manaqib

Beriman dengan Hebat seperti Sayyidah Khadijah Al-Kubra

Ahad, 26 April 2026 — Suasana pagi di lingkungan pondok pesantren tampak khidmat. Para santri dengan jubah putih telah memenuhi masjid sejak pagi hari. Jamaah dari berbagai daerah, termasuk puluhan rombongan dari Jawa Tengah, sudah hadir bahkan sejak malam sebelumnya. Tim maktab pun telah menyiapkan penginapan guna menyambut kedatangan mereka.

Pada Ahad pagi itu, pondok pesantren menyelenggarakan rangkaian kegiatan Majelis Dzikir, Halal bi Halal, dan Haul Sayyidah Khadijah Al-Kubra. Acara dimulai pukul 07.00 WIB dengan pembacaan tawasul, istighotsah, dan Surat Yasin.

Kegiatan dilanjutkan dengan pembacaan kitab Al-Busyra fi Manaqib Sayyidah Khadijah Al-Kubra karya Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki. Setelah itu, para jamaah bersama-sama melantunkan nasyid, tahlil, serta maulid Adh-Dhiya’ al-Lami’ karya Habib Umar bin Hafidz.

Dalam kesempatan tersebut juga diumumkan beberapa agenda Haul Akbar yang akan diselenggarakan oleh Jamaah Al Khidmah dalam waktu dekat, di antaranya: Haul Akbar Bawean Ahad pagi 7 Mei 2026, Haul Akbar Karimun Jawa pada Sabtu malam Ahad 9 Mei 2026, Haul Akbar Bali pada Ahad pagi 17 Mei, Haul Akbar Lamongan pada Ahad pagi 31 Mei 2026, Haul Akbar Tegal Raya pada Sabtu malam Ahad 23 Mei 2026, dan Haul Akbar Makkah dan Umrah bersama Jamaah Al Khidmah, Ukhsafi Copler Community, Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah dan Keluaga Ndalem pada bulan November 2026.

Mengenal Sayyidah Khadijah Al-Kubra

Khadijah binti Khuwailid adalah sosok wanita agung dalam sejarah Islam. Beliau lahir sekitar tahun 555 M di Makkah, dari keluarga terpandang Quraisy. Ayahnya adalah Khuwailid bin Asad, seorang saudagar terhormat.

Sejak muda, Sayyidah Khadijah dikenal sebagai perempuan yang cerdas, mulia, dan sukses dalam bidang perdagangan. Karena kemuliaannya, beliau mendapat gelar “Ath-Thahirah” (wanita suci).

Kisah pernikahan beliau dengan Nabi Muhammad bermula ketika Sayyidah Khadijah mempercayakan dagangannya kepada Rasulullah muda. Kejujuran dan akhlak beliau membuat Sayyidah Khadijah terkesan, hingga akhirnya beliau mengutus perantara untuk melamar Rasulullah.

Pernikahan ini menjadi salah satu kisah rumah tangga paling mulia dalam Islam. Dari pernikahan tersebut lahirlah keturunan yang penuh keberkahan, termasuk Fatimah az-Zahra.

Sayyidah Khadijah juga adalah orang pertama yang beriman kepada Rasulullah ﷺ. Ketika wahyu pertama turun (QS. Al-Muzzammil dan Al-Muddatstsir), beliaulah yang pertama menenangkan dan menguatkan Rasulullah.

Beliau mendampingi dakwah dengan penuh pengorbanan, baik secara moral maupun materi. Seluruh hartanya digunakan untuk mendukung perjuangan Islam.

Meneladani Keimanan Sayyidah Khadijah

Dalam mauidzah hasanahnya, Habib Musthofa bin Idrus Al-Khirid dari Malang menegaskan bahwa Sayyidah Khadijah adalah teladan utama, khususnya bagi kaum perempuan.

Beliau adalah sosok Istri yang setia dan penuh cinta, Pendamping dakwah yang total, Sosok dengan akal yang sempurna, Wanita yang namanya terukir di hati Rasulullah ﷺ.

Ketika ada yang membandingkan dengan istri lain, Rasulullah tetap memuliakan Khadijah, menunjukkan betapa dalam cinta beliau kepadanya. Rasulullah SAW pernah dawuh:

مَا أَبْدَلَنِي اللَّهُ خَيْراً مِنهَا، لَقَدْ آمَنَت بِي إِذ كَفَرَ النَّاسُ، وَصَدَّقَتْنِي إِذْ كَذَّبَنِي النَّاسُ، وَآوَتِنِي إِذْ رَفَضَنِي النَّاسُ، وَوَاسَتَنِي إِذْ حَرَمَنِي النَّاسُ، وَرَزَقَنِي أَوْلَادَهَا إِذْ حَرَمَنِي أولادَ النِّسَاء

“Allah tidak memberikan ganti kepadaku wanita yang lebih baik darinya.Sungguh, dia beriman kepadaku ketika orang-orang mengingkariku.Ia membenarkanku ketika orang-orang mendustakanku.Ia melindungiku ketika orang-orang menolakku.Ia mengorbankan hartanya untukku ketika orang-orang menghalangiku. Dan Allah memberiku anak darinya ketika aku tidak mendapatkan anak dari wanita-wanita yang lain.”

Ciri-Ciri Orang Beriman

Terkait sifat dan ciri-ciri orang mukmin, Sayyidah Khadijah pernah menyampaikan dawuhnya Rasulullah SAW:

إِنَّ الْمُؤْمِنَ تَرَاهُ قُوَّةً فِي دِيْنِ، وَحَوْماً فِي لِيْنٍ، وَإِيْمَاناً فِي يَقِيْنٍ، وَحِرْصًا فِي عِلْمٍ، وَعِلْماً فِيْ حِلْمٍ، وَشَفَقَةً فِي مَحَبَّة، وَبِرًّا فِي اِسْتِقَامَةً، وَقَصْدًا فٍِي غِنَى، وَتَجَمُّلاً فِي فَاقَة، وَتَحَرَّجاً عَنْ طَمَعٍ ، وَكَسَباً فِي حَلَالٍ، وَنَشَاطًا فِي هُدَى، وَنَهِياً عَنْ شَهْوَةٍ، وَرَحْمَةً لِلْمَجْهُوْدٍ

Sesungguhnya seorang mukmin itu engkau lihat sebagai sosok yang kuat dalam agamanya, teguh namun tetap lembut, beriman dengan mantap, bersemangat dalam mencari ilmu, berilmu dengan kesabaran, penuh kasih dalam cinta, penuh kebaikan dalam istiqamah; sederhana dalam kekayaan, menjaga kehormatan saat kekurangan, menjauhi ketamakan, mencari rezeki dengan yang halal, bersemangat dalam petunjuk, menahan syahwat, dan mengasihi orang yang kelelahan.

إِنَّ المُؤْمِنَ لَا يَظْلِمُ مَن يُبْغِضُ،وَلَا يَأْثَمُ فِيْمَنْ يُحِبُّ، وَلَا يُضَيِّعُ مَا اسْتَودَعَ ، وَلَا يَحْسُدُ وَلَا يَطْعَنُ فِي الزَّلَازِلِ وَقُوْراً، فِي الرَّخَاءِ شَكُوْراً

Sungguh seorang mukmin itu tidak berbuat zalim kepada orang yang dibencinya, tidak berdosa dalam memperlakukan orang yang dicintainya, tidak mengabaikan amanah yang dititipkan kepadanya, tidak dengki, dan tidak mencela.Dalam masa goncangan ia tetap tenang; dalam masa kelapangan ia penuh syukur.”

Seluruh sifat ini tercermin dalam diri Sayyidah Khadijah Al-Kubra.

Pengorbanan Total untuk Dakwah

Sayyidah Khadijah mengorbankan seluruh hartanya demi perjuangan Rasulullah ﷺ. Bahkan disebutkan dalam kisah-kisah manaqib, di akhir hayatnya beliau tidak memiliki apa-apa lagi selain keimanan yang kokoh.

Keteguhan iman inilah yang menjadikan beliau sebagai salah satu wanita terbaik sepanjang masa.

Haul Sayyidah Khadijah Al-Kubra bukan sekadar mengenang sejarah, tetapi menjadi momentum untuk meneladani keimanan, kesetiaan, dan pengorbanannya.

“Sayyidah Khadijah yang sekarang kita hauli, tidak lain tujuannya adalah agar perempuan di lingkungan kita bisa meneladani beliau. (Majlis Haul) Ini adalah jalan untuk mencintai Rasulullah SAW dan keluarga Rasulullah SAW serta para sahabat. Kita berharap Mudah-mudahan perempuan bisa mengikuti jejaknya Sayyidah Khadijah” jelas Habib Musthofa Al-Khirid.

Semoga kita semua diberikan kekuatan untuk meneladani beliau dan mendapatkan keberkahan, serta ditutup hidup dengan husnul khatimah. Aamiin.

Pelajaran dari Apel Kanjeng Syaikh

Kanjeng Syaikh adalah julukan daripada Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani. Beliau adalah sosok ulama yang namanya tidak asing di telinga umat Islam Nusantara. Kisah tentangnya dibaca berulang melalui kegiatan majlis manaqib yang menceritakan kisah hidupnya.

Di antara kitab manaqib Kanjeng Syaikh yang tersebar luas di Indonesia adalah Kitab Al-Lujayn al-Dani karya Syaikh Abdul Karim Al-Barzanjy yang juga merupakan penulis kitab Maulid Al-Barzanjy.

Kitab Al-Lujayn Al-Dani ini kemudian dihimpun oleh Hadratusy Syaikh KH. Ahmad Asrori Al-Ishaqy ke dalam satu kitab yang berisikan runtutan Tawasul, Istighotsah, Yasin, Manaqib, Tahlil, Nasyid dan doa-doa yang biasa diamalkan oleh para Pengikut Tarekat Qodiriyah wan Naqsyabandiyah Al-Utsmaniyah.

Di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya, kegiatan manaqib diselenggarakan setiap Ahad Awal atau Ahad malam pertama bulan hijriyah. Ada kisah menarik tentang apel Kanjeng Syaikh. Berikut kisah lengkapnya.

Khalifah sowan Kanjeng Syaikh

Khalifah Abul Mudhoffar Yusuf (lahir 549 H / 1154 M.) adalah seorang keturunan raja yang hidup semasa dengan Kenjeng Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani (w. 561 H / 1166 M).

Beliau dikhabarkan sering sowan kepada Kanjeng Syaikh. Bukan jarang, beliau memaksa menunggu meskipun Kanjeng Syaikh tidak berkenan menemuinya. Dalam kunjungannya itu, Khalifah Abul Mudhoffar sering membawa buah tangan untuk diberikan kepada Kanjeng Syaikh.

أُرِيدُ شَيْاً مِنَ الْكَرَامَاتِ لِيَطْمَئِنَّ قَلْبِي

“Saya menginginkan karomah yang memenangkan hatiku” ungkap Khalifah Abul Mudhoffar.

“Apa yang kamu kehendaki” tanya Kanjeng Syaikh memperjelas.

Apel Keramat

تُفَاحًا مِنَ الغَيْبِ وَلَمْ يَكُنْ أَوَّانُهُ بِالْعِرَاقِ

“Sebuah apel dari alam gaib yang bentuknya tidak ada Irak” mantap Abul Mudhoffar.

Kanjeng Syaikh pun mengangkat tangannya ke langit dan tiba-tiba ada dua apel dalam genggamannya.

Kanjeng Syaikh pun memberikan salah satunya kepada Abul Mudhoffar.

Kanjeng Syaikh membelah apelnya dan ternampak putih bersih serta mengeluarkan bau misk apel tersebut. Abul Mudhoffar membelah apel di tangannya dan tampak busuk dipenuhi ulat.

يَا أَبَا الْمُطَفِّرِ هَذِهِ لَمَسَتْهَا يَدُ الظَّالِمِ فَدَوَّدَتْ كَمَا تَرَى وَهْذِهِ لَمَسَتْهَا يَدُ الْوِلَايَةِ فَطَابَتْ

“Yaa Abul Mudhoffar. Demikianlah apel yang dipegang oleh orang dalim, maka berulat sebagaimana Engkau lihat. Sedang apel yang ada di tangan kewalian ‘yadul wilayah’ akan menjadi bersih dan baik” jelas Kanjeng Syaikh.

Kesimpulan

Pisau di tangan orang yang baik akan menjadi peralatan pemenuhan kebutuhan yang kaya akan kemanfaatan.

Sebaliknya, pisau di tangan orang jahat akan mendatangkan kerugian dan mudarat. Wakadzalika al-waqtu

الوَقْتُ كَالسَّيْفِ إِنْ لَمْ تَقْطَعْهُ قَطَعَكَ

Waktu adalah seperti pisau. Jika kamu tidak menggunakannya untuk memotong, ia yang akan memotong mu.

Ada beberapa nama khalifah (raja) yang pernah semasa dengan Kanjeng Syaikh. Sebut ada Al-Muqtafi, memerintah: 530–555 H dan Al-Mustanjid, memerintah: 555–566 H. Tapi keduanya tidak meyakinkan sebagai objek cerita dalam kisah di atas, mengingat di akhir cerita Kanjeng Syaikh menyebut nama Yaa Abul Mudhoffar.

Kebaikan itu cahaya. Ia menyinari dan membuat bahagia sekitarnya.

Sebaliknya, kezaliman adalah kegelapan. Setiap apa yang ada di tangan kezaliman akan menjadi keburukan yang mematikan.

أَسْئَلُكَ بِجَاهِ الْجُدُودِ * وَالِي يُقِيمُ الْحُدُودَ

فِيْنَا وَيَكْفِي الْحَسُوْدَ * وَيَدْفَعُ الظَّالِمِينَ

As`aluka bijâhil-judûd(i) wâlî yuqîmul-hudûd(a)

Fînâ fayakfil-hasûd(a) wa yadfa’udh-dhâlimîn(a)

Kepada-Mu aku memohon dengan sunguh seorang pemimpin yang menegakkan batas-batas Di tengah kami, batas-batas yang mencegah orang-orang dengki dan membasmi orang-orang zalim.

Aamiin