Semarak Maulid Nabi Saw di Al Fithrah

Setiap bulan Rabi’ul Awal tiba, ada yang berbeda di masjid ponpes Assalafi Al FIthrah, Surabaya. Dinding bagian depan dan empat pilar masjid dihias sedemikian rupa, wujud bahagia atas datangnya hari kelahiran Nabi Muhammad Saw.

Di bulan maulid, ada tiga agenda rutin yang dilaksanakan tiap tahunnya. Ahad Awal bulan hijriyah, peringatan Maulid Nabi Saw di tanggal 12 Rabi’ul Awal,  dan puncaknya Ahad ke-2.

Setelah dua kali bulan Rabi’ul Awal acara ini terselenggara secara tertutup, tahun ini acara ini dibuka kembali secara umum. Ribuan jama’ah memadati halaman dan gedung ponpes Al Fithrah. Kerinduan mereka untuk ikut majlis ini terobati sudah.

Tenda yang disediakan panitia, yang hanya menyisakan tak lebih seperempat halaman pondok, terisi penuh. Hingga pembacaan Ya Nabi Salam ‘Alaika banyak jama’ah masih bertahan di panas matahari. Apalagi yang membuat mereka bertahan untuk tidak beranjak dari lokasi yang mulai panas, kalau bukan harapan, sebagaimana yang disampaikan habib Segaf Baharun.

Baca Juga  Kajian al-Muntakhobat: Rasulullah Saw Sebagai Panutan

Dalam tausiahnya beliau menyampaikan, bahwa makna uswatun hasanah dalam al-Qur’an itu bukan hanya Nabi Muhammad Saw sebagai tauladan. Lebih dari itu Nabi Saw adalah barometer. Dengan kata lain, jika kita ingin mendapat kebaikan-kebaikan yang diterima oleh Nabi Saw, maka perlu kita tanyakan kepada diri kita berapa persen kita meniru Nabi Saw.

Beliau mengutip hadits Nabi Saw, yang menjelaskan kesenangan di dunia ini tidak ada. Sehingga menurut beliau, hidup di dunia ini hanya ada dua macam; hidup di dunia ini tidak enak dan nyaman menjalaninya, dan hidup di dunia ini tidak enak dan tidak nyaman menjalaninya.

Suasana di halaman ponpes Al Fithrah saat ahad ke-2

Jika kita ingin hidup di dunia yang tidak enak ini, nyaman dalam menjalani hidup maka ikuti Nabi Saw. Jika tidak, maka kiata hanya akan menjalani hidup yang tidak ini, dan tidak nyaman menjalaninya. Harapan bahwa dengan meniru Nabi Muhammad Saw, kelak kita akan berada di satu tempat dan bertemu dengan beliau.

Baca Juga  LAKSANAKAN IMTIHAN WATHANI, SANTRI PDF ULYA DAN WUSTHO MENGEVALUASI DIRI

Harapan inilah yang barangkali membuat jama’ah tetap bertahan hingga rangkaian majlis ini selesai, walaupun suhu di hari itu terus naik seiring siang datang. Taudiyah yang tidak lebih dari lima puluh menit ini diakhiri oleh Habib Segaff dengan pengijazahan Shalawat Busyro.

Para Habib, Kiai, dan jama’ah saat mahallul qiyam

Lazimnya Majlis Dzikir yang diadakan oleh Jama’ah Al Khidmah dan ponpes Al Fithrah, durasi mauidhoh biasanya lebih pendek dari rangkaian majlis. Seperti itu pula Majlis Ahad ke-2 bulan Rabi’ul Awal, setelah mauidhoh yang disampaikan oleh Habib Segaf Baharun, acara dilanjutkan dengan pembacaan  fihubbi.

Sebelum fihubbi dibacakan, panitia mengajak para jama’ah mengumpulkan khidmah untuk Haul Akbar Al Fithrah 2023. Setelah rangkaian pembacaan fihubbi dan dipungkasi dengan do’a oleh putra Hadrotusy Syaikh KH. Achmad Asrori al-Ishaqy, KH. Muhammad Ayn el-Ishaqy, acara dilanjutkan dengan pengumuman.

Pembacaan kasidah Qabul oleh Habib Umar Assegaf dari Pasuruan, dan do’a bihaqqil Fatihah oleh KH. Abdullah Faqih dari Lamongan, menandari acara ini menjelang usai. Dan, seperti yang sudah ada sejak zaman Kiai Asrori masih bersama-sama dengan kita, majlis ini ditutup dengan lemparan buah oleh para Habib dan Kiai, lalu makan talaman bersama.

Baca Juga  Hari Santri: Berdaya Menjaga Martabat Kemanusiaan

Kegembiraan tibanya maulid Nabi Saw, tidak hanya berhenti di ahad ke-2. MI dan RA Al Fithrah, juga ikut mengadakan acara tersendiri, menyambut hari kelahiran Nabi Saw. Bahkan, di MI juga diadakan lomba-lomba dalam mengisi rangkaian kegembiraan datangnya hari kelahiran Nabi.

Semua tadi tentu dengan harapan kelak di akhirat, kita semua akan dikumpulkan bersama Nabi Muhammad Saw.