadi berulang kali baru mengambil tindakan. Setiap tindakan yang berpotensi menyakiti, merendahkan, atau membahayakan orang lain perlu dicegah sejak awal.

Bercanda, Konflik, atau Bullying? Kenali Perbedaannya

Salah satu hal yang penting dipahami santri adalah membedakan antara bercanda, konflik biasa, dan bullying. Bercanda pada dasarnya dilakukan untuk bersenang-senang dan membuat kedua pihak merasa nyaman. Bercanda tidak bertujuan menyakiti atau merendahkan orang lain.

Sementara itu, konflik biasa dapat muncul karena adanya perbedaan pendapat atau kepentingan antara dua pihak yang relatif memiliki posisi seimbang. Konflik dapat diselesaikan melalui komunikasi, dialog, dan musyawarah.

Adapun bullying memiliki unsur tindakan menyakiti, merendahkan, mengintimidasi, atau menguasai orang lain. Korban biasanya berada dalam kondisi takut, tertekan, tidak berdaya, atau kesulitan menghentikan perlakuan tersebut.

Karena itu, kalimat “Saya cuma bercanda” tidak otomatis membuat sebuah tindakan menjadi benar. Jika seseorang merasa terluka, dipermalukan, atau takut akibat candaan tersebut, maka candaan itu perlu dihentikan dan dievaluasi. Pesan sederhananya: bercanda boleh, tetapi menyakiti bukan budaya.

Seminar juga mengajak santri untuk mengubah kebiasaan negatif menjadi perilaku positif. Perubahan tersebut dapat dimulai dari hal-hal sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Dari mengejek menjadi menyemangati. Dari mengucilkan menjadi mengajak berteman. Dari menyakiti menjadi menolong. Dari menyebarkan aib menjadi menjaga privasi. Dan dari ikut-ikutan menjadi berani mengatakan, “Stop, itu tidak baik.”

Pesantren yang aman bukan hanya tanggung jawab guru, kiai, pengasuh, atau pengurus. Menciptakan lingkungan yang nyaman merupakan tanggung jawab seluruh warga pesantren.

Setiap santri dapat mengambil peran dengan menjadi teman yang membuat orang lain merasa diterima, dihargai, dan aman.

Semangat tersebut dirangkum dalam pesan “STOP BULLYING • START CARING • SPREAD KINDNESS.” STOP BULLYING, hentikan segala bentuk perundungan dan kekerasan. START CARING, mulailah peduli, menyayangi, dan memperhatikan sesama. SPREAD KINDNESS, sebarkan kebaikan, keramahan, serta sikap saling menghargai.

Pesantren Aman, Santri Nyaman

Materi berikutnya disampaikan oleh Faiz Ihsan Munir Al Faruq, mahasiswa S1 Psikologi Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya. Dalam pemaparannya, ia mengangkat tema “Pesantren Aman, Santri Nyaman: Membangun Lingkungan Pesantren yang Aman dan Bebas Bullying.”

Pesantren, menurut materi yang disampaikan, bukan hanya tempat menuntut ilmu. Pesantren juga menjadi ruang pembentukan karakter, akhlak, dan kepribadian santri. Karena itu, lingkungan pesantren perlu memberikan rasa aman, baik secara fisik maupun psikologis dan sosial.

Membangun pesantren bebas bullying membutuhkan keterlibatan seluruh unsur pesantren. Pengasuh, ustaz, pengurus, serta santri memiliki peran penting dalam membangun budaya saling menghormati dan menjaga martabat sesama.

Santri juga perlu memiliki keberanian untuk mencegah perundungan. Perbedaan karakter bukan alasan untuk merendahkan. Kekurangan seseorang bukan bahan untuk dijadikan ejekan. Dan sebuah masalah tidak harus diselesaikan dengan kekerasan.

Pesantren yang aman pada akhirnya bukan sekadar pesantren yang bebas dari kekerasan. Pesantren aman adalah tempat ketika setiap santri merasa dihargai, dilindungi, didengar, dan diterima.

Ketika rasa nyaman tumbuh, proses belajar pun dapat berjalan dengan lebih baik. Dari lingkungan yang sehat, lahir santri yang percaya diri, berakhlak, dan mampu membangun hubungan sosial secara positif.

Deklarasi Anti Bullying Al Fithrah

Seminar kemudian dilanjutkan dengan mini talkshow dan sesi tanya jawab, yang memberikan ruang kepada santri untuk menyampaikan pertanyaan dan berdiskusi mengenai persoalan perundungan dalam kehidupan sehari-hari.

Rangkaian kegiatan ditutup dengan Deklarasi Anti Bullying Santri Al Fithrah yang dipandu oleh Ust. Abdul Rouf, S.Ag. Deklarasi ini menjadi simbol komitmen bersama untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan bebas dari bullying.

Ice breaking yang dipandu Ust. Badrul Chomar, M.Psi semakin menambah keseruan acara pagi ini. Akma, santri asal Tegal Jawa Tengah berharap agar acara ini dapat membuahkan hasil berupa tidak lagi ada bully di antara santri. Sementara itu Shobirin asal Bawean Gresik sangat senang dengan acara semacam ini dan berharap agar sering ada sosialisasi semacam ini.

Melalui seminar ini, Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya menegaskan bahwa kenyamanan santri bukan sekadar pelengkap dalam proses pendidikan. Mondok nyaman adalah bagian dari ikhtiar menuju prestasi yang gemilang.

Sebab, pesantren yang baik bukan hanya tempat seseorang menjadi pintar, tetapi juga tempat seseorang belajar menghargai, menyayangi, dan menjaga sesama.

Pesantren aman, santri nyaman. Ketika lingkungan dijaga dengan kasih sayang, ilmu tumbuh dengan tenang dan akhlak berkembang dengan gemilang.

Majlis Ahad Kedua Rabiul Awal 1448 H: Menyambut Cinta Rasulullah

Surabaya, 23 Agustus 2026 — Ahad pagi di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya terasa berbeda. Sejak malam hari, jamaah dari berbagai daerah mulai berdatangan. Ada yang datang dari dalam kota, ada pula yang menempuh perjalanan panjang dari luar provinsi.

Mereka datang bukan sekadar untuk menghadiri sebuah acara. Mereka datang untuk duduk bersama, berdzikir, membaca maulid, menyebut nama Rasulullah ﷺ, dan menyambung kembali rasa cinta kepada beliau.

Pada Ahad, 23 Agustus 2026, Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya kembali menyelenggarakan Majlis Ahad Kedua dalam rangka menyambut suasana bulan Rabiul Awal 1448 H. Tanggal tersebut bertepatan dengan 10 Rabiul Awal 1448 H berdasarkan penanggalan Hijriah.

Tenda panjang hampir memenuhi seluruh lapangan pondok. Majlis Ahad Kedua dimulai pukul 07.00 WIB. Tetapi bagi panitia, khidmah telah dimulai jauh sebelum matahari terbit.

Sejak malam hari, jamaah yang datang dari luar provinsi telah mulai berdatangan. Panitia bagian maktab penginapan menyambut mereka dengan ramah, kemudian mengarahkan para jamaah menuju kelas-kelas yang telah dipersiapkan sebagai tempat istirahat.

Khidmah: Seni Mencintai

Di sisi lain, panitia bagian sket juga sibuk mempersiapkan pembatas antara jamaah putra dan putri. Tali, kain, serta petunjuk lokasi telah disiapkan sejak malam agar ketika pagi tiba, jamaah dapat langsung menempati tempatnya dengan tertib.

Pemandangan semacam ini sering kali luput dari perhatian. Orang mungkin hanya melihat majlis ketika acara telah dimulai. Padahal, di balik duduknya ribuan jamaah dengan tenang, terdapat banyak tangan yang bekerja dalam senyap.

Ada yang mengatur kamar mandi. Ada yang menyiapkan konsumsi. Ada yang membersihkan. Ada yang mendekorasi agar lokasi acara sedap dipandang mata. Ada yang menerima tamu. Ada yang berjaga hingga larut malam. Semuanya memiliki satu nama: khidmah. Dan dalam tradisi pesantren, khidmah bukan sekadar pekerjaan teknis. Ia adalah seni mencintai.

Khidmah juga hadir dalam bentuk jamuan. Jamaah Al Khidmah Kediri Raya menyiapkan nasi goreng talaman untuk seluruh jamaah yang hadir. Jamuan tersebut menjadi semakin istimewa dengan adanya sedekah seekor kerbau Tedoong Toraja untuk hidangan para jamaah Majlis Ahad Kedua.

Makanan akhirnya bukan hanya perkara memberikan amunisi raga. Ada tangan yang menyiapkannya. Ada hati yang ikhlas menyedekahkannya. Ada tenaga yang mengolah dan membagikannya. Begitulah majlis dibangun: bukan hanya dengan tenda dan panggung saja, tetapi dengan keikhlasan banyak orang mensukseskannya.

Membaca Maulid: Meneladani Sirah Orang Mulia

Tepat pukul 07.00 WIB, Majlis Ahad Kedua dimulai. Rangkaian acara diisi dengan tawasul, istighotsah, khotmil Quran, Maulid Ad-Diba’i, Maulid Fi Hubby, kemudian ditutup dengan doa dan ramah tamah.

Membaca maulid pada hakikatnya bukan hanya membaca rangkaian syair tentang Rasulullah ﷺ. Di dalamnya terdapat usaha untuk menghadirkan kembali kisah, akhlak, perjuangan, dan kemuliaan beliau ke dalam hati.

Maulid Ad-Diba’i, misalnya, merupakan karya Imam Wajihuddin Abdurrahman ad-Diba’i yang memuat kisah, pujian, serta gambaran kemuliaan Rasulullah ﷺ. Kitab ini dikenal luas di berbagai majlis keislaman dan pesantren di Nusantara. Di antara ungkapan yang masyhur dalam Maulid Ad-Diba’i adalah:

يَا رَبِّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، يَا رَبِّ صَلِّ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ

“Wahai Tuhanku, limpahkanlah shalawat kepada Nabi Muhammad, wahai Tuhanku, limpahkanlah shalawat dan salam kepadanya.”

Kalimat sederhana ini sebenarnya menyimpan pesan yang dalam.

Cinta kepada Rasulullah ﷺ tidak cukup hanya menjadi pengetahuan di kepala. Ia perlu dihidupkan melalui shalawat, pengenalan terhadap sirah beliau, dan usaha meneladani akhlaknya.

Al-Qur’an sendiri mengingatkan:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah suri teladan yang baik bagi kalian.”
(QS. Al-Ahzab: 21)

Karena itu, majlis maulid seharusnya tidak berhenti pada merdunya bacaan. Ada akhlak yang harus dibawa pulang. Ada kasih sayang yang harus dipraktikkan. Ada sunnah yang harus dihidupkan. Dan ada kerinduan kepada Rasulullah ﷺ yang semoga senantiasa berkembang.

Dengan demikian, ketika jamaah membaca kisah Rasulullah ﷺ, sejatinya mereka sedang diajak untuk bertanya kepada diri sendiri: Sudah sejauh mana bukti cinta kepada Rasulullah ﷺ berbuah akhlak pada kehidupan kita?

Rangkaian acara seremonial berakhir sekitar pukul 10.00 WIB. Sebelum dilanjutkan dengan mauidoh hasanah, pembawa acara menyampaikan sejumlah agenda Majlis Dzikir dan Maulidurrasul ﷺ  yang akan diselenggarakan oleh Jamaah Al Khidmah di berbagai daerah.

Di antaranya adalah:

  • Haul KH. Hasan Arif Waru, Sidoarjo pada Ahad malam, 23 Agustus 2026.
  • Haul Akbar Kabupaten Tulungagung, Ahad pagi, 30 Agustus 2026.
  • Haul Akbar Pati, Jawa Tengah, Ahad malam, 30 Agustus 2026.
  • Haul Akbar Trenggalek, Sabtu pagi, 5 September 2026.
  • Haul Akbar Kanjeng Sunan Giri, Sabtu malam Ahad, 5 September 2026.
  • Haul Akbar Kabupaten Pasuruan, Ahad pagi, 6 September 2026.
  • Haul di Pondok Pesantren Matholiul Anwar Karanggenang, Lamongan, Selasa pagi, 15 September 2026.
  • Haul Akbar Ngroto, Rabu malam dan Kamis pagi, 30 September–1 Oktober 2026.
  • Program Umrah dan Haul Akbar Makkah 2026 bersama Keluarga Ndalem, Jamaah Al Khidmah dan Ukhsafi Copler Community, selama 12 hari dengan keberangkatan 28 November 2026.
  • Haul Akbar Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah, Sabtu malam dan Ahad pagi, 2 Syakban 1448 H / 9–10 Januari 2027.

Rangkaian agenda tersebut memperlihatkan bahwa majlis bukanlah pertemuan yang berdiri sendiri. Satu majlis mengantarkan jamaah menuju majlis berikutnya. Satu pertemuan menyambungkan silaturahmi kepada pertemuan yang lain. Dan dari satu tempat, rasa cinta kepada Rasulullah ﷺ terus dibawa menuju tempat-tempat berikutnya.

Berbekal Cinta Seperti Julaibib

Setelah rangkaian dzikir dan maulid, jamaah mendapatkan mauidoh hasanah yang disampaikan Habib Abdul Qodir Mauladawilah dari Malang. Salah satu kisah yang disampaikan adalah kisah seorang sahabat Rasulullah ﷺ bernama Julaibib.

Julaibib bukan sahabat yang dikenal karena rupa, kekayaan, atau kedudukan. Ia justru merupakan sosok yang secara sosial tidak terlalu diperhitungkan oleh manusia. Namun Rasulullah ﷺ mengenalnya. Bahkan lebih dari itu, Rasulullah ﷺ mencintainya.

“Ada salah seorang sahabat Rasulullah SAW yang tidak dikenal dan tidak terpandang, tapi Rasulullah SAW mencintainya. Beliau adalah Julaibib. Seorang yang tidak baik rupa dan tidak putih. Setiap berkehendak melamar seorang gadis, pasti dia akan ditolak” beliau membuka kisah. Akhirnya sahabat Julaibib dibantu Rasulullah SAW untuk melamar gadis pujaannya dan diterima.

Dalam Shahih Muslim, kisah Julaibib disebutkan secara khusus dalam bab tentang keutamaannya. Ketika Rasulullah ﷺ bertanya tentang siapa yang tidak hadir, para sahabat menyebut beberapa nama. Rasulullah ﷺ kemudian mengatakan bahwa beliau kehilangan Julaibib. Setelah dicari, Julaibib ditemukan telah gugur setelah membunuh tujuh musuh. Rasulullah ﷺ kemudian datang dan berdiri di sisinya.

Kisah ini memperlihatkan satu hal yang sangat manusiawi: Tidak semua orang yang besar di mata manusia adalah besar di sisi Allah. Sebaliknya, tidak semua orang yang luput dari pandangan manusia luput pula dari perhatian Rasulullah ﷺ.

Di sinilah kisah Julaibib menjadi sangat dekat dengan kehidupan kita. Kita hidup di zaman ketika manusia mudah menilai seseorang dari tampilan. Dari pakaian. Dari pekerjaan. Dari jumlah pengikut. Dari kedudukan. Dari popularitas. Padahal, ukuran kemuliaan tidak selalu terlihat dari apa yang tampak. Rasulullah ﷺ justru mengajarkan kepada umatnya untuk melihat manusia dengan kasih sayang.

Ketika Guru Menjadi Jalan Mengenal Rasulullah SAW

Dalam mauidohnya, Habib Abdul Qodir Mauladawilah juga mengajak jamaah merenungkan hubungan seorang murid dengan gurunya. Sebagaimana Rasulullah ﷺ memberikan perhatian kepada Julaibib, demikian pula seorang guru memberikan perhatian kepada murid-muridnya.

Kadang seorang murid merasa dirinya tidak dikenal. Padahal, bisa jadi gurunya justru terus memikirkan dirinya. Kadang seorang murid merasa jauh. Padahal, bisa jadi sang guru telah menghabiskan banyak waktu untuk mendoakan dan membimbingnya.

Karena itu, hubungan murid dengan guru tidak berhenti hanya karena perpisahan tempat. Apalagi ketika seorang guru telah berpulang ke hadirat Allah. Hubungan itu tidak semestinya hilang.

Justru doa, tawasul, mengenang keteladanan, membaca ajaran, serta meneruskan perjuangan dan khidmah menjadi bagian dari cara seorang murid menjaga hubungan batinnya dengan guru.

Dalam suasana majlis yang penuh dengan dzikir dan shalawat, disampaikan pula doa:

يَا اللهُ يَا مُغْنِي جُدْ عَطَا لَاتُبْطِي

بِالْوَالِي وَالْمُرْشِدِي شَيْخِ أَحْمَدَ أَسْرَارِي

“Ya Allah, Dzat Yang Maha Memberi kecukupan, limpahkanlah pemberian-Mu, dengan perantara wali dan mursyidku, Syaikh Ahmad Asrori.”

Doa tersebut menjadi ungkapan kerinduan seorang murid kepada guru, sekaligus harapan agar hubungan batin dengan guru menjadi jalan untuk semakin mengenal Rasulullah ﷺ.

“Kita Krisis Figur”

Salah satu kegelisahan yang disampaikan dalam mauidoh adalah tentang krisis figur. Di tengah zaman yang begitu ramai dengan berbagai tokoh, manusia justru bisa kehilangan teladan.

Kita mengenal banyak nama. Tetapi belum tentu mengenal keteladanan. Kita melihat banyak orang berbicara. Tetapi belum tentu menemukan seseorang yang hidupnya dapat diteladani.

Karena itu, mengenang Hadratusy Syaikh KH. Ahmad Asrori Al-Ishaqy bukan semata-mata mengenang sosok seorang guru yang telah wafat. Lebih dari itu, ia adalah usaha untuk mengingat kembali nilai-nilai yang beliau tanamkan: dzikir, khidmah, akhlak, tawadhu, kecintaan kepada Rasulullah ﷺ, serta perhatian kepada umat.

Di hadapan makam Hadratusy Syaikh, lahirlah sebuah doa yang sangat sederhana namun dalam: Semoga majlis ini menjadi perahu besar untuk menuju Rasulullah ﷺ.

Perahu itu adalah majlis. Dayungnya adalah dzikir. Anginnya adalah cinta. Dan tujuannya adalah ridha Allah serta kebersamaan dengan Rasulullah ﷺ.

Dari Julaibib, jamaah diajak memahami bahwa cinta Rasulullah ﷺ tidak selalu diberikan kepada mereka yang terlihat besar di mata manusia.

Dan majlis mengajarkan bahwa cinta kepada Rasulullah ﷺ tidak boleh berhenti pada lantunan shalawat. Cinta harus melahirkan akhlak. Cinta harus melahirkan khidmah. Cinta harus melahirkan kerinduan untuk mengikuti sunnah.

Cinta juga harus membuat kita senang berkumpul dengan orang-orang saleh dan menghidupkan majlis-majlis yang mengingatkan hati kepada Allah dan Rasul-Nya. Sebagaimana doa yang dipanjatkan dalam majlis tersebut:

يَا اللهُ، اجْعَلْ هٰذَا الْمَجْلِسَ سَفِينَةً عَظِيمَةً لِلْوُصُولِ إِلَى رَسُولِ اللهِ ﷺ

“Ya Allah, jadikanlah majlis ini sebagai perahu besar untuk menuju Rasulullah ﷺ.”

Semoga Majlis Ahad Kedua tidak hanya meninggalkan kenangan tentang sebuah Ahad pagi. Semoga ia meninggalkan sesuatu yang lebih dalam: hati yang semakin mencintai Rasulullah ﷺ, semakin menghormati guru, semakin ringan dalam khidmah, dan semakin rindu untuk berkumpul bersama orang-orang saleh.

Karena boleh jadi, dunia tidak selalu mencatat nama kita. Tetapi sebagaimana Julaibib, semoga Allah mencatat kita sebagai hamba yang mencintai Rasulullah ﷺ. Dan semoga cinta itu menjadi sebab kita dikumpulkan bersama beliau di akhirat kelak.

اللَّهُمَّ اجْمَعْنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ ﷺ فِي الْجَنَّةِ

Ya Allah, kumpulkanlah kami bersama Rasulullah ﷺ di dalam surga.