Kajian

Bersholawat Mengharapkan Rezeki

Mencari nafkah adalah bagian dari ibadah panjang manusia. Ia tidak kalah pentingnya dengan sholat, puasa dan bentuk-bentuk penghambaan lainnya. Ibadah yang panjang, sebab pelaksanaannya adalah selama hayat masih dikandung badan.

Memberi nafkah kepada keluarga adalah wajib bagi seorang ayah sebagai kepala keluarga. Terpenuhinya rezeki adalah bagian dari kebutuhan pokok yang harus dicukupi setiap harinya.

Terdapat banyak ayat dan hadits yang memerintahkan kita untuk menggapai rezeki-Nya yang telah ditebar di muka bumi. Tugas kita adalah berikhtiyar mendapatkannya, serta bertawakal untuk mendapat rezeki yang halalan lagi thoyiban.

Ibadah Bermotivasikan Rezeki

Di sebuah kelas ada seorang santri yang bertanya: “Wahai guru, bukankah ibadah itu seharusnya adalah dilakukan secara ikhlas. Tapi kenapa justru ketika dalam sholat pun, kita memohon kemudahan rezeki. Warzuqnii, ketika duduk di antara dua sujud misalnya”

Sang guru tersentak sejenak dengan pertanyaan muridnya. Ia membenarkan bahwa berharap imbalan tidak dianjurkan. Ia juga menegaskan bahwa memohon kelancaran rezeki, kesehatan, atau urusan duniawi kepada Allah SWT setelah menunaikan ibadah sangat dianjurkan.

Allah SWT menyukai hambanya yang mau berdoa memohon kepada-Nya. Secara jelas di dalam surat Al-Fatihah dikatakan: “Hanya kepada-Mu lah kami menyembah dan hanya kepada-Mu lah kami meminta pertolongan” (QS. Al Fatihah ayat 5).

Allah SWT berjanji akan mengabulkan doa hamba-Nya yang memohon kebaikan di dunia maupun di akhirat. Bahkan ada juga beberapa ibadah yang pernah dipraktikkan dan diajarkan oleh Rasulullah SAW yang tujuannya ‘menarik rezeki’.

Sholat Hajat, Sholat Dhuha, Membaca Waqi’ah, Beristighfar, dan lain sebagainya. Mengharapkan rezeki dari amalan-amalan ini sama artinya dengan meyakini janji Allah SWT. Dalam Alquran disebutkan:

قُلْتُ اسْتَغْفِرُوْا رَبَّكُمْ اِنَّهٗ كَانَ غَفَّارًاۙ   ۝١٠ يُّرْسِلِ السَّمَاۤءَ عَلَيْكُمْ مِّدْرَارًاۙ ۝١١

Lalu, aku berkata (kepada mereka), “Mohonlah ampun kepada Tuhanmu. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun. (QS. Nuh · Ayat 10) (Jika kamu memohon ampun,) niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu, (QS. Nuh · Ayat 11)

Allah SWT memerintahkan kita untuk beribadah. Menghambakan diri kepada-Nya. Dalam ke-sah-an pelaksanakannya, tidak ada kewajiban untuk ikhlas dalam melaksanakannya. Untuk keperluan kelancaran rezeki disunahkan untuk Sholat Liqadail Hajat dan Sholat Duha.

Para ulama menjelaskan bahwa derajat ibadah tertinggi adalah ikhlas, yakni beribadah murni karena cinta dan untuk mencari rida Allah SWT. Menjadikan rezeki sebagai motivasi pendorong semangat beribadah itu dibolehkan, tetapi tujuan utama ibadah haruslah tetap untuk mengabdi kepada-Nya.

Dalam pengajiannya, Hadratusy Syaikh bahwa yang penting jangan terang-terangan melaksanakan sholat, baca Alquran dan baca Sholawat dengan niat agar dimudahkan rezekinya. Tetap dengan niat lillahi ta’ala.

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَّحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ﴾ [ طه: 132]

Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa. [TaHa: 132]

Sholawat Agar Rezeki Deras

Sholawat memiliki akar kata yang sama dengan sholat. Sholat sendiri mempunyai arti doa secara bahasa. Artinya, orang yang sedang sholat ataupun bersholawat, sama halnya sedang berdoa.

Dalam kebanyakan shighot redaksi sholawat yang banyak dibaca, isinya adalah permohonan kepada Allah SWT untuk memberikan rahmat kepada Rasulullah SAW.

Di antara shighot sholawat yang berlaku di kalangan ulama salafus shalih adalah Sholawat Ar-Rizq al-Midrar. Redaksi Sholawat Ar-Rizq Al-Midrar ini tercatat dan terbukukan dalam Kitab An-Nafahat fi Maa Yata’allaqu bi al-Tarawih wa al-Witr wa al-Tasbih wa al-Hajat yang diterbitkan oleh Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya. Tepatnya di halaman 61.

Hadratusy Syaikh KH. Ahmad Asrori Al-Ishaqy mengijazahkan sholawat ini disamping ijazah bacaan Yasin fadhilah dan Waqi’ah fadhilah, serta hasbiyallah.

“Lajeng, Ten mriki Kulo nambahi maleh nopo ijazah sholawat. Seng Endi ijazah sholawat niku kanggo nopo rizkine Ben deres. (terj: Kemudian, di sini Saya menambahkan ijazah sholawat. Yang mana bacaan sholawat ini bertujuan agar rezekinya deras)” kata beliau.

Jamaah seketika berseru amin setelah Hadratusy Syaikh KH. Ahmad Asrori memberikan ijazah ini.

“Coba sampeyan, Kulo ngongkon Ten sampeyan. ‘Sampeyan waos nggih Niki ngken ndalu, insya Allah sampeyan mlebu suwargo’. Paling, mbenjeng mawon Yai. “Rizkine”, “nggih”. Wong Panceng sampeyan njaluk seng lang nyoto ngeten”.

(terj: Coba, kalau Saya memerintahkan kalian semua. ‘Anda nanti baca ini nanti malam ya, insya Allah masuk surga’. Paling ‘besok saja Yai’ (jawabannya)”. “Rezekinya (supaya lancar)”, “yaa”. Memang kalian ini sukanya yang langsung nyata” kata Hasratusy Syaikh dengan sesekali bercanda.

Berikut redaksi Sholawat Ar-Rizq al-Midrar tersebut:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً تُطِيلُ لَنَا بِهَا الْأَعْمَارَ وَتُزِيلُ بِهَا عَنَّا جَمِيعَ الْأَسْقَامِ وَالْأَخْطَارِ وَتُدِرُّ بِهَا عَلَيْنَا الرِّزْقَ الْمِدْرَارَ وَتَقْضِي لَنَا بِهَا جَمِيعَ الْأَوْطَارِ وَتُشَفِّعْهُ فِيْنَا عِنْدَكَ فِي دَارِ الدُّنْيَا وَدَارِ الْقَرَارِ بِرَحْمَتِكَ يَا غَفَّارُ يَا قَهَّارُ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ.
Allohumma Sholli ‘Ala Sayyidina Muhammadin Sholatan Tuthilu Lana Bihal A’mar Wa Tuzilu Biha ‘Anna Jami’al Asqom Wal Akhthor Wa Tudirru Biha ‘Alainar-Rizqol Midror Wa Taqdi Lana Biha Jami’al Author Wa Tusyaffi’hu fina ‘Indaka Fi Darid-Dunya Wa Daril Qoror Birohmatika Ya Goffar Ya Qohhar Wa ‘Ala Alihi Wa Shahbihi Wa Sallim
Artinya :
“Ya Alloh, limpahkanlah tambahan Rahmat dan keselamatan atas junjungan kami Nabi Muhammad Saw, keluarga dan para sahabatnya yang mana dengan limpahan Rahmat itu, Engkau memanjangkan Umur kami, Engkau menghilangkan segala penyakit dari diri kami, Engkau mengucurkan rezeki yang melimpah kepada kami, Engkau mengabulkan kebutuhan kami, Engkau memberikan Syafa’at di Dunia dan Akhirat kepada kami, wahai Zat yang Maha Pengampun lagi Maha Perkasa.”

Mengharap Dunia dengan Amal akhirat

Beliau Hadratusy Syaikh KH. Ahmad Asrori Al-Ishaqy menegaskan bahwa jika ada urusan duniawi yang diperoleh dengan menggunakan amal akhirat (dengan perantara membaca ayat-ayat atau surat tertentu dari Al-Quran, misalnya), itu pada hakikatnya bukan untuk memenuhi urusan duniawi secara murni.

Artinya, amal ibadah dan bacaan-bacaan doa yang dilaksanakan adalah bentuk tawakal. Sementara ikhtiyarnya adalah dengan melakukan pekerjaan-pekerjaan secara profesional.

Tidak bisa dipungkiri bahwa sebagai manusia sekaligus hamba, kita membutuhkan rezeki untuk kuat mendirikan ibadah dan memenuhi kebutuhan dunianya.

Rasulullah SAW sendiri secara umum mendoakan:

اَللَّهُمَّ اجْعَلْ رِزْقَ آلِ مُحَمَّدٍ قُوْتًا

“Ya Allah jadikanlah Rezeki keluarga Muhammad (seluruh umat yang beriman kepada Rasulullah SAW) berkecukupan.” (Al -Bukhari 4/222), Muslim 3/103, 8/217).

Mengakhiri tulisan ini. Jika ada yang mengadu ‘Saya sudah amalkan ini, baca ini, baca itu, tapi begini-begini aja’, maka kita perlu kita perlu luruskan bahwa rezeki itu terdiri dari dua macam. Ada rezeki dohir yang kelihatan mata dan ada rezeki bathin yang tidak nampak oleh mata.

Rezeki dohir berupa terpenuhinya kebutuhan duniawi dan rezeki yang batin berupa menerimanya hati terhadap keadaan yang menimpa. “Seng jeneng wong sugeh niku nopo? Wong seng atine nerimo” (Yang dinamakan kaya itu apa? Orang yang hatinya mudah menerima) dawuh Hadratusy Syaikh.

اَللَّهُمَّ اجْعَلْ رِزْقَنَا فِيْ هَذِهِ الدُّنْيَا قُوْتًا وَكَفَافًا

Ya Allah jadikanlah Rezeki kami di dunia ini sebagai kekuatan (melaksanakan ibadah) dan mencukupi kebutuhan. Aamiiin.

Oleh: Muhammad Zakki

Kemuliaan dan Keutamaan Akal dalam Islam Menurut Imam Al-Mawardi dan Imam Al-Ghazali

Majlis Dzikir, Maulidurrasul SAW dan Pengajian Ahad Kedua Bulan Muharram 1448 H telah usai diselenggarakan di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya pada Ahad pagi, 28 Juni 2026 M. / 13 Muharram 1448 H. Dalam majlis itu dibacakan Kitab Al-Muntakhobat fi Rabithah Al-Qolbiyah wa Shilah Al-Ruhiyah Karya Hadratusy Syaikh KH. Ahmad Asrori Al-Ishaqy, tepatnya pada jilid dua bab kemuliaan dan keutaman akal.

Akal merupakan salah satu nikmat terbesar yang Allah Ta’ala anugerahkan kepada manusia. Dengannya manusia mampu membedakan antara yang benar dan yang batil, mengenal Rabb-nya, memahami syariat, serta menjalani kehidupan dengan penuh hikmah. Oleh karena itu, para ulama menempatkan akal sebagai pondasi ilmu, sumber adab, dan sebab sempurnanya taklif (beban syariat).

Dalam khazanah Islam, banyak ulama yang menjelaskan kedudukan akal, di antaranya Sayyiduna Imam Abul Hasan Al-Mawardi dan Imam Hujjatul Islam Al-Ghazali. Penjelasan mereka menunjukkan bahwa akal bukan sekadar kecerdasan berpikir, tetapi juga sarana menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.

Kemuliaan Akal sebagai Dasar Agama dan Kehidupan

Sayyiduna Imam Abul Hasan Al-Mawardi menjelaskan bahwa seluruh keutamaan memiliki dasar, dan seluruh adab mempunyai sumber. Dasar tersebut adalah akal yang Allah jadikan sebagai pondasi agama sekaligus pilar kehidupan dunia.

Beliau berkata bahwa Allah mengaitkan kewajiban syariat dengan kesempurnaan akal. Dengan akal pula manusia mampu menjalankan hukum-hukum Allah serta hidup berdampingan meskipun memiliki keinginan, kebutuhan, dan tujuan yang berbeda-beda.

Hal ini menunjukkan bahwa akal merupakan amanah yang harus dijaga. Semakin baik seseorang menggunakan akalnya untuk menaati Allah, semakin tinggi pula derajatnya di sisi-Nya.

Akal adalah Sumber Ilmu Menurut Imam Al-Ghazali

Imam Hujjatul Islam Al-Ghazali raḥimahullāh menjelaskan hubungan yang sangat erat antara akal dan ilmu.

وَقَالَ سَيِّدُنَا الْإِمَامُ الْحُجَّةُ الْغَزَالِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ: «الْعَقْلُ: مَنْبَعُ الْعِلْمِ وَمَطْلَعُهُ وَأَسَاسُهُ، وَالْعِلْمُ يَجْرِي مِنْهُ مَجْرَى الثَّمَرَةِ مِنَ الشَّجَرَةِ، وَالنُّورِ مِنَ الشَّمْسِ، وَالرُّؤْيَةِ مِنَ الْعَيْنِ، فَكَيْفَ لَا يَشْرُفُ مَا هُوَ وَسِيلَةُ السَّعَادَةِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ؟ …»

Artinya:

“Akal adalah sumber ilmu, tempat terbitnya ilmu, dan fondasinya. Ilmu berasal dari akal sebagaimana buah berasal dari pohon, cahaya berasal dari matahari, dan penglihatan berasal dari mata. Maka, bagaimana mungkin sesuatu yang menjadi sarana menuju kebahagiaan di dunia dan di akhirat tidak memiliki kemuliaan?”

Melalui penjelasan ini, Imam Al-Ghazali memberikan tiga perumpamaan yang sangat indah mengenai hubungan akal dan ilmu.

  • Ilmu berasal dari akal sebagaimana buah berasal dari pohon. Pohon menjadi sebab lahirnya buah.
  • Ilmu berasal dari akal sebagaimana cahaya berasal dari matahari. Cahaya tidak akan ada tanpa sumbernya.
  • Ilmu berasal dari akal sebagaimana penglihatan berasal dari mata. Mata menjadi alat yang memungkinkan seseorang melihat.

Karena ilmu merupakan jalan menuju kebahagiaan dunia dan akhirat, maka akal sebagai fondasi ilmu memiliki kedudukan yang sangat mulia. Akal hendaknya digunakan untuk mengenal Allah, mencari kebenaran, memahami syariat, serta mengamalkan ilmu dengan penuh keikhlasan.

Tanda-Tanda Orang yang Berakal dalam Islam

Kemuliaan akal tidak hanya diukur dari kecerdasan berpikir, tetapi juga tercermin dalam kemampuan mengendalikan diri dan memperbaiki akhlak.

Dalam Al-Ḥikam aṣ-Ṣughrā al-‘Aṭā’iyyah disebutkan:

يُعْرَفُ الْعَاقِلُ بِثَلَاثٍ: بِمَلَكَتِهِ نَفْسَهُ عِنْدَ الشَّهْوَةِ، وَبِمَلَكَتِهِ لَهَا عِنْدَ الْغَضَبِ، وَبِتَرْكِهِ مَا لَا يَعْنِيهِ مَعَ الْقُدْرَةِ عَلَى الدُّخُولِ فِيهِ.

Artinya:

“Seseorang yang berakal dikenali dari tiga perkara: kemampuannya menguasai dirinya ketika dorongan syahwat muncul, kemampuannya mengendalikan dirinya ketika sedang marah, dan kesediaannya meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat baginya, padahal ia mampu untuk turut campur di dalamnya.”

Selain itu disebutkan pula sepuluh tanda kesempurnaan akal.

عَلَامَةُ الْعَقْلِ عَشْرٌ، خَمْسَةٌ مِنْهَا فِي الظَّاهِرِ، وَخَمْسَةٌ مِنْهَا فِي الْبَاطِنِ. أَمَّا الظَّاهِرُ: فَالصَّمْتُ، وَالتَّوَاضُعُ، وَحُسْنُ الْخُلُقِ، وَصِدْقُ الْقَوْلِ، وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ. وَأَمَّا الْبَاطِنُ: فَالتَّفَكُّرُ، وَالِاعْتِبَارُ، وَالْخُشُوعُ، وَالْخَوْفُ، وَذِكْرُ الْمَوْتِ.

Artinya:

“Tanda-tanda orang yang berakal ada sepuluh. Lima di antaranya tampak secara lahiriah, dan lima lainnya bersifat batiniah.

Adapun yang lahiriah ialah:

  1. Diam (menjaga lisan).
  2. Rendah hati.
  3. Akhlak yang baik.
  4. Jujur dalam perkataan.
  5. Beramal saleh.

Adapun yang batiniah ialah:

  1. Gemar berpikir dan merenung.
  2. Mengambil pelajaran dari setiap peristiwa.
  3. Khusyuk.
  4. Takut kepada Allah.
  5. Selalu mengingat kematian.”

Ungkapan ini menegaskan bahwa kesempurnaan akal tidak hanya tampak dari kecerdasan intelektual, tetapi juga dari kemuliaan akhlak dan kebersihan hati. Orang yang benar-benar berakal adalah mereka yang mampu mengendalikan hawa nafsu, menjaga lisan, memperbaiki perilaku, serta menghidupkan hati dengan tafakur, mengambil ibrah, takut kepada Allah, dan senantiasa mengingat kehidupan akhirat.

Penutup

Akal merupakan karunia agung yang Allah Ta’ala berikan kepada manusia sebagai dasar memahami agama, memperoleh ilmu, dan menjalani kehidupan dengan penuh hikmah. Imam Al-Mawardi menegaskan bahwa akal adalah pondasi agama dan sumber adab, sedangkan Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa akal merupakan sumber lahirnya ilmu yang mengantarkan manusia menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.

Oleh sebab itu, setiap muslim hendaknya memelihara akalnya dengan ilmu yang bermanfaat, memperindahnya dengan akhlak yang mulia, serta menggunakannya untuk semakin dekat kepada Allah Ta’ala. Inilah hakikat kemuliaan akal dalam Islam, yaitu akal yang membimbing pemiliknya menuju kebenaran, ketakwaan, dan keselamatan di dunia maupun di akhirat.

Referensi:

Al-Muntakhobat fi Rabithah Al-Qolbiyah wa Shilah Al-Ruhiyah Karya Hadratusy Syaikh KH. Ahmad Asrori Al-Ishaqy, jilid 1, hal. 276.

Menggapai Lailatul Qodar di Majlis Sholat Malam 27 Ramadhan

Bulan Ramadhan tidak lama lagi akan berpamitan. Gegap gempita ibadah di dalamnya akan kita rindukan. Yaa semestinya itu yang perlu kita hidupkan di bulan-bulan Ramadhan.

Di antara ‘hadiah besar’ yang ada di bulan Ramadhan adalah Lailatul Qodar. Malam Lailatul Qodar adalah modal yang sangat besar. Keistimewaannya yang berlipat ganda membuat semua hati ingin mengejar. Apakah semua orang berhak untuk mendapatkan keutamaan Lailatul Qodar?

Tanda-tanda Lailatul Qodar

Lailatul Qodar memiliki tanda-tanda yang bisa dirasakan oleh banyak orang. Tanda-tanda ini meliputi tanda-tanda alam dan tanda-tanda rasa.

Tanda-tanda alam Lailatul Qodar di antaranya adalah pada malam itu tidak terasa panas dan tidak pula dingin. Malam itu nyaman dan tenteram sekali. Pada pagi harinya, matahari terbit dan sinar sorot dan hanya menampakkan kuningnya selayaknya kuning telur.

Pada malam itu juga tidak terdengar gonggongan anjing. Atau maknanya adalah tidak terdengar suara yang tidak Allah ridai pada malam Lailatul Qodar.

Tanda-tanda rasa Lailatul Qodar bisa dirasakan oleh orang yang mendapatkannya. Pada malam itu hati terasa mudah tersentuh. Muncul perasaan rendah diri dan merasa banyak kesalahan dan dosa yang dilakukan.

Yang muncul hanyalah rasa tunduk. Hingga kemudian keluar air mata. Pada waktu itulah bertepatan dengan disalami oleh Malaikat Jibril.

Kapan Lailatul Qodar?

Para ulama berselisih tentang kapan Lailatul Qodar. Tak lain sebab Allah merahasiakan kapan Lailatul Qodar.

Ada banyak riwayat yang menyatakan bahwa para sahabat dan ulama salaf yang mengalami Lailatul Qodar di tanggal yang berbeda-beda.

Dari banyaknya pengalaman para sahabat didapati bahwa mereka ‘menemukan’ Lailatul Qodar pada malam 27 Ramadhan (pitulikur). Hal ini yang kemudian melandasi kegiatan Majlis Dzikir dan Sholat Malam di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya dilaksanan setiap malam 27 Ramadhan atau Pitulikuran. Tentu dengan tidak melupakan pelaksanaan dzikir dan sholat malam setiap malam selama bulan Ramadhan.

Berikut doa munajat yang biasa dibaca ketika Majlis Sholat Malam 27 Ramadhan di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya.

مُوَدَّعْ مُوَدَّعْ يَا رَمَضَانَ # عَوْدَةً عَلَيْنَا بِالْغُفْرَانِ

حُوَيْدِي أَعِدْ لِي يَا رَمَضَانُ # حَدِيْثُ الْحَبَائِبُ يَا رَمَضَانُ

وَمَا حَالَ مِنْهُمْ يَا رَمَضَانُ # عَنِ الْعَيْنِ غَائِبُ يَا رَمَضَانُ

جَمِيْلُ الْمُحَيَّا يَا رَمَضَانُ # جَعِيْدُ أَمْ ذَوَائِبْ يَا رَمَضَانُ

رَعَا اللهُ لَيَالِي يَا رَمَضَانُ # حُظِيْنَا بِوَصْلِهُ يَا رَمَضَانُ

وَطَابَ اتَّصَالِي يَا رَمَضَانُ # بِعَلَّهُ وَنَهْلِهْ يَا رَمَضَانٌ

فَيَا ذَا الْجَلَالِ يَا رَمَضَانُ # لُفْ شَمْلِي بِشَمْلِهُ يَا رَمَضَانُ

فَقَلْبِي مِنَ الْبُعْدِ يَا رَمَضَانُ # وَالْهَجْرُ ذَائِبْ يَا رَمَضَانُ

أَنَا سَأَتْرُكِ الْهَمَّ يَا رَمَضَانُ # وَوَاصِلْ سُرُورِي يَا رَمَضَانُ

وَشَادْخُلْ وَشَازْحَمْ يَا رَمَضَانُ # بِقَلْبٍ جَشُوْرِي يَا رَمَضَانُ

وَلِي رَبِّ يَعْلَمْ يَا رَمَضَانُ # بِخَافِي أُمُوْرِي يَا رَمَضَانُ

أَرَى اللَّوْمَ عِنْدِي يَا رَمَضَانُ # خَطَأً غَيْرُ صَائِبْ يَا رَمَضَانْ

أَنَا مُسْتَجِيْرُ بَالُ يَا رَمَضَانُ # جَمَالُ الْمُكَمَّلْ يَا رَمَضَانُ

وَمَنْ فِي النَّبِيِّينَ يَا رَمَضَانُ # أَفْضَلْ وَأَكْمَلْ يَا رَمَضَانُ

أَبُو الْقَاسِمْ أَحْمَدْ يَا رَمَضَانُ # لَنَا خَيْرُ مُرْسَلٌ يَا رَمَضَانُ

بِهِ تَنْقَضِيْ لِي يَا رَمَضَانُ # جَمِيعُ الْمَطَالِبُ يَا رَمَضَانُ

وَمَنْ كَانَ جَدُّهُ يَا رَمَضَانَ # مُحَمَّد تَبَجَّحْ يَا رَمَضَانْ

فَفِي كُلِّ وَزْنَةً يَا رَمَضَانُ # فَوَزْنَتُهُ أَرْجَحْ يَا رَمَضَانُ

بِبَرْكَتِه رَبِّي يَا رَمَضَانُ # يُجَاوِزُ وَيَسْمَحْ يَا رَمَضَانُ

إِذَا اعْيَتْ عَلَيْنَا يَا رَمَضَانُ # جَمِيعُ الْمَذَاهِبْ يَا رَمَضَانُ

Siapa yang berhak atas Lailatul Qodar

Kembali ke pertanyaan awal tentang apakah semua orang bisa ‘memetik keutamaan’ Lailatul Qodar?

Terkait ini Hadratusy Syaikh KH. Ahmad Asrori Al-Ishaqy pernah dawuh:

“Kulo kaleh panjenengan dipun pacu dening Gusti Allah. Dipun pacu dus pundi? Shidqut tawajjuh ilaa Allah. Mboten cuma ngelakoni, mboten cuma tunduk. Estu. Estu seng ndadosaken kulo kaleh panjenengan niku shidqut tawajjuh niku nopo? Iso ngumpulaken pikiran lan atine dadi siji. Dikumpulaken ten pundi? Madep dateng Gusti Allah. Coro dus pundi? Ilang rasane. Mboten cumak ngelakoni tok mboten”

(Dengan dirahasiakannya Lailatul Qodar) saya dan Anda sekaliyan dipacu oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Dipacu untuk apa? Bersungguh-sungguh menghadap kepada Allah (shidqut tawajjuh). Bersungguh-sungguh. Bukan hanya sekadar melaksanakan. Bukan hanya tunduk. Bersungguh-sungguh bagaimana yang menyebabkan saya dan Anda sekaliyan menghadap kepada Allah subhanahu wa ta’ala? Yaitu yang bisa mengumpulkan hati dan pikiran menjadi satu. Dikumpulkan ke mana? Menghadap kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Caranya bagaimana? Hilang rasanya (dari kepentingan). Bukan hanya melaksanakan-melaksanakan (ibadah) saja” (terj.)

Semoga kita senantiasa diberikan kemudahan dan keistikomahan dalam menghadap dan sibo kehadirat Allah subhanahu wa ta’ala. Aamiin

Bacaan Bilal Shalat Tarawih Ramadhan Ala Al Fithrah

Shalat Tarawih merupakan syiar agung di bulan Ramadhan yang telah menjadi tradisi umat Islam sejak masa Nabi Muhammad. Pada masa Umar bin Khattab, pelaksanaan tarawih berjamaah disempurnakan dan dirapikan dalam satu imam sehingga menjadi tradisi yang terus hidup hingga hari ini.

Di berbagai pesantren dan majelis dzikir, termasuk di lingkungan Al Fithrah, bacaan Bilal Shalat Tarawih memiliki kekhasan tersendiri. Bacaan ini bukan sekadar seruan, tetapi menjadi pengikat kekhusyukan, penanda perpindahan rakaat, serta penguat semangat jamaah dalam beribadah.

Peran Bilal dalam Shalat Tarawih

Dalam tradisi pesantren, bilal bertugas:

  • Mengumumkan jeda antar rakaat
  • Membaca shalawat dan doa tertentu
  • Mengajak jamaah memperbanyak dzikir
  • Menjaga irama dan kekhidmatan suasana

Peran ini meneladani semangat sahabat Bilal bin Rabah yang dikenal sebagai muadzin Rasulullah dan simbol keteguhan dalam syiar Islam.

Susunan Bacaan Bilal Shalat Tarawih Ala Al Fithrah

Berikut adalah susunan bacaan Bilal Shalat Tarawih Ramadhan ala Al Fithrah.

1. Bacaan Sebelum Tarawih

مبلغ

اَلصَّلَاةَ سُنَّةَ مِنَ التَّرَاوِيْحِ رَكْعَتَيْنِ جَامِعَةً رَحِمَكُمُ اللهُ

جماعة

اَلصَّلَاةُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

مبلغ:

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ .

جماعة:

اَللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ .

2. Bacaan Setelah Salam Pertama

مبلغ

اَلْبَدْرُ نَبِيُّكُمْ مُحَمَّدٌ صَلُّوْا عَلَيْهِ

جماعة:

صَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

مبلغ:

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ .

جماعة:

اَللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ .

3. Bacaan Setelah Salam Kedua

مبلغ:

فَضْلًا مِنَ اللهِ تَعَالَى وَنِعْمَةً

 جماعة:

وَمَغْفِرَةً وَرَحْمَةً يَا تَوَّابُ يَاغَفَّارُ يَا وَاسِعَ الْمَغْفِرَةِ يَا أَرْحَمَ الرّاحِمِيْنَ اِرْحَمْنَا.

مبلغ:

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ .

جماعة:

اَللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ .

4. Bacaan Setelah Salam Ketiga

مبلغ:

خَلِيْفَةُ رَسُولِ اللَّهِ سَيِّدُنَا أَبُوْ بَكْرِ نِ الصِّدِّيْقِ، تَرَضَّوْا عَنْهُ

جماعة:

رَضِيَ اللهُ عَنْهُ وَنَفَعَنَا بِهِ فِي الدِّينِ وَالدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ.

مبلغ:

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ .

جماعة:

اَللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ .

5. Bacaan Setelah Salam Keempat (Setelah Yaa Tawwab)

مبلغ:

فَضْلًا مِنَ اللهِ تَعَالَى وَنِعْمَةً

 جماعة:

وَمَغْفِرَةً وَرَحْمَةً يَا تَوَّابُ يَاغَفَّارُ يَا وَاسِعَ الْمَغْفِرَةِ يَا أَرْحَمَ الرّاحِمِيْنَ اِرْحَمْنَا.

مبلغ:

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ .

جماعة:

اَللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ .

6. Bacaan Setelah Salam Kelima

مبلغ:

أَمِيْرُ الْمُؤْمِنِيْنَ سَيِّدُنَا عُمَرُ ابْنُ الخَطَّابِ، تَرَضَّوْا عَنْهُ.

جماعة:

رَضِيَ اللهُ عَنْهُ وَنَفَعَنَا بِهِ فِي الدِّينِ وَالدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ.

مبلغ:

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ .

جماعة:

اَللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ .

7. Bacaan Setelah Salam Keenam

مبلغ:

فَضْلًا مِنَ اللهِ تَعَالَى وَنِعْمَةً

 جماعة:

وَمَغْفِرَةً وَرَحْمَةً يَا تَوَّابُ يَاغَفَّارُ يَا وَاسِعَ الْمَغْفِرَةِ يَا أَرْحَمَ الرّاحِمِيْنَ اِرْحَمْنَا

مبلغ:

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

جماعة:

اَللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ

8. Bacaan Setelah Salam Ketujuh

مبلغ:

أَمِيْرُ الْمُؤْمِنِيْنَ سَيِّدُنَا عُثْمَانُ ابْنُ عَفَّانَ ، تَرَضَّوْا عَنْهُ

جماعة:

رَضِيَ اللهُ عَنْهُ وَنَفَعَنَا بِهِ فِي الدِّينِ وَالدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ.

مبلغ:

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ .

جماعة:

اَللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ .

9. Bacaan Setelah Salam Kedelapan (Setelah Yaa Allah biha)

مبلغ:

فَضْلًا مِنَ اللهِ تَعَالَى وَنِعْمَةً

 جماعة:

وَمَغْفِرَةً وَرَحْمَةً يَا تَوَّابُ يَاغَفَّارُ يَا وَاسِعَ الْمَغْفِرَةِ يَا أَرْحَمَ الرّاحِمِيْنَ اِرْحَمْنَا.

مبلغ:

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ .

جماعة:

اَللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ .

10. Bacaan Setelah Salam Kesembilan

مبلغ:

أَمِيْرُ الْمُؤْمِنِيْنَ سَيِّدُنَا عَلِيُّ ابْنُ أَبِيْ طَالِبْ كَرَمَ اللهُ وَجْهَهُ ، تَرَضَّوْا عَنْهُ.

جماعة:

رَضِيَ اللهُ عَنْهُ وَنَفَعَنَا بِهِ فِي الدِّينِ وَالدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ.

مبلغ:

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ .

جماعة:

اَللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ .

11. Bacaan Sholat Witir Dua Rakaat

مبلغ

اَلصَّلَاةَ سُنَّةَ مِنَ الْوِتْرِ رَكْعَتَيْنِ جَامِعَةً رَحِمَكُمُ اللهُ

جماعة

اَلصَّلَاةُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

مبلغ:

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ .

جماعة:

اَللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ .

12. Bacaan Sholat Witir Satu Rakaat

مبلغ

اَلصَّلَاةَ سُنَّةَ مِنَ الْوِتْرِ رَكْعَةً جَامِعَةً رَحِمَكُمُ اللهُ

جماعة

اَلصَّلَاةُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

مبلغ:

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ .

جماعة:

اَللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ .

Keutamaan Menghidupkan Tarawih

Dalam hadits shahih disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barang siapa menghidupkan Ramadhan dengan iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
(HR. Muhammad al-Bukhari dan Muslim ibn al-Hajjaj)

Tradisi bacaan bilal yang tertata dan penuh adab membantu jamaah menjaga niat, kekhusyukan, dan semangat hingga akhir rakaat.

Ciri Khas Bacaan Ala Al Fithrah

Beberapa ciri khas bacaan bilal ala Al Fithrah antara lain:

  • Irama yang tenang dan khidmat
  • Penekanan pada shalawat kepada Nabi ﷺ
  • Doa yang sarat makna taubat dan mahabbah
  • Kekompakan antara bilal, imam, dan jamaah

Hal ini menjadikan suasana tarawih terasa lebih hidup, bukan hanya sebagai ibadah rutin, tetapi juga sebagai majelis dzikir yang menyentuh hati.

Penutup

Bacaan Bilal Shalat Tarawih Ramadhan ala Al Fithrah adalah bagian dari khidmah dalam menjaga tradisi Ahlus Sunnah wal Jamaah. Ia bukan sekadar teks bacaan, tetapi warisan ruhani yang memperindah malam-malam Ramadhan.

Semoga Allah ﷻ menerima amal ibadah kita dan mempertemukan kita dengan Lailatul Qadar.

Mutih: Agar Puasa Ramadhan Lebih Bermakna

Tak lama lagi Ramadhan tiba. Umat Islam menyambutnya dengan bahagia. Ramadhan adalah bulan penuh ampunan. Bulan diturunkannya Alquran. Bulan untuk berpuasa dan segala macam ibadah Allah mudahkan untuk dilakukan.

Ramadhan adalah waktunya untuk sama-sama merasakan apa yang orang tidak berpunya rasakan. Kita diwajibkan berpuasa dan berlapar-lapar selama berpuasa.

Dalam kenyataannya, lapar kita di bulan Ramadhan adalah pada saat siang hati saja, malamnya kebanyakan kita dalam keadaan kenyang. Puasanya hanyalah berganti jadwal makan aja. Sementara porsi makannya sama.

Oleh karenya, para guru menganjurkan untuk mutih. Tarak istilah lainnya. Tarak berasal dari kata berbahasa Arab taraka yang berarti meninggalkan. Dalam hal ini, tarak bermakna meninggalkan atau menjauhi makan makanan yang mengandung nyawa (hewani).

Mutih Sebagai Instrumen Mendekatkan diri Kepada Ilahi

Syaikh Abdul Wahab Asy-Sya’roni dalam Kitab Al-Anwar Al-Qudsiyah nya mengatakan bahwa memperbanyak lapar adalah bagian dari pada adab seorang murid dalam usaha mendekatkan diri kepada Allah. Dalam hal ini beliau mengatakan:

إِنَّ أَرْكَانَ الطَّرِيقِ أَرْبَعَةُ أَشْيَاءَ: الْجُوعُ وَالْعُزْلَةُ وَالسَّهَرُ وَقِلَّةُ الْكَلَامِ. فَإِذَا جَاعَ الْمُرِيدُ تَبِعَتْهُ الْأَرْكَانُ الثَّلَاثَةُ الْبَاقِيَةُ بِالْخَاصِّيَّةِ، فَمِنْ شَأْنِ الْإِنْسَانِ إِذَا جَاعَ أَنْ يَقِلَّ كَلَامُهُ وَيَكْثُرَ سَهَرُهُ وَيُحِبَّ الْعُزْلَةَ عَنِ النَّاسِ.

“Sesungguhnya pilar-pilar tarekat itu ada empat; lapar, menyendiri, berjaga dan sedikit bicara. Apabila seorang murid merasa lapar, maka tiga pilar lainnya akan secara otomatis mengikutinya. Memang sudah menjadi tabiat manusia, apabila ia lapar, maka ia sedikit bicaranya, lebih banyak terjaganya, dan ia cenderung menyukai menyendiri dari manusia lainnya.” (Anwarul Qudsiyah, Al-Haramain, 38-39).

Dalam praktiknya, puasa mutih bukanlah cara lapar ekstrem dengan tidak makan sama sekali. Mutih adalah komitmen pribadi untuk hanya mau makan makanan yang nabati saja. Nafsu makan ada, tapi tidak dengan memenuhinya. Mutih adalah cara kecil agar ‘tetap’ lapar meski sudah makan.

Tidak ada tatacara khusus dalam mutih yang diamalkan oleh para murid Tarekat Qadiriyyah wan Naqsyabandiyyah Al-Utsmaniyyah. Mereka berpuasa sebagaimana mestinya. Hanya saja ketika waktu sahur dan berbuka, mereka membatasi diri untuk tidak mengonsumsi semua makanan yang ada.

Setiap bulan Ramadlan tiba, para murid –terutama yang telah berbai’at TQN Al-Utsmaniyyah dimana Hadratusy Syaikh KH. Ahmad Asrori Al-Ishaqy adalah mursyidnya–, di-anjurkan [baca: didawuhi] untuk tidak mengonsumsi makanan dan minuman yang berasal dari makhluk yang bernyawa, atau yang salah satu campuran bahan pembuatannya terdapat unsur hewani. Ritual ini disebut dengan mutih atau tarak dalam bahasa Jawa.

Singkatnya, mutih, baik dilaksanakan ketika puasa ataupun ketika tidak berpuasa, adalah bertujuan untuk membatasi diri dari banyak makan dan agar tubuh tetap lapar. Dalam keadaan lapar itu diharapkan, tubuh dapat memperbanyak mendekatkan diri kepada Ilahi, sebagaimana yang disampaikan oleh Syaikh Abu Sulaiman Ad-Daroni yang dikutip oleh Syaikh Abdul Wahab Asy-Sya’roni:

وَكانَ أَبُو سُلَيْمانَ الدَّارانِيُّ يَقُولُ: «مِفْتاحُ الدُّنْيا الشِّبَعُ، وَمِفْتاحُ الآخِرَةِ الجُوعُ» يَعْنِي أَعْمالَها.

Dan Abu Sulaiman ad-Darani berkata: “Kunci (kesibukan dan ketergantungan pada) dunia adalah kenyang, dan kunci akhirat adalah lapar,” maksudnya adalah amal-amal untuk akhirat.

Waktu Pelaksanaan Mutih

Bagi jamaah laki-laki, mutih dilakukan mulai memasuki tanggal 21 Sya’ban. Di tahun ini akan dimulai sejak Ahad malam Senin, 8 Februari 2026 M. Sedangkan jamaah perempuan memulai mutihnya pada tanggal 1 Ramadlan. Ritual mutih dilakukan sampai bulan Ramadlan selesai, kecuali malam Jum’at pada bulan Ramadlan.

Artinya, setiap malam Jum’at bulan Ramadlan, mereka ‘libur’ serta tidak melakukan ritual mutih. Sebab, hari Jum’at –yang dimulai sejak terbenamnya matahari pada hari Kamis– adalah hari raya mingguan bagi umat Islam. Nisbatnya sebuah hari raya, mereka tak mempunyai pantangan apapun mengenai makanan apa yang tidak boleh dikonsumsi.

Namun pada malam (Jum’at) itu, para murid ‘melakukan ritual lain’, yaitu membaca tiga macam shalawat yang telah ditentukan, yaitu Sholawat Habibil Mahbub, Sholawat Thibbil Qulud dan Sholawat Qod Dloqot, masing-masing dibaca sebanyak 1000 kali. Meskipun begitu, mutih bagi jamaah lelaki yang dimulai pada 10 hari (terakhir) bulan Sya’ban tidak ada ‘liburnya’, meskipun pada malam Jum’at.

Tujuan Mutih

Ritual mutih dilakukan agar ketika berbuka puasa, mereka tidak bersenang-senang dan ‘mengumbar’ hawa nafsunya dengan makanan ataupun minuman yang lezat. Sehingga, kemungkinan kekenyangan yang dapat mengakibatkan nafsu kembali menjadi kuat setelah seharian nafsu dikekang dengan berpuasa, bisa diminimalisir.

Tujuan utama mutih adalah untuk riyadhoh (melatih jiwa), mujahadah (memerangi nafsu), taqliluth thoam (menyedikitkan makan) agar hawa nafsu bisa dikendalikan, semangat beribadah (Jawa: rikat) dan agar dibersihkan dari pengaruh-pengaruh makanan syubhat dan haram.

Oleh karenanya, selain agar puasa Ramadhan lebih bermakna, perintah mutih dari Guru Mursyid kepada murid lebih pada sisi menghasilkan kesempurnaan bagi murid. Jika dirasa bermanfaat kemudian ia meninggalkan, maka ia termasuk melakukan adab yang buruk (su’ul adab).

Referensi:

Anwarul Qudsiyah, Sangkapura, Al-Haramain, 38-39

Surat Edaran Maklumat Mutih 1447 H