BEKAL UNTUK BULAN RAMADAN

Spread the love

Ada dua rekaman pengajian Kiai Asrori ra. bertemakan Ramadan yang saya punya. Rekaman pertama bertitelkan Bekal Puasa Ramadan. Kalau dilihat dari opening dan endingnya yang ada suara siaran (berkarakter ngebass) dari mas-mas penyiar, tak salah lagi bahwa itu merupakan ‘produksi’ dari radio Rasika FM Semarang. Rekaman kedua saya peroleh dari Youtube yang oleh pengupload diberi judul Malam Lailatul Qadar.

Tulisan ini akan berusaha dan mencoba untuk merangkum serta mereview serba-serbi yang berhubungan dengan bulan/puasa Ramadan yang didawuhkan oleh Yai ra. dalam dua rekaman pengajian tersebut. Secara sistematika, mungkin penarasian bebas dalam tulisan ini, ‘timeline’ serta kronologisnya tak lagi sama persis dengan versi audionya. Karenanya, untuk lebih lengkapnya, maka saya persilakan untuk mendengarkan sendiri serta mengecek secara langsung kedua rekaman pengajian Beliau RA tersebut.

Estu dan Sarung Baru

 Salah satu sikap yang Beliau tanamkan agar kita lakukan adalah sikap estu atau bersungguh-sungguh dalam melaksanakan ibadah apa pun selama bulan Ramadan ini.  Itulah yang sering Beliau isyaratkan dengan dawuh: “Dilakoni sak mampune, ora sak karepe”. Kalau dalam bahasa lain, estu ini –yang saya tangkap– adalah totalitas dalam mempersembahkan ibadah yang kita kerjakan dan tidak asal-asalan dalam mengerjakannya. Bahkan, sebagai bentuk upaya untuk mencapai maqam estu [baca: shiddiqin] tersebut, Beliau mengijazahkan doa yang sangat panjang agar bisa kita amalkan.

Upaya atau jalan lain untuk mencapai estu yang Beliau bimbingkan di antaranya lagi adalah dengan membeli peralatan ibadah baru –seperti sarung, baju koko, mukena dan lain-lain– khusus untuk dipakai ketika pertama kalinya mengerjakan shalat tarawih. Sepintas, ini mungkin seolah terasa seperti tak berhubungan sama sekali dengan sikap estu. Tapi kita harus ingat bahwa ajaran serta ilmu thariqah itu adalah ilmu rasa. Artinya, intinya sebenarnya bukan terletak pada pembelian baju/sarung barunya. Tapi lebih kepada perasaan hati kita yang senang terhadap hadirnya bulan Ramadan. Lalu perasaan senang itu tak hanya kita simpan dalam hati dan perasaan saja. Namun euforia tersebut juga kita tunjukkan dan buktikan dengan membeli sarung baru, dan kemudian kita pakai saat pertama kali tarawih. Jadi, dorongan hati untuk membeli dan memakai sarung barunya itu [baca: sebagai wujud kegembiraan atas datangnya bulan Ramadan] yang kita perlukan.

 Namun kita juga perlu berhati-hati. Sebab, bukan berarti dorongan hati semacam itu akan terbebas dari kendala ataupun rintangan. “Kabeh nggowo penyakite dewe-dewe”, begitu kurang-lebih dawuh Beliau lainnya suatu ketika. Artinya, meskipun kita sudah memetakan dan punya gambaran ideal semacam itu, bukan tidak mungkin niat/dorongan hati kita akan aman dari ‘berbelok arah’. Apalagi selama amal-ibadah kita masih bisa dilihat oleh orang lain, tentu penyakit-penyakit hati semacam riya’, sum’ah, takabbur, dan lain-lain juga akan menemukan celahnya untuk muncul. Ini yang harus kita waspadai.

Tidak ‘Balas Dendam’ Saat Malam

Beliau juga menekankan bahwa inti sebenarnya dari perintah puasa adalah agar kita merasakan lapar. Karena dari status lapar ini, banyak sekali hikmah serta sirri-rahasia yang akan kita peroleh. Salah satu bukti kecilnya adalah, selama puasa ini, dalam sekali duduk, kita bisa kuat melaksanakan shalat sebanyak 31 rakaat (qabliyah-ba’diyah Isya: 4, Isya: 4, tarawih: 20, & witir: 3). Namun di luar puasa, mengerjakan dua rakaat shalat saja sulit dan beratnya minta ampun. Apa rahasianya?. Jawabannya menurut Beliau adalah karena selama Ramadan ini kita memperoleh sirri-rahasia dari puasa berupa lapar. Sedangkan di luar Ramadan, kita kebanyakan kenyangnya!.

Karenanya, Beliau membimbing kita semua untuk tidak memiliki prinsip ‘balas dendam’ ataupun ‘nyaur utang’ ketika berbuka puasa. Cukup melakukan takjil saja dengan minum air putih dan makan buah kurma (sebagai pelaksanaan sunah berbuka dengan yang manis). Kalaupun harus ‘makan besar’, jangan sampai kita kekenyangan. Beliau juga menganjurkan agar kita lebih memilih minuman hangat daripada yang dingin/es. Sebab, minuman dingin bisa langsung menghapus ‘sifat panas’ yang diperoleh sepanjang siang dari berpuasa. Padahal, dari sifat ‘panas’ dan dahaga itulah, ‘profit’ atau keuntungan dari berpuasa bisa diperoleh [baca: kurang lebih sama seperti etika setelah berdzikir yang tak boleh langsung dipakai untuk minum karena bisa ‘memadamkan panas’ yang diperoleh saat dzikir]. Itu semua dilakukan agar puasa yang telah kita tunaikan sepanjang siang, tetap ada atsar/efek positifnya di malam hari.  Itu pula alasan kenapa dalam thariqah ini ada ajaran untuk ‘mutih’. ‘Mutih’ ini tak lain dan tak bukan merupakan semacam solusi praktis agar makanan yang kita konsumsi di malam hari Ramadan bisa terkontrol dan terfilter.  

Lailatul Qadar

Beliau juga banyak menyinggung tentang keistimewaan paling populer dari bulan Ramadan, yaitu malam lailatul qadar. Dari pengalaman para Sahabat yang tersebut dalam berbagai riwayat hadits, kapan terjadinya malam mulia tersebut menunjukkan adanya perbedaan pendapat. Namun yang saya tangkap, Beliau lebih cenderung pada pendapat yang mengatakan bahwa lailatul qadar umumnya memang banyak terjadi pada malam ke-27, tentu dengan tetap tidak mengesampingkan/meninggalkan malam-malam lainnya.

Selain berlandaskan pada riwayat hadits, Beliau juga punya alasan (yang bersifat hitungan) matematis, kenapa memilih malam ke-27?.  Dalam bahasa Arab, kata “lailatul qadar” berjumlah sembilan huruf (lam, ya-, lam, ta-, alif, lam, qaf, dal, & ra-). Dalam surat al Qadr, satu-satunya surat dalam al Qur’an yang membahas tema tentang fenomena malam mulia tersebut, kata lailatul qadar disebut sebanyak tiga kali.  Dan 9 X 3 = 27.

Beliau juga menyebutkan tanda-tanda alam yang terjadi ketika lailatul qadar ‘turun’. Di antaranya, suhu/cuaca pada malam tersebut terasa sejuk; tidak panas atau dingin, matahari keesokannya tidak terbit dengan sinarnya yang menyengat (telor mata sapi), dan tidak terdengar suara gonggongan anjing (yang kemudian ditafsirkan dengan: diberi anugerah untuk tak mendengar perkataan kotor/keji).

Selain itu, perasaan/emosi dari seseorang yang memperoleh lailatul qadar menjadi terasa halus, tipis, dan mudah sekali ‘tersentuh’ untuk kemudian menangis. Dalam kondisi seperti ini, meminjam istilah Beliau, ia berarti sedang ‘disalami’ oleh malaikat (salaamun hiya hattaa mathla’il fajr). Kalau pada saat itu (yang kemungkinan besar sangat sekejap atau tidak begitu lama), misalnya ia sedang teringat orang tuanya atau menangisi baktinya yang kurang sempurna kepada mereka, maka (perasaan) itu akan dikasih imbalan pahala yang lebih bagus daripada 1000 bulan (khayrun min alfi syahr), dan seterusnya.

Dari situ, Beliau juga memberikan (semacam) kesimpulan bahwa fenomena lailatul qadar adalah pengalaman spiritual yang bersifat eksklusif [baca: anugerah yang belum tentu diberikan kepada setiap orang]. Artinya, sebuah malam bisa jadi memang merupakan malam lailatul qadar. Akan tetapi, belum tentu setiap orang yang melakukan ibadah di malam itu akan memperolehnya. Belum tentu pula, setiap jamaah yang mengikuti majlis shalat malam (pitulikuran) misalnya, akan pasti memperolehnya. Solusi agar memperolehnya ya harus estu atau shidqut tawajjuh dengan merasa mepet serta kepepet terhadap Allah SWT seperti yang sudah disampaikan di awal tadi.

Mimpi Nabi SAW

Dalam rekaman pengajian tersebut, Beliau juga menyinggung tentang mimpi bertemu dengan Nabi Muhammad SAW. Sekian tahun berikutnya, dalam majlis sowanan terakhir, Beliau juga kembali menyinggungnya.      

Posisi Nabi SAW memang istimewa. Dan begitulah seharusnya sikap kita dalam memposisikan Beliau. Beliau menyatakan bahwa mimpi bertemu Nabi SAW memang tidak mudah. Sebab, dimensi alam kita sudah berbeda dengan Beliau. Di mana, Nabi SAW sudah berada dalam dimensi alam ruhaniyah. Karenanya, untuk bisa bermimpi Beliau, caranya tak lain adalah dengan juga mengasah ruhaniah kita.

Selain itu, kenapa kita masih kesulitan untuk mimpi bertemu Nabi SAW adalah karena selama ini kita masih menganggap Beliau hanya sebatas sebagai i’tiqad atau keyakinan semata saja. Artinya, tanpa kita sadari, kita masih berada pada taraf hanya mengimani bahwa Nabi Muhammad SAW adalah seorang Nabi dan RasulNya (seperti dalam kalimat syahadat) saja. Akan tetapi, kita belum (terlalu) memikirkan dan kepikiran terhadap Beliau.

Untuk memikirkan apalagi sampai kepikiran terhadap Beliau, tentu kita harus mengimajikan syakhshiyyah serta kepribadian Beliau dengan banyak membaca sejarah perjalanan hidup Beliau. Ibaratnya kita sedang rindu berat dengan seseorang, kita akan terus kepikiran dengannya, apa pun aktivitas yang sedang kita lakukan, dan pada akhirnya akan terbawa mimpi. Kalau dengan orang lain saja kita bisa sampai terbawa ke dalam mimpi, kenapa dengan Nabi SAW tidak bisa?

Itu pula saya kira, alasan kenapa selama Ramadan ini kita diberi wadhifah untuk membaca tiga macam shalawat dengan bilangan tertentu. Yaitu agar kerinduan terhadap Beliau semakin terpupuk. Dan bilangan yang mesti dibaca tersebut dilipat gandakan sampai 10 kali lipat saat malam Jumat [baca: 1000 kali, hari normal 100 kali], malam yang memang dianjurkan oleh Nabi SAW sendiri agar memperbanyak membaca shalawat kepada Beliau. Karenanya, ketika membacanya jangan sekedar di mulut saja atau hanya untuk mengejar setoran saja. Tapi usahakan juga untuk ‘meniupkan ruh’ di dalamnya dengan menghayati sekaligus meresapi maknanya. Allah Knows best! [Iben-BAF]

*Tulisan ini pernah dimuat di Buletin Al Fithrah edisi 65