Agenda

Al Fithrah Surabaya Wisuda 721 Santri, Pesan Menjaga Identitas Santri Menggema

SURABAYA – Suasana haru dan penuh kebanggaan menyelimuti pelaksanaan Wisuda Ke-24 Tahun Ajaran 2025/2026 Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya yang digelar pada 3–4 Juni 2026. Kegiatan yang berlangsung di Masjid Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah ini dihadiri oleh segenap Keluarga Ndalem Pengasuh Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya, dewan asatidz, wali santri, serta tamu undangan dari Kementerian Agama.

Pada hari pertama, hadir Kepala Bidang Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur, Imam Turmidi, S.Ag., M.H.I. Sementara pada hari kedua, hadir Kepala Seksi Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama Kota Surabaya, Fathul Mubin, S.Pd., M.Pd.I.

Sebanyak 721 santri resmi diwisuda yang terdiri atas 416 santri Program Pendidikan Diniyah Formal (PDF) Wustha Al Fithrah, 266 santri PDF Ulya Al Fithrah, 14 santri Ma’had Aly Al Fithrah, dan 25 santri MDT Jami’ah Al Fithrah. Prosesi diawali dengan pembacaan Tawasul, Istighotsah, Maulid fi Hubby, serta pembacaan surat keputusan kelulusan. Hari pertama dilaksanakan wisuda santri putri dan hari kedua dilaksanakan wisuda untuk santri putra.

Perjalanan Panjang Menuju Ilmu

Dalam sambutannya, Mewakili Keluarga Ndalem Pengasuh Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah, Nyai Siera En Nadia El Ishaqia menyampaikan rasa syukur atas keberhasilan para santri menyelesaikan pendidikan. Beliau menegaskan bahwa kelulusan bukanlah akhir dari proses belajar, melainkan awal dari pengamalan ilmu yang lebih luas di tengah masyarakat.

“Kita ini saat pertama kali masuk ke dalam pondok pesantren ibarat gelas yang kosong. Perlahan, gelas itu kini telah terisi dengan banyaknya ilmu, disertai dengan pengalaman dan banyaknya pelajaran hidup yang bisa menjadi pegangan anak-anakku semua di luar sana. Apa yang telah kalian istikomahkan di dalam pondok, semoga bisa diistikomahkan di rumah” pesan beliau.

Sementara pada Sambutan Kepala Pondok hari kedua, Ustadz Nashiruddin, M.Pd mengingatkan bahwa capaian para wisudawan lahir dari proses panjang yang penuh perjuangan. Menurutnya, setiap santri pernah berada pada fase sulit saat mempelajari kitab-kitab yang belum dipahami, namun akhirnya mampu bertahan hingga mencapai titik kelulusan.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Keluarga Ndalem yang senantiasa memberikan doa dan dukungan kepada para santri. Selain itu, para lulusan diharapkan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi agar ilmu yang diperoleh semakin berkembang dan berkelanjutan.

“Kami sangat berharap agar para santri terus melanjutkan pendidikan pada jenjang berikutnya. Apa yang telah diperoleh di pondok ini hendaknya diamalkan ketika berada di tengah masyarakat. Jika ingin sukses, maka harus dengan ilmu,” ujarnya.

Menjaga Identitas dan Martabat Santri

Sambutan mewakili wisudawan pada hari kedua disampaikan oleh Ahmad Hasan Hariri. Dalam pesannya, ia mengingatkan bahwa tantangan terbesar setelah lulus bukanlah meraih profesi tertentu, melainkan mempertahankan identitas sebagai santri.

“Yang susah bukan menjadi tentara atau dokter, tetapi tetap menjadi santri dan mempertahankan identitas santri,” ungkapnya.

Ia juga menekankan pentingnya adab dalam menuntut ilmu, khususnya penghormatan kepada guru sebagai bagian dari ta’dzimul ilmi. Menurutnya, keberhasilan seorang santri tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan, tetapi juga oleh keberkahan ilmu yang diperoleh melalui penghormatan kepada para pendidik, serta doa-doa yang tak pernah usai.

“Hari ini kita berdiri di tempat yang sama, tetapi setelah ini kita akan melangkah menuju jalan yang berbeda-beda. Meski langkah kita nanti tidak lagi berjalan berdampingan seperti hari ini, semoga kita tetap terhubung oleh doa dan nilai-nilai yang telah tumbuh di dalam tubuh kita” ujar Yunita Hikmatal Karimah dalam sambutannya mewakili wisudawati.

Momen haru semakin terasa ketika para wisudawan menerima medali dan sertifikat kelulusan yang diserahkan secara simbolis oleh pengasuh pesantren dan para guru. Sejumlah wali santri tampak meneteskan air mata sebagai ungkapan rasa syukur atas keberhasilan putra-putri mereka menyelesaikan pendidikan pesantren.

Ilmu yang Bermanfaat dan Pendidikan Berkelanjutan

Dalam sambutannya, Kepala Seksi Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama Kota Surabaya, Fathul Mubin, menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh wisudawan. Ia berpesan agar para lulusan terus mengajarkan Al-Qur’an dan menjaga nama baik pesantren di mana pun berada.

“Kalau sudah lulus pondok, jangan sampai lupa mengajar, terutama mengajarkan Al-Qur’an. Karena yang diajarkan adalah Al-Qur’an,” tuturnya.

Ia juga mengingatkan bahwa ukuran keberhasilan ilmu bukan hanya pada banyaknya pengetahuan yang dimiliki, tetapi pada manfaat yang diberikan kepada masyarakat. Menurutnya, salah satu faktor terbesar keberhasilan seseorang adalah doa orang tua yang menyertai setiap langkah perjuangan anak-anaknya.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah senantiasa menanamkan ilmu yang mengantarkan santri untuk semakin mengenal Allah SWT, memperkuat akhlak, serta menumbuhkan semangat pengabdian kepada umat.

“Ayok kita bersinergi, bagaimana anak-anak kita ini menjadi anak-anak yang berilmu, bertakwa sekaligus berakhlakul karimah. Karena kita harus yakin dengan ilmu yang tinggi, dengan akhlak yang mantap, insya Allah kita bisa eksis di manapun kita berada. Karena janji Allah, dalam QS. Al-Mujadalah ayat 11” jelas Bapak Imam Turmudi mewakili Kepada Kanwil Kemenag Jawa Timur.

Selain prosesi wisuda, acara juga dimeriahkan dengan penampilan hadrah, pembacaan puisi, dan persembahan dari para santri sebagai bentuk penghormatan kepada guru serta orang tua. Kegiatan ditutup dengan doa bersama dan sesi foto wisuda.

Melalui wisuda ini, Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya berharap para lulusan dapat menjadi generasi yang berilmu, berakhlakul karimah, serta mampu memberikan kontribusi positif bagi agama, bangsa, dan masyarakat.

Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya Selenggarakan Sholat Idul Adha Terbuka untuk Santri & Masyarakat


Ada yang berbeda di Idul Adha tahun ini. Momentum penyatuan hari raya antara Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama menjadi warna tersendiri bagi umat Islam di Indonesia. Kebersamaan itu terasa semakin kuat ketika ribuan jamaah memadati halaman Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya untuk mengumandangkan takbir dan melaksanakan sholat Idul Adha berjamaah.

Idul Adha 1447 H di Al Fithrah: Syiar, Kebersamaan, dan Tabarruk

Pada Rabu, 27 Mei 2026 M / 10 Dzulhijjah 1447 H, suasana di Masjid Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya sudah dipenuhi jamaah sejak dini hari. Tahun ini, sholat Idul Adha kembali dibuka untuk santri dan masyarakat umum.

Sholat dimulai pukul 06.09 WIB, yakni sekitar 10 menit setelah masuknya awal waktu duha, sebagaimana mengikuti anjuran agar pelaksanaan Id dilakukan pada waktu yang lapang.

صَلُّوا قَبْلَ الْخُطْبَةِ
“Laksanakanlah sholat sebelum khutbah.” (HR. Bukhari & Muslim)

Setelah rangkaian sholat dan khutbah selesai, jamaah mengikuti tradisi khas Al Fithrah: ziarah ke maqbarah Hadratusy Syaikh Romo KH. Ahmad Asrori Al-Ishaqy, Pengasuh Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah, yang kemudian dilanjutkan ramah tamah dengan hidangan nasi talaman yang menjadi sajian kebersamaan setiap Idul Adha.

Ribuan Daging Qurban untuk Masyarakat

Tahun ini, amanah qurban yang dititipkan oleh Keluarga Ndalem, para jamaah, serta masyarakat luar daerah kembali meningkat. Total hewan qurban: 23 ekor sapi, 17 ekor kambing dan 92 ekor domba (termasuk domba kiriman jamaah dari Singapura)

Hewan-hewan tersebut berasal dari jamaah di Surabaya, Gresik, Malang, serta beberapa daerah luar pulau.

Distribusi daging qurban diberikan kepada:

Tidak hanya dibagikan kepada santri, daging hewan qurban di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya juga akan didistribusikan kepada Keluarga Ndalem, Warga sekitar pesantren, Warga yang rumahnya digunakan sebagai maktab saat Haul Akbar Al Fithrah, Para pejabat yang berafiliasi dengan pesantren, para pengurus Al Khidmah serta para ulama sekitar.

Proses penyembelihan dilakukan bertahap selama tiga hari: Hari Raya Idul Adha + dua hari Tasyrik (11–13 Dzulhijjah), sesuai tuntunan syariat. Hal ini selaras dengan bunyi hadits:

أَيَّامُ التَّشْرِيقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ
Terjemah: “Hari-hari Tasyrik adalah hari makan, minum, dan mengingat Allah.” (HR. Muslim)

Kebersamaan yang Meneguhkan Syiar

Idul Adha tahun ini menjadi momen yang indah. Kesatuan momen berlebaran antara dua ormas besar semakin menambah spirit ukhuwah. Sementara di Al Fithrah, kebersamaan antara santri, masyarakat, dan para jamaah memberikan warna khas yang hangat, penuh barakah, dan sarat nilai keikhlasan.

Bukan hanya ibadah dan ritual, tetapi juga rasa syukur, sedekah, silaturahmi, serta tabarruk pada para muassis yang menjadi ruh keberkahan pesantren ini.

Bahtsul Masail Shughra: Berjamaah Tidak di Masjid

Selasa (5 Mei 2026) Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya selenggarakan Bahtsul Masail bulanan. Kegiatan yang dilaksanakan di Pendopo Al Fithrah ini diikuti oleh perwakilan dari Santri PDF Wustha Al Fithrah dan PDF Ulya Al Fithrah.

Bahtsul Masail sendiri adalah forum ilmiah khas pesantren untuk mendiskusikan dan menjawab berbagai masalah keagamaan, sosial, dan kemasyarakatan kontemporer berdasarkan kajian kitab kuning. Bahstul masail di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya dilaksanakan sekali setiap bulannya yang merupakan puncak dari kegiatan Musyawarah Kubro mingguan dan musyawarah harian.

Kegiatan dikoordinatori Majlis Kebersamaan dalam Kajian dan Pembahasan Imiah Al Fithrah ini kerap menyelesaikan permasalahan ibadah keseharian maupun muamalah yang sedang hangat diperdebatkan. Dalam majlis malam Rabu kali ini dibahas permasalahan sholat Jamaah.

Deskripsi Masalah

Mayoritas masyarakat muslim melaksanakan shalat berjamaah di masjid, terlebih pada momen hari raya seperti Idul Fitri dan Idul Adha. Pada momen itu jumlah jamaah biasanya membludak hingga melampaui kapasitas masjid. Oleh karena itu, area di luar bangunan masjid seperti halaman atau pelataran kerap digunakan untuk menampung jamaah tambahan.

Dalam suatu pelaksanaan shalat Idul Fitri, Fajar mendapati masjid di lingkungannya telah direnovasi menjadi bangunan yang lebih besar dan megah. Namun, karena banyaknya jamaah, sebagian pelaksanaan shalat meluas hingga ke pelataran luar masjid yang secara fisik bukan lagi bagian dari bangunan masjid.

Permasalahan muncul ketika pelataran tersebut terpisah dari area imam oleh tembok pembatas, sehingga makmum yang berada di pelataran tidak memiliki akses langsung untuk menuju imam. Dengan kata lain, tidak terdapat jalan yang menghubungkan posisi makmum dengan imam, baik secara langsung maupun melalui celah yang memungkinkan untuk dilalui.

Di sisi lain, dalam ketentuan fiqh shalat berjamaah, terdapat syarat tersambungnya jamaah dengan imam, baik melalui kesinambungan shaf maupun adanya kemungkinan الوصول إلى الإمام (kemungkinan untuk menuju imam). Selain itu, status tempat (apakah termasuk bagian dari masjid atau tidak) juga berimplikasi pada hukum ibadah tertentu seperti i‘tikaf yang mensyaratkan dilakukan di dalam masjid.

Pertanyaan:

  1. Apakah sah shalat berjamaah yang dilaksanakan di pelataran luar masjid, sementara antara makmum dan imam terhalang tembok serta tidak terdapat akses yang menghubungkan keduanya?
  2. Apakah sah pelaksanaan i‘tikaf di pelataran luar masjid tersebut yang secara fisik terpisah dari bangunan masjid?

Jawaban:

  1. Hukum berjamaahnya makmum di bagian depan shof yang sejajar dengan pintu samping tidak sah.

حاشية البُجَيْرِمِي على الخطيب (5/149)

( وَإِنْ صَلَّى) الْإِمَامُ فِي الْمَسْجِدِ وَالْمَأْمُومُ (خَارِجَ الْمَسْجِدِ) حَالَةَ كَوْنِهِ (قَرِيبًا مِنْهُ) أَيْ مِنَ الْمَسْجِدِ بِأَنْ لَا يَزِيدَ مَا بَيْنَهُمَا عَلَى ثَلَاثِمِائَةِ ذِرَاعٍ تَقْرِيبًا مُعْتَبَرًا مِنْ آخِرِ الْمَسْجِدِ لِأَنَّ الْمَسْجِدَ كُلَّهُ شَيْءٌ وَاحِدٌ لِأَنَّهُ مَحَلُّ الصَّلَاةِ فَلَا يَدْخُلُ فِي الْحَدِّ الْفَاصِلِ (وَهُوَ عَالِمٌ بِصَلَاتِهِ) أَيْ الْإِمَامِ الَّذِي فِي الْمَسْجِدِ بِأَحَدِ الْأُمُورِ الْمُتَقَدِّمَةِ (وَلَا حَائِلَ هُنَاكَ) بَيْنَهُمَا كَالْبَابِ الْمَفْتُوحِ الَّذِي لَا يَمْنَعُ الِاسْتِطْرَاقَ وَالْمُشَاهَدَةَ (جَازَ) الِاقْتِدَاءُ حِينَئِذٍ، فَلَوْ كَانَ الْمَأْمُومُ فِي الْمَسْجِدِ وَالْإِمَامُ خَارِجَهُ اعْتُبِرَتِ الْمَسَافَةُ مِنْ طَرَفِهِ الَّذِي يَلِي الْإِمَامَ، فَإِنْ حَالَ جِدَارٌ لَا بَابَ فِيهِ أَوْ بَابٌ مُغْلَقٌ مُنِعَ الِاقْتِدَاءُ لِعَدَمِ الِاتِّصَالِ، وَكَذَا الْبَابُ الْمَرْدُودُ وَالشُّبَّاكُ يَمْنَعُ لِحُصُولِ الْحَائِلِ مِنْ وَجْهٍ، إِذِ الْبَابُ الْمَرْدُودُ مَانِعٌ مِنَ الْمُشَاهَدَةِ وَالشُّبَّاكُ مَانِعٌ مِنَ الِاسْتِطْرَاقِ.

قَالَ الْإِسْنَوِيُّ: نَعَمْ، قَالَ الْبَغَوِيُّ فِي فَتَاوِيهِ: لَوْ كَانَ الْبَابُ مَفْتُوحًا وَقْتَ الْإِحْرَامِ فَانْغَلَقَ فِي أَثْنَاءِ الصَّلَاةِ لَمْ يَضُرَّ. انْتَهَى. أَمَّا الْبَابُ الْمَفْتُوحُ فَيَجُوزُ اقْتِدَاءُ الْوَاقِفِ بِحِذَائِهِ وَالصَّفُّ الْمُتَّصِلُ بِهِ وَإِنْ خَرَجُوا عَنْ الْمُحَاذَاةِ، بِخِلَافِ الْعَادِلِ عَنْ مُحَاذَاتِهِ فَلَا يَصِحُّ اقْتِدَاؤُهُ لِلْحَائِلِ.

Jika imam shalat di dalam masjid, dan makmum di luar masjid namun dekat dengannya — yaitu jarak antara keduanya tidak lebih dari kira-kira 300 hasta (+/- 150 meter), dihitung dari ujung masjid — karena seluruh masjid dianggap satu kesatuan, maka:

  • Jika makmum mengetahui shalat imam (melalui melihat atau mendengar),
  • dan tidak ada penghalang (seperti pintu terbuka yang tidak menghalangi lewat dan melihat),

maka sah bermakmum kepadanya.

Namun:

  • Jika ada dinding tanpa pintu, atau pintu tertutup → tidak sah (karena terputus).
  • Pintu tertutup atau jendela juga menghalangi (karena menghalangi pandangan atau akses).

Tambahan:

  • Jika pintu terbuka saat takbir lalu tertutup di tengah shalat → tidak membatalkan.
  • Orang yang sejajar pintu terbuka masih boleh bermakmum.
  • Tapi yang menyimpang dari jalur sejajar → tidak sah karena terhalang.

حاشية البيجوري (2/101)

قَوْلُهُ: (وَهُوَ – أَيْ: الْمَأْمُومُ – عَالِمٌ بِصَلَاتِهِ؛ أَيْ: الْإِمَامِ) أَيْ: بِأَحَدِ الْأُمُورِ الْمُتَقَدِّمَةِ؛ كَالرُّؤْيَةِ لِلْإِمَامِ أَوْ لِبَعْضِ صَفٍّ، وَكَسَمَاعِ صَوْتِهِ أَوْ صَوْتِ مُبَلِّغٍ. قَوْلُهُ: (وَلَا حَائِلَ هُنَاكَ) أَيْ: بِحَيْثُ يُمْكِنُ الْوُصُولُ إِلَى الْإِمَامِ، وَيُشْتَرَطُ هُنَا أَنْ يُمْكِنَ الْوُصُولُ إِلَيْهِ مِنْ غَيْرِ ازْوِرَارٍ وَانْعِطَافٍ، بِخِلَافِهِ فِيمَا تَقَدَّمَ.

(Di antara syarat berjamaah adalah) Makmum harus mengetahui keadaan imam, misalnya:

  • melihat imam atau saf,
  • atau mendengar suara imam / penyampai (muballigh).

Dan syarat tidak ada penghalang artinya:

  • bisa الوصول (akses) ke imam,
  • tanpa harus berbelok atau berputar (jalur langsung).
  • b. Hukum I’tikaf di tempat tersebut tidak sah karena tidak bukan bagian daripada masjid

فتح القريب المجيب (ص 142)

(فَصْلٌ) فِي أَحْكَامِ الِاعْتِكَافِ. وَهُوَ لُغَةً الْإِقَامَةُ عَلَى الشَّيْءِ مِنْ خَيْرٍ أَوْ شَرٍّ، وَشَرْعًا إِقَامَةٌ بِمَسْجِدٍ بِصِفَةٍ مَخْصُوصَةٍ.

I’tikaf: secara bahasa: menetap pada sesuatu (baik atau buruk), sedangkan secara syariat: diam di masjid dengan cara tertentu

حاشية البيجوري (2/461)

الِاعْتِكَافُ أَرْبَعَةٌ؛ وَهِيَ: اللُّبْثُ، وَالْمَسْجِدُ الْمُعْتَكَفُ فِيهِ، وَالشَّخْصُ الْمُعْتَكِفُ، وَالنِّيَّةُ. لَكِنْ بَعْضُهَا بِطَرِيقِ التَّصْرِيحِ؛ وَهُوَ اللُّبْثُ وَالْمَسْجِدُ، فَإِنَّ الْإِقَامَةَ هِيَ اللُّبْثُ. وَبَعْضُهَا لَا بِطَرِيقِ التَّصْرِيحِ؛ وَهُوَ الشَّخْصُ، فَإِنَّ الْإِقَامَةَ تَسْتَلْزِمُ الْمُقِيمَ، وَالنِّيَّةُ الَّتِي أَشَارَ إِلَيْهَا بِقَوْلِهِ: (بِصِفَةٍ مَخْصُوصَةٍ)، كَمَا أَشَارَ بِهِ إِلَى شُرُوطِ الشَّخْصِ الْمُعْتَبَرَةِ فِي الْمُعْتَكِفِ الْآتِيَةِ، وَلَوْ قَالَ كَمَا قَالَ غَيْرُهُ: (مِنْ شَخْصٍ مَخْصُوصٍ بِنِيَّةٍ) لَكَانَ أَوْضَحَ.

Rukun i’tikaf ada 4:

  1. Berdiam (لبث)
  2. Masjid
  3. Orang yang beri’tikaf
  4. Niat

Penjelasan:

  • “diam di masjid” sudah mencakup:
    • tempat (masjid)
    • aktivitas (diam)
  • Sedangkan:
    • orang → dipahami secara implisit
    • niat → ditunjukkan oleh “dengan sifat khusus”

Kalau disebut: “dari orang tertentu dengan niat” itu lebih jelas.

Terlepas dari keadaan berpisah jauh dari imam, pada dasarnya berjamaah itu harusnya saling berdekatan antar satu jamaah dengan jamaah lainnya. Sebagaimana disebutkan oleh Rasulullah SAW:


أَقِيْمُوا الصُّفُوْفَ، فَإِنَّمَا تَصُفُّوْنَ بِصُفُوْفِ الْمَلَائِكَةِ، وَحَاذُوْا بَيْنَ الْمَنَاكِبِ، وَسُدُّوا الْـخَلَلَ، وَلِيْنُوْا فِـيْ أَيْدِي إِخْوَانِكُمْ، وَلَا تَذَرُوْا فُرُجَاتٍ  لِلشَّيْطَانِ، وَمَنْ وَصَلَ صَفًّا وَصَلَهُ اللهُ ، وَمَنْ قَطَعَ صَفًّا قَطَعَهُ اللهُ
.

Luruskanlah shaf (di dalam shalat) kalian sebagaimana bershafnya para Malaikat, ratakanlah pundak-pundak kalian, tutupilah celah-celah, dan berlakulah lemah-lembut terhadap saudara (di sisi kiri dan kanan) kalian! Jangan biarkan satu celah pun untuk setan! Barangsiapa yang menyambung shaf, maka Allah Tabaraka wa Ta’ala akan menyambung (rahmat)Nya, dan barangsiapa yang memutuskan shaf, maka Allah akan memutuskan (rahmat)Nya.”[Shahih: HR. Ahmad (II/97-98), Abu Dawud (no. 666) dan al-Baihaqi dalam as-Sunanul Kubra (III/101). Lihat Shahiih at-Targiib wat Tarhiib (no. 495)]

Rapat Koordinasi Guru PDF Ulya Al Fithrah: Menguatkan Tafaqqquh Fiddin dan Penyesuaian Kurikulum

Dalam rangka mengawali kembali kegiatan belajar mengajar pasca liburan Idul Fitri serta menyambut perubahan kalender pendidikan dari Hijriyah ke Masehi, Pendidikan Diniyah Formal (PDF) Ulya Al Fithrah Surabaya menggelar rapat koordinasi bagi seluruh ustadz dan ustadzah pada Selasa, 31 Maret 2026 bertempat di Pendopo.

Kegiatan ini menjadi momentum penting bagi lembaga dalam memperkuat kembali komitmen mencetak generasi tafaqquh fiddin, yaitu para pelajar yang mendalami ilmu agama secara utuh, mendalam, dan berkelanjutan. Dengan perubahan kalender dan dinamika pembelajaran modern, diperlukan penyusunan ulang strategi pembelajaran agar tetap selaras dengan visi pendidikan pesantren.

Acara dibuka dengan bacaan tawassul Al-Fatihah, dilanjutkan istighotsah dan Sholawat Fi Hubbi, sebagai bentuk permohonan keberkahan kepada Allah SWT agar rapat berjalan lancar dan membawa maslahat bagi lembaga. Dalam sesi ini dipandu beberapa asatidz sepuh. Tampak hadir Ust. Dr. H. Abdur Rosyid, M.Fil.I, Ust. H. Zainul Arif, S.Ud, Ust. H. Moh. Sholeh, S.Ud, Ust. H. Khoirudin, S.Ud, Ust. H. Ridwan, S.Ud dan asatid lainnya.

Apresiasi atas dedikasi

Dalam sambutannya, Kepala Pendidikan Diniyah Formal Ulya Al Fithrah, H. Nasiruddin, S.Pd., M.M., menekankan pentingnya ketepatan administrasi melalui sosialisasi jurnal mengajar dan absensi, serta perlunya menyesuaikan materi ajar dengan kalender pendidikan baru. Ini menjadi bagian dari peningkatan kualitas layanan pendidikan sekaligus bagian dari upaya menjaga kesinambungan belajar santri.

“Berdasarkan hasil penilaian assesor kemarin, kita (PDF Ulya Al Fithrah, red.) sudah mendapatkan nilai akreditasi A. Tapi ada satu yang kurang, berdasarkan saran yang disampaikan oleh salah seorang assesor yang merupakan dzurriyah Pondok Lirboyo, yaitu jurnal (mengajar)” jelas Ust. Nashir.

Dalam suasana masih bulan Syawal itu beliau juga tak lupa memohon maaf atas segala kurang dalam memberikan pelayanan.

“Kami juga menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada panjenengan semua atas dedikasinya dalam membersamai dan mengajar para santri semuanya” lanjut beliau.

Penyesuaian Materi Ajar

Agenda utama rapat kali ini adalah musyawarah materi ajar setiap mata pelajaran seiring perubahan kalender pendidikan. Dalan hal ini diisi dengan pengarahan dari Waka Kurikulum, Ust. Dzulfikar Nasrullah, S.Ud.

“Tahun ini santri kelas XII sudah tidak lagi kembali (karena sudah dinyatakan lulus), sehingga perlu adanya penyesuian terhadap kegiatan belajar mengajar” terang Ustadz Dzul.

Dalam kesempatan ini beliau juga memandu diskusi kelompok guru sesuai rumpun mata pelajaran yang fokus pembahasannya pada dua hal penting:

1. Penyesuaian materi ajar sesuai kalender Masehi

2. Pengaturan ulang waktu dan alokasi pembelajaran

Para pendidik diminta membawa kitab mata pelajaran untuk jenjang Isti’dad, kelas X, dan kelas XI agar proses musyawarah berjalan efektif dan terarah.

Mengawal Proses Tafaqquh fiddin

Melalui forum musyawarah tersebut, diharapkan tersusun langkah-langkah strategis yang mampu memperkuat proses pembelajaran, khususnya yang berorientasi pada pendalaman ilmu agama. Dengan demikian, setiap guru memiliki peran penting dalam menjaga ruh pendidikan pesantren, yaitu membentuk santri yang memahami agama secara menyeluruh (tafaqquh fiddin) sekaligus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Sebagai bentuk apresiasi, seluruh ustadz dan ustadzah yang hadir tepat waktu dan mengikuti acara hingga selesai akan memperoleh fasilitas transport dari panitia. Hal ini merupakan wujud penghargaan atas dedikasi dan partisipasi aktif tenaga pendidik dalam memajukan lembaga.

Acara ditutup dengan penyampaian hasil diskusi dan doa bersama, dipimpin oleh MC. Semoga seluruh rangkaian musyawarah ini membawa keberkahan dan menjadi langkah maju dalam meningkatkan mutu pendidikan di PDF Ulya Al Fithrah.

Jadwal Ngaji Ramadhan Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya

Selama Ramadhan, Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya bukan hanya melaksanakan amaliah-amaliah Ramadhan, melainkan juga ilmiah. Amaliah-amaliah di Al Fithrah selama Ramadhan meliputi sholat Tarawih, memperbanyak baca Al-Qur’an, dzikir fida’, sholat Tasbih dan sholat Hajat.

Kegiatan ilmiah di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah meliputi kegiatan ngaji Ramadhan yang diselenggarakan di Masjid Al Fithrah dan di kelas-kelas bagi santri mukim. Sementara bagi santri non mukim disediakan layanan ngaji Ramadhan, ngaji hikmah, pelatihan rebana, pelatihan membaca manaqib.

Ramadhan: Bulan Puasa dan Bulan Ilmu

Bulan Ramadhan bukan hanya bulan ibadah fisik seperti puasa dan shalat malam, tetapi juga bulan turunnya wahyu dan momentum memperdalam ilmu agama. Allah ﷻ menegaskan:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ

“Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an.” (QS. Al-Baqarah: 185)

Karena itu, Ramadhan adalah saat terbaik untuk menambah asupan ilmu, memperbanyak membaca, mengaji, dan menghadiri majelis taklim.

Perintah dan Anjuran Menuntut Ilmu

1. Perintah Langsung dari Al-Qur’an

Allah ﷻ berfirman:

وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا

“Dan katakanlah: Wahai Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu.” (QS. Thaha: 114)

Ayat ini menunjukkan bahwa bahkan Rasulullah ﷺ diperintahkan untuk terus meminta tambahan ilmu, apalagi kita sebagai umatnya.

2. Keutamaan Menuntut Ilmu

Rasulullah ﷺ bersabda:

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

“Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim.” (HR. Ibnu Majah)

Dalam hadits lain disebutkan:

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Imam Muslim)

Ramadhan adalah waktu paling tepat untuk memperbanyak langkah menuju surga melalui majelis ilmu.

Ngaji Ramadhan: Mengisi Keseharian dengan Ilmu

Para ulama salaf sangat menjaga kesinambungan ilmu. Para ulama besar seperti Imam Al-Ghazali dan Jalaluddin as-Suyuti dikenal sangat produktif dalam menulis, membaca, dan mengajar, terutama di bulan-bulan penuh keberkahan.

Ramadhan bukan waktu untuk bermalas-malasan, tetapi waktu untuk:

Menghidupkan Al-Qur’an

Menguatkan aqidah

Memperdalam fiqih

Membersihkan hati

Dalam rangka menyemarakkan Ramadhan 1447 H, Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah mengadakan Ngaji Ramadhan yang dapat diikuti secara live streaming di Alwava TV channel. Berikut jadwalnya:

  • Kitab Al-Muntakhobat fii Ma huwa al-Manaqib

    Disampaikan oleh: Ustadz H. Abdur Rosyid, M. Fil.I

    🕗 Setiap pukul 08.30 – 09.30

    • Kitab Mau’idhotul Mu’minin min Ihya’ ‘Ulumuddin

    (Ringkasan dari karya Imam Al-Ghazali)

    Disampaikan oleh: Ustadz H. Sulaiman, M. Sy

    🕤 Setiap pukul 09.30 – 10.30

    • Kitab Tafsir Jalalain

    Karya Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuti

    Disampaikan oleh: Ustadz Ahmad Jami’an, S. Ud

    🕌 Setiap Ba’da Shalat Dzuhur

    • Kitab Risalah Mu’awanah

    Karya Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad

    🕌 Setiap Ba’da Shalat Ashar (Kecuali Ahad)

    Selain kajian di Masjid Al Fithrah yang disiarkan secara live di youtube, Santri Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya juga mengikuti kegiatan Ngaji Ramadhan yang diselenggarakan di kelas-kelas yang diisi oleh para asatidz pengajarnya. Di antara kitab yang disampaikan adalah Kitab Wadzaif untuk santri PDF Wustha Al Fithrah, Risalatul Mahidl bagi santri putri. Sementara untuk tingkatan PDF Ulya Al Fithrah disampaikan Kitab Ayyuhal Walad, Washiyatul Musthofa, Nurudl Dlolam, hingga Riyadus Sholihin,

    Mari Isi Ramadhan dengan Ilmu

    Ramadhan adalah madrasah ruhaniyah. Jangan biarkan 30 hari berlalu tanpa peningkatan ilmu dan iman. Hadiri majelis, ikuti live streaming, catat faedah, dan amalkan.

    Semoga Allah ﷻ menjadikan Ramadhan 1447 H sebagai momentum kebangkitan ilmu, amal, dan keberkahan dalam hidup kita.

    اللهم زدنا علماً نافعاً، وارزقنا عملاً صالحاً

    Ya Allah, tambahkanlah kepada kami ilmu yang bermanfaat dan karuniakan kepada kami amal yang shalih.