Sufi Sejati di Tengah Krisis Keteladanan Ulama

Dalam beberapa tahun terakhir, umat Islam dihadapkan pada fenomena yang cukup memprihatinkan: munculnya figur-figur yang disebut sebagai ulama atau tokoh agama, namun perilaku dan sikapnya justru jauh dari nilai keteladanan. Polemik moral, konflik kepentingan, hingga penyalahgunaan otoritas keagamaan membuat sebagian masyarakat bingung—bahkan kehilangan kepercayaan—terhadap sosok yang seharusnya menjadi panutan.

Kondisi ini memunculkan pertanyaan mendasar: siapakah ulama yang layak dijadikan teladan? Dan lebih jauh lagi, bagaimana Islam—khususnya melalui perspektif tasawuf—memandang hakikat keteladanan itu sendiri?

Artikel ini berupaya menjawab problem tersebut dengan mengulas konsep sufi sejati dalam tradisi Islam. Dengan menekankan keterpaduan antara ilmu, amal, dan keikhlasan, tulisan ini menawarkan kerangka objektif untuk menilai siapa yang pantas dijadikan teladan di tengah krisis figur keagamaan.


Tasawuf dan Ukuran Keteladanan Ulama

Tasawuf bukanlah aliran yang menjauh dari realitas, apalagi membenarkan penyimpangan syariat atas nama spiritualitas. Sebaliknya, tasawuf justru menjadi alat ukur paling jujur dalam menilai keaslian seorang ulama: apakah ilmunya melahirkan amal, dan apakah amalnya dilandasi keikhlasan.

Imam As-Sya‘rani dalam Anwarul Qudsiyah menegaskan:

فإن حقيقة الصوفي هو عالم عمل بعلمه
“Sufi sejati adalah orang berilmu yang mengamalkan ilmunya.”

Definisi ini sangat relevan untuk menjawab problem ulama yang kehilangan keteladanan. Dalam kacamata tasawuf, seseorang tidak cukup disebut alim hanya karena keluasan wawasannya atau kefasihan lisannya. Ilmu yang tidak membentuk akhlak dan perilaku hanyalah beban, bukan cahaya.


Ilmu sebagai Fondasi, Amal sebagai Bukti

Al-Qur’an memberikan posisi istimewa kepada orang-orang berilmu, sebagaimana firman Allah dalam Surah Ali Imran ayat 18:

شَهِدَ اللّٰهُ اَنَّهٗ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۙ وَالْمَلٰۤىِٕكَةُ وَاُولُوا الْعِلْمِ قَاۤىِٕمًا ۢ بِالْقِسْطِۗ

Namun, keutamaan ilmu ini bersyarat: ia harus menegakkan keadilan dan kebenaran. Rasulullah SAW juga menegaskan:

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
“Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim.”

Akan tetapi, tradisi keilmuan Islam sejak awal mengingatkan bahaya ilmu yang terlepas dari amal. Para ulama sering mengungkapkan hikmah:

العلم بلا عمل كالشجر بلا ثمر
“Ilmu tanpa amal ibarat pohon tanpa buah.”

Dalam konteks krisis keteladanan, ungkapan ini sangat tajam. Banyak kegaduhan umat hari ini bersumber dari figur yang memiliki otoritas keilmuan, tetapi tidak mencerminkan nilai ilmunya dalam sikap, keputusan, dan akhlak.


Shidqu Tawajjuh: Inti Tasawuf dan Ukuran Keikhlasan

Imam Ahmad Zarruq menyatakan bahwa ribuan definisi tasawuf pada hakikatnya bermuara pada satu konsep inti, yaitu:

ṣidqu tawajjuh — kesungguhan hati dalam menghadap kepada Allah.

Namun, kesungguhan ini tidak bersifat bebas tanpa batas. Imam Zarruq menegaskan:

صدق التوجه مشروط بكونه من حيث يرضاه الحق تعالى وبما يرضاه
“Kesungguhan menghadap kepada Allah harus dilakukan melalui hal-hal yang diridhai Allah dan dengan cara yang diridhai-Nya.”

Pernyataan ini menjadi kritik halus namun tegas terhadap mereka yang mengklaim keikhlasan, tetapi mengabaikan tuntunan syariat. Dalam tasawuf, keikhlasan bukan klaim batin semata, melainkan buah dari ilmu yang benar dan amal yang lurus.


Sufi Sejati sebagai Jawaban atas Krisis Keteladanan

Dari paparan di atas, jelas bahwa sufi sejati bukanlah sosok yang diukur dari simbol, penampilan, atau pengakuan publik, melainkan dari integritas antara:

  • Ilmu yang membimbing
  • Amal yang konsisten
  • Keikhlasan yang terjaga

Dengan standar ini, tidak semua yang bergelar ulama otomatis layak dijadikan teladan, dan sebaliknya, banyak orang sederhana yang justru lebih dekat pada hakikat kesufian karena ketulusan dan istiqamahnya.

Tasawuf mengajarkan bahwa keteladanan lahir dari perbaikan diri, bukan pencitraan; dari rasa takut kepada Allah, bukan dari ambisi pengaruh. Inilah jawaban mendasar atas kegelisahan umat hari ini.


Kesimpulan

Di tengah maraknya figur keagamaan yang kehilangan wibawa moral, konsep sufi sejati menawarkan kriteria jernih dalam memilih teladan. Islam tidak krisis ulama, tetapi krisis keteladanan yang lahir dari ilmu tanpa amal dan amal tanpa keikhlasan.

Sufi sejati adalah siapa pun yang mengamalkan ilmunya dengan tulus, menjaga integritas batin dan lahir, serta menghadapkan seluruh hidupnya kepada Allah sesuai tuntunan syariat. Dengan kembali pada standar ini, umat dapat membedakan antara figur yang sekadar berbicara tentang agama dan mereka yang benar-benar hidup bersama nilai-nilainya.

Oleh: Erik Zulfa