ahad kedua

Majlis Ahad Kedua Rabiul Awal 1448 H: Menyambut Cinta Rasulullah

Surabaya, 23 Agustus 2026 — Ahad pagi di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya terasa berbeda. Sejak malam hari, jamaah dari berbagai daerah mulai berdatangan. Ada yang datang dari dalam kota, ada pula yang menempuh perjalanan panjang dari luar provinsi.

Mereka datang bukan sekadar untuk menghadiri sebuah acara. Mereka datang untuk duduk bersama, berdzikir, membaca maulid, menyebut nama Rasulullah ﷺ, dan menyambung kembali rasa cinta kepada beliau.

Pada Ahad, 23 Agustus 2026, Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya kembali menyelenggarakan Majlis Ahad Kedua dalam rangka menyambut suasana bulan Rabiul Awal 1448 H. Tanggal tersebut bertepatan dengan 10 Rabiul Awal 1448 H berdasarkan penanggalan Hijriah.

Tenda panjang hampir memenuhi seluruh lapangan pondok. Majlis Ahad Kedua dimulai pukul 07.00 WIB. Tetapi bagi panitia, khidmah telah dimulai jauh sebelum matahari terbit.

Sejak malam hari, jamaah yang datang dari luar provinsi telah mulai berdatangan. Panitia bagian maktab penginapan menyambut mereka dengan ramah, kemudian mengarahkan para jamaah menuju kelas-kelas yang telah dipersiapkan sebagai tempat istirahat.

Khidmah: Seni Mencintai

Di sisi lain, panitia bagian sket juga sibuk mempersiapkan pembatas antara jamaah putra dan putri. Tali, kain, serta petunjuk lokasi telah disiapkan sejak malam agar ketika pagi tiba, jamaah dapat langsung menempati tempatnya dengan tertib.

Pemandangan semacam ini sering kali luput dari perhatian. Orang mungkin hanya melihat majlis ketika acara telah dimulai. Padahal, di balik duduknya ribuan jamaah dengan tenang, terdapat banyak tangan yang bekerja dalam senyap.

Ada yang mengatur kamar mandi. Ada yang menyiapkan konsumsi. Ada yang membersihkan. Ada yang mendekorasi agar lokasi acara sedap dipandang mata. Ada yang menerima tamu. Ada yang berjaga hingga larut malam. Semuanya memiliki satu nama: khidmah. Dan dalam tradisi pesantren, khidmah bukan sekadar pekerjaan teknis. Ia adalah seni mencintai.

Khidmah juga hadir dalam bentuk jamuan. Jamaah Al Khidmah Kediri Raya menyiapkan nasi goreng talaman untuk seluruh jamaah yang hadir. Jamuan tersebut menjadi semakin istimewa dengan adanya sedekah seekor kerbau Tedoong Toraja untuk hidangan para jamaah Majlis Ahad Kedua.

Makanan akhirnya bukan hanya perkara memberikan amunisi raga. Ada tangan yang menyiapkannya. Ada hati yang ikhlas menyedekahkannya. Ada tenaga yang mengolah dan membagikannya. Begitulah majlis dibangun: bukan hanya dengan tenda dan panggung saja, tetapi dengan keikhlasan banyak orang mensukseskannya.

Membaca Maulid: Meneladani Sirah Orang Mulia

Tepat pukul 07.00 WIB, Majlis Ahad Kedua dimulai. Rangkaian acara diisi dengan tawasul, istighotsah, khotmil Quran, Maulid Ad-Diba’i, Maulid Fi Hubby, kemudian ditutup dengan doa dan ramah tamah.

Membaca maulid pada hakikatnya bukan hanya membaca rangkaian syair tentang Rasulullah ﷺ. Di dalamnya terdapat usaha untuk menghadirkan kembali kisah, akhlak, perjuangan, dan kemuliaan beliau ke dalam hati.

Maulid Ad-Diba’i, misalnya, merupakan karya Imam Wajihuddin Abdurrahman ad-Diba’i yang memuat kisah, pujian, serta gambaran kemuliaan Rasulullah ﷺ. Kitab ini dikenal luas di berbagai majlis keislaman dan pesantren di Nusantara. Di antara ungkapan yang masyhur dalam Maulid Ad-Diba’i adalah:

يَا رَبِّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، يَا رَبِّ صَلِّ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ

“Wahai Tuhanku, limpahkanlah shalawat kepada Nabi Muhammad, wahai Tuhanku, limpahkanlah shalawat dan salam kepadanya.”

Kalimat sederhana ini sebenarnya menyimpan pesan yang dalam.

Cinta kepada Rasulullah ﷺ tidak cukup hanya menjadi pengetahuan di kepala. Ia perlu dihidupkan melalui shalawat, pengenalan terhadap sirah beliau, dan usaha meneladani akhlaknya.

Al-Qur’an sendiri mengingatkan:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah suri teladan yang baik bagi kalian.”
(QS. Al-Ahzab: 21)

Karena itu, majlis maulid seharusnya tidak berhenti pada merdunya bacaan. Ada akhlak yang harus dibawa pulang. Ada kasih sayang yang harus dipraktikkan. Ada sunnah yang harus dihidupkan. Dan ada kerinduan kepada Rasulullah ﷺ yang semoga senantiasa berkembang.

Dengan demikian, ketika jamaah membaca kisah Rasulullah ﷺ, sejatinya mereka sedang diajak untuk bertanya kepada diri sendiri: Sudah sejauh mana bukti cinta kepada Rasulullah ﷺ berbuah akhlak pada kehidupan kita?

Rangkaian acara seremonial berakhir sekitar pukul 10.00 WIB. Sebelum dilanjutkan dengan mauidoh hasanah, pembawa acara menyampaikan sejumlah agenda Majlis Dzikir dan Maulidurrasul ﷺ  yang akan diselenggarakan oleh Jamaah Al Khidmah di berbagai daerah.

Di antaranya adalah:

  • Haul KH. Hasan Arif Waru, Sidoarjo pada Ahad malam, 23 Agustus 2026.
  • Haul Akbar Kabupaten Tulungagung, Ahad pagi, 30 Agustus 2026.
  • Haul Akbar Pati, Jawa Tengah, Ahad malam, 30 Agustus 2026.
  • Haul Akbar Trenggalek, Sabtu pagi, 5 September 2026.
  • Haul Akbar Kanjeng Sunan Giri, Sabtu malam Ahad, 5 September 2026.
  • Haul Akbar Kabupaten Pasuruan, Ahad pagi, 6 September 2026.
  • Haul di Pondok Pesantren Matholiul Anwar Karanggenang, Lamongan, Selasa pagi, 15 September 2026.
  • Haul Akbar Ngroto, Rabu malam dan Kamis pagi, 30 September–1 Oktober 2026.
  • Program Umrah dan Haul Akbar Makkah 2026 bersama Keluarga Ndalem, Jamaah Al Khidmah dan Ukhsafi Copler Community, selama 12 hari dengan keberangkatan 28 November 2026.
  • Haul Akbar Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah, Sabtu malam dan Ahad pagi, 2 Syakban 1448 H / 9–10 Januari 2027.

Rangkaian agenda tersebut memperlihatkan bahwa majlis bukanlah pertemuan yang berdiri sendiri. Satu majlis mengantarkan jamaah menuju majlis berikutnya. Satu pertemuan menyambungkan silaturahmi kepada pertemuan yang lain. Dan dari satu tempat, rasa cinta kepada Rasulullah ﷺ terus dibawa menuju tempat-tempat berikutnya.

Berbekal Cinta Seperti Julaibib

Setelah rangkaian dzikir dan maulid, jamaah mendapatkan mauidoh hasanah yang disampaikan Habib Abdul Qodir Mauladawilah dari Malang. Salah satu kisah yang disampaikan adalah kisah seorang sahabat Rasulullah ﷺ bernama Julaibib.

Julaibib bukan sahabat yang dikenal karena rupa, kekayaan, atau kedudukan. Ia justru merupakan sosok yang secara sosial tidak terlalu diperhitungkan oleh manusia. Namun Rasulullah ﷺ mengenalnya. Bahkan lebih dari itu, Rasulullah ﷺ mencintainya.

“Ada salah seorang sahabat Rasulullah SAW yang tidak dikenal dan tidak terpandang, tapi Rasulullah SAW mencintainya. Beliau adalah Julaibib. Seorang yang tidak baik rupa dan tidak putih. Setiap berkehendak melamar seorang gadis, pasti dia akan ditolak” beliau membuka kisah. Akhirnya sahabat Julaibib dibantu Rasulullah SAW untuk melamar gadis pujaannya dan diterima.

Dalam Shahih Muslim, kisah Julaibib disebutkan secara khusus dalam bab tentang keutamaannya. Ketika Rasulullah ﷺ bertanya tentang siapa yang tidak hadir, para sahabat menyebut beberapa nama. Rasulullah ﷺ kemudian mengatakan bahwa beliau kehilangan Julaibib. Setelah dicari, Julaibib ditemukan telah gugur setelah membunuh tujuh musuh. Rasulullah ﷺ kemudian datang dan berdiri di sisinya.

Kisah ini memperlihatkan satu hal yang sangat manusiawi: Tidak semua orang yang besar di mata manusia adalah besar di sisi Allah. Sebaliknya, tidak semua orang yang luput dari pandangan manusia luput pula dari perhatian Rasulullah ﷺ.

Di sinilah kisah Julaibib menjadi sangat dekat dengan kehidupan kita. Kita hidup di zaman ketika manusia mudah menilai seseorang dari tampilan. Dari pakaian. Dari pekerjaan. Dari jumlah pengikut. Dari kedudukan. Dari popularitas. Padahal, ukuran kemuliaan tidak selalu terlihat dari apa yang tampak. Rasulullah ﷺ justru mengajarkan kepada umatnya untuk melihat manusia dengan kasih sayang.

Ketika Guru Menjadi Jalan Mengenal Rasulullah SAW

Dalam mauidohnya, Habib Abdul Qodir Mauladawilah juga mengajak jamaah merenungkan hubungan seorang murid dengan gurunya. Sebagaimana Rasulullah ﷺ memberikan perhatian kepada Julaibib, demikian pula seorang guru memberikan perhatian kepada murid-muridnya.

Kadang seorang murid merasa dirinya tidak dikenal. Padahal, bisa jadi gurunya justru terus memikirkan dirinya. Kadang seorang murid merasa jauh. Padahal, bisa jadi sang guru telah menghabiskan banyak waktu untuk mendoakan dan membimbingnya.

Karena itu, hubungan murid dengan guru tidak berhenti hanya karena perpisahan tempat. Apalagi ketika seorang guru telah berpulang ke hadirat Allah. Hubungan itu tidak semestinya hilang.

Justru doa, tawasul, mengenang keteladanan, membaca ajaran, serta meneruskan perjuangan dan khidmah menjadi bagian dari cara seorang murid menjaga hubungan batinnya dengan guru.

Dalam suasana majlis yang penuh dengan dzikir dan shalawat, disampaikan pula doa:

يَا اللهُ يَا مُغْنِي جُدْ عَطَا لَاتُبْطِي

بِالْوَالِي وَالْمُرْشِدِي شَيْخِ أَحْمَدَ أَسْرَارِي

“Ya Allah, Dzat Yang Maha Memberi kecukupan, limpahkanlah pemberian-Mu, dengan perantara wali dan mursyidku, Syaikh Ahmad Asrori.”

Doa tersebut menjadi ungkapan kerinduan seorang murid kepada guru, sekaligus harapan agar hubungan batin dengan guru menjadi jalan untuk semakin mengenal Rasulullah ﷺ.

“Kita Krisis Figur”

Salah satu kegelisahan yang disampaikan dalam mauidoh adalah tentang krisis figur. Di tengah zaman yang begitu ramai dengan berbagai tokoh, manusia justru bisa kehilangan teladan.

Kita mengenal banyak nama. Tetapi belum tentu mengenal keteladanan. Kita melihat banyak orang berbicara. Tetapi belum tentu menemukan seseorang yang hidupnya dapat diteladani.

Karena itu, mengenang Hadratusy Syaikh KH. Ahmad Asrori Al-Ishaqy bukan semata-mata mengenang sosok seorang guru yang telah wafat. Lebih dari itu, ia adalah usaha untuk mengingat kembali nilai-nilai yang beliau tanamkan: dzikir, khidmah, akhlak, tawadhu, kecintaan kepada Rasulullah ﷺ, serta perhatian kepada umat.

Di hadapan makam Hadratusy Syaikh, lahirlah sebuah doa yang sangat sederhana namun dalam: Semoga majlis ini menjadi perahu besar untuk menuju Rasulullah ﷺ.

Perahu itu adalah majlis. Dayungnya adalah dzikir. Anginnya adalah cinta. Dan tujuannya adalah ridha Allah serta kebersamaan dengan Rasulullah ﷺ.

Dari Julaibib, jamaah diajak memahami bahwa cinta Rasulullah ﷺ tidak selalu diberikan kepada mereka yang terlihat besar di mata manusia.

Dan majlis mengajarkan bahwa cinta kepada Rasulullah ﷺ tidak boleh berhenti pada lantunan shalawat. Cinta harus melahirkan akhlak. Cinta harus melahirkan khidmah. Cinta harus melahirkan kerinduan untuk mengikuti sunnah.

Cinta juga harus membuat kita senang berkumpul dengan orang-orang saleh dan menghidupkan majlis-majlis yang mengingatkan hati kepada Allah dan Rasul-Nya. Sebagaimana doa yang dipanjatkan dalam majlis tersebut:

يَا اللهُ، اجْعَلْ هٰذَا الْمَجْلِسَ سَفِينَةً عَظِيمَةً لِلْوُصُولِ إِلَى رَسُولِ اللهِ ﷺ

“Ya Allah, jadikanlah majlis ini sebagai perahu besar untuk menuju Rasulullah ﷺ.”

Semoga Majlis Ahad Kedua tidak hanya meninggalkan kenangan tentang sebuah Ahad pagi. Semoga ia meninggalkan sesuatu yang lebih dalam: hati yang semakin mencintai Rasulullah ﷺ, semakin menghormati guru, semakin ringan dalam khidmah, dan semakin rindu untuk berkumpul bersama orang-orang saleh.

Karena boleh jadi, dunia tidak selalu mencatat nama kita. Tetapi sebagaimana Julaibib, semoga Allah mencatat kita sebagai hamba yang mencintai Rasulullah ﷺ. Dan semoga cinta itu menjadi sebab kita dikumpulkan bersama beliau di akhirat kelak.

اللَّهُمَّ اجْمَعْنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ ﷺ فِي الْجَنَّةِ

Ya Allah, kumpulkanlah kami bersama Rasulullah ﷺ di dalam surga.

Kemuliaan dan Keutamaan Akal dalam Islam Menurut Imam Al-Mawardi dan Imam Al-Ghazali

Majlis Dzikir, Maulidurrasul SAW dan Pengajian Ahad Kedua Bulan Muharram 1448 H telah usai diselenggarakan di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya pada Ahad pagi, 28 Juni 2026 M. / 13 Muharram 1448 H. Dalam majlis itu dibacakan Kitab Al-Muntakhobat fi Rabithah Al-Qolbiyah wa Shilah Al-Ruhiyah Karya Hadratusy Syaikh KH. Ahmad Asrori Al-Ishaqy, tepatnya pada jilid dua bab kemuliaan dan keutaman akal.

Akal merupakan salah satu nikmat terbesar yang Allah Ta’ala anugerahkan kepada manusia. Dengannya manusia mampu membedakan antara yang benar dan yang batil, mengenal Rabb-nya, memahami syariat, serta menjalani kehidupan dengan penuh hikmah. Oleh karena itu, para ulama menempatkan akal sebagai pondasi ilmu, sumber adab, dan sebab sempurnanya taklif (beban syariat).

Dalam khazanah Islam, banyak ulama yang menjelaskan kedudukan akal, di antaranya Sayyiduna Imam Abul Hasan Al-Mawardi dan Imam Hujjatul Islam Al-Ghazali. Penjelasan mereka menunjukkan bahwa akal bukan sekadar kecerdasan berpikir, tetapi juga sarana menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.

Kemuliaan Akal sebagai Dasar Agama dan Kehidupan

Sayyiduna Imam Abul Hasan Al-Mawardi menjelaskan bahwa seluruh keutamaan memiliki dasar, dan seluruh adab mempunyai sumber. Dasar tersebut adalah akal yang Allah jadikan sebagai pondasi agama sekaligus pilar kehidupan dunia.

Beliau berkata bahwa Allah mengaitkan kewajiban syariat dengan kesempurnaan akal. Dengan akal pula manusia mampu menjalankan hukum-hukum Allah serta hidup berdampingan meskipun memiliki keinginan, kebutuhan, dan tujuan yang berbeda-beda.

Hal ini menunjukkan bahwa akal merupakan amanah yang harus dijaga. Semakin baik seseorang menggunakan akalnya untuk menaati Allah, semakin tinggi pula derajatnya di sisi-Nya.

Akal adalah Sumber Ilmu Menurut Imam Al-Ghazali

Imam Hujjatul Islam Al-Ghazali raḥimahullāh menjelaskan hubungan yang sangat erat antara akal dan ilmu.

وَقَالَ سَيِّدُنَا الْإِمَامُ الْحُجَّةُ الْغَزَالِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ: «الْعَقْلُ: مَنْبَعُ الْعِلْمِ وَمَطْلَعُهُ وَأَسَاسُهُ، وَالْعِلْمُ يَجْرِي مِنْهُ مَجْرَى الثَّمَرَةِ مِنَ الشَّجَرَةِ، وَالنُّورِ مِنَ الشَّمْسِ، وَالرُّؤْيَةِ مِنَ الْعَيْنِ، فَكَيْفَ لَا يَشْرُفُ مَا هُوَ وَسِيلَةُ السَّعَادَةِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ؟ …»

Artinya:

“Akal adalah sumber ilmu, tempat terbitnya ilmu, dan fondasinya. Ilmu berasal dari akal sebagaimana buah berasal dari pohon, cahaya berasal dari matahari, dan penglihatan berasal dari mata. Maka, bagaimana mungkin sesuatu yang menjadi sarana menuju kebahagiaan di dunia dan di akhirat tidak memiliki kemuliaan?”

Melalui penjelasan ini, Imam Al-Ghazali memberikan tiga perumpamaan yang sangat indah mengenai hubungan akal dan ilmu.

  • Ilmu berasal dari akal sebagaimana buah berasal dari pohon. Pohon menjadi sebab lahirnya buah.
  • Ilmu berasal dari akal sebagaimana cahaya berasal dari matahari. Cahaya tidak akan ada tanpa sumbernya.
  • Ilmu berasal dari akal sebagaimana penglihatan berasal dari mata. Mata menjadi alat yang memungkinkan seseorang melihat.

Karena ilmu merupakan jalan menuju kebahagiaan dunia dan akhirat, maka akal sebagai fondasi ilmu memiliki kedudukan yang sangat mulia. Akal hendaknya digunakan untuk mengenal Allah, mencari kebenaran, memahami syariat, serta mengamalkan ilmu dengan penuh keikhlasan.

Tanda-Tanda Orang yang Berakal dalam Islam

Kemuliaan akal tidak hanya diukur dari kecerdasan berpikir, tetapi juga tercermin dalam kemampuan mengendalikan diri dan memperbaiki akhlak.

Dalam Al-Ḥikam aṣ-Ṣughrā al-‘Aṭā’iyyah disebutkan:

يُعْرَفُ الْعَاقِلُ بِثَلَاثٍ: بِمَلَكَتِهِ نَفْسَهُ عِنْدَ الشَّهْوَةِ، وَبِمَلَكَتِهِ لَهَا عِنْدَ الْغَضَبِ، وَبِتَرْكِهِ مَا لَا يَعْنِيهِ مَعَ الْقُدْرَةِ عَلَى الدُّخُولِ فِيهِ.

Artinya:

“Seseorang yang berakal dikenali dari tiga perkara: kemampuannya menguasai dirinya ketika dorongan syahwat muncul, kemampuannya mengendalikan dirinya ketika sedang marah, dan kesediaannya meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat baginya, padahal ia mampu untuk turut campur di dalamnya.”

Selain itu disebutkan pula sepuluh tanda kesempurnaan akal.

عَلَامَةُ الْعَقْلِ عَشْرٌ، خَمْسَةٌ مِنْهَا فِي الظَّاهِرِ، وَخَمْسَةٌ مِنْهَا فِي الْبَاطِنِ. أَمَّا الظَّاهِرُ: فَالصَّمْتُ، وَالتَّوَاضُعُ، وَحُسْنُ الْخُلُقِ، وَصِدْقُ الْقَوْلِ، وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ. وَأَمَّا الْبَاطِنُ: فَالتَّفَكُّرُ، وَالِاعْتِبَارُ، وَالْخُشُوعُ، وَالْخَوْفُ، وَذِكْرُ الْمَوْتِ.

Artinya:

“Tanda-tanda orang yang berakal ada sepuluh. Lima di antaranya tampak secara lahiriah, dan lima lainnya bersifat batiniah.

Adapun yang lahiriah ialah:

  1. Diam (menjaga lisan).
  2. Rendah hati.
  3. Akhlak yang baik.
  4. Jujur dalam perkataan.
  5. Beramal saleh.

Adapun yang batiniah ialah:

  1. Gemar berpikir dan merenung.
  2. Mengambil pelajaran dari setiap peristiwa.
  3. Khusyuk.
  4. Takut kepada Allah.
  5. Selalu mengingat kematian.”

Ungkapan ini menegaskan bahwa kesempurnaan akal tidak hanya tampak dari kecerdasan intelektual, tetapi juga dari kemuliaan akhlak dan kebersihan hati. Orang yang benar-benar berakal adalah mereka yang mampu mengendalikan hawa nafsu, menjaga lisan, memperbaiki perilaku, serta menghidupkan hati dengan tafakur, mengambil ibrah, takut kepada Allah, dan senantiasa mengingat kehidupan akhirat.

Penutup

Akal merupakan karunia agung yang Allah Ta’ala berikan kepada manusia sebagai dasar memahami agama, memperoleh ilmu, dan menjalani kehidupan dengan penuh hikmah. Imam Al-Mawardi menegaskan bahwa akal adalah pondasi agama dan sumber adab, sedangkan Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa akal merupakan sumber lahirnya ilmu yang mengantarkan manusia menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.

Oleh sebab itu, setiap muslim hendaknya memelihara akalnya dengan ilmu yang bermanfaat, memperindahnya dengan akhlak yang mulia, serta menggunakannya untuk semakin dekat kepada Allah Ta’ala. Inilah hakikat kemuliaan akal dalam Islam, yaitu akal yang membimbing pemiliknya menuju kebenaran, ketakwaan, dan keselamatan di dunia maupun di akhirat.

Referensi:

Al-Muntakhobat fi Rabithah Al-Qolbiyah wa Shilah Al-Ruhiyah Karya Hadratusy Syaikh KH. Ahmad Asrori Al-Ishaqy, jilid 1, hal. 276.