haul akbar

Beriman dengan Hebat seperti Sayyidah Khadijah Al-Kubra

Ahad, 26 April 2026 — Suasana pagi di lingkungan pondok pesantren tampak khidmat. Para santri dengan jubah putih telah memenuhi masjid sejak pagi hari. Jamaah dari berbagai daerah, termasuk puluhan rombongan dari Jawa Tengah, sudah hadir bahkan sejak malam sebelumnya. Tim maktab pun telah menyiapkan penginapan guna menyambut kedatangan mereka.

Pada Ahad pagi itu, pondok pesantren menyelenggarakan rangkaian kegiatan Majelis Dzikir, Halal bi Halal, dan Haul Sayyidah Khadijah Al-Kubra. Acara dimulai pukul 07.00 WIB dengan pembacaan tawasul, istighotsah, dan Surat Yasin.

Kegiatan dilanjutkan dengan pembacaan kitab Al-Busyra fi Manaqib Sayyidah Khadijah Al-Kubra karya Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki. Setelah itu, para jamaah bersama-sama melantunkan nasyid, tahlil, serta maulid Adh-Dhiya’ al-Lami’ karya Habib Umar bin Hafidz.

Dalam kesempatan tersebut juga diumumkan beberapa agenda Haul Akbar yang akan diselenggarakan oleh Jamaah Al Khidmah dalam waktu dekat, di antaranya: Haul Akbar Bawean Ahad pagi 7 Mei 2026, Haul Akbar Karimun Jawa pada Sabtu malam Ahad 9 Mei 2026, Haul Akbar Bali pada Ahad pagi 17 Mei, Haul Akbar Lamongan pada Ahad pagi 31 Mei 2026, Haul Akbar Tegal Raya pada Sabtu malam Ahad 23 Mei 2026, dan Haul Akbar Makkah dan Umrah bersama Jamaah Al Khidmah, Ukhsafi Copler Community, Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah dan Keluaga Ndalem pada bulan November 2026.

Mengenal Sayyidah Khadijah Al-Kubra

Khadijah binti Khuwailid adalah sosok wanita agung dalam sejarah Islam. Beliau lahir sekitar tahun 555 M di Makkah, dari keluarga terpandang Quraisy. Ayahnya adalah Khuwailid bin Asad, seorang saudagar terhormat.

Sejak muda, Sayyidah Khadijah dikenal sebagai perempuan yang cerdas, mulia, dan sukses dalam bidang perdagangan. Karena kemuliaannya, beliau mendapat gelar “Ath-Thahirah” (wanita suci).

Kisah pernikahan beliau dengan Nabi Muhammad bermula ketika Sayyidah Khadijah mempercayakan dagangannya kepada Rasulullah muda. Kejujuran dan akhlak beliau membuat Sayyidah Khadijah terkesan, hingga akhirnya beliau mengutus perantara untuk melamar Rasulullah.

Pernikahan ini menjadi salah satu kisah rumah tangga paling mulia dalam Islam. Dari pernikahan tersebut lahirlah keturunan yang penuh keberkahan, termasuk Fatimah az-Zahra.

Sayyidah Khadijah juga adalah orang pertama yang beriman kepada Rasulullah ﷺ. Ketika wahyu pertama turun (QS. Al-Muzzammil dan Al-Muddatstsir), beliaulah yang pertama menenangkan dan menguatkan Rasulullah.

Beliau mendampingi dakwah dengan penuh pengorbanan, baik secara moral maupun materi. Seluruh hartanya digunakan untuk mendukung perjuangan Islam.

Meneladani Keimanan Sayyidah Khadijah

Dalam mauidzah hasanahnya, Habib Musthofa bin Idrus Al-Khirid dari Malang menegaskan bahwa Sayyidah Khadijah adalah teladan utama, khususnya bagi kaum perempuan.

Beliau adalah sosok Istri yang setia dan penuh cinta, Pendamping dakwah yang total, Sosok dengan akal yang sempurna, Wanita yang namanya terukir di hati Rasulullah ﷺ.

Ketika ada yang membandingkan dengan istri lain, Rasulullah tetap memuliakan Khadijah, menunjukkan betapa dalam cinta beliau kepadanya. Rasulullah SAW pernah dawuh:

مَا أَبْدَلَنِي اللَّهُ خَيْراً مِنهَا، لَقَدْ آمَنَت بِي إِذ كَفَرَ النَّاسُ، وَصَدَّقَتْنِي إِذْ كَذَّبَنِي النَّاسُ، وَآوَتِنِي إِذْ رَفَضَنِي النَّاسُ، وَوَاسَتَنِي إِذْ حَرَمَنِي النَّاسُ، وَرَزَقَنِي أَوْلَادَهَا إِذْ حَرَمَنِي أولادَ النِّسَاء

“Allah tidak memberikan ganti kepadaku wanita yang lebih baik darinya.Sungguh, dia beriman kepadaku ketika orang-orang mengingkariku.Ia membenarkanku ketika orang-orang mendustakanku.Ia melindungiku ketika orang-orang menolakku.Ia mengorbankan hartanya untukku ketika orang-orang menghalangiku. Dan Allah memberiku anak darinya ketika aku tidak mendapatkan anak dari wanita-wanita yang lain.”

Ciri-Ciri Orang Beriman

Terkait sifat dan ciri-ciri orang mukmin, Sayyidah Khadijah pernah menyampaikan dawuhnya Rasulullah SAW:

إِنَّ الْمُؤْمِنَ تَرَاهُ قُوَّةً فِي دِيْنِ، وَحَوْماً فِي لِيْنٍ، وَإِيْمَاناً فِي يَقِيْنٍ، وَحِرْصًا فِي عِلْمٍ، وَعِلْماً فِيْ حِلْمٍ، وَشَفَقَةً فِي مَحَبَّة، وَبِرًّا فِي اِسْتِقَامَةً، وَقَصْدًا فٍِي غِنَى، وَتَجَمُّلاً فِي فَاقَة، وَتَحَرَّجاً عَنْ طَمَعٍ ، وَكَسَباً فِي حَلَالٍ، وَنَشَاطًا فِي هُدَى، وَنَهِياً عَنْ شَهْوَةٍ، وَرَحْمَةً لِلْمَجْهُوْدٍ

Sesungguhnya seorang mukmin itu engkau lihat sebagai sosok yang kuat dalam agamanya, teguh namun tetap lembut, beriman dengan mantap, bersemangat dalam mencari ilmu, berilmu dengan kesabaran, penuh kasih dalam cinta, penuh kebaikan dalam istiqamah; sederhana dalam kekayaan, menjaga kehormatan saat kekurangan, menjauhi ketamakan, mencari rezeki dengan yang halal, bersemangat dalam petunjuk, menahan syahwat, dan mengasihi orang yang kelelahan.

إِنَّ المُؤْمِنَ لَا يَظْلِمُ مَن يُبْغِضُ،وَلَا يَأْثَمُ فِيْمَنْ يُحِبُّ، وَلَا يُضَيِّعُ مَا اسْتَودَعَ ، وَلَا يَحْسُدُ وَلَا يَطْعَنُ فِي الزَّلَازِلِ وَقُوْراً، فِي الرَّخَاءِ شَكُوْراً

Sungguh seorang mukmin itu tidak berbuat zalim kepada orang yang dibencinya, tidak berdosa dalam memperlakukan orang yang dicintainya, tidak mengabaikan amanah yang dititipkan kepadanya, tidak dengki, dan tidak mencela.Dalam masa goncangan ia tetap tenang; dalam masa kelapangan ia penuh syukur.”

Seluruh sifat ini tercermin dalam diri Sayyidah Khadijah Al-Kubra.

Pengorbanan Total untuk Dakwah

Sayyidah Khadijah mengorbankan seluruh hartanya demi perjuangan Rasulullah ﷺ. Bahkan disebutkan dalam kisah-kisah manaqib, di akhir hayatnya beliau tidak memiliki apa-apa lagi selain keimanan yang kokoh.

Keteguhan iman inilah yang menjadikan beliau sebagai salah satu wanita terbaik sepanjang masa.

Haul Sayyidah Khadijah Al-Kubra bukan sekadar mengenang sejarah, tetapi menjadi momentum untuk meneladani keimanan, kesetiaan, dan pengorbanannya.

“Sayyidah Khadijah yang sekarang kita hauli, tidak lain tujuannya adalah agar perempuan di lingkungan kita bisa meneladani beliau. (Majlis Haul) Ini adalah jalan untuk mencintai Rasulullah SAW dan keluarga Rasulullah SAW serta para sahabat. Kita berharap Mudah-mudahan perempuan bisa mengikuti jejaknya Sayyidah Khadijah” jelas Habib Musthofa Al-Khirid.

Semoga kita semua diberikan kekuatan untuk meneladani beliau dan mendapatkan keberkahan, serta ditutup hidup dengan husnul khatimah. Aamiin.

Majlis Dzikir, Maulidur Rasul SAW & Haul Akbar Al Fithrah 2026 Berlangsung Khidmat dan Penuh Makna

Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya kembali menjadi pusat berkumpulnya ratusan ribu jamaah dari berbagai penjuru Indonesia dalam Majlis Dzikir, Maulidur Rasul SAW, dan Haul Akbar, yang diselenggarakan pada Ahad pagi, 06 Sya’ban 1447 H / 25 Januari 2026 M. Kegiatan akbar ini berlangsung dengan penuh kekhusyukan, nuansa mahabbah, serta semangat birrul walidain dan khidmah kepada para masyayikh.

Rangkaian Acara Pagi yang Sarat Dzikir dan Doa

Acara diawali dengan pembacaan Al-Fatihah yang dipimpin oleh KH. Ali Syairozi (Lamongan), dilanjutkan Istighotsah oleh KH. Abdul Kholiq (Jawa Tengah). Suasana semakin khidmat saat Surat Yasin dilantunkan oleh Mas Fadhol Al Abror (Gresik), kemudian disambung Tawassul Manaqib oleh KH. Abu Althof (Pekalongan).

Pembacaan Manaqib disampaikan oleh Tim Santri Al Fithrah, lalu ditutup dengan Doa Manaqib oleh KH. Najib Zamzami (Kediri). Rangkaian dzikir berlanjut dengan Tahlil dan Talqin yang dipimpin KH. Mujib Qulyubi (Jakarta) serta Doa Tahlil oleh Habib Najib bin Hasan Al Haddad.

Puncak rasa cinta kepada Rasulullah SAW terasa dalam Maulidur Rasul SAW yang dilantunkan oleh santri Al Fithrah bersama para habaib, kemudian ditutup dengan Doa Maulid oleh Habib Hamid bin Salim Mauladawilah (Malang).

Sambutan, Mauidhoh Hasanah, dan Ziarah Maqbarah

Sambutan keluarga ndalem disampaikan oleh KH. Muhammad Ayn El Yaqin Al Ishaqy dan Habib Abbas bin Abu Bakar Al Haddad (Pekalongan). Sementara sambutan mewakili panitia disampaikan oleh H. Muhammad Uripan, Ketua Umum Jamaah Al Khidmah Indonesia. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan ucapan ahlan wa sahlan kepada seluruh jamaah, terima kasih kepada Keluarga Ndalem, para panitia, serta unsur Forkopimda atas dukungan dan izin penyelenggaraan acara, sekaligus permohonan maaf atas segala kekurangan selama pelaksanaan haul.

Panitia sudah berkoordinasi dengan pihak berwajib, teman-teman Ukhsafi Copler Community untuk memastikan keamanan, kenyamanan dan kekhusyuan selama majlis berlangsung. Adapun jika terdapat ketidaknyaman dari jamaah yang hadir, warga ataupun pengguna jalan semoga lebih diperbaiki lagi di tahun yang akan datang.

Mauidhoh hasanah disampaikan oleh Dr. Syaikh Abdul Qodir Al-Kattani dari Maroko, yang ceramahnya diterjemahkan oleh Habib Abbas bin Abu Bakar Al Haddad. Dalam kesempatan tersebut, beliau menyinggung karya beliau Shofwatal Ahadits Nabawiyah, kitab ringkasan hadits-hadits shahih dari Kutubus Sittah yang disusun selama lebih dari 20 tahun berdasarkan hadits yang disepakati kesahihannya.

Syaikh Abdul Qodir Al-Kattani juga menyampaikan doa dan kesaksian tentang keistiqamahan Habib Umar Al-Jilani, yang wafat dalam perjalanan dakwah menuju Haul Akbar Al Fithrah pada Jumat, 23 Januari 2026 M / 04 Sya’ban 1447 H. Beliau dikenal sebagai sosok yang siap menghadapi perpisahan bahkan kematian demi dakwah, serta memiliki kedekatan khusus dengan Hadratusy Syaikh Romo KH. Ahmad Asrori Al Ishaqy. Sepeninggal Romo Kyai Asrori, Habib Umar Al-Jilani diminta untuk terus membersamai Jamaah Al Khidmah, bahkan menganggap putra-putri beliau sebagai anak sendiri.

Acara ditutup dengan Doa Penutup bi Haqqil Fatihah oleh KH. Husni Mubarok (Surabaya), dilanjutkan Ziarah Maqbarah yang diikuti para habaib sepuh dan keluarga ndalem, serta salam penutup “Salamullah Ya Sadat” yang dipimpin Habib Umar Assegaf.

Menuju Haul Hadratusy Syaikh KH. Ahmad Asrori Al Ishaqy

Sebagai penutup rangkaian besar ini, jamaah juga diingatkan akan Haul ke-17 Hadratusy Syaikh Romo KH. Ahmad Asrori Al Ishaqy, pendiri Jamaah Al Khidmah, yang akan diselenggarakan pada Sabtu malam Ahad, 27 Sya’ban 1447 H / 14 Februari 2026 M.

Majlis Haul Akbar Al Fithrah bukan sekadar peringatan, tetapi momentum menyambung sanad cinta, doa, dan pengabdian kepada Allah SWT, Rasulullah SAW, serta para wali dan ulama pewaris risalah.

Semoga kita semuanya dipertemukan dengan kegiatan Haul Akbar Al Fithrah di tahun-tahun selanjutnya. Aamiiin

Liburan Pulang Santri Al Fithrah: Jadwal Kepulangan, Teknis, dan Pesan Penting Selama Liburan

Liburan pulang santri merupakan salah satu momentum yang paling dinanti, selain agenda besar Haul Akbar Al Fithrah. Di masa inilah para santri kembali ke rumah untuk menyulam kebersamaan, melepas rindu dengan ayah bunda, saudara, dan keluarga besar.

Sebagai bentuk ikhtiar memberikan waktu istirahat yang berkualitas sekaligus mempererat hubungan santri dengan keluarga, Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah menetapkan jadwal liburan pulang santri yang teratur, tertib, dan penuh tanggung jawab. Berikut informasi lengkap yang perlu diperhatikan oleh santri dan wali santri.


Jadwal Liburan dan Waktu Kembali Santri

Liburan pulang santri dilaksanakan dengan ketentuan sebagai berikut:

  • Waktu kepulangan santri:
    Setelah Majelis Haul Akbar Al Fithrah, pada Ahad, 6 Sya’ban 1447 H / 25 Januari 2026 M
  • Waktu kembali ke pesantren:
    Senin, 14 Sya’ban 1447 H / 2 Februari 2026 M

Santri diharapkan kembali tepat waktu. Santri yang datang di atas pukul 17.00 WIB akan dianggap terlambat dan dapat dikenakan sanksi sesuai dengan peraturan pesantren.


Teknis Kepulangan dan Kembali Santri

Agar pelaksanaan liburan berjalan tertib, aman, dan lancar, berikut teknis yang harus diperhatikan:

a. Ketentuan Kepulangan

  • Santri wajib dijemput oleh wali santri atau pihak yang diberi kuasa.
  • Khusus santri putri, penjemput diwajibkan menunjukkan kartu mahrom.
  • Selama berada di rumah, santri sepenuhnya menjadi tanggung jawab orang tua/wali.
  • Santri tidak diperkenankan mengadakan kegiatan atau acara yang mengatasnamakan santri Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah.

b. Ketentuan Kembali ke Pesantren

  • Santri wajib hadir sesuai jadwal yang telah ditentukan.
  • Membawa perlengkapan pribadi, kitab, dan kebutuhan belajar.
  • Tidak membawa barang-barang terlarang sesuai tata tertib pesantren.
  • Pastikan kondisi fisik dan mental siap untuk kembali mengikuti kegiatan pesantren.

Pesan dan Saran untuk Santri Selama Liburan

Liburan bukan hanya waktu istirahat, tetapi juga kesempatan untuk mengamalkan nilai-nilai yang telah dipelajari di pesantren. Oleh karena itu, santri diharapkan:

  • Tetap menjaga shalat lima waktu, adab, dan akhlak Islami.
  • Menghormati dan berbakti kepada orang tua.
  • Membantu pekerjaan rumah dan menjaga keharmonisan keluarga.
  • Mengisi waktu dengan kegiatan bermanfaat seperti mengaji, membaca, dan silaturahmi.
  • Menjaga nama baik diri, keluarga, dan almamater pesantren.
  • Menghindari pergaulan dan aktivitas yang tidak bermanfaat.

Penutup

Demikian pengumuman liburan pulang santri Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah disampaikan. Semoga masa liburan ini membawa keberkahan, mempererat ikatan keluarga, serta menambah semangat santri untuk kembali menuntut ilmu dengan hati yang segar dan niat yang lurus.

Atas perhatian dan kerja sama wali santri, kami sampaikan terima kasih.
Jazakumullahu khoiron katsiro, wafiron, ma’furan fiddarain. Amin.

Imtihan Wathoni PDF Wustha Al Fithrah Surabaya: Bukan Akhir Segalanya, Tapi Cermin Mutu Pendidikan

Imtihan Wathoni PDF Wustha Al Fithrah Surabaya kembali dilaksanakan sebagai bagian dari komitmen menjaga mutu pendidikan Diniyah Formal (PDF) berbasis pesantren. Imtihan Wathoni bukanlah akhir dari segalanya, melainkan sarana evaluasi dan refleksi atas proses pembelajaran yang telah dijalani santri.

Ujian ini menjadi momen penting untuk mengukur kemampuan santri dalam memahami soal-soal berbahasa Arab, yang memang menjadi tantangan tersendiri karena bukan bahasa keseharian. Nilai yang diperoleh bukan semata angka, tetapi gambaran sejauh mana santri menguasai kurikulum nasional PDF.


Pelaksanaan Imtihan Wathoni PDF Wustha Al Fithrah Surabaya

Imtihan Wathoni PDF Wustha Al Fithrah Surabaya dilaksanakan selama tiga hari pada 10 hari menuju Haul Akbar Al Fithrah Surabaya. IW PDF Wustha Al Fithrah ini tepatnya diselenggarakan pada Senin–Rabu, 12–14 Januari 2026 M / 23–25 Rajab 1447 H. Ujian ini diikuti oleh 421 santri, dengan rincian 238 santri putra dan 183 santri putri.

Pelaksanaan ujian menggunakan sistem Computer Based Test (CBT) berbasis android, mengingat keterbatasan jumlah komputer. Sebanyak 22 ruangan digunakan dengan dukungan 44 pengawas dan 4 operator. Panitia internal berasal dari pengurus dan pengajar PDF Wustha Al Fithrah sesuai dengan tugas pokok dan fungsi masing-masing.

Secara umum, pelaksanaan berjalan lancar. Kendala yang muncul bersifat teknis, seperti perangkat yang tidak mendukung, baterai habis, atau paket internet, namun hal tersebut telah diantisipasi melalui simulasi dan pengalaman pelaksanaan Imtihan Wathoni sebelumnya.

Tantangan, Evaluasi, dan Kesiapan Santri

Tantangan utama Imtihan Wathoni terletak pada penggunaan bahasa Arab dalam sebagian besar mata pelajaran, seperti Fiqih, Tauhid, Nahwu Shorof, dan Akhlak, sementara Tarikh menggunakan aksara pegon. Hal ini menuntut santri untuk memiliki kemampuan memahami teks Arab secara komprehensif.

Sebagai bentuk kesiapan, lembaga telah melakukan berbagai langkah evaluatif dan preventif, seperti:

  • Tryout dan bimbingan khusus mata pelajaran Imtihan Wathoni
  • Pemberian gambaran soal dan kisi-kisi
  • Simulasi CBT untuk memastikan santri mampu login dan mengerjakan ujian
  • Pengumpulan handphone sebelum ujian demi menjaga kejujuran

Selain pembekalan akademik, santri juga diberikan motivasi, trik sukses Imtihan Wathoni, doa bersama, dan istighosah. Antusiasme santri terlihat tinggi karena ujian ini menjadi kesempatan menunjukkan kemampuan dan hasil belajar mereka.


Makna dan Dampak Imtihan Wathoni bagi Santri dan Lembaga

Imtihan Wathoni memiliki dampak strategis, baik bagi santri maupun lembaga. Bagi santri, ujian ini memberikan pengalaman, pemahaman pola soal, serta pembiasaan menghadapi ujian berskala nasional. Nilai Imtihan Wathoni memang bukan penentu lulus atau tidak lulus, namun menjadi syarat kelulusan administratif, karena data blanko ijazah di Kemenag RI didasarkan pada peserta Imtihan Wathoni.

Bagi lembaga, hasil Imtihan Wathoni menjadi indikator ketercapaian mutu pendidikan. Nilai yang diperoleh akan diketahui oleh seluruh penyelenggara PDF, sehingga menjadi bahan evaluasi dan motivasi untuk terus berbenah. Nilai yang baik tentu menjadi kabar positif, sekaligus pemicu peningkatan kualitas pendidikan ke depan.

“Lebih dari itu, Imtihan Wathoni menanamkan nilai-nilai utama pesantren, seperti kejujuran sebagai mahkota santri, doa, dan tawakal. Para pengawas diimbau untuk menjaga integritas dengan tidak membocorkan soal, apapun hasil yang akan diperoleh” kata Ust. Nur Yasin, S.Ud selaku Kepala PDF Wustha Al Fithrah Surabaya.

Penutup

Imtihan Wathoni PDF Wustha Al Fithrah Surabaya bukan sekadar ujian nasional, tetapi cermin ketercapaian kurikulum dan mutu pendidikan pesantren. Secara formal, ia menjadi jalan menuju ijazah, dan secara keilmuan menjadi ajang kompetisi antar-PDF dalam skala nasional. Dengan komitmen, evaluasi berkelanjutan, dan nilai kejujuran, Imtihan Wathoni diharapkan terus menjadi penguat kualitas pendidikan Diniyah Formal di Indonesia.

270 Santri PDF Ulya Al Fithrah Ikuti Imtihan Wathoni 2026 Berbasis CBT

PDF Ulya Al Fithrah Surabaya menyelenggarakan Imtihan Wathoni, yaitu Ujian Akhir Pendidikan Diniyah Formal Berstandar Nasional (UAPDFBN) yang dilaksanakan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia. Imtihan Wathoni merupakan ujian nasional bagi santri PDF dengan sistem pendidikan pesantren berbasis kajian kitab kuning.

Pelaksanaan Imtihan Wathoni Tahun 2026 berlangsung pada 8–10 Januari 2026 M / 19–21 Rajab 1447 H. Program Pendidikan Diniyah Formal sendiri telah berjalan sejak tahun 2015 dan terus mengalami penguatan dari sisi mutu pembelajaran maupun pengakuan nasional.


Pelaksanaan Imtihan Wathoni dan Sistem CBT

Pada tahun ini, Imtihan Wathoni tingkat Ulya diikuti oleh 83 lembaga PDF Ulya se-Indonesia. Pelaksanaannya kembali menggunakan Computer Based Test (CBT) sebagai bentuk komitmen transformasi digital di lingkungan pendidikan pesantren.

“Pelaksanaan Imtihan Wathani kembali menggunakan sistem Computer Based Test (CBT) yang mencerminkan komitmen dalam mendorong transformasi digital di lingkungan pendidikan pesantren,”
ungkap Basnang Said, Direktur Pesantren Kementerian Agama RI.

Di PDF Ulya Al Fithrah Surabaya, demi menjaga fokus dan kedisiplinan, para wali santri diminta mengumpulkan handphone kepada pengurus dan hanya digunakan saat ujian berlangsung. Pada hari pertama pelaksanaan, kegiatan ini juga mendapat kunjungan dari Kementerian Agama Kota Surabaya, khususnya dari Kasi Pondok Pesantren.


‍Jumlah Peserta dan Tujuan Imtihan Wathoni

Jumlah peserta Imtihan Wathoni di PDF Ulya Al Fithrah Surabaya tahun ini mencapai 270 santri, dengan rincian 134 santri putra dan 136 santri putri. Sebanyak 4 santri mengikuti ujian dari rumah, dan terdapat santri yang melaksanakan ujian di rumah sakit karena kondisi sakit tifus.

Menurut Ust. H. Nashiruddin, M.M., selaku Kepala PDF Ulya Al Fithrah, Imtihan Wathoni bertujuan untuk:

  1. Menunjukkan kualitas pembelajaran PDF Ulya
  2. Mengukur kemampuan akademik santri
  3. Menstandarkan mutu pendidikan diniyah formal
  4. Memberikan pengakuan resmi capaian santri oleh Majelis Masyayikh dan Kementerian Agama RI

Harapan Hadratusy Syaikh KH. Achmad Asrori Al Ishaqy

Ust. Nashiruddin juga menegaskan pentingnya tanggung jawab bersama dalam peningkatan kualitas pendidikan pesantren, khususnya di bidang turats:

“PR kita bersama, tanggung jawab bersama, untuk meningkatkan capaian akademik bersama, terutama di tingkat turats,”
ujar Ust. H. Nashiruddin, yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Haul Akbar Al Fithrah 2026.


Sebagaimana harapan Hadratusy Syaikh KH. Achmad Asrori Al Ishaqy r.a., pendidikan agama di Pondok Pesantren Al Fithrah diharapkan menjadi teladan, tanpa meninggalkan penguasaan pendidikan umum, sehingga santri mampu menghadapi tantangan zaman secara seimbang.

“PR kita bersama, tanggung jawab bersama, untuk meningkatkan capaian akademik bersama, terutama di tingkat turats,”
ujar Ust. Nashiruddin.

Sebagaimana harapan Hadratusy Syaikh KH. Achmad Asrori Al Ishaqy r.a., pendidikan agama di Al Fithrah diharapkan menjadi teladan tanpa meninggalkan penguasaan pendidikan umum.

Semoga para santri semuanya diberikan nilai yang baik, serta diberikan ilmu yang manfaat penuh keberkahan. Aamiin