Menjaga kesehatan merupakan bagian penting dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Tubuh yang sehat membantu seseorang belajar dengan lebih nyaman, beribadah dengan tenang, serta menjalankan berbagai aktivitas tanpa hambatan. Bagi lingkungan pesantren yang dihuni banyak santri dalam satu kawasan, menjaga kesehatan menjadi tanggung jawab bersama.
Hal inilah yang terus diupayakan oleh Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya. Tidak hanya memberikan pendidikan agama dan ilmu pengetahuan, pesantren juga berupaya menciptakan lingkungan tempat tinggal yang sehat dan nyaman bagi para santri.
Salah satu langkah nyata tersebut dilakukan pada Selasa, 6 Oktober 2026, melalui kegiatan skrining dan pemeriksaan rontgen dada atau foto thorax bagi santri dan pengurus pesantren. Kegiatan ini bekerja sama dengan Dinas Kesehatan melalui Puskesmas Tanah Kali Kedinding Surabaya sebagai bagian dari upaya pemantauan kesehatan saluran pernapasan, khususnya terhadap Tuberkulosis atau TBC.
Skrining TBC, Upaya Deteksi dan Pencegahan Sejak Dini
Kegiatan pemeriksaan berlangsung mulai pukul 07.30 WIB di Auditorium Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah. Sekitar 100 santri dan pengurus mengikuti rangkaian pemeriksaan secara tertib sesuai arahan panitia dan petugas kesehatan.
Untuk mendukung kegiatan tersebut, pemeriksaan dilengkapi dengan bus rontgen mobile dan alat portable X-Ray. Para peserta mengikuti beberapa tahapan, mulai dari registrasi, skrining, pemeriksaan rontgen, pembacaan hasil, hingga menerima konsumsi.
Bagi lingkungan pesantren, kegiatan semacam ini menjadi langkah penting karena kehidupan santri berlangsung secara bersama-sama. Kamar, ruang belajar, tempat ibadah, dan berbagai fasilitas lainnya digunakan secara bersama sehingga perhatian terhadap kesehatan perlu dilakukan secara menyeluruh.
Pemeriksaan kesehatan bukan berarti seseorang sedang dinyatakan sakit. Justru, skrining menjadi salah satu cara untuk mengetahui kondisi kesehatan lebih awal sehingga langkah berikutnya dapat dilakukan sesuai hasil pemeriksaan dan arahan tenaga kesehatan.
Dengan deteksi yang lebih dini, potensi masalah kesehatan dapat diketahui dan ditindaklanjuti secara tepat.
Edukasi TBC dan Pentingnya Udara Bersih di Asrama
Di sela-sela pemeriksaan, dokter dan petugas kesehatan juga memberikan edukasi kepada para santri mengenai Tuberkulosis (TBC) dan kesehatan paru-paru.
Para santri mendapatkan pemahaman mengenai gejala TBC, cara penularan, serta pentingnya menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat. Edukasi juga menekankan pentingnya menjaga sirkulasi udara, terutama di dalam kamar asrama.
Hal sederhana seperti membuka jendela dan memastikan udara dapat berganti secara rutin merupakan bagian dari upaya menciptakan lingkungan yang lebih sehat. Kebersihan kamar dan lingkungan sekitar juga perlu dijaga bersama.
Pesan ini sejalan dengan ajaran Islam yang sangat memperhatikan kebersihan dan kesehatan. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya Allah itu baik dan menyukai kebaikan, bersih dan menyukai kebersihan.”
Menjaga kebersihan lingkungan pesantren karena itu bukan hanya persoalan kenyamanan, tetapi juga bagian dari membangun kebiasaan baik dalam kehidupan santri.
Kesehatan Santri, Bekal Belajar dan Beribadah
Pihak Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah menyambut positif kegiatan skrining dan pemeriksaan tersebut. Kesehatan santri menjadi salah satu perhatian penting karena kondisi tubuh yang baik turut menunjang kelancaran proses pendidikan.
Santri membutuhkan tubuh yang sehat untuk mengikuti pelajaran, menghafal, berdiskusi, mengikuti kegiatan pesantren, melaksanakan ibadah, dan berinteraksi dengan teman-temannya.
Karena itu, menciptakan pesantren yang sehat bukan hanya tugas pengurus atau petugas kesehatan. Santri juga memiliki peran penting di dalamnya.
Mulai dari menjaga kebersihan kamar, tidak berbagi barang pribadi secara sembarangan, menjaga etika batuk dan bersin, memperhatikan sirkulasi udara, hingga segera melapor kepada pengurus atau petugas kesehatan ketika mengalami keluhan kesehatan merupakan kebiasaan sederhana yang memiliki manfaat besar.
Upaya Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah melalui skrining TBC ini menjadi bagian dari ikhtiar bersama untuk membangun lingkungan pendidikan yang sehat.
Sebab pesantren bukan hanya tempat menuntut ilmu. Pesantren juga merupakan tempat membentuk kebiasaan hidup, akhlak, kedisiplinan, dan kepedulian terhadap sesama.
Semoga langkah sederhana ini menjadi ikhtiar berkelanjutan untuk mewujudkan asrama santri yang sehat, nyaman, bersih, dan bebas dari penularan TBC, sehingga para santri dapat belajar dan beribadah dengan lebih tenang.
Karena menjaga kesehatan bukan sekadar menjaga diri sendiri. Ketika kita menjaga kesehatan, kita juga sedang menjaga orang-orang yang hidup dan belajar bersama kita.
Silaturahmi tidak hanya mempererat hubungan antarmanusia, tetapi juga menjadi jalan untuk saling belajar, berbagi pengalaman, dan mengambil hikmah. Semangat inilah yang dibawa rombongan Madrasah Aliyah (MA) Al Asror Semarang ketika berkunjung ke Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya, Senin, 5 Oktober 2026.
Sebanyak 120 peserta mengikuti kegiatan yang dikemas dalam program SUNAH (Sowan Ulama Ngalab Barokah). Kegiatan ini menjadi momentum bagi para peserta untuk mengenal lebih dekat kehidupan pesantren sekaligus menyambung silaturahmi dengan keluarga besar Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah.
Dalam tradisi Islam, silaturahmi memiliki kedudukan yang istimewa. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia menyambung silaturahmi.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Karena itu, kunjungan semacam ini tidak berhenti sebagai perjalanan fisik. Ia dapat menjadi rihlah ilmiah, yakni perjalanan untuk mencari pengalaman, pengetahuan, dan inspirasi yang dapat dibawa pulang.
Mengenal Al Fithrah dan Kehidupan Pesantren
Rombongan MA Al Asror Semarang dipimpin oleh Hj. Bayu Sulistyawati, S.Pd. selaku Ketua Panitia. Kedatangan rombongan diterima dan didampingi oleh Ust. Ilyas Rahman, S.Ud., Wakil Ketua Pondok, serta Ust. Dr. Fathur Rozi, M.H.I., Kabag. Pendidikan Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya.
Rute kunjungan meliputi Pendopo Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah dan dilanjutkan dengan ziarah ke makam Hadratusy Syaikh KH. Ahmad Asrori Al-Ishaqy.
Di Pendopo, Ust. Dr. Fathur Rozi, M.H.I. menyampaikan profil Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah. Penjelasan tidak hanya berkaitan dengan sejarah dan lembaga pendidikan, tetapi juga mengenalkan budaya serta lingkungan kehidupan pesantren.
Para peserta mendapatkan gambaran mengenai berbagai jenjang pendidikan yang ada di Al Fithrah, mulai dari Raudhatul Athfal (RA), Madrasah Ibtidaiyah (MI), Wustha, Ulya, Ma’had Aly, hingga Institut Al Fithrah.
Bagi peserta didik, mengenal lembaga pendidikan lain menjadi pengalaman yang berharga. Mereka dapat melihat secara langsung bagaimana sebuah pesantren mengembangkan pendidikan sekaligus membangun budaya kehidupan yang berorientasi pada ilmu, adab, ibadah, dan khidmah.
Belajar Kebersihan sebagai Bagian dari Pendidikan
Hal menarik lainnya dalam kunjungan tersebut adalah pembahasan mengenai pengelolaan kebersihan lingkungan pesantren.
Ust. Ilyas Rahman, S.Ud. menjelaskan bagaimana kebersihan dikelola di lingkungan Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah, baik di area pondok putra maupun pondok putri.
Penjelasan mencakup struktur pengelolaan, mekanisme pelaksanaan, serta berbagai upaya yang dilakukan agar kebersihan lingkungan pondok dapat terjaga.
Kebersihan dalam lingkungan pesantren bukan sekadar persoalan teknis. Ia juga berkaitan dengan pendidikan karakter.
Islam sangat memperhatikan kebersihan. Rasulullah ﷺ bersabda:
الطُّهُورُ شَطْرُ الْإِيمَانِ
“Bersuci itu adalah sebagian dari iman.” (HR. Muslim)
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa menjaga kebersihan lingkungan merupakan bagian dari tanggung jawab bersama. Santri tidak hanya belajar dari buku dan kelas, tetapi juga dari kebiasaan sehari-hari.
Membuang sampah pada tempatnya, menjaga kamar tetap rapi, membersihkan lingkungan, serta merawat fasilitas bersama adalah bentuk sederhana dari pendidikan adab.
SUNAH: Rihlah, Silaturahmi, dan Ngalab Barokah
Dalam kesempatan tersebut, Kepala MA Al Asror Semarang menyampaikan terima kasih kepada keluarga besar Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah atas penerimaan dan penyambutan terhadap rombongan.
Beliau juga menyampaikan permohonan maaf apabila selama pelaksanaan kunjungan terdapat kekurangan.
Kegiatan SUNAH sendiri telah direncanakan dan diwacanakan sejak jauh-jauh hari. Setelah melalui proses persiapan, akhirnya rombongan sekitar 120 peserta dapat berkunjung ke Al Fithrah dengan lancar.
Pihak MA Al Asror Semarang juga memperkenalkan secara singkat latar belakang dan profil lembaga kepada keluarga besar Al Fithrah. Pertemuan tersebut akhirnya menjadi ruang untuk saling mengenal, bukan hanya antara dua lembaga pendidikan, tetapi juga antara para pendidik dan peserta didik yang sama-sama sedang menapaki jalan ilmu.
Perjalanan seperti ini mengajarkan bahwa ilmu tidak selalu diperoleh dengan duduk di ruang kelas. Kadang ilmu hadir ketika kita melihat cara orang lain mengelola pesantren. Kadang inspirasi muncul ketika mendengar pengalaman lembaga lain. Dan kadang, keberkahan justru terasa ketika perjalanan ilmu disertai silaturahmi dan ziarah kepada orang-orang saleh.
Semoga kegiatan SUNAH MA Al Asror Semarang ke Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah menjadi perjalanan yang membawa manfaat, mempererat persaudaraan, dan menumbuhkan semangat para peserta untuk terus belajar.
Sebab dalam perjalanan mencari ilmu, yang dibawa pulang bukan hanya pengetahuan, tetapi juga pengalaman, teladan, persaudaraan, dan doa.
SURABAYA – PDF Ulya Al Fithrah Surabaya kembali melaksanakan apel pagi pada Kamis, 10 September 2026. Kegiatan yang dimulai pukul 07.00 WIB tersebut berlangsung di halaman PDF Ulya Al Fithrah Surabaya dan diikuti oleh seluruh santri, mulai dari kelas Isti’dad Ulya, kelas X, XI, hingga XII putra, serta asatidz PDF Ulya Al Fithrah.
Apel pagi menjadi salah satu momentum penting untuk memberikan arahan sekaligus membangun kedisiplinan santri dalam menjalani kegiatan pendidikan dan wadzifah di pondok.
Tawasul dan Pembacaan Al-Malhudot
Rangkaian apel pagi dibuka dengan Tawasul Al-Fatihah yang dipimpin oleh Ust. Edy Yusuf, S.Ud. Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan pembacaan Al-Malhudot oleh Ust. Nuril Mubin, M.Pd.
Al-Malhudot berisikan pesan dan harapan Hadratusy Syaikh KH. Ahmad Asrori Al Ishaqy yang disampaikan kepada para santri. Salah satu pesan yang ditekankan dalam kesempatan tersebut adalah pentingnya senantiasa menjaga kedisiplinan dan melatih kesungguhan dalam menjalani kehidupan.
“Senantiasalah melatih jiwa, bersungguh-sungguh dan sabar serta ridho atas cobaan, himpitan, gangguan, rintangan, hambatan dan halangan, dengan bertawakal dan bersandar kepada Allah SWT.”
Pesan tersebut menjadi pengingat bagi para santri bahwa proses pendidikan di pondok tidak hanya berkaitan dengan kemampuan akademik, tetapi juga pembentukan jiwa, kesabaran, kedisiplinan, dan keteguhan dalam menghadapi berbagai tantangan.
Kepala PDF Ulya Al Fithrah Ingatkan Agenda Akademik
Sesi berikutnya adalah amanat Pembina apel yang disampaikan langsung oleh Kepala PDF Ulya Al Fithrah, Ust. H. Nasiruddin, M.M. Dalam amanatnya, beliau mengingatkan para santri mengenai sejumlah agenda penting PDF Ulya Al Fithrah yang akan berlangsung hingga beberapa bulan ke depan. Agenda tersebut meliputi:
– Asesmen Harian: September 2026, pekan ke-2
– Asesmen Tengah Semester (ATS): Oktober 2026, pekan ke-2
– Tryout Imtihan Wathani: November 2026, pekan ke-1
– Asesmen Sumatif Akhir Semester (ASAS): 14–26 Desember 2026
– Imtihan Wathani: 21–23 Desember 2026
Beliau juga mengingatkan bahwa Asesmen Harian dan Asesmen Tengah Semester merupakan bagian penting dalam proses evaluasi pembelajaran. Karena itu, para santri diharapkan mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya.
Selain agenda tersebut, pada November 2026 juga akan dilaksanakan Tes Kemampuan Akademik (TKA). Beliau berharap seluruh santri kelas XII dapat mengikuti kegiatan tersebut meskipun pelaksanaannya tidak bersifat wajib.
Sementara itu, Desember 2026 akan menjadi bulan yang cukup padat dengan adanya pelaksanaan Imtihan Wathani (IW) dan ASAS Ganjil.
Dalam amanatnya, beliau menyampaikan beberapa pesan kepada para santri:
“Kesungguhan dan kedisiplinan kita, akan menentukan arah masa depan kita. Wadzifah di pondok akan menjadi landasan batin kita agar selamat di dunia dan akhirat” tutur beliau.
“Kalau bersungguh-sungguh insya Allah akan dimudahkan. Sebaliknya, Kalau bermalas-malasan jalannya semakin menyulitkan” pesan beliau.
Para santri juga diingatkan untuk meningkatkan kedisiplinan, baik dalam mengikuti kegiatan sekolah maupun menjalankan wadzifah di pondok.
Al-Qur’an dan turats juga menjadi bagian penting dalam proses pendidikan santri kelas XII, sekaligus menjadi salah satu syarat kelulusan. Karena itu, para santri diharapkan memberikan perhatian yang seimbang terhadap pendidikan akademik, Al-Qur’an, serta pembelajaran turats.
Apel Menjadi Momentum Mempererat Hubungan
Apel pagi PDF Ulya Al Fithrah tidak hanya menjadi kegiatan untuk mendengarkan nasihat dan menyampaikan informasi mengenai agenda pendidikan. Lebih dari itu, apel menjadi momentum untuk saling mengenal dan mempererat hubungan di lingkungan pondok.
Melalui kegiatan bersama seperti ini, hubungan antara santri dengan santri lainnya, santri dengan asatidz, serta santri dengan pengurus PDF Ulya Al Fithrah dapat semakin terjalin dengan baik.
Kebersamaan tersebut menjadi bagian dari proses pendidikan di pesantren. Sebab, keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kegiatan belajar di dalam kelas, tetapi juga oleh kedisiplinan, kebersamaan, keteladanan, dan kesungguhan dalam menjalankan seluruh aktivitas pondok.
Dengan berbagai agenda akademik dan kegiatan pondok yang akan datang, seluruh santri PDF Ulya Al Fithrah diharapkan dapat mempersiapkan diri dengan lebih baik, menjaga kedisiplinan, serta meningkatkan kesungguhan dalam belajar dan menjalankan wadzifah.
Semoga setiap langkah dan ikhtiar yang telah dilakukan oleh seluruh keluarga besar PDF Ulya Al Fithrah membuahkan hasil kebaikan dan keberkahan. Aamiiin.
Surabaya, 23 Agustus 2026 — Ahad pagi di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya terasa berbeda. Sejak malam hari, jamaah dari berbagai daerah mulai berdatangan. Ada yang datang dari dalam kota, ada pula yang menempuh perjalanan panjang dari luar provinsi.
Mereka datang bukan sekadar untuk menghadiri sebuah acara. Mereka datang untuk duduk bersama, berdzikir, membaca maulid, menyebut nama Rasulullah ﷺ, dan menyambung kembali rasa cinta kepada beliau.
Pada Ahad, 23 Agustus 2026, Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya kembali menyelenggarakan Majlis Ahad Kedua dalam rangka menyambut suasana bulan Rabiul Awal 1448 H. Tanggal tersebut bertepatan dengan 10 Rabiul Awal 1448 H berdasarkan penanggalan Hijriah.
Tenda panjang hampir memenuhi seluruh lapangan pondok. Majlis Ahad Kedua dimulai pukul 07.00 WIB. Tetapi bagi panitia, khidmah telah dimulai jauh sebelum matahari terbit.
Sejak malam hari, jamaah yang datang dari luar provinsi telah mulai berdatangan. Panitia bagian maktab penginapan menyambut mereka dengan ramah, kemudian mengarahkan para jamaah menuju kelas-kelas yang telah dipersiapkan sebagai tempat istirahat.
Khidmah: Seni Mencintai
Di sisi lain, panitia bagian sket juga sibuk mempersiapkan pembatas antara jamaah putra dan putri. Tali, kain, serta petunjuk lokasi telah disiapkan sejak malam agar ketika pagi tiba, jamaah dapat langsung menempati tempatnya dengan tertib.
Pemandangan semacam ini sering kali luput dari perhatian. Orang mungkin hanya melihat majlis ketika acara telah dimulai. Padahal, di balik duduknya ribuan jamaah dengan tenang, terdapat banyak tangan yang bekerja dalam senyap.
Ada yang mengatur kamar mandi. Ada yang menyiapkan konsumsi. Ada yang membersihkan. Ada yang mendekorasi agar lokasi acara sedap dipandang mata. Ada yang menerima tamu. Ada yang berjaga hingga larut malam. Semuanya memiliki satu nama: khidmah. Dan dalam tradisi pesantren, khidmah bukan sekadar pekerjaan teknis. Ia adalah seni mencintai.
Khidmah juga hadir dalam bentuk jamuan. Jamaah Al Khidmah Kediri Raya menyiapkan nasi goreng talaman untuk seluruh jamaah yang hadir. Jamuan tersebut menjadi semakin istimewa dengan adanya sedekah seekor kerbau Tedoong Toraja untuk hidangan para jamaah Majlis Ahad Kedua.
Makanan akhirnya bukan hanya perkara memberikan amunisi raga. Ada tangan yang menyiapkannya. Ada hati yang ikhlas menyedekahkannya. Ada tenaga yang mengolah dan membagikannya. Begitulah majlis dibangun: bukan hanya dengan tenda dan panggung saja, tetapi dengan keikhlasan banyak orang mensukseskannya.
Membaca Maulid: Meneladani Sirah Orang Mulia
Tepat pukul 07.00 WIB, Majlis Ahad Kedua dimulai. Rangkaian acara diisi dengan tawasul, istighotsah, khotmil Quran, Maulid Ad-Diba’i, Maulid Fi Hubby, kemudian ditutup dengan doa dan ramah tamah.
Membaca maulid pada hakikatnya bukan hanya membaca rangkaian syair tentang Rasulullah ﷺ. Di dalamnya terdapat usaha untuk menghadirkan kembali kisah, akhlak, perjuangan, dan kemuliaan beliau ke dalam hati.
Maulid Ad-Diba’i, misalnya, merupakan karya Imam Wajihuddin Abdurrahman ad-Diba’i yang memuat kisah, pujian, serta gambaran kemuliaan Rasulullah ﷺ. Kitab ini dikenal luas di berbagai majlis keislaman dan pesantren di Nusantara. Di antara ungkapan yang masyhur dalam Maulid Ad-Diba’i adalah:
“Wahai Tuhanku, limpahkanlah shalawat kepada Nabi Muhammad, wahai Tuhanku, limpahkanlah shalawat dan salam kepadanya.”
Kalimat sederhana ini sebenarnya menyimpan pesan yang dalam.
Cinta kepada Rasulullah ﷺ tidak cukup hanya menjadi pengetahuan di kepala. Ia perlu dihidupkan melalui shalawat, pengenalan terhadap sirah beliau, dan usaha meneladani akhlaknya.
“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah suri teladan yang baik bagi kalian.” (QS. Al-Ahzab: 21)
Karena itu, majlis maulid seharusnya tidak berhenti pada merdunya bacaan. Ada akhlak yang harus dibawa pulang. Ada kasih sayang yang harus dipraktikkan. Ada sunnah yang harus dihidupkan. Dan ada kerinduan kepada Rasulullah ﷺ yang semoga senantiasa berkembang.
Dengan demikian, ketika jamaah membaca kisah Rasulullah ﷺ, sejatinya mereka sedang diajak untuk bertanya kepada diri sendiri: Sudah sejauh mana bukti cinta kepada Rasulullah ﷺ berbuah akhlak pada kehidupan kita?
Rangkaian acara seremonial berakhir sekitar pukul 10.00 WIB. Sebelum dilanjutkan dengan mauidoh hasanah, pembawa acara menyampaikan sejumlah agenda Majlis Dzikir dan Maulidurrasul ﷺ yang akan diselenggarakan oleh Jamaah Al Khidmah di berbagai daerah.
Di antaranya adalah:
Haul KH. Hasan Arif Waru, Sidoarjo pada Ahad malam, 23 Agustus 2026.
Haul Akbar Kabupaten Tulungagung, Ahad pagi, 30 Agustus 2026.
Haul Akbar Pati, Jawa Tengah, Ahad malam, 30 Agustus 2026.
Haul Akbar Trenggalek, Sabtu pagi, 5 September 2026.
Haul Akbar Kanjeng Sunan Giri, Sabtu malam Ahad, 5 September 2026.
Haul Akbar Kabupaten Pasuruan, Ahad pagi, 6 September 2026.
Haul di Pondok Pesantren Matholiul Anwar Karanggenang, Lamongan, Selasa pagi, 15 September 2026.
Haul Akbar Ngroto, Rabu malam dan Kamis pagi, 30 September–1 Oktober 2026.
Program Umrah dan Haul Akbar Makkah 2026 bersama Keluarga Ndalem, Jamaah Al Khidmah dan Ukhsafi Copler Community, selama 12 hari dengan keberangkatan 28 November 2026.
Haul Akbar Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah, Sabtu malam dan Ahad pagi, 2 Syakban 1448 H / 9–10 Januari 2027.
Rangkaian agenda tersebut memperlihatkan bahwa majlis bukanlah pertemuan yang berdiri sendiri. Satu majlis mengantarkan jamaah menuju majlis berikutnya. Satu pertemuan menyambungkan silaturahmi kepada pertemuan yang lain. Dan dari satu tempat, rasa cinta kepada Rasulullah ﷺ terus dibawa menuju tempat-tempat berikutnya.
Berbekal Cinta Seperti Julaibib
Setelah rangkaian dzikir dan maulid, jamaah mendapatkan mauidoh hasanah yang disampaikan Habib Abdul Qodir Mauladawilah dari Malang. Salah satu kisah yang disampaikan adalah kisah seorang sahabat Rasulullah ﷺ bernama Julaibib.
Julaibib bukan sahabat yang dikenal karena rupa, kekayaan, atau kedudukan. Ia justru merupakan sosok yang secara sosial tidak terlalu diperhitungkan oleh manusia. Namun Rasulullah ﷺ mengenalnya. Bahkan lebih dari itu, Rasulullah ﷺ mencintainya.
“Ada salah seorang sahabat Rasulullah SAW yang tidak dikenal dan tidak terpandang, tapi Rasulullah SAW mencintainya. Beliau adalah Julaibib. Seorang yang tidak baik rupa dan tidak putih. Setiap berkehendak melamar seorang gadis, pasti dia akan ditolak” beliau membuka kisah. Akhirnya sahabat Julaibib dibantu Rasulullah SAW untuk melamar gadis pujaannya dan diterima.
Dalam Shahih Muslim, kisah Julaibib disebutkan secara khusus dalam bab tentang keutamaannya. Ketika Rasulullah ﷺ bertanya tentang siapa yang tidak hadir, para sahabat menyebut beberapa nama. Rasulullah ﷺ kemudian mengatakan bahwa beliau kehilangan Julaibib. Setelah dicari, Julaibib ditemukan telah gugur setelah membunuh tujuh musuh. Rasulullah ﷺ kemudian datang dan berdiri di sisinya.
Kisah ini memperlihatkan satu hal yang sangat manusiawi: Tidak semua orang yang besar di mata manusia adalah besar di sisi Allah. Sebaliknya, tidak semua orang yang luput dari pandangan manusia luput pula dari perhatian Rasulullah ﷺ.
Di sinilah kisah Julaibib menjadi sangat dekat dengan kehidupan kita. Kita hidup di zaman ketika manusia mudah menilai seseorang dari tampilan. Dari pakaian. Dari pekerjaan. Dari jumlah pengikut. Dari kedudukan. Dari popularitas. Padahal, ukuran kemuliaan tidak selalu terlihat dari apa yang tampak. Rasulullah ﷺ justru mengajarkan kepada umatnya untuk melihat manusia dengan kasih sayang.
Ketika Guru Menjadi Jalan Mengenal Rasulullah SAW
Dalam mauidohnya, Habib Abdul Qodir Mauladawilah juga mengajak jamaah merenungkan hubungan seorang murid dengan gurunya. Sebagaimana Rasulullah ﷺ memberikan perhatian kepada Julaibib, demikian pula seorang guru memberikan perhatian kepada murid-muridnya.
Kadang seorang murid merasa dirinya tidak dikenal. Padahal, bisa jadi gurunya justru terus memikirkan dirinya. Kadang seorang murid merasa jauh. Padahal, bisa jadi sang guru telah menghabiskan banyak waktu untuk mendoakan dan membimbingnya.
Karena itu, hubungan murid dengan guru tidak berhenti hanya karena perpisahan tempat. Apalagi ketika seorang guru telah berpulang ke hadirat Allah. Hubungan itu tidak semestinya hilang.
Justru doa, tawasul, mengenang keteladanan, membaca ajaran, serta meneruskan perjuangan dan khidmah menjadi bagian dari cara seorang murid menjaga hubungan batinnya dengan guru.
Dalam suasana majlis yang penuh dengan dzikir dan shalawat, disampaikan pula doa:
“Ya Allah, Dzat Yang Maha Memberi kecukupan, limpahkanlah pemberian-Mu, dengan perantara wali dan mursyidku, Syaikh Ahmad Asrori.”
Doa tersebut menjadi ungkapan kerinduan seorang murid kepada guru, sekaligus harapan agar hubungan batin dengan guru menjadi jalan untuk semakin mengenal Rasulullah ﷺ.
“Kita Krisis Figur”
Salah satu kegelisahan yang disampaikan dalam mauidoh adalah tentang krisis figur. Di tengah zaman yang begitu ramai dengan berbagai tokoh, manusia justru bisa kehilangan teladan.
Kita mengenal banyak nama. Tetapi belum tentu mengenal keteladanan. Kita melihat banyak orang berbicara. Tetapi belum tentu menemukan seseorang yang hidupnya dapat diteladani.
Karena itu, mengenang Hadratusy Syaikh KH. Ahmad Asrori Al-Ishaqy bukan semata-mata mengenang sosok seorang guru yang telah wafat. Lebih dari itu, ia adalah usaha untuk mengingat kembali nilai-nilai yang beliau tanamkan: dzikir, khidmah, akhlak, tawadhu, kecintaan kepada Rasulullah ﷺ, serta perhatian kepada umat.
Di hadapan makam Hadratusy Syaikh, lahirlah sebuah doa yang sangat sederhana namun dalam: Semoga majlis ini menjadi perahu besar untuk menuju Rasulullah ﷺ.
Perahu itu adalah majlis. Dayungnya adalah dzikir. Anginnya adalah cinta. Dan tujuannya adalah ridha Allah serta kebersamaan dengan Rasulullah ﷺ.
Dari Julaibib, jamaah diajak memahami bahwa cinta Rasulullah ﷺ tidak selalu diberikan kepada mereka yang terlihat besar di mata manusia.
Dan majlis mengajarkan bahwa cinta kepada Rasulullah ﷺ tidak boleh berhenti pada lantunan shalawat. Cinta harus melahirkan akhlak. Cinta harus melahirkan khidmah. Cinta harus melahirkan kerinduan untuk mengikuti sunnah.
Cinta juga harus membuat kita senang berkumpul dengan orang-orang saleh dan menghidupkan majlis-majlis yang mengingatkan hati kepada Allah dan Rasul-Nya. Sebagaimana doa yang dipanjatkan dalam majlis tersebut:
“Ya Allah, jadikanlah majlis ini sebagai perahu besar untuk menuju Rasulullah ﷺ.”
Semoga Majlis Ahad Kedua tidak hanya meninggalkan kenangan tentang sebuah Ahad pagi. Semoga ia meninggalkan sesuatu yang lebih dalam: hati yang semakin mencintai Rasulullah ﷺ, semakin menghormati guru, semakin ringan dalam khidmah, dan semakin rindu untuk berkumpul bersama orang-orang saleh.
Karena boleh jadi, dunia tidak selalu mencatat nama kita. Tetapi sebagaimana Julaibib, semoga Allah mencatat kita sebagai hamba yang mencintai Rasulullah ﷺ. Dan semoga cinta itu menjadi sebab kita dikumpulkan bersama beliau di akhirat kelak.
Ada nuansa berbeda pada peringatan HUT Ke-81 RI di Al Fithrah Surabaya kali ini. Pada hari yang sama, Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah juga melaksanakan seremonial perayaan Milad Ke-40 tahunnya.
Para santri dari semua jenjang di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya turut hadir dalam pelaksanaan upacara bendera di lapangan Al Fithrah. Tampak hadir juga para Tenaga Pendidik dan Kependidikan mulai dari RA Al Fithrah, MI Al Fithrah, PDF Wustha Al Fithrah, PDF Ulya Al Fithrah, Ma’had Aly dan MDTJ Al Fithrah.
Mereka terlihat antusias memperingati Hari Kemerdekaan Ke-81 Republik Indonesia. Tim Paskibraka Al Fithrah dengan tenang menyuguhkan formasi indah 81 TH ketika prosesi pengibaran bendera. Mereka telah berlatih siang malam dalam sebulan terakhir ini untuk kesuksesan pengibaran sangsaka merah putih di Peringatan HUT Ke-81 RI di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya.
Menjadi Santri yang Merdeka
“Hari kemerdekaan bukan sekedar momentum untuk mengenang masa lalu. Kemerdekaan adalah suatu amanah. Para pahlawan telah memberikan tenaga, pikiran, harta, bahkan jiwa mereka untuk kemerdekaan. Maka tugas kita hari ini bukan lagi merebut kemerdekaan dengan senjata, tetapi mengisi kemerdekaan dengan ilmu, dengan akhlak, dengan kerja keras, persatuan dan pengabdian” Kata Ust. Nashirudin, M.Pd dalam pidatonya sebagai Inspektur Upacara 17 Agustus 2026 di lapangan Al Fithrah.
“Seorang santri tidak akan menjadi manusia yang merdeka, apabila dirinya masih dikuasai oleh kemalasan, dikuasai oleh hawa nafsu, dikuasai oleh keinginan yang tidak terkendali. Karena itu, kemerdekaan seorang santri ialah ketika ia mampu menjadikan dirinya dan mengarahkannya taat kepada Allah SWT, disiplin dalam sholat, bersungguh-sungguh dalam belajar, taat kepada guru, mentaati aturan, menjaga kebersihan dan bertanggung jawab terhadap amanah. Semua itu adalah latihan menjadi santri yang merdeka dan bertanggung jawab” imbuhnya.
Upacara selesai tepat pada pukul 08.00 WIB dan acara dilanjutkan dengan sowan kepada Hadratusy Syaikh KH. Ahmad Asrori Al-Ishaqy. Bagi kami, momentum HUT RI adalah juga harinya Hadratusy Syaikh KH. Ahmad Asrori Al-Ishaqy. Beliau -dalam riwayat yang masyhur-, lahir pada 17 Agustus 1950 M dan wafat pada hari Selasa, 18 Agustus 2009 M. Sehingga, momentum Hari Kemerdekaan adalah juga mement haulnya guru kami.
Memperingati Milad Ke-40 Al Fithrah
Setelah sowan Hadratusy Syaikh, acara dilanjutkan dengan seremonial peringatan Milad Ke-40 Al Fithrah yang berpusat di Masjid Al Fithrah. Acara dimulai dengan Tawasul Al Fatihah dan Pembacaan Maulid Ad-Diba’i, serta dilanjutkan dengan sambutan dan Mau’idotul hasanah.
Sambutan mewakili Pengurus Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya disampaikan oleh Ust. Ilyas Rohman, S.Ud. Beliau menyampaikan bahwa 40 tahun bukanlah waktu yang singkat. 40 tahun adalah perjalanan panjang yang penuh dengan perjuangan, pengorbanan, doa, kesabaran dan keikhlasan dari pendiri, khususnya Hadratusy Syaikh Romo KH. Ahmad Asrori Al-Ishaqy.
“Oleh sebab itu, Peringatan Milad Ke-40 ini hendaknya tidak hanya kita maknai sebuah perayaan bertambahnya usia, namun lebih dari itu, Milad Ke-40 ini adalah sebuah moment untuk bermuhasabah, introspeksi diri, memperkuat rasa syukur, dan meneguhkan kembali komitmen kita meneruskan perjuangan Hadratusy Syaikh KH. Ahmad Asrori Al-Ishaqy” tutur Ust. Ilyas.
“Pada moment Milad Ke-40 ini ada hal yang bisa kita tanyakan pada diri kita masing-masing; ‘Apa dan sudah sejauh mana kita memberikan manfaat kepada lembaga ini. Bukan hanya apa yang telah kita terima dari pondok, tetapi juga apa yang telah kita berikan untuk keberlangsungan dan kemajuan pondok’” tambah beliau
Dengan menghadapi perkembangan zaman ini, Al Fithrah harus mampu menyesuaikan dan menyelesaikan tantangan zaman, tapi juga harus tetap dalam tradisi luhur para masyakhih. Sesuai prinsip al-Muhafazhah ‘alal Qadimish Shalih wal Akhdu bil Jadidil Ashlah.
“Dalam moment Milad ke-40 pada siang ini, Jadilah santri yang bukan hanya cerdas secara intelektual, tapi juga kuat, berkarakter dalam berakhlakul karimah dan adab. Hormati para guru, para masyayikh, para ketua kamar, para pengurus yang lebih tua. Serta bagi yang lebih tua, hendaknya mengayomi menyayangi adek-adeknya yang lebih muda. Muliakan orang tua kalian. Senantiasa menanamkan nilai-nilai Al Fithrah dalam hati kalian dan manfaatkan waktu selama berada di pondok untuk menuntut ilmu dan membentuk kepribadian. Ingat, kalian semua membawa amanah dari rumah masing-masing” pesan beliau
Mengembalikan Semangat Khidmah
Mauidhotul hasanah dalam peringatan Milad Ke-40 Al Fithrah disampaikan oleh Ust. H. Wahdi Alawy, S.Ud. Mengawali mauidohnya, Ustad Wahdi mendoakan agar para guru, para ustad dan ustadzah diberikan kesabaran, ketabahan dan kekuatan lahir batih untuk menjaga pendidikan di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya.
Tak lupa, beliau mendoakan para santri agar menjadi orang-orang yang diorangkan oleh orang lain. Menjadi orang mulia dan dimuliakan oleh orang lain. Salah satu kuncinya adalah dengan berkhidmah kepada orang yang mulia.
الخَادِمُ يَشْرَفُ بِشَرَفِ الْمَخْدُوْمِ
“Pembantu itu akan menjadi mulia, sebab kemuliaan orang yang dilayani” jelas Ust. Wahdi menyampaikan penjelasan yang disampaikan ulama-ulama shufiyah.
Khidmah di pesantren di antaranya adalah dengan melaksanakan sholat berjamaah dan belajar dengan sungguh-sungguh.
Beliau juga menyampaikan bahwa usia 40 tahun adalah waktu yang tepat untuk menjadi lebih baik lagi. Disebutkan dalam sebuah ayat Al-Qur’an :
“Dan ketika dia (Musa) telah dewasa dan sempurna akalnya, Kami berikan kepadanya hikmah dan ilmu. Dan demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Qashash [28]: 14)
Sebelum mengakhiri mauidohnya, Ust. Wahdi menghadiahkan sebuah syair untuk Milad Ke-40 Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah. Beliau menamainya Sab’ul Wasaith li nail matholib Tujuh syair untuk mendapatkan apa yang dicari. Tapi kemudian disempurnakan dengan menambahkan dua syair. Berikut bait syairnya:
Wahai Tuhan kami, kabulkanlah doa kami, dengan syafaat Al-Hadi, Nabi kami Muhammad ﷺ.
Wahai Tuhan kami, kabulkanlah doa kami, dengan keberkahan Sultan Auliya Al-Jilani.
Wahai Tuhan kami, kabulkanlah doa kami, dengan (berkah) guru kami, Syaikh Utsman, teladan kami.
Wahai Tuhan kami, kabulkanlah doa kami, dengan (keberkahan) SyaikhAhmad Asrori, pembimbing kami.
Wahai Tuhan kami, kabulkanlah doa kami, dengan kehadiran dalam majelis dan pengabdian kami.
Wahai Tuhan kami, kabulkanlah doa kami, dengan kedekatan di dalamnya dan kesaksian kami.
Wahai Tuhan kami, kabulkanlah doa kami, ketika mata kami meneteskan air mata.
Wahai Tuhan kami, kabulkanlah doa kami, dengan shalawat dari-Mu kepada Thaha Al-Amin ﷺ.
Wahai Tuhanku, kabulkanlah doa kami, dengan keberkahan keluarga, para sahabat, dan para tabi’in.
Selamat memperingati HUT Ke-81 Republik Indonesia, serta Selamat Sukses Milad Ke-40 Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya. Semoga senantiasa guyub rukun dan istiqomah dalam perjuangan. Aamiiin