alfithrah surabaya

Langkah Nyata Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya Wujudkan Asrama Santri Sehat dan Bebas TBC

Menjaga kesehatan merupakan bagian penting dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Tubuh yang sehat membantu seseorang belajar dengan lebih nyaman, beribadah dengan tenang, serta menjalankan berbagai aktivitas tanpa hambatan. Bagi lingkungan pesantren yang dihuni banyak santri dalam satu kawasan, menjaga kesehatan menjadi tanggung jawab bersama.

Hal inilah yang terus diupayakan oleh Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya. Tidak hanya memberikan pendidikan agama dan ilmu pengetahuan, pesantren juga berupaya menciptakan lingkungan tempat tinggal yang sehat dan nyaman bagi para santri.

Salah satu langkah nyata tersebut dilakukan pada Selasa, 6 Oktober 2026, melalui kegiatan skrining dan pemeriksaan rontgen dada atau foto thorax bagi santri dan pengurus pesantren. Kegiatan ini bekerja sama dengan Dinas Kesehatan melalui Puskesmas Tanah Kali Kedinding Surabaya sebagai bagian dari upaya pemantauan kesehatan saluran pernapasan, khususnya terhadap Tuberkulosis atau TBC.

Skrining TBC, Upaya Deteksi dan Pencegahan Sejak Dini

Kegiatan pemeriksaan berlangsung mulai pukul 07.30 WIB di Auditorium Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah. Sekitar 100 santri dan pengurus mengikuti rangkaian pemeriksaan secara tertib sesuai arahan panitia dan petugas kesehatan.

Untuk mendukung kegiatan tersebut, pemeriksaan dilengkapi dengan bus rontgen mobile dan alat portable X-Ray. Para peserta mengikuti beberapa tahapan, mulai dari registrasi, skrining, pemeriksaan rontgen, pembacaan hasil, hingga menerima konsumsi.

Bagi lingkungan pesantren, kegiatan semacam ini menjadi langkah penting karena kehidupan santri berlangsung secara bersama-sama. Kamar, ruang belajar, tempat ibadah, dan berbagai fasilitas lainnya digunakan secara bersama sehingga perhatian terhadap kesehatan perlu dilakukan secara menyeluruh.

Pemeriksaan kesehatan bukan berarti seseorang sedang dinyatakan sakit. Justru, skrining menjadi salah satu cara untuk mengetahui kondisi kesehatan lebih awal sehingga langkah berikutnya dapat dilakukan sesuai hasil pemeriksaan dan arahan tenaga kesehatan.

Dengan deteksi yang lebih dini, potensi masalah kesehatan dapat diketahui dan ditindaklanjuti secara tepat.

Edukasi TBC dan Pentingnya Udara Bersih di Asrama

Di sela-sela pemeriksaan, dokter dan petugas kesehatan juga memberikan edukasi kepada para santri mengenai Tuberkulosis (TBC) dan kesehatan paru-paru.

Para santri mendapatkan pemahaman mengenai gejala TBC, cara penularan, serta pentingnya menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat. Edukasi juga menekankan pentingnya menjaga sirkulasi udara, terutama di dalam kamar asrama.

Hal sederhana seperti membuka jendela dan memastikan udara dapat berganti secara rutin merupakan bagian dari upaya menciptakan lingkungan yang lebih sehat. Kebersihan kamar dan lingkungan sekitar juga perlu dijaga bersama.

Pesan ini sejalan dengan ajaran Islam yang sangat memperhatikan kebersihan dan kesehatan. Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ اللهَ طَيِّبٌ يُحِبُّ الطَّيِّبَ، نَظِيفٌ يُحِبُّ النَّظَافَةَ

“Sesungguhnya Allah itu baik dan menyukai kebaikan, bersih dan menyukai kebersihan.”

Menjaga kebersihan lingkungan pesantren karena itu bukan hanya persoalan kenyamanan, tetapi juga bagian dari membangun kebiasaan baik dalam kehidupan santri.

Kesehatan Santri, Bekal Belajar dan Beribadah

Pihak Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah menyambut positif kegiatan skrining dan pemeriksaan tersebut. Kesehatan santri menjadi salah satu perhatian penting karena kondisi tubuh yang baik turut menunjang kelancaran proses pendidikan.

Santri membutuhkan tubuh yang sehat untuk mengikuti pelajaran, menghafal, berdiskusi, mengikuti kegiatan pesantren, melaksanakan ibadah, dan berinteraksi dengan teman-temannya.

Karena itu, menciptakan pesantren yang sehat bukan hanya tugas pengurus atau petugas kesehatan. Santri juga memiliki peran penting di dalamnya.

Mulai dari menjaga kebersihan kamar, tidak berbagi barang pribadi secara sembarangan, menjaga etika batuk dan bersin, memperhatikan sirkulasi udara, hingga segera melapor kepada pengurus atau petugas kesehatan ketika mengalami keluhan kesehatan merupakan kebiasaan sederhana yang memiliki manfaat besar.

Upaya Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah melalui skrining TBC ini menjadi bagian dari ikhtiar bersama untuk membangun lingkungan pendidikan yang sehat.

Sebab pesantren bukan hanya tempat menuntut ilmu. Pesantren juga merupakan tempat membentuk kebiasaan hidup, akhlak, kedisiplinan, dan kepedulian terhadap sesama.

Semoga langkah sederhana ini menjadi ikhtiar berkelanjutan untuk mewujudkan asrama santri yang sehat, nyaman, bersih, dan bebas dari penularan TBC, sehingga para santri dapat belajar dan beribadah dengan lebih tenang.

Karena menjaga kesehatan bukan sekadar menjaga diri sendiri. Ketika kita menjaga kesehatan, kita juga sedang menjaga orang-orang yang hidup dan belajar bersama kita.

MA Al Asror Semarang Selenggarakan “SUNAH” ke Al Fithrah Surabaya

Silaturahmi tidak hanya mempererat hubungan antarmanusia, tetapi juga menjadi jalan untuk saling belajar, berbagi pengalaman, dan mengambil hikmah. Semangat inilah yang dibawa rombongan Madrasah Aliyah (MA) Al Asror Semarang ketika berkunjung ke Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya, Senin, 5 Oktober 2026.

Sebanyak 120 peserta mengikuti kegiatan yang dikemas dalam program SUNAH (Sowan Ulama Ngalab Barokah). Kegiatan ini menjadi momentum bagi para peserta untuk mengenal lebih dekat kehidupan pesantren sekaligus menyambung silaturahmi dengan keluarga besar Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah.

Dalam tradisi Islam, silaturahmi memiliki kedudukan yang istimewa. Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

“Barang siapa ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia menyambung silaturahmi.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Karena itu, kunjungan semacam ini tidak berhenti sebagai perjalanan fisik. Ia dapat menjadi rihlah ilmiah, yakni perjalanan untuk mencari pengalaman, pengetahuan, dan inspirasi yang dapat dibawa pulang.

Mengenal Al Fithrah dan Kehidupan Pesantren

Rombongan MA Al Asror Semarang dipimpin oleh Hj. Bayu Sulistyawati, S.Pd. selaku Ketua Panitia. Kedatangan rombongan diterima dan didampingi oleh Ust. Ilyas Rahman, S.Ud., Wakil Ketua Pondok, serta Ust. Dr. Fathur Rozi, M.H.I., Kabag. Pendidikan Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya.

Rute kunjungan meliputi Pendopo Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah dan dilanjutkan dengan ziarah ke makam Hadratusy Syaikh KH. Ahmad Asrori Al-Ishaqy.

Di Pendopo, Ust. Dr. Fathur Rozi, M.H.I. menyampaikan profil Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah. Penjelasan tidak hanya berkaitan dengan sejarah dan lembaga pendidikan, tetapi juga mengenalkan budaya serta lingkungan kehidupan pesantren.

Para peserta mendapatkan gambaran mengenai berbagai jenjang pendidikan yang ada di Al Fithrah, mulai dari Raudhatul Athfal (RA), Madrasah Ibtidaiyah (MI), Wustha, Ulya, Ma’had Aly, hingga Institut Al Fithrah.

Bagi peserta didik, mengenal lembaga pendidikan lain menjadi pengalaman yang berharga. Mereka dapat melihat secara langsung bagaimana sebuah pesantren mengembangkan pendidikan sekaligus membangun budaya kehidupan yang berorientasi pada ilmu, adab, ibadah, dan khidmah.

Belajar Kebersihan sebagai Bagian dari Pendidikan

Hal menarik lainnya dalam kunjungan tersebut adalah pembahasan mengenai pengelolaan kebersihan lingkungan pesantren.

Ust. Ilyas Rahman, S.Ud. menjelaskan bagaimana kebersihan dikelola di lingkungan Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah, baik di area pondok putra maupun pondok putri.

Penjelasan mencakup struktur pengelolaan, mekanisme pelaksanaan, serta berbagai upaya yang dilakukan agar kebersihan lingkungan pondok dapat terjaga.

Kebersihan dalam lingkungan pesantren bukan sekadar persoalan teknis. Ia juga berkaitan dengan pendidikan karakter.

Islam sangat memperhatikan kebersihan. Rasulullah ﷺ bersabda:

الطُّهُورُ شَطْرُ الْإِيمَانِ

“Bersuci itu adalah sebagian dari iman.”
(HR. Muslim)

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa menjaga kebersihan lingkungan merupakan bagian dari tanggung jawab bersama. Santri tidak hanya belajar dari buku dan kelas, tetapi juga dari kebiasaan sehari-hari.

Membuang sampah pada tempatnya, menjaga kamar tetap rapi, membersihkan lingkungan, serta merawat fasilitas bersama adalah bentuk sederhana dari pendidikan adab.

SUNAH: Rihlah, Silaturahmi, dan Ngalab Barokah

Dalam kesempatan tersebut, Kepala MA Al Asror Semarang menyampaikan terima kasih kepada keluarga besar Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah atas penerimaan dan penyambutan terhadap rombongan.

Beliau juga menyampaikan permohonan maaf apabila selama pelaksanaan kunjungan terdapat kekurangan.

Kegiatan SUNAH sendiri telah direncanakan dan diwacanakan sejak jauh-jauh hari. Setelah melalui proses persiapan, akhirnya rombongan sekitar 120 peserta dapat berkunjung ke Al Fithrah dengan lancar.

Pihak MA Al Asror Semarang juga memperkenalkan secara singkat latar belakang dan profil lembaga kepada keluarga besar Al Fithrah. Pertemuan tersebut akhirnya menjadi ruang untuk saling mengenal, bukan hanya antara dua lembaga pendidikan, tetapi juga antara para pendidik dan peserta didik yang sama-sama sedang menapaki jalan ilmu.

Perjalanan seperti ini mengajarkan bahwa ilmu tidak selalu diperoleh dengan duduk di ruang kelas. Kadang ilmu hadir ketika kita melihat cara orang lain mengelola pesantren. Kadang inspirasi muncul ketika mendengar pengalaman lembaga lain. Dan kadang, keberkahan justru terasa ketika perjalanan ilmu disertai silaturahmi dan ziarah kepada orang-orang saleh.

Semoga kegiatan SUNAH MA Al Asror Semarang ke Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah menjadi perjalanan yang membawa manfaat, mempererat persaudaraan, dan menumbuhkan semangat para peserta untuk terus belajar.

Sebab dalam perjalanan mencari ilmu, yang dibawa pulang bukan hanya pengetahuan, tetapi juga pengalaman, teladan, persaudaraan, dan doa.

MUKERTA PDF Ulya Al Fithrah 2026: Perkuat Khidmah dan Bangun Manajemen Pendidikan yang Profesional

Musyawarah Kerja Tahunan (MUKERTA) PDF Ulya Al Fithrah Surabaya Tahun Pelajaran 2026–2027 M sukses diselenggarakan pada Jumat–Sabtu, 26–27 Juni 2026. Kegiatan ini menjadi momentum penting bagi seluruh pendidik dan tenaga kependidikan untuk melakukan evaluasi, menyusun program kerja, serta memperkuat komitmen dalam meningkatkan mutu pendidikan di lingkungan PDF Ulya Al Fithrah Surabaya.

Mengusung tema “Menguatkan Khidmah, Menegakkan Nilai Salaf, Membangun Manajemen Pendidikan yang Profesional, Inspiratif dan Berintegrasi”, kegiatan hari pertama dilaksanakan di Auditorium Al Fithrah, sedangkan hari kedua bertempat di Gedung Timur Lantai 5. Seluruh pendidik dan tenaga kependidikan (PTK) PDF Ulya Al Fithrah Surabaya mengikuti agenda ini dengan penuh khidmat dan antusias.

Evaluasi Program dan Penguatan Komitmen Khidmah

Rangkaian acara diawali dengan seremonial keagamaan, kemudian dilanjutkan dengan pemaparan rencana serta evaluasi program tahunan yang disampaikan langsung oleh Kepala PDF Ulya Al Fithrah Surabaya, Ust. H. Nashiruddin, M.M.

Dalam sambutannya, beliau menyampaikan apresiasi mendalam kepada para khuddam (pendidik dan tenaga kependidikan) yang telah dengan penuh amanah dan tanggung jawab mengawal seluruh proses pembelajaran di PDF Ulya Al Fithrah Surabaya.

Selanjutnya, peserta mengikuti sesi Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) yang terbagi menjadi beberapa kelompok, meliputi:

  • Mata pelajaran agama Imtihan Wathoni (IW)
  • Mata pelajaran agama non-IW
  • Mata pelajaran umum dan bahasa
  • Mata pelajaran sorogan
  • Mata pelajaran Al-Qur’an
  • Mata pelajaran Gramatika Arab

Di penghujung kegiatan hari pertama, Wakil Kepala Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya, Ust. Ilyas Rahman, M.Ag, hadir memberikan sambutan sekaligus apresiasi terhadap tata kelola lembaga.

Beliau mengapresiasi transparansi laporan keuangan yang disampaikan oleh Pengurus PDF Ulya Al Fithrah.

“Kami memberi nilai 9 dari 10.”

Beliau juga menegaskan pentingnya akuntabilitas dalam pengelolaan dana pendidikan.

“Setiap kegiatan yang melibatkan dana yang diterima dari pemerintah, harus dilakukan audit secara internal terlebih dahulu.”

Kegiatan hari pertama kemudian ditutup dengan doa bersama dan ramah tamah.

Pendidikan Berkualitas Dimulai dari Tata Kelola yang Baik

Memasuki hari kedua yang dilaksanakan di Gedung Timur Lantai 5, acara diawali dengan pembukaan dan sambutan Kepala PDF Ulya Al Fithrah Surabaya, Ust. Nashiruddin, M.M.

Beliau menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan tidak cukup hanya mengandalkan semangat pengabdian, tetapi juga membutuhkan sistem pengelolaan yang profesional.

“Pendidikan yang baik bukan hanya membutuhkan semangat khidmah pendidiknya, melainkan juga tata kelola yang baik juga, sehingga tercapai tujuan pendidikan dan harapan Hadratusy Syaikh KH. Ahmad Asrori Al Ishaqy.”

Sambutan berikutnya disampaikan oleh Kepala Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya, Ust. Nashiruddin, S.Ud., M.Pd.I.

Beliau mengajak seluruh pendidik dan tenaga kependidikan untuk terus berkomitmen menjalankan amanah dengan penuh tanggung jawab.

“Pondok hanya merumuskan, selebihnya amanah dan tanggung jawab adalah konsekuensi yang harus dihadirkan oleh diri sendiri.”

Beliau juga mengingatkan bahwa pendidikan di lingkungan Al Fithrah tidak hanya berlangsung di ruang kelas.

“Pendidikan di Al Fithrah ini tidak hanya di kelas, melainkan juga dalam wadhifah keseharian santri dalam bentuk pendidikan karakter, serta dalam kegiatan syiar yang berhubungan dengan masyarakat.”

Seminar Metode Mengajar dan Apresiasi bagi Pendidik

Sesi selanjutnya diisi dengan seminar metode mengajar yang disampaikan oleh Drs. H. Miftahul Jinan, Lc, dari Griya Parenting Indonesia yang juga menjabat sebagai Wakil Pengasuh Pondok Modern Al-Firdaus.

Dalam materinya, beliau menjelaskan bahwa mendidik bukan sekadar menyampaikan ilmu, tetapi juga menanamkan nilai kepada peserta didik. Beliau mengilustrasikan hal tersebut melalui kisah tiga orang tukang sapu.

Tukang sapu pertama bekerja hanya sebagai rutinitas. Tukang sapu kedua memiliki motivasi membersihkan lingkungan. Sementara tukang sapu ketiga merasa pekerjaannya mulia karena merupakan amanah dari kepala daerah agar kotanya memperoleh penghargaan Adipura sekaligus menjaga kesehatan masyarakat. Menurut beliau, tukang sapu ketiga akan menjalankan tugasnya dengan kualitas yang jauh lebih maksimal karena memahami makna di balik pekerjaannya.

Beliau juga menekankan bahwa seorang pendidik harus memiliki bonding (kedekatan emosional) dengan murid agar nilai-nilai yang diajarkan dapat diterima secara utuh.

Setidaknya terdapat empat ciri seorang pendidik yang memiliki bonding yang baik dengan peserta didiknya, yaitu:

  • Murid merasa aman.
  • Murid merasa dicintai.
  • Murid merasa penting.
  • Murid merasa diterima.

Seluruh pendidik PDF Ulya Al Fithrah Surabaya tampak mengikuti seminar dengan penuh perhatian dan antusias.

Sebagai penutup rangkaian MUKERTA, panitia menyampaikan raport evaluasi pendidik sekaligus memberikan penghargaan kepada para pendidik terbaik dalam aspek kedisiplinan, keteladanan, dan keaktifan.

Melalui Musyawarah Kerja Tahunan (MUKERTA) Tahun Pelajaran 2026–2027 ini, diharapkan seluruh hasil evaluasi dan perencanaan mampu menjadi pijakan untuk meningkatkan kualitas pendidikan, memperkuat nilai-nilai salaf, serta menghadirkan tata kelola lembaga yang semakin profesional, inspiratif, dan berintegrasi demi kemaslahatan santri maupun lembaga.

Semoga acara ini dapat membawa manfaat perubahan ke arah kebaikan, baik kepada santri maupun lembaga. Aamiiin.

Rapat Khidmah Pengurus Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah

Senin-Selasa, 22-23 Juni 2026. Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya selenggarakan rapat khidmah pengurus. Rapat yang diselenggarakan di Gedung Timur Lantai 5  ini diikuti oleh semua jajaran tenaga pendidik dan kependidikan di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya. Nampak hadir dalam rapat khidmah ini para pendidikan dan tenaga kependidikan dari tingkat RA Al Fithrah, MI Al Fithrah, PDF Wustha Al Fithrah, PDF Ulya Al Fithrah, Ma’had Aly dan MDT Jami’ah Al Fithrah.

Rapat khidmah yang dilaksanakan selama dua hari ini dibuka dengan bacaan Tawasul, Istighotsah, Maulid dan Doa fi hubby. Dalam hal ini dipimpin oleh Ust. H. Zainul Arif, S.Ud, Ust. H. Khoiruddin, S.Ud, Ust. H. Hadori, S.Ud, Ust. Syirojul Munir, S.Ud, dan Ust. Dr. H. Abdur Rosyid, M.Fil.I.

Mewujudkan Cita-Cita Besar

Sambutan oleh Kepala Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah disampaikan oleh Ust. Nashiruddin, S.Ud, M.Pd.I. Beliau menyampaikan bahwa dalam rapat khidmah ini akan disusun rencana kegiatan selama satu tahun ke depan. “Besar harapan kami terhadap doa, dukungan dan arahan panjenengan semua” kata beliau.

Beliau mengingatkan kembali tentang cita-cita besar dan harapan Hadratusy Syaikh KH. Ahmad Asrori Al-Ishaqy terhadap Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah.

“Pondok pesantren ini perlu dikelola secara profesional, sehingga masyarakat melihat (keunggulan) pondok ini, tidak hanya melihat Hadratusy Syaikh” pesan beliau.

Secara umum, unit-unit lembaga di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah sudah terakreditasi baik oleh pihak stakeholder. RA Al Fithrah terakreditasi B, MI Al Fithrah terakreditasi A, PDF Ulya Al Fithrah terakreditasi A, Ma’had Aly Al Fithrah akreditasi A, Institut Al Fithrah terakreditasi B.

Sistem pendidikan di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah tidak hanya untuk belajar agama, melainkan juga ilmu umum, serta pengamalannya. Sesuai dengan jargon yang biasa digaungkan “Pendidikan agama menjadi tauladan dan pendidikan umum tidak ketinggalan”.

Untuk mencapai tujuan santri menjadi tauladan, setidaknya membutuhkan dua kekuatan; kekuatan ruhani dan kekuatan tata kelola yang baik.

Kekuatan ruhani kita jamak ketahui bisa berupa doa, kesungguhan dan keikhlasan hati. Sementara kekuatan tata kelola bisa berupa laporan-laporan yang terdokumentasikan dan manajemen yang jelas. Pelaporan dan transparansi ini tentu untuk menghindari adanya kepentingan pribadi, serta tercapainya cita-cita Al Fithrah.

Nasehat terhadap Pendidik dan Tenaga Kependidikan

Sambutan penasehat dan mauidoh disampaikan oleh Ust. H. Wahdi Alawy, S.Ud. Beliau mengharapkan agar para pendidik dan tenaga pendidik sebagai pembantu dan penerima amanah Hadratusy Syaikh KH. Ahmad Asrori Al-Ishaqy harus memiliki himmatun aliyah (kesungguhan yang tinggi) dan lebih banyak belajar lagi.

“Jangan hanya iktifa’an bima kaana” (merasa cukup dengan keadaan) pesan beliau.

Dalam melaksanakan amanah dan tanggung jawabnya, jangan jadi ‘pembantu’ yang buruk.

الأجير السوء لا يعمل إلا بالأجرة

“Seng estu. Seng temen. Lek nang kene, ojok itung-itungan bayaran. Insya Allah, Allah yang akan mencukupi. (Yang ikhlas. Yang sungguh-sungguh. Kalau di sini, jangan perhitungan bayaran. Insya Allah, Allah yang mencukupi)” pesan beliau.

Beliau berpesan juga agar para pendidik dan tenaga pendidikan untuk banyak membaca kitab. Mengingat bahwa Hadratusy Syaikh sendiri adalah pribadi yang rajin membaca, di manapun berada. “Jangan sampai orang menilai bahwa Al Fithrah hanya bisa manaqib saja” tegas beliau.

Acara dilanjutkan dengan sidang komisi per bidang kepengurusan dalam struktural pengurus Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya. Total ada empat bidang yang mengampu kepengurusan Al Fithrah Surabaya, yaitu Bidang Pendidikan, Bidang Kewadhifahan, Bidang Umum dan Administrasi dan Bidang Keuangan.

Merumuskan Program

Selama dua hari ini dilakukan diskusi mendalam terkait program-program yang akan dilaksanakan selama satu tahun ke depan. Hasil pemaparan, pengayaan dan kesimpulan yang dihasilkan dalam sidang komisi ini kemudian dipaparkan Kepala bidang masing-masing dalam Sidang Pleno di hari kedua.

Dalam sesi ini, semua kepala pengurus Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya mengisi panggung. Tampak hadir Kepala Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Ust. Nashiruddin, S.Ud, M.Pd, Wakil Kepala Pondok I Ust. Ilyas Rahman, M.Pd, Wakil Kepala II Ustadzah Mufarohah, S.Ud, Kepala Bagian Pendidikan Ust. Dr. Fathur Rozi, M.H.I, Kepala Bagian Umum dan Administrasi Ust. Mustaqim, M.Ag, Kepala Bagian Kewadhifahan Ust. M. Toha, Kepala Bagian Keuangan Ust. Nashruddin, S.Ud,

Semoga setiap agenda dan program yang telah dan akan dilaksanakan ini dapat membawa perbaikan dan kebaikan untuk Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah di masa depan. Aamiiin.

Rapat Koordinasi Guru PDF Ulya Al Fithrah: Menguatkan Tafaqqquh Fiddin dan Penyesuaian Kurikulum

Dalam rangka mengawali kembali kegiatan belajar mengajar pasca liburan Idul Fitri serta menyambut perubahan kalender pendidikan dari Hijriyah ke Masehi, Pendidikan Diniyah Formal (PDF) Ulya Al Fithrah Surabaya menggelar rapat koordinasi bagi seluruh ustadz dan ustadzah pada Selasa, 31 Maret 2026 bertempat di Pendopo.

Kegiatan ini menjadi momentum penting bagi lembaga dalam memperkuat kembali komitmen mencetak generasi tafaqquh fiddin, yaitu para pelajar yang mendalami ilmu agama secara utuh, mendalam, dan berkelanjutan. Dengan perubahan kalender dan dinamika pembelajaran modern, diperlukan penyusunan ulang strategi pembelajaran agar tetap selaras dengan visi pendidikan pesantren.

Acara dibuka dengan bacaan tawassul Al-Fatihah, dilanjutkan istighotsah dan Sholawat Fi Hubbi, sebagai bentuk permohonan keberkahan kepada Allah SWT agar rapat berjalan lancar dan membawa maslahat bagi lembaga. Dalam sesi ini dipandu beberapa asatidz sepuh. Tampak hadir Ust. Dr. H. Abdur Rosyid, M.Fil.I, Ust. H. Zainul Arif, S.Ud, Ust. H. Moh. Sholeh, S.Ud, Ust. H. Khoirudin, S.Ud, Ust. H. Ridwan, S.Ud dan asatid lainnya.

Apresiasi atas dedikasi

Dalam sambutannya, Kepala Pendidikan Diniyah Formal Ulya Al Fithrah, H. Nasiruddin, S.Pd., M.M., menekankan pentingnya ketepatan administrasi melalui sosialisasi jurnal mengajar dan absensi, serta perlunya menyesuaikan materi ajar dengan kalender pendidikan baru. Ini menjadi bagian dari peningkatan kualitas layanan pendidikan sekaligus bagian dari upaya menjaga kesinambungan belajar santri.

“Berdasarkan hasil penilaian assesor kemarin, kita (PDF Ulya Al Fithrah, red.) sudah mendapatkan nilai akreditasi A. Tapi ada satu yang kurang, berdasarkan saran yang disampaikan oleh salah seorang assesor yang merupakan dzurriyah Pondok Lirboyo, yaitu jurnal (mengajar)” jelas Ust. Nashir.

Dalam suasana masih bulan Syawal itu beliau juga tak lupa memohon maaf atas segala kurang dalam memberikan pelayanan.

“Kami juga menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada panjenengan semua atas dedikasinya dalam membersamai dan mengajar para santri semuanya” lanjut beliau.

Penyesuaian Materi Ajar

Agenda utama rapat kali ini adalah musyawarah materi ajar setiap mata pelajaran seiring perubahan kalender pendidikan. Dalan hal ini diisi dengan pengarahan dari Waka Kurikulum, Ust. Dzulfikar Nasrullah, S.Ud.

“Tahun ini santri kelas XII sudah tidak lagi kembali (karena sudah dinyatakan lulus), sehingga perlu adanya penyesuian terhadap kegiatan belajar mengajar” terang Ustadz Dzul.

Dalam kesempatan ini beliau juga memandu diskusi kelompok guru sesuai rumpun mata pelajaran yang fokus pembahasannya pada dua hal penting:

1. Penyesuaian materi ajar sesuai kalender Masehi

2. Pengaturan ulang waktu dan alokasi pembelajaran

Para pendidik diminta membawa kitab mata pelajaran untuk jenjang Isti’dad, kelas X, dan kelas XI agar proses musyawarah berjalan efektif dan terarah.

Mengawal Proses Tafaqquh fiddin

Melalui forum musyawarah tersebut, diharapkan tersusun langkah-langkah strategis yang mampu memperkuat proses pembelajaran, khususnya yang berorientasi pada pendalaman ilmu agama. Dengan demikian, setiap guru memiliki peran penting dalam menjaga ruh pendidikan pesantren, yaitu membentuk santri yang memahami agama secara menyeluruh (tafaqquh fiddin) sekaligus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Sebagai bentuk apresiasi, seluruh ustadz dan ustadzah yang hadir tepat waktu dan mengikuti acara hingga selesai akan memperoleh fasilitas transport dari panitia. Hal ini merupakan wujud penghargaan atas dedikasi dan partisipasi aktif tenaga pendidik dalam memajukan lembaga.

Acara ditutup dengan penyampaian hasil diskusi dan doa bersama, dipimpin oleh MC. Semoga seluruh rangkaian musyawarah ini membawa keberkahan dan menjadi langkah maju dalam meningkatkan mutu pendidikan di PDF Ulya Al Fithrah.