Year: 2025

Allah Ridha dengan Taubat Hamba-Nya

Jangan Menunda untuk Kembali

Sering kali kita merasa langkah kita sudah terlalu jauh, noda dosa terlalu menumpuk, hingga muncul bisikan putus asa: “Apakah mungkin Allah masih mau menerima taubatku? Bagaimana jika aku kembali jatuh dalam dosa setelah bertaubat? Apakah taubatku masih berarti?” Pertanyaan-pertanyaan semacam itu kerap membuat kita menunda untuk kembali kepada Allah, bahkan ada yang akhirnya larut dalam keputusasaan.

Padahal, dalam kondisi hati yang gundah itu, sebaiknya kita kembali merenungi sabda Nabi Saw. yang diriwayatkan Imam Muslim no. 2675. Rasulullah Saw. bersabda:

لَلَّهُ أَشَدُّ فَرَحًا بِتَوْبَةِ أَحَدِكُمْ، مِنْ أَحَدِكُمْ بِضَالَّتِهِ، إِذَا وَجَدَهَا

“Sungguh, Allah lebih gembira dengan taubat salah seorang di antara kalian, daripada kegembiraan seseorang yang menemukan kembali barangnya yang hilang.” (HR. Muslim)

Kisah Musafir dan Unta yang Hilang

Dalam riwayat lain yang terdapat redaksi hadits di atas, Rasulullah Saw. menceritakan kisah seorang musafir yang kehilangan untanya di tengah padang pasir. Pada unta itu terdapat bekal makanan dan minuman, satu-satunya sumber kehidupan baginya. Ia pun berusaha mencarinya ke segala arah, namun tidak juga menemukannya. Lelah, lapar, haus, dan putus asa menyelimuti dirinya. Ia pun berbaring di bawah sebuah pohon, pasrah menunggu ajal.

Namun, saat ia terbangun, tiba-tiba unta itu telah berdiri di hadapannya. Betapa kaget dan bahagianya ia! Saking gembiranya, ia sampai salah ucap, Ya Allah, Engkau hambaku, dan aku Tuhan-Mu.” (padahal ia ingin mengatakan sebaliknya). Itu semua karena kebahagiaan yang begitu meluap-luap.

Dalam riwayat ini, Rasulullah Saw. menegaskan, kebahagiaan Allah menerima taubat hamba-Nya jauh lebih besar daripada kebahagiaan musafir yang menemukan kembali unta dan kehidupannya.

Pandangan Ulama tentang Taubat

Ibn al-Qayyim ra. (Madarij al-Salikin (1/274) menjelaskan:

فالتوبة هي بداية العبد ونهايته، وحاجتُه إليها في النهاية ضرورية، كما حاجتُه إليها في البداية كذلك.

Taubat adalah permulaan seorang hamba sekaligus akhirnya. Kebutuhan hamba terhadap taubat di akhir hayatnya adalah suatu keniscayaan, sebagaimana kebutuhannya terhadap taubat di awal perjalanannya.

Kemudian beliau mengutip firman Allah Ta‘ala:

وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Bertaubatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.” (QS. Al-Nur: 31)

Ayat ini terdapat dalam surah Madaniyyah, di mana Allah memerintahkan orang-orang beriman—yang sudah berjuang dengan iman, kesabaran, hijrah, dan jihad—untuk tetap bertaubat kepada-Nya. Allah bahkan menggantungkan keberuntungan (al-falaah) dengan taubat, sebagaimana akibat yang pasti mengikuti sebabnya. Penggunaan kata “la‘alla” dalam ayat ini memberi isyarat bahwa keberhasilan dan kemenangan hanya bisa diharapkan oleh mereka yang bertaubat.

Maka, jelaslah bahwa taubat adalah awal sekaligus akhir perjalanan seorang hamba, dan kebutuhannya terhadap taubat tidak pernah berhenti sampai ajal menjemput.

Hikmah yang Bisa Dipetik

Dari telaah hadits di atas bisa disimpulakan beberapa hikmah yang bisa kita ambil, di antaranya:

  • Allah membuka pintu taubat seluas-luasnya. Selama ruh belum sampai di tenggorokan, kesempatan untuk kembali kepada-Nya masih ada.
  • Jangan menunda taubat. Menunda hanya memperbesar peluang kita kembali hanyut dalam dosa dan kehilangan kesempatan.
  • Taubat butuh tekad. Niat yang tulus untuk meninggalkan dosa, disertai usaha untuk tidak mengulanginya, adalah syarat diterimanya taubat.
  • Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Rasa ridha dan bahagia-Nya atas taubat hamba adalah tanda kasih sayang yang tiada tara.

Penutup

Maka, jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah. Betapapun besar dosa kita, ampunan Allah jauh lebih besar. Sebagaimana firman-Nya:

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap dirinya sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Zumar: 53) Semoga Allah menerima setiap taubat kita, menyucikan hati kita, dan menjaga kita dari perbuatan maksiat. Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.

Majlis Ahad Kedua Bulan Muharram 1447 H (Bag. 2)

Meneladani Ulama Pewaris Nabi

Di era penuh fitnah dan kemunculan berbagai aliran baru yang menyimpang dari jalan Rasulullah SAW, keberadaan ulama Ahlussunnah wal Jama’ah menjadi mercusuar penuntun. Hal ini ditegaskan oleh Habib Musthofa Jamal Alaydrus yang mengutip sabda Rasulullah SAW mengenai perpecahan umat menjadi 73 golongan, di mana hanya satu yang selamat: mereka yang mengikuti jalan Nabi dan para Sahabatnya.

Habib Musthofa mengingatkan akan bahaya kelompok-kelompok seperti Syiah Rafidhah, Jahmiyah, Qadariyah, dan Jabariyah, yang menyimpang dari akidah yang benar. Ia juga mengutip Kitab Hasyiyah al-Sinwani yang menegaskan bahwa berbagai paham sesat termasuk dalam bid’ah muharromah (bid’ah yang diharamkan).

Dalam penjelasannya, Habib Musthofa merinci pembagian bid’ah menurut Syaikh Izzudin Ibnu Abdissalam: ada yang wajib, sunnah, mubah, makruh, dan haram. Contohnya, belajar ilmu Nahwu adalah bid’ah wajib karena menjadi sarana memahami syariat. Sesuai kaidah fikih:

ماَ لاَ يَتِمُ الْوَاجِبُ اِلَّا بِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ

“Sesuatu yang wajib dan tidak sempurna kecuali dengan sarana tertentu, maka sarana itu menjadi wajib.”

Sebaliknya, madzhab Jabariyah dan Qadariyah termasuk dalam bid’ah yang haram karena menyandarkan dosa dan kehendak manusia sepenuhnya kepada takdir, menghilangkan tanggung jawab pribadi.

Warisan Ahlussunnah wal Jama’ah

Ciri khas ulama Ahlussunnah wal Jama’ah adalah ilmu yang dalam, akhlak yang luhur, dan amal saleh yang tersembunyi dari riya. Mereka adalah pewaris Nabi yang tidak hanya menjaga syariat, tetapi juga memelihara umat dengan kasih sayang dan kebijaksanaan. Sebagaimana digambarkan oleh Imam al-Bushiri dalam Qasidah Burdah:

وَالْآلِ وَالصَّحْبِ ثُمَّ التَّابِعِيْنَ فَهُمْ   أَهْلُ التُّقَى وَالنَّقَا وَالْحِلْمِ وَالْكَرَمِ

“(Keridaan juga untuk) keluarga Nabi, para Sahabat, dan para Tabi’in; mereka adalah orang-orang bertakwa, berhati bersih, penuh kesabaran dan kemuliaan.”

Majlis Ahad Kedua Muharram 1447 H ini kembali mengingatkan kita akan pentingnya berpegang teguh pada jalan para ulama Ahlussunnah wal Jama’ah—mereka yang mewarisi ilmu, akhlak, dan perjuangan Rasulullah Saw. serta para Sahabatnya.

Semoga kita senantiasa diberi kekuatan untuk meneladani para pendahulu yang saleh. Aamiin.

Majlis Ahad Kedua Bulan Muharram 1447 H (1)

Majlis Ahad Kedua merupakan salah satu majlis rutin yang diselenggarakan oleh Jamaah Al Khidmah di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya. Majlis ini telah diinisiasi sejak masa hidup Hadhratusy Syaikh Romo KH. Achmad Asrori Al Ishaqi ra. Rangkaian majlis meliputi pembacaan Tawasul Fatihah, Istighotsah, Khotmil Qur’an, dan Maulid. Setelah serangkain munajat dan dzikir Kiai Asrori akan menyampaikan pengajian dengan bahasa Indonesia atau Jawa

Setelah beliau wafat, tradisi Majlis Ahad Kedua tetap dilestarikan dan kini diadakan setiap Ahad Kedua pada bulan Muharram, Rabiul Awal, Rajab, dan Dzulqaidah. Khusus pada bulan Dzulqaidah, turut dibacakan Manaqib Sayyidatina Khadijah al-Kubra dari kitab al-Busyra karya Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki.

Menyambut Tahun Baru Hijriyah dengan Kebaikan

Tahun ini, Majlis Ahad Kedua Muharram 1447 H. bertepatan dengan Hari Asyura, tanggal 10 Muharram—hari yang sarat makna dalam sejarah Islam. Di antaranya adalah keselamatan Nabi Nuh as. dari banjir besar, keselamatan Nabi Ibrahim as. dari api Raja Namrud, serta keberhasilan Nabi Musa As. lolos dari kejaran Fir’aun.

Berbagai amalan dianjurkan pada Hari Asyura, seperti memotong kuku, memperluas nafkah kepada keluarga, bersilaturahmi, sowan kepada para ulama (baik yang masih hidup maupun telah wafat), bersedekah, berpuasa, dan amalan-amalan kebajikan lainnya sebagai bentuk syukur dan peningkatan spiritual.

Dalam Naungan Ahlussunnah wal Jama’ah

Salah satu agenda penting dalam majlis ini adalah pengajian kitab al-Muntakhobat fi Rabithah al-Qalbiyah wa Shilah al-Ruhiyah karya Hadhratusy Syaikh KH. Achmad Asrori al Ishaqi ra. Pada kesempatan ini, pengajian disampaikan oleh Habib Musthofa Jamal Alaydrus, yang membahas bab Fi Dhilal Ahlussunnah wa al-Jama’ah dalam jilid pertama kitab tersebut.

Habib Musthofa menekankan bahwa setelah wafatnya Rasulullah Saw. dan masa Sahabat, muncul tantangan besar dalam memahami syariat, khususnya terhadap ayat-ayat mutasyabihat. Lemahnya keilmuan dan minimnya ulama yang berhikmah membuat umat rentan terhadap penyimpangan. Namun Allah SWT menjaga agama ini melalui kehadiran para ulama Ahlussunnah wal Jama’ah yang bersih fitrahnya, jernih hatinya, dan tidak mudah tergoda dunia.

Mereka diibaratkan seperti pohon yang baik, yang tumbuh kokoh dan menghasilkan buah sepanjang waktu, sebagaimana disebutkan dalam QS. Ibrahim ayat 24–25.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

اَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللّٰهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ اَصْلُهَا ثَابِتٌ وَّفَرْعُهَا فِى السَّمَاۤءِۙ    تُؤْتِيْٓ اُكُلَهَا كُلَّ حِيْنٍ ۢبِاِذْنِ رَبِّهَاۗ وَيَضْرِبُ اللّٰهُ الْاَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُوْنَ

Tidakkah engkau memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimah ṭayyibah? (Perumpamaannya) seperti pohon yang baik, akarnya kuat, cabangnya (menjulang) ke langit. Dan menghasilkan buahnya pada setiap waktu dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan untuk manusia agar mereka mengambil pelajaran.
QS. Ibrahim: 24-25

12 Amalan yang Dianjurkan Ulama Di Hari Asyura

Selain peristiwa-peristiwa penting yang terjadi pada Hari Asyura, umat Islam juga dianjurkan untuk menghidupkan hari ini dengan berbagai amalan sunnah. Berbagai riwayat dari Nabi Muhammad Saw. dan penjelasan para ulama dalam kitab turats menyebutkan keutamaan beramal saleh di hari yang penuh berkah ini.

Puasa Asyura adalah amalan yang paling utama. Nabi Muhammad Saw. mencontohkannya dan menyatakan bahwa puasa ini bisa menjadi sebab pengampunan dosa selama satu tahun sebelumnya. Meski begitu, ulama juga menyebutkan banyak amal lain yang dianjurkan, seperti bersedekah, memperluas nafkah kepada keluarga, dan mengusap kepala anak yatim sebagai bentuk kasih sayang.

Dalam kitab Nihâyatuz Zain karya Syekh Nawawi al-Bantani disebutkan bahwa ada dua belas amalan utama yang dianjurkan di Hari Asyura. Di antaranya: shalat (terutama shalat tasbih), puasa, sedekah, memperluas nafkah keluarga, mandi sunnah, memakai celak, memotong kuku, menjenguk orang sakit, mengusap kepala anak yatim, membaca surat Al-Ikhlas seribu kali, menyambung silaturahmi, dan berziarah kepada ulama atau orang saleh.

Ulama besar seperti Ibnu Hajar al-Asqalani juga menyebutkan beberapa dzikir yang sangat dianjurkan dibaca pada hari ini, seperti kalimat: “Subhânallâh, walhamdulillâh, Allâhu Akbar” dengan berbagai redaksi tambahan. Disebutkan pula bahwa barang siapa membaca kalimat Hasbiyallâh wa ni‘mal-wakîl, ni‘mal-mawlâ wa ni‘man-nashîr sebanyak 70 kali pada Hari Asyura, Allah akan mencukupkannya dari segala keburukan sepanjang tahun.

Dengan demikian, Hari Asyura menjadi momentum untuk memperbanyak amal saleh, mempererat kasih sayang antar sesama, dan meningkatkan hubungan dengan Allah Swt. Melalui amalan yang ringan namun penuh keutamaan ini, umat Islam dapat meraih keberkahan dan pengampunan dari-Nya.

Referensi
Nihâyatuz Zain
Al-Ghunyah li-Thâlibi Tharîq al-Haqq

Peristiwa Penting di Hari Asyura

Hari Asyura, yang jatuh pada 10 Muharam, telah lama dikenal dalam khazanah keislaman sebagai hari bersejarah dengan banyak peristiwa agung. Para ulama mencatat bahwa hari ini bukanlah hari biasa, tetapi menjadi waktu Allah Swt. menurunkan pertolongan-Nya kepada para nabi dan umat-umat terdahulu.

“Dikatakan bahwa Allah menciptakan Nabi Adam a.s. pada Hari Asyura, menerima tobatnya, menyelamatkan Nabi Ibrahim a.s. dari api, menyelamatkan Nabi Musa a.s. dan menenggelamkan Fir‘aun, serta mengeluarkan Nabi Yunus a.s. dari perut ikan. Pada hari ini juga Nabi Nuh a.s. berlabuh di Gunung Judi, Nabi Ayyub a.s. disembuhkan dari penyakit, Nabi Yusuf a.s. dikeluarkan dari sumur, dan Nabi Isa a.s. lahir dan diangkat ke langit.” (Nihâyatuz Zain, 196)

Beragam peristiwa tersebut menunjukkan bahwa Hari Asyura mengandung makna keselamatan dan pemulihan. Hari ini menjadi momentum pertolongan Allah kepada hamba-hamba pilihan-Nya yang berada dalam ujian besar.

Salah satu tradisi yang diwariskan dari kisah Nabi Nuh a.s. adalah memasak makanan dari sisa-sisa biji-bijian setelah banjir besar. Kisah ini menjadi simbol awal kehidupan baru pascabencana.

“Diriwayatkan bahwa ketika kapal Nabi Nuh a.s. berlabuh di Gunung Judi pada Hari Asyura, beliau berkata kepada para pengikutnya: ‘Kumpulkan sisa-sisa makanan kalian!’ Lalu mereka memasak berbagai biji-bijian: kacang, lentil, gandum, jelai, dan beras.” (Nihâyatuz Zain, 196)

Dengan demikian, Hari Asyura mengandung nilai historis dan spiritual yang tinggi. Ia mengajarkan kita tentang keteguhan iman, pentingnya tobat, dan pengharapan terhadap pertolongan Allah dalam berbagai kondisi sulit.

Referensi
Nihâyatuz Zain