alfithrah

Wisuda Ke-15 dan Grand Launching Universitas Al Fithrah: Melahirkan Sarjana Berilmu, Berakhlak dan Bermanfaat

SURABAYA – Dalam sejarah panjang perjalannya, perguruan tinggi Al Fithrah dimulai pada tahun 2007.   Pada tanggal 17 Desember 2007, diterbitkan Surat Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Nomor DJ.I/495/2007 tentang pendirian Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin (STIU) Al Fithrah. Adapun kegiatan pendidikannya mulai berdiri pada 11 Maret 2008, bertepatan dengan 3 Rabiulawal 1429 H.

Pada masa awal berdirinya, STIU Al Fithrah menyelenggarakan dua program studi: Tafsir Hadis dan Ilmu Tasawuf. Kehadiran STIU Al Fithrah menjadi langkah penting dalam membangun kesinambungan pendidikan di lingkungan pesantren. Para santri dan masyarakat memperoleh kesempatan untuk mendalami ilmu-ilmu keislaman melalui sistem pendidikan tinggi yang terstruktur dan memiliki legalitas formal.

Seiring perkembangan kebutuhan pendidikan dan tuntutan pengembangan kelembagaan, STIU Al Fithrah melakukan pengajuan alih status pada tahun 2009. Setelah melalui proses pengajuan dan visitasi, permohonan tersebut memperoleh persetujuan pemerintah melalui Surat Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Nomor DJ.I/200/2010 tanggal 26 April 2010.

Melalui keputusan tersebut, STIU Al Fithrah resmi berubah bentuk menjadi Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al Fithrah. Pada tahun 2016, STAI Al Fithrah mengajukan dan memperoleh izin penyelenggaraan dua program studi baru, yaitu: Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) dan Perbankan Syariah.

Perizinan kedua program studi tersebut didasarkan pada Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Nomor 2013 Tahun 2016 tentang Izin Penyelenggaraan Program Sarjana pada Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Swasta. Pada tahun 2023, STAI Al Fithrah mengajukan penambahan program studi sekaligus perubahan bentuk kelembagaan dari sekolah tinggi menjadi institut.

Dua program studi yang diajukan pada tahap tersebut adalah: Hukum Keluarga Islam (HKI) dan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI). Pengembangan tersebut berjalan bersamaan dengan proses alih bentuk kelembagaan menjadi Institut Al Fithrah (IAF).

Usulan perubahan bentuk tersebut akhirnya memperoleh persetujuan melalui Keputusan Menteri Agama (KMA) Nomor 922 Tahun 2023 tanggal 4 Oktober 2023.

Berikut narasi yang telah dikembangkan dengan gaya bahasa jurnalistik, humanis, formal, dan informatif islami. Alur tulisan disusun mulai dari suasana pembukaan, prosesi wisuda, pesan dan motivasi, hingga momentum bersejarah transformasi Institut Al Fithrah menjadi Universitas Al Fithrah. Bagian akhir juga dilengkapi dengan penutup yang menegaskan harapan bagi masa depan lembaga dan para lulusan.

Wisuda Ke-15 Universitas Al Fithrah

Universitas Al Fithrah Surabaya menggelar prosesi Wisuda Ke-15 pada Sabtu, 31 Oktober 2026 M bertepatan dengan 20 Jumadil Ula 1448 H. Bertempat di Gedung Timur Lantai 5 Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah, Jalan Kedinding Lor No. 99 Surabaya, kegiatan ini menjadi momentum penting dalam mengapresiasi perjalanan akademik para mahasiswa sekaligus menandai babak baru perjalanan kelembagaan Universitas Al Fithrah.

Rangkaian acara diawali dengan seremonial spiritual yang menjadi ciri khas lingkungan pendidikan Al Fithrah. Pembacaan Tawasul Fatihah, Istighotsah, dan Maulid Fi Hubby mengawali prosesi dengan suasana khidmat dan penuh keberkahan. Kegiatan tersebut dipimpin oleh Ust. H. Hadori, S.Ud., Ust. H. Luqman Bahrowi, S.Ud., Habib Musthofa Al-Jufri, dan Habib Abdurrahman Baagil.

Setelah rangkaian spiritual selesai, acara dilanjutkan dengan Rapat Senat Terbuka yang dipimpin oleh Ust. Dr. H. Nur Kholis, Lc., M.H.I. Suasana kebangsaan semakin terasa melalui lantunan lagu Indonesia Raya dan Yalal Wathon, kemudian dilanjutkan dengan mengheningkan cipta sebagai bentuk penghormatan terhadap jasa para pahlawan bangsa.

Agenda tahunan ini dihadiri oleh keluarga ndalem Hadratusy Syaikh KH. Ahmad Asrori Al-Ishaqy, jajaran civitas akademika Universitas Al Fithrah, para wisudawan dan wali wisudawan, serta santri putra dan putri PDF Ulya Al Fithrah Surabaya. Kehadiran berbagai unsur tersebut menjadi gambaran eratnya hubungan antara tradisi pesantren, dunia akademik, dan keluarga besar Al Fithrah dalam mengembangkan pendidikan yang berlandaskan nilai-nilai keislaman.

Dalam sambutannya, Rektor Universitas Al Fithrah, Dr. H. Rosidi, M.Fil.I., menyampaikan pesan motivasi kepada seluruh wisudawan dan wisudawati agar tidak menjadikan wisuda sebagai akhir dari proses belajar. Menurutnya, kelulusan justru merupakan awal dari perjalanan baru untuk mengamalkan ilmu dan memberikan kontribusi yang lebih luas bagi masyarakat.

“Wisuda bukanlah garis akhir, melainkan titik awal perjalanan yang sesungguhnya. Gelar yang saudara terima hari ini bukan sekadar tambahan huruf di belakang nama, melainkan amanah untuk memberikan manfaat yang lebih besar kepada masyarakat,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Rektor juga menganjurkan para lulusan untuk terus meningkatkan kapasitas keilmuan dengan melanjutkan pendidikan ke jenjang Pascasarjana Universitas Al Fithrah. Hal tersebut menjadi bagian dari ikhtiar membangun tradisi akademik yang berkesinambungan, sekaligus mendorong lahirnya generasi intelektual muslim yang memiliki kedalaman ilmu dan kematangan spiritual.

86 Mahasiswa Resmi Dikukuhkan sebagai Sarjana

Prosesi wisuda dilanjutkan dengan pembacaan Surat Keputusan Nomor 412/AF/R/PP.07/X/2026/SK oleh Dr. Kusroni, M.Th.I. Berdasarkan keputusan tersebut, sebanyak 86 mahasiswa secara resmi dinyatakan lulus dan mengikuti Wisuda Ke-15 Universitas Al Fithrah.

Para lulusan tersebut berasal dari lima program studi, yakni 14 wisudawan Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, 9 wisudawan Ilmu Tasawuf, 23 wisudawan Perbankan Syariah, 27 wisudawan Manajemen Pendidikan Islam, serta 13 wisudawan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah.

Pada kesempatan yang sama, universitas juga memberikan apresiasi kepada para wisudawan terbaik dari masing-masing program studi. Mereka adalah Zuliatus Sholeha dari Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah, Andin Ina Julia dari Manajemen Pendidikan Islam, Miftakhur Rohman dari Ilmu Tasawuf, Siti Fathia dari Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, serta Muhammad Ainul Haq dari Perbankan Syariah.

Penghargaan tersebut menjadi bentuk apresiasi atas dedikasi, ketekunan, dan prestasi akademik yang telah dicapai selama menempuh pendidikan. Lebih dari sekadar capaian akademik, prestasi ini diharapkan dapat menjadi motivasi bagi para lulusan untuk terus mengembangkan potensi diri dan mengamalkan ilmu di tengah kehidupan masyarakat.

Nasihat mendalam juga disampaikan oleh Prof. Dr. H. Nur Syam, M.Si., selaku Penasehat Ahli Menteri Agama Republik Indonesia. Dalam pesannya, beliau menekankan bahwa lulusan Universitas Al Fithrah memiliki karakteristik tersendiri karena memperoleh pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada penguasaan ilmu pengetahuan, tetapi juga pembentukan akhlak dan spiritualitas melalui pendidikan tasawuf.

“Sarjana yang bukan sembarang sarjana. Karena sarjana yang dilahirkan oleh Universitas Al Fithrah, yang di dalamnya terdapat pendidikan tasawuf yang sangat luar biasa,” tuturnya.

Pesan tersebut sekaligus mengingatkan bahwa gelar akademik idealnya berjalan beriringan dengan pembentukan karakter. Seorang sarjana tidak cukup hanya memiliki kecakapan intelektual, tetapi juga harus mampu menjaga akhlak, mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan, serta menghadirkan manfaat bagi lingkungan sekitarnya.

Launching Universitas Al Fithrah: Babak Baru Perjalanan Pendidikan

Wisuda Ke-15 tahun ini memiliki makna istimewa. Selain menjadi momentum pengukuhan para lulusan, kegiatan ini juga menjadi bagian dari sejarah penting transformasi kelembagaan Institut Al Fithrah (IAF) Surabaya menjadi Universitas Al Fithrah.

Setelah melalui perjalanan panjang selama hampir dua dekade sejak dirintis pada tahun 2007, Institut Al Fithrah akhirnya memasuki babak baru dalam pengembangan pendidikan tinggi. Melalui pengumuman resmi yang dipublikasikan pada 15 Oktober 2026 di situs kampus, Institut Al Fithrah dinyatakan telah resmi bertransformasi menjadi Universitas Al Fithrah berdasarkan Keputusan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 1154 Tahun 2026.

Perubahan bentuk kelembagaan ini bukan sekadar pergantian nama atau identitas institusi. Lebih dari itu, transformasi tersebut merupakan langkah strategis untuk memperluas kontribusi pendidikan Al Fithrah dalam mencetak generasi yang unggul, berintegritas, dan memiliki kedalaman nilai-nilai keislaman.

Momentum bersejarah tersebut disampaikan oleh KH. M. Husni Mubarok, M.Ag., dalam rangkaian Wisuda Ke-15 sekaligus Launching Universitas Al Fithrah. Peresmian ini menjadi penanda dimulainya fase baru perjalanan pendidikan tinggi Al Fithrah, dengan harapan mampu memperkuat peran institusi dalam menjawab tantangan zaman tanpa meninggalkan akar tradisi dan nilai-nilai pesantren yang telah menjadi fondasinya.

Melanjutkan Khidmah, Mengembangkan Keilmuan

Perjalanan panjang Al Fithrah dalam bidang pendidikan merupakan bagian dari ikhtiar melanjutkan perjuangan dakwah dan pendidikan yang diwariskan Hadratusy Syaikh KH. Ahmad Asrori Al-Ishaqy. Nilai-nilai keilmuan, akhlak, tasawuf, dan khidmah menjadi landasan penting dalam membangun generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kesadaran spiritual dan tanggung jawab sosial.

Oleh karena itu, Wisuda Ke-15 dan Launching Universitas Al Fithrah tidak semata-mata menjadi seremoni akademik, melainkan momentum untuk mempertegas komitmen dalam mengembangkan pendidikan yang memadukan keunggulan akademik dengan keluhuran akhlak.

Bagi para wisudawan, gelar sarjana yang telah diraih merupakan amanah sekaligus tanggung jawab untuk terus belajar, berkarya, dan mengabdi. Sementara bagi Universitas Al Fithrah, perubahan status menjadi universitas merupakan tantangan sekaligus peluang untuk meningkatkan mutu pendidikan, memperluas pengembangan keilmuan, dan memberikan kontribusi yang lebih besar bagi umat, bangsa, dan negara.

Dengan semangat khidmah dan berpegang teguh pada nilai-nilai salaf, Universitas Al Fithrah diharapkan terus tumbuh menjadi lembaga pendidikan tinggi Islam yang melahirkan generasi berilmu, berakhlak mulia, serta mampu menjawab kebutuhan masyarakat dan perkembangan zaman.

Selamat kepada seluruh wisudawan dan wisudawati Wisuda Ke-15 Universitas Al Fithrah. Semoga ilmu yang telah diperoleh menjadi ilmu yang manfaat dan barokah, menjadi bekal dalam melanjutkan khidmah, serta menjadi jalan untuk menghadirkan kemaslahatan bagi sesama. Selamat pula atas lahirnya Universitas Al Fithrah. Semoga langkah baru ini senantiasa mendapatkan ridha Allah SWT dan menjadi bagian dari keberlanjutan perjuangan dalam mencerdaskan kehidupan umat dan bangsa.

Ziarah dan Rekreasi Hari Santri Nasional 2026, Pondok Pesantren Progresif Fatimah Al Amin Semarang Kunjungi Al Fithrah Surabaya

SURABAYA – Pondok Pesantren Progresif Fatimah Al Amin Semarang merupakan lembaga pendidikan Islam yang memadukan pembelajaran agama dengan pengembangan wawasan dan karakter santri. Melalui pendidikan pesantren, para santri dibimbing untuk mendalami ilmu agama, membangun akhlak mulia, serta mempersiapkan diri agar mampu berkontribusi positif di tengah masyarakat. Kunjungan ke lembaga pendidikan lain menjadi salah satu sarana untuk memperluas wawasan dan mempererat hubungan antarpesantren.

Pondok Pesantren Progresif Fathimah Al-Amin Semarang sendiri adalah sebuah lembaga pendidikan Islam modern berbasis spiritualitas tasawuf dan life skill yang didirikan oleh Guru Besar Tasawuf UIN Walisongo, Prof. Dr. H.M. Amin Syukur, M.A. bersama Dra. Hj. Fathimah Utsman, M.Si.

Dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional (HSN) Tahun 2026, rombongan Pondok Pesantren Progresif Fatimah Al Amin Semarang melaksanakan kegiatan “Ziarah dan Rekreasi dalam Rangka Memperingati Hari Santri Nasional Tahun 2026” di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya. Kegiatan ini berlangsung pada Sabtu, 24 Oktober 2026, mulai pukul 08.00 WIB hingga selesai, bertempat di Pendopo Al Fithrah Surabaya.

Mengenal Profil dan Budaya Pondok Pesantren Al Fithrah Surabaya

Rangkaian kegiatan di Pendopo Al Fithrah Surabaya diisi dengan pemaparan profil lembaga, pengenalan peraturan, kegiatan, serta budaya yang diterapkan di lingkungan pesantren.

Ustadz Ilyas menyampaikan penjelasan mengenai profil Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya. Dalam pemaparannya, beliau mengenalkan berbagai peraturan, kegiatan keseharian, dan budaya pesantren yang menjadi bagian dari pembentukan karakter santri. Selain itu, beliau juga memperkenalkan berbagai instansi pendidikan yang berada di lingkungan Pondok Pesantren Al Fithrah Surabaya.

Pemaparan tersebut memberikan gambaran kepada rombongan mengenai sistem pendidikan dan kehidupan pesantren di Al Fithrah, termasuk bagaimana kegiatan pendidikan, pembinaan, dan pembiasaan sehari-hari berjalan dalam lingkungan pondok.

Mengenal Universitas Al Fithrah dan Ma’had Aly Al Fithrah

Selanjutnya, Ustadz Fathur Rozi menjelaskan tentang Universitas Al Fithrah dan Ma’had Aly Al Fithrah. Beliau memaparkan perbedaan kedua lembaga tersebut, baik dari segi orientasi pendidikan maupun budaya akademik yang diterapkan di masing-masing instansi.

Penjelasan ini menjadi kesempatan bagi rombongan Pondok Pesantren Progresif Fatimah Al Amin Semarang untuk mengenal lebih dekat ragam jenjang pendidikan yang tersedia di lingkungan Al Fithrah Surabaya. Melalui pemaparan tersebut, para peserta diharapkan memperoleh wawasan baru mengenai pengembangan pendidikan Islam, khususnya dalam bidang pendidikan tinggi dan pendalaman ilmu agama.

Perkenalan Pondok Pesantren Progresif Fatimah Al Amin Semarang

Dalam kesempatan yang sama, pimpinan Pondok Pesantren Progresif Fatimah Al Amin Semarang menyampaikan ucapan terima kasih atas sambutan dan penerimaan yang diberikan oleh keluarga besar Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya.

Pimpinan pondok juga menceritakan latar belakang berdirinya Pondok Pesantren Progresif Fatimah Al Amin Semarang serta memperkenalkan para asatidz yang turut berperan dalam proses pendidikan dan pembinaan santri di lembaga tersebut.

Sesi ini menjadi ruang untuk saling mengenal lebih dekat, bertukar pengalaman, serta membangun komunikasi yang baik antarlembaga pendidikan Islam. Melalui pertemuan tersebut, kedua pesantren dapat saling mengenal tradisi, pengalaman, dan pendekatan pendidikan yang diterapkan di lingkungan masing-masing.

Penyerahan Cinderamata sebagai Simbol Silaturahmi

Setelah rangkaian pemaparan dan sesi perkenalan selesai, kegiatan dilanjutkan dengan foto bersama sebagai bentuk dokumentasi dan kenang-kenangan atas pertemuan tersebut.

Usai foto bersama, pihak Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya menyerahkan cinderamata kepada pimpinan Pondok Pesantren Progresif Fatimah Al Amin Semarang. Sebagai bentuk apresiasi dan persahabatan, pihak Pondok Pesantren Progresif Fatimah Al Amin Semarang juga memberikan cinderamata kepada pihak Al Fithrah Surabaya.

Penyerahan cinderamata secara timbal balik tersebut menjadi simbol penghormatan, kebersamaan, dan eratnya hubungan silaturahmi antara kedua lembaga.

Mempererat Ukhuwah dan Menambah Wawasan Pendidikan Pesantren

Kegiatan ziarah dan rekreasi dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional Tahun 2026 ini tidak hanya menjadi ajang kunjungan, tetapi juga sarana untuk menambah wawasan, mengenal budaya pesantren, dan memperkuat ukhuwah Islamiyah.

Melalui kegiatan semacam ini, diharapkan hubungan antarpesantren semakin erat dan terbuka peluang untuk saling bertukar pengalaman dalam mengembangkan pendidikan Islam. Semangat Hari Santri Nasional pun menjadi pengingat pentingnya menjaga tradisi pesantren, memperluas pengetahuan, serta membentuk generasi santri yang berilmu, berakhlak, dan bermanfaat bagi umat.

Pertemuan antara Pondok Pesantren Progresif Fatimah Al Amin Semarang dan Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya diharapkan menjadi langkah positif dalam memperkuat persaudaraan dan membangun sinergi antarlembaga pendidikan Islam.

Hari Santri 2026 di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah: Pesan Memanfaatkan Waktu Luang

Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya berkomitmen mewujudkan generasi yang sholih dan sholihah, pandai bersyukur, ta’at kepada Allah SWT., ta’at kepada Rasulullah SAW., berbakti kepada kedua orang tua, Agama, Nusa dan Bangsa. Hal ini tertulis dan menjadi pedoman dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah.

Di antara bentuk ikhtiar baik ini adalah mengenalkan santri kepada sejarah. Di antara bentuk sejarah santri adalah memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dan mempertahankannya. Secara berurutan tanggal penting dalam perjalanan Bangsa Indonesia di antaranya adalah 17 Agustus 1945, 22 Otober 1945, 10 November 1945.

Tanggal 22 Otober 1945 menjadi patut dikenang sebab menjadi titik awal perjuangan Bangsa Indonesia dalam mempertahankan Indonesia, tepatnya persiapan menuju pertempuan 10 November di Surabaya.

Pada tanggal 22 Oktober 1945 ini KH. Hasyim Asy’ari mengeluarkan perintah Resolusi Jihad yang mewajibkan para santri untuk ikut dalam andil mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Hari ini diperingati sebagai Hari Santri Nasional.

Hari Santri di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah

Peringatan Hari Santri 2026 dikemas dengan acara yang berbeda. Jika biasanya peringatan hari santri diisi dengan apel atau upacara, dua tahun terakhir ini Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya mengisinya dengan Majlis Dzikir dan Maulidurrasul SAW, serta refleksi mengingat sejarah hari santri.

Acara yang diikuti semua santri dan guru dari mulai RA Al Fithrah, MI Al Fithrah, PDF Wustha Al Fithrah, PDF Ulya Al Fithrah, Ma’had Aly dan MDTJ Al Fithrah ini dimulai pada pukul 07.00 WIB dengan diisi Tawasul, Isttighotsah dan Maulid fi Hubby. Dalam hal ini dipimpin secara bergilir oleh Ust. H. Hadlori, S.Ud, Ust. H. Sholeh, S.Ud, Ust. H. Lukman Bahrowi, S.Ud, Ust. Ahmad Syathori, M.Fil.I dan Ust. Kholil Su’udi, S.Ud. Acara dilanjutkan dengan sambutan setelah Doa Maulid fi Hubby selesai dibacakan.

“Mudah-mudahan perkumpulan kita pada hari ini menjadi perkumpulan yang penuh dengan keberkahan. Menjadikan kita sebagai santri yang tidak pernah lepas identitasnya, hatta ilaa yaumil qiyamah” buka Ust. Ilyas Rahman, S.Ud dalam sambutannya mewakili Kepala Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya.

“Hari Santri ini Mari kita jadikan sebagai momen untuk meningkatkan kedisiplinan kita sebagai santri.  Kedisiplinan kita sebagai pendidik dan tenaga kependidikan. Kedisiplinan kita dalam menjalankan amaliah-amaliah Hadratusy Syaikh Romo KH. Ahmad Asrori Al Ishaqy” pesan beliau.

Pesan Untuk Terus Mengaji

Kewajiban untuk belajar adalah terus tertanam selagi nyawa masih dikandung badan. Menggunakan seluruh waktu untuk memupuk ilmu bukanlah hal tabu. Menyemai ilmu di usia senja juga tidak perlu malu. Sebab, ilmu dibutuhkan kapanpun, di mana pun dan dalam kondisi apapun.

Senantiasa menambah ilmu dan pengetahuan sangat kuat kewajibannya bagi santri. Di usianya yang masih muda, Santri diharap menjadi agent of change menuju Indonesia Emas di tahun 2045.

“Pada moment hari santri pada hari ini, Saya berpesan kepada panjenengan semua, khususnya kepada diri sendiri. Teruslah belajar. Teruslah mengaji. Teruslah mengisi waktu-waktu kosong dengan berdiskusi, dengan mengevaluasi, musyawarah, sebagaimana yang tertunag dalam Al-Mahfudlot, pesan dan tips yang diberikan oleh Hadratusy Syaikh Romo KH. Ahmad Asrori Al-Ishaqy” pesan Ust. Ilyas Rahman, S.Ud.

“Mudah-mudahan panjenengan semua semakin meningkat menjadi pribadi yang penuh dengan kasih sayang, berakhlakul karimah, istikomah, tumakninah, baik dalam berkhidmah dan mencari barokah kepada para guru, khususnya Hadratusy Syaikh Romo KH. Ahmad Asrori Al Ishaqy” tutup beliau.

Refleksi Hari Santri 2026

Refleksi dalam agenda Hari Santri Nasional 2026 yang diselenggarakan di Masjid Al Fithrah Surabaya ini disampaikan oleh Ust. H. Khoiruddin, S.Ud. Beliau menyampaikan ada banyak hal yang perlu kita syukuri, di antaranya adalah menjadi santri.

“Tentu pada pagi hari ini, kita bersyukur kepada Allah subhanahu wa ta’ala yang telah melimpahkan rahmat hidayah-Nya kepada kita semua, dhahiran wa bathinan, sehingga hari ini kita bisa bersama-sama mensyukuri suatu nikmat Allah SWT, yang berupa peringatan Hari Santri pada pagi hari ini”

Semoga kaberkahan majlis ini Allah menambahkan kesemangatan kita dalam menuntut ilmu di masa yang akan datang. Menjadi santri adalah di antara nikmat besar, sebab kita dikehendaki baik oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

“Barang siapa yang dikehendaki oleh Allah SWT baik, maka Allah SWT akan memahamkannya dalam urusan agama” (HR Imam Bukhari (no. 71) dan HR Imam Muslim (no. 1037))

Tentu hal ini tidak akan berhasil, kalau kita tidak didasari dengan ilmu. Berdasar yang disampaikan Imam Syafi’i:

مَنْ أَرَادَ الدُّنْيَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ، وَمَنْ أَرَادَ الآخِرَةَ فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ، وَمَنْ أَرَادَهُمَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ

“Barang siapa menginginkan dunia, hendaklah ia berbekal ilmu. Barang siapa menginginkan akhirat, hendaklah ia berbekal ilmu. Dan barang siapa menginginkan keduanya, hendaklah ia berbekal ilmu.”

Untuk mencapai tujuan ilmi ini, Hadratusy Syaikh Romo KH. Ahmad Asrori Al-Ishaqy dalam Al-Malhudlot-nya mengatakan:

وَعَلَيْكَ بِالْمُوَاظَبَةِ وَالْمُدَاوَمَةِ فِي أَوْقَاتِ فَرَاغِكَ لِلْمُطَالَعَةِ وَالْمُرَاجَعَةِ وَالْمُذَاكَرَةِ وَالْمُشَاوَرَةِ عَلَى نَهْجِ التَّدْقِيقِ وَالتَّحْقِيقِ، مُسْتَعِينًا وَمُسْتَمِدًّا مِنَ اللهِ سُبْحَانَهُ.

“Dan hendaklah engkau senantiasa tekun dan istiqamah pada waktu-waktu luangmu untuk menelaah, mengulang pelajaran, berdiskusi, dan bermusyawarah dengan menempuh metode yang cermat dan mendalam dalam meneliti serta memastikan kebenaran, seraya memohon pertolongan dan mengharap limpahan pertolongan dari Allah Swt.”

Kita tidak cukup mengandalkan ilmu. Maka Hadratusy Syaikh Romo KH Ahmad Asrori Al Ishaqy memberikan uswah, suritauladan, yakni Imtitsalul awamiri wa ijtinabun nawahi, melaksanakan perintah-perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-larangan-Nya.

“Kami memohon kepada para ustadz dan ustadzah untuk membersamai adek-adek santri kegiatan wadzifah yaumiyah wal lailiyah. Sehingga menjadi sebab sa’idud dunya wa sa’idul akhiroh (kebahagiaan dunia dan kebahagiaan akhirat)” tutup beliau.

Acara selesai pukul 09.00 WIB dengan ditutup Doa Fatihah oleh Ust. H. Ridwan, S,Ud. Para asatidz dan asatidzah melanjutkan beramah tamah di Pendopo Al Fithrah, sementara para santri bisa membeli aneka makanan ringan hingga buku-buku bacaan menarik di stand-stand bazar yang diadakan oleh pengurus pondok.

Mengakhiri tulisan ini, Kami Santri Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya menyampaikan selamat hari santri 2026 dan Selamat Milad Nyai Seira En Nadia El Ishaqy, semoga panjang umur dan senantiasa dapat membimbing kami, serta semoga peringatan hari santri ini menjadi motivasi untuk menjadi santri yang lebih baik lagi.

MA Al Asror Semarang Selenggarakan “SUNAH” ke Al Fithrah Surabaya

Silaturahmi tidak hanya mempererat hubungan antarmanusia, tetapi juga menjadi jalan untuk saling belajar, berbagi pengalaman, dan mengambil hikmah. Semangat inilah yang dibawa rombongan Madrasah Aliyah (MA) Al Asror Semarang ketika berkunjung ke Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya, Senin, 5 Oktober 2026.

Sebanyak 120 peserta mengikuti kegiatan yang dikemas dalam program SUNAH (Sowan Ulama Ngalab Barokah). Kegiatan ini menjadi momentum bagi para peserta untuk mengenal lebih dekat kehidupan pesantren sekaligus menyambung silaturahmi dengan keluarga besar Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah.

Dalam tradisi Islam, silaturahmi memiliki kedudukan yang istimewa. Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

“Barang siapa ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia menyambung silaturahmi.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Karena itu, kunjungan semacam ini tidak berhenti sebagai perjalanan fisik. Ia dapat menjadi rihlah ilmiah, yakni perjalanan untuk mencari pengalaman, pengetahuan, dan inspirasi yang dapat dibawa pulang.

Mengenal Al Fithrah dan Kehidupan Pesantren

Rombongan MA Al Asror Semarang dipimpin oleh Hj. Bayu Sulistyawati, S.Pd. selaku Ketua Panitia. Kedatangan rombongan diterima dan didampingi oleh Ust. Ilyas Rahman, S.Ud., Wakil Ketua Pondok, serta Ust. Dr. Fathur Rozi, M.H.I., Kabag. Pendidikan Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya.

Rute kunjungan meliputi Pendopo Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah dan dilanjutkan dengan ziarah ke makam Hadratusy Syaikh KH. Ahmad Asrori Al-Ishaqy.

Di Pendopo, Ust. Dr. Fathur Rozi, M.H.I. menyampaikan profil Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah. Penjelasan tidak hanya berkaitan dengan sejarah dan lembaga pendidikan, tetapi juga mengenalkan budaya serta lingkungan kehidupan pesantren.

Para peserta mendapatkan gambaran mengenai berbagai jenjang pendidikan yang ada di Al Fithrah, mulai dari Raudhatul Athfal (RA), Madrasah Ibtidaiyah (MI), Wustha, Ulya, Ma’had Aly, hingga Institut Al Fithrah.

Bagi peserta didik, mengenal lembaga pendidikan lain menjadi pengalaman yang berharga. Mereka dapat melihat secara langsung bagaimana sebuah pesantren mengembangkan pendidikan sekaligus membangun budaya kehidupan yang berorientasi pada ilmu, adab, ibadah, dan khidmah.

Belajar Kebersihan sebagai Bagian dari Pendidikan

Hal menarik lainnya dalam kunjungan tersebut adalah pembahasan mengenai pengelolaan kebersihan lingkungan pesantren.

Ust. Ilyas Rahman, S.Ud. menjelaskan bagaimana kebersihan dikelola di lingkungan Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah, baik di area pondok putra maupun pondok putri.

Penjelasan mencakup struktur pengelolaan, mekanisme pelaksanaan, serta berbagai upaya yang dilakukan agar kebersihan lingkungan pondok dapat terjaga.

Kebersihan dalam lingkungan pesantren bukan sekadar persoalan teknis. Ia juga berkaitan dengan pendidikan karakter.

Islam sangat memperhatikan kebersihan. Rasulullah ﷺ bersabda:

الطُّهُورُ شَطْرُ الْإِيمَانِ

“Bersuci itu adalah sebagian dari iman.”
(HR. Muslim)

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa menjaga kebersihan lingkungan merupakan bagian dari tanggung jawab bersama. Santri tidak hanya belajar dari buku dan kelas, tetapi juga dari kebiasaan sehari-hari.

Membuang sampah pada tempatnya, menjaga kamar tetap rapi, membersihkan lingkungan, serta merawat fasilitas bersama adalah bentuk sederhana dari pendidikan adab.

SUNAH: Rihlah, Silaturahmi, dan Ngalab Barokah

Dalam kesempatan tersebut, Kepala MA Al Asror Semarang menyampaikan terima kasih kepada keluarga besar Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah atas penerimaan dan penyambutan terhadap rombongan.

Beliau juga menyampaikan permohonan maaf apabila selama pelaksanaan kunjungan terdapat kekurangan.

Kegiatan SUNAH sendiri telah direncanakan dan diwacanakan sejak jauh-jauh hari. Setelah melalui proses persiapan, akhirnya rombongan sekitar 120 peserta dapat berkunjung ke Al Fithrah dengan lancar.

Pihak MA Al Asror Semarang juga memperkenalkan secara singkat latar belakang dan profil lembaga kepada keluarga besar Al Fithrah. Pertemuan tersebut akhirnya menjadi ruang untuk saling mengenal, bukan hanya antara dua lembaga pendidikan, tetapi juga antara para pendidik dan peserta didik yang sama-sama sedang menapaki jalan ilmu.

Perjalanan seperti ini mengajarkan bahwa ilmu tidak selalu diperoleh dengan duduk di ruang kelas. Kadang ilmu hadir ketika kita melihat cara orang lain mengelola pesantren. Kadang inspirasi muncul ketika mendengar pengalaman lembaga lain. Dan kadang, keberkahan justru terasa ketika perjalanan ilmu disertai silaturahmi dan ziarah kepada orang-orang saleh.

Semoga kegiatan SUNAH MA Al Asror Semarang ke Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah menjadi perjalanan yang membawa manfaat, mempererat persaudaraan, dan menumbuhkan semangat para peserta untuk terus belajar.

Sebab dalam perjalanan mencari ilmu, yang dibawa pulang bukan hanya pengetahuan, tetapi juga pengalaman, teladan, persaudaraan, dan doa.

Ifsya al-Sirri: Belajar Menjaga Amanah dari Kisah Kanjeng Syaikh Abdul Qadir al-Jilani

Hari ini kita memasuki bulan Rabi’uts Tsani 1448 H. Bulan ini menjadi momentum mengenang guru kita Kanjeng Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani, yang wafat pada 11 Rabi’uts Tsani 561 H. Pada bulan yang sama kita kehilangan Hadratusy Syaikh KH. Muhammad Ustman Al-Ishaqy, tepatnya pada 5 Rabi’uts Tsani 1405 H. Ada kisah menarik dari Kanjeng Syaikh terkait ifsya al-sirri.

Dalam Islam sendiri, hifdz al-sirri atau menjaga rahasia merupakan bagian dari amanah. Sebaliknya, membuka dan menyebarkan rahasia tanpa alasan yang dibenarkan dikenal dengan istilah ifsya al-sirri (إفشاء السر), yaitu membocorkan sesuatu yang semestinya disimpan.

Salah satu kisah yang menarik untuk direnungkan adalah kisah Syaikh Abdul Qadir al-Jilani rahimahullah tentang bagaimana beliau menjaga sebuah perkara yang tidak semestinya diketahui oleh banyak orang. Kisah ini bukan hanya berbicara tentang sebuah peristiwa luar biasa, tetapi juga mengajarkan adab penting: tidak semua yang kita lihat, dengar, dan ketahui harus kita ceritakan kepada orang lain.

Rahasia yang Terjadi di Balik Perjalanan Malam Syaikh Abdul Qadir

Dalam kisah yang dinukil, Abu al-Hasan yang dikenal dengan Ibnu Thanthanah al-Baghdadi merupakan seseorang yang belajar kepada Syaikh Abdul Qadir al-Jilani. Ia begitu memperhatikan kebutuhan gurunya hingga sering begadang dan menunggu apabila sewaktu-waktu sang guru membutuhkan sesuatu.

Pada suatu malam di bulan Shafar tahun 553 H, Abu al-Hasan melihat Syaikh Abdul Qadir keluar dari rumah. Ia bermaksud memberikan sebuah kendi kepada sang guru, tetapi Syaikh Abdul Qadir tidak mengambilnya.

Beliau kemudian berjalan menuju pintu madrasah.

Yang terjadi berikutnya membuat Abu al-Hasan penasaran. Syaikh Abdul Qadir memberikan isyarat kepada pintu tersebut, lalu pintu itu terbuka. Sang Syaikh keluar, sedangkan Abu al-Hasan diam-diam mengikuti dari belakang.

Ia tidak ingin diketahui oleh gurunya.

Perjalanan kemudian berlanjut hingga Syaikh Abdul Qadir sampai di pintu kota Baghdad. Sekali lagi, pintu tersebut terbuka setelah beliau memberikan isyarat. Syaikh kemudian melanjutkan perjalanan hingga tiba di sebuah tempat yang belum pernah dikenal oleh Abu al-Hasan.

Di tempat itu terdapat sebuah bangunan yang menyerupai ribath. Di dalamnya ada enam orang yang sedang duduk. Ketika melihat Syaikh Abdul Qadir datang, mereka segera berdiri dan menyambut beliau dengan penuh penghormatan.

Abu al-Hasan memilih bersembunyi di balik sebuah tiang.

Tak lama kemudian, ia mendengar suara rintihan dari suatu tempat. Setelah beberapa saat, suara tersebut berhenti. Kemudian seorang laki-laki masuk ke arah tempat terdengarnya rintihan tadi dan keluar sambil membawa seseorang.

Peristiwa berikutnya semakin membuat Abu al-Hasan terkejut.

Datanglah seorang laki-laki yang kepalanya tidak tertutup dan kumisnya panjang. Ia berdiri di hadapan Syaikh Abdul Qadir. Laki-laki tersebut kemudian dibimbing untuk mengucapkan dua kalimat syahadat. Setelah itu, rambut dan kumisnya dicukur, lalu ia dikenakan penutup kepala dan diberi nama Muhammad.

Syaikh Abdul Qadir kemudian berkata kepada enam orang yang berada di tempat itu bahwa beliau memerintahkan agar orang tersebut menjadi pengganti orang yang telah meninggal.

Keenam orang itu menjawab dengan kepatuhan.

Setelah urusan tersebut selesai, Syaikh Abdul Qadir meninggalkan tempat itu. Abu al-Hasan kembali mengikuti beliau dari belakang.

Perjalanan yang terasa begitu jauh ternyata berakhir dengan cara yang mengherankan. Tidak lama kemudian, mereka kembali sampai di pintu Baghdad. Pintu itu kembali terbuka seperti sebelumnya. Syaikh Abdul Qadir kemudian melanjutkan perjalanan hingga sampai ke pintu madrasah. Pintu tersebut pun terbuka kembali.

Beliau akhirnya masuk ke rumahnya.

Keesokan harinya, Abu al-Hasan kembali menghadap Syaikh Abdul Qadir untuk belajar. Namun, ia merasakan kewibawaan gurunya begitu kuat hingga dirinya merasa takut dan kesulitan membaca kitab.

Syaikh Abdul Qadir kemudian berkata kepadanya dengan tenang:

“Wahai anakku, bacalah. Tidak apa-apa.”

Mendapat kesempatan tersebut, Abu al-Hasan memberanikan diri bertanya tentang apa yang ia lihat pada malam sebelumnya.

Syaikh Abdul Qadir Menjelaskan Rahasia yang Dilihat Muridnya

Syaikh Abdul Qadir kemudian menjelaskan perjalanan tersebut.

Tempat yang mereka datangi adalah Nahawand. Enam orang yang berada di sana adalah para abdal nujaba. Adapun orang yang sebelumnya terdengar merintih adalah orang ketujuh dari kelompok tersebut yang sedang sakit.

Ketika ajal orang itu telah tiba, Syaikh Abdul Qadir datang untuk menghadiri wafatnya.

Sedangkan orang yang membawa jenazahnya, menurut kisah tersebut, adalah Nabi Abu al-Abbas al-Khidhir RA yang mengambil jenazah tersebut untuk mengurus keperluannya.

Laki-laki yang kemudian dibaiat dan diberi nama Muhammad adalah seorang Nasrani dari Konstantinopel. Ia diperintahkan untuk mengucapkan dua kalimat syahadat dan kemudian dijadikan pengganti orang yang telah meninggal.

Bagi Abu al-Hasan, semua yang terjadi pada malam itu merupakan pengalaman yang luar biasa. Namun, justru setelah menjelaskan semuanya, Syaikh Abdul Qadir memberikan sebuah pesan yang sangat penting.

Beliau mengambil janji kepada Abu al-Hasan agar tidak menceritakan rahasia tersebut kepada siapa pun selama beliau masih hidup.

Dalam kisah itu disebutkan pesan Syaikh Abdul Qadir:

اِحْذَرْ مِنْ إِفْشَاءِ السِّرِّ فِي حَيَاتِي

“Berhati-hatilah, jangan sampai engkau menyebarkan rahasia ini selama aku masih hidup.”

Pesan tersebut menjadi inti penting dari kisah ini.

Bukan hanya tentang apa yang terjadi pada malam itu, tetapi tentang bagaimana seorang guru mengajarkan muridnya untuk menjaga amanah.

Abu al-Hasan telah melihat sesuatu yang tidak dilihat banyak orang. Namun, melihat sesuatu bukan berarti seseorang bebas menceritakannya. Mengetahui sesuatu juga bukan berarti seseorang berhak menyebarkannya.

Di situlah letak adab.

Larangan Menyebarkan Rahasia dalam Islam

Al-Qur’an mengingatkan orang-orang beriman agar tidak mengkhianati amanah. Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengkhianati Allah dan Rasul, dan janganlah kalian mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepada kalian, sedangkan kalian mengetahui.”

(QS. Al-Anfal: 27)

Rasulullah ﷺ juga memberikan peringatan keras mengenai membuka rahasia, terutama rahasia antara suami dan istri. Dari Abu Sa’id al-Khudri r.a., Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ مِنْ أَشَرِّ النَّاسِ عِنْدَ اللَّهِ مَنْزِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ الرَّجُلَ يُفْضِي إِلَى امْرَأَتِهِ وَتُفْضِي إِلَيْهِ ثُمَّ يَنْشُرُ سِرَّهَا

“Sesungguhnya seburuk-buruk manusia kedudukannya di sisi Allah pada hari kiamat adalah seorang laki-laki yang berhubungan dengan istrinya dan istrinya berhubungan dengannya, kemudian ia menyebarkan rahasianya.”

(HR. Muslim, no. 1437).

Hasan al-Bashri rahimahullah juga memberikan nasihat:

إِنَّ مِنَ الْخِيَانَةِ أَنْ تُحَدِّثَ بِسِرِّ أَخِيكَ

“Sesungguhnya termasuk pengkhianatan adalah ketika engkau menceritakan rahasia saudaramu.”

Nasihat ini sangat relevan dalam kehidupan sekarang. Terlebih di zaman media sosial, sebuah rahasia dapat berubah menjadi konsumsi banyak orang hanya dalam hitungan detik. Percakapan pribadi dapat di-screenshot, pesan dapat diteruskan, dan cerita seseorang dapat tersebar tanpa sepengetahuannya.

Karena itu, sebelum membagikan sebuah cerita, hendaknya kita bertanya: Apakah saya berhak menceritakannya? Apakah orang yang bersangkutan mengizinkannya? Apakah ada manfaat dari menyebarkannya? Atau justru akan menimbulkan mudarat?

Tidak Semua Rahasia Harus Disimpan dalam Setiap Keadaan

Menjaga rahasia bukan berarti menutup semua informasi meskipun penyampaiannya diperlukan untuk mencegah bahaya. Para ulama menjelaskan bahwa ada keadaan tertentu ketika sebuah informasi justru perlu disampaikan karena terdapat maslahat.

Al-Qur’an memberikan contoh melalui kisah seorang laki-laki dari ujung kota yang memperingatkan Nabi Musa a.s. mengenai rencana pembunuhan terhadap beliau:

وَجَاءَ رَجُلٌ مِنْ أَقْصَى الْمَدِينَةِ يَسْعَى قَالَ يَا مُوسَىٰ إِنَّ الْمَلَأَ يَأْتَمِرُونَ بِكَ لِيَقْتُلُوكَ فَاخْرُجْ إِنِّي لَكَ مِنَ النَّاصِحِينَ

“Dan datanglah seorang laki-laki dari ujung kota dengan bergegas-gegas seraya berkata, ‘Wahai Musa, sesungguhnya para pembesar negeri sedang berunding tentang engkau untuk membunuhmu. Oleh karena itu, keluarlah dari kota ini. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang memberi nasihat kepadamu.’”

(QS. Al-Qashash: 20)

Artinya, ukuran dalam menjaga atau menyampaikan rahasia adalah amanah dan maslahat. Jika sebuah rahasia memang dipercayakan untuk dijaga dan tidak ada alasan syar’i untuk membukanya, maka menyebarkannya merupakan perbuatan yang harus dihindari.

Kisah Syaikh Abdul Qadir al-Jilani memberikan pelajaran yang sangat dalam: semakin banyak seseorang mengetahui, semakin besar pula tanggung jawabnya untuk menjaga apa yang diketahuinya.

Menjadi orang yang dipercaya bukan karena mampu mengetahui banyak rahasia, tetapi karena mampu menjaga rahasia tersebut.

Di tengah kehidupan yang serba terbuka, menjaga rahasia adalah bentuk akhlak. Tidak menceritakan aib adalah bentuk kasih sayang. Tidak menyebarkan cerita pribadi adalah bentuk penghormatan.

Dan sebagaimana pesan yang tersirat dalam kisah Syaikh Abdul Qadir al-Jilani, terkadang diam bukan berarti tidak tahu, tetapi karena tahu kapan harus menjaga amanah.

Kita tidak harus menceritakan semua yang kita ketahui. Sebab, salah satu tanda kedewasaan dan kemuliaan akhlak adalah mengetahui apa yang boleh disampaikan dan apa yang harus tetap menjadi rahasia.