Year: 2026

Bersholawat Mengharapkan Rezeki

Mencari nafkah adalah bagian dari ibadah panjang manusia. Ia tidak kalah pentingnya dengan sholat, puasa dan bentuk-bentuk penghambaan lainnya. Ibadah yang panjang, sebab pelaksanaannya adalah selama hayat masih dikandung badan.

Memberi nafkah kepada keluarga adalah wajib bagi seorang ayah sebagai kepala keluarga. Terpenuhinya rezeki adalah bagian dari kebutuhan pokok yang harus dicukupi setiap harinya.

Terdapat banyak ayat dan hadits yang memerintahkan kita untuk menggapai rezeki-Nya yang telah ditebar di muka bumi. Tugas kita adalah berikhtiyar mendapatkannya, serta bertawakal untuk mendapat rezeki yang halalan lagi thoyiban.

Ibadah Bermotivasikan Rezeki

Di sebuah kelas ada seorang santri yang bertanya: “Wahai guru, bukankah ibadah itu seharusnya adalah dilakukan secara ikhlas. Tapi kenapa justru ketika dalam sholat pun, kita memohon kemudahan rezeki. Warzuqnii, ketika duduk di antara dua sujud misalnya”

Sang guru tersentak sejenak dengan pertanyaan muridnya. Ia membenarkan bahwa berharap imbalan tidak dianjurkan. Ia juga menegaskan bahwa memohon kelancaran rezeki, kesehatan, atau urusan duniawi kepada Allah SWT setelah menunaikan ibadah sangat dianjurkan.

Allah SWT menyukai hambanya yang mau berdoa memohon kepada-Nya. Secara jelas di dalam surat Al-Fatihah dikatakan: “Hanya kepada-Mu lah kami menyembah dan hanya kepada-Mu lah kami meminta pertolongan” (QS. Al Fatihah ayat 5).

Allah SWT berjanji akan mengabulkan doa hamba-Nya yang memohon kebaikan di dunia maupun di akhirat. Bahkan ada juga beberapa ibadah yang pernah dipraktikkan dan diajarkan oleh Rasulullah SAW yang tujuannya ‘menarik rezeki’.

Sholat Hajat, Sholat Dhuha, Membaca Waqi’ah, Beristighfar, dan lain sebagainya. Mengharapkan rezeki dari amalan-amalan ini sama artinya dengan meyakini janji Allah SWT. Dalam Alquran disebutkan:

قُلْتُ اسْتَغْفِرُوْا رَبَّكُمْ اِنَّهٗ كَانَ غَفَّارًاۙ   ۝١٠ يُّرْسِلِ السَّمَاۤءَ عَلَيْكُمْ مِّدْرَارًاۙ ۝١١

Lalu, aku berkata (kepada mereka), “Mohonlah ampun kepada Tuhanmu. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun. (QS. Nuh · Ayat 10) (Jika kamu memohon ampun,) niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu, (QS. Nuh · Ayat 11)

Allah SWT memerintahkan kita untuk beribadah. Menghambakan diri kepada-Nya. Dalam ke-sah-an pelaksanakannya, tidak ada kewajiban untuk ikhlas dalam melaksanakannya. Untuk keperluan kelancaran rezeki disunahkan untuk Sholat Liqadail Hajat dan Sholat Duha.

Para ulama menjelaskan bahwa derajat ibadah tertinggi adalah ikhlas, yakni beribadah murni karena cinta dan untuk mencari rida Allah SWT. Menjadikan rezeki sebagai motivasi pendorong semangat beribadah itu dibolehkan, tetapi tujuan utama ibadah haruslah tetap untuk mengabdi kepada-Nya.

Dalam pengajiannya, Hadratusy Syaikh bahwa yang penting jangan terang-terangan melaksanakan sholat, baca Alquran dan baca Sholawat dengan niat agar dimudahkan rezekinya. Tetap dengan niat lillahi ta’ala.

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَّحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ﴾ [ طه: 132]

Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa. [TaHa: 132]

Sholawat Agar Rezeki Deras

Sholawat memiliki akar kata yang sama dengan sholat. Sholat sendiri mempunyai arti doa secara bahasa. Artinya, orang yang sedang sholat ataupun bersholawat, sama halnya sedang berdoa.

Dalam kebanyakan shighot redaksi sholawat yang banyak dibaca, isinya adalah permohonan kepada Allah SWT untuk memberikan rahmat kepada Rasulullah SAW.

Di antara shighot sholawat yang berlaku di kalangan ulama salafus shalih adalah Sholawat Ar-Rizq al-Midrar. Redaksi Sholawat Ar-Rizq Al-Midrar ini tercatat dan terbukukan dalam Kitab An-Nafahat fi Maa Yata’allaqu bi al-Tarawih wa al-Witr wa al-Tasbih wa al-Hajat yang diterbitkan oleh Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya. Tepatnya di halaman 61.

Hadratusy Syaikh KH. Ahmad Asrori Al-Ishaqy mengijazahkan sholawat ini disamping ijazah bacaan Yasin fadhilah dan Waqi’ah fadhilah, serta hasbiyallah.

Lajeng, Ten mriki Kulo nambahi maleh nopo ijazah sholawat. Seng Endi ijazah sholawat niku kanggo nopo rizkine Ben deres. (terj: Kemudian, di sini Saya menambahkan ijazah sholawat. Yang mana bacaan sholawat ini bertujuan agar rezekinya deras)” kata beliau.

Jamaah seketika berseru amin setelah Hadratusy Syaikh KH. Ahmad Asrori memberikan ijazah ini.

Coba sampeyan, Kulo ngongkon Ten sampeyan. ‘Sampeyan waos nggih Niki ngken ndalu, insya Allah sampeyan mlebu suwargo’. Paling, mbenjeng mawon Yai. “Rizkine”, “nggih”. Wong Panceng sampeyan njaluk seng lang nyoto ngeten”.

(terj: Coba, kalau Saya memerintahkan kalian semua. ‘Anda nanti baca ini nanti malam ya, insya Allah masuk surga’. Paling ‘besok saja Yai’ (jawabannya)”. “Rezekinya (supaya lancar)”, “yaa”. Memang kalian ini sukanya yang langsung nyata” kata Hasratusy Syaikh dengan sesekali bercanda.

Berikut redaksi Sholawat Ar-Rizq al-Midrar tersebut:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً تُطِيلُ لَنَا بِهَا الْأَعْمَارَ وَتُزِيلُ بِهَا عَنَّا جَمِيعَ الْأَسْقَامِ وَالْأَخْطَارِ وَتُدِرُّ بِهَا عَلَيْنَا الرِّزْقَ الْمِدْرَارَ وَتَقْضِي لَنَا بِهَا جَمِيعَ الْأَوْطَارِ وَتُشَفِّعْهُ فِيْنَا عِنْدَكَ فِي دَارِ الدُّنْيَا وَدَارِ الْقَرَارِ بِرَحْمَتِكَ يَا غَفَّارُ يَا قَهَّارُ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ.
Allohumma Sholli ‘Ala Sayyidina Muhammadin Sholatan Tuthilu Lana Bihal A’mar Wa Tuzilu Biha ‘Anna Jami’al Asqom Wal Akhthor Wa Tudirru Biha ‘Alainar-Rizqol Midror Wa Taqdi Lana Biha Jami’al Author Wa Tusyaffi’hu fina ‘Indaka Fi Darid-Dunya Wa Daril Qoror Birohmatika Ya Goffar Ya Qohhar Wa ‘Ala Alihi Wa Shahbihi Wa Sallim
Artinya :
“Ya Alloh, limpahkanlah tambahan Rahmat dan keselamatan atas junjungan kami Nabi Muhammad Saw, keluarga dan para sahabatnya yang mana dengan limpahan Rahmat itu, Engkau memanjangkan Umur kami, Engkau menghilangkan segala penyakit dari diri kami, Engkau mengucurkan rezeki yang melimpah kepada kami, Engkau mengabulkan kebutuhan kami, Engkau memberikan Syafa’at di Dunia dan Akhirat kepada kami, wahai Zat yang Maha Pengampun lagi Maha Perkasa.”

Mengharap Dunia dengan Amal akhirat

Beliau Hadratusy Syaikh KH. Ahmad Asrori Al-Ishaqy menegaskan bahwa jika ada urusan duniawi yang diperoleh dengan menggunakan amal akhirat (dengan perantara membaca ayat-ayat atau surat tertentu dari Al-Quran, misalnya), itu pada hakikatnya bukan untuk memenuhi urusan duniawi secara murni.

Artinya, amal ibadah dan bacaan-bacaan doa yang dilaksanakan adalah bentuk tawakal. Sementara ikhtiyarnya adalah dengan melakukan pekerjaan-pekerjaan secara profesional.

Tidak bisa dipungkiri bahwa sebagai manusia sekaligus hamba, kita membutuhkan rezeki untuk kuat mendirikan ibadah dan memenuhi kebutuhan dunianya.

Rasulullah SAW sendiri secara umum mendoakan:

اَللَّهُمَّ اجْعَلْ رِزْقَ آلِ مُحَمَّدٍ قُوْتًا

“Ya Allah jadikanlah Rezeki keluarga Muhammad (seluruh umat yang beriman kepada Rasulullah SAW) berkecukupan.” (Al -Bukhari 4/222), Muslim 3/103, 8/217).

Mengakhiri tulisan ini. Jika ada yang mengadu ‘Saya sudah amalkan ini, baca ini, baca itu, tapi begini-begini aja’, maka kita perlu kita perlu luruskan bahwa rezeki itu terdiri dari dua macam. Ada rezeki dohir yang kelihatan mata dan ada rezeki bathin yang tidak nampak oleh mata.

Rezeki dohir berupa terpenuhinya kebutuhan duniawi dan rezeki yang batin berupa menerimanya hati terhadap keadaan yang menimpa. “Seng jeneng wong sugeh niku nopo? Wong seng atine nerimo” (Yang dinamakan kaya itu apa? Orang yang hatinya mudah menerima) dawuh Hadratusy Syaikh.

اَللَّهُمَّ اجْعَلْ رِزْقَنَا فِيْ هَذِهِ الدُّنْيَا قُوْتًا وَكَفَافًا

Ya Allah jadikanlah Rezeki kami di dunia ini sebagai kekuatan (melaksanakan ibadah) dan mencukupi kebutuhan. Aamiiin.

Oleh: Muhammad Zakki

Seminar Anti Bullying di Al Fithrah: Membentuk Pesantren yang Nyaman dan Bebas Perundungan

Surabaya, 24 Agustus 2026 — Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya terus berupaya menghadirkan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan mendukung perkembangan karakter santri. Salah satu upaya tersebut diwujudkan melalui Seminar dan Sosialisasi Anti Bullying dengan tema “Mondok Nyaman, Prestasi Gemilang: Mewujudkan Pesantren Bebas Bullying.”

Kegiatan yang digelar pada Senin, 24 Agustus 2026 M atau 11 Rabiul Awal 1448 H ini diinisiasi oleh Bimbingan Konseling (BK) Al Fithrah dan berlangsung di Gedung Lantai 5 Al Fithrah. Seminar diikuti oleh seluruh santri kelas VII PDF Wustha Al Fithrah dan Isti’dad Ulya Al Fithrah.

Kegiatan ini menjadi bagian dari ikhtiar pesantren untuk membangun kesadaran bersama mengenai pentingnya menjaga hubungan antarsantri agar tetap sehat, saling menghormati, dan jauh dari berbagai bentuk perundungan.

Acara dimulai dengan Tawassul Istighotsah oleh Ust. Abdulloh, M.Ag Mudir Ma’had aly dan Maulid Fi hubby oleh Ust. M. Khoiri, S.Ud, Pendidik PDF Wustha Al Fithrah, serta dilanjutkan dengan sambutan-sambutan.

Sambutan pertama disampaikan oleh Ust. Nur Yasin, S.Ud. Selaku Kepala PDF wustha Al Fithrah, beliau menyampaikan agar para santri tidak lagi malu untuk untuk datang ke ruang BK Al Fithrah. Sementara itu, Ust. M. Toha, S.Ud dalam sambutannya selaku Kepala Bagian Kewadhifahan meminta kerja sama santri untuk bersama membentuk lingkungan pesantren yang aman dan nyaman.

Membangun Kesadaran tentang Bullying di Lingkungan Pesantren

Pemateri pertama dalam seminar ini disampaikan oleh M. Nasir, S.Pd.,Gr. Beliau menjelaskan bahwa bullying atau perundungan merupakan perilaku yang dapat menyakiti, merendahkan, mengintimidasi, atau mengucilkan orang lain. Dampaknya tidak hanya berupa luka secara fisik, tetapi juga dapat memengaruhi kondisi psikologis korban, seperti munculnya rasa takut, tertekan, malu, tidak aman, hingga kehilangan kepercayaan diri.

Dalam kehidupan pesantren, persoalan tersebut perlu menjadi perhatian bersama. Santri hidup dan belajar dalam lingkungan yang sama dengan berbagai latar belakang karakter, kebiasaan, serta kemampuan. Perbedaan tersebut seharusnya menjadi ruang untuk belajar saling memahami, bukan menjadi alasan untuk merendahkan satu sama lain.

Waka Kesiswaan SMP YPP Nurul Huda ini juga meminta beberapa bentuk bullying yang perlu diwaspadai antara lain memukul, mengejek nama orang tua, mempermalukan teman, mengucilkan seseorang dari kelompok, mengancam, hingga menyebarkan aib melalui media sosial.

Hal penting yang ditekankan dalam seminar adalah bahwa tindakan bullying tidak selalu harus terjadi berkali-kali untuk mendapatkan perhatian. Tindakan serius yang dilakukan sekali pun, misalnya ancaman kekerasan atau mempermalukan seseorang di hadapan banyak orang, tetap perlu dihentikan dan ditindaklanjuti.

Karena itu, jangan menunggu perundungan terjadi berulang kali baru mengambil tindakan. Setiap tindakan yang berpotensi menyakiti, merendahkan, atau membahayakan orang lain perlu dicegah sejak awal.

Bercanda, Konflik, atau Bullying? Kenali Perbedaannya

Salah satu hal yang penting dipahami santri adalah membedakan antara bercanda, konflik biasa, dan bullying. Bercanda pada dasarnya dilakukan untuk bersenang-senang dan membuat kedua pihak merasa nyaman. Bercanda tidak bertujuan menyakiti atau merendahkan orang lain.

Sementara itu, konflik biasa dapat muncul karena adanya perbedaan pendapat atau kepentingan antara dua pihak yang relatif memiliki posisi seimbang. Konflik dapat diselesaikan melalui komunikasi, dialog, dan musyawarah.

Adapun bullying memiliki unsur tindakan menyakiti, merendahkan, mengintimidasi, atau menguasai orang lain. Korban biasanya berada dalam kondisi takut, tertekan, tidak berdaya, atau kesulitan menghentikan perlakuan tersebut.

Karena itu, kalimat “Saya cuma bercanda” tidak otomatis membuat sebuah tindakan menjadi benar. Jika seseorang merasa terluka, dipermalukan, atau takut akibat candaan tersebut, maka candaan itu perlu dihentikan dan dievaluasi. Pesan sederhananya: bercanda boleh, tetapi menyakiti bukan budaya.

Seminar juga mengajak santri untuk mengubah kebiasaan negatif menjadi perilaku positif. Perubahan tersebut dapat dimulai dari hal-hal sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Dari mengejek menjadi menyemangati. Dari mengucilkan menjadi mengajak berteman. Dari menyakiti menjadi menolong. Dari menyebarkan aib menjadi menjaga privasi. Dan dari ikut-ikutan menjadi berani mengatakan, “Stop, itu tidak baik.”

Pesantren yang aman bukan hanya tanggung jawab guru, kiai, pengasuh, atau pengurus. Menciptakan lingkungan yang nyaman merupakan tanggung jawab seluruh warga pesantren.

Setiap santri dapat mengambil peran dengan menjadi teman yang membuat orang lain merasa diterima, dihargai, dan aman.

Semangat tersebut dirangkum dalam pesan “STOP BULLYING • START CARING • SPREAD KINDNESS.” STOP BULLYING, hentikan segala bentuk perundungan dan kekerasan. START CARING, mulailah peduli, menyayangi, dan memperhatikan sesama. SPREAD KINDNESS, sebarkan kebaikan, keramahan, serta sikap saling menghargai.

Pesantren Aman, Santri Nyaman

Materi berikutnya disampaikan oleh Faiz Ihsan Munir Al Faruq, mahasiswa S1 Psikologi Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya. Dalam pemaparannya, ia mengangkat tema “Pesantren Aman, Santri Nyaman: Membangun Lingkungan Pesantren yang Aman dan Bebas Bullying.”

Pesantren, menurut materi yang disampaikan, bukan hanya tempat menuntut ilmu. Pesantren juga menjadi ruang pembentukan karakter, akhlak, dan kepribadian santri. Karena itu, lingkungan pesantren perlu memberikan rasa aman, baik secara fisik maupun psikologis dan sosial.

Membangun pesantren bebas bullying membutuhkan keterlibatan seluruh unsur pesantren. Pengasuh, ustaz, pengurus, serta santri memiliki peran penting dalam membangun budaya saling menghormati dan menjaga martabat sesama.

Santri juga perlu memiliki keberanian untuk mencegah perundungan. Perbedaan karakter bukan alasan untuk merendahkan. Kekurangan seseorang bukan bahan untuk dijadikan ejekan. Dan sebuah masalah tidak harus diselesaikan dengan kekerasan.

Pesantren yang aman pada akhirnya bukan sekadar pesantren yang bebas dari kekerasan. Pesantren aman adalah tempat ketika setiap santri merasa dihargai, dilindungi, didengar, dan diterima.

Ketika rasa nyaman tumbuh, proses belajar pun dapat berjalan dengan lebih baik. Dari lingkungan yang sehat, lahir santri yang percaya diri, berakhlak, dan mampu membangun hubungan sosial secara positif.

Deklarasi Anti Bullying Al Fithrah

Seminar kemudian dilanjutkan dengan mini talkshow dan sesi tanya jawab, yang memberikan ruang kepada santri untuk menyampaikan pertanyaan dan berdiskusi mengenai persoalan perundungan dalam kehidupan sehari-hari.

Rangkaian kegiatan ditutup dengan Deklarasi Anti Bullying Santri Al Fithrah yang dipandu oleh Ust. Abdul Rouf, S.Ag. Deklarasi ini menjadi simbol komitmen bersama untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan bebas dari bullying.

Ice breaking yang dipandu Ust. Badrul Chomar, M.Psi semakin menambah keseruan acara pagi ini. Akma, santri asal Tegal Jawa Tengah berharap agar acara ini dapat membuahkan hasil berupa tidak lagi ada bully di antara santri. Sementara itu Shobirin asal Bawean Gresik sangat senang dengan acara semacam ini dan berharap agar sering ada sosialisasi semacam ini.

Melalui seminar ini, Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya menegaskan bahwa kenyamanan santri bukan sekadar pelengkap dalam proses pendidikan. Mondok nyaman adalah bagian dari ikhtiar menuju prestasi yang gemilang.

Sebab, pesantren yang baik bukan hanya tempat seseorang menjadi pintar, tetapi juga tempat seseorang belajar menghargai, menyayangi, dan menjaga sesama.

Pesantren aman, santri nyaman. Ketika lingkungan dijaga dengan kasih sayang, ilmu tumbuh dengan tenang dan akhlak berkembang dengan gemilang.

Majlis Ahad Kedua Rabiul Awal 1448 H: Menyambut Cinta Rasulullah

Surabaya, 23 Agustus 2026 — Ahad pagi di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya terasa berbeda. Sejak malam hari, jamaah dari berbagai daerah mulai berdatangan. Ada yang datang dari dalam kota, ada pula yang menempuh perjalanan panjang dari luar provinsi.

Mereka datang bukan sekadar untuk menghadiri sebuah acara. Mereka datang untuk duduk bersama, berdzikir, membaca maulid, menyebut nama Rasulullah ﷺ, dan menyambung kembali rasa cinta kepada beliau.

Pada Ahad, 23 Agustus 2026, Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya kembali menyelenggarakan Majlis Ahad Kedua dalam rangka menyambut suasana bulan Rabiul Awal 1448 H. Tanggal tersebut bertepatan dengan 10 Rabiul Awal 1448 H berdasarkan penanggalan Hijriah.

Tenda panjang hampir memenuhi seluruh lapangan pondok. Majlis Ahad Kedua dimulai pukul 07.00 WIB. Tetapi bagi panitia, khidmah telah dimulai jauh sebelum matahari terbit.

Sejak malam hari, jamaah yang datang dari luar provinsi telah mulai berdatangan. Panitia bagian maktab penginapan menyambut mereka dengan ramah, kemudian mengarahkan para jamaah menuju kelas-kelas yang telah dipersiapkan sebagai tempat istirahat.

Khidmah: Seni Mencintai

Di sisi lain, panitia bagian sket juga sibuk mempersiapkan pembatas antara jamaah putra dan putri. Tali, kain, serta petunjuk lokasi telah disiapkan sejak malam agar ketika pagi tiba, jamaah dapat langsung menempati tempatnya dengan tertib.

Pemandangan semacam ini sering kali luput dari perhatian. Orang mungkin hanya melihat majlis ketika acara telah dimulai. Padahal, di balik duduknya ribuan jamaah dengan tenang, terdapat banyak tangan yang bekerja dalam senyap.

Ada yang mengatur kamar mandi. Ada yang menyiapkan konsumsi. Ada yang membersihkan. Ada yang mendekorasi agar lokasi acara sedap dipandang mata. Ada yang menerima tamu. Ada yang berjaga hingga larut malam. Semuanya memiliki satu nama: khidmah. Dan dalam tradisi pesantren, khidmah bukan sekadar pekerjaan teknis. Ia adalah seni mencintai.

Khidmah juga hadir dalam bentuk jamuan. Jamaah Al Khidmah Kediri Raya menyiapkan nasi goreng talaman untuk seluruh jamaah yang hadir. Jamuan tersebut menjadi semakin istimewa dengan adanya sedekah seekor kerbau Tedoong Toraja untuk hidangan para jamaah Majlis Ahad Kedua.

Makanan akhirnya bukan hanya perkara memberikan amunisi raga. Ada tangan yang menyiapkannya. Ada hati yang ikhlas menyedekahkannya. Ada tenaga yang mengolah dan membagikannya. Begitulah majlis dibangun: bukan hanya dengan tenda dan panggung saja, tetapi dengan keikhlasan banyak orang mensukseskannya.

Membaca Maulid: Meneladani Sirah Orang Mulia

Tepat pukul 07.00 WIB, Majlis Ahad Kedua dimulai. Rangkaian acara diisi dengan tawasul, istighotsah, khotmil Quran, Maulid Ad-Diba’i, Maulid Fi Hubby, kemudian ditutup dengan doa dan ramah tamah.

Membaca maulid pada hakikatnya bukan hanya membaca rangkaian syair tentang Rasulullah ﷺ. Di dalamnya terdapat usaha untuk menghadirkan kembali kisah, akhlak, perjuangan, dan kemuliaan beliau ke dalam hati.

Maulid Ad-Diba’i, misalnya, merupakan karya Imam Wajihuddin Abdurrahman ad-Diba’i yang memuat kisah, pujian, serta gambaran kemuliaan Rasulullah ﷺ. Kitab ini dikenal luas di berbagai majlis keislaman dan pesantren di Nusantara. Di antara ungkapan yang masyhur dalam Maulid Ad-Diba’i adalah:

يَا رَبِّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، يَا رَبِّ صَلِّ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ

“Wahai Tuhanku, limpahkanlah shalawat kepada Nabi Muhammad, wahai Tuhanku, limpahkanlah shalawat dan salam kepadanya.”

Kalimat sederhana ini sebenarnya menyimpan pesan yang dalam.

Cinta kepada Rasulullah ﷺ tidak cukup hanya menjadi pengetahuan di kepala. Ia perlu dihidupkan melalui shalawat, pengenalan terhadap sirah beliau, dan usaha meneladani akhlaknya.

Al-Qur’an sendiri mengingatkan:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah suri teladan yang baik bagi kalian.”
(QS. Al-Ahzab: 21)

Karena itu, majlis maulid seharusnya tidak berhenti pada merdunya bacaan. Ada akhlak yang harus dibawa pulang. Ada kasih sayang yang harus dipraktikkan. Ada sunnah yang harus dihidupkan. Dan ada kerinduan kepada Rasulullah ﷺ yang semoga senantiasa berkembang.

Dengan demikian, ketika jamaah membaca kisah Rasulullah ﷺ, sejatinya mereka sedang diajak untuk bertanya kepada diri sendiri: Sudah sejauh mana bukti cinta kepada Rasulullah ﷺ berbuah akhlak pada kehidupan kita?

Rangkaian acara seremonial berakhir sekitar pukul 10.00 WIB. Sebelum dilanjutkan dengan mauidoh hasanah, pembawa acara menyampaikan sejumlah agenda Majlis Dzikir dan Maulidurrasul ﷺ  yang akan diselenggarakan oleh Jamaah Al Khidmah di berbagai daerah.

Di antaranya adalah:

  • Haul KH. Hasan Arif Waru, Sidoarjo pada Ahad malam, 23 Agustus 2026.
  • Haul Akbar Kabupaten Tulungagung, Ahad pagi, 30 Agustus 2026.
  • Haul Akbar Pati, Jawa Tengah, Ahad malam, 30 Agustus 2026.
  • Haul Akbar Trenggalek, Sabtu pagi, 5 September 2026.
  • Haul Akbar Kanjeng Sunan Giri, Sabtu malam Ahad, 5 September 2026.
  • Haul Akbar Kabupaten Pasuruan, Ahad pagi, 6 September 2026.
  • Haul di Pondok Pesantren Matholiul Anwar Karanggenang, Lamongan, Selasa pagi, 15 September 2026.
  • Haul Akbar Ngroto, Rabu malam dan Kamis pagi, 30 September–1 Oktober 2026.
  • Program Umrah dan Haul Akbar Makkah 2026 bersama Keluarga Ndalem, Jamaah Al Khidmah dan Ukhsafi Copler Community, selama 12 hari dengan keberangkatan 28 November 2026.
  • Haul Akbar Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah, Sabtu malam dan Ahad pagi, 2 Syakban 1448 H / 9–10 Januari 2027.

Rangkaian agenda tersebut memperlihatkan bahwa majlis bukanlah pertemuan yang berdiri sendiri. Satu majlis mengantarkan jamaah menuju majlis berikutnya. Satu pertemuan menyambungkan silaturahmi kepada pertemuan yang lain. Dan dari satu tempat, rasa cinta kepada Rasulullah ﷺ terus dibawa menuju tempat-tempat berikutnya.

Berbekal Cinta Seperti Julaibib

Setelah rangkaian dzikir dan maulid, jamaah mendapatkan mauidoh hasanah yang disampaikan Habib Abdul Qodir Mauladawilah dari Malang. Salah satu kisah yang disampaikan adalah kisah seorang sahabat Rasulullah ﷺ bernama Julaibib.

Julaibib bukan sahabat yang dikenal karena rupa, kekayaan, atau kedudukan. Ia justru merupakan sosok yang secara sosial tidak terlalu diperhitungkan oleh manusia. Namun Rasulullah ﷺ mengenalnya. Bahkan lebih dari itu, Rasulullah ﷺ mencintainya.

“Ada salah seorang sahabat Rasulullah SAW yang tidak dikenal dan tidak terpandang, tapi Rasulullah SAW mencintainya. Beliau adalah Julaibib. Seorang yang tidak baik rupa dan tidak putih. Setiap berkehendak melamar seorang gadis, pasti dia akan ditolak” beliau membuka kisah. Akhirnya sahabat Julaibib dibantu Rasulullah SAW untuk melamar gadis pujaannya dan diterima.

Dalam Shahih Muslim, kisah Julaibib disebutkan secara khusus dalam bab tentang keutamaannya. Ketika Rasulullah ﷺ bertanya tentang siapa yang tidak hadir, para sahabat menyebut beberapa nama. Rasulullah ﷺ kemudian mengatakan bahwa beliau kehilangan Julaibib. Setelah dicari, Julaibib ditemukan telah gugur setelah membunuh tujuh musuh. Rasulullah ﷺ kemudian datang dan berdiri di sisinya.

Kisah ini memperlihatkan satu hal yang sangat manusiawi: Tidak semua orang yang besar di mata manusia adalah besar di sisi Allah. Sebaliknya, tidak semua orang yang luput dari pandangan manusia luput pula dari perhatian Rasulullah ﷺ.

Di sinilah kisah Julaibib menjadi sangat dekat dengan kehidupan kita. Kita hidup di zaman ketika manusia mudah menilai seseorang dari tampilan. Dari pakaian. Dari pekerjaan. Dari jumlah pengikut. Dari kedudukan. Dari popularitas. Padahal, ukuran kemuliaan tidak selalu terlihat dari apa yang tampak. Rasulullah ﷺ justru mengajarkan kepada umatnya untuk melihat manusia dengan kasih sayang.

Ketika Guru Menjadi Jalan Mengenal Rasulullah SAW

Dalam mauidohnya, Habib Abdul Qodir Mauladawilah juga mengajak jamaah merenungkan hubungan seorang murid dengan gurunya. Sebagaimana Rasulullah ﷺ memberikan perhatian kepada Julaibib, demikian pula seorang guru memberikan perhatian kepada murid-muridnya.

Kadang seorang murid merasa dirinya tidak dikenal. Padahal, bisa jadi gurunya justru terus memikirkan dirinya. Kadang seorang murid merasa jauh. Padahal, bisa jadi sang guru telah menghabiskan banyak waktu untuk mendoakan dan membimbingnya.

Karena itu, hubungan murid dengan guru tidak berhenti hanya karena perpisahan tempat. Apalagi ketika seorang guru telah berpulang ke hadirat Allah. Hubungan itu tidak semestinya hilang.

Justru doa, tawasul, mengenang keteladanan, membaca ajaran, serta meneruskan perjuangan dan khidmah menjadi bagian dari cara seorang murid menjaga hubungan batinnya dengan guru.

Dalam suasana majlis yang penuh dengan dzikir dan shalawat, disampaikan pula doa:

يَا اللهُ يَا مُغْنِي جُدْ عَطَا لَاتُبْطِي

بِالْوَالِي وَالْمُرْشِدِي شَيْخِ أَحْمَدَ أَسْرَارِي

“Ya Allah, Dzat Yang Maha Memberi kecukupan, limpahkanlah pemberian-Mu, dengan perantara wali dan mursyidku, Syaikh Ahmad Asrori.”

Doa tersebut menjadi ungkapan kerinduan seorang murid kepada guru, sekaligus harapan agar hubungan batin dengan guru menjadi jalan untuk semakin mengenal Rasulullah ﷺ.

“Kita Krisis Figur”

Salah satu kegelisahan yang disampaikan dalam mauidoh adalah tentang krisis figur. Di tengah zaman yang begitu ramai dengan berbagai tokoh, manusia justru bisa kehilangan teladan.

Kita mengenal banyak nama. Tetapi belum tentu mengenal keteladanan. Kita melihat banyak orang berbicara. Tetapi belum tentu menemukan seseorang yang hidupnya dapat diteladani.

Karena itu, mengenang Hadratusy Syaikh KH. Ahmad Asrori Al-Ishaqy bukan semata-mata mengenang sosok seorang guru yang telah wafat. Lebih dari itu, ia adalah usaha untuk mengingat kembali nilai-nilai yang beliau tanamkan: dzikir, khidmah, akhlak, tawadhu, kecintaan kepada Rasulullah ﷺ, serta perhatian kepada umat.

Di hadapan makam Hadratusy Syaikh, lahirlah sebuah doa yang sangat sederhana namun dalam: Semoga majlis ini menjadi perahu besar untuk menuju Rasulullah ﷺ.

Perahu itu adalah majlis. Dayungnya adalah dzikir. Anginnya adalah cinta. Dan tujuannya adalah ridha Allah serta kebersamaan dengan Rasulullah ﷺ.

Dari Julaibib, jamaah diajak memahami bahwa cinta Rasulullah ﷺ tidak selalu diberikan kepada mereka yang terlihat besar di mata manusia.

Dan majlis mengajarkan bahwa cinta kepada Rasulullah ﷺ tidak boleh berhenti pada lantunan shalawat. Cinta harus melahirkan akhlak. Cinta harus melahirkan khidmah. Cinta harus melahirkan kerinduan untuk mengikuti sunnah.

Cinta juga harus membuat kita senang berkumpul dengan orang-orang saleh dan menghidupkan majlis-majlis yang mengingatkan hati kepada Allah dan Rasul-Nya. Sebagaimana doa yang dipanjatkan dalam majlis tersebut:

يَا اللهُ، اجْعَلْ هٰذَا الْمَجْلِسَ سَفِينَةً عَظِيمَةً لِلْوُصُولِ إِلَى رَسُولِ اللهِ ﷺ

“Ya Allah, jadikanlah majlis ini sebagai perahu besar untuk menuju Rasulullah ﷺ.”

Semoga Majlis Ahad Kedua tidak hanya meninggalkan kenangan tentang sebuah Ahad pagi. Semoga ia meninggalkan sesuatu yang lebih dalam: hati yang semakin mencintai Rasulullah ﷺ, semakin menghormati guru, semakin ringan dalam khidmah, dan semakin rindu untuk berkumpul bersama orang-orang saleh.

Karena boleh jadi, dunia tidak selalu mencatat nama kita. Tetapi sebagaimana Julaibib, semoga Allah mencatat kita sebagai hamba yang mencintai Rasulullah ﷺ. Dan semoga cinta itu menjadi sebab kita dikumpulkan bersama beliau di akhirat kelak.

اللَّهُمَّ اجْمَعْنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ ﷺ فِي الْجَنَّةِ

Ya Allah, kumpulkanlah kami bersama Rasulullah ﷺ di dalam surga.

Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya Peringati Milad Ke-40 bersamaan dengan HUT Ke-81 Republik Indonesia

Ada nuansa berbeda pada peringatan HUT Ke-81 RI di Al Fithrah Surabaya kali ini. Pada hari yang sama, Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah juga melaksanakan seremonial perayaan Milad Ke-40 tahunnya.

Para santri dari semua jenjang di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya turut hadir dalam pelaksanaan upacara bendera di lapangan Al Fithrah. Tampak hadir juga para Tenaga Pendidik dan Kependidikan mulai dari RA Al Fithrah, MI Al Fithrah, PDF Wustha Al Fithrah, PDF Ulya Al Fithrah, Ma’had Aly dan MDTJ Al Fithrah.

Mereka terlihat antusias memperingati Hari Kemerdekaan Ke-81 Republik Indonesia. Tim Paskibraka Al Fithrah dengan tenang menyuguhkan formasi indah 81 TH ketika prosesi pengibaran bendera. Mereka telah berlatih siang malam dalam sebulan terakhir ini untuk kesuksesan pengibaran sangsaka merah putih di Peringatan HUT Ke-81 RI di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya.

Menjadi Santri yang Merdeka

“Hari kemerdekaan bukan sekedar momentum untuk mengenang masa lalu. Kemerdekaan adalah suatu amanah. Para pahlawan telah memberikan tenaga, pikiran, harta, bahkan jiwa mereka untuk kemerdekaan. Maka tugas kita hari ini bukan lagi merebut kemerdekaan dengan senjata, tetapi mengisi kemerdekaan dengan ilmu, dengan akhlak, dengan kerja keras, persatuan dan pengabdian” Kata Ust. Nashirudin, M.Pd dalam pidatonya sebagai Inspektur Upacara 17 Agustus 2026 di lapangan Al Fithrah.

“Seorang santri tidak akan menjadi manusia yang merdeka, apabila dirinya masih dikuasai oleh kemalasan, dikuasai oleh hawa nafsu, dikuasai oleh keinginan yang tidak terkendali. Karena itu, kemerdekaan seorang santri ialah ketika ia mampu menjadikan dirinya dan mengarahkannya taat kepada Allah SWT, disiplin dalam sholat, bersungguh-sungguh dalam belajar, taat kepada guru, mentaati aturan, menjaga kebersihan dan bertanggung jawab terhadap amanah. Semua itu adalah latihan menjadi santri yang merdeka dan bertanggung jawab” imbuhnya.

Upacara selesai tepat pada pukul 08.00 WIB dan acara dilanjutkan dengan sowan kepada Hadratusy Syaikh KH. Ahmad Asrori Al-Ishaqy. Bagi kami, momentum HUT RI adalah juga harinya Hadratusy Syaikh KH. Ahmad Asrori Al-Ishaqy. Beliau -dalam riwayat yang masyhur-, lahir pada 17 Agustus 1950 M dan wafat pada hari Selasa, 18 Agustus 2009 M. Sehingga, momentum Hari Kemerdekaan adalah juga mement haulnya guru kami.

Memperingati Milad Ke-40 Al Fithrah

Setelah sowan Hadratusy Syaikh, acara dilanjutkan dengan seremonial peringatan Milad Ke-40 Al Fithrah yang berpusat di Masjid Al Fithrah. Acara dimulai dengan Tawasul Al Fatihah dan Pembacaan Maulid Ad-Diba’i, serta dilanjutkan dengan sambutan dan Mau’idotul hasanah.

Sambutan mewakili Pengurus Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya disampaikan oleh Ust. Ilyas Rohman, S.Ud. Beliau menyampaikan bahwa 40 tahun bukanlah waktu yang singkat. 40 tahun adalah perjalanan panjang yang penuh dengan perjuangan, pengorbanan, doa, kesabaran dan keikhlasan dari pendiri, khususnya Hadratusy Syaikh Romo KH. Ahmad Asrori Al-Ishaqy.

“Oleh sebab itu, Peringatan Milad Ke-40 ini hendaknya tidak hanya kita maknai sebuah perayaan bertambahnya usia, namun lebih dari itu, Milad Ke-40 ini adalah sebuah moment untuk bermuhasabah, introspeksi diri, memperkuat rasa syukur, dan meneguhkan kembali komitmen kita meneruskan perjuangan Hadratusy Syaikh KH. Ahmad Asrori Al-Ishaqy” tutur Ust. Ilyas.

“Pada moment Milad Ke-40 ini ada hal yang bisa kita tanyakan pada diri kita masing-masing; ‘Apa dan sudah sejauh mana kita memberikan manfaat kepada lembaga ini.  Bukan hanya apa yang telah kita terima dari pondok, tetapi juga apa yang telah kita berikan untuk keberlangsungan dan kemajuan pondok’” tambah beliau

Dengan menghadapi perkembangan zaman ini, Al Fithrah harus mampu menyesuaikan dan menyelesaikan tantangan zaman, tapi juga harus tetap dalam tradisi luhur para masyakhih. Sesuai prinsip al-Muhafazhah ‘alal Qadimish Shalih wal Akhdu bil Jadidil Ashlah.

“Dalam moment Milad ke-40 pada siang ini, Jadilah santri yang bukan hanya cerdas secara intelektual, tapi juga kuat, berkarakter dalam berakhlakul karimah dan adab. Hormati para guru, para masyayikh, para ketua kamar, para pengurus yang lebih tua. Serta bagi yang lebih tua, hendaknya mengayomi menyayangi adek-adeknya yang lebih muda. Muliakan orang tua kalian. Senantiasa menanamkan nilai-nilai Al Fithrah dalam hati kalian dan manfaatkan waktu selama berada di pondok untuk menuntut ilmu dan membentuk kepribadian. Ingat, kalian semua membawa amanah dari rumah masing-masing” pesan beliau

Mengembalikan Semangat Khidmah

Mauidhotul hasanah dalam peringatan Milad Ke-40 Al Fithrah disampaikan oleh Ust. H. Wahdi Alawy, S.Ud. Mengawali mauidohnya, Ustad Wahdi mendoakan agar para guru, para ustad dan ustadzah diberikan kesabaran, ketabahan dan kekuatan lahir batih untuk menjaga pendidikan di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya.

Tak lupa, beliau mendoakan para santri agar menjadi orang-orang yang diorangkan oleh orang lain. Menjadi orang mulia dan dimuliakan oleh orang lain. Salah satu kuncinya adalah dengan berkhidmah kepada orang yang mulia.

الخَادِمُ يَشْرَفُ بِشَرَفِ الْمَخْدُوْمِ

“Pembantu itu akan menjadi mulia, sebab kemuliaan orang yang dilayani” jelas Ust. Wahdi menyampaikan penjelasan yang disampaikan ulama-ulama shufiyah.

Khidmah di pesantren di antaranya adalah dengan melaksanakan sholat berjamaah dan belajar dengan sungguh-sungguh.

Beliau juga menyampaikan bahwa usia 40 tahun adalah waktu yang tepat untuk menjadi lebih baik lagi. Disebutkan dalam sebuah ayat Al-Qur’an :

وَلَمَّا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَاسْتَوَىٰ آتَيْنَاهُ حُكْمًا وَعِلْمًا ۚ وَكَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ

“Dan ketika dia (Musa) telah dewasa dan sempurna akalnya, Kami berikan kepadanya hikmah dan ilmu. Dan demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Qashash [28]: 14)

Sebelum mengakhiri mauidohnya, Ust. Wahdi menghadiahkan sebuah syair untuk Milad Ke-40 Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah. Beliau menamainya Sab’ul Wasaith li nail matholib Tujuh syair untuk mendapatkan apa yang dicari. Tapi kemudian disempurnakan dengan menambahkan dua syair. Berikut bait syairnya:

يَا مَوْلَانَا اسْتَجِبْ دُعَانَا # بِشَفَاعَةِ الْهَادِي مُحَمَّدٍ نَبِيِّنَا

يَا مَوْلَانَا اسْتَجِبْ دُعَانَا # بِبَرَكَةِ السُّلْطَانِ الْجِيلَانِي

يَا مَوْلَانَا اسْتَجِبْ دُعَانَا # بِشَيْخِنَا عُثْمَانَ قُدْوَتِنَا

يَا مَوْلَانَا اسْتَجِبْ دُعَانَا # بِأَحْمَدَ أَسْرَارِي مُرْشِدِنَا

يَا مَوْلَانَا اسْتَجِبْ دُعَانَا # بِحُضُورِ الْمَجْمَعِ وَخِدْمَتِنَا

يَا مَوْلَانَا اسْتَجِبْ دُعَانَا# بِالْقُرْبِ فِيهِ وَشَهِدْنَا

يَا مَوْلَانَا اسْتَجِبْ دُعَانَا # مَا أَذْرَفَتِ الْعُيُونُ دُمُوعَنَا

يَا مَوْلَانَا اسْتَجِبْ دُعَانَا # بِصَلَاةٍ مِنْكَ طَهَ الْأَمِينَ

يَا مَوْلَايَ اسْتَجِبْ دُعَانَا # بِالْآلِ وَالْأَصْحَابِ وَالتَّابِعِينَ

Wahai Tuhan kami, kabulkanlah doa kami, dengan syafaat Al-Hadi, Nabi kami Muhammad ﷺ.

Wahai Tuhan kami, kabulkanlah doa kami, dengan keberkahan Sultan Auliya Al-Jilani.

Wahai Tuhan kami, kabulkanlah doa kami, dengan (berkah) guru kami, Syaikh Utsman, teladan kami.

Wahai Tuhan kami, kabulkanlah doa kami, dengan (keberkahan) SyaikhAhmad Asrori, pembimbing kami.

Wahai Tuhan kami, kabulkanlah doa kami, dengan kehadiran dalam majelis dan pengabdian kami.

Wahai Tuhan kami, kabulkanlah doa kami, dengan kedekatan di dalamnya dan kesaksian kami.

Wahai Tuhan kami, kabulkanlah doa kami, ketika mata kami meneteskan air mata.

Wahai Tuhan kami, kabulkanlah doa kami, dengan shalawat dari-Mu kepada Thaha Al-Amin ﷺ.

Wahai Tuhanku, kabulkanlah doa kami, dengan keberkahan keluarga, para sahabat, dan para tabi’in.

Selamat memperingati HUT Ke-81 Republik Indonesia, serta Selamat Sukses Milad Ke-40 Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya. Semoga senantiasa guyub rukun dan istiqomah dalam perjuangan. Aamiiin

Mikiri Kanjeng Nabi

Di dalam Kitab Qowaidul Asasiyah (Kaidah Dasar) fi Ilmu Hadits, Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki mengutip salah satu hadits tentang motivasi mempelajari ilmu hadits. Di sana, beliau mengutip sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Tirmidzi, Ibnu Hiban dan Baihaqi

إنَّ أولى النَّاسِ بي يَومَ القيامةِ أَكْثرُهُم عليَّ صلاةً

“Sungguh manusia yang paling utama kepadaku pada hari kiamat adalah yang paling banyak sholawatnya”

Hadits ini mengabarkan bahwa orang yang paling istimewa di sisi Rasulullah SAW, si paling dekat dengan beliau dan si paling berhak atas syafaat Rasulullah SAW, adalah orang yang paling banyak bersholawat kepadanya.

Memperbanyak Sholawat Kepada Kanjeng Nabi

Banyak bersholawat yang dimaksud di sini adalah banyak berdzikir mengingatnya. Batas banyaknya adalah memperbanyak bacaan sholawat dari pada mengingat hal lainnya selama sehari semalamnya. Dan menurut Sayyid Muhammad Al-Maliki, membaca hadits dan mempelajari ilmu hadits adalah bagian dari pada memperbanyak mengingat Rasulullah SAW.

Bersholawat, sebagaimana dalam QS. Al-Ahzab ayat 56, adalah bagian ibadah yang Allah SWT perintahkan dan Allah SWT juga melakukannya. Dan sekali lagi, memperbanyak sholawat adalah bukti cinta dan termasuk kesempurnaan hubungan dengan Rasulullah SAW. Kedudukan seseorang di akhirat adalah berdasar tingkatannya dalam bersholawat.

Bersholawat yang dimaksud di sini adalah berdzikir mengingat Rasulullah SAW. Yang perlu digaris bawahi adalah bersholawat yang ada ingat Rasulullah SAW di dalamnya. Bukan hanya membaca sholawat di lisan saja.

Mengingat-ingat bahwa Rasulullah SAW adalah sosok yang daimul hazn, senanti dalam kesedihan. Bahwa Rasulullah SAW adalah sosok yang hidupnya dipenuhi keprihatinan, bahkan sejak masa kecilnya. Rasulullah SAW adalah si paling berpengalaman tentang kesedihan.

Kita tidak pernah tahu apa yang terjadi di balik Rasulullah SAW mengganjal perutnya dengan batu untuk menghilangkan rasa laparnya. Yang sama-sama kita tahu, Rasulullah SAW adalah pribadi yang welas. Bisa jadi beliau lupa atau tidak tega menanyakan jatah makan beliau kepada istrinya. Akhirnya, beliau menghabiskan hari-harinya tanpa ada makanan masuk ke dalam perutnya.

Beliau Rasulullah SAW adalah orang yang tidak tegaan. Hati beliau rapuh untuk berbuat keras terhadap orang lain. Beliau orang yang lembut dan mudah tersentuh dengan keadaan sekitar. Meski itu kepada orang yang membenci dan memusuhinya.

Kasih Sayang Kanjeng Nabi

Dalam kamus hidupnya, Rasulullah SAW tidak sekalipun melakukan sesuatu, kecuali dilandasi rahmah di dalamnya. Sama sekali tidak ada tujuan memenuhi kebutuhan dan kepentingan dirinya sendiri. Beliau tidak bisa marah kepada orang. Ucapannya lembut dan penuh kasih sayang.

Dalam sebuah riwayat dikatakan Rasulullah SAW pulang sudah terlarut malam. Beliau tidak berani mengetuk pintu karena takut mengganggu istrinya yang sudah tidur. Sementara itu di dalam rumah, Sayyidah Aisyah sedang menunggu kedatangan suaminya. Beliau Sayyidah Aisyah menunggu di depan pintu, bersiap kapan saja pintu diketuk oleh Rasulullah SAW, hingga membuatnya terkantuk dan tidur di depan pintu dalam rumah. Di lain sisi, Rasulullah SAW juga menunggu di depan pintu dan akhirnya memutuskan untuk tidur di sana.

Catat, Rasulullah SAW tidak mampu mengganggu istrinya. Beliau adalah contoh sebaik-baiknya pribadi pemimpin kepala keluarga. Tidak heran jika kemudian Rasulullah SAW -sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat Tirmidzi- mengaku:

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِى

“Sebaik-baik kalian adalah (suami) yang paling baik terhadap keluarganya dan aku adalah yang paling baik terhadap keluargaku.”

Beliau bukan hanya jago memimpin agama dan negara, melainkan juga memimpin keluarganya. Beliau sibuk dengan urusan di luar rumah, tapi tidak meninggalkan kewajiban sebagai suami bagi istri dan ayah yang baik bagi putra-putrinya.

Beliau senantiasa mesra, komunikatif dan humoris dalam berkomunikasi. Beliau orang yang tidak pernah mengecewakan orang yang diajak dan mengajaknya bicara. Beliau akan menampakkan wajah tersenyum dan menghadapkan badan sepenuhnya kepada lawan bicaranya.

Selain dalam bersosial kepada manusia lainnya, Rasulullah SAW adalah pimpinan agama. Beliau penyampai risalah Islam ke alam semesta. Bukan rahasia bahwa Rasulullah SAW adalah orang yang banyak menghabiskan waktunya untuk beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Ibadahnya Kanjeng Nabi

Beliau adalah sebaik-baiknya contoh dan tauladan dalam ibadah, meski telah dijamin surga. Tak lain adalah sebagai pelajaran untuk umatnya. Dalam petikan Maulid Fii Hubby disebutkan:

أَحْيَا الدُّجَى زَمَنًا مُحَمَّدُ   حَتَّى اشْتَكَتْ قَدَمٌ مُوَرَّمٌ

Beliau Rasulullah SAW senantiasa menghidupkan malamnya sepanjang masa, sehingga kedua kakinya menjadi bengkak

Membayangkan dan memikirkan Rasulullah SAW adalah membayangkan sosok sempurnah dengan indah perangainya. Beliau istimewa tanpa cela. Kitab Syamail Muhammadiyah karya Imam Tirmidzi menjelaskan sosoknya. Imam Ad-Diba’y menyebutkan indah sejarahnya. Demikian pula Simtud Durar, Ad-Diya’ul Lami’ dan banyak kitab maulid tentang Rasulullah SAW lainnya.

فَإنَّ فَضْلَ رَسُولِ اللَّهِ لَيْسَ لَهُ ۞ حَدٌّ فَيُعْرِبُ عَنْهُ نَاطِقٌ بِفَمِ

“Sesungguhnya keutamaan Rasulullah itu tiada batasnya, sehingga lisan kesulitan menguraikannya”.

Bagaimana bisa kita mampu paham dan memahami tentang Rasulullah SAW, sementara kita tidak mampu mengenalnya, atau minimal dengan membayangkannya berdasarkan kisah sirah dan maulid-maulid tentang Rasulullah SAW. “Bagaimana mau bermimpi –apalagi berjumpa- Kanjeng Nabi, jika tidak pernah mikiri Kanjeng Nabi” demikian dawuh Hadratusy Syaikh Romo KH. Ahmad Asrori Al-Ishaqi.