Liputan

Pendaftaran Santri Baru Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT) Al Fithrah Tahun 2026-2027  M. / 1447-1448 H

Di era yang serba cepat dan penuh tantangan seperti sekarang ini, pendidikan formal yang ditempuh anak-anak setiap pagi memang sangat penting. Namun, pengalaman menunjukkan bahwa sekolah formal saja belum cukup untuk membentuk pribadi yang berakhlak, kuat dalam iman, dan teguh dalam karakter. Di sinilah madrasah diniyah mengambil peran penting sebagai pelengkap dan penguat pendidikan anak.

Madrasah diniyah bukan hanya tempat belajar agama, tetapi juga ruang pembentukan mental, moral, dan spiritual yang sangat dibutuhkan oleh generasi kita. Ketika pendidikan formal fokus pada pengetahuan umum, Madrasah Diniyah memperkuat pondasi yang lebih mendasar: adab, akhlak, dan kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Mengapa Madrasah Diniyah Begitu Penting?

1. Menanamkan Adab Sejak Usia Dini

Ilmu tanpa adab adalah kehampaan. Di madrasah diniyah, anak belajar bagaimana menghormati guru, menghargai sesama, menjaga ucapan, serta berperilaku sopan. Nilai-nilai ini seringkali tidak tersentuh secara mendalam di sekolah formal.

2. Menjaga Anak dari Arus Pergaulan Bebas

Waktu sore dan malam hari adalah waktu yang rawan bagi anak-anak untuk terpapar lingkungan negatif. Dengan mengikuti madrasah diniyah, mereka memiliki kegiatan positif dan terarah, sehingga terhindar dari pergaulan yang tidak sehat.

3. Membiasakan Ibadah dan Cinta Al-Qur’an

Anak-anak akan dibimbing untuk membiasakan sholat tepat waktu, membaca Al-Qur’an, mengenal ilmu fiqih, akidah, hingga sejarah Nabi. Kebiasaan baik ini akan tertanam kuat hingga dewasa.

4. Melatih Tanggung Jawab dan Disiplin

Mengikuti dua pendidikan — sekolah pagi dan madrasah sore/malam — membentuk mental anak agar terbiasa bertanggung jawab dan disiplin. Ini adalah karakter utama kesuksesan hidup.

5. Benteng Akidah di Tengah Tantangan Zaman

Perkembangan teknologi dan media sosial membawa dampak besar bagi pola pikir anak. Madrasah diniyah hadir sebagai benteng akidah yang menjaga agar anak tetap lurus dalam pemahaman agama.

Mengapa Harus di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya?

Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya dikenal sebagai pesantren salaf yang menjaga tradisi ilmu para ulama dan memadukannya dengan pendekatan pendidikan yang penuh kasih sayang. Dengan lingkungan pesantren yang religius, anak-anak tidak hanya diajarkan ilmu, tetapi juga dibentuk menjadi pribadi yang santun dan beradab.

Para ustadz dan ustadzah memberikan perhatian penuh dalam setiap proses belajar, sehingga anak bukan hanya paham pelajaran, tetapi juga menghidupkan ilmu tersebut dalam keseharian.

Ajak Anak, Saudara, dan Teman Menjadi Bagian dari Keluarga Besar Madrasah Diniyah Al Fithrah

Profil Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT) Al Fithrah

Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT) Al Fithrah adalah Pendidikan keagamaan bagi warga sekitar yang dilaksanakan ba’da Maghrib.

MDT Al Fithrah berdiri tahun 2002 dan terdaftar di Kementrian Agama Kota Surabaya dengan Nomor Statistik 311.2.35.78.0122.

Visi menyelenggarakan pendidikan keagamaan berbasis kutubu al-turats bagi santri non mukim.

Misi sebagai berikut :

  1. Mengembangkan pengetahuan santri pada teks-teks ke-islam-an klasik dan jawaban-jawaban atas permasalahan ke-Islam-an di masa sekarang;
  2. Melestarikan amaliyah salafus sholeh dan mensuritauladani akhlaqul karimah Baginda Habibillah Rasulillah Muhammad SAW.

Penerimaan Santri Baru Madrasah Diniyah Takmiliyah Al Fithrah Tahun Ajaran 2026

Madrasah Diniyah Takmiliyah Al Fithrah membuka kesempatan bagi calon santri baru untuk tahun ajaran 2026. Program ini ditujukan bagi peserta didik yang ingin memperdalam ilmu agama dalam lingkungan pendidikan yang kondusif dan bernuansa islami.

Pendaftaran dibuka dalam dua tahap. Tahap pertama berlangsung pada 1 Juni hingga 30 Juni 2026, sedangkan tahap kedua dibuka pada 1 Juli hingga 31 Juli 2026. Calon pendaftar diharapkan memanfaatkan periode ini dengan baik agar tidak melewatkan kesempatan bergabung.

Untuk melakukan pendaftaran, terdapat beberapa persyaratan yang harus dipenuhi, antara lain mengisi formulir pendaftaran, melampirkan fotokopi akta kelahiran dan kartu keluarga, menyediakan pas foto ukuran 3×4 sebanyak dua lembar, serta menyertakan fotokopi ijazah formal terakhir.

Adapun biaya pendaftaran meliputi administrasi sebesar Rp30.000, rapor Rp50.000, khidmah haul Rp30.000, kajian rutin Rp20.000, serta SPP satu semester sebesar Rp300.000. Pihak madrasah juga memberikan kemudahan dengan opsi pembayaran yang dapat diangsur.

Bagi calon santri atau wali yang membutuhkan informasi lebih lanjut, dapat menghubungi admin melalui WhatsApp di nomor +62881-5590-213.

Dengan adanya program ini, Madrasah Diniyah Takmiliyah Al Fithrah berharap dapat mencetak generasi yang berakhlak mulia dan berilmu, serta mampu mengamalkan nilai-nilai keislaman dalam kehidupan sehari-hari.

Beriman dengan Hebat seperti Sayyidah Khadijah Al-Kubra

Ahad, 26 April 2026 — Suasana pagi di lingkungan pondok pesantren tampak khidmat. Para santri dengan jubah putih telah memenuhi masjid sejak pagi hari. Jamaah dari berbagai daerah, termasuk puluhan rombongan dari Jawa Tengah, sudah hadir bahkan sejak malam sebelumnya. Tim maktab pun telah menyiapkan penginapan guna menyambut kedatangan mereka.

Pada Ahad pagi itu, pondok pesantren menyelenggarakan rangkaian kegiatan Majelis Dzikir, Halal bi Halal, dan Haul Sayyidah Khadijah Al-Kubra. Acara dimulai pukul 07.00 WIB dengan pembacaan tawasul, istighotsah, dan Surat Yasin.

Kegiatan dilanjutkan dengan pembacaan kitab Al-Busyra fi Manaqib Sayyidah Khadijah Al-Kubra karya Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki. Setelah itu, para jamaah bersama-sama melantunkan nasyid, tahlil, serta maulid Adh-Dhiya’ al-Lami’ karya Habib Umar bin Hafidz.

Dalam kesempatan tersebut juga diumumkan beberapa agenda Haul Akbar yang akan diselenggarakan oleh Jamaah Al Khidmah dalam waktu dekat, di antaranya: Haul Akbar Bawean Ahad pagi 7 Mei 2026, Haul Akbar Karimun Jawa pada Sabtu malam Ahad 9 Mei 2026, Haul Akbar Bali pada Ahad pagi 17 Mei, Haul Akbar Lamongan pada Ahad pagi 31 Mei 2026, Haul Akbar Tegal Raya pada Sabtu malam Ahad 23 Mei 2026, dan Haul Akbar Makkah dan Umrah bersama Jamaah Al Khidmah, Ukhsafi Copler Community, Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah dan Keluaga Ndalem pada bulan November 2026.

Mengenal Sayyidah Khadijah Al-Kubra

Khadijah binti Khuwailid adalah sosok wanita agung dalam sejarah Islam. Beliau lahir sekitar tahun 555 M di Makkah, dari keluarga terpandang Quraisy. Ayahnya adalah Khuwailid bin Asad, seorang saudagar terhormat.

Sejak muda, Sayyidah Khadijah dikenal sebagai perempuan yang cerdas, mulia, dan sukses dalam bidang perdagangan. Karena kemuliaannya, beliau mendapat gelar “Ath-Thahirah” (wanita suci).

Kisah pernikahan beliau dengan Nabi Muhammad bermula ketika Sayyidah Khadijah mempercayakan dagangannya kepada Rasulullah muda. Kejujuran dan akhlak beliau membuat Sayyidah Khadijah terkesan, hingga akhirnya beliau mengutus perantara untuk melamar Rasulullah.

Pernikahan ini menjadi salah satu kisah rumah tangga paling mulia dalam Islam. Dari pernikahan tersebut lahirlah keturunan yang penuh keberkahan, termasuk Fatimah az-Zahra.

Sayyidah Khadijah juga adalah orang pertama yang beriman kepada Rasulullah ﷺ. Ketika wahyu pertama turun (QS. Al-Muzzammil dan Al-Muddatstsir), beliaulah yang pertama menenangkan dan menguatkan Rasulullah.

Beliau mendampingi dakwah dengan penuh pengorbanan, baik secara moral maupun materi. Seluruh hartanya digunakan untuk mendukung perjuangan Islam.

Meneladani Keimanan Sayyidah Khadijah

Dalam mauidzah hasanahnya, Habib Musthofa bin Idrus Al-Khirid dari Malang menegaskan bahwa Sayyidah Khadijah adalah teladan utama, khususnya bagi kaum perempuan.

Beliau adalah sosok Istri yang setia dan penuh cinta, Pendamping dakwah yang total, Sosok dengan akal yang sempurna, Wanita yang namanya terukir di hati Rasulullah ﷺ.

Ketika ada yang membandingkan dengan istri lain, Rasulullah tetap memuliakan Khadijah, menunjukkan betapa dalam cinta beliau kepadanya. Rasulullah SAW pernah dawuh:

مَا أَبْدَلَنِي اللَّهُ خَيْراً مِنهَا، لَقَدْ آمَنَت بِي إِذ كَفَرَ النَّاسُ، وَصَدَّقَتْنِي إِذْ كَذَّبَنِي النَّاسُ، وَآوَتِنِي إِذْ رَفَضَنِي النَّاسُ، وَوَاسَتَنِي إِذْ حَرَمَنِي النَّاسُ، وَرَزَقَنِي أَوْلَادَهَا إِذْ حَرَمَنِي أولادَ النِّسَاء

“Allah tidak memberikan ganti kepadaku wanita yang lebih baik darinya.Sungguh, dia beriman kepadaku ketika orang-orang mengingkariku.Ia membenarkanku ketika orang-orang mendustakanku.Ia melindungiku ketika orang-orang menolakku.Ia mengorbankan hartanya untukku ketika orang-orang menghalangiku. Dan Allah memberiku anak darinya ketika aku tidak mendapatkan anak dari wanita-wanita yang lain.”

Ciri-Ciri Orang Beriman

Terkait sifat dan ciri-ciri orang mukmin, Sayyidah Khadijah pernah menyampaikan dawuhnya Rasulullah SAW:

إِنَّ الْمُؤْمِنَ تَرَاهُ قُوَّةً فِي دِيْنِ، وَحَوْماً فِي لِيْنٍ، وَإِيْمَاناً فِي يَقِيْنٍ، وَحِرْصًا فِي عِلْمٍ، وَعِلْماً فِيْ حِلْمٍ، وَشَفَقَةً فِي مَحَبَّة، وَبِرًّا فِي اِسْتِقَامَةً، وَقَصْدًا فٍِي غِنَى، وَتَجَمُّلاً فِي فَاقَة، وَتَحَرَّجاً عَنْ طَمَعٍ ، وَكَسَباً فِي حَلَالٍ، وَنَشَاطًا فِي هُدَى، وَنَهِياً عَنْ شَهْوَةٍ، وَرَحْمَةً لِلْمَجْهُوْدٍ

Sesungguhnya seorang mukmin itu engkau lihat sebagai sosok yang kuat dalam agamanya, teguh namun tetap lembut, beriman dengan mantap, bersemangat dalam mencari ilmu, berilmu dengan kesabaran, penuh kasih dalam cinta, penuh kebaikan dalam istiqamah; sederhana dalam kekayaan, menjaga kehormatan saat kekurangan, menjauhi ketamakan, mencari rezeki dengan yang halal, bersemangat dalam petunjuk, menahan syahwat, dan mengasihi orang yang kelelahan.

إِنَّ المُؤْمِنَ لَا يَظْلِمُ مَن يُبْغِضُ،وَلَا يَأْثَمُ فِيْمَنْ يُحِبُّ، وَلَا يُضَيِّعُ مَا اسْتَودَعَ ، وَلَا يَحْسُدُ وَلَا يَطْعَنُ فِي الزَّلَازِلِ وَقُوْراً، فِي الرَّخَاءِ شَكُوْراً

Sungguh seorang mukmin itu tidak berbuat zalim kepada orang yang dibencinya, tidak berdosa dalam memperlakukan orang yang dicintainya, tidak mengabaikan amanah yang dititipkan kepadanya, tidak dengki, dan tidak mencela.Dalam masa goncangan ia tetap tenang; dalam masa kelapangan ia penuh syukur.”

Seluruh sifat ini tercermin dalam diri Sayyidah Khadijah Al-Kubra.

Pengorbanan Total untuk Dakwah

Sayyidah Khadijah mengorbankan seluruh hartanya demi perjuangan Rasulullah ﷺ. Bahkan disebutkan dalam kisah-kisah manaqib, di akhir hayatnya beliau tidak memiliki apa-apa lagi selain keimanan yang kokoh.

Keteguhan iman inilah yang menjadikan beliau sebagai salah satu wanita terbaik sepanjang masa.

Haul Sayyidah Khadijah Al-Kubra bukan sekadar mengenang sejarah, tetapi menjadi momentum untuk meneladani keimanan, kesetiaan, dan pengorbanannya.

“Sayyidah Khadijah yang sekarang kita hauli, tidak lain tujuannya adalah agar perempuan di lingkungan kita bisa meneladani beliau. (Majlis Haul) Ini adalah jalan untuk mencintai Rasulullah SAW dan keluarga Rasulullah SAW serta para sahabat. Kita berharap Mudah-mudahan perempuan bisa mengikuti jejaknya Sayyidah Khadijah” jelas Habib Musthofa Al-Khirid.

Semoga kita semua diberikan kekuatan untuk meneladani beliau dan mendapatkan keberkahan, serta ditutup hidup dengan husnul khatimah. Aamiin.

Kunjungan Rombongan Masjid Ar Raudhah Malaysia ke Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya

Pada hari Senin, 13 April 2026, Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah menerima kunjungan istimewa dari rombongan jamaah asal Malaysia. Kegiatan ini menjadi momentum penting dalam mempererat ukhuwah Islamiyah lintas negara sekaligus memperkuat nilai silaturahim antar lembaga keagamaan.

Rombongan dari Masjid Ar Raudhah Kelantan

Rombongan yang dipimpin oleh Asep Saepudin, pengurus perjalanan wisata religi dari Jakarta, membawa sebanyak 45 peserta yang berasal dari Masjid Ar Raudhah Lundang Kota Bharu Kelantan Malaysia. Adapun komposisi peserta terdiri dari 30 jamaah putra dan 15 jamaah putri.

Kunjungan ini bertujuan untuk belajar langsung dari sistem pendidikan pesantren, serta mengambil nilai-nilai positif yang dapat diterapkan di lingkungan mereka di Malaysia.

Waktu dan Tempat Pelaksanaan

Kegiatan dilaksanakan pada hari Senin, 13 April 2026 mulai pukul 13.00 – 14.00 WIB, bertempat di Pendopo Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya.

Acara berlangsung dengan khidmat dan penuh kehangatan, dengan susunan kegiatan dibuka dengan Tawasul dan Istighosah oleh Ust. Ilyas Rahman, S.Ud dilanjutkan Sambutan Pengurus Pondok oleh Ust. Dr. Fathur Rozi, M.H.I.

Sambutan Tamu disampaikan oleh Ust. Saibon yang dilanjutkan dengan Sesi Tanya Jawab serta diakhiri Penutup dan Doa oleh Ust. Mustaqim, M.Fil.I.

Silaturahim Ke Jawa

Rombongan dari Masjid Ar Raudhah Lundang Kota Bharu Kelantan Malaysia ini menempuh perjalanan selama 11 hari sejak 11 hingga 22 April 2026 dengan tema kegiatan “Jelajah Jawa”. Semoga perjalanan silaturrahmi mereka mendapatkan kemudahan rezeki, kesehatan dan panjang umur, sebagaimana janji Rasulullah SAW:

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

“Barang siapa ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung silaturahmi.” (HR. Sahih Bukhari No. 5986 dan HR. Sahih Muslim No. 2557)

Kunjungan ini juga diharapkan dapat menjadi jembatan kolaborasi antar pesantren dan lembaga Islam di Asia Tenggara, serta memperkuat semangat berbagi ilmu, pengalaman, dan nilai-nilai keislaman.

Rapat Koordinasi Guru PDF Ulya Al Fithrah: Menguatkan Tafaqqquh Fiddin dan Penyesuaian Kurikulum

Dalam rangka mengawali kembali kegiatan belajar mengajar pasca liburan Idul Fitri serta menyambut perubahan kalender pendidikan dari Hijriyah ke Masehi, Pendidikan Diniyah Formal (PDF) Ulya Al Fithrah Surabaya menggelar rapat koordinasi bagi seluruh ustadz dan ustadzah pada Selasa, 31 Maret 2026 bertempat di Pendopo.

Kegiatan ini menjadi momentum penting bagi lembaga dalam memperkuat kembali komitmen mencetak generasi tafaqquh fiddin, yaitu para pelajar yang mendalami ilmu agama secara utuh, mendalam, dan berkelanjutan. Dengan perubahan kalender dan dinamika pembelajaran modern, diperlukan penyusunan ulang strategi pembelajaran agar tetap selaras dengan visi pendidikan pesantren.

Acara dibuka dengan bacaan tawassul Al-Fatihah, dilanjutkan istighotsah dan Sholawat Fi Hubbi, sebagai bentuk permohonan keberkahan kepada Allah SWT agar rapat berjalan lancar dan membawa maslahat bagi lembaga. Dalam sesi ini dipandu beberapa asatidz sepuh. Tampak hadir Ust. Dr. H. Abdur Rosyid, M.Fil.I, Ust. H. Zainul Arif, S.Ud, Ust. H. Moh. Sholeh, S.Ud, Ust. H. Khoirudin, S.Ud, Ust. H. Ridwan, S.Ud dan asatid lainnya.

Apresiasi atas dedikasi

Dalam sambutannya, Kepala Pendidikan Diniyah Formal Ulya Al Fithrah, H. Nasiruddin, S.Pd., M.M., menekankan pentingnya ketepatan administrasi melalui sosialisasi jurnal mengajar dan absensi, serta perlunya menyesuaikan materi ajar dengan kalender pendidikan baru. Ini menjadi bagian dari peningkatan kualitas layanan pendidikan sekaligus bagian dari upaya menjaga kesinambungan belajar santri.

“Berdasarkan hasil penilaian assesor kemarin, kita (PDF Ulya Al Fithrah, red.) sudah mendapatkan nilai akreditasi A. Tapi ada satu yang kurang, berdasarkan saran yang disampaikan oleh salah seorang assesor yang merupakan dzurriyah Pondok Lirboyo, yaitu jurnal (mengajar)” jelas Ust. Nashir.

Dalam suasana masih bulan Syawal itu beliau juga tak lupa memohon maaf atas segala kurang dalam memberikan pelayanan.

“Kami juga menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada panjenengan semua atas dedikasinya dalam membersamai dan mengajar para santri semuanya” lanjut beliau.

Penyesuaian Materi Ajar

Agenda utama rapat kali ini adalah musyawarah materi ajar setiap mata pelajaran seiring perubahan kalender pendidikan. Dalan hal ini diisi dengan pengarahan dari Waka Kurikulum, Ust. Dzulfikar Nasrullah, S.Ud.

“Tahun ini santri kelas XII sudah tidak lagi kembali (karena sudah dinyatakan lulus), sehingga perlu adanya penyesuian terhadap kegiatan belajar mengajar” terang Ustadz Dzul.

Dalam kesempatan ini beliau juga memandu diskusi kelompok guru sesuai rumpun mata pelajaran yang fokus pembahasannya pada dua hal penting:

1. Penyesuaian materi ajar sesuai kalender Masehi

2. Pengaturan ulang waktu dan alokasi pembelajaran

Para pendidik diminta membawa kitab mata pelajaran untuk jenjang Isti’dad, kelas X, dan kelas XI agar proses musyawarah berjalan efektif dan terarah.

Mengawal Proses Tafaqquh fiddin

Melalui forum musyawarah tersebut, diharapkan tersusun langkah-langkah strategis yang mampu memperkuat proses pembelajaran, khususnya yang berorientasi pada pendalaman ilmu agama. Dengan demikian, setiap guru memiliki peran penting dalam menjaga ruh pendidikan pesantren, yaitu membentuk santri yang memahami agama secara menyeluruh (tafaqquh fiddin) sekaligus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Sebagai bentuk apresiasi, seluruh ustadz dan ustadzah yang hadir tepat waktu dan mengikuti acara hingga selesai akan memperoleh fasilitas transport dari panitia. Hal ini merupakan wujud penghargaan atas dedikasi dan partisipasi aktif tenaga pendidik dalam memajukan lembaga.

Acara ditutup dengan penyampaian hasil diskusi dan doa bersama, dipimpin oleh MC. Semoga seluruh rangkaian musyawarah ini membawa keberkahan dan menjadi langkah maju dalam meningkatkan mutu pendidikan di PDF Ulya Al Fithrah.

Haul Ke-17 Hadratusy Syaikh KH Ahmad Asrori Al-Ishaqi: Lautan Dzikir dan Cinta di Surabaya

Surabaya (14 Februari 2026) Sabtu malam Ahad itu udara sejuk meliputi Surabaya. Hujan siang hingga sorenya masih menampakkan genangan air yang tersisa. Para jamaah berdatangan ke Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya. Mereka akan mengikuti kegiatan Majlis Haul Hadratusy Syaikh KH Ahmad Asrori Al-Ishaqi beserta dengan niat dan masing-masing hajatnya.

Hadratusy Syaikh KH Ahmad Asrori Al-Ishaqi adalah sosok guru yang bersahaja. Kedalaman ilmu dan keistikomahan beliau tiada dua. Tauladan akhlak beliau dikenal istimewa di hati para ulama dan muridnya.

Beliau adalah sosok sederhana dengan senyum indahnya. Tanda-tanda kewalian sangat nampak pada dirinya. Beliau mengantongi ciri wali yang disebutkan oleh Nabi.

الَّذِينَ إِذَا رُؤُوا ذُكِرَ اللَّهُ

“(Mereka adalah) orang-orang yang apabila dilihat, maka Allah diingat.”

Diriwayatkan oleh Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma dalam Sunan Ibnu Majah (no. 4119) dan Al-Mu’jam al-Kabir karya Ath-Thabrani

Majlis Haul Hadratusy Syaikh KH Ahmad Asrori Al-Ishaqi bukan hanya dilaksanakan di Surabaya, melainkan juga di daerah-daerah lainnya. Di pesantren-pesantren, masjid-masjid, zawiyah-zawiyah, rumah-rumah dan tempat-tempat lainnya. Para muridin dan muhibin beliau merasa ‘wajib’ untuk menyelenggarakan majlis kirim doa sebagai bentuk menghidupkan silaturruhiyyah (hubungan ruhani) dan rasa syukur atas jasa-jasanya.

Dalam kesempatan tersebut, Habib Haydar Dliya’ Alaydrus menyampaikan bahwa majlis seperti ini adalah majlis yang sangat baik dan penuh keberkahan.

Beliau mengutip sebuah maqalah yang masyhur dalam literatur tasawuf, dinukil dalam Ihya Ulum al-Din karya Imam al-Ghazali:

اِعْلَمْ لَا شَيْءَ أَنْفَعُ لِلْقَلْبِ مِنْ ذِكْرِ الصَّالِحِينَ

“Ketahuilah, tidak ada sesuatu yang lebih bermanfaat bagi hati daripada mengingat (kisah) orang-orang shalih.”

“Mereka hidup di zaman kita. Ada HP dan laptop juga. Tapi mereka sukses—tidak terdominasi olehnya. Mereka berhasil meraih kedekatan di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala,” tutur beliau.

Dzikir: Jalan Terdekat Menuju Allah

Sebagaimana kita ketahu, Kyai Asrori telah membentuk Al Khidmah sebagai wadah untuk bersama-sama berdzikir kepada Allah. Beliau menghidupkan gelora dzikir bersama melalui kegiatan-kegiatan majlis dan haul di berbagai daerah. Dalam nasihatnya, Habib Haydar juga mengutip dawuh:

أَقْرَبُ الطُّرُقِ إِلَى اللَّهِ الذِّكْرُ

“Dzikir kepada Allah adalah jalan yang paling dekat menuju Allah.”

Pernyataan ini disampaikan oleh Imam al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin bahwa dzikir adalah sarana paling efektif menghadirkan kesadaran ilahiah dalam hati.

Dzikir bukan sekadar lafaz, melainkan kesadaran penuh. Dalam kalimat Lā ilāha illā Allāh, para ulama menjelaskan tingkatan makna:

1. Lā ma‘būda illā Allāh – Tiada yang berhak disembah selain Allah.

2. Lā maqṣūda illā Allāh – Tiada tujuan selain Allah.

3. Lā mawjūda illā Allāh – Tiada yang wujud hakiki kecuali Allah.

Tingkatan terakhir adalah maqam para wali; mereka hadir secara lahiriah di tengah manusia, namun hati mereka senantiasa bersama Allah.

Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an, Surah Yunus ayat 62:

أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

“Ingatlah, sesungguhnya para wali Allah itu tidak ada rasa takut atas mereka dan tidak pula mereka bersedih hati.”

Warisan Dakwah Moderat dan Penuh Hikmah

Dzikir membentuk pola pikir dan tindak laku Hadratusy Syaikh KH Ahmad Asrori Al-Ishaqi. Beliau dikenal sebagai ulama moderat, berideologi lurus, serta berdakwah dengan hikmah dan kasih sayang.

Warisan ini juga menjadi visi dan misi organisasi Al Khidmah, yang beliau rintis. Prinsipnya sederhana namun mendalam:

“Biarkan ada di mana-mana, tapi jangan dibawa ke mana-mana.”

Makna kehadiran spiritual ini selaras dengan ungkapan dalam syarah Al-Hikam al-Ata’iyyah karya Ibn ‘Athaillah:

الْكَوْنُ كُلُّهُ حَضْرَةٌ إِذَا كَانَ مَعَهُ الْحُضُورُ

“Seluruh alam adalah hadrah (kehadiran Ilahi), apabila bersamanya ada hudhur (kesadaran hati).”

Keikhlasan menjadi fondasi. Dalam Nadhom Matan Zubad disebutkan:

وَالْحَقُّ أَنْ تَكُونَ بِالْإِخْلَاصِ

فِي الْقَوْلِ وَالْأَفْعَالِ وَالْقَصْدِ

“Dan yang benar itu adalah engkau berpegang pada keikhlasan, dalam ucapan, perbuatan, dan niat.”

Sebagaimana firman Allah dalam Surah An-Nur ayat 37:

رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ…

“Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perdagangan dan tidak pula oleh jual beli dari mengingat Allah…”

Menjaga Warisan, Merawat Majlis

Di akhir mauizhahnya, Habib Haydar mengajak seluruh jamaah untuk terus merawat majlis, menjaga pesantren, dan menghidupkan warisan spiritual Hadratusy Syaikh. Di antara tanda cinta yang hakiki adalah berusaha meniru dan menauladani sang kekasih, baik dalam ramai maupun kesendirian. Muwafaqotul habib fi al-masyhad wa al-maghib.

Haul ke-17 ini bukan sekadar seremonial tahunan, melainkan momentum muhasabah dan pembaruan niat. Sebab sebagaimana para wali mengajarkan, nilai sebuah majlis bukan pada keramaiannya, melainkan pada kehadiran hati di hadapan Allah.