Month: September 2026

KH Muhammad Utsman Al-Ishaqy: Membumikan Amaliah Tarekat di Tengah Masyarakat

Tarekat sering kali dipahami sebagai jalan spiritual yang hanya cocok bagi orang yang sudah lanjut usia, padahal pengamalan tarekat tidak mengenal batas usia selama seseorang mampu belajar, berzikir, dan memperbaiki akhlaknya dengan istiqamah dan kesungguhan nyata

Pandangan semacam itu justru berusaha dijawab oleh KH Muhammad Utsman Al-Ishaqy, seorang ulama dan mursyid Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah yang dikenal aktif mendekatkan amaliah tarekat kepada kehidupan masyarakat secara sederhana dan nyata.

KH. Muhammad Utsman Al-Ishaqy merupakan ayah dari KH. Ahmad Asrori Al-Ishaqy. KH. Muhammad Utsman Al-Ishaqy lahir di Jatipurwo, Surabaya, pada hari Rabu, bulan Jumadil Akhir 1334 H, sekitar tahun 1916 M.

Mengajak Masyarakat Mengenal Manaqiban Sejak Muda

Di tengah anggapan bahwa tarekat merupakan amalan orang-orang tua, KH Muhammad Utsman Al-Ishaqy justru mengajak para santri dan masyarakat untuk mengenal amaliah zikir, manaqiban, dan majelis keagamaan sejak usia muda dan belia

Manaqiban yang dirintis beliau menjadi salah satu jalan untuk mengenalkan kehidupan spiritual kepada masyarakat melalui suasana majelis yang sederhana, penuh zikir, doa, dan pembacaan kisah para ulama serta orang-orang saleh.

Kegiatan tersebut kemudian berkembang menjadi Majelis Sewelasan, yakni majelis yang dilaksanakan pada malam tanggal sebelas dalam kalender Hijriah dan menjadi salah satu amaliah yang terus dilestarikan oleh murid-murid beliau hingga sekarang dan seterusnya.

Dari kegiatan yang dirintis secara sederhana itu, tradisi manaqiban kemudian tidak hanya berhenti di lingkungan pesantren, tetapi ikut tumbuh di tengah masyarakat dan menjadi bagian dari kehidupan jamaah yang tersebar di berbagai daerah dan kawasan

Merintis Pesantren di Tengah Masyarakat

Dakwah KH Muhammad Utsman Al-Ishaqy tidak hanya dilakukan melalui majelis zikir, tetapi juga diwujudkan dalam pendidikan dan pembinaan masyarakat melalui Pondok Pesantren Darul Ubudiyah Raudlatul Muta’allimin, Jatipurwo, Surabaya dan sekitarnya

Pesantren tersebut dirintis di kawasan Jatipurwo yang pada masa itu dikenal sebagai lingkungan dengan berbagai persoalan sosial, sehingga kehadiran pesantren menjadi bagian dari ikhtiar menghadirkan pendidikan agama secara langsung di tengah kehidupan masyarakat dan keluarga

Sebelum berkembang menjadi pesantren, dakwah beliau berawal dari tempat ibadah sederhana dan pengajian masyarakat yang jumlah jamaahnya masih terbatas, kemudian perlahan berkembang seiring semakin banyak masyarakat yang ingin belajar agama dan mengaji kepada beliau secara istiqamah dan terbuka.

Pada 1957, KH Muhammad Utsman Al-Ishaqy mendirikan Pondok Pesantren Darul Ubudiyah Raudlatul Muta’allimin di Jatipurwo, Semampir, Surabaya sebagai wadah pendidikan dan dakwah yang memadukan pengajaran agama dengan pembinaan akhlak masyarakat dan keluarga.

Dari sinilah terlihat bahwa tarekat yang beliau ajarkan bukan sekadar aktivitas ritual, tetapi juga memiliki hubungan erat dengan pendidikan, akhlak, pengabdian, dan pembinaan kehidupan sosial masyarakat secara menyeluruh dan nyata

Warisan Amaliah yang Terus Mengalir

KH Muhammad Utsman Al-Ishaqy wafat pada Ahad, 8 Januari 1984, bertepatan dengan 5 Rabiuts Tsani 1405 H, dan dimakamkan di kompleks Pondok Pesantren Darul Ubudiyah Raudlatul Muta’allimin, Jatipurwo, Surabaya dengan penuh penghormatan dari keluarga, santri, dan masyarakat.

Namun wafatnya seorang ulama tidak berarti berhentinya dakwah, sebab amaliah yang telah dirintis terus hidup melalui majelis zikir, manaqib, sewelasan, pesantren, serta berbagai kegiatan keagamaan yang diteruskan oleh murid dan generasi sesudahnya hingga masa kini dan seterusnya

Tradisi Haul Akbar yang berkembang dalam jaringan dakwah beliau juga menjadi salah satu bentuk penghormatan sekaligus momentum untuk mengenang jasa, mendoakan para pendahulu, dan menyambung kembali semangat khidmah yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.

Hari ini, ketika haul KH Muhammad Utsman Al-Ishaqy kembali diperingati, masyarakat tidak hanya mengenang sosok seorang kiai dan mursyid, tetapi juga mengingat perjuangan beliau dalam membumikan amaliah tarekat agar dekat dengan masyarakat, mudah diamalkan, dan terus hidup dalam keseharian umat dan bangsa.

Warisan Ilmiah

Di antara warisan penting KH. Muhammad Utsman Al-Ishaqy selanjutnya adalah karya-karya yang menjadi pedoman dalam menghidupkan amaliah tarekat dan membina akhlak para muridnya secara nyata, sederhana, dan bermakna, di antaranya Al-Nuqthah wa al-Bāqiyah al-Ṣāliḥah wa al-‘Āqibah al-Khairah wa al-Khātimah al-Ḥasanah yang membahas rabithah, serta Al-Khulāṣah al-Wafiyyah fī al-Ādāb wa Kaifiyyah al-Dzikr ‘Inda al-Sādah al-Qādiriyyah wa al-Naqsyabandiyyah yang membahas adab dan tata cara zikir bagi pengamal tarekat secara terarah dan terbuka bagi semua kalangan manusia, serta Awn Al-Rafiq fi Syaikh Al-Tarbiyah wa Adab Al-Murid fi Al-Thariq.

Selain itu, terdapat Al-Fatḥ al-Nūriyyah yang memuat berbagai tuntunan amaliah dan wiridan, serta Al-Faiḍ al-Raḥmāni yang berkaitan dengan manaqib dan tradisi majelis tarekat yang beliau hidupkan di tengah masyarakat secara istiqamah dan penuh cinta kepada para ulama. Karya-karya tersebut menunjukkan bahwa dakwah KH. Muhammad Utsman Al-Ishaqy tidak hanya diwariskan melalui pesantren dan majelis, tetapi juga melalui tulisan yang menjadi sarana menjaga ilmu, adab, zikir, dan kesinambungan amaliah dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Di dalam kitab Awn Al-Rafiq fi Syaikh Al-Tarbiyah wa Adab Al-Murid fi Al-Thariq, KH. Muhammad Ustman Al-Ishaqy berkata:

الأُسْتَاذُ مَظْهَرُ سِرِّ الرُّبُوْبِيَّةِ لِمُرِيْدِهِ،  فَعَلَى الْمُرِيْدِ أَنْ يَقِفَ عِنْدَ أَمْرِ أُسْتَاذِهِ، وَأَنْ لَا يَلْتَفِتَ يَمِينًا وَلَا شِمَالًا

“Guru adalah tempat tampaknya rahasia sifat rububiyah (ketuhanan) bagi muridnya. Maka seorang murid hendaknya mengikuti  perintah gurunya, serta tidak menoleh ke kanan maupun ke kiri”

Di kesempatan yang lain beliau mengutip pendapatnya Imam Syaikhul Akbar Muhyiddin Ibnul ‘Arobi berkata:

يَجِبُ عَلَى الشَّيْخِ إِذَا رَأَى شَيْخًا آخَرَ فَوْقَهُ أَنْ يَنْصَحَ نَفْسَهُ، وَيَلْزَمَ خِدْمَةَ ذَلِكَ الشَّيْخِ هُوَ وَتَلَامِذَتُهُ، فَإِنَّهُ صَلَاحٌ وَسَعَادَةٌ فِي حَقِّهِ وَحَقِّ أَصْحَابِهِ. وَمَتَى لَمْ يَفْعَلْ هَذَا، فَلَيْسَ بِمُنْصِفٍ وَنَاصِحِ نَفْسِهِ، وَلَا صَاحِبِ هِمَّةٍ، بَلْ سَاقِطُ الْهِمَّةِ وَضَعِيفُهَا، بَلْ رُبَّمَا يَكُونُ مُحِبًّا لِلرِّيَاسَةِ وَالتَّقَدُّمِ، وَهَذَا فِي طَرِيقِ اللهِ نَقْصٌ، و.

 “Seorang Guru Mursyid ketika melihat Guru Mursyid yang lebih tinggi, maka ia mempunyai kewajiban untuk menasehati kepada jiwanya sendiri dan ia serta muridnya diharuskan berkhidmah kepada Guru Mursyid yang lebih tinggi tersebut. Sebab di dalamnya terdapat ke-maslahatan dan keberuntungan bagi dirinya dan para muridnya. Ketika ia tidak melakukan hal itu, maka ia bukanlah orang yang berlaku adil dan mengharapkan kebaikan pada dirinya serta tidak mempunyai Hhimmah (antusias), akan tetapi ia mempunyai kekurang-an dalam jalan Allah”,

Beliau kembali menegaskan dengan pernyataan Shohibur Roiyah yang  mengisyaratkan beberapa adab yang wajib bagi seorang murid dalam ber-shuhbah kepada Guru Mursyid:

وَلَا تُقَدِّمَنَّ قَبْلَ اعْتِقَادِكَ أَنَّهُ
مُرَبٍّ وَلَا أَوْلَى بِهَا مِنْهُ فِي الْعَصْرِ

فَإِنَّ رَقِيبَ الِالْتِفَاتِ لِغَيْرِهِ
يَقُولُ لِمَحْبُوبِ السَّرَايَةِ: لَا تَسِرْ

“Dan janganlah melangkah sebelum engkau meyakini bahwa ia adalah pendidik dan pembimbing serta figur yang paling unggul pada masanya.

Karena ketika engkau sudah masuk dalam tarbiyahnya dan engkau menoleh pada selainnya, maka terputuslah madad (pertolongan Allah SWT) yang mengalir kepadamu dari Guru Mursyidmu”.

Warisan terbesar beliau bukan sekadar bangunan pesantren atau besarnya sebuah majelis, melainkan tumbuhnya tradisi zikir, manaqib, pendidikan, dan khidmah yang mengajarkan bahwa perjalanan menuju Allah dapat dimulai sejak muda dengan ilmu, adab, istiqamah, dan cinta serta berkhidmah secara sungguh-sungguh kepada para guru serta orang-orang saleh.

Kitab manaqib yang secara lengkap perjalanan dan kisah KH. Muhammad Utsman Al-Ishaqy di antaranya adalah Kitab Sabil Al-Wafi fi Manaqib Sayyidina Asy-Syaikh Muhammad Utsman Al-Ishaqy yang ditulis oleh KH. Abdul Ghofar Umar Menganti Gresik dan diterbitkan oleh Pondok Pesantren Darul Ubudiyah Raudlatul Mutaalimin Jatipurwo Surabaya, dan dibaca dalam Haul Ke-44 KH. Muhammad Utsman Al-Ishaqy pada Kamis, 17 Surabaya 2026 di PPRM Jatipurwo Surabaya.

Dengan demikian, mengenang KH Muhammad Utsman Al-Ishaqy pada momentum haul bukan hanya melihat kembali sejarah masa lalu, tetapi juga menghidupkan kembali semangat untuk meneruskan amaliah, menjaga sanad, memperbaiki akhlak, dan menghadirkan nilai-nilai tarekat di tengah kehidupan masyarakat secara nyata dan bermakna.

Ifsya al-Sirri: Belajar Menjaga Amanah dari Kisah Kanjeng Syaikh Abdul Qadir al-Jilani

Hari ini kita memasuki bulan Rabi’uts Tsani 1448 H. Bulan ini menjadi momentum mengenang guru kita Kanjeng Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani, yang wafat pada 11 Rabi’uts Tsani 561 H. Pada bulan yang sama kita kehilangan Hadratusy Syaikh KH. Muhammad Ustman Al-Ishaqy, tepatnya pada 5 Rabi’uts Tsani 1405 H. Ada kisah menarik dari Kanjeng Syaikh terkait ifsya al-sirri.

Dalam Islam sendiri, hifdz al-sirri atau menjaga rahasia merupakan bagian dari amanah. Sebaliknya, membuka dan menyebarkan rahasia tanpa alasan yang dibenarkan dikenal dengan istilah ifsya al-sirri (إفشاء السر), yaitu membocorkan sesuatu yang semestinya disimpan.

Salah satu kisah yang menarik untuk direnungkan adalah kisah Syaikh Abdul Qadir al-Jilani rahimahullah tentang bagaimana beliau menjaga sebuah perkara yang tidak semestinya diketahui oleh banyak orang. Kisah ini bukan hanya berbicara tentang sebuah peristiwa luar biasa, tetapi juga mengajarkan adab penting: tidak semua yang kita lihat, dengar, dan ketahui harus kita ceritakan kepada orang lain.

Rahasia yang Terjadi di Balik Perjalanan Malam Syaikh Abdul Qadir

Dalam kisah yang dinukil, Abu al-Hasan yang dikenal dengan Ibnu Thanthanah al-Baghdadi merupakan seseorang yang belajar kepada Syaikh Abdul Qadir al-Jilani. Ia begitu memperhatikan kebutuhan gurunya hingga sering begadang dan menunggu apabila sewaktu-waktu sang guru membutuhkan sesuatu.

Pada suatu malam di bulan Shafar tahun 553 H, Abu al-Hasan melihat Syaikh Abdul Qadir keluar dari rumah. Ia bermaksud memberikan sebuah kendi kepada sang guru, tetapi Syaikh Abdul Qadir tidak mengambilnya.

Beliau kemudian berjalan menuju pintu madrasah.

Yang terjadi berikutnya membuat Abu al-Hasan penasaran. Syaikh Abdul Qadir memberikan isyarat kepada pintu tersebut, lalu pintu itu terbuka. Sang Syaikh keluar, sedangkan Abu al-Hasan diam-diam mengikuti dari belakang.

Ia tidak ingin diketahui oleh gurunya.

Perjalanan kemudian berlanjut hingga Syaikh Abdul Qadir sampai di pintu kota Baghdad. Sekali lagi, pintu tersebut terbuka setelah beliau memberikan isyarat. Syaikh kemudian melanjutkan perjalanan hingga tiba di sebuah tempat yang belum pernah dikenal oleh Abu al-Hasan.

Di tempat itu terdapat sebuah bangunan yang menyerupai ribath. Di dalamnya ada enam orang yang sedang duduk. Ketika melihat Syaikh Abdul Qadir datang, mereka segera berdiri dan menyambut beliau dengan penuh penghormatan.

Abu al-Hasan memilih bersembunyi di balik sebuah tiang.

Tak lama kemudian, ia mendengar suara rintihan dari suatu tempat. Setelah beberapa saat, suara tersebut berhenti. Kemudian seorang laki-laki masuk ke arah tempat terdengarnya rintihan tadi dan keluar sambil membawa seseorang.

Peristiwa berikutnya semakin membuat Abu al-Hasan terkejut.

Datanglah seorang laki-laki yang kepalanya tidak tertutup dan kumisnya panjang. Ia berdiri di hadapan Syaikh Abdul Qadir. Laki-laki tersebut kemudian dibimbing untuk mengucapkan dua kalimat syahadat. Setelah itu, rambut dan kumisnya dicukur, lalu ia dikenakan penutup kepala dan diberi nama Muhammad.

Syaikh Abdul Qadir kemudian berkata kepada enam orang yang berada di tempat itu bahwa beliau memerintahkan agar orang tersebut menjadi pengganti orang yang telah meninggal.

Keenam orang itu menjawab dengan kepatuhan.

Setelah urusan tersebut selesai, Syaikh Abdul Qadir meninggalkan tempat itu. Abu al-Hasan kembali mengikuti beliau dari belakang.

Perjalanan yang terasa begitu jauh ternyata berakhir dengan cara yang mengherankan. Tidak lama kemudian, mereka kembali sampai di pintu Baghdad. Pintu itu kembali terbuka seperti sebelumnya. Syaikh Abdul Qadir kemudian melanjutkan perjalanan hingga sampai ke pintu madrasah. Pintu tersebut pun terbuka kembali.

Beliau akhirnya masuk ke rumahnya.

Keesokan harinya, Abu al-Hasan kembali menghadap Syaikh Abdul Qadir untuk belajar. Namun, ia merasakan kewibawaan gurunya begitu kuat hingga dirinya merasa takut dan kesulitan membaca kitab.

Syaikh Abdul Qadir kemudian berkata kepadanya dengan tenang:

“Wahai anakku, bacalah. Tidak apa-apa.”

Mendapat kesempatan tersebut, Abu al-Hasan memberanikan diri bertanya tentang apa yang ia lihat pada malam sebelumnya.

Syaikh Abdul Qadir Menjelaskan Rahasia yang Dilihat Muridnya

Syaikh Abdul Qadir kemudian menjelaskan perjalanan tersebut.

Tempat yang mereka datangi adalah Nahawand. Enam orang yang berada di sana adalah para abdal nujaba. Adapun orang yang sebelumnya terdengar merintih adalah orang ketujuh dari kelompok tersebut yang sedang sakit.

Ketika ajal orang itu telah tiba, Syaikh Abdul Qadir datang untuk menghadiri wafatnya.

Sedangkan orang yang membawa jenazahnya, menurut kisah tersebut, adalah Nabi Abu al-Abbas al-Khidhir RA yang mengambil jenazah tersebut untuk mengurus keperluannya.

Laki-laki yang kemudian dibaiat dan diberi nama Muhammad adalah seorang Nasrani dari Konstantinopel. Ia diperintahkan untuk mengucapkan dua kalimat syahadat dan kemudian dijadikan pengganti orang yang telah meninggal.

Bagi Abu al-Hasan, semua yang terjadi pada malam itu merupakan pengalaman yang luar biasa. Namun, justru setelah menjelaskan semuanya, Syaikh Abdul Qadir memberikan sebuah pesan yang sangat penting.

Beliau mengambil janji kepada Abu al-Hasan agar tidak menceritakan rahasia tersebut kepada siapa pun selama beliau masih hidup.

Dalam kisah itu disebutkan pesan Syaikh Abdul Qadir:

اِحْذَرْ مِنْ إِفْشَاءِ السِّرِّ فِي حَيَاتِي

“Berhati-hatilah, jangan sampai engkau menyebarkan rahasia ini selama aku masih hidup.”

Pesan tersebut menjadi inti penting dari kisah ini.

Bukan hanya tentang apa yang terjadi pada malam itu, tetapi tentang bagaimana seorang guru mengajarkan muridnya untuk menjaga amanah.

Abu al-Hasan telah melihat sesuatu yang tidak dilihat banyak orang. Namun, melihat sesuatu bukan berarti seseorang bebas menceritakannya. Mengetahui sesuatu juga bukan berarti seseorang berhak menyebarkannya.

Di situlah letak adab.

Larangan Menyebarkan Rahasia dalam Islam

Al-Qur’an mengingatkan orang-orang beriman agar tidak mengkhianati amanah. Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengkhianati Allah dan Rasul, dan janganlah kalian mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepada kalian, sedangkan kalian mengetahui.”

(QS. Al-Anfal: 27)

Rasulullah ﷺ juga memberikan peringatan keras mengenai membuka rahasia, terutama rahasia antara suami dan istri. Dari Abu Sa’id al-Khudri r.a., Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ مِنْ أَشَرِّ النَّاسِ عِنْدَ اللَّهِ مَنْزِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ الرَّجُلَ يُفْضِي إِلَى امْرَأَتِهِ وَتُفْضِي إِلَيْهِ ثُمَّ يَنْشُرُ سِرَّهَا

“Sesungguhnya seburuk-buruk manusia kedudukannya di sisi Allah pada hari kiamat adalah seorang laki-laki yang berhubungan dengan istrinya dan istrinya berhubungan dengannya, kemudian ia menyebarkan rahasianya.”

(HR. Muslim, no. 1437).

Hasan al-Bashri rahimahullah juga memberikan nasihat:

إِنَّ مِنَ الْخِيَانَةِ أَنْ تُحَدِّثَ بِسِرِّ أَخِيكَ

“Sesungguhnya termasuk pengkhianatan adalah ketika engkau menceritakan rahasia saudaramu.”

Nasihat ini sangat relevan dalam kehidupan sekarang. Terlebih di zaman media sosial, sebuah rahasia dapat berubah menjadi konsumsi banyak orang hanya dalam hitungan detik. Percakapan pribadi dapat di-screenshot, pesan dapat diteruskan, dan cerita seseorang dapat tersebar tanpa sepengetahuannya.

Karena itu, sebelum membagikan sebuah cerita, hendaknya kita bertanya: Apakah saya berhak menceritakannya? Apakah orang yang bersangkutan mengizinkannya? Apakah ada manfaat dari menyebarkannya? Atau justru akan menimbulkan mudarat?

Tidak Semua Rahasia Harus Disimpan dalam Setiap Keadaan

Menjaga rahasia bukan berarti menutup semua informasi meskipun penyampaiannya diperlukan untuk mencegah bahaya. Para ulama menjelaskan bahwa ada keadaan tertentu ketika sebuah informasi justru perlu disampaikan karena terdapat maslahat.

Al-Qur’an memberikan contoh melalui kisah seorang laki-laki dari ujung kota yang memperingatkan Nabi Musa a.s. mengenai rencana pembunuhan terhadap beliau:

وَجَاءَ رَجُلٌ مِنْ أَقْصَى الْمَدِينَةِ يَسْعَى قَالَ يَا مُوسَىٰ إِنَّ الْمَلَأَ يَأْتَمِرُونَ بِكَ لِيَقْتُلُوكَ فَاخْرُجْ إِنِّي لَكَ مِنَ النَّاصِحِينَ

“Dan datanglah seorang laki-laki dari ujung kota dengan bergegas-gegas seraya berkata, ‘Wahai Musa, sesungguhnya para pembesar negeri sedang berunding tentang engkau untuk membunuhmu. Oleh karena itu, keluarlah dari kota ini. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang memberi nasihat kepadamu.’”

(QS. Al-Qashash: 20)

Artinya, ukuran dalam menjaga atau menyampaikan rahasia adalah amanah dan maslahat. Jika sebuah rahasia memang dipercayakan untuk dijaga dan tidak ada alasan syar’i untuk membukanya, maka menyebarkannya merupakan perbuatan yang harus dihindari.

Kisah Syaikh Abdul Qadir al-Jilani memberikan pelajaran yang sangat dalam: semakin banyak seseorang mengetahui, semakin besar pula tanggung jawabnya untuk menjaga apa yang diketahuinya.

Menjadi orang yang dipercaya bukan karena mampu mengetahui banyak rahasia, tetapi karena mampu menjaga rahasia tersebut.

Di tengah kehidupan yang serba terbuka, menjaga rahasia adalah bentuk akhlak. Tidak menceritakan aib adalah bentuk kasih sayang. Tidak menyebarkan cerita pribadi adalah bentuk penghormatan.

Dan sebagaimana pesan yang tersirat dalam kisah Syaikh Abdul Qadir al-Jilani, terkadang diam bukan berarti tidak tahu, tetapi karena tahu kapan harus menjaga amanah.

Kita tidak harus menceritakan semua yang kita ketahui. Sebab, salah satu tanda kedewasaan dan kemuliaan akhlak adalah mengetahui apa yang boleh disampaikan dan apa yang harus tetap menjadi rahasia.

Apel Pagi PDF Ulya Al Fithrah September 2026, Tekankan Kedisiplinan dan Kesungguhan Santri

SURABAYA – PDF Ulya Al Fithrah Surabaya kembali melaksanakan apel pagi pada Kamis, 10 September 2026. Kegiatan yang dimulai pukul 07.00 WIB tersebut berlangsung di halaman PDF Ulya Al Fithrah Surabaya dan diikuti oleh seluruh santri, mulai dari kelas Isti’dad Ulya, kelas X, XI, hingga XII putra, serta asatidz PDF Ulya Al Fithrah.

Apel pagi menjadi salah satu momentum penting untuk memberikan arahan sekaligus membangun kedisiplinan santri dalam menjalani kegiatan pendidikan dan wadzifah di pondok.

Tawasul dan Pembacaan Al-Malhudot

Rangkaian apel pagi dibuka dengan Tawasul Al-Fatihah yang dipimpin oleh Ust. Edy Yusuf, S.Ud. Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan pembacaan Al-Malhudot oleh Ust. Nuril Mubin, M.Pd.

Al-Malhudot berisikan pesan dan harapan Hadratusy Syaikh KH. Ahmad Asrori Al Ishaqy yang disampaikan kepada para santri. Salah satu pesan yang ditekankan dalam kesempatan tersebut adalah pentingnya senantiasa menjaga kedisiplinan dan melatih kesungguhan dalam menjalani kehidupan.

“Senantiasalah melatih jiwa, bersungguh-sungguh dan sabar serta ridho atas cobaan, himpitan, gangguan, rintangan, hambatan dan halangan, dengan bertawakal dan bersandar kepada Allah SWT.”

Pesan tersebut menjadi pengingat bagi para santri bahwa proses pendidikan di pondok tidak hanya berkaitan dengan kemampuan akademik, tetapi juga pembentukan jiwa, kesabaran, kedisiplinan, dan keteguhan dalam menghadapi berbagai tantangan.

Kepala PDF Ulya Al Fithrah Ingatkan Agenda Akademik

Sesi berikutnya adalah amanat Pembina apel yang disampaikan langsung oleh Kepala PDF Ulya Al Fithrah, Ust. H. Nasiruddin, M.M. Dalam amanatnya, beliau mengingatkan para santri mengenai sejumlah agenda penting PDF Ulya Al Fithrah yang akan berlangsung hingga beberapa bulan ke depan. Agenda tersebut meliputi:

– Asesmen Harian: September 2026, pekan ke-2

– Asesmen Tengah Semester (ATS): Oktober 2026, pekan ke-2

– Tryout Imtihan Wathani: November 2026, pekan ke-1

– Asesmen Sumatif Akhir Semester (ASAS): 14–26 Desember 2026

– Imtihan Wathani: 21–23 Desember 2026

Beliau juga mengingatkan bahwa Asesmen Harian dan Asesmen Tengah Semester merupakan bagian penting dalam proses evaluasi pembelajaran. Karena itu, para santri diharapkan mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya.

Selain agenda tersebut, pada November 2026 juga akan dilaksanakan Tes Kemampuan Akademik (TKA). Beliau berharap seluruh santri kelas XII dapat mengikuti kegiatan tersebut meskipun pelaksanaannya tidak bersifat wajib.

Sementara itu, Desember 2026 akan menjadi bulan yang cukup padat dengan adanya pelaksanaan Imtihan Wathani (IW) dan ASAS Ganjil.

Dalam amanatnya, beliau menyampaikan beberapa pesan kepada para santri:

“Kesungguhan dan kedisiplinan kita, akan menentukan arah masa depan kita. Wadzifah di pondok akan menjadi landasan batin kita agar selamat di dunia dan akhirat” tutur beliau.

“Kalau bersungguh-sungguh insya Allah akan dimudahkan. Sebaliknya, Kalau bermalas-malasan jalannya semakin menyulitkan” pesan beliau.

Para santri juga diingatkan untuk meningkatkan kedisiplinan, baik dalam mengikuti kegiatan sekolah maupun menjalankan wadzifah di pondok.

Al-Qur’an dan turats juga menjadi bagian penting dalam proses pendidikan santri kelas XII, sekaligus menjadi salah satu syarat kelulusan. Karena itu, para santri diharapkan memberikan perhatian yang seimbang terhadap pendidikan akademik, Al-Qur’an, serta pembelajaran turats.

Apel Menjadi Momentum Mempererat Hubungan

Apel pagi PDF Ulya Al Fithrah tidak hanya menjadi kegiatan untuk mendengarkan nasihat dan menyampaikan informasi mengenai agenda pendidikan. Lebih dari itu, apel menjadi momentum untuk saling mengenal dan mempererat hubungan di lingkungan pondok.

Melalui kegiatan bersama seperti ini, hubungan antara santri dengan santri lainnya, santri dengan asatidz, serta santri dengan pengurus PDF Ulya Al Fithrah dapat semakin terjalin dengan baik.

Kebersamaan tersebut menjadi bagian dari proses pendidikan di pesantren. Sebab, keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kegiatan belajar di dalam kelas, tetapi juga oleh kedisiplinan, kebersamaan, keteladanan, dan kesungguhan dalam menjalankan seluruh aktivitas pondok.

Dengan berbagai agenda akademik dan kegiatan pondok yang akan datang, seluruh santri PDF Ulya Al Fithrah diharapkan dapat mempersiapkan diri dengan lebih baik, menjaga kedisiplinan, serta meningkatkan kesungguhan dalam belajar dan menjalankan wadzifah.

Semoga setiap langkah dan ikhtiar yang telah dilakukan oleh seluruh keluarga besar PDF Ulya Al Fithrah membuahkan hasil kebaikan dan keberkahan. Aamiiin.

Bersholawat Mengharapkan Rezeki

Mencari nafkah adalah bagian dari ibadah panjang manusia. Ia tidak kalah pentingnya dengan sholat, puasa dan bentuk-bentuk penghambaan lainnya. Ibadah yang panjang, sebab pelaksanaannya adalah selama hayat masih dikandung badan.

Memberi nafkah kepada keluarga adalah wajib bagi seorang ayah sebagai kepala keluarga. Terpenuhinya rezeki adalah bagian dari kebutuhan pokok yang harus dicukupi setiap harinya.

Terdapat banyak ayat dan hadits yang memerintahkan kita untuk menggapai rezeki-Nya yang telah ditebar di muka bumi. Tugas kita adalah berikhtiyar mendapatkannya, serta bertawakal untuk mendapat rezeki yang halalan lagi thoyiban.

Ibadah Bermotivasikan Rezeki

Di sebuah kelas ada seorang santri yang bertanya: “Wahai guru, bukankah ibadah itu seharusnya adalah dilakukan secara ikhlas. Tapi kenapa justru ketika dalam sholat pun, kita memohon kemudahan rezeki. Warzuqnii, ketika duduk di antara dua sujud misalnya”

Sang guru tersentak sejenak dengan pertanyaan muridnya. Ia membenarkan bahwa berharap imbalan tidak dianjurkan. Ia juga menegaskan bahwa memohon kelancaran rezeki, kesehatan, atau urusan duniawi kepada Allah SWT setelah menunaikan ibadah sangat dianjurkan.

Allah SWT menyukai hambanya yang mau berdoa memohon kepada-Nya. Secara jelas di dalam surat Al-Fatihah dikatakan: “Hanya kepada-Mu lah kami menyembah dan hanya kepada-Mu lah kami meminta pertolongan” (QS. Al Fatihah ayat 5).

Allah SWT berjanji akan mengabulkan doa hamba-Nya yang memohon kebaikan di dunia maupun di akhirat. Bahkan ada juga beberapa ibadah yang pernah dipraktikkan dan diajarkan oleh Rasulullah SAW yang tujuannya ‘menarik rezeki’.

Sholat Hajat, Sholat Dhuha, Membaca Waqi’ah, Beristighfar, dan lain sebagainya. Mengharapkan rezeki dari amalan-amalan ini sama artinya dengan meyakini janji Allah SWT. Dalam Alquran disebutkan:

قُلْتُ اسْتَغْفِرُوْا رَبَّكُمْ اِنَّهٗ كَانَ غَفَّارًاۙ   ۝١٠ يُّرْسِلِ السَّمَاۤءَ عَلَيْكُمْ مِّدْرَارًاۙ ۝١١

Lalu, aku berkata (kepada mereka), “Mohonlah ampun kepada Tuhanmu. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun. (QS. Nuh · Ayat 10) (Jika kamu memohon ampun,) niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu, (QS. Nuh · Ayat 11)

Allah SWT memerintahkan kita untuk beribadah. Menghambakan diri kepada-Nya. Dalam ke-sah-an pelaksanakannya, tidak ada kewajiban untuk ikhlas dalam melaksanakannya. Untuk keperluan kelancaran rezeki disunahkan untuk Sholat Liqadail Hajat dan Sholat Duha.

Para ulama menjelaskan bahwa derajat ibadah tertinggi adalah ikhlas, yakni beribadah murni karena cinta dan untuk mencari rida Allah SWT. Menjadikan rezeki sebagai motivasi pendorong semangat beribadah itu dibolehkan, tetapi tujuan utama ibadah haruslah tetap untuk mengabdi kepada-Nya.

Dalam pengajiannya, Hadratusy Syaikh bahwa yang penting jangan terang-terangan melaksanakan sholat, baca Alquran dan baca Sholawat dengan niat agar dimudahkan rezekinya. Tetap dengan niat lillahi ta’ala.

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَّحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ﴾ [ طه: 132]

Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa. [TaHa: 132]

Sholawat Agar Rezeki Deras

Sholawat memiliki akar kata yang sama dengan sholat. Sholat sendiri mempunyai arti doa secara bahasa. Artinya, orang yang sedang sholat ataupun bersholawat, sama halnya sedang berdoa.

Dalam kebanyakan shighot redaksi sholawat yang banyak dibaca, isinya adalah permohonan kepada Allah SWT untuk memberikan rahmat kepada Rasulullah SAW.

Di antara shighot sholawat yang berlaku di kalangan ulama salafus shalih adalah Sholawat Ar-Rizq al-Midrar. Redaksi Sholawat Ar-Rizq Al-Midrar ini tercatat dan terbukukan dalam Kitab An-Nafahat fi Maa Yata’allaqu bi al-Tarawih wa al-Witr wa al-Tasbih wa al-Hajat yang diterbitkan oleh Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya. Tepatnya di halaman 61.

Hadratusy Syaikh KH. Ahmad Asrori Al-Ishaqy mengijazahkan sholawat ini disamping ijazah bacaan Yasin fadhilah dan Waqi’ah fadhilah, serta hasbiyallah.

“Lajeng, Ten mriki Kulo nambahi maleh nopo ijazah sholawat. Seng Endi ijazah sholawat niku kanggo nopo rizkine Ben deres. (terj: Kemudian, di sini Saya menambahkan ijazah sholawat. Yang mana bacaan sholawat ini bertujuan agar rezekinya deras)” kata beliau.

Jamaah seketika berseru amin setelah Hadratusy Syaikh KH. Ahmad Asrori memberikan ijazah ini.

“Coba sampeyan, Kulo ngongkon Ten sampeyan. ‘Sampeyan waos nggih Niki ngken ndalu, insya Allah sampeyan mlebu suwargo’. Paling, mbenjeng mawon Yai. “Rizkine”, “nggih”. Wong Panceng sampeyan njaluk seng lang nyoto ngeten”.

(terj: Coba, kalau Saya memerintahkan kalian semua. ‘Anda nanti baca ini nanti malam ya, insya Allah masuk surga’. Paling ‘besok saja Yai’ (jawabannya)”. “Rezekinya (supaya lancar)”, “yaa”. Memang kalian ini sukanya yang langsung nyata” kata Hasratusy Syaikh dengan sesekali bercanda.

Berikut redaksi Sholawat Ar-Rizq al-Midrar tersebut:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً تُطِيلُ لَنَا بِهَا الْأَعْمَارَ وَتُزِيلُ بِهَا عَنَّا جَمِيعَ الْأَسْقَامِ وَالْأَخْطَارِ وَتُدِرُّ بِهَا عَلَيْنَا الرِّزْقَ الْمِدْرَارَ وَتَقْضِي لَنَا بِهَا جَمِيعَ الْأَوْطَارِ وَتُشَفِّعْهُ فِيْنَا عِنْدَكَ فِي دَارِ الدُّنْيَا وَدَارِ الْقَرَارِ بِرَحْمَتِكَ يَا غَفَّارُ يَا قَهَّارُ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ.
Allohumma Sholli ‘Ala Sayyidina Muhammadin Sholatan Tuthilu Lana Bihal A’mar Wa Tuzilu Biha ‘Anna Jami’al Asqom Wal Akhthor Wa Tudirru Biha ‘Alainar-Rizqol Midror Wa Taqdi Lana Biha Jami’al Author Wa Tusyaffi’hu fina ‘Indaka Fi Darid-Dunya Wa Daril Qoror Birohmatika Ya Goffar Ya Qohhar Wa ‘Ala Alihi Wa Shahbihi Wa Sallim
Artinya :
“Ya Alloh, limpahkanlah tambahan Rahmat dan keselamatan atas junjungan kami Nabi Muhammad Saw, keluarga dan para sahabatnya yang mana dengan limpahan Rahmat itu, Engkau memanjangkan Umur kami, Engkau menghilangkan segala penyakit dari diri kami, Engkau mengucurkan rezeki yang melimpah kepada kami, Engkau mengabulkan kebutuhan kami, Engkau memberikan Syafa’at di Dunia dan Akhirat kepada kami, wahai Zat yang Maha Pengampun lagi Maha Perkasa.”

Mengharap Dunia dengan Amal akhirat

Beliau Hadratusy Syaikh KH. Ahmad Asrori Al-Ishaqy menegaskan bahwa jika ada urusan duniawi yang diperoleh dengan menggunakan amal akhirat (dengan perantara membaca ayat-ayat atau surat tertentu dari Al-Quran, misalnya), itu pada hakikatnya bukan untuk memenuhi urusan duniawi secara murni.

Artinya, amal ibadah dan bacaan-bacaan doa yang dilaksanakan adalah bentuk tawakal. Sementara ikhtiyarnya adalah dengan melakukan pekerjaan-pekerjaan secara profesional.

Tidak bisa dipungkiri bahwa sebagai manusia sekaligus hamba, kita membutuhkan rezeki untuk kuat mendirikan ibadah dan memenuhi kebutuhan dunianya.

Rasulullah SAW sendiri secara umum mendoakan:

اَللَّهُمَّ اجْعَلْ رِزْقَ آلِ مُحَمَّدٍ قُوْتًا

“Ya Allah jadikanlah Rezeki keluarga Muhammad (seluruh umat yang beriman kepada Rasulullah SAW) berkecukupan.” (Al -Bukhari 4/222), Muslim 3/103, 8/217).

Mengakhiri tulisan ini. Jika ada yang mengadu ‘Saya sudah amalkan ini, baca ini, baca itu, tapi begini-begini aja’, maka kita perlu kita perlu luruskan bahwa rezeki itu terdiri dari dua macam. Ada rezeki dohir yang kelihatan mata dan ada rezeki bathin yang tidak nampak oleh mata.

Rezeki dohir berupa terpenuhinya kebutuhan duniawi dan rezeki yang batin berupa menerimanya hati terhadap keadaan yang menimpa. “Seng jeneng wong sugeh niku nopo? Wong seng atine nerimo” (Yang dinamakan kaya itu apa? Orang yang hatinya mudah menerima) dawuh Hadratusy Syaikh.

اَللَّهُمَّ اجْعَلْ رِزْقَنَا فِيْ هَذِهِ الدُّنْيَا قُوْتًا وَكَفَافًا

Ya Allah jadikanlah Rezeki kami di dunia ini sebagai kekuatan (melaksanakan ibadah) dan mencukupi kebutuhan. Aamiiin.

Oleh: Muhammad Zakki