Bahtsul Masail Shughra: Berjamaah Tidak di Masjid

Selasa (5 Mei 2026) Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya selenggarakan Bahtsul Masail bulanan. Kegiatan yang dilaksanakan di Pendopo Al Fithrah ini diikuti oleh perwakilan dari Santri PDF Wustha Al Fithrah dan PDF Ulya Al Fithrah.

Bahtsul Masail sendiri adalah forum ilmiah khas pesantren untuk mendiskusikan dan menjawab berbagai masalah keagamaan, sosial, dan kemasyarakatan kontemporer berdasarkan kajian kitab kuning. Bahstul masail di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya dilaksanakan sekali setiap bulannya yang merupakan puncak dari kegiatan Musyawarah Kubro mingguan dan musyawarah harian.

Kegiatan dikoordinatori Majlis Kebersamaan dalam Kajian dan Pembahasan Imiah Al Fithrah ini kerap menyelesaikan permasalahan ibadah keseharian maupun muamalah yang sedang hangat diperdebatkan. Dalam majlis malam Rabu kali ini dibahas permasalahan sholat Jamaah.

Deskripsi Masalah

Mayoritas masyarakat muslim melaksanakan shalat berjamaah di masjid, terlebih pada momen hari raya seperti Idul Fitri dan Idul Adha. Pada momen itu jumlah jamaah biasanya membludak hingga melampaui kapasitas masjid. Oleh karena itu, area di luar bangunan masjid seperti halaman atau pelataran kerap digunakan untuk menampung jamaah tambahan.

Dalam suatu pelaksanaan shalat Idul Fitri, Fajar mendapati masjid di lingkungannya telah direnovasi menjadi bangunan yang lebih besar dan megah. Namun, karena banyaknya jamaah, sebagian pelaksanaan shalat meluas hingga ke pelataran luar masjid yang secara fisik bukan lagi bagian dari bangunan masjid.

Permasalahan muncul ketika pelataran tersebut terpisah dari area imam oleh tembok pembatas, sehingga makmum yang berada di pelataran tidak memiliki akses langsung untuk menuju imam. Dengan kata lain, tidak terdapat jalan yang menghubungkan posisi makmum dengan imam, baik secara langsung maupun melalui celah yang memungkinkan untuk dilalui.

Di sisi lain, dalam ketentuan fiqh shalat berjamaah, terdapat syarat tersambungnya jamaah dengan imam, baik melalui kesinambungan shaf maupun adanya kemungkinan الوصول إلى الإمام (kemungkinan untuk menuju imam). Selain itu, status tempat (apakah termasuk bagian dari masjid atau tidak) juga berimplikasi pada hukum ibadah tertentu seperti i‘tikaf yang mensyaratkan dilakukan di dalam masjid.

Pertanyaan:

  1. Apakah sah shalat berjamaah yang dilaksanakan di pelataran luar masjid, sementara antara makmum dan imam terhalang tembok serta tidak terdapat akses yang menghubungkan keduanya?
  2. Apakah sah pelaksanaan i‘tikaf di pelataran luar masjid tersebut yang secara fisik terpisah dari bangunan masjid?

Jawaban:

  1. Hukum berjamaahnya makmum di bagian depan shof yang sejajar dengan pintu samping tidak sah.

حاشية البُجَيْرِمِي على الخطيب (5/149)

( وَإِنْ صَلَّى) الْإِمَامُ فِي الْمَسْجِدِ وَالْمَأْمُومُ (خَارِجَ الْمَسْجِدِ) حَالَةَ كَوْنِهِ (قَرِيبًا مِنْهُ) أَيْ مِنَ الْمَسْجِدِ بِأَنْ لَا يَزِيدَ مَا بَيْنَهُمَا عَلَى ثَلَاثِمِائَةِ ذِرَاعٍ تَقْرِيبًا مُعْتَبَرًا مِنْ آخِرِ الْمَسْجِدِ لِأَنَّ الْمَسْجِدَ كُلَّهُ شَيْءٌ وَاحِدٌ لِأَنَّهُ مَحَلُّ الصَّلَاةِ فَلَا يَدْخُلُ فِي الْحَدِّ الْفَاصِلِ (وَهُوَ عَالِمٌ بِصَلَاتِهِ) أَيْ الْإِمَامِ الَّذِي فِي الْمَسْجِدِ بِأَحَدِ الْأُمُورِ الْمُتَقَدِّمَةِ (وَلَا حَائِلَ هُنَاكَ) بَيْنَهُمَا كَالْبَابِ الْمَفْتُوحِ الَّذِي لَا يَمْنَعُ الِاسْتِطْرَاقَ وَالْمُشَاهَدَةَ (جَازَ) الِاقْتِدَاءُ حِينَئِذٍ، فَلَوْ كَانَ الْمَأْمُومُ فِي الْمَسْجِدِ وَالْإِمَامُ خَارِجَهُ اعْتُبِرَتِ الْمَسَافَةُ مِنْ طَرَفِهِ الَّذِي يَلِي الْإِمَامَ، فَإِنْ حَالَ جِدَارٌ لَا بَابَ فِيهِ أَوْ بَابٌ مُغْلَقٌ مُنِعَ الِاقْتِدَاءُ لِعَدَمِ الِاتِّصَالِ، وَكَذَا الْبَابُ الْمَرْدُودُ وَالشُّبَّاكُ يَمْنَعُ لِحُصُولِ الْحَائِلِ مِنْ وَجْهٍ، إِذِ الْبَابُ الْمَرْدُودُ مَانِعٌ مِنَ الْمُشَاهَدَةِ وَالشُّبَّاكُ مَانِعٌ مِنَ الِاسْتِطْرَاقِ.

قَالَ الْإِسْنَوِيُّ: نَعَمْ، قَالَ الْبَغَوِيُّ فِي فَتَاوِيهِ: لَوْ كَانَ الْبَابُ مَفْتُوحًا وَقْتَ الْإِحْرَامِ فَانْغَلَقَ فِي أَثْنَاءِ الصَّلَاةِ لَمْ يَضُرَّ. انْتَهَى. أَمَّا الْبَابُ الْمَفْتُوحُ فَيَجُوزُ اقْتِدَاءُ الْوَاقِفِ بِحِذَائِهِ وَالصَّفُّ الْمُتَّصِلُ بِهِ وَإِنْ خَرَجُوا عَنْ الْمُحَاذَاةِ، بِخِلَافِ الْعَادِلِ عَنْ مُحَاذَاتِهِ فَلَا يَصِحُّ اقْتِدَاؤُهُ لِلْحَائِلِ.

Jika imam shalat di dalam masjid, dan makmum di luar masjid namun dekat dengannya — yaitu jarak antara keduanya tidak lebih dari kira-kira 300 hasta (+/- 150 meter), dihitung dari ujung masjid — karena seluruh masjid dianggap satu kesatuan, maka:

  • Jika makmum mengetahui shalat imam (melalui melihat atau mendengar),
  • dan tidak ada penghalang (seperti pintu terbuka yang tidak menghalangi lewat dan melihat),

maka sah bermakmum kepadanya.

Namun:

  • Jika ada dinding tanpa pintu, atau pintu tertutup → tidak sah (karena terputus).
  • Pintu tertutup atau jendela juga menghalangi (karena menghalangi pandangan atau akses).

Tambahan:

  • Jika pintu terbuka saat takbir lalu tertutup di tengah shalat → tidak membatalkan.
  • Orang yang sejajar pintu terbuka masih boleh bermakmum.
  • Tapi yang menyimpang dari jalur sejajar → tidak sah karena terhalang.

حاشية البيجوري (2/101)

قَوْلُهُ: (وَهُوَ – أَيْ: الْمَأْمُومُ – عَالِمٌ بِصَلَاتِهِ؛ أَيْ: الْإِمَامِ) أَيْ: بِأَحَدِ الْأُمُورِ الْمُتَقَدِّمَةِ؛ كَالرُّؤْيَةِ لِلْإِمَامِ أَوْ لِبَعْضِ صَفٍّ، وَكَسَمَاعِ صَوْتِهِ أَوْ صَوْتِ مُبَلِّغٍ. قَوْلُهُ: (وَلَا حَائِلَ هُنَاكَ) أَيْ: بِحَيْثُ يُمْكِنُ الْوُصُولُ إِلَى الْإِمَامِ، وَيُشْتَرَطُ هُنَا أَنْ يُمْكِنَ الْوُصُولُ إِلَيْهِ مِنْ غَيْرِ ازْوِرَارٍ وَانْعِطَافٍ، بِخِلَافِهِ فِيمَا تَقَدَّمَ.

(Di antara syarat berjamaah adalah) Makmum harus mengetahui keadaan imam, misalnya:

  • melihat imam atau saf,
  • atau mendengar suara imam / penyampai (muballigh).

Dan syarat tidak ada penghalang artinya:

  • bisa الوصول (akses) ke imam,
  • tanpa harus berbelok atau berputar (jalur langsung).
  • b. Hukum I’tikaf di tempat tersebut tidak sah karena tidak bukan bagian daripada masjid

فتح القريب المجيب (ص 142)

(فَصْلٌ) فِي أَحْكَامِ الِاعْتِكَافِ. وَهُوَ لُغَةً الْإِقَامَةُ عَلَى الشَّيْءِ مِنْ خَيْرٍ أَوْ شَرٍّ، وَشَرْعًا إِقَامَةٌ بِمَسْجِدٍ بِصِفَةٍ مَخْصُوصَةٍ.

I’tikaf: secara bahasa: menetap pada sesuatu (baik atau buruk), sedangkan secara syariat: diam di masjid dengan cara tertentu

حاشية البيجوري (2/461)

الِاعْتِكَافُ أَرْبَعَةٌ؛ وَهِيَ: اللُّبْثُ، وَالْمَسْجِدُ الْمُعْتَكَفُ فِيهِ، وَالشَّخْصُ الْمُعْتَكِفُ، وَالنِّيَّةُ. لَكِنْ بَعْضُهَا بِطَرِيقِ التَّصْرِيحِ؛ وَهُوَ اللُّبْثُ وَالْمَسْجِدُ، فَإِنَّ الْإِقَامَةَ هِيَ اللُّبْثُ. وَبَعْضُهَا لَا بِطَرِيقِ التَّصْرِيحِ؛ وَهُوَ الشَّخْصُ، فَإِنَّ الْإِقَامَةَ تَسْتَلْزِمُ الْمُقِيمَ، وَالنِّيَّةُ الَّتِي أَشَارَ إِلَيْهَا بِقَوْلِهِ: (بِصِفَةٍ مَخْصُوصَةٍ)، كَمَا أَشَارَ بِهِ إِلَى شُرُوطِ الشَّخْصِ الْمُعْتَبَرَةِ فِي الْمُعْتَكِفِ الْآتِيَةِ، وَلَوْ قَالَ كَمَا قَالَ غَيْرُهُ: (مِنْ شَخْصٍ مَخْصُوصٍ بِنِيَّةٍ) لَكَانَ أَوْضَحَ.

Rukun i’tikaf ada 4:

  1. Berdiam (لبث)
  2. Masjid
  3. Orang yang beri’tikaf
  4. Niat

Penjelasan:

  • “diam di masjid” sudah mencakup:
    • tempat (masjid)
    • aktivitas (diam)
  • Sedangkan:
    • orang → dipahami secara implisit
    • niat → ditunjukkan oleh “dengan sifat khusus”

Kalau disebut: “dari orang tertentu dengan niat” itu lebih jelas.

Terlepas dari keadaan berpisah jauh dari imam, pada dasarnya berjamaah itu harusnya saling berdekatan antar satu jamaah dengan jamaah lainnya. Sebagaimana disebutkan oleh Rasulullah SAW:


أَقِيْمُوا الصُّفُوْفَ، فَإِنَّمَا تَصُفُّوْنَ بِصُفُوْفِ الْمَلَائِكَةِ، وَحَاذُوْا بَيْنَ الْمَنَاكِبِ، وَسُدُّوا الْـخَلَلَ، وَلِيْنُوْا فِـيْ أَيْدِي إِخْوَانِكُمْ، وَلَا تَذَرُوْا فُرُجَاتٍ  لِلشَّيْطَانِ، وَمَنْ وَصَلَ صَفًّا وَصَلَهُ اللهُ ، وَمَنْ قَطَعَ صَفًّا قَطَعَهُ اللهُ
.

Luruskanlah shaf (di dalam shalat) kalian sebagaimana bershafnya para Malaikat, ratakanlah pundak-pundak kalian, tutupilah celah-celah, dan berlakulah lemah-lembut terhadap saudara (di sisi kiri dan kanan) kalian! Jangan biarkan satu celah pun untuk setan! Barangsiapa yang menyambung shaf, maka Allah Tabaraka wa Ta’ala akan menyambung (rahmat)Nya, dan barangsiapa yang memutuskan shaf, maka Allah akan memutuskan (rahmat)Nya.”[Shahih: HR. Ahmad (II/97-98), Abu Dawud (no. 666) dan al-Baihaqi dalam as-Sunanul Kubra (III/101). Lihat Shahiih at-Targiib wat Tarhiib (no. 495)]