Kisah

KH Muhammad Utsman Al-Ishaqy: Membumikan Amaliah Tarekat di Tengah Masyarakat

Tarekat sering kali dipahami sebagai jalan spiritual yang hanya cocok bagi orang yang sudah lanjut usia, padahal pengamalan tarekat tidak mengenal batas usia selama seseorang mampu belajar, berzikir, dan memperbaiki akhlaknya dengan istiqamah dan kesungguhan nyata

Pandangan semacam itu justru berusaha dijawab oleh KH Muhammad Utsman Al-Ishaqy, seorang ulama dan mursyid Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah yang dikenal aktif mendekatkan amaliah tarekat kepada kehidupan masyarakat secara sederhana dan nyata.

KH. Muhammad Utsman Al-Ishaqy merupakan ayah dari KH. Ahmad Asrori Al-Ishaqy. KH. Muhammad Utsman Al-Ishaqy lahir di Jatipurwo, Surabaya, pada hari Rabu, bulan Jumadil Akhir 1334 H, sekitar tahun 1916 M.

Mengajak Masyarakat Mengenal Manaqiban Sejak Muda

Di tengah anggapan bahwa tarekat merupakan amalan orang-orang tua, KH Muhammad Utsman Al-Ishaqy justru mengajak para santri dan masyarakat untuk mengenal amaliah zikir, manaqiban, dan majelis keagamaan sejak usia muda dan belia

Manaqiban yang dirintis beliau menjadi salah satu jalan untuk mengenalkan kehidupan spiritual kepada masyarakat melalui suasana majelis yang sederhana, penuh zikir, doa, dan pembacaan kisah para ulama serta orang-orang saleh.

Kegiatan tersebut kemudian berkembang menjadi Majelis Sewelasan, yakni majelis yang dilaksanakan pada malam tanggal sebelas dalam kalender Hijriah dan menjadi salah satu amaliah yang terus dilestarikan oleh murid-murid beliau hingga sekarang dan seterusnya.

Dari kegiatan yang dirintis secara sederhana itu, tradisi manaqiban kemudian tidak hanya berhenti di lingkungan pesantren, tetapi ikut tumbuh di tengah masyarakat dan menjadi bagian dari kehidupan jamaah yang tersebar di berbagai daerah dan kawasan

Merintis Pesantren di Tengah Masyarakat

Dakwah KH Muhammad Utsman Al-Ishaqy tidak hanya dilakukan melalui majelis zikir, tetapi juga diwujudkan dalam pendidikan dan pembinaan masyarakat melalui Pondok Pesantren Darul Ubudiyah Raudlatul Muta’allimin, Jatipurwo, Surabaya dan sekitarnya

Pesantren tersebut dirintis di kawasan Jatipurwo yang pada masa itu dikenal sebagai lingkungan dengan berbagai persoalan sosial, sehingga kehadiran pesantren menjadi bagian dari ikhtiar menghadirkan pendidikan agama secara langsung di tengah kehidupan masyarakat dan keluarga

Sebelum berkembang menjadi pesantren, dakwah beliau berawal dari tempat ibadah sederhana dan pengajian masyarakat yang jumlah jamaahnya masih terbatas, kemudian perlahan berkembang seiring semakin banyak masyarakat yang ingin belajar agama dan mengaji kepada beliau secara istiqamah dan terbuka.

Pada 1957, KH Muhammad Utsman Al-Ishaqy mendirikan Pondok Pesantren Darul Ubudiyah Raudlatul Muta’allimin di Jatipurwo, Semampir, Surabaya sebagai wadah pendidikan dan dakwah yang memadukan pengajaran agama dengan pembinaan akhlak masyarakat dan keluarga.

Dari sinilah terlihat bahwa tarekat yang beliau ajarkan bukan sekadar aktivitas ritual, tetapi juga memiliki hubungan erat dengan pendidikan, akhlak, pengabdian, dan pembinaan kehidupan sosial masyarakat secara menyeluruh dan nyata

Warisan Amaliah yang Terus Mengalir

KH Muhammad Utsman Al-Ishaqy wafat pada Ahad, 8 Januari 1984, bertepatan dengan 5 Rabiuts Tsani 1405 H, dan dimakamkan di kompleks Pondok Pesantren Darul Ubudiyah Raudlatul Muta’allimin, Jatipurwo, Surabaya dengan penuh penghormatan dari keluarga, santri, dan masyarakat.

Namun wafatnya seorang ulama tidak berarti berhentinya dakwah, sebab amaliah yang telah dirintis terus hidup melalui majelis zikir, manaqib, sewelasan, pesantren, serta berbagai kegiatan keagamaan yang diteruskan oleh murid dan generasi sesudahnya hingga masa kini dan seterusnya

Tradisi Haul Akbar yang berkembang dalam jaringan dakwah beliau juga menjadi salah satu bentuk penghormatan sekaligus momentum untuk mengenang jasa, mendoakan para pendahulu, dan menyambung kembali semangat khidmah yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.

Hari ini, ketika haul KH Muhammad Utsman Al-Ishaqy kembali diperingati, masyarakat tidak hanya mengenang sosok seorang kiai dan mursyid, tetapi juga mengingat perjuangan beliau dalam membumikan amaliah tarekat agar dekat dengan masyarakat, mudah diamalkan, dan terus hidup dalam keseharian umat dan bangsa.

Warisan Ilmiah

Di antara warisan penting KH. Muhammad Utsman Al-Ishaqy selanjutnya adalah karya-karya yang menjadi pedoman dalam menghidupkan amaliah tarekat dan membina akhlak para muridnya secara nyata, sederhana, dan bermakna, di antaranya Al-Nuqthah wa al-Bāqiyah al-Ṣāliḥah wa al-‘Āqibah al-Khairah wa al-Khātimah al-Ḥasanah yang membahas rabithah, serta Al-Khulāṣah al-Wafiyyah fī al-Ādāb wa Kaifiyyah al-Dzikr ‘Inda al-Sādah al-Qādiriyyah wa al-Naqsyabandiyyah yang membahas adab dan tata cara zikir bagi pengamal tarekat secara terarah dan terbuka bagi semua kalangan manusia, serta Awn Al-Rafiq fi Syaikh Al-Tarbiyah wa Adab Al-Murid fi Al-Thariq.

Selain itu, terdapat Al-Fatḥ al-Nūriyyah yang memuat berbagai tuntunan amaliah dan wiridan, serta Al-Faiḍ al-Raḥmāni yang berkaitan dengan manaqib dan tradisi majelis tarekat yang beliau hidupkan di tengah masyarakat secara istiqamah dan penuh cinta kepada para ulama. Karya-karya tersebut menunjukkan bahwa dakwah KH. Muhammad Utsman Al-Ishaqy tidak hanya diwariskan melalui pesantren dan majelis, tetapi juga melalui tulisan yang menjadi sarana menjaga ilmu, adab, zikir, dan kesinambungan amaliah dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Di dalam kitab Awn Al-Rafiq fi Syaikh Al-Tarbiyah wa Adab Al-Murid fi Al-Thariq, KH. Muhammad Ustman Al-Ishaqy berkata:

الأُسْتَاذُ مَظْهَرُ سِرِّ الرُّبُوْبِيَّةِ لِمُرِيْدِهِ،  فَعَلَى الْمُرِيْدِ أَنْ يَقِفَ عِنْدَ أَمْرِ أُسْتَاذِهِ، وَأَنْ لَا يَلْتَفِتَ يَمِينًا وَلَا شِمَالًا

“Guru adalah tempat tampaknya rahasia sifat rububiyah (ketuhanan) bagi muridnya. Maka seorang murid hendaknya mengikuti  perintah gurunya, serta tidak menoleh ke kanan maupun ke kiri”

Di kesempatan yang lain beliau mengutip pendapatnya Imam Syaikhul Akbar Muhyiddin Ibnul ‘Arobi berkata:

يَجِبُ عَلَى الشَّيْخِ إِذَا رَأَى شَيْخًا آخَرَ فَوْقَهُ أَنْ يَنْصَحَ نَفْسَهُ، وَيَلْزَمَ خِدْمَةَ ذَلِكَ الشَّيْخِ هُوَ وَتَلَامِذَتُهُ، فَإِنَّهُ صَلَاحٌ وَسَعَادَةٌ فِي حَقِّهِ وَحَقِّ أَصْحَابِهِ. وَمَتَى لَمْ يَفْعَلْ هَذَا، فَلَيْسَ بِمُنْصِفٍ وَنَاصِحِ نَفْسِهِ، وَلَا صَاحِبِ هِمَّةٍ، بَلْ سَاقِطُ الْهِمَّةِ وَضَعِيفُهَا، بَلْ رُبَّمَا يَكُونُ مُحِبًّا لِلرِّيَاسَةِ وَالتَّقَدُّمِ، وَهَذَا فِي طَرِيقِ اللهِ نَقْصٌ، و.

 “Seorang Guru Mursyid ketika melihat Guru Mursyid yang lebih tinggi, maka ia mempunyai kewajiban untuk menasehati kepada jiwanya sendiri dan ia serta muridnya diharuskan berkhidmah kepada Guru Mursyid yang lebih tinggi tersebut. Sebab di dalamnya terdapat ke-maslahatan dan keberuntungan bagi dirinya dan para muridnya. Ketika ia tidak melakukan hal itu, maka ia bukanlah orang yang berlaku adil dan mengharapkan kebaikan pada dirinya serta tidak mempunyai Hhimmah (antusias), akan tetapi ia mempunyai kekurang-an dalam jalan Allah”,

Beliau kembali menegaskan dengan pernyataan Shohibur Roiyah yang  mengisyaratkan beberapa adab yang wajib bagi seorang murid dalam ber-shuhbah kepada Guru Mursyid:

وَلَا تُقَدِّمَنَّ قَبْلَ اعْتِقَادِكَ أَنَّهُ
مُرَبٍّ وَلَا أَوْلَى بِهَا مِنْهُ فِي الْعَصْرِ

فَإِنَّ رَقِيبَ الِالْتِفَاتِ لِغَيْرِهِ
يَقُولُ لِمَحْبُوبِ السَّرَايَةِ: لَا تَسِرْ

“Dan janganlah melangkah sebelum engkau meyakini bahwa ia adalah pendidik dan pembimbing serta figur yang paling unggul pada masanya.

Karena ketika engkau sudah masuk dalam tarbiyahnya dan engkau menoleh pada selainnya, maka terputuslah madad (pertolongan Allah SWT) yang mengalir kepadamu dari Guru Mursyidmu”.

Warisan terbesar beliau bukan sekadar bangunan pesantren atau besarnya sebuah majelis, melainkan tumbuhnya tradisi zikir, manaqib, pendidikan, dan khidmah yang mengajarkan bahwa perjalanan menuju Allah dapat dimulai sejak muda dengan ilmu, adab, istiqamah, dan cinta serta berkhidmah secara sungguh-sungguh kepada para guru serta orang-orang saleh.

Kitab manaqib yang secara lengkap perjalanan dan kisah KH. Muhammad Utsman Al-Ishaqy di antaranya adalah Kitab Sabil Al-Wafi fi Manaqib Sayyidina Asy-Syaikh Muhammad Utsman Al-Ishaqy yang ditulis oleh KH. Abdul Ghofar Umar Menganti Gresik dan diterbitkan oleh Pondok Pesantren Darul Ubudiyah Raudlatul Mutaalimin Jatipurwo Surabaya, dan dibaca dalam Haul Ke-44 KH. Muhammad Utsman Al-Ishaqy pada Kamis, 17 Surabaya 2026 di PPRM Jatipurwo Surabaya.

Dengan demikian, mengenang KH Muhammad Utsman Al-Ishaqy pada momentum haul bukan hanya melihat kembali sejarah masa lalu, tetapi juga menghidupkan kembali semangat untuk meneruskan amaliah, menjaga sanad, memperbaiki akhlak, dan menghadirkan nilai-nilai tarekat di tengah kehidupan masyarakat secara nyata dan bermakna.

Ifsya al-Sirri: Belajar Menjaga Amanah dari Kisah Kanjeng Syaikh Abdul Qadir al-Jilani

Hari ini kita memasuki bulan Rabi’uts Tsani 1448 H. Bulan ini menjadi momentum mengenang guru kita Kanjeng Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani, yang wafat pada 11 Rabi’uts Tsani 561 H. Pada bulan yang sama kita kehilangan Hadratusy Syaikh KH. Muhammad Ustman Al-Ishaqy, tepatnya pada 5 Rabi’uts Tsani 1405 H. Ada kisah menarik dari Kanjeng Syaikh terkait ifsya al-sirri.

Dalam Islam sendiri, hifdz al-sirri atau menjaga rahasia merupakan bagian dari amanah. Sebaliknya, membuka dan menyebarkan rahasia tanpa alasan yang dibenarkan dikenal dengan istilah ifsya al-sirri (إفشاء السر), yaitu membocorkan sesuatu yang semestinya disimpan.

Salah satu kisah yang menarik untuk direnungkan adalah kisah Syaikh Abdul Qadir al-Jilani rahimahullah tentang bagaimana beliau menjaga sebuah perkara yang tidak semestinya diketahui oleh banyak orang. Kisah ini bukan hanya berbicara tentang sebuah peristiwa luar biasa, tetapi juga mengajarkan adab penting: tidak semua yang kita lihat, dengar, dan ketahui harus kita ceritakan kepada orang lain.

Rahasia yang Terjadi di Balik Perjalanan Malam Syaikh Abdul Qadir

Dalam kisah yang dinukil, Abu al-Hasan yang dikenal dengan Ibnu Thanthanah al-Baghdadi merupakan seseorang yang belajar kepada Syaikh Abdul Qadir al-Jilani. Ia begitu memperhatikan kebutuhan gurunya hingga sering begadang dan menunggu apabila sewaktu-waktu sang guru membutuhkan sesuatu.

Pada suatu malam di bulan Shafar tahun 553 H, Abu al-Hasan melihat Syaikh Abdul Qadir keluar dari rumah. Ia bermaksud memberikan sebuah kendi kepada sang guru, tetapi Syaikh Abdul Qadir tidak mengambilnya.

Beliau kemudian berjalan menuju pintu madrasah.

Yang terjadi berikutnya membuat Abu al-Hasan penasaran. Syaikh Abdul Qadir memberikan isyarat kepada pintu tersebut, lalu pintu itu terbuka. Sang Syaikh keluar, sedangkan Abu al-Hasan diam-diam mengikuti dari belakang.

Ia tidak ingin diketahui oleh gurunya.

Perjalanan kemudian berlanjut hingga Syaikh Abdul Qadir sampai di pintu kota Baghdad. Sekali lagi, pintu tersebut terbuka setelah beliau memberikan isyarat. Syaikh kemudian melanjutkan perjalanan hingga tiba di sebuah tempat yang belum pernah dikenal oleh Abu al-Hasan.

Di tempat itu terdapat sebuah bangunan yang menyerupai ribath. Di dalamnya ada enam orang yang sedang duduk. Ketika melihat Syaikh Abdul Qadir datang, mereka segera berdiri dan menyambut beliau dengan penuh penghormatan.

Abu al-Hasan memilih bersembunyi di balik sebuah tiang.

Tak lama kemudian, ia mendengar suara rintihan dari suatu tempat. Setelah beberapa saat, suara tersebut berhenti. Kemudian seorang laki-laki masuk ke arah tempat terdengarnya rintihan tadi dan keluar sambil membawa seseorang.

Peristiwa berikutnya semakin membuat Abu al-Hasan terkejut.

Datanglah seorang laki-laki yang kepalanya tidak tertutup dan kumisnya panjang. Ia berdiri di hadapan Syaikh Abdul Qadir. Laki-laki tersebut kemudian dibimbing untuk mengucapkan dua kalimat syahadat. Setelah itu, rambut dan kumisnya dicukur, lalu ia dikenakan penutup kepala dan diberi nama Muhammad.

Syaikh Abdul Qadir kemudian berkata kepada enam orang yang berada di tempat itu bahwa beliau memerintahkan agar orang tersebut menjadi pengganti orang yang telah meninggal.

Keenam orang itu menjawab dengan kepatuhan.

Setelah urusan tersebut selesai, Syaikh Abdul Qadir meninggalkan tempat itu. Abu al-Hasan kembali mengikuti beliau dari belakang.

Perjalanan yang terasa begitu jauh ternyata berakhir dengan cara yang mengherankan. Tidak lama kemudian, mereka kembali sampai di pintu Baghdad. Pintu itu kembali terbuka seperti sebelumnya. Syaikh Abdul Qadir kemudian melanjutkan perjalanan hingga sampai ke pintu madrasah. Pintu tersebut pun terbuka kembali.

Beliau akhirnya masuk ke rumahnya.

Keesokan harinya, Abu al-Hasan kembali menghadap Syaikh Abdul Qadir untuk belajar. Namun, ia merasakan kewibawaan gurunya begitu kuat hingga dirinya merasa takut dan kesulitan membaca kitab.

Syaikh Abdul Qadir kemudian berkata kepadanya dengan tenang:

“Wahai anakku, bacalah. Tidak apa-apa.”

Mendapat kesempatan tersebut, Abu al-Hasan memberanikan diri bertanya tentang apa yang ia lihat pada malam sebelumnya.

Syaikh Abdul Qadir Menjelaskan Rahasia yang Dilihat Muridnya

Syaikh Abdul Qadir kemudian menjelaskan perjalanan tersebut.

Tempat yang mereka datangi adalah Nahawand. Enam orang yang berada di sana adalah para abdal nujaba. Adapun orang yang sebelumnya terdengar merintih adalah orang ketujuh dari kelompok tersebut yang sedang sakit.

Ketika ajal orang itu telah tiba, Syaikh Abdul Qadir datang untuk menghadiri wafatnya.

Sedangkan orang yang membawa jenazahnya, menurut kisah tersebut, adalah Nabi Abu al-Abbas al-Khidhir RA yang mengambil jenazah tersebut untuk mengurus keperluannya.

Laki-laki yang kemudian dibaiat dan diberi nama Muhammad adalah seorang Nasrani dari Konstantinopel. Ia diperintahkan untuk mengucapkan dua kalimat syahadat dan kemudian dijadikan pengganti orang yang telah meninggal.

Bagi Abu al-Hasan, semua yang terjadi pada malam itu merupakan pengalaman yang luar biasa. Namun, justru setelah menjelaskan semuanya, Syaikh Abdul Qadir memberikan sebuah pesan yang sangat penting.

Beliau mengambil janji kepada Abu al-Hasan agar tidak menceritakan rahasia tersebut kepada siapa pun selama beliau masih hidup.

Dalam kisah itu disebutkan pesan Syaikh Abdul Qadir:

اِحْذَرْ مِنْ إِفْشَاءِ السِّرِّ فِي حَيَاتِي

“Berhati-hatilah, jangan sampai engkau menyebarkan rahasia ini selama aku masih hidup.”

Pesan tersebut menjadi inti penting dari kisah ini.

Bukan hanya tentang apa yang terjadi pada malam itu, tetapi tentang bagaimana seorang guru mengajarkan muridnya untuk menjaga amanah.

Abu al-Hasan telah melihat sesuatu yang tidak dilihat banyak orang. Namun, melihat sesuatu bukan berarti seseorang bebas menceritakannya. Mengetahui sesuatu juga bukan berarti seseorang berhak menyebarkannya.

Di situlah letak adab.

Larangan Menyebarkan Rahasia dalam Islam

Al-Qur’an mengingatkan orang-orang beriman agar tidak mengkhianati amanah. Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengkhianati Allah dan Rasul, dan janganlah kalian mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepada kalian, sedangkan kalian mengetahui.”

(QS. Al-Anfal: 27)

Rasulullah ﷺ juga memberikan peringatan keras mengenai membuka rahasia, terutama rahasia antara suami dan istri. Dari Abu Sa’id al-Khudri r.a., Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ مِنْ أَشَرِّ النَّاسِ عِنْدَ اللَّهِ مَنْزِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ الرَّجُلَ يُفْضِي إِلَى امْرَأَتِهِ وَتُفْضِي إِلَيْهِ ثُمَّ يَنْشُرُ سِرَّهَا

“Sesungguhnya seburuk-buruk manusia kedudukannya di sisi Allah pada hari kiamat adalah seorang laki-laki yang berhubungan dengan istrinya dan istrinya berhubungan dengannya, kemudian ia menyebarkan rahasianya.”

(HR. Muslim, no. 1437).

Hasan al-Bashri rahimahullah juga memberikan nasihat:

إِنَّ مِنَ الْخِيَانَةِ أَنْ تُحَدِّثَ بِسِرِّ أَخِيكَ

“Sesungguhnya termasuk pengkhianatan adalah ketika engkau menceritakan rahasia saudaramu.”

Nasihat ini sangat relevan dalam kehidupan sekarang. Terlebih di zaman media sosial, sebuah rahasia dapat berubah menjadi konsumsi banyak orang hanya dalam hitungan detik. Percakapan pribadi dapat di-screenshot, pesan dapat diteruskan, dan cerita seseorang dapat tersebar tanpa sepengetahuannya.

Karena itu, sebelum membagikan sebuah cerita, hendaknya kita bertanya: Apakah saya berhak menceritakannya? Apakah orang yang bersangkutan mengizinkannya? Apakah ada manfaat dari menyebarkannya? Atau justru akan menimbulkan mudarat?

Tidak Semua Rahasia Harus Disimpan dalam Setiap Keadaan

Menjaga rahasia bukan berarti menutup semua informasi meskipun penyampaiannya diperlukan untuk mencegah bahaya. Para ulama menjelaskan bahwa ada keadaan tertentu ketika sebuah informasi justru perlu disampaikan karena terdapat maslahat.

Al-Qur’an memberikan contoh melalui kisah seorang laki-laki dari ujung kota yang memperingatkan Nabi Musa a.s. mengenai rencana pembunuhan terhadap beliau:

وَجَاءَ رَجُلٌ مِنْ أَقْصَى الْمَدِينَةِ يَسْعَى قَالَ يَا مُوسَىٰ إِنَّ الْمَلَأَ يَأْتَمِرُونَ بِكَ لِيَقْتُلُوكَ فَاخْرُجْ إِنِّي لَكَ مِنَ النَّاصِحِينَ

“Dan datanglah seorang laki-laki dari ujung kota dengan bergegas-gegas seraya berkata, ‘Wahai Musa, sesungguhnya para pembesar negeri sedang berunding tentang engkau untuk membunuhmu. Oleh karena itu, keluarlah dari kota ini. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang memberi nasihat kepadamu.’”

(QS. Al-Qashash: 20)

Artinya, ukuran dalam menjaga atau menyampaikan rahasia adalah amanah dan maslahat. Jika sebuah rahasia memang dipercayakan untuk dijaga dan tidak ada alasan syar’i untuk membukanya, maka menyebarkannya merupakan perbuatan yang harus dihindari.

Kisah Syaikh Abdul Qadir al-Jilani memberikan pelajaran yang sangat dalam: semakin banyak seseorang mengetahui, semakin besar pula tanggung jawabnya untuk menjaga apa yang diketahuinya.

Menjadi orang yang dipercaya bukan karena mampu mengetahui banyak rahasia, tetapi karena mampu menjaga rahasia tersebut.

Di tengah kehidupan yang serba terbuka, menjaga rahasia adalah bentuk akhlak. Tidak menceritakan aib adalah bentuk kasih sayang. Tidak menyebarkan cerita pribadi adalah bentuk penghormatan.

Dan sebagaimana pesan yang tersirat dalam kisah Syaikh Abdul Qadir al-Jilani, terkadang diam bukan berarti tidak tahu, tetapi karena tahu kapan harus menjaga amanah.

Kita tidak harus menceritakan semua yang kita ketahui. Sebab, salah satu tanda kedewasaan dan kemuliaan akhlak adalah mengetahui apa yang boleh disampaikan dan apa yang harus tetap menjadi rahasia.

Pelajaran dari Apel Kanjeng Syaikh

Kanjeng Syaikh adalah julukan daripada Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani. Beliau adalah sosok ulama yang namanya tidak asing di telinga umat Islam Nusantara. Kisah tentangnya dibaca berulang melalui kegiatan majlis manaqib yang menceritakan kisah hidupnya.

Di antara kitab manaqib Kanjeng Syaikh yang tersebar luas di Indonesia adalah Kitab Al-Lujayn al-Dani karya Syaikh Abdul Karim Al-Barzanjy yang juga merupakan penulis kitab Maulid Al-Barzanjy.

Kitab Al-Lujayn Al-Dani ini kemudian dihimpun oleh Hadratusy Syaikh KH. Ahmad Asrori Al-Ishaqy ke dalam satu kitab yang berisikan runtutan Tawasul, Istighotsah, Yasin, Manaqib, Tahlil, Nasyid dan doa-doa yang biasa diamalkan oleh para Pengikut Tarekat Qodiriyah wan Naqsyabandiyah Al-Utsmaniyah.

Di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya, kegiatan manaqib diselenggarakan setiap Ahad Awal atau Ahad malam pertama bulan hijriyah. Ada kisah menarik tentang apel Kanjeng Syaikh. Berikut kisah lengkapnya.

Khalifah sowan Kanjeng Syaikh

Khalifah Abul Mudhoffar Yusuf (lahir 549 H / 1154 M.) adalah seorang keturunan raja yang hidup semasa dengan Kenjeng Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani (w. 561 H / 1166 M).

Beliau dikhabarkan sering sowan kepada Kanjeng Syaikh. Bukan jarang, beliau memaksa menunggu meskipun Kanjeng Syaikh tidak berkenan menemuinya. Dalam kunjungannya itu, Khalifah Abul Mudhoffar sering membawa buah tangan untuk diberikan kepada Kanjeng Syaikh.

أُرِيدُ شَيْاً مِنَ الْكَرَامَاتِ لِيَطْمَئِنَّ قَلْبِي

“Saya menginginkan karomah yang memenangkan hatiku” ungkap Khalifah Abul Mudhoffar.

“Apa yang kamu kehendaki” tanya Kanjeng Syaikh memperjelas.

Apel Keramat

تُفَاحًا مِنَ الغَيْبِ وَلَمْ يَكُنْ أَوَّانُهُ بِالْعِرَاقِ

“Sebuah apel dari alam gaib yang bentuknya tidak ada Irak” mantap Abul Mudhoffar.

Kanjeng Syaikh pun mengangkat tangannya ke langit dan tiba-tiba ada dua apel dalam genggamannya.

Kanjeng Syaikh pun memberikan salah satunya kepada Abul Mudhoffar.

Kanjeng Syaikh membelah apelnya dan ternampak putih bersih serta mengeluarkan bau misk apel tersebut. Abul Mudhoffar membelah apel di tangannya dan tampak busuk dipenuhi ulat.

يَا أَبَا الْمُطَفِّرِ هَذِهِ لَمَسَتْهَا يَدُ الظَّالِمِ فَدَوَّدَتْ كَمَا تَرَى وَهْذِهِ لَمَسَتْهَا يَدُ الْوِلَايَةِ فَطَابَتْ

“Yaa Abul Mudhoffar. Demikianlah apel yang dipegang oleh orang dalim, maka berulat sebagaimana Engkau lihat. Sedang apel yang ada di tangan kewalian ‘yadul wilayah’ akan menjadi bersih dan baik” jelas Kanjeng Syaikh.

Kesimpulan

Pisau di tangan orang yang baik akan menjadi peralatan pemenuhan kebutuhan yang kaya akan kemanfaatan.

Sebaliknya, pisau di tangan orang jahat akan mendatangkan kerugian dan mudarat. Wakadzalika al-waqtu

الوَقْتُ كَالسَّيْفِ إِنْ لَمْ تَقْطَعْهُ قَطَعَكَ

Waktu adalah seperti pisau. Jika kamu tidak menggunakannya untuk memotong, ia yang akan memotong mu.

Ada beberapa nama khalifah (raja) yang pernah semasa dengan Kanjeng Syaikh. Sebut ada Al-Muqtafi, memerintah: 530–555 H dan Al-Mustanjid, memerintah: 555–566 H. Tapi keduanya tidak meyakinkan sebagai objek cerita dalam kisah di atas, mengingat di akhir cerita Kanjeng Syaikh menyebut nama Yaa Abul Mudhoffar.

Kebaikan itu cahaya. Ia menyinari dan membuat bahagia sekitarnya.

Sebaliknya, kezaliman adalah kegelapan. Setiap apa yang ada di tangan kezaliman akan menjadi keburukan yang mematikan.

أَسْئَلُكَ بِجَاهِ الْجُدُودِ * وَالِي يُقِيمُ الْحُدُودَ

فِيْنَا وَيَكْفِي الْحَسُوْدَ * وَيَدْفَعُ الظَّالِمِينَ

As`aluka bijâhil-judûd(i) wâlî yuqîmul-hudûd(a)

Fînâ fayakfil-hasûd(a) wa yadfa’udh-dhâlimîn(a)

Kepada-Mu aku memohon dengan sunguh seorang pemimpin yang menegakkan batas-batas Di tengah kami, batas-batas yang mencegah orang-orang dengki dan membasmi orang-orang zalim.

Aamiin

Adab Berdoa Nabi Zakaria AS dari Surah Maryam: Kunci Doa Mustajab

Kita semua pernah berada di titik di mana kita merasa doa terasa jauh, entah karena permintaan itu terlalu besar atau kondisi kita secara logika mustahil. Namun, Al-Qur’an menyajikan sebuah pelajaran emas yang indah melalui kisah Nabi Zakaria AS dalam Surah Maryam (ayat 1–11).

Kisah ini bukan hanya tentang bagaimana Allah mengabulkan permintaan yang mustahil (keturunan di usia tua dan istri mandul), tetapi tentang adab yang beliau tunjukkan saat mengetuk pintu langit. Nabi Zakaria mengajarkan kita bahwa fokus utama bukanlah pada “apa” yang kita minta, melainkan “bagaimana” cara kita meminta.

Mari kita bongkar pelajaran emas adab berdoa dari Surah Maryam yang bisa membuat curahan hati kita lebih didengar dan dicintai oleh-Nya.

Memulai Doa dengan Kerendahan Hati dan Pengakuan Diri

Adab berdoa bukanlah sekadar rangkaian kata-kata, melainkan kondisi hati. Nabi Zakaria mengawalinya dengan cara yang menakjubkan. Beliau tidak langsung meminta, tetapi melakukan pengakuan tulus tentang kondisi dan kelemahannya.

Dalam firman-Nya,

قَالَ رَبِّ اِنِّيْ وَهَنَ الْعَظْمُ مِنِّيْ وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْبًا

Nabi Zakaria berkata: “Wahai Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah, kepalaku telah dipenuhi uban…” (QS. Maryam: 4)

Ada dua poin penting di sini:

  1. Memuji Allah dan Mengakui Kelemahan: Beliau memulai dengan memuji Allah, kemudian menyebutkan kelemahannya yang nyata. Ini adalah puncak kerendahan hati. Semakin kita merasa lemah dan fakir di hadapan Allah, semakin dekat kita dengan rahmat-Nya.
  2. Berdoa dengan Suara Lirih (Khafiyya): Surah Maryam ayat 3 menyebutkan,

اِذْ نَادٰى رَبَّهٗ نِدَاۤءً خَفِيًّا

(yaitu) ketika dia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lirih.

Ini menunjukkan tingkat kekhusyukan dan keintiman yang tinggi. Allah mendengar bisikan hati kita, bahkan suara selembut lirihan sekalipun. Adab ini adalah pintu mustajabnya doa.

Mencurahkan Kegelisahan dan Meminta Kebaikan Akhirat

Setelah memuji dan mengakui kelemahan, Nabi Zakaria tidak malu mengutarakan kegelisahan terdalamnya secara jujur.

Beliau khawatir tidak adanya penerus dakwah sepeninggalnya, terutama karena istrinya mandul. Beliau mencurahkan:

 وَاِنِّيْ خِفْتُ الْمَوَالِيَ مِنْ وَّرَاۤءِيْ وَكَانَتِ امْرَاَتِيْ عَاقِرًا فَهَبْ لِيْ مِنْ لَّدُنْكَ وَلِيًّا

Sesungguhnya aku khawatir terhadap keluargaku sepeninggalku, sedangkan istriku adalah seorang yang mandul. Anugerahilah aku seorang anak dari sisi-Mu (QS. Maryam: 5).

Doa adalah wadah pengaduan yang paling tulus kepada Sang Pencipta.

Namun, permohonan beliau tidak berhenti pada permintaan anak saja.

Dia melanjutkan doanya dengan meminta yang terbaik:

يَّرِثُنِيْ وَيَرِثُ مِنْ اٰلِ يَعْقُوْبَ وَاجْعَلْهُ رَبِّ رَضِيًّا

(Beliau meminta anak) yang akan mewarisi ilmu dan risalah, serta menjadikannya seorang yang diridai (QS. Maryam: 6).

Pelajaran emasnya: Curahkan semua isi hati Anda dengan jujur, tetapi selalu arahkan permintaan Anda pada kebaikan dan manfaat akhirat, bukan sekadar keinginan duniawi. Fokuslah memohon kesalehan dan keberkahan.

Keyakinan dan Kesabaran adalah Puncak Adab Berdoa

Adab berdoa tidak sempurna tanpa dua elemen krusial: keyakinan penuh dan kesabaran tanpa batas.

Nabi Zakaria berdoa dalam kondisi yang secara logika manusia, mustahil. Usia tua dan istri mandul adalah batasan yang tidak bisa ditembus oleh sains. Namun, beliau memiliki keyakinan mutlak bahwa Allah tidak tunduk pada kemungkinan manusia. Beliau tidak pernah putus asa, bahkan di ayat 4 disebutkan:

وَّلَمْ اَكُنْۢ بِدُعَاۤىِٕكَ رَبِّ شَقِيًّا ۝٤

 “dan aku tidak pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu, wahai Tuhanku.” (QS. Maryam: 4).

Adab terakhir yang beliau ajarkan adalah kesabaran. Beliau menunggu jawaban Allah dengan teguh. Setelah melalui penantian dan ujian kesabaran, barulah malaikat datang membawa kabar gembira tentang kelahiran putranya, Yahya

يٰزَكَرِيَّآ اِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلٰمِ ࣙاسْمُهٗ يَحْيٰىۙ لَمْ نَجْعَلْ لَّهٗ مِنْ قَبْلُ سَمِيًّا ۝

(Allah berfirman,) “Wahai Zakaria, Kami memberi kabar gembira kepadamu dengan seorang anak laki-laki yang bernama Yahya yang nama itu tidak pernah Kami berikan sebelumnya.” (QS. Maryam: 7).

Setelah doa dikabulkan, adab beliau pun berlanjut pada rasa syukur yang total. Beliau segera menjalankan perintah Allah untuk berzikir selama tiga hari penuh. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam ayat 11

فَخَرَجَ عَلٰى قَوْمِهٖ مِنَ الْمِحْرَابِ فَاَوْحٰٓى اِلَيْهِمْ اَنْ سَبِّحُوْا بُكْرَةً وَّعَشِيًّا ۝

Lalu, (Zakaria) keluar dari mihrab menuju kaumnya lalu dia memberi isyarat kepada mereka agar bertasbihlah kamu pada waktu pagi dan petang. (QS. Maryam: 11) sebagai bentuk ketaatan atas nikmat yang didapat.

Jika Nabi Zakaria, yang merupakan seorang Nabi, menunjukkan adab sebegitu indahnya, bagaimana dengan kita? Mari perbaiki kondisi hati dan cara kita meminta. Mulai sekarang, selalu awali doa dengan pujian, panjatkan dengan rendah hati, dan akhiri dengan keyakinan serta kesabaran. Yakinlah, Allah mendengar doamu, sekecil apapun bisikan itu.

Belajar Kepada Sahabat Yang ‘Munafik’

Tampil sempurna di hadapan banyak orang adalah keinginan semua orang. Masing-masing kita ingin terlihat tanpa kekurangan. Perilaku, penampilan hingga ucapan. Dalam praktiknya, tidak jarang ada orang yang berkebalikan. Antar luarnya berbeda dengan apa yang hatinya simpan. “Bermuka dia” atau munafik orang-orang menyebutnya.

Pemberian warning munafik sangat keras sekali Alquran menyebutnya. Di sana dikatakan bahwa kelak orang munafik berada di jurang terdalam neraka. Al-Qur’an menegaskannya:

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat penolongpun bagi mereka” (QS. An-Nisa; 42).

Ancaman bagi orang munafik sedemikian dahsyatnya. Maka menjadi wajib bagi kita untuk mengetahui bagaimana ciri-ciri munafik itu sebenarnya. Tujuan mengetahui ciri-ciri munafik tidak lain agar kita mampu menjauhinya. Rasulullah SAW dengan jelas menyebutkan ciri-ciri munafik dalam sabdanya:

آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ

“Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga; pertama, jika berbicara ia berbdusta, jika berjanji ia mengingkarinya, dan jika dipercaya ia mengkhianatinya”. (HR Bukhari)

Sahabat Yang ‘Munafik’

Setelah tahu munafik itu apa. Maka menjadi mudah bagi kita untuk mengidentifikasi diri, apakah ada sifat munafik pada diri kita. Dalam ayat yang lain, disebutkan sifat orang munafik berikut:

 اِنَّ الْمُنٰفِقِيْنَ يُخٰدِعُوْنَ اللّٰهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْۚ وَاِذَا قَامُوْٓا اِلَى الصَّلٰوةِ قَامُوْا كُسَالٰىۙ يُرَاۤءُوْنَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ اِلَّا قَلِيْلًاۖ

“Sesungguhnya orang munafik itu hendak menipu Allah, tetapi Allah lah yang menipu mereka. Apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka lakukan dengan malas. Mereka bermaksud tujuan ria atau (ingin dipuji) di hadapan manusia. Dan mereka tidak mengingat Allah kecuali sedikit sekali,” (QS. An-Nisa: 142).

Munafik adalah sifat yang tersembunyi. Kita tidak boleh menghakimi sifat munafik pada diri orang lain. Bahkan, kedekatan seseorang kepada Allah tidak serta merta membuatnya bebas dari sifat munafik ini.

Ketika mendengar ayat-ayat tentang munafik, para sahabat Nabi tidak main tuduh kepada orang lain, mereka mengintrospeksi diri masing-masing. Mereka takut dan khawatir, jangan-jangan munafik yang disebut dalam ayat itu adalah mereka sendiri.

Ibnu Abu Malikah, dari kalangan tabiin berkata:

أَدْرَكْتُ ثَلاَثِيْنَ مِنْ أَصْحَابِ النَّبيِّ – صلى الله عليه وسلم – كُلُّهُمْ يَخَافُ النِّفَاقَ عَلَى نَفْسِهِ

“Aku telah mendapati 30 orang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, semuanya khawatir pada dirinya terdapat tanda-tanda kemunafikan.” (HR. Bukhari No. 36)

Sebagian dari mereka berdoa,

اَللهُمَّ اِنِّى أَعُوْذُ بِكَ مِنْ خُشُوْعِ النِّفَاقِ

“Wahai Allah jauhkanlah aku dari khusyuk munafik.” Para sahabat bertanya, “Apa maksudmu?” “Yaitu kekhusyukan palsu: hanya fisik, bukan hati.”

Agar Jauh Dari Munafik

Selain doa agar jari dari munafik di atas, ada resep yang bisa kita ambil dari kisah Sahabat Handzolah. Beliau termasuk di antara sekretaris Rasulullah SAW. Suatu Ketika berjumpa dengan Sahabat Abu Bakar dan menyatakan kegelisahannya.

عَنْ حَنْظَلَةَ الأُسَيِّدِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: لَقِينِي أَبُو بَكْرٍ فَقَالَ: كَيْفَ أَنْتَ يَا حَنْظَلَةُ؟ قُلْتُ: نَافَقَ حَنْظَلَةُ. قَالَ: سُبْحَانَ اللَّهِ! مَا تَقُولُ؟ قُلْتُ: نَكُونُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ يُذَكِّرُنَا بِالنَّارِ وَالْجَنَّةِ، حَتَّى كَأَنَّا رَأْيُ عَيْنٍ، فَإِذَا خَرَجْنَا مِنْ عِنْدِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ، عَافَسْنَا الأَزْوَاجَ وَالأَوْلاَدَ وَالضَّيْعَاتِ، فَنَسِينَا كَثِيرًا.

“Sungguh telah munafik Handzolah, ya Abu Bakar” ucap Sahabat Handzolah.

“Subhanallah, apa yang kau katakana wahai Handzolah?” tanya Sahabat Abu Bakar.

“Ketika saya berada di majelis Rasulullah SAW dan beliau berbicara tentang surga dan neraka,  seakan-akan terlihat oleh mata kepala saya. Namun, begitu saya keluar dari majelisnya Rasulullah SAW dan disibukkan dengan istri, anak dan keperluan hidup lainnya, saya menjadi lalai dan lupa segalanya.‘

Maka Abu Bakar pun berkata: “Demi Allah, Aku pun merasakan hal yang sama”.

Maka beliau berdua pun sowan kepada Rasulullah SAW.

“Sungguh telah munafik Handzolah, Ya Rasulullah” kata Sahabat Handzolah mengadukan permasalahannya. Rasulullah SAW, selaku ‘mursyidul a’dzom’ pun memberikan wejangannya:

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنْ لَوْ تَدُومُونَ عَلَى مَا تَكُونُونَ عِنْدِي وَفِي الذِّكْرِ لَصَافَحَتْكُمْ الْمَلَائِكَةُ عَلَى فُرُشِكُمْ وَفِي طُرُقِكُمْ وَلَكِنْ يَا حَنْظَلَةُ سَاعَةً وَسَاعَةً

“Demi Allah yang menguasai diriku, apabila kalian senantiasa melanggengkan diri seperti saat kalian berada di sisiku, dan ketika berzikir, niscaya para malaikat akan mensalami tangan kalian, dan membersamai dalam semua langkah hidup kalian. Akan tetapi wahai Handzolah, pelan-pelan” (HR. Muslim No. 2750)

Kisah ‘munafik’ Sahabat Handzolah ini memberikan pelajaran untuk istikomah dalam menghadiri majlisnya Rasulullah SAW. Dalam hal ini adalah majlis dzikir maupun majlis ilmu yang di dalamnya disampaikan tentang kebaikan, sehingga akan termotivasi untuk melakukan kebaikan tersebut.

Kalau pun tidak mampu senantiasa berada dalam majlis kebaikan, maka usahakanlah untuk menghidupkan dzikir kepada Allah SWT. Semampunya. Allah knows the best.