Tarekat sering kali dipahami sebagai jalan spiritual yang hanya cocok bagi orang yang sudah lanjut usia, padahal pengamalan tarekat tidak mengenal batas usia selama seseorang mampu belajar, berzikir, dan memperbaiki akhlaknya dengan istiqamah dan kesungguhan nyata
Pandangan semacam itu justru berusaha dijawab oleh KH Muhammad Utsman Al-Ishaqy, seorang ulama dan mursyid Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah yang dikenal aktif mendekatkan amaliah tarekat kepada kehidupan masyarakat secara sederhana dan nyata.
KH. Muhammad Utsman Al-Ishaqy merupakan ayah dari KH. Ahmad Asrori Al-Ishaqy. KH. Muhammad Utsman Al-Ishaqy lahir di Jatipurwo, Surabaya, pada hari Rabu, bulan Jumadil Akhir 1334 H, sekitar tahun 1916 M.
Mengajak Masyarakat Mengenal Manaqiban Sejak Muda
Di tengah anggapan bahwa tarekat merupakan amalan orang-orang tua, KH Muhammad Utsman Al-Ishaqy justru mengajak para santri dan masyarakat untuk mengenal amaliah zikir, manaqiban, dan majelis keagamaan sejak usia muda dan belia
Manaqiban yang dirintis beliau menjadi salah satu jalan untuk mengenalkan kehidupan spiritual kepada masyarakat melalui suasana majelis yang sederhana, penuh zikir, doa, dan pembacaan kisah para ulama serta orang-orang saleh.
Kegiatan tersebut kemudian berkembang menjadi Majelis Sewelasan, yakni majelis yang dilaksanakan pada malam tanggal sebelas dalam kalender Hijriah dan menjadi salah satu amaliah yang terus dilestarikan oleh murid-murid beliau hingga sekarang dan seterusnya.
Dari kegiatan yang dirintis secara sederhana itu, tradisi manaqiban kemudian tidak hanya berhenti di lingkungan pesantren, tetapi ikut tumbuh di tengah masyarakat dan menjadi bagian dari kehidupan jamaah yang tersebar di berbagai daerah dan kawasan
Merintis Pesantren di Tengah Masyarakat
Dakwah KH Muhammad Utsman Al-Ishaqy tidak hanya dilakukan melalui majelis zikir, tetapi juga diwujudkan dalam pendidikan dan pembinaan masyarakat melalui Pondok Pesantren Darul Ubudiyah Raudlatul Muta’allimin, Jatipurwo, Surabaya dan sekitarnya
Pesantren tersebut dirintis di kawasan Jatipurwo yang pada masa itu dikenal sebagai lingkungan dengan berbagai persoalan sosial, sehingga kehadiran pesantren menjadi bagian dari ikhtiar menghadirkan pendidikan agama secara langsung di tengah kehidupan masyarakat dan keluarga
Sebelum berkembang menjadi pesantren, dakwah beliau berawal dari tempat ibadah sederhana dan pengajian masyarakat yang jumlah jamaahnya masih terbatas, kemudian perlahan berkembang seiring semakin banyak masyarakat yang ingin belajar agama dan mengaji kepada beliau secara istiqamah dan terbuka.
Pada 1957, KH Muhammad Utsman Al-Ishaqy mendirikan Pondok Pesantren Darul Ubudiyah Raudlatul Muta’allimin di Jatipurwo, Semampir, Surabaya sebagai wadah pendidikan dan dakwah yang memadukan pengajaran agama dengan pembinaan akhlak masyarakat dan keluarga.
Dari sinilah terlihat bahwa tarekat yang beliau ajarkan bukan sekadar aktivitas ritual, tetapi juga memiliki hubungan erat dengan pendidikan, akhlak, pengabdian, dan pembinaan kehidupan sosial masyarakat secara menyeluruh dan nyata
Warisan Amaliah yang Terus Mengalir
KH Muhammad Utsman Al-Ishaqy wafat pada Ahad, 8 Januari 1984, bertepatan dengan 5 Rabiuts Tsani 1405 H, dan dimakamkan di kompleks Pondok Pesantren Darul Ubudiyah Raudlatul Muta’allimin, Jatipurwo, Surabaya dengan penuh penghormatan dari keluarga, santri, dan masyarakat.
Namun wafatnya seorang ulama tidak berarti berhentinya dakwah, sebab amaliah yang telah dirintis terus hidup melalui majelis zikir, manaqib, sewelasan, pesantren, serta berbagai kegiatan keagamaan yang diteruskan oleh murid dan generasi sesudahnya hingga masa kini dan seterusnya
Tradisi Haul Akbar yang berkembang dalam jaringan dakwah beliau juga menjadi salah satu bentuk penghormatan sekaligus momentum untuk mengenang jasa, mendoakan para pendahulu, dan menyambung kembali semangat khidmah yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
Hari ini, ketika haul KH Muhammad Utsman Al-Ishaqy kembali diperingati, masyarakat tidak hanya mengenang sosok seorang kiai dan mursyid, tetapi juga mengingat perjuangan beliau dalam membumikan amaliah tarekat agar dekat dengan masyarakat, mudah diamalkan, dan terus hidup dalam keseharian umat dan bangsa.
Warisan Ilmiah
Di antara warisan penting KH. Muhammad Utsman Al-Ishaqy selanjutnya adalah karya-karya yang menjadi pedoman dalam menghidupkan amaliah tarekat dan membina akhlak para muridnya secara nyata, sederhana, dan bermakna, di antaranya Al-Nuqthah wa al-Bāqiyah al-Ṣāliḥah wa al-‘Āqibah al-Khairah wa al-Khātimah al-Ḥasanah yang membahas rabithah, serta Al-Khulāṣah al-Wafiyyah fī al-Ādāb wa Kaifiyyah al-Dzikr ‘Inda al-Sādah al-Qādiriyyah wa al-Naqsyabandiyyah yang membahas adab dan tata cara zikir bagi pengamal tarekat secara terarah dan terbuka bagi semua kalangan manusia, serta Awn Al-Rafiq fi Syaikh Al-Tarbiyah wa Adab Al-Murid fi Al-Thariq.
Selain itu, terdapat Al-Fatḥ al-Nūriyyah yang memuat berbagai tuntunan amaliah dan wiridan, serta Al-Faiḍ al-Raḥmāni yang berkaitan dengan manaqib dan tradisi majelis tarekat yang beliau hidupkan di tengah masyarakat secara istiqamah dan penuh cinta kepada para ulama. Karya-karya tersebut menunjukkan bahwa dakwah KH. Muhammad Utsman Al-Ishaqy tidak hanya diwariskan melalui pesantren dan majelis, tetapi juga melalui tulisan yang menjadi sarana menjaga ilmu, adab, zikir, dan kesinambungan amaliah dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
Di dalam kitab Awn Al-Rafiq fi Syaikh Al-Tarbiyah wa Adab Al-Murid fi Al-Thariq, KH. Muhammad Ustman Al-Ishaqy berkata:
الأُسْتَاذُ مَظْهَرُ سِرِّ الرُّبُوْبِيَّةِ لِمُرِيْدِهِ، فَعَلَى الْمُرِيْدِ أَنْ يَقِفَ عِنْدَ أَمْرِ أُسْتَاذِهِ، وَأَنْ لَا يَلْتَفِتَ يَمِينًا وَلَا شِمَالًا
“Guru adalah tempat tampaknya rahasia sifat rububiyah (ketuhanan) bagi muridnya. Maka seorang murid hendaknya mengikuti perintah gurunya, serta tidak menoleh ke kanan maupun ke kiri”
Di kesempatan yang lain beliau mengutip pendapatnya Imam Syaikhul Akbar Muhyiddin Ibnul ‘Arobi berkata:
يَجِبُ عَلَى الشَّيْخِ إِذَا رَأَى شَيْخًا آخَرَ فَوْقَهُ أَنْ يَنْصَحَ نَفْسَهُ، وَيَلْزَمَ خِدْمَةَ ذَلِكَ الشَّيْخِ هُوَ وَتَلَامِذَتُهُ، فَإِنَّهُ صَلَاحٌ وَسَعَادَةٌ فِي حَقِّهِ وَحَقِّ أَصْحَابِهِ. وَمَتَى لَمْ يَفْعَلْ هَذَا، فَلَيْسَ بِمُنْصِفٍ وَنَاصِحِ نَفْسِهِ، وَلَا صَاحِبِ هِمَّةٍ، بَلْ سَاقِطُ الْهِمَّةِ وَضَعِيفُهَا، بَلْ رُبَّمَا يَكُونُ مُحِبًّا لِلرِّيَاسَةِ وَالتَّقَدُّمِ، وَهَذَا فِي طَرِيقِ اللهِ نَقْصٌ، و.
“Seorang Guru Mursyid ketika melihat Guru Mursyid yang lebih tinggi, maka ia mempunyai kewajiban untuk menasehati kepada jiwanya sendiri dan ia serta muridnya diharuskan berkhidmah kepada Guru Mursyid yang lebih tinggi tersebut. Sebab di dalamnya terdapat ke-maslahatan dan keberuntungan bagi dirinya dan para muridnya. Ketika ia tidak melakukan hal itu, maka ia bukanlah orang yang berlaku adil dan mengharapkan kebaikan pada dirinya serta tidak mempunyai Hhimmah (antusias), akan tetapi ia mempunyai kekurang-an dalam jalan Allah”,
Beliau kembali menegaskan dengan pernyataan Shohibur Roiyah yang mengisyaratkan beberapa adab yang wajib bagi seorang murid dalam ber-shuhbah kepada Guru Mursyid:
وَلَا تُقَدِّمَنَّ قَبْلَ اعْتِقَادِكَ أَنَّهُ
مُرَبٍّ وَلَا أَوْلَى بِهَا مِنْهُ فِي الْعَصْرِ
فَإِنَّ رَقِيبَ الِالْتِفَاتِ لِغَيْرِهِ
يَقُولُ لِمَحْبُوبِ السَّرَايَةِ: لَا تَسِرْ
“Dan janganlah melangkah sebelum engkau meyakini bahwa ia adalah pendidik dan pembimbing serta figur yang paling unggul pada masanya.
Karena ketika engkau sudah masuk dalam tarbiyahnya dan engkau menoleh pada selainnya, maka terputuslah madad (pertolongan Allah SWT) yang mengalir kepadamu dari Guru Mursyidmu”.
Warisan terbesar beliau bukan sekadar bangunan pesantren atau besarnya sebuah majelis, melainkan tumbuhnya tradisi zikir, manaqib, pendidikan, dan khidmah yang mengajarkan bahwa perjalanan menuju Allah dapat dimulai sejak muda dengan ilmu, adab, istiqamah, dan cinta serta berkhidmah secara sungguh-sungguh kepada para guru serta orang-orang saleh.
Kitab manaqib yang secara lengkap perjalanan dan kisah KH. Muhammad Utsman Al-Ishaqy di antaranya adalah Kitab Sabil Al-Wafi fi Manaqib Sayyidina Asy-Syaikh Muhammad Utsman Al-Ishaqy yang ditulis oleh KH. Abdul Ghofar Umar Menganti Gresik dan diterbitkan oleh Pondok Pesantren Darul Ubudiyah Raudlatul Mutaalimin Jatipurwo Surabaya, dan dibaca dalam Haul Ke-44 KH. Muhammad Utsman Al-Ishaqy pada Kamis, 17 Surabaya 2026 di PPRM Jatipurwo Surabaya.
Dengan demikian, mengenang KH Muhammad Utsman Al-Ishaqy pada momentum haul bukan hanya melihat kembali sejarah masa lalu, tetapi juga menghidupkan kembali semangat untuk meneruskan amaliah, menjaga sanad, memperbaiki akhlak, dan menghadirkan nilai-nilai tarekat di tengah kehidupan masyarakat secara nyata dan bermakna.
- KH Muhammad Utsman Al-Ishaqy: Membumikan Amaliah Tarekat di Tengah Masyarakat - September 18, 2026
- Ifsya al-Sirri: Belajar Menjaga Amanah dari Kisah Kanjeng Syaikh Abdul Qadir al-Jilani - September 13, 2026
- Apel Pagi PDF Ulya Al Fithrah September 2026, Tekankan Kedisiplinan dan Kesungguhan Santri - September 10, 2026


