Kajian

Kajian Al Muntakhobat: Mensuritauladani Rasulullah Saw.

Di penghujung bulan November lalu, Majelis Kebersamaan dalam Kajian dan Pembahasan Ilmiah (MKPI) Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya kembali menyelenggarakan kajian Kitab al-Muntakhobat. Dr. H. Nur Kholis, Lc, dosen Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al Fithrah dan Ma’had ‘Aly Al Fithrah diundang oleh MKPI untuk menjadi narasumber dalam kajian ini.

Berpegang Teguh pada Aturan Allah dan Mensuritauladani Rasulullah Saw., dipilih sebagai topik utama dengan sumber utama kitab al-Muntakhobat, karya Hadrotusy Syaikh KH. Achmad Asrori al-Ishaqy ra. Topik utama masih berkesinambungan dengan topik di kajian sebelumnya; bermimpi bertemu Nabi Saw.

Dalam kitab al-Muntakhobat, Kiai Asrori merumuskan bahwa ada dua perintah Allah Swt yang utama, yang dari dua perintah itu bercabang ke perintah-perintah yang lain. Pertama, berpegang teguh pada Allah Swt dan segala sesuatu yang berasal dari-Nya. Kedua, mengikuti segala bentuk hal yang datang dari Rasulullah Saw. Dua perintah ini saling terhubung, mengingat apa yang Rasulullah sampaikan dan contohkan tidak mungkin bertentangan dengan perintah pertama.

“Jangan sampai mempertanyakan (keabsahan) apa yang telah Rasul sampaikan,” tegas Ust. Kholis. “Hadlratusy Syaikh mengajarkan kita totalitas. Imani dan ikuti!” lanjut dosen yang menempuh pendidikan setara S-1 nya di Yaman.

Pernyataan ini disampaikan agar tidak ada keraguan sedikitpun bahwa segala hal yang disampaikan dan dicontohkan oleh Nabi Saw, adalah penjabaran dari firman-firman Allah Swt yang disampaikan pada beliau dan terkodifikasikan dalam al-Qur’an.

Suatu waktu, Syaikh Imran bin Husain ra. ketika memberikan ceramah dan mengajarkan suluk kepada santrinya, ditanya oleh seseorang, “Kenapa kamu menjelaskan sesuatu yang tidak ada dalam Al-Qur’an?”

“Bukankah engkau telah membaca al-Qur’an dan di sana tidak kau jumpai bahwa sholat Isya’ ada empat rakaat, Maghrib tiga rakaat, Subuh dua rakaat, Dhuhur dan Ashar empat rakaat? Bukankah engkau mempelajarinya dari kami? sedangkan kami mempelajarinya dari Rasulullah SAW” jelas Syaikh Imran pada penanya itu.

Dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim, Rasulullah Saw menuturkan: “Apapun yang aku larang maka jauhilah dan apapun yang aku perintahkan maka lakukanlah semampu kalian. Sesungguhnya sesuatu yang telah membinasakan umat sebelum kalian adalah karena mereka banyak bertanya dan tidak patuh pada Nabi-nabi mereka.”

Hadits ini kiranya cukup menjadi penegasan oleh Nabi Saw., bahwa apa yang datang dari beliau tidak lain dan tidak bukan bersumber pada Allah Swt. Berupa wahyu, baik yang terhimpun dalam al-Qur’an ataupun pada yang kita kenal dengan Hadits Qudsi.

Dalam al-Muntakhobat, Kiai Asrori menegaskan hal mendasar ini. Mengingat dalam al-Muntakhobat, begitu banyak hadits yang beliau sertakan untuk menerangkan kandungan dan maksud ayat-ayat al-Qur’an yang beliau tampilkan. Dari dua sumber utama dalam pengambilan hukum umat Islam inilah beliau memaparkan pemahamannya yang juga beliau tampilkan dukungan pemahaman itu dari keterangan-keterangan ulama terdahulu yang terbukukan dalam kitab-kitab mereka.

“Hal semacam ini telah diimplementasikan sejak dua belas tahun lalu. Adanya skripsi dan kajian al-Muntakhobat yang dikomparasikan dengan Al-Qur’an dan Al-Hadits, tujuannya adalah memperkuat keteguhan atas dalil-dalil dan argumentasi Hadlratusy Syaikh,” terang Ust. Kholis dalam pembacaanya terhadap teks al-Muntakhobat.

Kajian yang dilaksanakan di gedung PW Al Khidmah Jatim ini dihadiri oleh Ust. Hermansyah, M.Ag (kepala PDF Ulya Al Fithrah), dan Ust. Ahmad Mahbub, M.Ag. (PJM Turats). Mengigat kapasitas lokasi yang terbatas, kajian ini hanya dihadiri perwakilan santri PDF Wustho, PDF Ulya dan Ma’had Aly Al Fithrah Surabaya.

Sementara itu, di ruang zoom hadir Ust. Imam Bashori, M.Ag, (Mudir Ma’had ‘Aly Al Fithrah), dan Ust. Tajul Muluk, M.Ag (dosen STAI Pandanaran, Yogyakarta), serta beberapa asatid juga jamaah Al Khidmah dari beberapa daerah, mengikuti kajian malam itu.

Seusai doa penutup dibacakan, kajian diakhiri dengan pengumuman bahwa pada akhir Desember ini akan dihadirkan Dr. KH. Reza Ahmad Zahid, Lc. M.A. sebagai pengisi kajian.

Semoga langkah ini menjadi wasilah untuk meningkatkan keyakinan kita kepada Hadratusy Syaikh Romo KH Ahmad Asrori Al-Ishaqy. Aamiin.

Kajian Al-Muntakhobat: Bermimpi Nabi Saw.

Majelis Kebersamaan dalam Pembahasan Ilmiah (MKPI) Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya kembali menyelenggarakan kajian Kitab al-Muntakhobat. Dalam kesempatan ini, bab “bermimpi Nabi SAW “ menjadi kajiannya. Dr. KH. Muhammad Musyafa’, M.Th.I menjadi pengkaji utama. Ia menyampaikan materi ini via zoom meeting. Selain itu, kajian ini juga dihadiri secara virtual oleh Dr. KH. M. Mujib Qulyubi, S.Ag, M.H, yang merupakan Imam Khushushi DKI Jakarta sekaligus dosen di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Ketua Pembina Yayasan UNINUS Bandung.

Kajian kitab al-Muntakhobat sendiri mulanya adalah kegiatan MKPI Al-Fithrah yang dilaksanakan secara online. Kegiatan dimulai di masa pandemi dan diikuti oleh santri dan pengajar aktif pondok Al Fithrah dan alumni. Seiring waktu, banyak orang yang tidak berafiliasi secara langsung dengan pondok Al Fithrah, juga berminat mengikuti kajian ini. Dan, sejak bulan lalu kajian ini dilaksanakan secara hybrid. Secara langsung di gedung PW Al Khidmah Jawa Timur, yang berlokasi di selatan pondok, dan bisa diikuti via zoom dan live youtube.

Setelah diawali dengan bacaan Tawasul al-Fatihah, Kiai Musyafa’ menyampaikan bahwa di al-Muntakhobat edisi lama belum ada bahasan dengan tema bermimpi Nabi SAW. Artinya, tema bermimpi Nabi SAW ini baru Hadlratusy Syaikh KH. Achmad Asrori al-Ishaqy tuliskan pada edisi revisi, menjelang beliau wafat.

Bermimpi Nabi SAW termasuk anugerah yang sangat besar dan keberkahan yang tinggi di sisi Allah. Akan tetapi, mimpi bertemu Nabi SAW bukan hanya terjadi pada orang saleh saja, melainkan juga bisa dialami oleh orang awam.

Bertemu dengan Nabi SAW terkadang terjadi dalam mimpi dan ini yang sering terjadi. Tapi terkadang juga terjadi di alam sadar (yaqdzah). Diceritakan oleh Kiai Musyafa’ bahwa Hadlratusy Syaikh muda pernah bermimpi Nabi SAW. Dalam mimpi itu, Nabi SAW memberikan sepotong roti dan Hadlratsuy Syaikh memakannya setengah. Waktu terbangun, Hadlratusy Syaikh menjumpai separoh rotinya. Cerita ini juga diamini oleh Ust. Ahmad yang merupakan abdi Gus Tajul Mafakhir, Probolinggo. Dari sini, kita ketahui bahwa bermimpi Nabi SAW adalah nyata sebagaimana bertemu di alam nyata.

Disebutkan dalam sebuah riwayat hadits yang artiya, “Barang siapa mimpi bertemu dengan aku, maka ia benar-benar melihatku, karena setan tidak mampu menyerupaiku”.

Mimpi yang terjadi pada para Nabi Saw. adalah wahyu yang bisa dijadikan sebagai landasan hukum. Hal ini pernah terjadi pada Nabi Ibrahim As. yang diberi ilham untuk menyembelih putranya melalui mimpi. Sedangkan mimpi yang terjadi pada selain Nabi tidak bisa dijadikan hukum. Karena masih ada kemungkinan mimpi itu berasal dari nafsu (nafsaniyah), berasal dari setan (syaitoniyah) atau ditakdirkan oleh Allah SWT (robbaniyah).

Dalam sesi selanjutnya, Dr. Qulyubi mengungkapkan kebahagiaannya dapat kembali mengkaji isi kandungan kitab al-Muntakhobat karya Hadlratusy Syaikh KH. Ahmad Asrori Al-Ishaqy. Beliau mengusulkan agar asatid yang menerima langsung al-Muntakhobat secara langsung dari Hadlratusy Syaikh untuk turun gunung menyampaikan isi al-Muntakhobat ke wilayah-wilayah.

Apakah ada amalan yang bisa menjadikan kita bisa bermimpi Nabi SAW? Pertanyaan ini yang tentu akan muncul begitu mendengar kajian ini. Ada beberapa amalan yang bisa diistikomahkan. Diantaranya adalah dengan mendawamkan bacaan sholawat kepada beliau SAW. Tapi, yang paling pokok adalah dengan sering mikiri dan kepikiran Nabi SAW.

Ada salah satu kitab yang paling direkomendasikan untuk dibaca untuk mengetahui detail tentang sifat dan karakter Nabi SAW, yakni Kitab Syamail Muhammadiyah, karya Imam Tirmidzi.

Kajian berakhir pada pukul 23.00 WIB dengan ditutup dengan doa Bihaqqil Fatihah oleh Ust. Ahmad Syatori, M.Fil.I. Semoga kajian ini menjadi wasilah untuk lebih dekat dan diberi kesempatan bermimpi Nabi Saw, serta memperoleh syafaatnya yang agung. Aamiin.

Shalawat Penyelamat

Dikisahkan, seorang kekasih Allah Swt. yang bernama Syaikh Shalih Musa al-Dlarir ra. sedang berlayar di tengah samudra. Lalu, kapal yang dinaikinya bertemu dengan badai yang dikenal dengan nama Aqlabiyah. Badai yang terkenal akan keganasannya, dan sedikit orang yang bisa selamat dari terjangannya. Para penumpang kapal berteriak, panik, takut badai itu akan menenggelamkan mereka. Tiba-tiba Syaikh Shalih diserang rasa kantuk yang amat berat, hingga beliau tertidur.

Dalam kondisi tertidur itu, beliau melihat Nabi Muhammad Saw.. Nabi pun bersabda: “katakan pada penumpang kapal untuk membaca ini sebanyak seribu kali,

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، صَلاَةً تُنْجِيْنَا بِهَا مِنْ جَمِيْعِ الْأَهْوَالِ وَالْاٰفَاتِ، وَتَقْضِيْ لَنَا بِهَا جَمِيعَ الْحَاجَاتِ، وَتُطَهِّرُنَا بِهَا مِنْ جَمِيْعِ السَيِّئَاتِ، وَتَرْفَعُنَا بِهَا أَعْلَى الدَّرَجَاتِ، وَتُبَلِّغُنَا بِهَـــا أَقْصَى الْغَايَاتِ، مِنْ جَمِيْعِ الْخَيْرَاتِ فِى الْحَيَاةِ وَبَعْدَ الْمَمَـــاتِ.

Allaahumma shalli ‘alaa Sayyidinaa Muhammadin, shalaatan tunjiinaa bihaa min jamii’il ahwaali wal aafaat, wa taqdhii lanaa bihaa jamii’al haajaat, wa tuthahhirunaa bihaa min jamii’is sayyiaat, wa tarfa’unaa bihaa a’lad darajaat, wa tuballighunaa bihaa aqshal ghaayaat, min jami’il khairaati fil hayaati wa ba’dal mamaat.

“Ya Allah limpahkanlah rahmat kepada junjungan kami Nabi Muhammad, (yang) dengan shalawat itu, Engkau akan menyelamatkan kami dari semua keadaan dan dari semua cobaan; dengan shalawat itu, Engkau akan mengabulkan semua hajat kami; dengan shalawat itu, Engkau akan menyucikan kami dari segala keburukan; dengan shalawat itu, Engkau akan mengangkat kami ke derajat paling tinggi; dengan shalawat itu pula, Engkau akan menyampaikan kami kepada tujuan yang paling sempurna dari semua kebaikan, ketika hidup dan setelah mati.”

Kemudian ia terbangun, dan menceritakan mimpi yang barusan ia alami kepada penumpang kapal. Mereka pun membaca shalawat tersebut. Dan, ketika bacaan shalawat itu mencapai 300 kali, badaipun reda. (al-Fajru al-Muniru fi al-Shalaati ‘ala al-Basyiri wa al-Nadziri, hlm. 21)

***

Di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah shalawat ini jadi pembuka do’a setelah sholat lima waktu. Sebagaimana yang telah dituntunkan oleh Hadratusy Syaikh KH. Achmad Asrori al-Ishaqy, dan tertulis dalam kumpulan wirid dan do’a setelah sholat di kitab Fathatu al-Nuriyah. Kitab ini selain diamalkan oleh santri Al Fithrah, juga diamalkan oleh jama’ah Al Khidmah.

Dalam kitab itu Kiai Asrori memang tak menyertakan kisah Syaikh Shalih dalam kitab Fathatu al-Nuriyah. Pun juga dengan amaliah-amaliah lain yang beliau tuntunkan dalam kitab tersebut, beliau tidak menyertakan dalil atau keterangan pendukung. Namun, kealpaan keterangan itu tentu, sama sekali tidak mengurangi keutamaan membaca amaliyah itu.

Mengingat, keutamaan membaca shalawat itu sudah disepakati oleh ulama’. Bahkan di dalam al-Qur’an, Allah Swt. sudah berfirman:

إِنَّ اللهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bershalawatlah kamu untuk nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya” (QS. al-Ahzab: 56)

Ayat ini merupakan penegasan anjuran membaca shalawat.

Di dalam kitab al-Muntakhobat, Kiai Asrori menerangkan jika seseorang memperbanyak (membaca) sholawat dan semua doanya dijadikan sebagai sholawat kepada Nabi, maka ia betul-betul telah mewujudkan apa yang telah dibawa oleh Syari’at. Sebagaimana yang telah diwujudkan oleh Shohabat yang telah menjadikan semua doanya sebagai sholawat kepada Nabi. Sehingga, ia diampuni semua dosanya, dipenuhi segala hajat-kebutuhannya dan terjaga dari segala yang mengkhawatirkan. (al-Muntakhobat, juz I lm 37-38).

Keterangan Kiai Asrori dalam kitab al-Muntakhobat ini tentunya menjadi landasan anjuran membaca berbagai bentuk shalawat yang telah dituntunkan oleh beliau. Sebagai santri, alumni, jama’ah dan umat islam pada umumnya, anjuran yang baik ini tentu perlu ditindaklanjuti dengan pengamalan yang istikomah.

Waba’du; semoga shalawat dan do’a-do’a yang menyertainya membuat kita terampuni dari segala dosa, terpenuhi segala kebutuhan dan terjaga dari segala hal yang mengkhawatirkan. Amin.

Kajian al-Muntakhobat: Rasulullah Saw Sebagai Panutan

Majelis Kebersamaan dalam Pembahasan Ilmiah (MKPI) adalah organisasi yang didirikan untuk menaungi kegiatan musyawarah di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya. Baik musyawarah sughra di kelas, maupun musyawarah kubro yang diselenggarakan di area masjid Al Fithrah.

Salah satu agenda penting MKPI ini adalah kajian Kitab al-Muntakhobat fi Rabithah al-Qalbiyyah wa Silati al-Ruhiyah yang merupakan masterpiece dari Hadlratusy Syaikh Romo KH. Ahmad Asrori Al-Ishaqy ra. Kajian yang tahun kemarin masih terselenggara secara online, Rabu malam ini dilaksanakan secara hybrid (online dan offline). Acara offline bertempat di Gedung PW lantai dua Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah. Sementara yang online dapat diikuti via zoom meeting dan siaran di channel YouTube alwava media.

Pembukaan acara

Dengan tetap menjaga tradisi lama yang baik, maka sebagaimana kegiatan-kegiatan di Al Fithrah pada umumnya, Kajian Al-Muntakhobat kali ini dimulai dengan pembacaan Tawasul, Istighosah dan Maulid fi Hubby. Sesi Pembukaan ini dipimpin oleh Ust. Ahmad Mahbub, M.Ag dan Ust. Nur Yasin, M.Pd.

Pandangan Umum sebelum memasuki acara inti disampaikan oleh Ust. Nasiruddin, M.Pd. Sebagai Kepala Bagian Pendidikan Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah, beliau berharap agar Kajian al-Muntakhobat ini dapat memotivasi para santri untuk kembali mengkaji kitab kuning (turats), terutama mempelajari kembali kitabnya Hadlratusy Syaikh Romo KH. Ahmad Asrori al-Ishaqy. Terlebih, bab yang dikaji malam itu adalah tentang “Rasulullah Saw Sebagai Panutan”. Harapan besarnya disampaikan beliau, dapat memupuk kecintaan kepada Rasulullah Saw.

Dr. Kusroni, M.Th.I sebagai narasumber dalam kajian ini mengingatkan kita kembali bahwa adanya Kitab Al-Muntakhobat ini ditulis oleh Hadlratusy Syaikh dipersembahkan dan diprioritaskan kepada para santri, alumni Al Fithrah, dan juga Jama’ah Al Khidmah. Maka menjadi penting, bagi para santri di lingkungan Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah untuk mengkaji kitab ini. Pun juga, bagi para alumni dan juga Jama’ah Al Khidmah agar sepeninggal beliau, pemikiran-pemikiran beliau tetap lestari, selain amaliah tuntunan beliau yang selalu diistikomahkan.

Di awal sub judul, Hadlratusy Syaikh sudah memberikan judul berlapis kepada Rasulullah Saw, al-Qudwah al-Husna, al-Uswah al-Ulya, al-Wasithah al-Kubra. Ada dua kalimat yang memiliki arti sama, yakni al-Qudwah dan al-Uswah. Bedanya, menurut Dr. Kusroni adalah, bahwa al-Qudwah adalah tuntunan (role model) yang berlaku tatkala masa hidupnya, sedang al-Uswah berlaku selepas wafatnya. Pada diri Rasulullah Saw terkandung keduanya.

Perjalanan kepada Allah SWT, atau bahasa jelasnya, keberislaman seseorang tidak akan sempurna, kecuali ia mengikuti tuntunan, tatanan dan bimbingan seorang mursyid, dengan ia berbaiat (janji), talqin (menerima langsung) dan tahkim (mengakui).

لَا يَعْرِفُ الْوَلِي بِاللهِ تَعَالى حَقَّ مَعْرِفَتِهِ بِهِ إِلَّا بَعْدَ مَعْرِفَةِ نَبِيِّهِ وَ رَسُوْلِهِ وَ صَفِيِّهِ وَحَبِيْبِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ صَحْبِهِ وَ سَلَّمَ

Para wali mursyid tersebut, tidak akan mencapai makrifat kepada Allah SWT, kecuali setelah mereka bermakrifat kepada Rasulullah Saw. “Ibarat kata, Rasulullah Saw itu jalan dan para wali adalah pintunya” jelas pemateri.

Bahkan lebih jelas lagi disampaikan:

فَهُوَ أَعْظَمُ سَبَبٍ فِي الْوُصُوْلِ إِلَى السَّعَادَةِ الْأَبْدِيَّةِ وَالْخَيْرَاتِ الدُّنْيَوِيَّةِ وَالْأُخْرَوِيَّةِ

Beliau Rasulullah Saw adalah sebab paling utama dalam mencapai kebahagiaan abadi dan kebaikan dunia akhirat.

Tak heran jika Kitab al-Muntakhobat ini dimulai dengan bahasan al-Nur al-Muhammady. Maka, sudah pantas bagi kita untuk senantiasa melanggengkan sholawat kepada Rasulullah Saw.

“Sholawat ini posisinya adalah setara dengan Mursyid dalam hal tarbiyah. Bahkan berlaku bagi orang yang punya ataupun tidak punya guru Mursyid,” terang pemateri ketika memberikan terjemah atas Kitab al-Muntakhobat. “Perbanyak baca Sholawat al-Husainiyah. Demikian kata guru-guru saya,” tegas beliau.

Sayangnya, ada sebagian orang yang masih keliru dalam memposisikan guru mursyidnya. Mereka mendudukkan gurunya di atas segalanya. Mereka meyakini bahwa manfaat dan madharat adalah berasal dari gurunya, seraya lalai akan ‘campur tangan’ Allah SWT.

Orang semacam ini telah salah dalam mengambil keputusan. Perlu diketahui bahwa seharusnya guru mursyid hanyalah sebagai wasilah atau wasithah (perantara), bukan maqshad (tujuan). Akibatnya, mereka akan meninggalkan gurunya ketika suatu saat sang guru gagal memenuhi kehendaknya.

Melalui zoom, Dr. KH. Muhammad Musyafa’ menambahkan agar tidak berhenti kepada mursyid. Jangan menjadi seperti yang telah terjadi kepada kaum Syiah yang terlalu mengkultuskan imam-imamnya. Keterangan tentang ketergantungan kepada mursyid ini semakin menarik dengan adanya tambahan komentar dari Ust. Tajul Muluk, M.Ag dari Jogja dan Ust. A. Miftachul Ulum, M.Ag dari Malang.

Maka menjadi penting untuk berpegang kepada para ulama yang pantas disebut pewaris para nabi. Pewaris dalam arti mewarisi ilmu dan amalnya. Yakni, ulama yang dengan ilmunya memunculkan ketakutan (khos.yah) dan pengagungan (‘udmah) kepada Allah SWT.

Hal ini mengutip QS. Fathir ayat 28. Mata rantai para wali yang bersumber dari para nabi ini akan terus berjalan hingga sampai hari akhir nanti. Hal ini diisyarahkan oleh Syaikh Abul Abas Al-Mursyi dalam menafsir QS. al-Baqarah ayat 106. Tidaklah Kami akan mencabut seorang wali, melainkan akan didatangkan yang lebih baik atau setara dengannya.

Dalam berbagai kesempatan, Hadlratusy Syaikh seringkali menampilkan ayat al-Qur’an dengan disertai penafsirannya. Begitu juga dengan haditsnya. Sehingga bukan tidak mungkin jika beliau pantas mendapatkan julukan sebagai Sufi Mufassir yang Muhaddits.

Terinspirasi dari beliau, sebagai doktor di bidang tafsir, sekaligus Kaprodi IAT di STAI Al Fithrah Surabaya, Dr. Kusroni berharap agar kajian tafsir sufistik dapat dikembangkan di lembaganya, “Saya pingin agar IAT di STAI Al Fithrah, kalau di list perguruan tinggi, menjadi rujukan dalam bidang tafsir sufistiknya” sambung beliau.

Majelis Kajian al-Muntakhobat ini ditutup dengan pembacaan Doa Fatihah. Semoga semakin menambah keberkahan ilmu yang telah didapatkan. Aamiiin.

Penulis : Muhammad Zakki

Puasa Tarwiyah & Arafah

Diantara kesunahan yang terdapat dalam bulan Dzulhijjah adalah puasa di tujuh hari pertama bulan Dzulhijjah, dilanjutkan dengan puasa pada tanggal 8 dan 9 bulan Dzulhijjah. Keterangan ini tertuang dalam kitab I’anatuth Thalibin Juz II hlm. 300.

Dalam kitab ini disebutkan hadits Nabi Saw yang artinya:

“Tidak ada hari-hari yang lebih Allah sukai untuk beribadah selain sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, satu hari berpuasa di dalamnya setara dengan satu tahun berpuasa, satu malam mendirikan shalat malam setara dengan shalat pada malam Lailatul Qadar”

Hadits ini menyampaikan kabar gembira terutama bagi umat islam yang belum berkesempatan menunaikan ibadah haji di manapun berada. Di bulan Dzulhijjah di mana mereka yang berkesempatan menunaikan ibadah haji yang tentunya pahala besar sudah menanti, umat islam lainnya bisa beribadah dengan janji pahala yang besar pula.

Dalam sebuah riwayat yang ditampilkan dalam kitab ini disampaikan bagi orang yang berpuasa di tanggal 9 Dzulhijjah maka ia akan mendapat pengampunan dosa yang sudah ia lakukan setahun sebelumnya dan yang – semoga tidak – ia lakukan di setahun yang akan datang.

Anjuran puasa di tanggal 9 Dzulhijjah ini juga berdasar pada apa yang sudah pernah dilakukan oleh Nabi Saw, semasa hidup beliau.

Adapun puasa di tanggal 8 Dzulhijjah (Tarwiyah) dianjurkan sebagai bentuk sebagai bentuk ihtiyath terhadap hari Arafah dan juga termasuk 10 hari pertama Dzulhijjah, selain hari Idul Adha.

Adapun niat puasa tarwiyah (8 Dzulhijjah), adalah sebagai berikut:

نَوَيْتُ صَوْمَ تَرْوِيَةَ سُنَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى   

Nawaitu shauma tarwiyata sunnatan liLlaahi ta‘aalaa.  

Artinya: Saya berniat puasa sunah Tarwiyah karena Allah ta’ala.

Adapun niat puasa arafah (9 Dzulhijjah), adalah sebagai berikut:

نَوَيْتُ صَوْمَ عَرَفَةَ سُنَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى 

Nawaitu shauma arafata sunnatan liLlaahi ta‘aalaa.   

Artinya: Saya niat puasa sunah Arafah karena Allah ta’ala.  

Semoga segala bentuk ibadah kita di bulan Dzulhijjah ini diterima oleh Allah Swt. Amin, amin. Ya Rabbal ‘alamin