lajnah falakiyah al fithrah

Hilal Rajab 1445 H. Terlihat di Al FIthrah Surabaya

Rukyatul hilal awal bulan Hijriyah merupakan agenda Lajnah Falakiyah (LF) Al Fithrah Surabaya. Terlebih rukyat awal bulan Ramadhan, Syawal dan Dzulhijjah, selalu dilaksanakan secara rutin tiap tahunnya. LF Al Fithrah yang lahir tahun di awal tahun 2000an, mulai melaksanakan rukyat dengan alat sekedarnya dengan bimbingan Ust. Sulaiman, pengajar Ilmu Falak di ponpes Al Fithrah.

Hadrotusy Syaikh KH. Achmad Asrori al-Ishaqy ra. – pendiri pondok pesantren Assalafi Al Fithrah – punya perhatian khusus pada kegiatan rukyatul hilal. Dalam beberapa kali penentuan awal bulan, beliau menjadikan pertimbangan hasil rukyatul hilal tim LF Al Fithrah dalam memberikan dawuh sudah masuk awal bulan. Seperti awal Syawal tahun 2007 dan Ramadhan 2008.

Di penghujung tahun 2023, LF Al Fithrah menguji coba lokasi rukyat baru. Lokasi dengan koordinat -07° 13′ 25.43” LS, 112° 46′ 08.75” BT. Lokasi yang terletak di lingkungan ponpes Al Fithrah Surabaya, di gedung timur lantai 6. Uji coba pertama dilaksanakan pada rukyatul hilal Jumadil Awal 1445 H. bertepatan tanggal 13 dan 14 November 2023 M. Pada kesempatan tersebut hilal belum berhasil terlihat.

Meskipun belum berhasil terlihat, tapi ada beberapa hal yang didapat dalam rukyatul hilal dua hari itu. Pertama, ufuk (ketinggian 0 derajat) tidak bias terlihat karena banyaknya bangunan di arah barat. Kedua, sampai ketinggian 3 derajat masih banyak tower BTS, tiang listrik dan bangunan yang menjulang. Namun, di atas ketinggian 3 derajat nyaris tidak ada yang mengganggu pandangan di arah barat.

Jum’at, 12 Januari 2024 M. bertepatan dengan 29 Jumadil Akhir 1445 H. LF Al Fithrah kembali melaksanakan rukyatul hilal di gedung timur Al Fithrah. Rukyatul hilal kali ini sangat istimewa, karena dihadiri perukyat generasi pertama. Ust. Abu Sari, Ust. Fathur Rozi, Ust. Fathul Harits, Ust. Abdullah, dan Ust. Agus Saputra menyempatkan waktunya untuk menemai tim LF Al Fithrah hari itu.

Rukyatul hilal baru dimulai jam 17.00 WIB, dengan peralatan satu theodolite dan satu tamaya. Kondisi langit di arah barat cukup cerah waktu itu, meski mendung mulai berjalan dari arah timur. Sempat rintik hujan turun, tapi hanya beberapa tetes. Kondisi hilal di hari itu tinggi 12 derajat dan elongasi 13 derajat.

Rukyat berlangsung hingga pukul 18.30 WIB. Hilal berhasil dilihat lewat bantuan aplikasi stellarium di android untuk menelihat data realtime ketinggian dan azimuth. Setelah itu lensa teodolit diarahkan sesuai azimuth dan ketinggian hilal, fokus lensa diutak-atik. Dan, hilal berhasil terlihat di jam 18.21, di ketinggian 6 derajat dengan azimuth 246 derajat dari arah utara.

Terlihatnya hilal pada rukyatul hilal tentu menjadi pertimbangan tersendiri untuk menjadikan ponpes Al Fithrah sebagai salah satu markaz rukyatul hilal. Ditambah dukungan dari pihak pembangunan Yayasan Al Khidmah Indonesia, yang berencana meninggikan lagi bangunan itu satu lantai. Tentu ini akan sangat mendukung kegiatan rukyatul hilal di bulan dan tahun selanjutnya.

Qath’iy Rukyah: Solusi Menjaga Hitungan Bulan Hijriyah (2)

Qath’iy Rukyat yang dirumuskan Lajnah Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LF PBNU) menjadi jawaban. Mengapa? Dengan berpatokan pada Qath’iy Rukyat Nahdlatul Ulama (QRNU) – kondisi hilal pasti bisa dilihat – dengan elongasi 9,9 derajat, maka bulan Jumadil Akhir tidak harus disempurnakan menjadi 30 hari.

Mengingat dua bulan sebelumnya – Rabi’ut Tsani dan Jumadil Awal 1445 H. – sudah berjumlah 30 hari. Jika mengacu pada hadits Nabi Muhammad Saw. maka jumlah hari bulan setelahnya, Jumadil Akhir 1445 H. harusnya berjumlah 29 hari. Ditambah lagi, berdasarkan data hisab, ijtimak akhir Rajab 1445 H. jatuh pada tanggal 10 Februari 2024 M. jam 5.56 WIB. Dan data hilal pada tanggal 29 Rajab 1445 H., bertepatan dengan Jum’at, tanggal 10 Februari 2024 M. tinggi 06° 33′ 47,54” dan elongasi 08° 00′ 58,08”.

Melihat data hisab tersebut, di tanggal 10 Februari 2024 potensi hilal terlihat sangat tinggi. Selain sudah melewati batas imkan, juga nyaris mendekati batas . Jika mengabaikan QRNU, dan hilal tidak terlihat di tanggal 29 Jumadil Akhir 1445 H./ 12 Januari 2024 M. maka bulan Jumadil Akhir akan diikmalkan (digenapkan) menjadi 30 hari.

Hal ini akan menimbulkan potensi bulan Rajab 1445 H. hanya berumur 28 hari. Mengapa? Karena sesuai dengan data di atas pada tanggal 10 Februari 2024 – yang jika bulan Jumadil Akhir digenapkan – bertepatan dengan tanggal 28 Rajab 1445 H. kondisi hilal sudah masuk kriteria IRNU. Jika hilal terlihat di hari itu, maka bulan Rajab 1445 H. hanya akan berumur 28 hari. Dan, hal ini tentu menyelesihi ketentuan yang ada.

Kondisi seperti ini bisa saja terulang di bulan dan tahun yang selanjutnya. Oleh karena itu, dari kasus seperti ini, QRNU perlu ditetapkan untuk menjaga hitungan bulan Hijriyah. Dengan hadits Nabi Muhammad Saw. sebagai pakem utama, bahwa jumlah hari bulan Hijriyah 30 dan 29 hari.

Qath’iy Rukyah: Solusi Menjaga Hitungan Bulan Hijriyah (1)

Awal bulan Jumadil Akhir 1445 H./ 2023 M. terjadi perbedaan antara tanggal yang sudah tertera di kalender, dengan hasil rukyat Hilal. Menurut hisab (perhitungan) dari beberapa metode, ijtima’ akhir bulan Jumadi Awal 1445 H. jatuh pada tanggal 13 Desember 2023 M. jam 6.32 WIB.

Ketinggian hilal di tanggal 29 Jumadil Awal 1445 H/13 Desember 2023 M. pun sudah masuk kriteria Imkanu Rukyat (kondisi memungkinkan untuk dilihat), dengan tinggi mar’i 04° 54′ 40,57” dan elongasi 07° 31′ 07,17”. Sementara batas minimal Imkanu Rukyat Nahdlatul Ulama’ (IRNU), tinggi 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat.

Namun, dari hasil laporan dari beberapa lajnah falakiyah dan para pelaku rukyat yang melakukan rukyat hilal di berbagai lokasi di tanggal itu, hilal tidak terlihat. Beberapa perukyat mengirimkan foto-foto ufuk barat saat rukyat berlangsung. Dan, di semua foto itu mendung memang terlihat cukup rapat dan tebal di ufuk barat.

Lajnah Falakiyah Al Fithrah bersama santri kelas XII PDF Ulya Al Fithrah Surabaya melakukan rukyat dua kali Rabu-Kamis (13-14/12/2023). Rukyat berlokasi di Wisata Bahari Lamongan. Di dua rukyat itu hilal tidak terlihat. Penyebab utamanya sama dengan di hari pertama, mendung.

Rukyat ke dua itu memang tidak berdampak hukum. Karena di tanggal 14 Desember 2023 M. bulan Jumadil Akhir 1445 H. sudah memasuki 30 hari. Sehingga secara otomatis, 1 Jumadil Akhir 1445 H. jatuh pada tanggal 15 Desember 2023 M. Merujuk Hadits Nabi Muhammad Saw, jumlah hari dalam satu bulan Hijriyah 30 dan 29 hari.

Namun, di kalender 2023 dan 2024 yang dikeluarkan Kementerian Agama Republik Indonesia, dan berbagai kalender yang ada, hari bulan Jumadil Awal 1445 H. hanya 29 dan hari bulan Jumadi Akhir 1445 H. 30. Sementara jika berpedoman pada hasil rukyat, maka di tanggal 30 Jumadil Akhir 1445 H. bertepatan 12 Januari 2024 M. baru masuk tanggal 29.

Mangacu pada tiga metode hisab – irsyad al-murid, tsamarot al-fikar, dan duru al-aniq -, ijtimak akhir bulan Jumadil Akhir 1445 H. jatuh pada hari Kamis 11 Januari 2024 M. jam 18.55 WIB. Sementara data hilal pada tanggal 29 Jumadil Akhir 1445 H. – menurut hasil rukyat bertepatan dengan hari Jum’at, 12 Januari 2024 M. –, ketinggian 12° 27′ 16″, dengan elongasi 13° 57′ 22″. Data ini menunjukkan posisi hilal sudah masuk kriteria IRNU.

Lalu, jika hilal tidak terlihat di tanggal 12 Januari 2024, apakah bulan Jumadil Akhir 1445 H. harus diistikmalkan (disempurnakan 30)?

Halaqah Falakiyah PBNU: Menyikapi Perbedaan Ramadhan dan Dua  Hari Raya

Lajnah Falakiyah Al Fithrah Surabaya mengikuti Halaqah Falakiyah yang di adakan oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Halaqah ini diadakan di Pondok Pesantren Darul Huda Mayak, Ponorogo, Jawa Timur. “Nahdlatul Ulama di Tengah Pusaran Perbedaan Awal Puasa Ramadhan dan Dua Hari Raya”, menjadi tajuk utama dalam halaqah ini.

Halaqah ini merupakan halaqah yang ke dua. Halaqah ini dihadiri langsung oleh Ketua Lajnah Falakiyah PBNU, KH. Sirril Wava. Dalam halaqah ini, beliau menyampaikan dalam beberapa tahun masalah persoalan umat mengenai beda hari Ramadhan dan hari raya tidak kunjung terselesaikan. Padahal konsep-konsep penyatuannya sudah ada.

“Jadi masalahnya memang bukan hanya dari kaedah-kaedah itu, bukan. Tapi karena kita belum siap bersatu, karena itu kan,” kata Kiai Sirril di Pondok Pesantren Darul Huda Mayak, Ponorogo, Jawa Timur. Beliau berharap dengan adanya halaqah seperti ini, suatu saat ada kebersamaan dalam mengawali Ramadhan maupun hari raya.

Halaqah ini diisi dengan banyak kegiatan. Dibuka dengan materi pembuatan aplikasi android perhitungan waktu lima shalat fardhu berdasar kitab Durusu al-Falakiyah. Materi ini diisi oleh LF PWNU Jawa Timur, Ust. Fikri dan Ust. Agus Saputra – yang juga Tim Ahli LF Al Fithrah. Pembuatan aplikasi android ini menggunakan aplikasi Aide. Kegiatan ini diadakan dua sesi pada tanggal 8 Desember 2023.

Kegiatan tanggal 9 Desember diisi dua materi utama; Kalender NU 2024 dan Waktu Fajar. Materi pertama disampaikan oleh KH. Shofiyullah, Ketua LF PWNU Jawa Timur. Dalam materinya Gus Shofi (sapaan akrab beliau) menyampaikan dengan tiga kondisi lokasi hilal; mustahil terlihat, mungkin terlihat dan pasti terlihat.

Materi kedua disampaikan oleh Pak Hendro Setyanto, anggota LF PBNU. Beliau menyampaikan penelitiannya tentang waktu shubuh. Beliau juga menampilkan citra fajar yang berhasil beliau abadikan.

Halaqah yang berlangsung dua hari ini, diikuti oleh pengurus LFNU dan LF pesantren dari berbagai daerah di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Halaqah ini dilaksanakan dua hari, Jum’at-Sabtu (08-09/12/2023).

dfn/dfn
Foto: ByAgus