Year: 2026

Hari Santri 2026 di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah: Pesan Memanfaatkan Waktu Luang

Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya berkomitmen mewujudkan generasi yang sholih dan sholihah, pandai bersyukur, ta’at kepada Allah SWT., ta’at kepada Rasulullah SAW., berbakti kepada kedua orang tua, Agama, Nusa dan Bangsa. Hal ini tertulis dan menjadi pedoman dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah.

Di antara bentuk ikhtiar baik ini adalah mengenalkan santri kepada sejarah. Di antara bentuk sejarah santri adalah memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dan mempertahankannya. Secara berurutan tanggal penting dalam perjalanan Bangsa Indonesia di antaranya adalah 17 Agustus 1945, 22 Otober 1945, 10 November 1945.

Tanggal 22 Otober 1945 menjadi patut dikenang sebab menjadi titik awal perjuangan Bangsa Indonesia dalam mempertahankan Indonesia, tepatnya persiapan menuju pertempuan 10 November di Surabaya.

Pada tanggal 22 Oktober 1945 ini KH. Hasyim Asy’ari mengeluarkan perintah Resolusi Jihad yang mewajibkan para santri untuk ikut dalam andil mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Hari ini diperingati sebagai Hari Santri Nasional.

Hari Santri di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah

Peringatan Hari Santri 2026 dikemas dengan acara yang berbeda. Jika biasanya peringatan hari santri diisi dengan apel atau upacara, dua tahun terakhir ini Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya mengisinya dengan Majlis Dzikir dan Maulidurrasul SAW, serta refleksi mengingat sejarah hari santri.

Acara yang diikuti semua santri dan guru dari mulai RA Al Fithrah, MI Al Fithrah, PDF Wustha Al Fithrah, PDF Ulya Al Fithrah, Ma’had Aly dan MDTJ Al Fithrah ini dimulai pada pukul 07.00 WIB dengan diisi Tawasul, Isttighotsah dan Maulid fi Hubby. Dalam hal ini dipimpin secara bergilir oleh Ust. H. Hadlori, S.Ud, Ust. H. Sholeh, S.Ud, Ust. H. Lukman Bahrowi, S.Ud, Ust. Ahmad Syathori, M.Fil.I dan Ust. Kholil Su’udi, S.Ud. Acara dilanjutkan dengan sambutan setelah Doa Maulid fi Hubby selesai dibacakan.

“Mudah-mudahan perkumpulan kita pada hari ini menjadi perkumpulan yang penuh dengan keberkahan. Menjadikan kita sebagai santri yang tidak pernah lepas identitasnya, hatta ilaa yaumil qiyamah” buka Ust. Ilyas Rahman, S.Ud dalam sambutannya mewakili Kepala Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya.

“Hari Santri ini Mari kita jadikan sebagai momen untuk meningkatkan kedisiplinan kita sebagai santri.  Kedisiplinan kita sebagai pendidik dan tenaga kependidikan. Kedisiplinan kita dalam menjalankan amaliah-amaliah Hadratusy Syaikh Romo KH. Ahmad Asrori Al Ishaqy” pesan beliau.

Pesan Untuk Terus Mengaji

Kewajiban untuk belajar adalah terus tertanam selagi nyawa masih dikandung badan. Menggunakan seluruh waktu untuk memupuk ilmu bukanlah hal tabu. Menyemai ilmu di usia senja juga tidak perlu malu. Sebab, ilmu dibutuhkan kapanpun, di mana pun dan dalam kondisi apapun.

Senantiasa menambah ilmu dan pengetahuan sangat kuat kewajibannya bagi santri. Di usianya yang masih muda, Santri diharap menjadi agent of change menuju Indonesia Emas di tahun 2045.

“Pada moment hari santri pada hari ini, Saya berpesan kepada panjenengan semua, khususnya kepada diri sendiri. Teruslah belajar. Teruslah mengaji. Teruslah mengisi waktu-waktu kosong dengan berdiskusi, dengan mengevaluasi, musyawarah, sebagaimana yang tertunag dalam Al-Mahfudlot, pesan dan tips yang diberikan oleh Hadratusy Syaikh Romo KH. Ahmad Asrori Al-Ishaqy” pesan Ust. Ilyas Rahman, S.Ud.

“Mudah-mudahan panjenengan semua semakin meningkat menjadi pribadi yang penuh dengan kasih sayang, berakhlakul karimah, istikomah, tumakninah, baik dalam berkhidmah dan mencari barokah kepada para guru, khususnya Hadratusy Syaikh Romo KH. Ahmad Asrori Al Ishaqy” tutup beliau.

Refleksi Hari Santri 2026

Refleksi dalam agenda Hari Santri Nasional 2026 yang diselenggarakan di Masjid Al Fithrah Surabaya ini disampaikan oleh Ust. H. Khoiruddin, S.Ud. Beliau menyampaikan ada banyak hal yang perlu kita syukuri, di antaranya adalah menjadi santri.

“Tentu pada pagi hari ini, kita bersyukur kepada Allah subhanahu wa ta’ala yang telah melimpahkan rahmat hidayah-Nya kepada kita semua, dhahiran wa bathinan, sehingga hari ini kita bisa bersama-sama mensyukuri suatu nikmat Allah SWT, yang berupa peringatan Hari Santri pada pagi hari ini”

Semoga kaberkahan majlis ini Allah menambahkan kesemangatan kita dalam menuntut ilmu di masa yang akan datang. Menjadi santri adalah di antara nikmat besar, sebab kita dikehendaki baik oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

“Barang siapa yang dikehendaki oleh Allah SWT baik, maka Allah SWT akan memahamkannya dalam urusan agama” (HR Imam Bukhari (no. 71) dan HR Imam Muslim (no. 1037))

Tentu hal ini tidak akan berhasil, kalau kita tidak didasari dengan ilmu. Berdasar yang disampaikan Imam Syafi’i:

مَنْ أَرَادَ الدُّنْيَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ، وَمَنْ أَرَادَ الآخِرَةَ فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ، وَمَنْ أَرَادَهُمَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ

“Barang siapa menginginkan dunia, hendaklah ia berbekal ilmu. Barang siapa menginginkan akhirat, hendaklah ia berbekal ilmu. Dan barang siapa menginginkan keduanya, hendaklah ia berbekal ilmu.”

Untuk mencapai tujuan ilmi ini, Hadratusy Syaikh Romo KH. Ahmad Asrori Al-Ishaqy dalam Al-Malhudlot-nya mengatakan:

وَعَلَيْكَ بِالْمُوَاظَبَةِ وَالْمُدَاوَمَةِ فِي أَوْقَاتِ فَرَاغِكَ لِلْمُطَالَعَةِ وَالْمُرَاجَعَةِ وَالْمُذَاكَرَةِ وَالْمُشَاوَرَةِ عَلَى نَهْجِ التَّدْقِيقِ وَالتَّحْقِيقِ، مُسْتَعِينًا وَمُسْتَمِدًّا مِنَ اللهِ سُبْحَانَهُ.

“Dan hendaklah engkau senantiasa tekun dan istiqamah pada waktu-waktu luangmu untuk menelaah, mengulang pelajaran, berdiskusi, dan bermusyawarah dengan menempuh metode yang cermat dan mendalam dalam meneliti serta memastikan kebenaran, seraya memohon pertolongan dan mengharap limpahan pertolongan dari Allah Swt.”

Kita tidak cukup mengandalkan ilmu. Maka Hadratusy Syaikh Romo KH Ahmad Asrori Al Ishaqy memberikan uswah, suritauladan, yakni Imtitsalul awamiri wa ijtinabun nawahi, melaksanakan perintah-perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-larangan-Nya.

“Kami memohon kepada para ustadz dan ustadzah untuk membersamai adek-adek santri kegiatan wadzifah yaumiyah wal lailiyah. Sehingga menjadi sebab sa’idud dunya wa sa’idul akhiroh (kebahagiaan dunia dan kebahagiaan akhirat)” tutup beliau.

Acara selesai pukul 09.00 WIB dengan ditutup Doa Fatihah oleh Ust. H. Ridwan, S,Ud. Para asatidz dan asatidzah melanjutkan beramah tamah di Pendopo Al Fithrah, sementara para santri bisa membeli aneka makanan ringan hingga buku-buku bacaan menarik di stand-stand bazar yang diadakan oleh pengurus pondok.

Mengakhiri tulisan ini, Kami Santri Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya menyampaikan selamat hari santri 2026 dan Selamat Milad Nyai Seira En Nadia El Ishaqy, semoga panjang umur dan senantiasa dapat membimbing kami, serta semoga peringatan hari santri ini menjadi motivasi untuk menjadi santri yang lebih baik lagi.

Langkah Nyata Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya Wujudkan Asrama Santri Sehat dan Bebas TBC

Menjaga kesehatan merupakan bagian penting dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Tubuh yang sehat membantu seseorang belajar dengan lebih nyaman, beribadah dengan tenang, serta menjalankan berbagai aktivitas tanpa hambatan. Bagi lingkungan pesantren yang dihuni banyak santri dalam satu kawasan, menjaga kesehatan menjadi tanggung jawab bersama.

Hal inilah yang terus diupayakan oleh Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya. Tidak hanya memberikan pendidikan agama dan ilmu pengetahuan, pesantren juga berupaya menciptakan lingkungan tempat tinggal yang sehat dan nyaman bagi para santri.

Salah satu langkah nyata tersebut dilakukan pada Selasa, 6 Oktober 2026, melalui kegiatan skrining dan pemeriksaan rontgen dada atau foto thorax bagi santri dan pengurus pesantren. Kegiatan ini bekerja sama dengan Dinas Kesehatan melalui Puskesmas Tanah Kali Kedinding Surabaya sebagai bagian dari upaya pemantauan kesehatan saluran pernapasan, khususnya terhadap Tuberkulosis atau TBC.

Skrining TBC, Upaya Deteksi dan Pencegahan Sejak Dini

Kegiatan pemeriksaan berlangsung mulai pukul 07.30 WIB di Auditorium Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah. Sekitar 100 santri dan pengurus mengikuti rangkaian pemeriksaan secara tertib sesuai arahan panitia dan petugas kesehatan.

Untuk mendukung kegiatan tersebut, pemeriksaan dilengkapi dengan bus rontgen mobile dan alat portable X-Ray. Para peserta mengikuti beberapa tahapan, mulai dari registrasi, skrining, pemeriksaan rontgen, pembacaan hasil, hingga menerima konsumsi.

Bagi lingkungan pesantren, kegiatan semacam ini menjadi langkah penting karena kehidupan santri berlangsung secara bersama-sama. Kamar, ruang belajar, tempat ibadah, dan berbagai fasilitas lainnya digunakan secara bersama sehingga perhatian terhadap kesehatan perlu dilakukan secara menyeluruh.

Pemeriksaan kesehatan bukan berarti seseorang sedang dinyatakan sakit. Justru, skrining menjadi salah satu cara untuk mengetahui kondisi kesehatan lebih awal sehingga langkah berikutnya dapat dilakukan sesuai hasil pemeriksaan dan arahan tenaga kesehatan.

Dengan deteksi yang lebih dini, potensi masalah kesehatan dapat diketahui dan ditindaklanjuti secara tepat.

Edukasi TBC dan Pentingnya Udara Bersih di Asrama

Di sela-sela pemeriksaan, dokter dan petugas kesehatan juga memberikan edukasi kepada para santri mengenai Tuberkulosis (TBC) dan kesehatan paru-paru.

Para santri mendapatkan pemahaman mengenai gejala TBC, cara penularan, serta pentingnya menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat. Edukasi juga menekankan pentingnya menjaga sirkulasi udara, terutama di dalam kamar asrama.

Hal sederhana seperti membuka jendela dan memastikan udara dapat berganti secara rutin merupakan bagian dari upaya menciptakan lingkungan yang lebih sehat. Kebersihan kamar dan lingkungan sekitar juga perlu dijaga bersama.

Pesan ini sejalan dengan ajaran Islam yang sangat memperhatikan kebersihan dan kesehatan. Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ اللهَ طَيِّبٌ يُحِبُّ الطَّيِّبَ، نَظِيفٌ يُحِبُّ النَّظَافَةَ

“Sesungguhnya Allah itu baik dan menyukai kebaikan, bersih dan menyukai kebersihan.”

Menjaga kebersihan lingkungan pesantren karena itu bukan hanya persoalan kenyamanan, tetapi juga bagian dari membangun kebiasaan baik dalam kehidupan santri.

Kesehatan Santri, Bekal Belajar dan Beribadah

Pihak Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah menyambut positif kegiatan skrining dan pemeriksaan tersebut. Kesehatan santri menjadi salah satu perhatian penting karena kondisi tubuh yang baik turut menunjang kelancaran proses pendidikan.

Santri membutuhkan tubuh yang sehat untuk mengikuti pelajaran, menghafal, berdiskusi, mengikuti kegiatan pesantren, melaksanakan ibadah, dan berinteraksi dengan teman-temannya.

Karena itu, menciptakan pesantren yang sehat bukan hanya tugas pengurus atau petugas kesehatan. Santri juga memiliki peran penting di dalamnya.

Mulai dari menjaga kebersihan kamar, tidak berbagi barang pribadi secara sembarangan, menjaga etika batuk dan bersin, memperhatikan sirkulasi udara, hingga segera melapor kepada pengurus atau petugas kesehatan ketika mengalami keluhan kesehatan merupakan kebiasaan sederhana yang memiliki manfaat besar.

Upaya Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah melalui skrining TBC ini menjadi bagian dari ikhtiar bersama untuk membangun lingkungan pendidikan yang sehat.

Sebab pesantren bukan hanya tempat menuntut ilmu. Pesantren juga merupakan tempat membentuk kebiasaan hidup, akhlak, kedisiplinan, dan kepedulian terhadap sesama.

Semoga langkah sederhana ini menjadi ikhtiar berkelanjutan untuk mewujudkan asrama santri yang sehat, nyaman, bersih, dan bebas dari penularan TBC, sehingga para santri dapat belajar dan beribadah dengan lebih tenang.

Karena menjaga kesehatan bukan sekadar menjaga diri sendiri. Ketika kita menjaga kesehatan, kita juga sedang menjaga orang-orang yang hidup dan belajar bersama kita.

MA Al Asror Semarang Selenggarakan “SUNAH” ke Al Fithrah Surabaya

Silaturahmi tidak hanya mempererat hubungan antarmanusia, tetapi juga menjadi jalan untuk saling belajar, berbagi pengalaman, dan mengambil hikmah. Semangat inilah yang dibawa rombongan Madrasah Aliyah (MA) Al Asror Semarang ketika berkunjung ke Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya, Senin, 5 Oktober 2026.

Sebanyak 120 peserta mengikuti kegiatan yang dikemas dalam program SUNAH (Sowan Ulama Ngalab Barokah). Kegiatan ini menjadi momentum bagi para peserta untuk mengenal lebih dekat kehidupan pesantren sekaligus menyambung silaturahmi dengan keluarga besar Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah.

Dalam tradisi Islam, silaturahmi memiliki kedudukan yang istimewa. Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

“Barang siapa ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia menyambung silaturahmi.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Karena itu, kunjungan semacam ini tidak berhenti sebagai perjalanan fisik. Ia dapat menjadi rihlah ilmiah, yakni perjalanan untuk mencari pengalaman, pengetahuan, dan inspirasi yang dapat dibawa pulang.

Mengenal Al Fithrah dan Kehidupan Pesantren

Rombongan MA Al Asror Semarang dipimpin oleh Hj. Bayu Sulistyawati, S.Pd. selaku Ketua Panitia. Kedatangan rombongan diterima dan didampingi oleh Ust. Ilyas Rahman, S.Ud., Wakil Ketua Pondok, serta Ust. Dr. Fathur Rozi, M.H.I., Kabag. Pendidikan Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya.

Rute kunjungan meliputi Pendopo Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah dan dilanjutkan dengan ziarah ke makam Hadratusy Syaikh KH. Ahmad Asrori Al-Ishaqy.

Di Pendopo, Ust. Dr. Fathur Rozi, M.H.I. menyampaikan profil Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah. Penjelasan tidak hanya berkaitan dengan sejarah dan lembaga pendidikan, tetapi juga mengenalkan budaya serta lingkungan kehidupan pesantren.

Para peserta mendapatkan gambaran mengenai berbagai jenjang pendidikan yang ada di Al Fithrah, mulai dari Raudhatul Athfal (RA), Madrasah Ibtidaiyah (MI), Wustha, Ulya, Ma’had Aly, hingga Institut Al Fithrah.

Bagi peserta didik, mengenal lembaga pendidikan lain menjadi pengalaman yang berharga. Mereka dapat melihat secara langsung bagaimana sebuah pesantren mengembangkan pendidikan sekaligus membangun budaya kehidupan yang berorientasi pada ilmu, adab, ibadah, dan khidmah.

Belajar Kebersihan sebagai Bagian dari Pendidikan

Hal menarik lainnya dalam kunjungan tersebut adalah pembahasan mengenai pengelolaan kebersihan lingkungan pesantren.

Ust. Ilyas Rahman, S.Ud. menjelaskan bagaimana kebersihan dikelola di lingkungan Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah, baik di area pondok putra maupun pondok putri.

Penjelasan mencakup struktur pengelolaan, mekanisme pelaksanaan, serta berbagai upaya yang dilakukan agar kebersihan lingkungan pondok dapat terjaga.

Kebersihan dalam lingkungan pesantren bukan sekadar persoalan teknis. Ia juga berkaitan dengan pendidikan karakter.

Islam sangat memperhatikan kebersihan. Rasulullah ﷺ bersabda:

الطُّهُورُ شَطْرُ الْإِيمَانِ

“Bersuci itu adalah sebagian dari iman.”
(HR. Muslim)

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa menjaga kebersihan lingkungan merupakan bagian dari tanggung jawab bersama. Santri tidak hanya belajar dari buku dan kelas, tetapi juga dari kebiasaan sehari-hari.

Membuang sampah pada tempatnya, menjaga kamar tetap rapi, membersihkan lingkungan, serta merawat fasilitas bersama adalah bentuk sederhana dari pendidikan adab.

SUNAH: Rihlah, Silaturahmi, dan Ngalab Barokah

Dalam kesempatan tersebut, Kepala MA Al Asror Semarang menyampaikan terima kasih kepada keluarga besar Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah atas penerimaan dan penyambutan terhadap rombongan.

Beliau juga menyampaikan permohonan maaf apabila selama pelaksanaan kunjungan terdapat kekurangan.

Kegiatan SUNAH sendiri telah direncanakan dan diwacanakan sejak jauh-jauh hari. Setelah melalui proses persiapan, akhirnya rombongan sekitar 120 peserta dapat berkunjung ke Al Fithrah dengan lancar.

Pihak MA Al Asror Semarang juga memperkenalkan secara singkat latar belakang dan profil lembaga kepada keluarga besar Al Fithrah. Pertemuan tersebut akhirnya menjadi ruang untuk saling mengenal, bukan hanya antara dua lembaga pendidikan, tetapi juga antara para pendidik dan peserta didik yang sama-sama sedang menapaki jalan ilmu.

Perjalanan seperti ini mengajarkan bahwa ilmu tidak selalu diperoleh dengan duduk di ruang kelas. Kadang ilmu hadir ketika kita melihat cara orang lain mengelola pesantren. Kadang inspirasi muncul ketika mendengar pengalaman lembaga lain. Dan kadang, keberkahan justru terasa ketika perjalanan ilmu disertai silaturahmi dan ziarah kepada orang-orang saleh.

Semoga kegiatan SUNAH MA Al Asror Semarang ke Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah menjadi perjalanan yang membawa manfaat, mempererat persaudaraan, dan menumbuhkan semangat para peserta untuk terus belajar.

Sebab dalam perjalanan mencari ilmu, yang dibawa pulang bukan hanya pengetahuan, tetapi juga pengalaman, teladan, persaudaraan, dan doa.

KH Muhammad Utsman Al-Ishaqy: Membumikan Amaliah Tarekat di Tengah Masyarakat

Tarekat sering kali dipahami sebagai jalan spiritual yang hanya cocok bagi orang yang sudah lanjut usia, padahal pengamalan tarekat tidak mengenal batas usia selama seseorang mampu belajar, berzikir, dan memperbaiki akhlaknya dengan istiqamah dan kesungguhan nyata

Pandangan semacam itu justru berusaha dijawab oleh KH Muhammad Utsman Al-Ishaqy, seorang ulama dan mursyid Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah yang dikenal aktif mendekatkan amaliah tarekat kepada kehidupan masyarakat secara sederhana dan nyata.

KH. Muhammad Utsman Al-Ishaqy merupakan ayah dari KH. Ahmad Asrori Al-Ishaqy. KH. Muhammad Utsman Al-Ishaqy lahir di Jatipurwo, Surabaya, pada hari Rabu, bulan Jumadil Akhir 1334 H, sekitar tahun 1916 M.

Mengajak Masyarakat Mengenal Manaqiban Sejak Muda

Di tengah anggapan bahwa tarekat merupakan amalan orang-orang tua, KH Muhammad Utsman Al-Ishaqy justru mengajak para santri dan masyarakat untuk mengenal amaliah zikir, manaqiban, dan majelis keagamaan sejak usia muda dan belia

Manaqiban yang dirintis beliau menjadi salah satu jalan untuk mengenalkan kehidupan spiritual kepada masyarakat melalui suasana majelis yang sederhana, penuh zikir, doa, dan pembacaan kisah para ulama serta orang-orang saleh.

Kegiatan tersebut kemudian berkembang menjadi Majelis Sewelasan, yakni majelis yang dilaksanakan pada malam tanggal sebelas dalam kalender Hijriah dan menjadi salah satu amaliah yang terus dilestarikan oleh murid-murid beliau hingga sekarang dan seterusnya.

Dari kegiatan yang dirintis secara sederhana itu, tradisi manaqiban kemudian tidak hanya berhenti di lingkungan pesantren, tetapi ikut tumbuh di tengah masyarakat dan menjadi bagian dari kehidupan jamaah yang tersebar di berbagai daerah dan kawasan

Merintis Pesantren di Tengah Masyarakat

Dakwah KH Muhammad Utsman Al-Ishaqy tidak hanya dilakukan melalui majelis zikir, tetapi juga diwujudkan dalam pendidikan dan pembinaan masyarakat melalui Pondok Pesantren Darul Ubudiyah Raudlatul Muta’allimin, Jatipurwo, Surabaya dan sekitarnya

Pesantren tersebut dirintis di kawasan Jatipurwo yang pada masa itu dikenal sebagai lingkungan dengan berbagai persoalan sosial, sehingga kehadiran pesantren menjadi bagian dari ikhtiar menghadirkan pendidikan agama secara langsung di tengah kehidupan masyarakat dan keluarga

Sebelum berkembang menjadi pesantren, dakwah beliau berawal dari tempat ibadah sederhana dan pengajian masyarakat yang jumlah jamaahnya masih terbatas, kemudian perlahan berkembang seiring semakin banyak masyarakat yang ingin belajar agama dan mengaji kepada beliau secara istiqamah dan terbuka.

Pada 1957, KH Muhammad Utsman Al-Ishaqy mendirikan Pondok Pesantren Darul Ubudiyah Raudlatul Muta’allimin di Jatipurwo, Semampir, Surabaya sebagai wadah pendidikan dan dakwah yang memadukan pengajaran agama dengan pembinaan akhlak masyarakat dan keluarga.

Dari sinilah terlihat bahwa tarekat yang beliau ajarkan bukan sekadar aktivitas ritual, tetapi juga memiliki hubungan erat dengan pendidikan, akhlak, pengabdian, dan pembinaan kehidupan sosial masyarakat secara menyeluruh dan nyata

Warisan Amaliah yang Terus Mengalir

KH Muhammad Utsman Al-Ishaqy wafat pada Ahad, 8 Januari 1984, bertepatan dengan 5 Rabiuts Tsani 1405 H, dan dimakamkan di kompleks Pondok Pesantren Darul Ubudiyah Raudlatul Muta’allimin, Jatipurwo, Surabaya dengan penuh penghormatan dari keluarga, santri, dan masyarakat.

Namun wafatnya seorang ulama tidak berarti berhentinya dakwah, sebab amaliah yang telah dirintis terus hidup melalui majelis zikir, manaqib, sewelasan, pesantren, serta berbagai kegiatan keagamaan yang diteruskan oleh murid dan generasi sesudahnya hingga masa kini dan seterusnya

Tradisi Haul Akbar yang berkembang dalam jaringan dakwah beliau juga menjadi salah satu bentuk penghormatan sekaligus momentum untuk mengenang jasa, mendoakan para pendahulu, dan menyambung kembali semangat khidmah yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.

Hari ini, ketika haul KH Muhammad Utsman Al-Ishaqy kembali diperingati, masyarakat tidak hanya mengenang sosok seorang kiai dan mursyid, tetapi juga mengingat perjuangan beliau dalam membumikan amaliah tarekat agar dekat dengan masyarakat, mudah diamalkan, dan terus hidup dalam keseharian umat dan bangsa.

Warisan Ilmiah

Di antara warisan penting KH. Muhammad Utsman Al-Ishaqy selanjutnya adalah karya-karya yang menjadi pedoman dalam menghidupkan amaliah tarekat dan membina akhlak para muridnya secara nyata, sederhana, dan bermakna, di antaranya Al-Nuqthah wa al-Bāqiyah al-Ṣāliḥah wa al-‘Āqibah al-Khairah wa al-Khātimah al-Ḥasanah yang membahas rabithah, serta Al-Khulāṣah al-Wafiyyah fī al-Ādāb wa Kaifiyyah al-Dzikr ‘Inda al-Sādah al-Qādiriyyah wa al-Naqsyabandiyyah yang membahas adab dan tata cara zikir bagi pengamal tarekat secara terarah dan terbuka bagi semua kalangan manusia, serta Awn Al-Rafiq fi Syaikh Al-Tarbiyah wa Adab Al-Murid fi Al-Thariq.

Selain itu, terdapat Al-Fatḥ al-Nūriyyah yang memuat berbagai tuntunan amaliah dan wiridan, serta Al-Faiḍ al-Raḥmāni yang berkaitan dengan manaqib dan tradisi majelis tarekat yang beliau hidupkan di tengah masyarakat secara istiqamah dan penuh cinta kepada para ulama. Karya-karya tersebut menunjukkan bahwa dakwah KH. Muhammad Utsman Al-Ishaqy tidak hanya diwariskan melalui pesantren dan majelis, tetapi juga melalui tulisan yang menjadi sarana menjaga ilmu, adab, zikir, dan kesinambungan amaliah dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Di dalam kitab Awn Al-Rafiq fi Syaikh Al-Tarbiyah wa Adab Al-Murid fi Al-Thariq, KH. Muhammad Ustman Al-Ishaqy berkata:

الأُسْتَاذُ مَظْهَرُ سِرِّ الرُّبُوْبِيَّةِ لِمُرِيْدِهِ،  فَعَلَى الْمُرِيْدِ أَنْ يَقِفَ عِنْدَ أَمْرِ أُسْتَاذِهِ، وَأَنْ لَا يَلْتَفِتَ يَمِينًا وَلَا شِمَالًا

“Guru adalah tempat tampaknya rahasia sifat rububiyah (ketuhanan) bagi muridnya. Maka seorang murid hendaknya mengikuti  perintah gurunya, serta tidak menoleh ke kanan maupun ke kiri”

Di kesempatan yang lain beliau mengutip pendapatnya Imam Syaikhul Akbar Muhyiddin Ibnul ‘Arobi berkata:

يَجِبُ عَلَى الشَّيْخِ إِذَا رَأَى شَيْخًا آخَرَ فَوْقَهُ أَنْ يَنْصَحَ نَفْسَهُ، وَيَلْزَمَ خِدْمَةَ ذَلِكَ الشَّيْخِ هُوَ وَتَلَامِذَتُهُ، فَإِنَّهُ صَلَاحٌ وَسَعَادَةٌ فِي حَقِّهِ وَحَقِّ أَصْحَابِهِ. وَمَتَى لَمْ يَفْعَلْ هَذَا، فَلَيْسَ بِمُنْصِفٍ وَنَاصِحِ نَفْسِهِ، وَلَا صَاحِبِ هِمَّةٍ، بَلْ سَاقِطُ الْهِمَّةِ وَضَعِيفُهَا، بَلْ رُبَّمَا يَكُونُ مُحِبًّا لِلرِّيَاسَةِ وَالتَّقَدُّمِ، وَهَذَا فِي طَرِيقِ اللهِ نَقْصٌ، و.

 “Seorang Guru Mursyid ketika melihat Guru Mursyid yang lebih tinggi, maka ia mempunyai kewajiban untuk menasehati kepada jiwanya sendiri dan ia serta muridnya diharuskan berkhidmah kepada Guru Mursyid yang lebih tinggi tersebut. Sebab di dalamnya terdapat ke-maslahatan dan keberuntungan bagi dirinya dan para muridnya. Ketika ia tidak melakukan hal itu, maka ia bukanlah orang yang berlaku adil dan mengharapkan kebaikan pada dirinya serta tidak mempunyai Hhimmah (antusias), akan tetapi ia mempunyai kekurang-an dalam jalan Allah”,

Beliau kembali menegaskan dengan pernyataan Shohibur Roiyah yang  mengisyaratkan beberapa adab yang wajib bagi seorang murid dalam ber-shuhbah kepada Guru Mursyid:

وَلَا تُقَدِّمَنَّ قَبْلَ اعْتِقَادِكَ أَنَّهُ
مُرَبٍّ وَلَا أَوْلَى بِهَا مِنْهُ فِي الْعَصْرِ

فَإِنَّ رَقِيبَ الِالْتِفَاتِ لِغَيْرِهِ
يَقُولُ لِمَحْبُوبِ السَّرَايَةِ: لَا تَسِرْ

“Dan janganlah melangkah sebelum engkau meyakini bahwa ia adalah pendidik dan pembimbing serta figur yang paling unggul pada masanya.

Karena ketika engkau sudah masuk dalam tarbiyahnya dan engkau menoleh pada selainnya, maka terputuslah madad (pertolongan Allah SWT) yang mengalir kepadamu dari Guru Mursyidmu”.

Warisan terbesar beliau bukan sekadar bangunan pesantren atau besarnya sebuah majelis, melainkan tumbuhnya tradisi zikir, manaqib, pendidikan, dan khidmah yang mengajarkan bahwa perjalanan menuju Allah dapat dimulai sejak muda dengan ilmu, adab, istiqamah, dan cinta serta berkhidmah secara sungguh-sungguh kepada para guru serta orang-orang saleh.

Kitab manaqib yang secara lengkap perjalanan dan kisah KH. Muhammad Utsman Al-Ishaqy di antaranya adalah Kitab Sabil Al-Wafi fi Manaqib Sayyidina Asy-Syaikh Muhammad Utsman Al-Ishaqy yang ditulis oleh KH. Abdul Ghofar Umar Menganti Gresik dan diterbitkan oleh Pondok Pesantren Darul Ubudiyah Raudlatul Mutaalimin Jatipurwo Surabaya, dan dibaca dalam Haul Ke-44 KH. Muhammad Utsman Al-Ishaqy pada Kamis, 17 Surabaya 2026 di PPRM Jatipurwo Surabaya.

Dengan demikian, mengenang KH Muhammad Utsman Al-Ishaqy pada momentum haul bukan hanya melihat kembali sejarah masa lalu, tetapi juga menghidupkan kembali semangat untuk meneruskan amaliah, menjaga sanad, memperbaiki akhlak, dan menghadirkan nilai-nilai tarekat di tengah kehidupan masyarakat secara nyata dan bermakna.

Ifsya al-Sirri: Belajar Menjaga Amanah dari Kisah Kanjeng Syaikh Abdul Qadir al-Jilani

Hari ini kita memasuki bulan Rabi’uts Tsani 1448 H. Bulan ini menjadi momentum mengenang guru kita Kanjeng Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani, yang wafat pada 11 Rabi’uts Tsani 561 H. Pada bulan yang sama kita kehilangan Hadratusy Syaikh KH. Muhammad Ustman Al-Ishaqy, tepatnya pada 5 Rabi’uts Tsani 1405 H. Ada kisah menarik dari Kanjeng Syaikh terkait ifsya al-sirri.

Dalam Islam sendiri, hifdz al-sirri atau menjaga rahasia merupakan bagian dari amanah. Sebaliknya, membuka dan menyebarkan rahasia tanpa alasan yang dibenarkan dikenal dengan istilah ifsya al-sirri (إفشاء السر), yaitu membocorkan sesuatu yang semestinya disimpan.

Salah satu kisah yang menarik untuk direnungkan adalah kisah Syaikh Abdul Qadir al-Jilani rahimahullah tentang bagaimana beliau menjaga sebuah perkara yang tidak semestinya diketahui oleh banyak orang. Kisah ini bukan hanya berbicara tentang sebuah peristiwa luar biasa, tetapi juga mengajarkan adab penting: tidak semua yang kita lihat, dengar, dan ketahui harus kita ceritakan kepada orang lain.

Rahasia yang Terjadi di Balik Perjalanan Malam Syaikh Abdul Qadir

Dalam kisah yang dinukil, Abu al-Hasan yang dikenal dengan Ibnu Thanthanah al-Baghdadi merupakan seseorang yang belajar kepada Syaikh Abdul Qadir al-Jilani. Ia begitu memperhatikan kebutuhan gurunya hingga sering begadang dan menunggu apabila sewaktu-waktu sang guru membutuhkan sesuatu.

Pada suatu malam di bulan Shafar tahun 553 H, Abu al-Hasan melihat Syaikh Abdul Qadir keluar dari rumah. Ia bermaksud memberikan sebuah kendi kepada sang guru, tetapi Syaikh Abdul Qadir tidak mengambilnya.

Beliau kemudian berjalan menuju pintu madrasah.

Yang terjadi berikutnya membuat Abu al-Hasan penasaran. Syaikh Abdul Qadir memberikan isyarat kepada pintu tersebut, lalu pintu itu terbuka. Sang Syaikh keluar, sedangkan Abu al-Hasan diam-diam mengikuti dari belakang.

Ia tidak ingin diketahui oleh gurunya.

Perjalanan kemudian berlanjut hingga Syaikh Abdul Qadir sampai di pintu kota Baghdad. Sekali lagi, pintu tersebut terbuka setelah beliau memberikan isyarat. Syaikh kemudian melanjutkan perjalanan hingga tiba di sebuah tempat yang belum pernah dikenal oleh Abu al-Hasan.

Di tempat itu terdapat sebuah bangunan yang menyerupai ribath. Di dalamnya ada enam orang yang sedang duduk. Ketika melihat Syaikh Abdul Qadir datang, mereka segera berdiri dan menyambut beliau dengan penuh penghormatan.

Abu al-Hasan memilih bersembunyi di balik sebuah tiang.

Tak lama kemudian, ia mendengar suara rintihan dari suatu tempat. Setelah beberapa saat, suara tersebut berhenti. Kemudian seorang laki-laki masuk ke arah tempat terdengarnya rintihan tadi dan keluar sambil membawa seseorang.

Peristiwa berikutnya semakin membuat Abu al-Hasan terkejut.

Datanglah seorang laki-laki yang kepalanya tidak tertutup dan kumisnya panjang. Ia berdiri di hadapan Syaikh Abdul Qadir. Laki-laki tersebut kemudian dibimbing untuk mengucapkan dua kalimat syahadat. Setelah itu, rambut dan kumisnya dicukur, lalu ia dikenakan penutup kepala dan diberi nama Muhammad.

Syaikh Abdul Qadir kemudian berkata kepada enam orang yang berada di tempat itu bahwa beliau memerintahkan agar orang tersebut menjadi pengganti orang yang telah meninggal.

Keenam orang itu menjawab dengan kepatuhan.

Setelah urusan tersebut selesai, Syaikh Abdul Qadir meninggalkan tempat itu. Abu al-Hasan kembali mengikuti beliau dari belakang.

Perjalanan yang terasa begitu jauh ternyata berakhir dengan cara yang mengherankan. Tidak lama kemudian, mereka kembali sampai di pintu Baghdad. Pintu itu kembali terbuka seperti sebelumnya. Syaikh Abdul Qadir kemudian melanjutkan perjalanan hingga sampai ke pintu madrasah. Pintu tersebut pun terbuka kembali.

Beliau akhirnya masuk ke rumahnya.

Keesokan harinya, Abu al-Hasan kembali menghadap Syaikh Abdul Qadir untuk belajar. Namun, ia merasakan kewibawaan gurunya begitu kuat hingga dirinya merasa takut dan kesulitan membaca kitab.

Syaikh Abdul Qadir kemudian berkata kepadanya dengan tenang:

“Wahai anakku, bacalah. Tidak apa-apa.”

Mendapat kesempatan tersebut, Abu al-Hasan memberanikan diri bertanya tentang apa yang ia lihat pada malam sebelumnya.

Syaikh Abdul Qadir Menjelaskan Rahasia yang Dilihat Muridnya

Syaikh Abdul Qadir kemudian menjelaskan perjalanan tersebut.

Tempat yang mereka datangi adalah Nahawand. Enam orang yang berada di sana adalah para abdal nujaba. Adapun orang yang sebelumnya terdengar merintih adalah orang ketujuh dari kelompok tersebut yang sedang sakit.

Ketika ajal orang itu telah tiba, Syaikh Abdul Qadir datang untuk menghadiri wafatnya.

Sedangkan orang yang membawa jenazahnya, menurut kisah tersebut, adalah Nabi Abu al-Abbas al-Khidhir RA yang mengambil jenazah tersebut untuk mengurus keperluannya.

Laki-laki yang kemudian dibaiat dan diberi nama Muhammad adalah seorang Nasrani dari Konstantinopel. Ia diperintahkan untuk mengucapkan dua kalimat syahadat dan kemudian dijadikan pengganti orang yang telah meninggal.

Bagi Abu al-Hasan, semua yang terjadi pada malam itu merupakan pengalaman yang luar biasa. Namun, justru setelah menjelaskan semuanya, Syaikh Abdul Qadir memberikan sebuah pesan yang sangat penting.

Beliau mengambil janji kepada Abu al-Hasan agar tidak menceritakan rahasia tersebut kepada siapa pun selama beliau masih hidup.

Dalam kisah itu disebutkan pesan Syaikh Abdul Qadir:

اِحْذَرْ مِنْ إِفْشَاءِ السِّرِّ فِي حَيَاتِي

“Berhati-hatilah, jangan sampai engkau menyebarkan rahasia ini selama aku masih hidup.”

Pesan tersebut menjadi inti penting dari kisah ini.

Bukan hanya tentang apa yang terjadi pada malam itu, tetapi tentang bagaimana seorang guru mengajarkan muridnya untuk menjaga amanah.

Abu al-Hasan telah melihat sesuatu yang tidak dilihat banyak orang. Namun, melihat sesuatu bukan berarti seseorang bebas menceritakannya. Mengetahui sesuatu juga bukan berarti seseorang berhak menyebarkannya.

Di situlah letak adab.

Larangan Menyebarkan Rahasia dalam Islam

Al-Qur’an mengingatkan orang-orang beriman agar tidak mengkhianati amanah. Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengkhianati Allah dan Rasul, dan janganlah kalian mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepada kalian, sedangkan kalian mengetahui.”

(QS. Al-Anfal: 27)

Rasulullah ﷺ juga memberikan peringatan keras mengenai membuka rahasia, terutama rahasia antara suami dan istri. Dari Abu Sa’id al-Khudri r.a., Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ مِنْ أَشَرِّ النَّاسِ عِنْدَ اللَّهِ مَنْزِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ الرَّجُلَ يُفْضِي إِلَى امْرَأَتِهِ وَتُفْضِي إِلَيْهِ ثُمَّ يَنْشُرُ سِرَّهَا

“Sesungguhnya seburuk-buruk manusia kedudukannya di sisi Allah pada hari kiamat adalah seorang laki-laki yang berhubungan dengan istrinya dan istrinya berhubungan dengannya, kemudian ia menyebarkan rahasianya.”

(HR. Muslim, no. 1437).

Hasan al-Bashri rahimahullah juga memberikan nasihat:

إِنَّ مِنَ الْخِيَانَةِ أَنْ تُحَدِّثَ بِسِرِّ أَخِيكَ

“Sesungguhnya termasuk pengkhianatan adalah ketika engkau menceritakan rahasia saudaramu.”

Nasihat ini sangat relevan dalam kehidupan sekarang. Terlebih di zaman media sosial, sebuah rahasia dapat berubah menjadi konsumsi banyak orang hanya dalam hitungan detik. Percakapan pribadi dapat di-screenshot, pesan dapat diteruskan, dan cerita seseorang dapat tersebar tanpa sepengetahuannya.

Karena itu, sebelum membagikan sebuah cerita, hendaknya kita bertanya: Apakah saya berhak menceritakannya? Apakah orang yang bersangkutan mengizinkannya? Apakah ada manfaat dari menyebarkannya? Atau justru akan menimbulkan mudarat?

Tidak Semua Rahasia Harus Disimpan dalam Setiap Keadaan

Menjaga rahasia bukan berarti menutup semua informasi meskipun penyampaiannya diperlukan untuk mencegah bahaya. Para ulama menjelaskan bahwa ada keadaan tertentu ketika sebuah informasi justru perlu disampaikan karena terdapat maslahat.

Al-Qur’an memberikan contoh melalui kisah seorang laki-laki dari ujung kota yang memperingatkan Nabi Musa a.s. mengenai rencana pembunuhan terhadap beliau:

وَجَاءَ رَجُلٌ مِنْ أَقْصَى الْمَدِينَةِ يَسْعَى قَالَ يَا مُوسَىٰ إِنَّ الْمَلَأَ يَأْتَمِرُونَ بِكَ لِيَقْتُلُوكَ فَاخْرُجْ إِنِّي لَكَ مِنَ النَّاصِحِينَ

“Dan datanglah seorang laki-laki dari ujung kota dengan bergegas-gegas seraya berkata, ‘Wahai Musa, sesungguhnya para pembesar negeri sedang berunding tentang engkau untuk membunuhmu. Oleh karena itu, keluarlah dari kota ini. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang memberi nasihat kepadamu.’”

(QS. Al-Qashash: 20)

Artinya, ukuran dalam menjaga atau menyampaikan rahasia adalah amanah dan maslahat. Jika sebuah rahasia memang dipercayakan untuk dijaga dan tidak ada alasan syar’i untuk membukanya, maka menyebarkannya merupakan perbuatan yang harus dihindari.

Kisah Syaikh Abdul Qadir al-Jilani memberikan pelajaran yang sangat dalam: semakin banyak seseorang mengetahui, semakin besar pula tanggung jawabnya untuk menjaga apa yang diketahuinya.

Menjadi orang yang dipercaya bukan karena mampu mengetahui banyak rahasia, tetapi karena mampu menjaga rahasia tersebut.

Di tengah kehidupan yang serba terbuka, menjaga rahasia adalah bentuk akhlak. Tidak menceritakan aib adalah bentuk kasih sayang. Tidak menyebarkan cerita pribadi adalah bentuk penghormatan.

Dan sebagaimana pesan yang tersirat dalam kisah Syaikh Abdul Qadir al-Jilani, terkadang diam bukan berarti tidak tahu, tetapi karena tahu kapan harus menjaga amanah.

Kita tidak harus menceritakan semua yang kita ketahui. Sebab, salah satu tanda kedewasaan dan kemuliaan akhlak adalah mengetahui apa yang boleh disampaikan dan apa yang harus tetap menjadi rahasia.