#alfithrah

PDF Wustho dan Ulya Al Fithrah Laksanakan Simulasi IW

Bulan Rajab akan menjadi bulan yang sibuk bagi santri kelas XII PDF Ulya Al Fithrah dan kelas IX PDF Wustho Al Fithrah. Imtihan Wathoni (IW), ujian nasional untuk santri Pendidikan Diniyah Formal (PDF) tingkat akhir akan dilaksanakan di bulan ini.

Agak berbeda dengan tahun sebelumnya, di mana IW di kedua unit Pendidikan ini dilaksanakan di waktu yang sama. Untuk tahun ini, IW di kedua unit Pendidikan ini dilaksanakan di waktu yang berbeda.

Tahun ini, untuk pertama kali di PDF Wustho akan dilaksanakan IW berbasis online. Sementara di PDF Ulya ini akan jadi kali kedua pelaksanaan IW dilakukan secara online.

Sejak pertengahan Januari lalu, bagian administrasi dan waka kesiswaan PDF Wustho dan Ulya sudah melakukan sosialisasi pada para santri terkait pelaksanaan IW. Mengingat IW akan dilaksanakan secara online, dan santri akan melaksanakannya dengan menggunakan hp.

Pengumpulan HP santri sudah dilakukan di sepertiga akhir bulan Januari 2023. HP yang sudah dikumpulkan selanjutnya secara bertahap dipasang aplikasi pengerjaan IW.

Pada tanggal 24 Januari 2023, PDF Wustho Al Fithrah lebih dulu melaksanakan simulasi IW. Sehari setelah itu, PDF Ulya Al FIthrah juga melaksanakan simulasi IW.  IW sendiri akan dilaksanakan pada bulan Februari 2023.

232 santri kelas XII PDF Ulya akan mengikuti IW PDF tingkat Ulya pada tanggal 7-9 Februari 2023. Sementara itu, 410 Santri kelas XI PDF Wustho akan mengikut IW PDF tingkat Wustho pada tanggal 14-16 Februari 2023.

Semoga santri kelas IX PDF Wustho dan santri kelas XII PDF Ulya diberikan kemudahan dalam melaksanakan IW. Selanjutnya semoga hasil yang akan mereka dapat setelah IW berlangsung bermanfaat buat mereka khususnya, dan orang-orang di sekitar mereka pada umumnya.

Santri PDF Ulya Mengikuti Vokasi Pesantrenpreneur Al Fithrah 2022

Sejak bulan Agustus lalu ada kegiatan menarik di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya. Pesantrenpreneur, atau lebih dikenal oleh santri Al Fithrah dengan kegiatan vokasi (program bisnis terapan).

Kegiatan ini diinisiasi oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN).  Walaupun sudah dimulai sejak bulan Agustus 2022, kegiatan vokasi ini baru diresmikan dari pihak BUMN pada tanggal 14 September 2022.

“Kegiatan (vokasi) ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan berwirausaha di pondok pesantren.” terang Bapak Erick Thohir, Menteri BUMN lewat video yang ditampilkan di acara peresmian kegiatan vokasi di Al Fithrah.

Lebih lanjut ia juga menyampaikan, bahwa penyelanggraan kegiatan ini dimaksudkan agar pesantren dapat menjadi mercusuar peradaban. Dan, pusat pemberdayaan muslimpreneur.

Ada tiga pendidik yang sudah lebih dulu mengikuti Training of Trainer Pesantrenpreneur 2022. Dalam training ini, tiga pendidik disiapkan untuk mendampingi santri selama kegiatan vokasi ini berlangsung. Ust. Sudarsono, Ust. Badrul Komar, dan Usth. Lilik Maftuhah, adalah tiga pendidik yang diutus ponpes Al Fithrah untuk mengikuti training ini.

Di ponpes Al Fithrah, kegiatan vokasi ini diikuti oleh santri kelas XII Pendidikan Diniyah Formal (PDF) Ulya Al Fithrah. Tidak semua santri mengikuti kegiatan ini, mengingat keterbatasan pendamping dan memang diutamakan bagi santri yang berminat saja.

Jus buah D’Santri, hasil kegiatan vokasi pesantrenpreneur Al Fithrah 2023

Ada 12 produk dari hasil kegiatan vokasi ini, 9 diantaranya dalah produk makanan dan minuman. Dari produk makanan santri belajar membuat sandwich, seblak kering, kriuk pedas, lumpia ayam, martabak ayam dan sayur, dan pisang coklat. Sementara dari produk minuman santri belajar membuat jus buah, es boba, dan es timun serut.

Selain itu ada tiga produk di luar makanan dan minuman yang juga dibuat oleh santri yang mengikuti kegiatan ini. Sabun cuci piring, buket ulang tahun, wisuda, dan pernikahan, dan figura hantran lamaran dan pernikahan.

Hantaran lamaran, hasil kegiatan vokasi pesantrenpreneur Al Fithrah 2023

Kegiatan vokasi ini tidak berhenti pada bagaimana santri menghasilkan produk. Dalam kegiatan vokasi ini santri juga diberikan pembelajaran mengenai bagaimana mengemas dan memasarkan produk. Termasuk juga menentukan  harga jual produk yang sudah mereka buat.

Selasa, 17 Januari 2023 para santri yang mengikuti kegiatan vokasi ini memamerkan produk-produk yang sudah mereka buat. Berlokasi di auditorium ponpes Al Fithrah, pameran ini dihadiri semua pendidik dan tenaga pendidik PDF Ulya Al Fithrah.

Kepala Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah, Ust. Kunawi juga hadir dalam kegiatan pameran itu. Turut mendampinginya Ust. Nashiruddin selaku Kabag. Pendidikan Al FIthrah dan Ust. Yasin selaku Kabag. Umum dan Administrasi Al Fithrah.

Pameran ini juga dihadiri Mas Iqbal Yanuardi, menantu KH. Achmad Asrori al-Isahaqy – Allahu yarhamuhu -. Didampingi Ust. Kunawi, Mas Yanu ikut melihat produk-produk hasil kreasi para santri yang mengikuti vokasi ini.

Dalam pameran ini pendidik dan tenaga pendidik serta tamu undangan bisa menikmati produk makanan dan minuman yang sudah dibuat oleh santri. Tak hanya itu, bingkisan berupa sabun cuci piring dan buket makanan ringan juga mereka terima ketika meninggalkan lokasi pameran.

Dengan diikuti oleh santri tingkat akhir PDF Ulya ada harapan, jika santri pulang ke rumah, mereka bisa menerapkan apa yang sudah mereka pelajari. Sangat mungkin produk yang mereka buat di luar kegiatan vokasi yang mereka ikuti.

Namun, kemampuan dalam mengemas(packing), menentukan harga (keystone pricing) dan memasarkan produk (marketing), produk tentu akan sangat berguna buat mereka. Apapun produk atau jasa yang akan mereka tawarkan.

Al Fithrah Terima Kunjungan dari Fed Uni dan Unair

Jum’at, 13 Januari 2023 rombongan dari Federation University Australia dan Universitas Airlangga, berkunjung ke Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya. Kunjungan ini dalam rangka melihat pelayanan Pos Kesehatan pesantren (Poskestren) Al Fithrah.

Poskestren Al Fithrah hari ini tidak hanya memberikan pelayanan dasar pada santri dan tenaga pendidik serta kependidikan di lingkungan Al Fithrah. Poskestren Al Fithrah juga memberikan pelayanan kesehatan dasar pada warga di sekitar Al Fithrah.

Keberadaan Poskestren Al Fithrah dan pelayanannya menjadi daya tarik Federation University of Australia dan Universitas Airlangga untuk berkunjung ke Al Fithrah. Rombongan yang ikut serta dalam kunjungan ini terdiri dari 21 mahasiswa dan 3 orang staf.

Rombongan dalam kunjungan ini didampingi Prof. Dr. Mohammad Aziz Rahman, seorang konsultan penelitan kesehatan masyarakat, dan Dr. Biswajit Banik, seorang peneliti kesehatan masyarakat. Keduanya adalah dosen dari Federation University Australia.

Rombongan ini disambut di auditorium Al Fithrah. Mengawali rangkaian acara kunjungan ini, santri husada Al Fithrah menampilkan kasidah. 15 santri husada dan 12 santri program Bahasa Inggris hadir dalam penyambutan ini.

Usai kasidah, sebagaiman lazimnya acara di Al Fithrah, acara inti selalu dibuka dengan berkirim fatihah (tawasul). Pada acara ini Ust. Nasir, kepala bagian Pendidikan Al Fithrah yang membawakannya.

Selanjutnya Ust. Kunawi, kepala Pondok Al Fithrah memberikan sambutan yang diterjemahkan oleh Ust. Yasin, kepala bagian Umum dan Administrasi Al Fithrah yang juga pengajar Bahasa Inggris di PDF Ulya Al Fithrah dan STAI Al Fithrah.

Dalam sambutannya Ust. Kunawi mengucapkan terimakasih dan selamat datang pada para tamu baik dari Federation University Australia maupun Unairdi Al Fithrah. Selanjutnya, Ust Kunawi berharap adanya kunjungan ini membawa hal-hal positif untuk Poskestren Al Fithrah. Khususnya dalam pelayanan dasar kesehatan untuk warga Al Fithrah dan sekitarnya.

Presentasi tentang Poskestren oleh santri Husada dan diskusi terkait pelayanan kesehatan menjadi agenda utama dalam kunjungan ini. Selain mempresentasikan tentan Poskestren, santri Husada juga menampilkan kasidah cuci tangan yang sudah diterjemahkan dalam Bahasa Inggris. Apresiasi yang baik diberikan oleh dosen dari Federation University Australia pada pelayanan Poskestren yang telah dipresentasikan oleh santri Husada. Apresiasi ini tentu harus direspon baik pula dengan meningkatkan pelayanan Kesehatan dasar oleh Poskestren untuk warga Al Fithrah dan sekitarnya.

Liputan: Kajian Al Muntakhobat; Urgensi Guru Mursyid (2)

Nyaris pukul sepuluh waktu Indonesia barat, Kiai Reza baru datang. Ust. Kholis tak langsung mempersilahkan Kiai Reza untuk menyampaikan materi. Ia seperti membiarkan Kiai Reza untuk istirahat sejenak, mengingat telah menempuh perjalanan Kediri-Surabaya.

“Saya sengaja terlambat karena untuk menunjukkan bahwa lelaki sejati adalah yang harus bisa molor” Kata Kiai Reza disambut tawa para peserta, mengawali pembicaraannya. “Mursyid itu syaratnya harus rosyid (mampu menuntun dan membimbing) dan kholis (berhati bersih)” lanjut Kiai Reza memulai bahasannya terkait mursyid. Sementara Ust. Rosyid dan Ust. Kholis yang disampingnya tersenyum nama keduanya disebut.

“Tapi, kalau rosyid dan kholis tanpa ridho dari Allah itu tidak akan mungkin terjadi. Dan ridho itu diucapkan oleh orang Pakistan dengan ucapan Reza,” sambung Kiai Reza disambut gelak tawa perserta kajian. “Narasumber harus menang dari moderator dan pemantiknya” lanjut Kiai Reza.

Mengantar ke pembahasan siapa mursyid dan betapa pentingnyan berguru mursyid dalam kitab al-Muntakhobat, Kiai Reza bercerita tentang pengalamannya membaca teks yang ditulis Kiai Asrori. Teks yang tak disangka olehnya akan menjadi bagian pembuka dari Kitab al-Muntakhobat.

Kiai Reza  sempat menuturkan bahwa ada kesamaan isi di dalam kitab al-Muntkahobat terkait mursyid dengan yang tertuang dalam kitab Haqaaiqu ‘Ani al-Tasawuf.

Masuk dalam kajian teks al-Muntakhobat, Kiai Reza membuka dengan definisi syaikh sebelum ke pembahasan mursyid. Kiai Asrori dalam al-Muntakhabat-nya telah menulis berbagai definisi syaikh.

Setelah pemaparan mengenai syaikh dalam al-Muntakhobat Kiai Reza baru masuk pada pembahasan mengenai “siapakah syaikh yang juga al-murabbi al-mursyid?” dan “sebetapa penting terhubung dengannya”.

Tiga syarat syaikh yang juga al-murabbi al-mursyid. Pertama, mampu memberikan ilmu yang bersumber pada al-Qur’an dan al-Hadits. Kedua, bijaksana, mampu memilah mana hal-hal yang tidak dibutuhkannya. Ketiga, mampu mencerahkan murid dan orang di sekitarnya dengan ucapan, tindakannya

Ketiga syarat di atas, adalah wujud meneladani Rasulullah Saw. Seperti para sahabat yang berguru langsung pada Rasulullah Saw., maka begitu penting bagi kita untuk berguru pada seorang al-murabbi al-mursyid.

Dari al-murabbi al-mursyid kita mendapatkan ilmu yang kita butuhkan sesuai dengan kemampuan dan kapasitas kita. Dengan ilmu-ilmu itu kita tak hanya dituntun melaksanakan syariat, tapi sekaligus mengetahui penyakit hati yang hinggap pada diri kita. Dan, bersamanya kita tersembuhkan, bersih dari penyakit itu.

Pada kajian kali ini sesi tanya jawab ditiadakan karena waktu yang sudah terlkalu larut malam. Kajian ditutup do’a oleh Kiai Reza, dan dilanjutkan dengan penyerahan cinderamata dari panitia untuk Kiai Reza.

Liputan: Kajian Al Muntakhobat; Urgensi Guru Mursyid (1)

Tanggal 20 Desember 2023, telah terlaksana Kajian al-Muntakhobat dengan materi Urgensi Guru Mursyid di Auditorium Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya. Berbeda dengan kajian sebelumnya yang hanya ditangani oleh  Majelis Kebersamaan dalam Kajian dan Pembahasan Ilmiah (MKPI) Al Fithrah. Pada kajian ini MKPI juga menggandeng Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Ma’had ‘Aly Al Fithrah.

Dr. KH. Reza Ahmad Zahid, Lc, M.A, Pengasuh Pondok Pesantren Al Mahrusiyah Lirboyo Kediri, dihadirkan untuk menyampaikan materi Urgensi Guru Mursyid. Materi ini sendiri telah tertuang dalam kitab al-Muntakhobat, kitab yang juga menjadi brand dari kajian yang diusung PJ. Turats, dan dilaksanakan oleh MKPI.

Al-Muntakhobat merupakan kitab yang disusun oleh KH. Achmad Asrori al-Ishaqy – Allahu yarhamuhu –. Terdiri dari lima juz, kitab ini mulanya hanya dua juz. Kitab yang memiliki daftar referensi yang berlimpah ini juga dikaji sehari-sehari di Ma’had ‘Aly Al Fithrah dan STAI Al Fithrah. Dan, juga bagian dari kurikulum di dua Pendidikan tinggi di ponpes Al Fithrah tersebut. 

Dalam kajian ini, Ust. Nur Kholis – yang sebelumnya juga pernah menjadi pemateri dalam kajian ini  – diminta oleh panitia sebagai moderator. Ia merupakan adik kelas Kiai Reza semasa belajar di Ahqaf, Yaman. Ust. H. Abdur Rosyid, selaku ketua PP. ath Thoriqoh Qodiriyah wa Naqsabandiyah dan juga alumni pondok Lirboyo, diminta oleh panitia untuk memantik kajian malam itu.

Jalannya Acara

Lazimnya acara di ponpes Al Fithrah, kajian ini dibuka dengan bacaan Tawasul, Istighosah dan Maulid Fi Hubby. Serampungnya acara pembukaan, Huda Muttaqin selaku ketua penyelenggara kajian ini memberikan sambutan. Dalam sambutannya, ia menyampaikan terimakasih kepada segenap panitia dan pihak-pihak yang mendukung terselenggaranya kajian ini.

Sambutan kedua disampaikan oleh Ust. Ahmad Qunawi, selaku Kepala Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya. Ia mengapresiasi khidmah dan perjuangan para aktivis MKPI Al Fithrah dan BEM Ma’had Aly Al Fithrah dalam menyelenggarakan kegiatan Kajian al-Muntakhobat. Adanya kajian merupakan bentuk melanjutkan ajaran Hadlratusy Syaikh KH. Ahmad Asrori al-Ishaqy, khususnya dalam menggali khazanah tasawuf dalam karya beliau, al-Muntakhobat.

Kajian ini sempat molor dari waktu yang sudah diagendakan. Keterlambatan kedatangan Kiai Reza karena macet menjadi penyebabnya. Meski demikian, Ust. Kholis dan Ust. Rosyid tetap memulai kajian malam itu, sambil menunggu kedatangan Kiai Reza.

Ust. Rosyid memantik kajian itu dengan pernyataan, belakangan term mursyid mengalami pendangkalan definisi. Banyak orang mengetahui mursyid dipahami sebagai orang yang hanya memberikan ijazah. Padahal, jika kita membaca lebih teliti dan mendalam di kitab-kitab tasawuf, kita menjumpai mursyid sebagai manusia yang memiliki keistimewaan. Dan, syarat serta ketentuan seseorang untuk mendapatkan predikat mursyid dalam tarekat sangat berat dan amat banyak.

Dalam pantikannya, Ust. Rosyid juga mengisahkan tentang Kiai Asrori yang menanggung amaliyah wajib yang sudah beliau ijazahkan kepada murid yang telah berbaiat padanya. Jadi, tidak sekedar mengijazahkan, seorang musyid juga mengontrol muridnya apakah sudah mengamalkan ijazah darinya atau tidak.

Mengantar kajian pada malam itu, Ust. Rosyid juga mengenalkan siapa Kiai Reza pada peserta kajian. Sebagian besar peserta mungkin tahu kalau Kiai Reza adalah pengasuh ponpes Al Mahrusiyah, Lirboyo, Kediri. Tapi, barangkali ada juga yang tidak tahu kalau ia juga masih keponakan Kiai Asrori.

Ust. Rosyid  menjuluki Kiai Reza sebagai majma’ul bahrain, tempat berkumpulnya dua lautan. Tak lain sebab Kiai Reza merupakan keturunan dua ulama besar. Dari jalur ayah, beliau masih cucu dari KH. Mahrus Aly sang pakar Fikih, sedang dari jalur ibu beliau cucu dari KH. Muhammad Utsman Al-Ishaqy, Mursyid Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah.

(bersambung)