Telaah

KH Muhammad Utsman Al-Ishaqy: Membumikan Amaliah Tarekat di Tengah Masyarakat

Tarekat sering kali dipahami sebagai jalan spiritual yang hanya cocok bagi orang yang sudah lanjut usia, padahal pengamalan tarekat tidak mengenal batas usia selama seseorang mampu belajar, berzikir, dan memperbaiki akhlaknya dengan istiqamah dan kesungguhan nyata

Pandangan semacam itu justru berusaha dijawab oleh KH Muhammad Utsman Al-Ishaqy, seorang ulama dan mursyid Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah yang dikenal aktif mendekatkan amaliah tarekat kepada kehidupan masyarakat secara sederhana dan nyata.

KH. Muhammad Utsman Al-Ishaqy merupakan ayah dari KH. Ahmad Asrori Al-Ishaqy. KH. Muhammad Utsman Al-Ishaqy lahir di Jatipurwo, Surabaya, pada hari Rabu, bulan Jumadil Akhir 1334 H, sekitar tahun 1916 M.

Mengajak Masyarakat Mengenal Manaqiban Sejak Muda

Di tengah anggapan bahwa tarekat merupakan amalan orang-orang tua, KH Muhammad Utsman Al-Ishaqy justru mengajak para santri dan masyarakat untuk mengenal amaliah zikir, manaqiban, dan majelis keagamaan sejak usia muda dan belia

Manaqiban yang dirintis beliau menjadi salah satu jalan untuk mengenalkan kehidupan spiritual kepada masyarakat melalui suasana majelis yang sederhana, penuh zikir, doa, dan pembacaan kisah para ulama serta orang-orang saleh.

Kegiatan tersebut kemudian berkembang menjadi Majelis Sewelasan, yakni majelis yang dilaksanakan pada malam tanggal sebelas dalam kalender Hijriah dan menjadi salah satu amaliah yang terus dilestarikan oleh murid-murid beliau hingga sekarang dan seterusnya.

Dari kegiatan yang dirintis secara sederhana itu, tradisi manaqiban kemudian tidak hanya berhenti di lingkungan pesantren, tetapi ikut tumbuh di tengah masyarakat dan menjadi bagian dari kehidupan jamaah yang tersebar di berbagai daerah dan kawasan

Merintis Pesantren di Tengah Masyarakat

Dakwah KH Muhammad Utsman Al-Ishaqy tidak hanya dilakukan melalui majelis zikir, tetapi juga diwujudkan dalam pendidikan dan pembinaan masyarakat melalui Pondok Pesantren Darul Ubudiyah Raudlatul Muta’allimin, Jatipurwo, Surabaya dan sekitarnya

Pesantren tersebut dirintis di kawasan Jatipurwo yang pada masa itu dikenal sebagai lingkungan dengan berbagai persoalan sosial, sehingga kehadiran pesantren menjadi bagian dari ikhtiar menghadirkan pendidikan agama secara langsung di tengah kehidupan masyarakat dan keluarga

Sebelum berkembang menjadi pesantren, dakwah beliau berawal dari tempat ibadah sederhana dan pengajian masyarakat yang jumlah jamaahnya masih terbatas, kemudian perlahan berkembang seiring semakin banyak masyarakat yang ingin belajar agama dan mengaji kepada beliau secara istiqamah dan terbuka.

Pada 1957, KH Muhammad Utsman Al-Ishaqy mendirikan Pondok Pesantren Darul Ubudiyah Raudlatul Muta’allimin di Jatipurwo, Semampir, Surabaya sebagai wadah pendidikan dan dakwah yang memadukan pengajaran agama dengan pembinaan akhlak masyarakat dan keluarga.

Dari sinilah terlihat bahwa tarekat yang beliau ajarkan bukan sekadar aktivitas ritual, tetapi juga memiliki hubungan erat dengan pendidikan, akhlak, pengabdian, dan pembinaan kehidupan sosial masyarakat secara menyeluruh dan nyata

Warisan Amaliah yang Terus Mengalir

KH Muhammad Utsman Al-Ishaqy wafat pada Ahad, 8 Januari 1984, bertepatan dengan 5 Rabiuts Tsani 1405 H, dan dimakamkan di kompleks Pondok Pesantren Darul Ubudiyah Raudlatul Muta’allimin, Jatipurwo, Surabaya dengan penuh penghormatan dari keluarga, santri, dan masyarakat.

Namun wafatnya seorang ulama tidak berarti berhentinya dakwah, sebab amaliah yang telah dirintis terus hidup melalui majelis zikir, manaqib, sewelasan, pesantren, serta berbagai kegiatan keagamaan yang diteruskan oleh murid dan generasi sesudahnya hingga masa kini dan seterusnya

Tradisi Haul Akbar yang berkembang dalam jaringan dakwah beliau juga menjadi salah satu bentuk penghormatan sekaligus momentum untuk mengenang jasa, mendoakan para pendahulu, dan menyambung kembali semangat khidmah yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.

Hari ini, ketika haul KH Muhammad Utsman Al-Ishaqy kembali diperingati, masyarakat tidak hanya mengenang sosok seorang kiai dan mursyid, tetapi juga mengingat perjuangan beliau dalam membumikan amaliah tarekat agar dekat dengan masyarakat, mudah diamalkan, dan terus hidup dalam keseharian umat dan bangsa.

Warisan Ilmiah

Di antara warisan penting KH. Muhammad Utsman Al-Ishaqy selanjutnya adalah karya-karya yang menjadi pedoman dalam menghidupkan amaliah tarekat dan membina akhlak para muridnya secara nyata, sederhana, dan bermakna, di antaranya Al-Nuqthah wa al-Bāqiyah al-Ṣāliḥah wa al-‘Āqibah al-Khairah wa al-Khātimah al-Ḥasanah yang membahas rabithah, serta Al-Khulāṣah al-Wafiyyah fī al-Ādāb wa Kaifiyyah al-Dzikr ‘Inda al-Sādah al-Qādiriyyah wa al-Naqsyabandiyyah yang membahas adab dan tata cara zikir bagi pengamal tarekat secara terarah dan terbuka bagi semua kalangan manusia, serta Awn Al-Rafiq fi Syaikh Al-Tarbiyah wa Adab Al-Murid fi Al-Thariq.

Selain itu, terdapat Al-Fatḥ al-Nūriyyah yang memuat berbagai tuntunan amaliah dan wiridan, serta Al-Faiḍ al-Raḥmāni yang berkaitan dengan manaqib dan tradisi majelis tarekat yang beliau hidupkan di tengah masyarakat secara istiqamah dan penuh cinta kepada para ulama. Karya-karya tersebut menunjukkan bahwa dakwah KH. Muhammad Utsman Al-Ishaqy tidak hanya diwariskan melalui pesantren dan majelis, tetapi juga melalui tulisan yang menjadi sarana menjaga ilmu, adab, zikir, dan kesinambungan amaliah dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Di dalam kitab Awn Al-Rafiq fi Syaikh Al-Tarbiyah wa Adab Al-Murid fi Al-Thariq, KH. Muhammad Ustman Al-Ishaqy berkata:

الأُسْتَاذُ مَظْهَرُ سِرِّ الرُّبُوْبِيَّةِ لِمُرِيْدِهِ،  فَعَلَى الْمُرِيْدِ أَنْ يَقِفَ عِنْدَ أَمْرِ أُسْتَاذِهِ، وَأَنْ لَا يَلْتَفِتَ يَمِينًا وَلَا شِمَالًا

“Guru adalah tempat tampaknya rahasia sifat rububiyah (ketuhanan) bagi muridnya. Maka seorang murid hendaknya mengikuti  perintah gurunya, serta tidak menoleh ke kanan maupun ke kiri”

Di kesempatan yang lain beliau mengutip pendapatnya Imam Syaikhul Akbar Muhyiddin Ibnul ‘Arobi berkata:

يَجِبُ عَلَى الشَّيْخِ إِذَا رَأَى شَيْخًا آخَرَ فَوْقَهُ أَنْ يَنْصَحَ نَفْسَهُ، وَيَلْزَمَ خِدْمَةَ ذَلِكَ الشَّيْخِ هُوَ وَتَلَامِذَتُهُ، فَإِنَّهُ صَلَاحٌ وَسَعَادَةٌ فِي حَقِّهِ وَحَقِّ أَصْحَابِهِ. وَمَتَى لَمْ يَفْعَلْ هَذَا، فَلَيْسَ بِمُنْصِفٍ وَنَاصِحِ نَفْسِهِ، وَلَا صَاحِبِ هِمَّةٍ، بَلْ سَاقِطُ الْهِمَّةِ وَضَعِيفُهَا، بَلْ رُبَّمَا يَكُونُ مُحِبًّا لِلرِّيَاسَةِ وَالتَّقَدُّمِ، وَهَذَا فِي طَرِيقِ اللهِ نَقْصٌ، و.

 “Seorang Guru Mursyid ketika melihat Guru Mursyid yang lebih tinggi, maka ia mempunyai kewajiban untuk menasehati kepada jiwanya sendiri dan ia serta muridnya diharuskan berkhidmah kepada Guru Mursyid yang lebih tinggi tersebut. Sebab di dalamnya terdapat ke-maslahatan dan keberuntungan bagi dirinya dan para muridnya. Ketika ia tidak melakukan hal itu, maka ia bukanlah orang yang berlaku adil dan mengharapkan kebaikan pada dirinya serta tidak mempunyai Hhimmah (antusias), akan tetapi ia mempunyai kekurang-an dalam jalan Allah”,

Beliau kembali menegaskan dengan pernyataan Shohibur Roiyah yang  mengisyaratkan beberapa adab yang wajib bagi seorang murid dalam ber-shuhbah kepada Guru Mursyid:

وَلَا تُقَدِّمَنَّ قَبْلَ اعْتِقَادِكَ أَنَّهُ
مُرَبٍّ وَلَا أَوْلَى بِهَا مِنْهُ فِي الْعَصْرِ

فَإِنَّ رَقِيبَ الِالْتِفَاتِ لِغَيْرِهِ
يَقُولُ لِمَحْبُوبِ السَّرَايَةِ: لَا تَسِرْ

“Dan janganlah melangkah sebelum engkau meyakini bahwa ia adalah pendidik dan pembimbing serta figur yang paling unggul pada masanya.

Karena ketika engkau sudah masuk dalam tarbiyahnya dan engkau menoleh pada selainnya, maka terputuslah madad (pertolongan Allah SWT) yang mengalir kepadamu dari Guru Mursyidmu”.

Warisan terbesar beliau bukan sekadar bangunan pesantren atau besarnya sebuah majelis, melainkan tumbuhnya tradisi zikir, manaqib, pendidikan, dan khidmah yang mengajarkan bahwa perjalanan menuju Allah dapat dimulai sejak muda dengan ilmu, adab, istiqamah, dan cinta serta berkhidmah secara sungguh-sungguh kepada para guru serta orang-orang saleh.

Kitab manaqib yang secara lengkap perjalanan dan kisah KH. Muhammad Utsman Al-Ishaqy di antaranya adalah Kitab Sabil Al-Wafi fi Manaqib Sayyidina Asy-Syaikh Muhammad Utsman Al-Ishaqy yang ditulis oleh KH. Abdul Ghofar Umar Menganti Gresik dan diterbitkan oleh Pondok Pesantren Darul Ubudiyah Raudlatul Mutaalimin Jatipurwo Surabaya, dan dibaca dalam Haul Ke-44 KH. Muhammad Utsman Al-Ishaqy pada Kamis, 17 Surabaya 2026 di PPRM Jatipurwo Surabaya.

Dengan demikian, mengenang KH Muhammad Utsman Al-Ishaqy pada momentum haul bukan hanya melihat kembali sejarah masa lalu, tetapi juga menghidupkan kembali semangat untuk meneruskan amaliah, menjaga sanad, memperbaiki akhlak, dan menghadirkan nilai-nilai tarekat di tengah kehidupan masyarakat secara nyata dan bermakna.

Beriman dengan Hebat seperti Sayyidah Khadijah Al-Kubra

Ahad, 26 April 2026 — Suasana pagi di lingkungan pondok pesantren tampak khidmat. Para santri dengan jubah putih telah memenuhi masjid sejak pagi hari. Jamaah dari berbagai daerah, termasuk puluhan rombongan dari Jawa Tengah, sudah hadir bahkan sejak malam sebelumnya. Tim maktab pun telah menyiapkan penginapan guna menyambut kedatangan mereka.

Pada Ahad pagi itu, pondok pesantren menyelenggarakan rangkaian kegiatan Majelis Dzikir, Halal bi Halal, dan Haul Sayyidah Khadijah Al-Kubra. Acara dimulai pukul 07.00 WIB dengan pembacaan tawasul, istighotsah, dan Surat Yasin.

Kegiatan dilanjutkan dengan pembacaan kitab Al-Busyra fi Manaqib Sayyidah Khadijah Al-Kubra karya Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki. Setelah itu, para jamaah bersama-sama melantunkan nasyid, tahlil, serta maulid Adh-Dhiya’ al-Lami’ karya Habib Umar bin Hafidz.

Dalam kesempatan tersebut juga diumumkan beberapa agenda Haul Akbar yang akan diselenggarakan oleh Jamaah Al Khidmah dalam waktu dekat, di antaranya: Haul Akbar Bawean Ahad pagi 7 Mei 2026, Haul Akbar Karimun Jawa pada Sabtu malam Ahad 9 Mei 2026, Haul Akbar Bali pada Ahad pagi 17 Mei, Haul Akbar Lamongan pada Ahad pagi 31 Mei 2026, Haul Akbar Tegal Raya pada Sabtu malam Ahad 23 Mei 2026, dan Haul Akbar Makkah dan Umrah bersama Jamaah Al Khidmah, Ukhsafi Copler Community, Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah dan Keluaga Ndalem pada bulan November 2026.

Mengenal Sayyidah Khadijah Al-Kubra

Khadijah binti Khuwailid adalah sosok wanita agung dalam sejarah Islam. Beliau lahir sekitar tahun 555 M di Makkah, dari keluarga terpandang Quraisy. Ayahnya adalah Khuwailid bin Asad, seorang saudagar terhormat.

Sejak muda, Sayyidah Khadijah dikenal sebagai perempuan yang cerdas, mulia, dan sukses dalam bidang perdagangan. Karena kemuliaannya, beliau mendapat gelar “Ath-Thahirah” (wanita suci).

Kisah pernikahan beliau dengan Nabi Muhammad bermula ketika Sayyidah Khadijah mempercayakan dagangannya kepada Rasulullah muda. Kejujuran dan akhlak beliau membuat Sayyidah Khadijah terkesan, hingga akhirnya beliau mengutus perantara untuk melamar Rasulullah.

Pernikahan ini menjadi salah satu kisah rumah tangga paling mulia dalam Islam. Dari pernikahan tersebut lahirlah keturunan yang penuh keberkahan, termasuk Fatimah az-Zahra.

Sayyidah Khadijah juga adalah orang pertama yang beriman kepada Rasulullah ﷺ. Ketika wahyu pertama turun (QS. Al-Muzzammil dan Al-Muddatstsir), beliaulah yang pertama menenangkan dan menguatkan Rasulullah.

Beliau mendampingi dakwah dengan penuh pengorbanan, baik secara moral maupun materi. Seluruh hartanya digunakan untuk mendukung perjuangan Islam.

Meneladani Keimanan Sayyidah Khadijah

Dalam mauidzah hasanahnya, Habib Musthofa bin Idrus Al-Khirid dari Malang menegaskan bahwa Sayyidah Khadijah adalah teladan utama, khususnya bagi kaum perempuan.

Beliau adalah sosok Istri yang setia dan penuh cinta, Pendamping dakwah yang total, Sosok dengan akal yang sempurna, Wanita yang namanya terukir di hati Rasulullah ﷺ.

Ketika ada yang membandingkan dengan istri lain, Rasulullah tetap memuliakan Khadijah, menunjukkan betapa dalam cinta beliau kepadanya. Rasulullah SAW pernah dawuh:

مَا أَبْدَلَنِي اللَّهُ خَيْراً مِنهَا، لَقَدْ آمَنَت بِي إِذ كَفَرَ النَّاسُ، وَصَدَّقَتْنِي إِذْ كَذَّبَنِي النَّاسُ، وَآوَتِنِي إِذْ رَفَضَنِي النَّاسُ، وَوَاسَتَنِي إِذْ حَرَمَنِي النَّاسُ، وَرَزَقَنِي أَوْلَادَهَا إِذْ حَرَمَنِي أولادَ النِّسَاء

“Allah tidak memberikan ganti kepadaku wanita yang lebih baik darinya.Sungguh, dia beriman kepadaku ketika orang-orang mengingkariku.Ia membenarkanku ketika orang-orang mendustakanku.Ia melindungiku ketika orang-orang menolakku.Ia mengorbankan hartanya untukku ketika orang-orang menghalangiku. Dan Allah memberiku anak darinya ketika aku tidak mendapatkan anak dari wanita-wanita yang lain.”

Ciri-Ciri Orang Beriman

Terkait sifat dan ciri-ciri orang mukmin, Sayyidah Khadijah pernah menyampaikan dawuhnya Rasulullah SAW:

إِنَّ الْمُؤْمِنَ تَرَاهُ قُوَّةً فِي دِيْنِ، وَحَوْماً فِي لِيْنٍ، وَإِيْمَاناً فِي يَقِيْنٍ، وَحِرْصًا فِي عِلْمٍ، وَعِلْماً فِيْ حِلْمٍ، وَشَفَقَةً فِي مَحَبَّة، وَبِرًّا فِي اِسْتِقَامَةً، وَقَصْدًا فٍِي غِنَى، وَتَجَمُّلاً فِي فَاقَة، وَتَحَرَّجاً عَنْ طَمَعٍ ، وَكَسَباً فِي حَلَالٍ، وَنَشَاطًا فِي هُدَى، وَنَهِياً عَنْ شَهْوَةٍ، وَرَحْمَةً لِلْمَجْهُوْدٍ

Sesungguhnya seorang mukmin itu engkau lihat sebagai sosok yang kuat dalam agamanya, teguh namun tetap lembut, beriman dengan mantap, bersemangat dalam mencari ilmu, berilmu dengan kesabaran, penuh kasih dalam cinta, penuh kebaikan dalam istiqamah; sederhana dalam kekayaan, menjaga kehormatan saat kekurangan, menjauhi ketamakan, mencari rezeki dengan yang halal, bersemangat dalam petunjuk, menahan syahwat, dan mengasihi orang yang kelelahan.

إِنَّ المُؤْمِنَ لَا يَظْلِمُ مَن يُبْغِضُ،وَلَا يَأْثَمُ فِيْمَنْ يُحِبُّ، وَلَا يُضَيِّعُ مَا اسْتَودَعَ ، وَلَا يَحْسُدُ وَلَا يَطْعَنُ فِي الزَّلَازِلِ وَقُوْراً، فِي الرَّخَاءِ شَكُوْراً

Sungguh seorang mukmin itu tidak berbuat zalim kepada orang yang dibencinya, tidak berdosa dalam memperlakukan orang yang dicintainya, tidak mengabaikan amanah yang dititipkan kepadanya, tidak dengki, dan tidak mencela.Dalam masa goncangan ia tetap tenang; dalam masa kelapangan ia penuh syukur.”

Seluruh sifat ini tercermin dalam diri Sayyidah Khadijah Al-Kubra.

Pengorbanan Total untuk Dakwah

Sayyidah Khadijah mengorbankan seluruh hartanya demi perjuangan Rasulullah ﷺ. Bahkan disebutkan dalam kisah-kisah manaqib, di akhir hayatnya beliau tidak memiliki apa-apa lagi selain keimanan yang kokoh.

Keteguhan iman inilah yang menjadikan beliau sebagai salah satu wanita terbaik sepanjang masa.

Haul Sayyidah Khadijah Al-Kubra bukan sekadar mengenang sejarah, tetapi menjadi momentum untuk meneladani keimanan, kesetiaan, dan pengorbanannya.

“Sayyidah Khadijah yang sekarang kita hauli, tidak lain tujuannya adalah agar perempuan di lingkungan kita bisa meneladani beliau. (Majlis Haul) Ini adalah jalan untuk mencintai Rasulullah SAW dan keluarga Rasulullah SAW serta para sahabat. Kita berharap Mudah-mudahan perempuan bisa mengikuti jejaknya Sayyidah Khadijah” jelas Habib Musthofa Al-Khirid.

Semoga kita semua diberikan kekuatan untuk meneladani beliau dan mendapatkan keberkahan, serta ditutup hidup dengan husnul khatimah. Aamiin.

14 Kunci Pembuka Rezeki: Rahasia dari Kitab Kayfa Takunu Ghaniyan

Setiap kita adalah ingin dimudahkan urusan urusan rezekinya. Kalau perlu tidak harus usaha ngoyo tapi hasilnya limpah meruah. Apalagi masing-masing kita memiliki amanat dan tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhannya.

Rezeki itu sudah diatur dan dijamin oleh Allah SWT. Tugas manusia adalah berusaha dan beramal, tetapi hasil akhir sepenuhnya diserahkan kepada Allah. Yakin akan jaminan ini akan melahirkan ketenangan hati. Maka niatkanlah mencari rezeki adalah demi kewajiban menafkahi keluarga.

“Sugih iku urusan liyo. seng penting nduwe roso gelemnyambut gawe, didorong minongko njogo awake, melaksanakno amanat kewajibane. Hasil gak hasil, sugih gak sugih, ojok kon urus. Nek sampeyan dadi urusan, akhire sugihne (seng dadi tujuan). Nek pun sugihne (tujuane), niku seng dikuatirno Kanjeng Nabi, ndadekno ngko laline karo Gusti Allah” dawuh KH. Achmad Asrori Al-Ishaqi.

“(tujuan) kaya itu urusan lain. Yang penting memiliki keinginan untuk bekerja, dengan didorong menjaga diri melaksanakan amanat tanggung jawabnya. Hasil atau tidak hasil, kaya atau tidak kaya, jangan jadi urusan. Kalau sampeyan jadikan tujuan, akhirnya kayanya (yang diprioritaskan). Kalau sudah kaya-nya (yang jadi tujuan), itu yang dikhawatirkan Rasulullah SAW menjadikan sebab lupa terhadap Allah subhanahu wa ta’ala” terj.

Berikut kami sampaikan 14 kunci pembuka rezeki yang dirangkum oleh Habib Muhammad bin Alawi bin Umar Alaydrus dalam kitab Kayfa Takunu Ghaniyan. Bukan sekadar teori, tetapi amalan yang telah diamalkan para salaf dan terbukti membawa keberkahan.

Apa saja kunci itu? Berikut penjelasan lengkapnya.

14 Kunci Rezeki dalam Kitab Kayfa Takunu Ghaniyan

Berikut 14 Kunci Pembuka Rezeki yang disebutkan dalam Kitab Kayfa Takunu Ghaniyan:

1. Taqwa dan Istiqamah

Allah berfirman:

وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجۡعَل لَّهُۥ مَخۡرَجٗا وَيَرۡزُقۡهُ مِنۡ حَيۡثُ لَا يَحۡتَسِبُۚ

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (QS. At-Talaq: 2–3)

Taqwa yang disertai istiqamah akan membuka jalan-jalan kemudahan dalam hidup.

2. Bersyukur

Syukur adalah magnet rezeki. Ketika kita mengakui, memuji, dan menggunakan nikmat Allah sesuai tujuan-Nya, maka nikmat itu akan bertambah.

لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ 

“Jika kamu bersyukur, pasti Aku tambah nikmatmu.” (QS. Ibrahim: 7)

3. Membaca Al-Qur’an

Al-Qur’an adalah sumber ketenangan dan kekayaan hati. Dalam sebuah riwayat:

مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ ؛ فَهُوَ غَنِيٌّ، لَا فَقْرَ بَعْدَهُ

“Siapa membaca Al-Qur’an, maka ia menjadi kaya; ia tidak akan fakir setelah itu.”

Surat yang dianjurkan untuk memperluas rezeki antara lain: Al-Waqi’ah, Thaha, Al-Ikhlas, Yasin, Al-Qadr, Al-Insyirah, dan lainnya.

4. Berdzikir kepada Allah

Dzikir adalah sumber ketenangan dan pembuka pintu rezeki. Dzikir La ilaha illallah disebut membuka 99 pintu rezeki.

5. Berdoa

الدُّعَاءُ سِلَاحُ الْمُؤْمِنِ 

“Doa adalah senjata orang mukmin.”

Doa adalah kunci besar pembuka rezeki.

6. Istighfar

فَقُلۡتُ ٱسۡتَغۡفِرُواْ رَبَّكُمۡ إِنَّهُۥ كَانَ غَفَّارٗا. يُرۡسِلِ ٱلسَّمَآءَ عَلَيۡكُم مِّدۡرَارٗا. وَيُمۡدِدۡكُم بِأَمۡوَٰلٖ وَبَنِينَ وَيَجۡعَل لَّكُمۡ جَنَّٰتٖ وَيَجۡعَل لَّكُمۡ أَنۡهَٰرٗا .

maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun-, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai. (Nuh: 10 -12)

Dosa menutup pintu rezeki; istighfar membukanya kembali.

7. Bershalawat

Shalawat mendatangkan rahmat, kemudahan urusan, dan membuka pintu rezeki.

8. Menjaga Shalat

وَأۡمُرۡ أَهۡلَكَ بِٱلصَّلَوٰةِ وَٱصۡطَبِرۡ عَلَيۡهَاۖ لَا نَسۡئلُكَ رِزۡقٗاۖ نَّحۡنُ نَرۡزُقُكَۗ وَٱلۡعَٰقِبَةُ لِلتَّقۡوَىٰ

Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa. (QS. Thaha: 132)

Shalat adalah penghubung dengan Allah dan sumber keberkahan.

Memperhatikan Orang Lain

Dalam memenuhi kebutuhan diri sendiri, kita juga memperhatikan orang lain. Kunci pembuka rezeki bukan hanya sekadar bekerja untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri. Justru, berkah membantu orang lain, menjadi sebab pembuka rezeki bagi diri sendiri.

9. Bersedekah

وَمَآ أَنفَقۡتُم مِّن شَيۡءٖ فَهُوَ يُخۡلِفُهُۥ 

“Apa yang kamu nafkahkan, Allah akan menggantinya.” (QS. Saba: 39)

Sedekah adalah investasi rezeki yang tidak pernah merugi.

10. Menjaga Silaturahim

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ… فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

“Siapa yang ingin dilapangkan rezekinya, sambunglah silaturahim.” (HR. Bukhari Muslim)

Hubungan baik membawa keberkahan hidup.

11. Berbudi Pekerti Luhur

Akhlak baik mendatangkan cinta manusia dan membuka banyak peluang rezeki.

12. Qana’ah

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ، وَرُزِقَ كَفَافًا، وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ

“Sungguh telah beruntung (berjaya) orang yang berislam, dan diberi rezeki sekadar cukup (kafaafan), dan Allah menjadikannya qana’ah (puas) terhadap apa yang diberikan-Nya kepadanya.” Shohih Muslim (Kitab Az-Zakat, Bab: Tentang Kecukupan dan Qana’ah). Nomor Hadis: No. 1054

Qana’ah membuat hati tenang dan hidup berkah.

13. Bersegera Mencari Rezeki di Pagi Hari

بَاكِرُوا طَلَبَ الرِّزْقِ وَالْحَوَائِجِ؛ فَإِنَّ الْغُدُوَّ بَرَكَةٌ وَنَجَاحٌ

“Berpagi-pagianlah kamu dalam mencari rezeki dan hajat (kebutuhan-kebutuhan), karena sesungguhnya pagi itu adalah keberkatan dan kejayaan (kesuksesan).” (HR. Ath-Thabarani)

Pagi adalah waktu rezeki dibagikan.

14. Menjamu Tamu dan Dermawan

“Siapa yang memperbanyak nafkahnya, Allah memperbanyak rezekinya.” (HR. Al-Baihaqi)

Kedermawanan meluaskan rezeki.

Pembuka Rezeki Terbuka Hati

Selain 14 Kunci Pembuka rezeki tersebut, KH. Ahmad Asrori Al-Ishaqy juga mengijazahkan kepada kami bacaan dzikir yang perlu diistikomahkan. Di antaranya adalah membaca doa dzikir tujuh kali setiap pagi dan sore hari agar dicukupkan urusan rezekinya. Berikut redaksinya:

حَسْبِيَ اللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۗ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِࣖ

“Cukuplah Allah bagiku. Tidak ada tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal dan Dia adalah Tuhan pemilik ‘Arasy (singgasana) yang agung.” (QS. At Taubah: 129)

Disamping itu, juga Beliau Kiai Asrori Al-Ishaqy mengijazahkan Sholat Ar-Rizq Al-Midrar agar deras rezekinya. Berikut redaksi sholawatnya:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً تُطِيلُ لَنَا بِهَا الْأَعْمَارَ، وَتُزِيلُ بِهَا عَنَّا جَمِيعَ الْأَسْقَامِ وَالْأَخْطَارِ، وَتُدِرُّ بِهَا عَلَيْنَا الرِّزْقَ الْمِدْرَارَ، وَتَقْضِيَ لَنَا بِهَا جَمِيعَ الْأَوْطَارِ، وَتُشَفِّعْهُ فِينَا عِنْدَكَ فِي دَارِ الدُّنْيَا وَدَارِ الْقَرَارِ، بِرَحْمَتِكَ يَا غَفَّارُ يَا غَفَّارُ يَا قَهَّارُ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ.

“Ya Allah, limpahkanlah salawat kepada junjungan kami Nabi Muhammad —salawat dengannya yang Engkau panjangkan umur kami, dan Engkau hilangkan dengannya dari kami seluruh penyakit dan segala bahaya, dan Engkau alirkan dengannya kepada kami rezeki yang deras, dan Engkau tunaikan dengannya seluruh hajat kami, dan Engkau jadikan beliau memberi syafaat bagi kami di sisi-Mu, di dunia dan di negeri akhir (akhirat). Dengan rahmat-Mu, wahai Maha Pengampun, wahai Maha Pengampun, wahai Maha Perkasa. Serta limpahkanlah salawat dan salam atas keluarga dan para sahabat beliau.”

Rezeki bukan hanya soal bekerja keras, tetapi tentang kedekatan dengan Allah dan akhlak terhadap sesama. Jika 14 amalan ini diamalkan dengan ikhlas, insyaaAllah pintu-pintu rezeki akan terbuka luas. Semoga, bukan hanya rezekinya aja yang dimudahkan, terbukanya hati juga.

Amanah di Era Digital: Menjaga Integritas di Tengah Kemudahan Teknologi

Di era serba cepat dan serba digital ini, kemudahan akses informasi sering kali membuat kita tergoda untuk mengambil jalan pintas. Menyalin tugas dari internet, mengambil tulisan orang tanpa mencantumkan sumber, atau memakai fasilitas kantor untuk kepentingan pribadi—semua itu terlihat sepele, namun sebenarnya menjadi ujian besar bagi amanah dan integritas kita.

Teknologi memang seperti pisau bermata dua. Ia memudahkan proses belajar, bekerja, dan berkomunikasi. Namun, pada saat yang sama, teknologi juga membuka peluang besar bagi seseorang untuk mengabaikan nilai-nilai kejujuran tanpa ada yang mengetahuinya.

Amanah: Nilai Lama yang Tetap Relevan

Konsep amanah bukanlah hal baru. Ia merupakan nilai dasar dalam ajaran agama dan menjadi pondasi bagi perilaku manusia. Allah SWT berfirman:

اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُكُمْ اَنْ تُؤَدُّوا الْاَمٰنٰتِ اِلٰٓى اَهْلِهَاۙ وَاِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ اَنْ تَحْكُمُوْا بِالْعَدْلِۗ اِنَّ اللّٰهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهٖۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ سَمِيْعًا ۢ بَصِيْرًا ۝٥٨

 “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia, hendaklah kamu menetapkan dengan adil…”(QS. An-Nisa: 58)

Rasulullah SAW juga menegaskan pentingnya amanah sebagai bagian dari iman:

لَا إِيمَانَ لِمَنْ لَا أَمَانَةَ لَهُ، وَلَا دِينَ لِمَنْ لَا عَهْدَ لَهُ

“Tidak ada iman bagi orang yang tidak amanah, dan tidak ada agama bagi orang yang tidak menepati janji.” (HR. Ahmad No. 12567)

Nilai amanah bukan hanya soal menjaga titipan atau mengembalikan barang. Ia juga mencakup kejujuran dalam hal-hal kecil sehari-hari: cara kita belajar, bekerja, berkomunikasi, bahkan bersikap di media sosial.

Integritas: Tetap Lurus Meski Tidak Ada yang Melihat

Di zaman digital ini, ujian amanah justru muncul dalam bentuk yang lebih halus. Misalnya:

  • Menggunakan AI untuk mengerjakan tugas tanpa belajar terlebih dahulu.
  • Mengedit laporan agar terlihat lebih sempurna dari kenyataan.
  • Mengambil materi dari internet tanpa menyebutkan sumber.

Tidak ada yang melihat, tetapi hati kita sendiri mengetahui apa yang kita lakukan.

Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menggambarkan amanah sebagai tanda kedewasaan akal dan keimanan.

وَمِنْ كَمَالِ الدِّينِ وَعَقْلِ الْمَرْءِ حِفْظُهُ لِلْأَمَانَةِ، فَإِنَّ الْأَمَانَةَ أَصْلٌ مِنْ أُصُولِ الْأَخْلَاقِ، وَلَا يَسْتَقِيمُ سُلُوكُ الْعَبْدِ إِلَّا بِهَا

“Termasuk kesempurnaan agama dan akal seseorang adalah menjaga amanah. Sebab amanah merupakan salah satu pokok dari akhlak mulia, dan perjalanan seorang hamba menuju kebaikan tidak akan lurus tanpanya.” Ihya’ Ulumuddin, Kitab Riyādhah al-Nafs wa Tahdzīb al-Akhlaq, Juz 3.

Jika dulu amanah diuji lewat harta atau tanggung jawab sosial, kini amanah diuji lewat klik, login, dan unggahan. Di balik layar ponsel, sebenarnya tersimpan ujian hati yang lebih besar.

Memulai dari Hal-Hal Kecil

Menjadi pribadi yang amanah tidak perlu menunggu posisi besar atau tanggung jawab besar. Ia dimulai dari hal-hal sederhana:

  • Siswa yang tetap jujur meski nilainya tidak sempurna.
  • Guru yang menyiapkan materi sendiri meski butuh waktu lebih lama.
  • Pegawai yang bekerja dengan sungguh-sungguh meski tidak selalu dipantau.

Integritas dibangun sedikit demi sedikit, hingga akhirnya menjadi karakter yang kuat. Karena ketika kepercayaan sudah hilang, memulihkannya sangatlah sulit.

Amanah bukan berarti tidak pernah salah, tetapi kemampuan untuk memperbaiki diri setiap kali tergoda untuk curang. Di situlah nilai sejati seseorang dinilai—bukan dari gelar, jabatan, atau pencapaian, melainkan dari kejujuran yang ia jaga.

Penutup: Amanah Bukan Slogan, Melainkan Gaya Hidup

Teknologi akan terus berkembang. Godaannya pun akan semakin besar. Namun nilai-nilai seperti amanah dan integritas tidak akan pernah ketinggalan zaman. Keduanya harus berjalan seiring: tanpa integritas, amanah bisa hilang; tanpa amanah, integritas hanyalah slogan.

Mulailah dari diri sendiri. Jadilah pelajar, guru, atau pegawai yang tetap menjaga kejujuran di tengah derasnya arus kemudahan teknologi. Karena di era digital ini, manusia bukan dinilai dari seberapa cepat ia menggulir layar, tetapi seberapa kuat ia menjaga hatinya agar tetap lurus.

Oleh: Habibul Mabrur Al-Jalali

Allah Ridha dengan Taubat Hamba-Nya

Jangan Menunda untuk Kembali

Sering kali kita merasa langkah kita sudah terlalu jauh, noda dosa terlalu menumpuk, hingga muncul bisikan putus asa: “Apakah mungkin Allah masih mau menerima taubatku? Bagaimana jika aku kembali jatuh dalam dosa setelah bertaubat? Apakah taubatku masih berarti?” Pertanyaan-pertanyaan semacam itu kerap membuat kita menunda untuk kembali kepada Allah, bahkan ada yang akhirnya larut dalam keputusasaan.

Padahal, dalam kondisi hati yang gundah itu, sebaiknya kita kembali merenungi sabda Nabi Saw. yang diriwayatkan Imam Muslim no. 2675. Rasulullah Saw. bersabda:

لَلَّهُ أَشَدُّ فَرَحًا بِتَوْبَةِ أَحَدِكُمْ، مِنْ أَحَدِكُمْ بِضَالَّتِهِ، إِذَا وَجَدَهَا

“Sungguh, Allah lebih gembira dengan taubat salah seorang di antara kalian, daripada kegembiraan seseorang yang menemukan kembali barangnya yang hilang.” (HR. Muslim)

Kisah Musafir dan Unta yang Hilang

Dalam riwayat lain yang terdapat redaksi hadits di atas, Rasulullah Saw. menceritakan kisah seorang musafir yang kehilangan untanya di tengah padang pasir. Pada unta itu terdapat bekal makanan dan minuman, satu-satunya sumber kehidupan baginya. Ia pun berusaha mencarinya ke segala arah, namun tidak juga menemukannya. Lelah, lapar, haus, dan putus asa menyelimuti dirinya. Ia pun berbaring di bawah sebuah pohon, pasrah menunggu ajal.

Namun, saat ia terbangun, tiba-tiba unta itu telah berdiri di hadapannya. Betapa kaget dan bahagianya ia! Saking gembiranya, ia sampai salah ucap, “Ya Allah, Engkau hambaku, dan aku Tuhan-Mu.” (padahal ia ingin mengatakan sebaliknya). Itu semua karena kebahagiaan yang begitu meluap-luap.

Dalam riwayat ini, Rasulullah Saw. menegaskan, kebahagiaan Allah menerima taubat hamba-Nya jauh lebih besar daripada kebahagiaan musafir yang menemukan kembali unta dan kehidupannya.

Pandangan Ulama tentang Taubat

Ibn al-Qayyim ra. (Madarij al-Salikin (1/274) menjelaskan:

فالتوبة هي بداية العبد ونهايته، وحاجتُه إليها في النهاية ضرورية، كما حاجتُه إليها في البداية كذلك.

Taubat adalah permulaan seorang hamba sekaligus akhirnya. Kebutuhan hamba terhadap taubat di akhir hayatnya adalah suatu keniscayaan, sebagaimana kebutuhannya terhadap taubat di awal perjalanannya.

Kemudian beliau mengutip firman Allah Ta‘ala:

وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Bertaubatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.” (QS. Al-Nur: 31)

Ayat ini terdapat dalam surah Madaniyyah, di mana Allah memerintahkan orang-orang beriman—yang sudah berjuang dengan iman, kesabaran, hijrah, dan jihad—untuk tetap bertaubat kepada-Nya. Allah bahkan menggantungkan keberuntungan (al-falaah) dengan taubat, sebagaimana akibat yang pasti mengikuti sebabnya. Penggunaan kata “la‘alla” dalam ayat ini memberi isyarat bahwa keberhasilan dan kemenangan hanya bisa diharapkan oleh mereka yang bertaubat.

Maka, jelaslah bahwa taubat adalah awal sekaligus akhir perjalanan seorang hamba, dan kebutuhannya terhadap taubat tidak pernah berhenti sampai ajal menjemput.

Hikmah yang Bisa Dipetik

Dari telaah hadits di atas bisa disimpulakan beberapa hikmah yang bisa kita ambil, di antaranya:

  • Allah membuka pintu taubat seluas-luasnya. Selama ruh belum sampai di tenggorokan, kesempatan untuk kembali kepada-Nya masih ada.
  • Jangan menunda taubat. Menunda hanya memperbesar peluang kita kembali hanyut dalam dosa dan kehilangan kesempatan.
  • Taubat butuh tekad. Niat yang tulus untuk meninggalkan dosa, disertai usaha untuk tidak mengulanginya, adalah syarat diterimanya taubat.
  • Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Rasa ridha dan bahagia-Nya atas taubat hamba adalah tanda kasih sayang yang tiada tara.

Penutup

Maka, jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah. Betapapun besar dosa kita, ampunan Allah jauh lebih besar. Sebagaimana firman-Nya:

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap dirinya sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Zumar: 53) Semoga Allah menerima setiap taubat kita, menyucikan hati kita, dan menjaga kita dari perbuatan maksiat. Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.