Month: December 2025

Majlis Dzikir, Maulidurrasul SAW, dan Pengajian Ahad Kedua Rajab 1447 H digelar di Al Fithrah Surabaya

Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya kembali menjadi pusat kegiatan keagamaan dengan terselenggaranya Majlis Dzikir, Maulidurrasul SAW, dan Pengajian Ahad Kedua Bulan Rajab 1447 H. Kegiatan ini dilaksanakan pada Ahad, 28 Desember 2025 M bertepatan dengan 8 Rajab 1447 H, bertempat di Jln. Kedinding Lor 99 Surabaya.

Majlis tersebut dihadiri oleh berbagai kalangan, meliputi para Habaib, Masyayikh, Jamaah Ath Thoriqoh, Jamaah Al Khidmah, Ukhsafi Copler Community, serta umat Islam dari berbagai daerah. Kehadiran jamaah yang membludak menambah kekhidmatan suasana majlis yang sarat dengan nilai spiritual dan kebersamaan.

Rangkaian Acara Penuh Nilai Ruhani

Acara berlangsung dengan tertib dan penuh kekhusyukan. Rangkaian majlis diawali dengan tawasul, dilanjutkan pembacaan Surah Al-Fatihah, istighotsah, khotmul Qur’an, dzikir fida, serta pembacaan Maulidurrasul SAW. Setiap rangkaian menjadi wasilah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT sekaligus menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah SAW.

Mauidlotul Hasanah: Keistimewaan Ruh Manusia

Pada sesi mauidlotul hasanah, Dr. Habib Abdurrahman bin Agil menyampaikan kajian dari Kitab Al-Muntakhobat fi Robithah al-Qalbiyah wa Shilah al-Ruhiyah, bab Min Khoshoishul Insan (Di antara keistimewaan manusia).

Beliau menjelaskan bahwa setiap manusia memiliki ruh yang lembut. Ruh tersebut pada hakikatnya bercahaya, namun menjadi persoalan bagaimana cara menjaga dan memperolehnya agar tetap hidup dan bercahaya. Salah satu jalannya adalah bersyukur atas setiap kenikmatan yang Allah berikan, terutama dengan bersyukur melalui dzikir kepada Allah SWT.

Habib Abdurrahman menegaskan bahwa setiap manusia dilahirkan dalam keadaan suci dan memiliki kemuliaan yang sangat agung, bahkan melebihi kemuliaan Ka’bah sekalipun jika dilihat dari sisi kehormatan seorang hamba di hadapan Allah SWT.

Beliau mengutip kalimat penuh makna:

إِذَا ذَكَرْتَنِي شَكَرْتَنِي، وَإِذَا نَسِيتَنِي كَفَرْتَنِي

“Jika engkau mengingat-Ku, engkau bersyukur kepada-Ku; dan jika engkau melupakan-Ku, engkau mengingkari-Ku.”

Sehingga Rasulullah SAW sendiri mendedikasikan dirinya untuk beribadah kepada Allah, hingga bengkak kedua kakinya. Beliau mengatakan bahwa itu adalah sebagai bentuk rasa syukurnya.

أَفَلَا أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا

“Maka tidakkah aku menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?”

Serta membacakan firman Allah SWT :

ٱللَّهُ ٱلَّذِی خَلَقَ ٱلسَّمَـٰوَ ٰ⁠تِ وَٱلۡأَرۡضَ وَأَنزَلَ مِنَ ٱلسَّمَاۤءِ مَاۤءࣰ فَأَخۡرَجَ بِهِۦ مِنَ ٱلثَّمَرَ ٰ⁠تِ رِزۡقࣰا لَّكُمۡۖ وَسَخَّرَ لَكُمُ ٱلۡفُلۡكَ لِتَجۡرِیَ فِی ٱلۡبَحۡرِ بِأَمۡرِهِۦۖ وَسَخَّرَ لَكُمُ ٱلۡأَنۡهَـٰرَ ۝٣٢

“Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air (hujan) dari langit, kemudian dengan (air hujan) itu Dia mengeluarkan berbagai buah-buahan sebagai rezeki untukmu; dan Dia telah menundukkan kapal bagimu agar berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan sungai-sungai bagimu.

Makna Taslim kepada Qadha dan Qadar

Mengutip penjelasan Syaikh Ibnu Ajibah, beliau menyampaikan makna bahwa Allah menahan fuyudhot ilahiyah agar seorang hamba benar-benar siap dijadikan sebagai kekasih-Nya. Seorang hamba yang telah memahami hakikat ini akan mampu menerima qadha dan qadar Allah SWT dengan lapang dada.

Sebagaimana firman Allah SWT:

﴿وَسَخَّرَ لَكُم مَّا فِی ٱلسَّمَـٰوَ ٰ⁠تِ وَمَا فِی ٱلۡأَرۡضِ جَمِیعࣰا مِّنۡهُۚ إِنَّ فِی ذَ ٰ⁠لِكَ لَـَٔایَـٰتࣲ لِّقَوۡمࣲ یَتَفَكَّرُونَ﴾ [الجاثية ١٣]

Beliau juga mengingatkan pentingnya menjaga ketenangan hati dan tidak dikalahkan oleh hawa nafsu, sebagaimana disebutkan:

أن النفس لامارة بالسوء

Di akhir mauidlotul hasanah, beliau berdoa agar Allah SWT memberikan limpahan rahmat, hidayah, dan keteguhan iman kepada seluruh jamaah. Aamiin.

Pengumuman Agenda Majlis Dzikir Al-Khidmah

Pada kesempatan tersebut juga diumumkan beberapa agenda Majlis Dzikir Al-Khidmah terdekat, di antaranya:

Haul Desa Ambar Ambir, Rabu malam, 30 Desember 2025 M

Haul KH. Yusuf PPRM Wanar Pucuk Lamongan, 5 Januari 2026 M

Haul Akbar Malang, pada Ahad pagi, 6 Januari 2026, bertempat di depan Masjid Jami’ Alun-alun Kota Malang

Hari Amal Bakti, pada Selasa pagi 7 Januari 2026, Kantor Kemenag Trenggalek

Haul Sesepuh Desa Kendung Benowo Surabaya

Haul Akbar Cirebon dan Jakarta serta Ziarah Walisongo, 29 Januari – 2 Februari 2026

Jamaah didoakan agar diberikan keluasan rezeki, kesehatan lahir dan batin, sehingga dapat menghadiri majlis-majlis penuh keberkahan tersebut.

Dari hasil pengumpulan dana khidmah dilaporkan Khidmah Haul Akbar Al Fithrah 2026 terhimpun, yaitu: Rp 19.535.200, 1 US Dollar, 15 Ringgit Malaysia, 10.000 Dong Vietnam.

Semoga seluruh khidmah tersebut diterima sebagai amal shalih dan membawa keberkahan bagi semua pihak.

Penutup

Majlis Dzikir, Maulidurrasul SAW, dan Pengajian Ahad Kedua Bulan Rajab 1447 H di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya menjadi momentum penting untuk memperkuat ruhani, memperdalam makna syukur, serta menumbuhkan ketenangan hati dalam menjalani kehidupan.

Semoga keberkahan meliputi kita semuanya. Aamiin.

PDF Wustha Al Fithrah Gelar Uji Publik Metode Nashor ‘Imrithi dan Khotmul Qur’an Metode Ummi

Surabaya – PDF Wustha Al Fithrah Surabaya kembali menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kualitas pendidikan Al-Qur’an dan kitab kuning melalui dua agenda penting yang diselenggarakan secara terbuka dan disiarkan langsung melalui YouTube. Kegiatan tersebut meliputi Uji Publik Metode Nashor dan Nadhom ‘Imrithi ke-1 serta Khotmul Qur’an dan Imtihan ke-8 Metode Ummi.

Dalam acara ini dilakukan prosesi penghargaan kepada total 275 santri, yang terdiri dari 42 tahfidz putra, 50 tahfidz putri, yang terbagi dalam kategori juz 30, juz 1 dan juz 2, serta 89 tartil putra, 95 tartil putri.

Kedua kegiatan ini berlangsung di Gedung Timur Lantai 5 Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya, dan diikuti oleh para santri, asatidz, wali santri, serta masyarakat luas yang menyaksikan secara langsung maupun daring.

Link youtube: https://youtube.com/live/8twK96Dw8cs?feature=share

Uji Publik Metode Nashor dan Nadhom ‘Imrithi ke-1

Uji publik Metode Nashor dan Nadhom ‘Imrithi ke-1 dilaksanakan pada Jum’at pagi, 26 Desember 2025, mulai pukul 07.00 WIB hingga selesai. Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk menampilkan capaian santri PDF Wustha Al Fithrah dalam memahami ilmu nahwu melalui metode Nashor serta penguasaan nadham kitab ‘Imrithi.

Melalui uji publik ini, para santri diuji secara langsung kemampuan membaca, menghafal, serta memahami kaidah nahwu yang tertuang dalam nadham ‘Imrithi. Metode Nashor sendiri dikenal sebagai pendekatan sistematis dalam pembelajaran gramatika Arab yang aplikatif dan mudah dipahami oleh santri tingkat wustha.

Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang evaluasi internal, namun juga sebagai bentuk transparansi dan pertanggungjawaban akademik lembaga kepada masyarakat.

“Di dua hari ini kita menyaksikan bahwa Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya sangat berkomitmen untuk mendidik santri-santrinya, bukan hanya di bidang Alquran, melainkan juga dalam bidang kitab kuningnya, di mana kemarin para santri telah melaksanakan Uji publik baca kitab Metode Nashor” ujar Ust. Imam dari perwakilan Ummi Foundation

Khotmul Qur’an dan Imtihan ke-8 Metode Ummi

Selain uji publik nahwu, PDF Wustha Al Fithrah Surabaya juga menggelar Khotmul Qur’an dan Imtihan ke-8 Metode Ummi, yang dilaksanakan pada Sabtu pagi, 26 Desember 2025, mulai pukul 07.00 WIB hingga selesai, di lokasi yang sama.

Acara ini menjadi penanda keberhasilan santri dalam menempuh tahapan pembelajaran Al-Qur’an menggunakan Metode Ummi, metode pembelajaran Al-Qur’an yang menekankan pada tartil, tahsin, dan ketepatan makharijul huruf sesuai standar bacaan yang mutqin.

Dalam imtihan tersebut, para santri diuji secara langsung oleh penguji untuk memastikan kualitas bacaan Al-Qur’an sebelum dinyatakan lulus pada jenjang tertentu. Khotmul Qur’an pun menjadi momen penuh khidmat dan syukur atas ikhtiar panjang para santri dalam mempelajari Kalamullah.

“Ibu-ibu kira-kira melihat DA7 sama putra putrinya pandai menghapal Alquran, kira-kira seneng mana?

Njenengan tidak perlu mengasih gift D’Sultan, cukup didoakan. Agar semakin hari, putra putrinya di pondok tercinta, semakin mempeng belajarnya, semakin sungguh-sungguh, sehingga nanti betul menjadi anak-anak yang saleh salehah sebagaimana yang telah diazamkan” Ust. Nur Yasin, S.Ud, selalu Kepala PDF Wustho Al Fithrah

Disiarkan Langsung dan Terbuka untuk Masyarakat

Seluruh rangkaian kegiatan ini disiarkan secara live streaming melalui kanal YouTube resmi Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah, sehingga dapat disaksikan oleh masyarakat luas, alumni, dan wali santri dari berbagai daerah.

Langkah ini sejalan dengan semangat keterbukaan informasi dan dakwah digital yang terus dikembangkan oleh Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya bersama jaringan media Al Wava.

Berikut Link dokumentasi kegiatan yang disiarkan oleh Channel Youtube Al Wava TV https://youtube.com/live/4Fli7ZkhkpE?feature=share

Komitmen Al Fithrah dalam Pendidikan Santri

Melalui kegiatan uji publik, imtihan, dan khotmul Qur’an ini, PDF Wustha Al Fithrah Surabaya menegaskan komitmennya dalam mencetak santri yang unggul dalam ilmu alat (nahwu–sharaf) serta bacaan Al-Qur’an yang tartil dan benar.

Pihak pesantren berharap kegiatan semacam ini dapat terus meningkatkan mutu pendidikan, menumbuhkan kepercayaan masyarakat, serta melahirkan generasi santri yang berilmu, berakhlak, dan siap mengabdi kepada umat.

Kepala Bagian Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya, Dr. Ust. Fathur Rozi, M.H.I berkenan memberikan sambutannya. Beliau berkata:

“Pada hari ini, Allah SWT gerakkan hati dan pikiran kita untuk menyaksikan bagaimana keberhasilan proses belajar mengajar di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah dapat kita lihat dan disyukuri bersama. Mudah-mudahan perjalanan panjenengan dari jauh-jauh maupun yang dekat, dibalas oleh Allah subhanahu wataala” Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

Multaqo Media Pondok Jawa Timur 2025: Ajang Silaturahmi Media Pondok Pesantren Se-Jawa Timur

Jum’at malam, 19 Desember 2025, menjadi momentum penting bagi perkembangan media pesantren di Jawa Timur. Pembukaan Multaqo Media Pondok Jawa Timur (MPJ) secara resmi digelar di Pondok Pesantren Nurul Islam Jember, dengan dihadiri oleh perwakilan insan media pondok pesantren dari berbagai daerah se-Jawa Timur.

Kegiatan ini menjadi wadah strategis untuk mempererat silaturahmi, memperkuat jejaring, serta menyatukan visi insan media pesantren dalam menghadirkan dakwah yang santun, mencerahkan, dan relevan dengan perkembangan zaman digital.

Sebagai tuan rumah, Pondok Pesantren Nurul Islam Jember menyambut hangat seluruh delegasi yang hadir, menciptakan suasana kekeluargaan yang khas pesantren sejak awal acara.

Sesi Perkenalan Antar Regional Penuh Keakraban

Sesi malam pada pembukaan MPJ 2025 diisi dengan perkenalan antar regional media pondok pesantren. Setiap daerah diberikan kesempatan untuk memperkenalkan diri, berbagi pengalaman, serta menyampaikan semangat kebersamaan dalam membangun media pesantren.

Dalam suasana santai namun penuh makna, muncul ungkapan yang menggambarkan semangat MPJ:

“Meskipun bukan yang terbaik, yang penting yang terbanyak.”

Ungkapan ini merujuk pada antusiasme keikutsertaan peserta dari berbagai wilayah. Sebagai catatan, pada Multaqo Media Pondok Jawa Timur tahun sebelumnya, Madura Raya tercatat mendelegasikan hingga 90 peserta, menjadi salah satu regional dengan jumlah delegasi terbanyak.

Hal tersebut menunjukkan besarnya semangat dan kepedulian pesantren terhadap peran media sebagai sarana dakwah dan informasi.

Syair Persahabatan dan Makna Kebersamaan

Suasana semakin hangat ketika Pak Ali menyampaikan sebuah syair penuh makna yang mencerminkan eratnya ukhuwah antar insan media pondok pesantren:

فِي قَلْبِنَا أَنْتُمْ جَلِيلُ # فَإِنَّكُمْ خَلِيلُنَا الخَلِيلُ

Syair tersebut menggambarkan kedekatan batin dan persaudaraan yang tulus, bahwa insan media pondok pesantren bukan sekadar mitra kerja, melainkan sahabat yang memiliki tempat mulia di hati.

Makna ini sejalan dengan semangat Multaqo Media Pondok Jawa Timur, yang tidak hanya berorientasi pada peningkatan kualitas media, tetapi juga menanamkan nilai kebersamaan, keikhlasan, dan adab pesantren dalam setiap langkah perjuangan.

MPJ sebagai Pilar Penguatan Media Pesantren

Multaqo Media Pondok Jawa Timur diharapkan menjadi ruang konsolidasi gagasan, peningkatan kapasitas, serta penguatan peran media pesantren dalam menghadapi tantangan era digital. Dengan sinergi antar pondok pesantren, media diharapkan mampu menjadi corong dakwah yang berimbang, menyejukkan, dan berlandaskan nilai Ahlussunnah wal Jama’ah.

Pembukaan MPJ 2025 di Pondok Pesantren Nurul Islam Jember menjadi langkah awal yang penuh harapan, menandai komitmen bersama insan media pesantren untuk terus berkhidmah melalui tulisan, visual, dan narasi yang beradab serta bertanggung jawab.

Perbanyak Dzikir di Bulan Rajab: Majlis Ahad Awal di Ponpes Assalafi Al Fithrah Surabaya

Surabaya (21/12) Hujan tak menyurutkan antusias para Jamaah Ath Thariqah, Al Khidmah dan umat muslim dari berbagai daerah untuk hadir di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya. Mereka hendak menyambungkan hati dan menambatkan ruhani mereka melalui hadir dalam Majlis Manaqib Ahad Awal Bulan Rajab 1447 H.

Rajab, Bulan Mulia untuk Menghidupkan Dzikir

Bulan Rajab 1447 Hijriyah kembali disambut dengan penuh kekhusyukan melalui Majlis Rutin Ahad Awal Bulan Rajab yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya. Kegiatan ini disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube dan diikuti oleh jamaah dari berbagai daerah.

Majlis dzikir ini bukan sekadar rutinitas bulanan, melainkan menjadi momentum ruhani untuk menghidupkan hati dengan mengingat Allah, terutama di bulan Rajab yang termasuk al-asyhur al-hurum (bulan-bulan yang dimuliakan).

Allah SWT berfirman:

> إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ … مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ

“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ada dua belas bulan… di antaranya ada empat bulan yang dimuliakan.” (QS. At-Taubah: 36)

Para ulama tafsir menjelaskan bahwa Rajab termasuk salah satu dari empat bulan mulia tersebut.

Dzikir: Amalan Paling Mudah dan Agung

Dalam Majlis Rutin Ahad Awal Bulan Rajab ini, jamaah diajak untuk memperbanyak dzikir karena dzikir adalah amalan yang paling ringan di lisan namun berat dalam timbangan pahala.

Rasulullah ﷺ bersabda:

أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرِ أَعْمَالِكُمْ، وَأَزْكَاهَا عِنْدَ مَلِيكِكُمْ… ذِكْرُ اللَّهِ

“Maukah aku kabarkan kepada kalian amal terbaik, paling suci di sisi Tuhan kalian…? Yaitu dzikir kepada Allah.” (HR. Tirmidzi)

Dalam kitab Al-Adzkar karya Imam An-Nawawi disebutkan:

> اعلم أن الذكر محبوب في جميع الأحوال، إلا في أحوال مخصوصة

“Ketahuilah, dzikir itu dicintai dalam setiap keadaan, kecuali pada kondisi-kondisi khusus.” (Al-Adzkar, Imam An-Nawawi)

Ini menunjukkan bahwa dzikir adalah amalan universal, bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja.

Rajab dan Tradisi Dzikir Berjamaah

Tradisi dzikir berjamaah sebagaimana yang dilaksanakan di Ponpes Assalafi Al Fithrah memiliki dasar kuat dalam literatur klasik. Imam As-Suyuthi dalam Natijah Al-Fikr menegaskan keutamaan majlis dzikir:

مجالس الذكر رياض الجنة

“Majlis dzikir adalah taman-taman surga.” (HR. Tirmidzi)

Karena itu, berkumpulnya jamaah dalam Majlis Rutin Ahad Awal Bulan Rajab bukan hanya mempererat ukhuwah, tetapi juga menjadi sarana turunnya rahmat dan ketenangan hati.

Allah SWT berfirman:

> أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra’d: 28)

Pesan Spiritual dari Majlis Ahad Awal Rajab

Majlis Rutin Ahad Awal Bulan Rajab di Ponpes Assalafi Al Fithrah mengajarkan bahwa memasuki Rajab bukan sekadar pergantian waktu, melainkan panggilan untuk memperbaiki hubungan dengan Allah SWT.

Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali رحمه الله berkata:

> رجب شهر الزرع، وشعبان شهر السقي، ورمضان شهر الحصاد

“Rajab adalah bulan menanam, Sya’ban bulan menyiram, dan Ramadhan bulan memanen.” (Latha’if Al-Ma’arif)

Maka memperbanyak dzikir di bulan Rajab adalah benih ruhani untuk menyambut Ramadhan dengan hati yang bersih.

Penutup

Majlis Rutin Ahad Awal Bulan Rajab 1447 H di Ponpes Assalafi Al Fithrah Surabaya menjadi pengingat bahwa dzikir adalah kunci kehidupan hati. Melalui dzikir, seorang hamba mendekat kepada Allah, menenangkan jiwa, dan memperkuat iman.

Sebagaimana namanya, Majlis Manaqib Ahad Awal adalah kegiatan majlis rutin setiap Ahad pertama bulan hijriyah yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya

Semoga majlis seperti ini terus hidup dan menjadi wasilah turunnya rahmat Allah bagi umat Islam, khususnya di bulan Rajab yang penuh kemuliaan.

اللهم اجعلنا من الذاكرين الله كثيرا والذاكرات

Dalam Majlis ini juga diumumkan akan diadakannya Majlis Ahad Kedua Bulan Rajab pada Hari Ahad, 28 Desember 2025 M / 8 Rajab 1447 H dan juga Haul Akbar Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya pada Sabtu malam dan Ahad pagi, 24-25 Januari 2026 M / 6 Sya’ban 1447 H. Semoga diberikan rezeki yang luas, kesehatan dan kesempatan, sehingga dapat hadir bersama keluarga dalam majlis-majlis yang mulia. Aamiiin

Sufi Sejati di Tengah Krisis Keteladanan Ulama

Dalam beberapa tahun terakhir, umat Islam dihadapkan pada fenomena yang cukup memprihatinkan: munculnya figur-figur yang disebut sebagai ulama atau tokoh agama, namun perilaku dan sikapnya justru jauh dari nilai keteladanan. Polemik moral, konflik kepentingan, hingga penyalahgunaan otoritas keagamaan membuat sebagian masyarakat bingung—bahkan kehilangan kepercayaan—terhadap sosok yang seharusnya menjadi panutan.

Kondisi ini memunculkan pertanyaan mendasar: siapakah ulama yang layak dijadikan teladan? Dan lebih jauh lagi, bagaimana Islam—khususnya melalui perspektif tasawuf—memandang hakikat keteladanan itu sendiri?

Artikel ini berupaya menjawab problem tersebut dengan mengulas konsep sufi sejati dalam tradisi Islam. Dengan menekankan keterpaduan antara ilmu, amal, dan keikhlasan, tulisan ini menawarkan kerangka objektif untuk menilai siapa yang pantas dijadikan teladan di tengah krisis figur keagamaan.


Tasawuf dan Ukuran Keteladanan Ulama

Tasawuf bukanlah aliran yang menjauh dari realitas, apalagi membenarkan penyimpangan syariat atas nama spiritualitas. Sebaliknya, tasawuf justru menjadi alat ukur paling jujur dalam menilai keaslian seorang ulama: apakah ilmunya melahirkan amal, dan apakah amalnya dilandasi keikhlasan.

Imam As-Sya‘rani dalam Anwarul Qudsiyah menegaskan:

فإن حقيقة الصوفي هو عالم عمل بعلمه
“Sufi sejati adalah orang berilmu yang mengamalkan ilmunya.”

Definisi ini sangat relevan untuk menjawab problem ulama yang kehilangan keteladanan. Dalam kacamata tasawuf, seseorang tidak cukup disebut alim hanya karena keluasan wawasannya atau kefasihan lisannya. Ilmu yang tidak membentuk akhlak dan perilaku hanyalah beban, bukan cahaya.


Ilmu sebagai Fondasi, Amal sebagai Bukti

Al-Qur’an memberikan posisi istimewa kepada orang-orang berilmu, sebagaimana firman Allah dalam Surah Ali Imran ayat 18:

شَهِدَ اللّٰهُ اَنَّهٗ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۙ وَالْمَلٰۤىِٕكَةُ وَاُولُوا الْعِلْمِ قَاۤىِٕمًا ۢ بِالْقِسْطِۗ

Namun, keutamaan ilmu ini bersyarat: ia harus menegakkan keadilan dan kebenaran. Rasulullah SAW juga menegaskan:

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
“Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim.”

Akan tetapi, tradisi keilmuan Islam sejak awal mengingatkan bahaya ilmu yang terlepas dari amal. Para ulama sering mengungkapkan hikmah:

العلم بلا عمل كالشجر بلا ثمر
“Ilmu tanpa amal ibarat pohon tanpa buah.”

Dalam konteks krisis keteladanan, ungkapan ini sangat tajam. Banyak kegaduhan umat hari ini bersumber dari figur yang memiliki otoritas keilmuan, tetapi tidak mencerminkan nilai ilmunya dalam sikap, keputusan, dan akhlak.


Shidqu Tawajjuh: Inti Tasawuf dan Ukuran Keikhlasan

Imam Ahmad Zarruq menyatakan bahwa ribuan definisi tasawuf pada hakikatnya bermuara pada satu konsep inti, yaitu:

ṣidqu tawajjuh — kesungguhan hati dalam menghadap kepada Allah.

Namun, kesungguhan ini tidak bersifat bebas tanpa batas. Imam Zarruq menegaskan:

صدق التوجه مشروط بكونه من حيث يرضاه الحق تعالى وبما يرضاه
“Kesungguhan menghadap kepada Allah harus dilakukan melalui hal-hal yang diridhai Allah dan dengan cara yang diridhai-Nya.”

Pernyataan ini menjadi kritik halus namun tegas terhadap mereka yang mengklaim keikhlasan, tetapi mengabaikan tuntunan syariat. Dalam tasawuf, keikhlasan bukan klaim batin semata, melainkan buah dari ilmu yang benar dan amal yang lurus.


Sufi Sejati sebagai Jawaban atas Krisis Keteladanan

Dari paparan di atas, jelas bahwa sufi sejati bukanlah sosok yang diukur dari simbol, penampilan, atau pengakuan publik, melainkan dari integritas antara:

  • Ilmu yang membimbing
  • Amal yang konsisten
  • Keikhlasan yang terjaga

Dengan standar ini, tidak semua yang bergelar ulama otomatis layak dijadikan teladan, dan sebaliknya, banyak orang sederhana yang justru lebih dekat pada hakikat kesufian karena ketulusan dan istiqamahnya.

Tasawuf mengajarkan bahwa keteladanan lahir dari perbaikan diri, bukan pencitraan; dari rasa takut kepada Allah, bukan dari ambisi pengaruh. Inilah jawaban mendasar atas kegelisahan umat hari ini.


Kesimpulan

Di tengah maraknya figur keagamaan yang kehilangan wibawa moral, konsep sufi sejati menawarkan kriteria jernih dalam memilih teladan. Islam tidak krisis ulama, tetapi krisis keteladanan yang lahir dari ilmu tanpa amal dan amal tanpa keikhlasan.

Sufi sejati adalah siapa pun yang mengamalkan ilmunya dengan tulus, menjaga integritas batin dan lahir, serta menghadapkan seluruh hidupnya kepada Allah sesuai tuntunan syariat. Dengan kembali pada standar ini, umat dapat membedakan antara figur yang sekadar berbicara tentang agama dan mereka yang benar-benar hidup bersama nilai-nilainya.

Oleh: Erik Zulfa