Kajian

Kemuliaan dan Keutamaan Akal dalam Islam Menurut Imam Al-Mawardi dan Imam Al-Ghazali

Majlis Dzikir, Maulidurrasul SAW dan Pengajian Ahad Kedua Bulan Muharram 1448 H telah usai diselenggarakan di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya pada Ahad pagi, 28 Juni 2026 M. / 13 Muharram 1448 H. Dalam majlis itu dibacakan Kitab Al-Muntakhobat fi Rabithah Al-Qolbiyah wa Shilah Al-Ruhiyah Karya Hadratusy Syaikh KH. Ahmad Asrori Al-Ishaqy, tepatnya pada jilid dua bab kemuliaan dan keutaman akal.

Akal merupakan salah satu nikmat terbesar yang Allah Ta’ala anugerahkan kepada manusia. Dengannya manusia mampu membedakan antara yang benar dan yang batil, mengenal Rabb-nya, memahami syariat, serta menjalani kehidupan dengan penuh hikmah. Oleh karena itu, para ulama menempatkan akal sebagai pondasi ilmu, sumber adab, dan sebab sempurnanya taklif (beban syariat).

Dalam khazanah Islam, banyak ulama yang menjelaskan kedudukan akal, di antaranya Sayyiduna Imam Abul Hasan Al-Mawardi dan Imam Hujjatul Islam Al-Ghazali. Penjelasan mereka menunjukkan bahwa akal bukan sekadar kecerdasan berpikir, tetapi juga sarana menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.

Kemuliaan Akal sebagai Dasar Agama dan Kehidupan

Sayyiduna Imam Abul Hasan Al-Mawardi menjelaskan bahwa seluruh keutamaan memiliki dasar, dan seluruh adab mempunyai sumber. Dasar tersebut adalah akal yang Allah jadikan sebagai pondasi agama sekaligus pilar kehidupan dunia.

Beliau berkata bahwa Allah mengaitkan kewajiban syariat dengan kesempurnaan akal. Dengan akal pula manusia mampu menjalankan hukum-hukum Allah serta hidup berdampingan meskipun memiliki keinginan, kebutuhan, dan tujuan yang berbeda-beda.

Hal ini menunjukkan bahwa akal merupakan amanah yang harus dijaga. Semakin baik seseorang menggunakan akalnya untuk menaati Allah, semakin tinggi pula derajatnya di sisi-Nya.

Akal adalah Sumber Ilmu Menurut Imam Al-Ghazali

Imam Hujjatul Islam Al-Ghazali raḥimahullāh menjelaskan hubungan yang sangat erat antara akal dan ilmu.

وَقَالَ سَيِّدُنَا الْإِمَامُ الْحُجَّةُ الْغَزَالِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ: «الْعَقْلُ: مَنْبَعُ الْعِلْمِ وَمَطْلَعُهُ وَأَسَاسُهُ، وَالْعِلْمُ يَجْرِي مِنْهُ مَجْرَى الثَّمَرَةِ مِنَ الشَّجَرَةِ، وَالنُّورِ مِنَ الشَّمْسِ، وَالرُّؤْيَةِ مِنَ الْعَيْنِ، فَكَيْفَ لَا يَشْرُفُ مَا هُوَ وَسِيلَةُ السَّعَادَةِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ؟ …»

Artinya:

“Akal adalah sumber ilmu, tempat terbitnya ilmu, dan fondasinya. Ilmu berasal dari akal sebagaimana buah berasal dari pohon, cahaya berasal dari matahari, dan penglihatan berasal dari mata. Maka, bagaimana mungkin sesuatu yang menjadi sarana menuju kebahagiaan di dunia dan di akhirat tidak memiliki kemuliaan?”

Melalui penjelasan ini, Imam Al-Ghazali memberikan tiga perumpamaan yang sangat indah mengenai hubungan akal dan ilmu.

  • Ilmu berasal dari akal sebagaimana buah berasal dari pohon. Pohon menjadi sebab lahirnya buah.
  • Ilmu berasal dari akal sebagaimana cahaya berasal dari matahari. Cahaya tidak akan ada tanpa sumbernya.
  • Ilmu berasal dari akal sebagaimana penglihatan berasal dari mata. Mata menjadi alat yang memungkinkan seseorang melihat.

Karena ilmu merupakan jalan menuju kebahagiaan dunia dan akhirat, maka akal sebagai fondasi ilmu memiliki kedudukan yang sangat mulia. Akal hendaknya digunakan untuk mengenal Allah, mencari kebenaran, memahami syariat, serta mengamalkan ilmu dengan penuh keikhlasan.

Tanda-Tanda Orang yang Berakal dalam Islam

Kemuliaan akal tidak hanya diukur dari kecerdasan berpikir, tetapi juga tercermin dalam kemampuan mengendalikan diri dan memperbaiki akhlak.

Dalam Al-Ḥikam aṣ-Ṣughrā al-‘Aṭā’iyyah disebutkan:

يُعْرَفُ الْعَاقِلُ بِثَلَاثٍ: بِمَلَكَتِهِ نَفْسَهُ عِنْدَ الشَّهْوَةِ، وَبِمَلَكَتِهِ لَهَا عِنْدَ الْغَضَبِ، وَبِتَرْكِهِ مَا لَا يَعْنِيهِ مَعَ الْقُدْرَةِ عَلَى الدُّخُولِ فِيهِ.

Artinya:

“Seseorang yang berakal dikenali dari tiga perkara: kemampuannya menguasai dirinya ketika dorongan syahwat muncul, kemampuannya mengendalikan dirinya ketika sedang marah, dan kesediaannya meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat baginya, padahal ia mampu untuk turut campur di dalamnya.”

Selain itu disebutkan pula sepuluh tanda kesempurnaan akal.

عَلَامَةُ الْعَقْلِ عَشْرٌ، خَمْسَةٌ مِنْهَا فِي الظَّاهِرِ، وَخَمْسَةٌ مِنْهَا فِي الْبَاطِنِ. أَمَّا الظَّاهِرُ: فَالصَّمْتُ، وَالتَّوَاضُعُ، وَحُسْنُ الْخُلُقِ، وَصِدْقُ الْقَوْلِ، وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ. وَأَمَّا الْبَاطِنُ: فَالتَّفَكُّرُ، وَالِاعْتِبَارُ، وَالْخُشُوعُ، وَالْخَوْفُ، وَذِكْرُ الْمَوْتِ.

Artinya:

“Tanda-tanda orang yang berakal ada sepuluh. Lima di antaranya tampak secara lahiriah, dan lima lainnya bersifat batiniah.

Adapun yang lahiriah ialah:

  1. Diam (menjaga lisan).
  2. Rendah hati.
  3. Akhlak yang baik.
  4. Jujur dalam perkataan.
  5. Beramal saleh.

Adapun yang batiniah ialah:

  1. Gemar berpikir dan merenung.
  2. Mengambil pelajaran dari setiap peristiwa.
  3. Khusyuk.
  4. Takut kepada Allah.
  5. Selalu mengingat kematian.”

Ungkapan ini menegaskan bahwa kesempurnaan akal tidak hanya tampak dari kecerdasan intelektual, tetapi juga dari kemuliaan akhlak dan kebersihan hati. Orang yang benar-benar berakal adalah mereka yang mampu mengendalikan hawa nafsu, menjaga lisan, memperbaiki perilaku, serta menghidupkan hati dengan tafakur, mengambil ibrah, takut kepada Allah, dan senantiasa mengingat kehidupan akhirat.

Penutup

Akal merupakan karunia agung yang Allah Ta’ala berikan kepada manusia sebagai dasar memahami agama, memperoleh ilmu, dan menjalani kehidupan dengan penuh hikmah. Imam Al-Mawardi menegaskan bahwa akal adalah pondasi agama dan sumber adab, sedangkan Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa akal merupakan sumber lahirnya ilmu yang mengantarkan manusia menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.

Oleh sebab itu, setiap muslim hendaknya memelihara akalnya dengan ilmu yang bermanfaat, memperindahnya dengan akhlak yang mulia, serta menggunakannya untuk semakin dekat kepada Allah Ta’ala. Inilah hakikat kemuliaan akal dalam Islam, yaitu akal yang membimbing pemiliknya menuju kebenaran, ketakwaan, dan keselamatan di dunia maupun di akhirat.

Referensi:

Al-Muntakhobat fi Rabithah Al-Qolbiyah wa Shilah Al-Ruhiyah Karya Hadratusy Syaikh KH. Ahmad Asrori Al-Ishaqy, jilid 1, hal. 276.

Menggapai Lailatul Qodar di Majlis Sholat Malam 27 Ramadhan

Bulan Ramadhan tidak lama lagi akan berpamitan. Gegap gempita ibadah di dalamnya akan kita rindukan. Yaa semestinya itu yang perlu kita hidupkan di bulan-bulan Ramadhan.

Di antara ‘hadiah besar’ yang ada di bulan Ramadhan adalah Lailatul Qodar. Malam Lailatul Qodar adalah modal yang sangat besar. Keistimewaannya yang berlipat ganda membuat semua hati ingin mengejar. Apakah semua orang berhak untuk mendapatkan keutamaan Lailatul Qodar?

Tanda-tanda Lailatul Qodar

Lailatul Qodar memiliki tanda-tanda yang bisa dirasakan oleh banyak orang. Tanda-tanda ini meliputi tanda-tanda alam dan tanda-tanda rasa.

Tanda-tanda alam Lailatul Qodar di antaranya adalah pada malam itu tidak terasa panas dan tidak pula dingin. Malam itu nyaman dan tenteram sekali. Pada pagi harinya, matahari terbit dan sinar sorot dan hanya menampakkan kuningnya selayaknya kuning telur.

Pada malam itu juga tidak terdengar gonggongan anjing. Atau maknanya adalah tidak terdengar suara yang tidak Allah ridai pada malam Lailatul Qodar.

Tanda-tanda rasa Lailatul Qodar bisa dirasakan oleh orang yang mendapatkannya. Pada malam itu hati terasa mudah tersentuh. Muncul perasaan rendah diri dan merasa banyak kesalahan dan dosa yang dilakukan.

Yang muncul hanyalah rasa tunduk. Hingga kemudian keluar air mata. Pada waktu itulah bertepatan dengan disalami oleh Malaikat Jibril.

Kapan Lailatul Qodar?

Para ulama berselisih tentang kapan Lailatul Qodar. Tak lain sebab Allah merahasiakan kapan Lailatul Qodar.

Ada banyak riwayat yang menyatakan bahwa para sahabat dan ulama salaf yang mengalami Lailatul Qodar di tanggal yang berbeda-beda.

Dari banyaknya pengalaman para sahabat didapati bahwa mereka ‘menemukan’ Lailatul Qodar pada malam 27 Ramadhan (pitulikur). Hal ini yang kemudian melandasi kegiatan Majlis Dzikir dan Sholat Malam di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya dilaksanan setiap malam 27 Ramadhan atau Pitulikuran. Tentu dengan tidak melupakan pelaksanaan dzikir dan sholat malam setiap malam selama bulan Ramadhan.

Berikut doa munajat yang biasa dibaca ketika Majlis Sholat Malam 27 Ramadhan di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya.

مُوَدَّعْ مُوَدَّعْ يَا رَمَضَانَ # عَوْدَةً عَلَيْنَا بِالْغُفْرَانِ

حُوَيْدِي أَعِدْ لِي يَا رَمَضَانُ # حَدِيْثُ الْحَبَائِبُ يَا رَمَضَانُ

وَمَا حَالَ مِنْهُمْ يَا رَمَضَانُ # عَنِ الْعَيْنِ غَائِبُ يَا رَمَضَانُ

جَمِيْلُ الْمُحَيَّا يَا رَمَضَانُ # جَعِيْدُ أَمْ ذَوَائِبْ يَا رَمَضَانُ

رَعَا اللهُ لَيَالِي يَا رَمَضَانُ # حُظِيْنَا بِوَصْلِهُ يَا رَمَضَانُ

وَطَابَ اتَّصَالِي يَا رَمَضَانُ # بِعَلَّهُ وَنَهْلِهْ يَا رَمَضَانٌ

فَيَا ذَا الْجَلَالِ يَا رَمَضَانُ # لُفْ شَمْلِي بِشَمْلِهُ يَا رَمَضَانُ

فَقَلْبِي مِنَ الْبُعْدِ يَا رَمَضَانُ # وَالْهَجْرُ ذَائِبْ يَا رَمَضَانُ

أَنَا سَأَتْرُكِ الْهَمَّ يَا رَمَضَانُ # وَوَاصِلْ سُرُورِي يَا رَمَضَانُ

وَشَادْخُلْ وَشَازْحَمْ يَا رَمَضَانُ # بِقَلْبٍ جَشُوْرِي يَا رَمَضَانُ

وَلِي رَبِّ يَعْلَمْ يَا رَمَضَانُ # بِخَافِي أُمُوْرِي يَا رَمَضَانُ

أَرَى اللَّوْمَ عِنْدِي يَا رَمَضَانُ # خَطَأً غَيْرُ صَائِبْ يَا رَمَضَانْ

أَنَا مُسْتَجِيْرُ بَالُ يَا رَمَضَانُ # جَمَالُ الْمُكَمَّلْ يَا رَمَضَانُ

وَمَنْ فِي النَّبِيِّينَ يَا رَمَضَانُ # أَفْضَلْ وَأَكْمَلْ يَا رَمَضَانُ

أَبُو الْقَاسِمْ أَحْمَدْ يَا رَمَضَانُ # لَنَا خَيْرُ مُرْسَلٌ يَا رَمَضَانُ

بِهِ تَنْقَضِيْ لِي يَا رَمَضَانُ # جَمِيعُ الْمَطَالِبُ يَا رَمَضَانُ

وَمَنْ كَانَ جَدُّهُ يَا رَمَضَانَ # مُحَمَّد تَبَجَّحْ يَا رَمَضَانْ

فَفِي كُلِّ وَزْنَةً يَا رَمَضَانُ # فَوَزْنَتُهُ أَرْجَحْ يَا رَمَضَانُ

بِبَرْكَتِه رَبِّي يَا رَمَضَانُ # يُجَاوِزُ وَيَسْمَحْ يَا رَمَضَانُ

إِذَا اعْيَتْ عَلَيْنَا يَا رَمَضَانُ # جَمِيعُ الْمَذَاهِبْ يَا رَمَضَانُ

Siapa yang berhak atas Lailatul Qodar

Kembali ke pertanyaan awal tentang apakah semua orang bisa ‘memetik keutamaan’ Lailatul Qodar?

Terkait ini Hadratusy Syaikh KH. Ahmad Asrori Al-Ishaqy pernah dawuh:

“Kulo kaleh panjenengan dipun pacu dening Gusti Allah. Dipun pacu dus pundi? Shidqut tawajjuh ilaa Allah. Mboten cuma ngelakoni, mboten cuma tunduk. Estu. Estu seng ndadosaken kulo kaleh panjenengan niku shidqut tawajjuh niku nopo? Iso ngumpulaken pikiran lan atine dadi siji. Dikumpulaken ten pundi? Madep dateng Gusti Allah. Coro dus pundi? Ilang rasane. Mboten cumak ngelakoni tok mboten”

(Dengan dirahasiakannya Lailatul Qodar) saya dan Anda sekaliyan dipacu oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Dipacu untuk apa? Bersungguh-sungguh menghadap kepada Allah (shidqut tawajjuh). Bersungguh-sungguh. Bukan hanya sekadar melaksanakan. Bukan hanya tunduk. Bersungguh-sungguh bagaimana yang menyebabkan saya dan Anda sekaliyan menghadap kepada Allah subhanahu wa ta’ala? Yaitu yang bisa mengumpulkan hati dan pikiran menjadi satu. Dikumpulkan ke mana? Menghadap kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Caranya bagaimana? Hilang rasanya (dari kepentingan). Bukan hanya melaksanakan-melaksanakan (ibadah) saja” (terj.)

Semoga kita senantiasa diberikan kemudahan dan keistikomahan dalam menghadap dan sibo kehadirat Allah subhanahu wa ta’ala. Aamiin

Bacaan Bilal Shalat Tarawih Ramadhan Ala Al Fithrah

Shalat Tarawih merupakan syiar agung di bulan Ramadhan yang telah menjadi tradisi umat Islam sejak masa Nabi Muhammad. Pada masa Umar bin Khattab, pelaksanaan tarawih berjamaah disempurnakan dan dirapikan dalam satu imam sehingga menjadi tradisi yang terus hidup hingga hari ini.

Di berbagai pesantren dan majelis dzikir, termasuk di lingkungan Al Fithrah, bacaan Bilal Shalat Tarawih memiliki kekhasan tersendiri. Bacaan ini bukan sekadar seruan, tetapi menjadi pengikat kekhusyukan, penanda perpindahan rakaat, serta penguat semangat jamaah dalam beribadah.

Peran Bilal dalam Shalat Tarawih

Dalam tradisi pesantren, bilal bertugas:

  • Mengumumkan jeda antar rakaat
  • Membaca shalawat dan doa tertentu
  • Mengajak jamaah memperbanyak dzikir
  • Menjaga irama dan kekhidmatan suasana

Peran ini meneladani semangat sahabat Bilal bin Rabah yang dikenal sebagai muadzin Rasulullah dan simbol keteguhan dalam syiar Islam.

Susunan Bacaan Bilal Shalat Tarawih Ala Al Fithrah

Berikut adalah susunan bacaan Bilal Shalat Tarawih Ramadhan ala Al Fithrah.

1. Bacaan Sebelum Tarawih

مبلغ

اَلصَّلَاةَ سُنَّةَ مِنَ التَّرَاوِيْحِ رَكْعَتَيْنِ جَامِعَةً رَحِمَكُمُ اللهُ

جماعة

اَلصَّلَاةُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

مبلغ:

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ .

جماعة:

اَللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ .

2. Bacaan Setelah Salam Pertama

مبلغ

اَلْبَدْرُ نَبِيُّكُمْ مُحَمَّدٌ صَلُّوْا عَلَيْهِ

جماعة:

صَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

مبلغ:

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ .

جماعة:

اَللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ .

3. Bacaan Setelah Salam Kedua

مبلغ:

فَضْلًا مِنَ اللهِ تَعَالَى وَنِعْمَةً

 جماعة:

وَمَغْفِرَةً وَرَحْمَةً يَا تَوَّابُ يَاغَفَّارُ يَا وَاسِعَ الْمَغْفِرَةِ يَا أَرْحَمَ الرّاحِمِيْنَ اِرْحَمْنَا.

مبلغ:

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ .

جماعة:

اَللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ .

4. Bacaan Setelah Salam Ketiga

مبلغ:

خَلِيْفَةُ رَسُولِ اللَّهِ سَيِّدُنَا أَبُوْ بَكْرِ نِ الصِّدِّيْقِ، تَرَضَّوْا عَنْهُ

جماعة:

رَضِيَ اللهُ عَنْهُ وَنَفَعَنَا بِهِ فِي الدِّينِ وَالدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ.

مبلغ:

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ .

جماعة:

اَللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ .

5. Bacaan Setelah Salam Keempat (Setelah Yaa Tawwab)

مبلغ:

فَضْلًا مِنَ اللهِ تَعَالَى وَنِعْمَةً

 جماعة:

وَمَغْفِرَةً وَرَحْمَةً يَا تَوَّابُ يَاغَفَّارُ يَا وَاسِعَ الْمَغْفِرَةِ يَا أَرْحَمَ الرّاحِمِيْنَ اِرْحَمْنَا.

مبلغ:

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ .

جماعة:

اَللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ .

6. Bacaan Setelah Salam Kelima

مبلغ:

أَمِيْرُ الْمُؤْمِنِيْنَ سَيِّدُنَا عُمَرُ ابْنُ الخَطَّابِ، تَرَضَّوْا عَنْهُ.

جماعة:

رَضِيَ اللهُ عَنْهُ وَنَفَعَنَا بِهِ فِي الدِّينِ وَالدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ.

مبلغ:

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ .

جماعة:

اَللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ .

7. Bacaan Setelah Salam Keenam

مبلغ:

فَضْلًا مِنَ اللهِ تَعَالَى وَنِعْمَةً

 جماعة:

وَمَغْفِرَةً وَرَحْمَةً يَا تَوَّابُ يَاغَفَّارُ يَا وَاسِعَ الْمَغْفِرَةِ يَا أَرْحَمَ الرّاحِمِيْنَ اِرْحَمْنَا

مبلغ:

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

جماعة:

اَللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ

8. Bacaan Setelah Salam Ketujuh

مبلغ:

أَمِيْرُ الْمُؤْمِنِيْنَ سَيِّدُنَا عُثْمَانُ ابْنُ عَفَّانَ ، تَرَضَّوْا عَنْهُ

جماعة:

رَضِيَ اللهُ عَنْهُ وَنَفَعَنَا بِهِ فِي الدِّينِ وَالدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ.

مبلغ:

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ .

جماعة:

اَللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ .

9. Bacaan Setelah Salam Kedelapan (Setelah Yaa Allah biha)

مبلغ:

فَضْلًا مِنَ اللهِ تَعَالَى وَنِعْمَةً

 جماعة:

وَمَغْفِرَةً وَرَحْمَةً يَا تَوَّابُ يَاغَفَّارُ يَا وَاسِعَ الْمَغْفِرَةِ يَا أَرْحَمَ الرّاحِمِيْنَ اِرْحَمْنَا.

مبلغ:

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ .

جماعة:

اَللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ .

10. Bacaan Setelah Salam Kesembilan

مبلغ:

أَمِيْرُ الْمُؤْمِنِيْنَ سَيِّدُنَا عَلِيُّ ابْنُ أَبِيْ طَالِبْ كَرَمَ اللهُ وَجْهَهُ ، تَرَضَّوْا عَنْهُ.

جماعة:

رَضِيَ اللهُ عَنْهُ وَنَفَعَنَا بِهِ فِي الدِّينِ وَالدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ.

مبلغ:

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ .

جماعة:

اَللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ .

11. Bacaan Sholat Witir Dua Rakaat

مبلغ

اَلصَّلَاةَ سُنَّةَ مِنَ الْوِتْرِ رَكْعَتَيْنِ جَامِعَةً رَحِمَكُمُ اللهُ

جماعة

اَلصَّلَاةُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

مبلغ:

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ .

جماعة:

اَللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ .

12. Bacaan Sholat Witir Satu Rakaat

مبلغ

اَلصَّلَاةَ سُنَّةَ مِنَ الْوِتْرِ رَكْعَةً جَامِعَةً رَحِمَكُمُ اللهُ

جماعة

اَلصَّلَاةُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

مبلغ:

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ .

جماعة:

اَللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ .

Keutamaan Menghidupkan Tarawih

Dalam hadits shahih disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barang siapa menghidupkan Ramadhan dengan iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
(HR. Muhammad al-Bukhari dan Muslim ibn al-Hajjaj)

Tradisi bacaan bilal yang tertata dan penuh adab membantu jamaah menjaga niat, kekhusyukan, dan semangat hingga akhir rakaat.

Ciri Khas Bacaan Ala Al Fithrah

Beberapa ciri khas bacaan bilal ala Al Fithrah antara lain:

  • Irama yang tenang dan khidmat
  • Penekanan pada shalawat kepada Nabi ﷺ
  • Doa yang sarat makna taubat dan mahabbah
  • Kekompakan antara bilal, imam, dan jamaah

Hal ini menjadikan suasana tarawih terasa lebih hidup, bukan hanya sebagai ibadah rutin, tetapi juga sebagai majelis dzikir yang menyentuh hati.

Penutup

Bacaan Bilal Shalat Tarawih Ramadhan ala Al Fithrah adalah bagian dari khidmah dalam menjaga tradisi Ahlus Sunnah wal Jamaah. Ia bukan sekadar teks bacaan, tetapi warisan ruhani yang memperindah malam-malam Ramadhan.

Semoga Allah ﷻ menerima amal ibadah kita dan mempertemukan kita dengan Lailatul Qadar.

Mutih: Agar Puasa Ramadhan Lebih Bermakna

Tak lama lagi Ramadhan tiba. Umat Islam menyambutnya dengan bahagia. Ramadhan adalah bulan penuh ampunan. Bulan diturunkannya Alquran. Bulan untuk berpuasa dan segala macam ibadah Allah mudahkan untuk dilakukan.

Ramadhan adalah waktunya untuk sama-sama merasakan apa yang orang tidak berpunya rasakan. Kita diwajibkan berpuasa dan berlapar-lapar selama berpuasa.

Dalam kenyataannya, lapar kita di bulan Ramadhan adalah pada saat siang hati saja, malamnya kebanyakan kita dalam keadaan kenyang. Puasanya hanyalah berganti jadwal makan aja. Sementara porsi makannya sama.

Oleh karenya, para guru menganjurkan untuk mutih. Tarak istilah lainnya. Tarak berasal dari kata berbahasa Arab taraka yang berarti meninggalkan. Dalam hal ini, tarak bermakna meninggalkan atau menjauhi makan makanan yang mengandung nyawa (hewani).

Mutih Sebagai Instrumen Mendekatkan diri Kepada Ilahi

Syaikh Abdul Wahab Asy-Sya’roni dalam Kitab Al-Anwar Al-Qudsiyah nya mengatakan bahwa memperbanyak lapar adalah bagian dari pada adab seorang murid dalam usaha mendekatkan diri kepada Allah. Dalam hal ini beliau mengatakan:

إِنَّ أَرْكَانَ الطَّرِيقِ أَرْبَعَةُ أَشْيَاءَ: الْجُوعُ وَالْعُزْلَةُ وَالسَّهَرُ وَقِلَّةُ الْكَلَامِ. فَإِذَا جَاعَ الْمُرِيدُ تَبِعَتْهُ الْأَرْكَانُ الثَّلَاثَةُ الْبَاقِيَةُ بِالْخَاصِّيَّةِ، فَمِنْ شَأْنِ الْإِنْسَانِ إِذَا جَاعَ أَنْ يَقِلَّ كَلَامُهُ وَيَكْثُرَ سَهَرُهُ وَيُحِبَّ الْعُزْلَةَ عَنِ النَّاسِ.

“Sesungguhnya pilar-pilar tarekat itu ada empat; lapar, menyendiri, berjaga dan sedikit bicara. Apabila seorang murid merasa lapar, maka tiga pilar lainnya akan secara otomatis mengikutinya. Memang sudah menjadi tabiat manusia, apabila ia lapar, maka ia sedikit bicaranya, lebih banyak terjaganya, dan ia cenderung menyukai menyendiri dari manusia lainnya.” (Anwarul Qudsiyah, Al-Haramain, 38-39).

Dalam praktiknya, puasa mutih bukanlah cara lapar ekstrem dengan tidak makan sama sekali. Mutih adalah komitmen pribadi untuk hanya mau makan makanan yang nabati saja. Nafsu makan ada, tapi tidak dengan memenuhinya. Mutih adalah cara kecil agar ‘tetap’ lapar meski sudah makan.

Tidak ada tatacara khusus dalam mutih yang diamalkan oleh para murid Tarekat Qadiriyyah wan Naqsyabandiyyah Al-Utsmaniyyah. Mereka berpuasa sebagaimana mestinya. Hanya saja ketika waktu sahur dan berbuka, mereka membatasi diri untuk tidak mengonsumsi semua makanan yang ada.

Setiap bulan Ramadlan tiba, para murid –terutama yang telah berbai’at TQN Al-Utsmaniyyah dimana Hadratusy Syaikh KH. Ahmad Asrori Al-Ishaqy adalah mursyidnya–, di-anjurkan [baca: didawuhi] untuk tidak mengonsumsi makanan dan minuman yang berasal dari makhluk yang bernyawa, atau yang salah satu campuran bahan pembuatannya terdapat unsur hewani. Ritual ini disebut dengan mutih atau tarak dalam bahasa Jawa.

Singkatnya, mutih, baik dilaksanakan ketika puasa ataupun ketika tidak berpuasa, adalah bertujuan untuk membatasi diri dari banyak makan dan agar tubuh tetap lapar. Dalam keadaan lapar itu diharapkan, tubuh dapat memperbanyak mendekatkan diri kepada Ilahi, sebagaimana yang disampaikan oleh Syaikh Abu Sulaiman Ad-Daroni yang dikutip oleh Syaikh Abdul Wahab Asy-Sya’roni:

وَكانَ أَبُو سُلَيْمانَ الدَّارانِيُّ يَقُولُ: «مِفْتاحُ الدُّنْيا الشِّبَعُ، وَمِفْتاحُ الآخِرَةِ الجُوعُ» يَعْنِي أَعْمالَها.

Dan Abu Sulaiman ad-Darani berkata: “Kunci (kesibukan dan ketergantungan pada) dunia adalah kenyang, dan kunci akhirat adalah lapar,” maksudnya adalah amal-amal untuk akhirat.

Waktu Pelaksanaan Mutih

Bagi jamaah laki-laki, mutih dilakukan mulai memasuki tanggal 21 Sya’ban. Di tahun ini akan dimulai sejak Ahad malam Senin, 8 Februari 2026 M. Sedangkan jamaah perempuan memulai mutihnya pada tanggal 1 Ramadlan. Ritual mutih dilakukan sampai bulan Ramadlan selesai, kecuali malam Jum’at pada bulan Ramadlan.

Artinya, setiap malam Jum’at bulan Ramadlan, mereka ‘libur’ serta tidak melakukan ritual mutih. Sebab, hari Jum’at –yang dimulai sejak terbenamnya matahari pada hari Kamis– adalah hari raya mingguan bagi umat Islam. Nisbatnya sebuah hari raya, mereka tak mempunyai pantangan apapun mengenai makanan apa yang tidak boleh dikonsumsi.

Namun pada malam (Jum’at) itu, para murid ‘melakukan ritual lain’, yaitu membaca tiga macam shalawat yang telah ditentukan, yaitu Sholawat Habibil Mahbub, Sholawat Thibbil Qulud dan Sholawat Qod Dloqot, masing-masing dibaca sebanyak 1000 kali. Meskipun begitu, mutih bagi jamaah lelaki yang dimulai pada 10 hari (terakhir) bulan Sya’ban tidak ada ‘liburnya’, meskipun pada malam Jum’at.

Tujuan Mutih

Ritual mutih dilakukan agar ketika berbuka puasa, mereka tidak bersenang-senang dan ‘mengumbar’ hawa nafsunya dengan makanan ataupun minuman yang lezat. Sehingga, kemungkinan kekenyangan yang dapat mengakibatkan nafsu kembali menjadi kuat setelah seharian nafsu dikekang dengan berpuasa, bisa diminimalisir.

Tujuan utama mutih adalah untuk riyadhoh (melatih jiwa), mujahadah (memerangi nafsu), taqliluth thoam (menyedikitkan makan) agar hawa nafsu bisa dikendalikan, semangat beribadah (Jawa: rikat) dan agar dibersihkan dari pengaruh-pengaruh makanan syubhat dan haram.

Oleh karenanya, selain agar puasa Ramadhan lebih bermakna, perintah mutih dari Guru Mursyid kepada murid lebih pada sisi menghasilkan kesempurnaan bagi murid. Jika dirasa bermanfaat kemudian ia meninggalkan, maka ia termasuk melakukan adab yang buruk (su’ul adab).

Referensi:

Anwarul Qudsiyah, Sangkapura, Al-Haramain, 38-39

Surat Edaran Maklumat Mutih 1447 H

Perbanyak Dzikir di Bulan Rajab: Majlis Ahad Awal di Ponpes Assalafi Al Fithrah Surabaya

Surabaya (21/12) Hujan tak menyurutkan antusias para Jamaah Ath Thariqah, Al Khidmah dan umat muslim dari berbagai daerah untuk hadir di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya. Mereka hendak menyambungkan hati dan menambatkan ruhani mereka melalui hadir dalam Majlis Manaqib Ahad Awal Bulan Rajab 1447 H.

Rajab, Bulan Mulia untuk Menghidupkan Dzikir

Bulan Rajab 1447 Hijriyah kembali disambut dengan penuh kekhusyukan melalui Majlis Rutin Ahad Awal Bulan Rajab yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya. Kegiatan ini disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube dan diikuti oleh jamaah dari berbagai daerah.

Majlis dzikir ini bukan sekadar rutinitas bulanan, melainkan menjadi momentum ruhani untuk menghidupkan hati dengan mengingat Allah, terutama di bulan Rajab yang termasuk al-asyhur al-hurum (bulan-bulan yang dimuliakan).

Allah SWT berfirman:

> إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ … مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ

“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ada dua belas bulan… di antaranya ada empat bulan yang dimuliakan.” (QS. At-Taubah: 36)

Para ulama tafsir menjelaskan bahwa Rajab termasuk salah satu dari empat bulan mulia tersebut.

Dzikir: Amalan Paling Mudah dan Agung

Dalam Majlis Rutin Ahad Awal Bulan Rajab ini, jamaah diajak untuk memperbanyak dzikir karena dzikir adalah amalan yang paling ringan di lisan namun berat dalam timbangan pahala.

Rasulullah ﷺ bersabda:

أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرِ أَعْمَالِكُمْ، وَأَزْكَاهَا عِنْدَ مَلِيكِكُمْ… ذِكْرُ اللَّهِ

“Maukah aku kabarkan kepada kalian amal terbaik, paling suci di sisi Tuhan kalian…? Yaitu dzikir kepada Allah.” (HR. Tirmidzi)

Dalam kitab Al-Adzkar karya Imam An-Nawawi disebutkan:

> اعلم أن الذكر محبوب في جميع الأحوال، إلا في أحوال مخصوصة

“Ketahuilah, dzikir itu dicintai dalam setiap keadaan, kecuali pada kondisi-kondisi khusus.” (Al-Adzkar, Imam An-Nawawi)

Ini menunjukkan bahwa dzikir adalah amalan universal, bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja.

Rajab dan Tradisi Dzikir Berjamaah

Tradisi dzikir berjamaah sebagaimana yang dilaksanakan di Ponpes Assalafi Al Fithrah memiliki dasar kuat dalam literatur klasik. Imam As-Suyuthi dalam Natijah Al-Fikr menegaskan keutamaan majlis dzikir:

مجالس الذكر رياض الجنة

“Majlis dzikir adalah taman-taman surga.” (HR. Tirmidzi)

Karena itu, berkumpulnya jamaah dalam Majlis Rutin Ahad Awal Bulan Rajab bukan hanya mempererat ukhuwah, tetapi juga menjadi sarana turunnya rahmat dan ketenangan hati.

Allah SWT berfirman:

> أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra’d: 28)

Pesan Spiritual dari Majlis Ahad Awal Rajab

Majlis Rutin Ahad Awal Bulan Rajab di Ponpes Assalafi Al Fithrah mengajarkan bahwa memasuki Rajab bukan sekadar pergantian waktu, melainkan panggilan untuk memperbaiki hubungan dengan Allah SWT.

Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali رحمه الله berkata:

> رجب شهر الزرع، وشعبان شهر السقي، ورمضان شهر الحصاد

“Rajab adalah bulan menanam, Sya’ban bulan menyiram, dan Ramadhan bulan memanen.” (Latha’if Al-Ma’arif)

Maka memperbanyak dzikir di bulan Rajab adalah benih ruhani untuk menyambut Ramadhan dengan hati yang bersih.

Penutup

Majlis Rutin Ahad Awal Bulan Rajab 1447 H di Ponpes Assalafi Al Fithrah Surabaya menjadi pengingat bahwa dzikir adalah kunci kehidupan hati. Melalui dzikir, seorang hamba mendekat kepada Allah, menenangkan jiwa, dan memperkuat iman.

Sebagaimana namanya, Majlis Manaqib Ahad Awal adalah kegiatan majlis rutin setiap Ahad pertama bulan hijriyah yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya

Semoga majlis seperti ini terus hidup dan menjadi wasilah turunnya rahmat Allah bagi umat Islam, khususnya di bulan Rajab yang penuh kemuliaan.

اللهم اجعلنا من الذاكرين الله كثيرا والذاكرات

Dalam Majlis ini juga diumumkan akan diadakannya Majlis Ahad Kedua Bulan Rajab pada Hari Ahad, 28 Desember 2025 M / 8 Rajab 1447 H dan juga Haul Akbar Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya pada Sabtu malam dan Ahad pagi, 24-25 Januari 2026 M / 6 Sya’ban 1447 H. Semoga diberikan rezeki yang luas, kesehatan dan kesempatan, sehingga dapat hadir bersama keluarga dalam majlis-majlis yang mulia. Aamiiin