santri

Kemenag Luncurkan Gerakan Nasional Pesantren Ramah Anak, Target Seluruh Indonesia Tercapai pada 2029

Pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag) terus memperkuat komitmennya dalam menciptakan lingkungan pendidikan Islam yang aman, nyaman, dan bebas dari segala bentuk kekerasan. Komitmen tersebut diwujudkan melalui implementasi Keputusan Menteri Agama (KMA) Nomor 91 Tahun 2025 tentang Pesantren Ramah Anak, yang menjadi landasan utama dalam membangun budaya perlindungan anak di lingkungan pesantren dan madrasah.

Sebagai bentuk penguatan implementasi kebijakan tersebut, Kemenag secara resmi meluncurkan Gerakan Nasional Ruang Aman Nyaman Anak (RANA) beserta aplikasi pendukung dan kanal pengaduan Telepontren. Seluruh program ini diarahkan untuk memastikan setiap santri memperoleh haknya untuk belajar, tumbuh, dan berkembang dalam lingkungan yang aman serta penuh kasih sayang.

Peluncuran Gerakan Nasional RANA dilaksanakan pada Ahad, 12 Juli 2026 secara luring di Pondok Pesantren Al-Hamidiyah, Depok, serta disiarkan secara daring melalui Zoom yang diikuti oleh perwakilan pondok pesantren dan Kantor Kementerian Agama dari seluruh Indonesia. Sebanyak 20 santri Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya mengikuti kegiatan ini via zoom bersama Kepala Pondok, Ust. Nashiruddin, M.Pd dan 3 perwakilan Kementerian Agama Kota Surabaya di Auditorium Al Fithrah Surabaya.

Pesantren Ramah Anak Menjadi Prioritas Nasional

Pondok Pesantren Al-Hamidiyah dipilih sebagai lokasi pencanangan Gerakan Nasional RANA karena dinilai berhasil memadukan sistem pendidikan salafiyah (tradisi kitab kuning) dengan pendekatan pendidikan modern (khalafiyah). Kegiatan ini menjadi agenda nasional yang dihadiri oleh berbagai pejabat tinggi negara, antara lain:

  • Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK)
  • Menteri Agama Republik Indonesia
  • Menteri Komunikasi dan Digital
  • Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak
  • Pejabat Pemerintah Kota Depok
  • Pimpinan lembaga negara dan kementerian terkait

Gerakan ini merupakan bagian dari target besar pemerintah untuk menghadirkan standar Pesantren Ramah Anak di seluruh Indonesia pada tahun 2029. Program tersebut juga disinergikan dengan pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) agar sejak hari pertama memasuki lingkungan pendidikan, anak-anak telah merasakan suasana yang aman, nyaman, dan menghargai martabat mereka.

Menteri Agama: Anak Adalah Amanah yang Harus Dijaga Bersama

Dalam sambutannya, Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, menegaskan bahwa pesantren harus terus menjadi tempat paling aman bagi anak-anak.

“Kenapa aman? Karena aman lahir dari amanah dan iman, sehingga kelak akan melahirkan generasi yang Al-Amin.”

Beliau menjelaskan bahwa pesantren merupakan lembaga pendidikan tertua di Indonesia yang lahir dari rahim masyarakat. Oleh sebab itu, seluruh elemen bangsa memiliki kewajiban untuk terus merawat keberadaan pesantren sebagai pusat pendidikan, pembentukan karakter, dan peradaban.

Menurut Menag, perlindungan anak bukan sekadar kewajiban administratif, melainkan bagian dari implementasi Maqāṣid al-Syarī’ah, khususnya dalam menjaga lima kebutuhan pokok manusia (al-ḍarūriyyāt al-khams), yaitu menjaga agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta.

Ia juga menegaskan bahwa segala bentuk kekerasan, baik fisik, seksual, psikis, maupun bentuk perundungan lainnya, tidak boleh mendapatkan toleransi sedikit pun di lingkungan pendidikan Islam.

Selain itu, Menteri Agama juga memperkenalkan rencana penguatan program Ekoteologi, sebagai bagian dari pembentukan karakter peserta didik yang peduli terhadap sesama dan lingkungan.

Telepontren dan Gerakan RANA Perkuat Perlindungan Santri

Sebagai langkah konkret mewujudkan Pesantren Ramah Anak, Kementerian Agama telah menyiapkan berbagai program strategis, di antaranya:

  • 512 pondok pesantren ditetapkan sebagai percontohan nasional.
  • Pembentukan Satuan Tugas Pencegahan Kekerasan di berbagai daerah.
  • Peluncuran kanal pengaduan Telepontren berbasis WhatsApp yang cepat, aman, mudah diakses, dan menjaga kerahasiaan pelapor.
  • Integrasi program dengan Gerakan Nasional Ruang Aman Nyaman Anak (RANA).

Melalui Gerakan RANA, pemerintah mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menciptakan ruang yang aman bagi anak, baik di rumah, sekolah, pesantren, madrasah, lingkungan sosial, maupun ruang digital.

Anak-anak diharapkan memperoleh perlindungan dari berbagai bentuk kekerasan, meliputi:

  • kekerasan fisik,
  • kekerasan seksual,
  • kekerasan psikis,
  • serta kekerasan di ruang digital.

Apabila masyarakat melihat, mengetahui, atau mengalami tindak kekerasan terhadap anak, pemerintah mengimbau agar segera melaporkannya melalui layanan SAPA 129, sehingga korban dapat memperoleh perlindungan dan pendampingan secara cepat.

Gerakan Nasional RANA juga sejalan dengan pelaksanaan Gerakan Bulan Bersama Lindungi Anak (BERLIAN) yang melibatkan berbagai kementerian dan lembaga. Kolaborasi lintas sektor ini diharapkan mampu membangun budaya perlindungan anak yang semakin kuat di seluruh satuan pendidikan Islam.

Melalui berbagai langkah tersebut, Kementerian Agama berharap pesantren benar-benar menjadi rumah kedua yang aman dan nyaman, tempat para santri tidak hanya memperoleh ilmu pengetahuan dan pendidikan agama, tetapi juga tumbuh dalam lingkungan yang penuh kasih sayang, penghormatan terhadap martabat manusia, serta bebas dari segala bentuk kekerasan.

Dengan target implementasi nasional pada tahun 2029, Pesantren Ramah Anak diharapkan menjadi wajah baru pendidikan Islam Indonesia yang lebih inklusif, humanis, dan mampu melahirkan generasi yang berilmu, berakhlak mulia, serta siap membangun masa depan bangsa.

Workshop Penulisan: Santri Berkarya Indonesia Jaya (2)

“Menulis itu dimulai dari apa yang kita lihat, apa yang kita amati, yang kita dengarkan dan kita alami,” buka Pak Tejo dalam worshop ini. Beliau meyakinkan santri untuk menulis apa saja yang mereka ketahui. Di mulai dari hal-hal sederhana yang mereka ketahui tulisan itu bisa kembangkan menjadi artikel panjang.

Pak Tejo juga menjelaskan cara penulisan artikel yang benar kepada santri. Mulai dari pola penulisan, teknik, hingga tahapan-tahapan penulisan. Beliau juga menerangkan bagaimana cara mengembangkan ide, mengulik sudut pandang yang bisa dituangkan, serta cara menyelesaikannya hingga menjadi artikel.

“Ide adalah letupan nyala api yang harus kita sangkari,” terang Pak Tejo soal Ide. Ide bisa muncul kapan saja dan di mana saja. Tapi ide tak bisa hanya ditunggu kedatangannya. Harus ada upaya untuk memunculkan ide. Dan, yang tidak kalah penting ide harus segera dicatat dan dituangkan.

“Tulis sebanyak-banyaknya, dan buang sebanyak-banyaknya,” kata Pak Tejo mengulang yang pernah disampaikan temannya, Kiai Faizi – ponpes Annuqayah, Guluk-guluk, Sumenep. Pak Tejo menekankan untuk memisah antara kegiatan menulis dengan mengedit. Beliau berpesan agar menuangkan apa saja yang sedang berkecamuk di kepala kita. Baru kemudian merapikannya untuk mengoreksi dan memberi sentuhan akhir.

Pak Tejo menuturkan peluang santri menjadi penulis sangat besar. Santri sudah terbiasa dengan kegiatan mendengar, membaca dan menulis di dalam kelas. Kegiatan ini akan menjadi modal utama bagi santri untuk menulis. Ditambah pemahaman agama dan pengetahuan lainnya seputar pesantren, akan menjadikan karya tulis tidak hanya berkualitas tapi juga punya ciri khas.

Dalam workshop ini, santri mendapat kesempatan untuk menulis ide, judul dan satu paragraf tulisan. Pak Tejo memberikan komentar pada beberapa tulisan yang dihasilkan oleh santri. Menurut beliau, para santri sudah punya cara pengembangan yang bagus dari ide yang mereka tuliskan. Menutup sesi praktik, beliau menyampaikan bahwa soal kemahiran – apapun itu -, tentu butuh banyak sekali percobaan yang berulang-ulang.

Workshop Penulisan: Santri Berkarya Indonesia Jaya (1)

Pendidikan Diniyah Formal Ulya (PDF Ulya) Al Fithrah kembali workshop penulisan (17/01/2023). Workshop ini mengusung tema “Santri Berkarya Indonesia Jaya”. Perwakilan santri kelas XII PDF Ulya menjadi peserta utama dalam workshop ini. Panitia juga mengundang perwakilan dari UKM Senja Institut Al Fithrah dan Komunitas HIKAM Ma’had ‘Aly Al Fithrah.

Workshop ini dibuka langsung oleh Ust. Hermansyah, M.Ag, Kepala PDF Ulya Al Fithrah. Ust. Herman mengucapkan terimakasih dan harapan besarnya pada kegiatan ini. Beliau juga menuturkan bahwa Hadrotusy Syaikh KH. Achmad Asrori al-Ishaqy – pendiri ponpes Al Fithrah – juga menulis, dibuktikan dengan kitab beliau al-Muntakhobat.

“Hadratusy Syaikh adalah teladan terbaik dalam hal ini,” tegas Ust. Herman. Kiai Asrori bahkan sudah mulai menulis sejak usia muda. Dan, al-Muntakhobat adalah karya monumental beliau. Luasnya bacaan Kiai Asrori tertuang dalam al-Muntakhobat. Berbagai pandangan beliau tentang tasawuf tertuang rapi di dalamnya.

Ust. Zidan Syahrul Akbar, S.Ag, didaulat menjadi pengawal workshop ini. Ia memandu mulai dari narsumber menyampaikan materi hingga sesi praktik menulis. Dr. Sutejo, M.Hum, dihadirkan untuk menjadi narasumber dalam workshop kali ini. Beliau dosen aktif STKIP Ponorogo.

Selain aktif sebagai dosen, kiprah beliau dalam dunia literasi sudah dimulai sejak beliau masih muda. Tulisan-tulisan beliau pernah menghuni berbagai media cetak seperti Kompas dan Jawa Pos. Beliau juga menulis banyak buku, dan masih terlibat aktif dalam berbagai kegiatan literasi hingga sekarang.

Sebelumnya, Pak Tejo juga pernah diundang di Al Fithrah tahun 2018 untuk kegiatan yang sama, seminar kepenulisan. Bedanya jika sebelumnya tulisan berjenis fiksi, pada kesempatan ini tulisan non fiksi, karya ilmiyah popular. Hal ini selaras dengan program PDF Ulya Al Fithrah; pembukuan karya tulis santri kelas XII.

Menjadi Santri, Menggali Potensi, Meraih Prestasi

Santri Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya, terus menuai prestasi. Para santri tidak hanya sekedar menjadi partisipan dalam berbagai lomba dan kompetisi, baik yang berkaitan dengan turats ataupun umum, dari tingkat regional hingga nasional.

Meskipun hari-harinya disibukkan dengan mengaji dan wadhifah, para santri tetap bisa menggali dan menyalurkan potensi bakatnya. Para santri bisa mengikuti berbagai ekstrakurikuler yang diselenggarakan di ponpes Al Fithrah.

Ekstrakurikuler yang diadakan, diisi oleh ahli dibidangnya. Sehingga, para santri tidak hanya menyalurkan bakat, tapi juga mengukir prestasi yang membanggakan. Meskipun dengan persiapan yang serba mepet dan terbatas.

Terbaru, santri tingkat PDF Ulya Al Fithrah berhasil meraih juara dalam Kompetisi Nasional

Bahasa Arab & Bahasa Inggris tingkat SMA sederajat. Kompetisi ini diadakan oleh Lembaga Pengembangan Bahasa Universitas Hasyim Asy’ari (Unhasy) Jombang.

14 Santri dari kelas XI dan XII PDF Ulya ikut berpartisipasi dalam kompetisi yang diadakan tanggal 05 Oktober 2023 di Unhasyi. Khitobah, speech, news anchor dan arabic champion adalah kategori kompetisi yang diikuti.

Dari empat kategori itu, dua di antarnya berhasil dimenangkan oleh santri Al Fithrah;

Muhammad Fayrus Zam Zamy (Juara I Khitobah), Yusuf Surya Kusuma (Juara II Khitobah), Muna Izatun Nisa'( Juara I News Anchor), dan Ulya (Juara III News Anchor).

Kemenangan ini tentu diharapkan menularkan semangat ke santri-santri lain. Kemenangan ini juga mengabarkan bahwa para santri dengan segala kesibukan dan keterbatasannya, tetap bisa menorehkan prestasi di bidang yang mereka memiliki potensi.

dfn