Telaah

14 Kunci Pembuka Rezeki: Rahasia dari Kitab Kayfa Takunu Ghaniyan

Setiap kita adalah ingin dimudahkan urusan urusan rezekinya. Kalau perlu tidak harus usaha ngoyo tapi hasilnya limpah meruah. Apalagi masing-masing kita memiliki amanat dan tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhannya.

Rezeki itu sudah diatur dan dijamin oleh Allah SWT. Tugas manusia adalah berusaha dan beramal, tetapi hasil akhir sepenuhnya diserahkan kepada Allah. Yakin akan jaminan ini akan melahirkan ketenangan hati. Maka niatkanlah mencari rezeki adalah demi kewajiban menafkahi keluarga.

Sugih iku urusan liyo. seng penting nduwe roso gelemnyambut gawe, didorong minongko njogo awake, melaksanakno amanat kewajibane. Hasil gak hasil, sugih gak sugih, ojok kon urus. Nek sampeyan dadi urusan, akhire sugihne (seng dadi tujuan). Nek pun sugihne (tujuane), niku seng dikuatirno Kanjeng Nabi, ndadekno ngko laline karo Gusti Allah” dawuh KH. Achmad Asrori Al-Ishaqi.

“(tujuan) kaya itu urusan lain. Yang penting memiliki keinginan untuk bekerja, dengan didorong menjaga diri melaksanakan amanat tanggung jawabnya. Hasil atau tidak hasil, kaya atau tidak kaya, jangan jadi urusan. Kalau sampeyan jadikan tujuan, akhirnya kayanya (yang diprioritaskan). Kalau sudah kaya-nya (yang jadi tujuan), itu yang dikhawatirkan Rasulullah SAW menjadikan sebab lupa terhadap Allah subhanahu wa ta’ala” terj.

Berikut kami sampaikan 14 kunci pembuka rezeki yang dirangkum oleh Habib Muhammad bin Alawi bin Umar Alaydrus dalam kitab Kayfa Takunu Ghaniyan. Bukan sekadar teori, tetapi amalan yang telah diamalkan para salaf dan terbukti membawa keberkahan.

Apa saja kunci itu? Berikut penjelasan lengkapnya.

14 Kunci Rezeki dalam Kitab Kayfa Takunu Ghaniyan

Berikut 14 Kunci Pembuka Rezeki yang disebutkan dalam Kitab Kayfa Takunu Ghaniyan:

1. Taqwa dan Istiqamah

Allah berfirman:

وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجۡعَل لَّهُۥ مَخۡرَجٗا وَيَرۡزُقۡهُ مِنۡ حَيۡثُ لَا يَحۡتَسِبُۚ

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (QS. At-Talaq: 2–3)

Taqwa yang disertai istiqamah akan membuka jalan-jalan kemudahan dalam hidup.

2. Bersyukur

Syukur adalah magnet rezeki. Ketika kita mengakui, memuji, dan menggunakan nikmat Allah sesuai tujuan-Nya, maka nikmat itu akan bertambah.

لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ 

“Jika kamu bersyukur, pasti Aku tambah nikmatmu.” (QS. Ibrahim: 7)

3. Membaca Al-Qur’an

Al-Qur’an adalah sumber ketenangan dan kekayaan hati. Dalam sebuah riwayat:

مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ ؛ فَهُوَ غَنِيٌّ، لَا فَقْرَ بَعْدَهُ

“Siapa membaca Al-Qur’an, maka ia menjadi kaya; ia tidak akan fakir setelah itu.”

Surat yang dianjurkan untuk memperluas rezeki antara lain: Al-Waqi’ah, Thaha, Al-Ikhlas, Yasin, Al-Qadr, Al-Insyirah, dan lainnya.

4. Berdzikir kepada Allah

Dzikir adalah sumber ketenangan dan pembuka pintu rezeki. Dzikir La ilaha illallah disebut membuka 99 pintu rezeki.

5. Berdoa

الدُّعَاءُ سِلَاحُ الْمُؤْمِنِ 

“Doa adalah senjata orang mukmin.”

Doa adalah kunci besar pembuka rezeki.

6. Istighfar

فَقُلۡتُ ٱسۡتَغۡفِرُواْ رَبَّكُمۡ إِنَّهُۥ كَانَ غَفَّارٗا. يُرۡسِلِ ٱلسَّمَآءَ عَلَيۡكُم مِّدۡرَارٗا. وَيُمۡدِدۡكُم بِأَمۡوَٰلٖ وَبَنِينَ وَيَجۡعَل لَّكُمۡ جَنَّٰتٖ وَيَجۡعَل لَّكُمۡ أَنۡهَٰرٗا .

maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun-, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai. (Nuh: 10 -12)

Dosa menutup pintu rezeki; istighfar membukanya kembali.

7. Bershalawat

Shalawat mendatangkan rahmat, kemudahan urusan, dan membuka pintu rezeki.

8. Menjaga Shalat

وَأۡمُرۡ أَهۡلَكَ بِٱلصَّلَوٰةِ وَٱصۡطَبِرۡ عَلَيۡهَاۖ لَا نَسۡئلُكَ رِزۡقٗاۖ نَّحۡنُ نَرۡزُقُكَۗ وَٱلۡعَٰقِبَةُ لِلتَّقۡوَىٰ

Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa. (QS. Thaha: 132)

Shalat adalah penghubung dengan Allah dan sumber keberkahan.

Memperhatikan Orang Lain

Dalam memenuhi kebutuhan diri sendiri, kita juga memperhatikan orang lain. Kunci pembuka rezeki bukan hanya sekadar bekerja untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri. Justru, berkah membantu orang lain, menjadi sebab pembuka rezeki bagi diri sendiri.

9. Bersedekah

وَمَآ أَنفَقۡتُم مِّن شَيۡءٖ فَهُوَ يُخۡلِفُهُۥ 

“Apa yang kamu nafkahkan, Allah akan menggantinya.” (QS. Saba: 39)

Sedekah adalah investasi rezeki yang tidak pernah merugi.

10. Menjaga Silaturahim

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ… فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

“Siapa yang ingin dilapangkan rezekinya, sambunglah silaturahim.” (HR. Bukhari Muslim)

Hubungan baik membawa keberkahan hidup.

11. Berbudi Pekerti Luhur

Akhlak baik mendatangkan cinta manusia dan membuka banyak peluang rezeki.

12. Qana’ah

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ، وَرُزِقَ كَفَافًا، وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ

“Sungguh telah beruntung (berjaya) orang yang berislam, dan diberi rezeki sekadar cukup (kafaafan), dan Allah menjadikannya qana’ah (puas) terhadap apa yang diberikan-Nya kepadanya.” Shohih Muslim (Kitab Az-Zakat, Bab: Tentang Kecukupan dan Qana’ah). Nomor Hadis: No. 1054

Qana’ah membuat hati tenang dan hidup berkah.

13. Bersegera Mencari Rezeki di Pagi Hari

بَاكِرُوا طَلَبَ الرِّزْقِ وَالْحَوَائِجِ؛ فَإِنَّ الْغُدُوَّ بَرَكَةٌ وَنَجَاحٌ

“Berpagi-pagianlah kamu dalam mencari rezeki dan hajat (kebutuhan-kebutuhan), karena sesungguhnya pagi itu adalah keberkatan dan kejayaan (kesuksesan).” (HR. Ath-Thabarani)

Pagi adalah waktu rezeki dibagikan.

14. Menjamu Tamu dan Dermawan

“Siapa yang memperbanyak nafkahnya, Allah memperbanyak rezekinya.” (HR. Al-Baihaqi)

Kedermawanan meluaskan rezeki.

Pembuka Rezeki Terbuka Hati

Selain 14 Kunci Pembuka rezeki tersebut, KH. Ahmad Asrori Al-Ishaqy juga mengijazahkan kepada kami bacaan dzikir yang perlu diistikomahkan. Di antaranya adalah membaca doa dzikir tujuh kali setiap pagi dan sore hari agar dicukupkan urusan rezekinya. Berikut redaksinya:

حَسْبِيَ اللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۗ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِࣖ

“Cukuplah Allah bagiku. Tidak ada tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal dan Dia adalah Tuhan pemilik ‘Arasy (singgasana) yang agung.” (QS. At Taubah: 129)

Disamping itu, juga Beliau Kiai Asrori Al-Ishaqy mengijazahkan Sholat Ar-Rizq Al-Midrar agar deras rezekinya. Berikut redaksi sholawatnya:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً تُطِيلُ لَنَا بِهَا الْأَعْمَارَ، وَتُزِيلُ بِهَا عَنَّا جَمِيعَ الْأَسْقَامِ وَالْأَخْطَارِ، وَتُدِرُّ بِهَا عَلَيْنَا الرِّزْقَ الْمِدْرَارَ، وَتَقْضِيَ لَنَا بِهَا جَمِيعَ الْأَوْطَارِ، وَتُشَفِّعْهُ فِينَا عِنْدَكَ فِي دَارِ الدُّنْيَا وَدَارِ الْقَرَارِ، بِرَحْمَتِكَ يَا غَفَّارُ يَا غَفَّارُ يَا قَهَّارُ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ.

“Ya Allah, limpahkanlah salawat kepada junjungan kami Nabi Muhammad —salawat dengannya yang Engkau panjangkan umur kami, dan Engkau hilangkan dengannya dari kami seluruh penyakit dan segala bahaya, dan Engkau alirkan dengannya kepada kami rezeki yang deras, dan Engkau tunaikan dengannya seluruh hajat kami, dan Engkau jadikan beliau memberi syafaat bagi kami di sisi-Mu, di dunia dan di negeri akhir (akhirat). Dengan rahmat-Mu, wahai Maha Pengampun, wahai Maha Pengampun, wahai Maha Perkasa. Serta limpahkanlah salawat dan salam atas keluarga dan para sahabat beliau.”

Rezeki bukan hanya soal bekerja keras, tetapi tentang kedekatan dengan Allah dan akhlak terhadap sesama. Jika 14 amalan ini diamalkan dengan ikhlas, insyaaAllah pintu-pintu rezeki akan terbuka luas. Semoga, bukan hanya rezekinya aja yang dimudahkan, terbukanya hati juga.

Amanah di Era Digital: Menjaga Integritas di Tengah Kemudahan Teknologi

Di era serba cepat dan serba digital ini, kemudahan akses informasi sering kali membuat kita tergoda untuk mengambil jalan pintas. Menyalin tugas dari internet, mengambil tulisan orang tanpa mencantumkan sumber, atau memakai fasilitas kantor untuk kepentingan pribadi—semua itu terlihat sepele, namun sebenarnya menjadi ujian besar bagi amanah dan integritas kita.

Teknologi memang seperti pisau bermata dua. Ia memudahkan proses belajar, bekerja, dan berkomunikasi. Namun, pada saat yang sama, teknologi juga membuka peluang besar bagi seseorang untuk mengabaikan nilai-nilai kejujuran tanpa ada yang mengetahuinya.

Amanah: Nilai Lama yang Tetap Relevan

Konsep amanah bukanlah hal baru. Ia merupakan nilai dasar dalam ajaran agama dan menjadi pondasi bagi perilaku manusia. Allah SWT berfirman:

اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُكُمْ اَنْ تُؤَدُّوا الْاَمٰنٰتِ اِلٰٓى اَهْلِهَاۙ وَاِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ اَنْ تَحْكُمُوْا بِالْعَدْلِۗ اِنَّ اللّٰهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهٖۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ سَمِيْعًا ۢ بَصِيْرًا ۝٥٨

 “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia, hendaklah kamu menetapkan dengan adil…”(QS. An-Nisa: 58)

Rasulullah SAW juga menegaskan pentingnya amanah sebagai bagian dari iman:

لَا إِيمَانَ لِمَنْ لَا أَمَانَةَ لَهُ، وَلَا دِينَ لِمَنْ لَا عَهْدَ لَهُ

“Tidak ada iman bagi orang yang tidak amanah, dan tidak ada agama bagi orang yang tidak menepati janji.” (HR. Ahmad No. 12567)

Nilai amanah bukan hanya soal menjaga titipan atau mengembalikan barang. Ia juga mencakup kejujuran dalam hal-hal kecil sehari-hari: cara kita belajar, bekerja, berkomunikasi, bahkan bersikap di media sosial.

Integritas: Tetap Lurus Meski Tidak Ada yang Melihat

Di zaman digital ini, ujian amanah justru muncul dalam bentuk yang lebih halus. Misalnya:

  • Menggunakan AI untuk mengerjakan tugas tanpa belajar terlebih dahulu.
  • Mengedit laporan agar terlihat lebih sempurna dari kenyataan.
  • Mengambil materi dari internet tanpa menyebutkan sumber.

Tidak ada yang melihat, tetapi hati kita sendiri mengetahui apa yang kita lakukan.

Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menggambarkan amanah sebagai tanda kedewasaan akal dan keimanan.

وَمِنْ كَمَالِ الدِّينِ وَعَقْلِ الْمَرْءِ حِفْظُهُ لِلْأَمَانَةِ، فَإِنَّ الْأَمَانَةَ أَصْلٌ مِنْ أُصُولِ الْأَخْلَاقِ، وَلَا يَسْتَقِيمُ سُلُوكُ الْعَبْدِ إِلَّا بِهَا

“Termasuk kesempurnaan agama dan akal seseorang adalah menjaga amanah. Sebab amanah merupakan salah satu pokok dari akhlak mulia, dan perjalanan seorang hamba menuju kebaikan tidak akan lurus tanpanya.” Ihya’ Ulumuddin, Kitab Riyādhah al-Nafs wa Tahdzīb al-Akhlaq, Juz 3.

Jika dulu amanah diuji lewat harta atau tanggung jawab sosial, kini amanah diuji lewat klik, login, dan unggahan. Di balik layar ponsel, sebenarnya tersimpan ujian hati yang lebih besar.

Memulai dari Hal-Hal Kecil

Menjadi pribadi yang amanah tidak perlu menunggu posisi besar atau tanggung jawab besar. Ia dimulai dari hal-hal sederhana:

  • Siswa yang tetap jujur meski nilainya tidak sempurna.
  • Guru yang menyiapkan materi sendiri meski butuh waktu lebih lama.
  • Pegawai yang bekerja dengan sungguh-sungguh meski tidak selalu dipantau.

Integritas dibangun sedikit demi sedikit, hingga akhirnya menjadi karakter yang kuat. Karena ketika kepercayaan sudah hilang, memulihkannya sangatlah sulit.

Amanah bukan berarti tidak pernah salah, tetapi kemampuan untuk memperbaiki diri setiap kali tergoda untuk curang. Di situlah nilai sejati seseorang dinilai—bukan dari gelar, jabatan, atau pencapaian, melainkan dari kejujuran yang ia jaga.

Penutup: Amanah Bukan Slogan, Melainkan Gaya Hidup

Teknologi akan terus berkembang. Godaannya pun akan semakin besar. Namun nilai-nilai seperti amanah dan integritas tidak akan pernah ketinggalan zaman. Keduanya harus berjalan seiring: tanpa integritas, amanah bisa hilang; tanpa amanah, integritas hanyalah slogan.

Mulailah dari diri sendiri. Jadilah pelajar, guru, atau pegawai yang tetap menjaga kejujuran di tengah derasnya arus kemudahan teknologi. Karena di era digital ini, manusia bukan dinilai dari seberapa cepat ia menggulir layar, tetapi seberapa kuat ia menjaga hatinya agar tetap lurus.

Oleh: Habibul Mabrur Al-Jalali

Allah Ridha dengan Taubat Hamba-Nya

Jangan Menunda untuk Kembali

Sering kali kita merasa langkah kita sudah terlalu jauh, noda dosa terlalu menumpuk, hingga muncul bisikan putus asa: “Apakah mungkin Allah masih mau menerima taubatku? Bagaimana jika aku kembali jatuh dalam dosa setelah bertaubat? Apakah taubatku masih berarti?” Pertanyaan-pertanyaan semacam itu kerap membuat kita menunda untuk kembali kepada Allah, bahkan ada yang akhirnya larut dalam keputusasaan.

Padahal, dalam kondisi hati yang gundah itu, sebaiknya kita kembali merenungi sabda Nabi Saw. yang diriwayatkan Imam Muslim no. 2675. Rasulullah Saw. bersabda:

لَلَّهُ أَشَدُّ فَرَحًا بِتَوْبَةِ أَحَدِكُمْ، مِنْ أَحَدِكُمْ بِضَالَّتِهِ، إِذَا وَجَدَهَا

“Sungguh, Allah lebih gembira dengan taubat salah seorang di antara kalian, daripada kegembiraan seseorang yang menemukan kembali barangnya yang hilang.” (HR. Muslim)

Kisah Musafir dan Unta yang Hilang

Dalam riwayat lain yang terdapat redaksi hadits di atas, Rasulullah Saw. menceritakan kisah seorang musafir yang kehilangan untanya di tengah padang pasir. Pada unta itu terdapat bekal makanan dan minuman, satu-satunya sumber kehidupan baginya. Ia pun berusaha mencarinya ke segala arah, namun tidak juga menemukannya. Lelah, lapar, haus, dan putus asa menyelimuti dirinya. Ia pun berbaring di bawah sebuah pohon, pasrah menunggu ajal.

Namun, saat ia terbangun, tiba-tiba unta itu telah berdiri di hadapannya. Betapa kaget dan bahagianya ia! Saking gembiranya, ia sampai salah ucap, Ya Allah, Engkau hambaku, dan aku Tuhan-Mu.” (padahal ia ingin mengatakan sebaliknya). Itu semua karena kebahagiaan yang begitu meluap-luap.

Dalam riwayat ini, Rasulullah Saw. menegaskan, kebahagiaan Allah menerima taubat hamba-Nya jauh lebih besar daripada kebahagiaan musafir yang menemukan kembali unta dan kehidupannya.

Pandangan Ulama tentang Taubat

Ibn al-Qayyim ra. (Madarij al-Salikin (1/274) menjelaskan:

فالتوبة هي بداية العبد ونهايته، وحاجتُه إليها في النهاية ضرورية، كما حاجتُه إليها في البداية كذلك.

Taubat adalah permulaan seorang hamba sekaligus akhirnya. Kebutuhan hamba terhadap taubat di akhir hayatnya adalah suatu keniscayaan, sebagaimana kebutuhannya terhadap taubat di awal perjalanannya.

Kemudian beliau mengutip firman Allah Ta‘ala:

وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Bertaubatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.” (QS. Al-Nur: 31)

Ayat ini terdapat dalam surah Madaniyyah, di mana Allah memerintahkan orang-orang beriman—yang sudah berjuang dengan iman, kesabaran, hijrah, dan jihad—untuk tetap bertaubat kepada-Nya. Allah bahkan menggantungkan keberuntungan (al-falaah) dengan taubat, sebagaimana akibat yang pasti mengikuti sebabnya. Penggunaan kata “la‘alla” dalam ayat ini memberi isyarat bahwa keberhasilan dan kemenangan hanya bisa diharapkan oleh mereka yang bertaubat.

Maka, jelaslah bahwa taubat adalah awal sekaligus akhir perjalanan seorang hamba, dan kebutuhannya terhadap taubat tidak pernah berhenti sampai ajal menjemput.

Hikmah yang Bisa Dipetik

Dari telaah hadits di atas bisa disimpulakan beberapa hikmah yang bisa kita ambil, di antaranya:

  • Allah membuka pintu taubat seluas-luasnya. Selama ruh belum sampai di tenggorokan, kesempatan untuk kembali kepada-Nya masih ada.
  • Jangan menunda taubat. Menunda hanya memperbesar peluang kita kembali hanyut dalam dosa dan kehilangan kesempatan.
  • Taubat butuh tekad. Niat yang tulus untuk meninggalkan dosa, disertai usaha untuk tidak mengulanginya, adalah syarat diterimanya taubat.
  • Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Rasa ridha dan bahagia-Nya atas taubat hamba adalah tanda kasih sayang yang tiada tara.

Penutup

Maka, jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah. Betapapun besar dosa kita, ampunan Allah jauh lebih besar. Sebagaimana firman-Nya:

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap dirinya sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Zumar: 53) Semoga Allah menerima setiap taubat kita, menyucikan hati kita, dan menjaga kita dari perbuatan maksiat. Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.

Peristiwa Penting di Hari Asyura

Hari Asyura, yang jatuh pada 10 Muharam, telah lama dikenal dalam khazanah keislaman sebagai hari bersejarah dengan banyak peristiwa agung. Para ulama mencatat bahwa hari ini bukanlah hari biasa, tetapi menjadi waktu Allah Swt. menurunkan pertolongan-Nya kepada para nabi dan umat-umat terdahulu.

“Dikatakan bahwa Allah menciptakan Nabi Adam a.s. pada Hari Asyura, menerima tobatnya, menyelamatkan Nabi Ibrahim a.s. dari api, menyelamatkan Nabi Musa a.s. dan menenggelamkan Fir‘aun, serta mengeluarkan Nabi Yunus a.s. dari perut ikan. Pada hari ini juga Nabi Nuh a.s. berlabuh di Gunung Judi, Nabi Ayyub a.s. disembuhkan dari penyakit, Nabi Yusuf a.s. dikeluarkan dari sumur, dan Nabi Isa a.s. lahir dan diangkat ke langit.” (Nihâyatuz Zain, 196)

Beragam peristiwa tersebut menunjukkan bahwa Hari Asyura mengandung makna keselamatan dan pemulihan. Hari ini menjadi momentum pertolongan Allah kepada hamba-hamba pilihan-Nya yang berada dalam ujian besar.

Salah satu tradisi yang diwariskan dari kisah Nabi Nuh a.s. adalah memasak makanan dari sisa-sisa biji-bijian setelah banjir besar. Kisah ini menjadi simbol awal kehidupan baru pascabencana.

“Diriwayatkan bahwa ketika kapal Nabi Nuh a.s. berlabuh di Gunung Judi pada Hari Asyura, beliau berkata kepada para pengikutnya: ‘Kumpulkan sisa-sisa makanan kalian!’ Lalu mereka memasak berbagai biji-bijian: kacang, lentil, gandum, jelai, dan beras.” (Nihâyatuz Zain, 196)

Dengan demikian, Hari Asyura mengandung nilai historis dan spiritual yang tinggi. Ia mengajarkan kita tentang keteguhan iman, pentingnya tobat, dan pengharapan terhadap pertolongan Allah dalam berbagai kondisi sulit.

Referensi
Nihâyatuz Zain

Menghidupkan Sunnah di Bulan Mulia: Puasa Tasu’a dan Asyura

Puasa Tasu’a dan Asyura’ merupakan ibadah sunnah yang sangat dianjurkan di bulan Muharram, khususnya pada tanggal 9 dan 10. Hari Asyura’, yakni tanggal 10 Muharram, dikenal sebagai hari istimewa yang disabdakan Nabi Muhammad ﷺ dapat menghapus dosa setahun sebelumnya. Dalam hadits riwayat Muslim, Nabi ﷺ bersabda, “Aku berharap kepada Allah agar puasa Asyura’ menghapus dosa setahun sebelumnya.” Meski begitu, puasa ini tidak diwajibkan, melainkan sangat ditekankan sebagai bentuk ibadah sunnah muakkadah.

Selain Asyura’, dianjurkan pula untuk berpuasa pada tanggal 9 Muharram, yaitu hari Tasu’a. Hal ini berdasarkan sabda Nabi ﷺ, “Jika aku masih hidup hingga tahun depan, niscaya aku akan berpuasa pada hari kesembilan.” (HR. Muslim). Hikmah puasa Tasu’a adalah sebagai bentuk kehati-hatian agar tidak keliru dalam penentuan hari Asyura’, serta sebagai pembeda dari kebiasaan kaum Yahudi yang hanya berpuasa pada tanggal 10.

Beberapa ulama bahkan menyebutkan bahwa jika tidak sempat berpuasa pada tanggal 9, maka disunnahkan juga berpuasa pada tanggal 11 Muharram. Ini sebagai bentuk kesempurnaan dalam ibadah dan kehati-hatian dalam menghitung tanggal hijriyah yang bisa saja keliru sehari. Maka dari itu, ada yang menganjurkan untuk berpuasa tiga hari sekaligus: tanggal 9, 10, dan 11 Muharram.

Menariknya, keutamaan puasa Asyura’ berbeda dengan puasa Arafah. Puasa Arafah yang dilakukan pada 9 Dzulhijjah dapat menghapus dosa dua tahun, sedangkan Asyura’ menghapus dosa setahun. Hal ini, sebagaimana dijelaskan para ulama seperti Imam Ramli, karena hari Arafah adalah hari yang lebih terkait dengan Nabi Muhammad ﷺ, sedangkan Asyura’ lebih terkait dengan Nabi Musa عليه السلام.

Kesimpulannya, puasa Tasu’a dan Asyura’ adalah momen spiritual penting di awal tahun hijriyah yang sangat dianjurkan untuk dilakukan. Selain sebagai bentuk ibadah, puasa ini juga merupakan simbol identitas umat Islam yang membedakan mereka dari kebiasaan kaum lain, serta bentuk syukur atas kemenangan kebenaran yang dianugerahkan Allah pada hari Asyura’. Maka, mari manfaatkan kesempatan ini untuk memperkuat iman dan mengawali tahun baru Islam dengan amal saleh.

Referensi:
Nihayatu al-Muhtaj, 3/208
Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab, 6/382
Roudlatu al-Thalibiin, 2/387