Kisah

Kanjeng Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani: Figur Spiritualitas dan Kepedulian Sosial

Kanjeng Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani adalah di antara ulama yang namanya dikenang sepanjang masa. Ajarannya dipelajari, dikaji dan dibacakan di seluruh penjuru dunia. Indonesia di antaranya.

Biografi atau manaqib kanjeng Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani dibacakan di mana-mana. Terutama di setiap setiap malam tanggal sebelas bulan hijriyah. Terlebih di bulan Rabiul Akhir di mana sembilan abad lalu beliau berpulang ke hadirat Allah subhanahu wataala.

Tulisan ini akan mengungkapkan Kanjeng Syaikh beserta peran sosialnya. Tapi sebelumnya mari kita simak biografi singkat Kanjeng Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani berikut ini.

Biografi Kanjeng Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani

Biografi Kanjeng Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani telah terdokumentasikan rapi. Di antara penulisnya adalah Syaikh Abdul Karim Al-Barzanji. Beliau menulis biografi Kanjeng Syaikh dalam kitabnya berjudul Al-Lujayn Al-Dani.

Dalam Kitab Al-Lujayn Al-Dani ini disebutkan bahwa lahir Kanjeng Syaikh pada tahun 471 H di Jilan, Persia yang sekarang masuk daerah Iran. Kanjeng Syaikh lahir pada 1 Ramadhan 470 H dalam salah satu pendapat.

Di masa mudanya, Kanjeng Syaikh banyak menghabiskan waktunya untuk riyadoh dan belajar. Beliau adalah pribadi yang sederhana. Dalam Kitab Al-Lujayn Al-Dani disebutkan:

وَكَانَ لِبَاسُهُ جُبَّةَ صُوْفٍ وَعَلَى رَأْسِهِ خُرَيْقَةً يَمْشِي حَافِيًا فِي الشَّوْكِ وَالْوَعِرْ * لِعَدَمِ وِجْدَانِهِ نَعْلًا يَمْشِي فِيهَا * وَيَقْتَاتُ ثَمَرَ الْأَشْجَارِ وَقَمَامَةَ البَقْلا لِتَرْمَى * وَوَرَقَ الْحَشِيشِ مِنْ شَاطِئِي النَّهْرِ * وَلَا يَنَامُ غَالِبًا وَلَا يَشْرَبُ الْمَاءَ *

“Pakaian yang dipakainya adalah jubah dari berbahan bulu, kepalanya ditutupi secarik kain, berjalan tanpa sandal saat melintasi tempat-tempat berduri di tanah terjal. Yang demikian itu dilakukan Kanjeng Syaikh karena tidak menemukan sandal. Sementara makanannya adalah buah buahan yang masih dipohon, sayuran yang sudah dibuang, serta daun rerumputan yang berada di tepian sungai. Namun, lebih seringnya, Kanjeng Syaikh lebih banyak tidur dan tidak minum”.

Setidaknya ada 13 jenis keilmuan yang beliau pelajari setiap harinya. Berikut dikatakan oleh Syaikh Abdul Karim Al-Barzanji:

وَكَانَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ يَقْرَأُ فِي ثَلَاثَةَ عَشَرَ عِلْمًا التَّفْسِيرَ وَالْحَدِيثَ وَالْخِلَافَ وَالْأُصُولَ وَالنَّحْوَ وَالْقِرَاءَةَ وَغَيْرَ ذَلِكَ

Syekh Abdul Qadir Al-Jilani tiap hari mengajarkan tiga belas macam ilmu yaitu: Tafsir Al-Qur’an, Hadits, ilmu Khilaf, ilmu Ushul yakni Ushulul Kalam/Ushulul Fiqih, ilmu Nahwu, ilmu Qira’ah/Tajwid, ilmu Huruf, ilmu Arudl/Qawâfi, ilmu Ma’âni, ilmu Badi’, ilmu Bayan, Tashawuf/Thariqah. ilmu Manthiq, dan sebagainya.

Beliau Kanjeng Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani wafat pada 11 Rabiuts Tsani 571 H pada usia 91 tahun. Setiap malam tanggal sebelas bulan Rabiuts Tsani diselenggarakan Haul Akbar Kanjeng Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani di PP Darul Ubudiyah Raudlatul Muta’alimin Jatipurwo Surabaya.

Peran Sosial Kanjeng Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani

Kanjeng Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani telah banyak menyampaikan pesan-pesan kebaikan. Banyak secara lisan dalam majlis pengajian maupun dalam tulisan.

Pengajian Kanjeng Syaikh biasa diselenggarakan pada Ahad pagi sebagaimana Kitab Futuhul Ghaib menjelaskannya.

Selain penyampaian lisan dan tulisan, Kanjeng Syaikh juga memberikan tuntunan. Beliau mentauladankan untuk lebih banyak berkhidmah kepada orang-orang yang tak berpunya.

Dalam bersosialisasi, beliau cenderung menghindari para pejabat dan orang-orang kaya. Beliau lebih sering membersamai orang-orang papa, bahkan membersihkan pakaian mereka.

Berikut disampaikan oleh Syaikh Abdul Karim Al-Barzanji:

وَكَانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ مَعَ جَلَالَةِ قَدْرِهِ وَبُعْدِ صِيْتِهِ وَعُلُوَ ذِكْرِهِ يُعَظِمُ الْفُقَرَاءَ * وَيُجَالِسُهُمْ وَيَفْلِي لَهُمْ ثِيَابَهُمْ *

Kanjeng Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani mempunyai derajad tinggi. Namanya harum ke mana-mana. Terkenal mau menghormati fakir miskin, menemani duduk mereka, membersihkan sendiri kutu-kutu yang ada di pakaian mereka.

Ajaran Kanjeng Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani

Ada banyak ajaran Kanjeng Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani. Baik yang didokumentasikan dalam kitab tentang biografi sendiri, maupun yang beliau tauladankan.

Bahwa biografi Kanjeng Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani adalah bersumber dari kitab manaqib

Berikut kami sampaikan sedikit di antara ajaran Kanjeng Syaik Abdul Qodir Al-Jilany:

Tidak jatuh karena cobaan

Sebagai figur spiritual, Kanjeng Syaikh sering untuk mengingatkan agar tidak mudah untuk terjatuh karena cobaan.

لَا تَخْتَرْ جَلْبَ النَّعْمَاءِ وَلَا دَفْعَ البَلْوَى * فَإِنَّ النَّعْمَاءَ وَاصِلَةٌ إِلَيْكَ بِالْقِسْمَةِ اسْتَجْلَبْتَهَا أَمْ لَا * وَالْبَلْوَى حَالَةً بِكَ وَإِنْ كَرِهْتَهَا * فَسَلِّمْ لِلَّهِ فِي الكُلِّ يَفْعَلُ مَا يَشَاءُ * فَإِنْ جَاءَتْكَ النَّعْمَاءُ فَاشْتَغِلْ بِالذِّكْرِ وَالشَّكْرِ *

Syekh Abdul Qadir Al-Jilany berkata: Janganlah engkau hanya inginkan kenikmatan dan menolak cobaan. Sungguh kenikmatan pasti datang kepadamu sesuai takaran Allah, baik engkau mengupayakannya maupun tidak. Demikian pula cobaan, meskipun kau membencinya, pasti akan datang kepadamu. Maka serahkanlah segala urusan kepada Allah, yang melakukan apa pun yang Dia kehendaki.

Bersabar dan bersyukur

فَإِنْ جَاءَتْكَ النَّعْمَاءُ فَاشْتَغِلْ بِالذِّكْرِ وَالشَّكْرِ * وَإِنْ جَاءَتْكَ البَلْوَى فَاشْتَغِلْ بِالصَّبْرِ وَالْمُوَافَقَةِ وَإِنْ كُنْتَ أَعْلَى مِنْ ذَلِكَ فَالرِّضَا وَالتَّلَذُّدُ * وَاعْلَمُوا أَنَّ البَلِيَّةَ لَمْ تَأْتِ الْمُؤْمِنَ لِتُهْلِكَهُ * وَإِنَّمَا أَتَيْهُ لِتَخْتَبِرَهُ *

Tatkala kenikmatan datang menghampirimu, sibukkanlah diri dengan mengingat Allah dan bersyukur. Sementara bila cobaan yang datang, sibukkanlah diri dengan kesabaran dan kesadaran. Kemudian, jika engkau ingin mendapat tempat yang lebih tinggi lagi dari semula, maka kau harus rida dan berusaha menikmati ujian. Ketahuilah bahwa ujian turun bukan untuk membinasakan orang mukmin, tetapi untuk mengujinya.

Jangan asal membenci

إِيَّاكُمْ أَنْ تُحِبُّوْا أَحَدًا أَوْ تَكْرَهُوهُ إِلَّا بَعْدَ عُرْضِ أَفْعَالِهِ عَلَى الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ * كَيْلَا تُحِبُّوْهُ بِالْهَوَى وَتَبْغُضُوْهَ بِالْهَوَى *

Syekh Abdul Qadir: Berhati-hatilah kalian! Jangan sampai mencintai atau membenci seseorang, kecuali setelah menimbang perbuatan-perbuatannya dengan ketentuan Al-Qur’an dan Sunnah. Tujuannya agar kalian tidak menyukai atau membencinya karena hawa nafsu.

Berikut tulisan singkat tentang Kanjeng Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani yang bisa kita ambil pelajaran dan hikmahnya. Semoga kita digolongkan sebagai murid-muridnya, serta mampu menauladani dan mengamalkan ajarannya. Aamiin

Salman, Abu Darda’ dan Seorang Perempuan

Salman al-Farisi ra. ingin menikahi seorang perempuan dari Bani Laits. Ia meminta Abu Darda’ ra. – sahabatnya yang juga keluarga perempuan itu – untuk meminangkan perempuan itu untuk dirinya.

Abu Darda pergi menemui keluarga perempuan tersebut. Ia bercerita kepada mereka tentang keutamaan Salman sebagai sahabat senior yang lebih dulu masuk Islam. Setelah itu, barulah ia utarakan maksud ke datangannya untuk meminang anak perempuan mereka untuk Salmån.

Keluarga perempuan itu menjawab, “kami tidak akan menikahkan anak perempuan kami kepada Salmân. Tapi, kami akan menikahkannya denganmu!”

Abú Darda’ pun menikah dengan perempuan itu. Tak lama setelah peristiwa itu, ia pulang dan menemui Salman.  Ia berkata, “Sesuatu telah terjadi, tapi aku malu menceritakannya kepadamu.” Melihat Abu Darda’ tampak tak nyaman, Salman pun bertanya, “apa itu, Abu Darda’?”

Abu Darda’ pun menceritakan peristiwa itu. Mendengar itu, Salman berkata, “Mestinya aku yang lebih malu karena meminang seorang perempuan yang ternyata Allah takdirkan untukmu.”

Sumber: Shifatu al-Shofwah Juz I hlm 204

Kehati-hatian Abu Bakar ra.

Abu Bakar al-Shiddiq ra. memiliki seorang budak yang bekerja untuk mencari nafkah baginya. Pada suatu malam, budaknya itu menyuguhinya makanan. Lalu Abu Bakar memakannya sesuap.

Budaknya itu pun bertanya, “Mengapa engkau bertanya kepadaku di setiap malam (tentang makanan), tetapi kamu tidak bertanya kepadaku pada malam ini?” Abu Bakar menjawab, “Karena aku sangat lapar.” Ia pun lalu bertanya, “Darimana kamu memperoleh makanan ini?”

Budak itu menjawab, “Dahulu aku pemah berpapasan dengan suatu kaum di masa jahiliyah, lalu aku melakukan jampi-jampi kepada mereka, dan mereka berjanji untuk memberiku sesuatu. Nah, hari ini aku bertemu dengan mereka lagi, dan ternyata mereka sedang mengadakan pesta sehingga mereka pun memberiku makanan ini.”

Abu Bakar berkata, “Kamu menyaris menghancurkanku.” Kemudian Abu Bakar memasukkan tangannya ke tenggorokannya agar muntah. Namun, makanan itu tidak kunjung keluar. Lalu seseorang berkata kepadanya, “Makanan itu tidak bisa keluar kecuali dengan air.”

Abu Bakar pun meminta diambilkan sebaskom air dan meminumnya hingga muntah. Lalu seseorang berkata, “Semoga Allah merahmatimu. Semua ini hanya demi sesuap makanan?” Abu Bakar menjawab, “Seandainya sesuap makanan ini tidak bisa keluar kecuali bersama nyawaku, niscaya tetap aku keluarkan. Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda, ‘Setiap jasad yang tumbuh dari makanan yang haram, maka neraka lebih pantas untuknya’. Karena itu, aku takut ada bagian dari tubuhku yang tumbuh dari sesuap makanan ini.”

Sumber: Hilyatu al-Auliya’ Juz I hlm 30