Lukman Hakim

Keistimewaan Manusia dalam Pandangan KH. Achmad Asrori Al-Ishaqy (2)

Pada tulisan sebelumnya telah disebutkan tiga keistimewaan manusia menurut KH. Achmad Asrori al-Ishaqy yang dikaji oleh Ust. Abu Sari dalam kajian al-Muntakhobat. Selain tiga keistimewaan sebelumnya, Ust. Abu juga memaparkan keistimewaan manusia lainnya yang ditulis Kiai Asrori dalam kitabnya, al-Muntakhobat.

Keempat, Allah jadikan hati manusia menurut fitrahnya yaitu layak dan pantas untuk menerima kebenaran yang bersifat absolut atau empiris, dapat menerima hakikat pengetahuan dan siap menerima amanah serta tanggung jawab. Kiai Asrori dalam bagian ini menyebutnya dengan term qalb (hati) karena hati sebagaimana dijelaskan al-Ghazali, ialah sumber pengetahuan. Melalui hati, terdapat energi yang mengirim sinyal pada otak.

Berbicara mengenai fitrah, banyak para ulama’ memberikan interpretasi yang berbeda. Diantaranya ada yang mengartikan bahwa fitrah memiliki hubungan dengan QS. al-A’raf ayat 172, utamanya pada peggalan ayat alastu birobbikum qolu bala syahidna artinya “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.”. Fitrah pada pendapat ini ialah mengenai keyakinan kita kepada Allah.

Berikutnya, makna fitrah yang berhubungan dengan hadis Nabi yang artinya, “setiap anak dilahirkan dalam fitrahnya” (H.R Bukhari dan Muslim). Bayi yang baru lahir, ibarat kertas putih yang masih bersih, tinggal tinta apa yang akan ditorehkan, jika bayi dididik dengan wawasan-wawasan maka ia akan berpengetahuan luas. Terakhir maksud dari  fitrah ialah potensi.

Menurut pendapat terakhir ini fitrah dibagi dua yaitu aqliyah dan jasadiyah. Maksud fitrah aqliyah adalah akal manusia bisa menerima kebenaran-kebenaran atau fakta empiris dan kedua, fitrah jasadiyah adalah fitrah yang terkait dengan asal potensi dan kemampuan dasar yang dimiliki oleh manusia. Dari klasifikasi fitrah tersebut, dapat dipahami bahwa fitrah yang dikehendaki oleh Kyai Asrori pada bagian empat ini adalah fitrah yang orientasinya pada potensi baik potensi aqliyah atau jasadiya, sebagaimana penjelasan di atas.

Kelima, Allah jadikan manusia sebagai penguasa terhadap seluruh fenomena dalam kehidupan karena manusia diutus oleh Allah di bumi sebagai khalifah (pemimpin). Khalifah yang dimaksud di sini adalah manusia di muka bumi sebagai pengganti Allah dalam merealisasikan dan menerapkan hukum-hukum Allah serta perintah-perintahnya, termasuk dalam menegakkan keadilan dan menjaga hak asasi manusia.

Selain itu, Allah juga mengutus manusia sebagai pemakmur di bumi hal ini termaktub dalam Surah al-Hud ayat 61 yang artinya, “Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya…”. Secara tidak langsung, ayat ini menjelaskan, manusia diutus oleh Allah selain sebagai khalifah juga sebagai pemakmur dengan cara menggali potensi-potensi alam yang bisa memberikan manfaat pada dirinya dan orang lain.

Keenam, Allah membuka dan memberikan manusia berbagai macam pengetahuan bahkan manusia dijadikan sebagai tempat untuk menyimpan pemahaman yang tidak Allah berikan pada yang lain. Penggalian kyai Asrori pada keistimewaan manusia di bagian ini ialah berlandaskan dialog Allah dengan malaikat yang dapat ditemukan dalam surah al-Baqarah ayat 30-33. Secara garis besar ayat-ayat yang saling berkelindan ini mengandung dua substansi yakni manusia sebagai khalifah dan Allah memberikan pengetahuan luar biasa kepada manusia.

Ketujuh, Allah jadikan manusia sebagai jalinan dari alam semesta melalui bentuknya. Artinya, bentuk manusia yang Allah ciptakan memiliki keserupaan dengan bentuk alam. Jika ditinjau dari kajian kosmologi, alam dibagi menjadi dua yaitu mikro kosmis (alam kecil) dan makro kosmis (alam besar). Pada kajian ini manusia berada pada bagian pertama yaitu mikro kosmis dan alam adalah makro kosmis.

Namun, tidak menutup kemungkinan, manusia bisa menjadi makro kosmis ketika derajatnya naik karena kemakrifatannya kepada Allah, sebaliknya alam yang menjadi mikro (kecil). Dalam kata lain, derajat ini bisa dicapai ketika ruhaniyahnya bisa mengalahkan basyariyahnya.

Kesimpulan

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwasannya keutaman yang Allah berikan kepada manusia merupakan bentuk kemuliaan, sebagaimana tercermin dalam surah al-Isra’ ayat 70 “Sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam dan Kami angkut mereka di darat dan di laut. Kami anugerahkan pula kepada mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna”.

Pada sisi lain dengan segala kemampuan yang Allah berikan, manusia juga memiliki tugas sebagai khalifah (pemimpin) dan mustamir (pemakmur) di muka bumi, artinya manusia memiliki peran utama dalam menegakkan hukum-hukum Allah dan melestarikan potensi alam, menjaga keadilan, kemakmuran, termasuk keseimbangan ekologi dan selainnya. Sehingga, untuk menjaga kemuliaan dan keutamaan yang Allah anugerahkan tersebut, seyogianya manusia dapat mengoptimalisasikan potensi dirinya, termasuk dengan mengasah spiritual dan intelektual.

Dirangkum dari Kajian al-Muntakhabat oleh Majelis Kebersamaan dalam Pembahasan ilmiah (MKPI) pada Rabu (12/06/2024)

Keistimewaan Manusia dalam Pandangan KH. Achmad Asrori Al-Ishaqy (1)

Kitab al-Muntakhabat merupakan karya Magnum Opus KH. Achmad Asrori al-Ishaqy. Kitab ini adalah kitab tasawuf yang pembahasannya cukup rinci. Sehingga, sangat cocok dijadikan pegangan untuk menambah pengetahuan tentang dunia sufistik dan sebagai pengantar untuk bermakrifat kepada Allah.

Salah satu pembahasan menarik dalam kitab al-Muntakhabat ini ialah pembahasan tentang keistimewaan-keistimewaan manusia. Keistimewaan yang dimaksud di sini adalah keistimewaan yang Allah anugerahkan kepada manusia yang tidak dimiliki oleh selainnya dan bahkan tidak dimiliki oleh malaikat. Dengan demikian, tulisan ini akan mengurai keistimewaan-keistimewaan manusia perspektif Kiai Asrori.

Adanya tujuan mengetahui keistimewaan-keistimewaan manusia di sini bukan berarti untuk disombongkan melainkan untuk disyukuri sebagai anugerah dari Allah swt.

Dalam kitab al-Muntakahabat ini, Kiai Asrori memberikan judul pada tema ini dengan “min khasa’is al-insan” (sebagian dari keistimewaan manusia). Artinya, bermacam keistimewaan yang disebutkan dalam kitab ini hanya sebagian saja. Dan, tidak menutup kemungkinan ada keistimewaan-keistimewaan lain yang tidak disebutkan karena kata “min” pada judul tersebut berfaidah li al-tab’id.

Keistimewaan Manusia

Kiai Asrori menuliskan beberapa keistimewaan manusia dalam al-Muntakhabat. Pertama, Allah jadikan ruh manusia yang sifatnya lembut dan immaterial yang tidak bisa diraba, dimasukkan ke dalam raga manusia yang sifatnya material. Tujuannya adalah agar manusia dapat bergerak dan beraktifitas. Ruh yang dimaksud ini baik orientasinya pada ‘nyawa’ yang dapat menghidupkan jasad yang mati atau ruh al-mudrikah yakni ruh yang memiliki kemampuan untuk mengerti dan memahami. Dari kedua pengertian ruh tersebut, kedua-duanya masuk dalam bagian ini, sehingga manusia bisa bangkit, berkreasi dan melakukan apa saja karena ada ruh dalam jasadnya.

Lebih jauh, Ust. Abu Sari dalam kajian al-Muntakhabat mengutip pendapat Abu Hamid al-Ghazali dalam Mizan al-Amal mengenai jiwa dan raga. Eksistensi jiwa merupakan bagian yang berdiri sendiri karena jiwa dan raga berada pada dimensi yang berbeda. Jika raga bersifat material, terdiri dari unsur-unsur yang membentuk; kepala, tangan, kaki dan sebagainya, maka jiwa bersifat immaterial yang mempunyai daya mengerti dan memahami. Jadi, jiwa inilah yang kemudian berkaitan dengan qalb (hati), akal dan ruh itu sendiri.

Kedua, Allah jadikan raga manusia dalam ciptaan yang amat sempurna. Kemudian, Allah hiasai dengan berbagai keindahan dari makhluk-Nya. Dan, manusia merupakan makhluk yang diciptakan Allah dengan begitu mengagumkan.

Imam al-Ghazali dalam kitab Asrar al-Makhluqat (rahasia-rahasia dibalik semua ciptaan), membahas secara khusus tentang hikmah dan rahasia diciptakannya manusia. Melalui kitab ini al-Ghazali meyakinkan bahwa manusia adalah ciptaan yang sangat mengagumkan. Hal ini bisa dilihat dari asal mula proses penciptaannya yang berasal dari nutfah (air mani), setelah itu bertransformasi menjadi ‘alaqah (segumpal darah), lalu mudghah (segumpal daging). Kemudian, ada tulang-tulang yang dibungkus dengan daging dan daging diikat dengan otot. Otot-otot ini tersebar di seluruh tubuh dan memiliki fungsinya masing-masing. Pada akhirnya, dengan perincian yang cukup luas ini al-Ghazali menyimpulkan “jasaduka kulluha ‘ajaib” (jasadmu itu secara keseluruhan adalah keajaiban).

Ketiga, Allah jadikan hati manusia sebagai bejana yang dapat menampung makna, hikmah dan rahasia ketuhanan. Oleh sebab itu, Rasulullah dalam hadisnya menyatakan,

إِنَّ اللهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

“Sungguh Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, melainkan melihat hati dan amal kalian.” [HR. Muslim]

Kaitannya dengan bagian keistimewaan manusia yang ketiga ini ialah Allah tidak memandang manusia dari rupa dan harta melainkan apa yang hadir dalam hati manusia. Sehingga, makna yang muncul dalam hati adalah dimensi yang menjadi pusat perhtian bagi Allah. Dalam menjelaskan bagian yang ketiga ini, Kiai Asrori mengutip hadis dari Imam al-Thabrani yang artinya, “Sesungguhnya Allah mempunyai bejana di bumi yakni hati. Sedangkan bejana (hati) yang paling disenangi oleh Allah adalah bejana yang paling jernih, kuat dan lembut”. Menafsiri hadis ini, Ali bin Abi Thalib berkata, maksud dari hadis di atas ialah jernih dalam keyakinan, kuat dalam perpegang teguh pada agama dan lembut pada sesama.

MKPI Ponpes Al Fithrah Gelar Kajian Al-Muntakhabat dengan Tema “Keistimewaan-Keistimewaan Manusia”

Majelis Kebersamaan dalam Pembahasan Ilmiah (MKPI) Ponpes Assalafi Al Fithrah menggelar kajian kitab al-Muntakhabat karangan KH. Achmad Asrori dengan tema “min khasais al-insan” (Sebagian Keistimewaan Manusia) yang bertempat di auditorium pendopo Ponpes Assalafi Al Fithrah Surabaya pada Rabu (12/06/2024).

Kajian ini merupakan kajian rutinan yang diadakan setiap bulan. Sementara pada sesi ini, kajian al-Muntakhabat merupakan kajian pertama di tahun ajaran baru Ponpes Assalafi Al Fithrah setelah sebelumnya vakum selama tiga bulan karena liburan pondok.

“Momentum kajian spesial ini akan dirutinkan sekali dalam sebulan, merupakan bukti nyata atas kesungguhan kita bersama sebagai santri-santri ponpes Al Fithrah yang dalam hal ini kita tetap menyisakan keinginan kuat untuk terus mengkaji dan menelaah karya pemikiran daripada Romo Kyai Asrori al-Ishaqy,” ujar Ust. Ainul Yaqin selaku ketua panitia kajian Muntakhabat.

Kajian al-Muntakhobat di kesempatan ini, panitia mendatangkan Ust. Abu Sari sebagai narasumber. Beliau merupakan salah satu dosen aktif di Institut Al Fithrah dan sekaligus di Ma’had Aly Al Fithrah Surabaya. Peserta pada kajian ini terdiri dari santri Wustha, PDF Ulya dan para pengajar di ponpes Al Fithrah. Uniknya, para panitia kajian al-Muntakhabat tidak hanya menyediakan ruang offline tetapi juga online. Sehingga alumni ataupun masyarakat umum bisa ikut meramaikannya melalui link zoom yang dibagikan.

Dalam pemaparannya, Ust. Abu Sari menyampaikan tentang keterbukaan Romo Kyai Asrori al-Ishaqi terhadap ilmu pengetahuan tanpa harus mensimplifikasinya.

“Kata ‘min’ pada min khasais al-insan, mempunyai faidah li al-tab’id yang menunjukkan makna sebagian. Artinya, tidak menutup kemungkinan nanti ada keistimewaan-keistimewaan lain yang dimiliki oleh manusia yang tidak tertulis di sini. Nah, kalau saya memahami ini, pertama menunjukkan sikap akademisi, sifat beliau (Kyai Asrori) sebagai akademisi atau ilmuan yang tidak menutup ruang pintu pengetahuan,” jelas Ust. Abu Sari pada Rabu (12/06/2024).

Sementara itu, Ust. Abu Sari memberikan penjelasan yang cukup rinci mengenai keistimewaan-keistimewaan manusia yang terdapat dalam kitab al-Muntakhabat. Secara garis besar keistimewaan-keistimewaan ini dapat diklasifikasi menjadi tujuh. Pertama, Allah menjadikan dalam raga manusia ruh yang bersifat lembut, sehingga manusia dapat beraktifitas dan memenuhi segala tujuannya. Kedua, Allah menciptakan dengan sebaik-baiknya bentuk dan dihiasi dengan keindahan-keindahan hikmah-Nya. Ketiga, Allah menciptakan hati manusia untuk menyimpan sirri-rahasia ketuhanan.

Keempat, Allah menjadikan hati manusia menurut fitrahnya (asal ciptaannya) untuk mengetahui hal yang bersifat empiris (nyata) dan benar. Kelima, Allah menjadikan sebagai khalifah di bumi. Keenam, Allah memberikan berbagai macam ilmu dan segala pemahaman pada manusia yang tidak dimiliki oleh selainnya. Ketujuh, Allah menjadikan manusia sebagai salinan alam semesta. Jika alam adalah makro kosmis, maka manusia adalah mikro kosmis. Namun, jika manusia dapat ma’rifat kepada Allah, maka ia dapat menjadi makro kosmis atau semua yang ada adalah salinan wujud darinya.

Selanjutnyam kajian kitab al-Muntakhabat ini dilanjut dengan diskusi melalui pertanyaan-pertanyaan oleh para peserta selama 25 menit. Salah satu penanya dari PDF Ulya, Kahfi Mubarak, memberikan pertanyaan yang cukup menarik tentang keberadaan manusia di bumi. “Jika manusia adalah khalifah di bumi, lantas kenapa manusia selalu melakukan kerusakan?” tanya Kahfi.

Ust. Abu Sari mengawali jawaban pertanyaan itu dengan menyatakan kerusakan yang dilakukan oleh manusia itu merupakan sunnatullah. Namun, bukan berarti Allah tidak mampu menjadikan seluruh manusia di muka bumi untuk ta’at kepada-Nya. Hanya saja, Allah ingin menguji mereka dengan perbedaan tersebut. Hal ini tercermin dalam surah al-Maidah ayat 48 yang artinya, “jika Allah menghendaki niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat saja, tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap karunia yang diberikan-Nya kepadamu.”

“Jadi, kalau ada manusia yang rusak, ya biarkan saja! Artinya kita tidak usah ikut-ikutan rusak. Lantas, bagaimana kemudian cara untuk mengoptimalkan manusia sebagai khalifah ya tingkatkan SDM kita dengan cara belajar, bergaul dengan orang baik dan sebagainya. Jadi cara untuk mengoptimalkanmu sebagai khalifah di bumi, caranya ya tingkatkan sumber daya manusiamu,” ungkapnya.

Hal yang dapat diapresiasi dari acara ngaji kitab al-Muntakhabat ini ialah komitmen dan keistiqamahan para peserta untuk mengikuti wawasan ngaji dari awal pembukaan hingga acara selesai. Selanjutnya, Ust. Abdul Hatib sebagai moderator menutup acara dengan doa. Kajian al-Muntakhobat istikomah dilaksanakan satu bulan sekali. Kajian selanjutnya akan dilakukan bulan depan. Isi dari ngaji kitab al-Muntakhabat dapat di lihat di akun youtube Alwava Media.