Ketertinggalan AI dan Keberhasilan Pendidikan

Silahkan share

Beberapa waktu lalu saya pernah berpergian via kereta. Saya yang notabene setengah santri, memakai celana topi waktu itu. Di sepanjang perjalanan itu, tampak dua orang yang baru kenal waktu itu berbicara tentang santri.

Keduanya terlibat perbincangan yang seru tentang ‘sisi lemah’ pesantren yang membuat saya perlu mengevaluasi diri untuk selanjutnya. Keduanya larut dalam pembicaraan yang membuat telinga saya sedikit gatal mendengarnya.
Saya tidak ‘dilibatkan’ dalam diskusi kecil tersebut, sehingga saya tidak berhak memberikan komentar apapun di sana. Tulisan ini menjadi kesempatan bagi saya untuk sedikit memberikan pembelaan.

Pesantren dan Tantangan Pendidikan di Era AI

Dalam beberapa tahun terakhir, dunia pendidikan mengalami perubahan radikal akibat pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Pesantren—yang selama berabad-abad menjadi pusat pembinaan ilmu, akhlak, dan peradaban—dituntut untuk mengambil posisi strategis dalam menghadapi era baru ini. Bukan sebagai pengikut pasif, tetapi sebagai mu’allim yang mampu menimbang manfaat dan mudarat, lalu mengarahkan generasi santri agar unggul secara spiritual maupun teknologi.

Kita berada di masa di mana belajar di pesantren terasa begitu sederhana—bahkan mungkin dianggap “tertinggal” oleh sebagian orang.

Di dalam kelas, papan tulis kapur menjadi satu-satunya jendela ilmu. Tulisan guru sering kali memenuhi papan dalam hitungan menit, lalu dihapus, diganti lagi, dan begitu seterusnya. Buku pelajaran pun terbatas. Santri harus bergantian, mencatat cepat, atau sekadar mengandalkan ingatan. Ketika pelajaran sains atau matematika dimulai, suasana menjadi lebih sunyi—bukan karena fokus, tapi karena banyak yang berusaha memahami hanya dari penjelasan lisan tanpa visualisasi.

Baca Juga  Memburu Lailatul Qadar

Begitulah wajah pendidikan yang sering dilekatkan pada pesantren: tradisional, sederhana, bahkan dianggap tertinggal.

Dari Pendidikan Tradisional Menuju Pembelajaran Digital

Namun, anggapan itu tidak sepenuhnya benar. Di balik kesederhanaannya, pesantren adalah tempat pendidikan yang berjalan tanpa henti. Di sinilah para santri tidak hanya belajar ilmu, tetapi juga ditempa menjadi pribadi yang mandiri. Bangun sebelum subuh, mengatur waktu sendiri, mencuci pakaian sendiri, hingga mengelola emosi dan tanggung jawab tanpa bergantung pada orang lain.

Memilih pesantren juga bukan perkara asal. Orang tua dan santri mempertimbangkan siapa kiai yang membimbing. Sosok yang benar-benar dijadikan panutan adalah mereka yang teguh memegang syariat, yang ilmunya jelas sanadnya, dan yang hidupnya mencerminkan apa yang diajarkan.

Salah satu yang menjadi pilihan adalah Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah.

Pesantren ini dikenal memiliki pengasuh yang baik sepak terjangnya, guru-guru yang mumpuni di bidang masing-masing, serta lingkungan yang kuat dalam menjaga tradisi keilmuan berbasis kitab.

Namun, zaman terus berubah. Di era digital dan kecerdasan buatan (AI), pesantren tidak cukup hanya bertahan—tetapi juga perlu beradaptasi.

Dan di sinilah muncul kebutuhan yang semakin nyata: menghadirkan teknologi pembelajaran yang mampu menjembatani tradisi dan masa depan.

Bayangkan ketika kelas yang dulu hanya diisi suara kapur di papan, kini berubah menjadi ruang belajar yang hidup. Dengan adanya Interactive Flat Panel (IFP) atau papan tulis digital, materi tidak lagi sekadar tulisan statis. Ia menjadi animasi yang bergerak, konsep yang terlihat nyata, dan pelajaran yang terasa lebih dekat dengan kehidupan.

Baca Juga  MKPI Ponpes Al Fithrah Gelar Kajian Al-Muntakhabat dengan Tema “Keistimewaan-Keistimewaan Manusia”

Materi abstrak yang dulu sulit dibayangkan kini bisa dijelaskan melalui video pembelajaran yang visual dan menarik. Rumus tidak lagi sekadar dihafal, tetapi dipahami. Penjelasan tidak lagi satu arah, tetapi menjadi interaktif.

Yang paling terasa adalah perubahan suasana kelas.

Teknologi Pembelajaran Modern untuk Santri

Jika dulu santri cenderung diam dan mencatat, kini mereka justru antusias. Tangan-tangan terangkat, berebut kesempatan untuk maju ke depan, mencoba langsung fitur interaktif di layar. Belajar tidak lagi membosankan, melainkan menjadi pengalaman yang dinanti.

Inilah alasan mengapa pesantren hari ini sangat membutuhkan kehadiran Interactive Flat Panel (IFP). Bukan sekadar untuk mengikuti tren teknologi, tetapi untuk membuat pendidikan menjadi lebih hidup, lebih mudah dipahami, dan lebih menyenangkan. Meskipun dalam kenyataannya, pesantren belum mendapatkan perhatian sebagaimana lembaga pendidikan pada umumnya.

Terlebih lagi bagi pesantren dengan keterbatasan sumber daya, termasuk di daerah 3T (terdepan, terluar, tertinggal). Dengan teknologi ini, keterbatasan guru bisa terbantu oleh konten digital berkualitas. Satu guru bisa menjelaskan dengan lebih efektif. Satu materi bisa dipahami oleh lebih banyak santri.

Di sisi lain, digitalisasi di pesantren memang masih bertahap. Pernah ada bantuan tiga Chromebook yang menjadi langkah awal. Dari sana, santri mulai mengenal teknologi sebagai alat belajar. Kegiatan seperti bahtsul masail pun mulai memanfaatkan komputer untuk menggali referensi dan menjawab persoalan masyarakat secara ilmiah.

Digitalisasi Pesantren Tanpa Meninggalkan Tradisi

Namun, pesantren tidak hanya fokus pada teknologi. Ada nilai yang tetap dijaga: keaslian ilmu.

Di tengah derasnya arus informasi dan AI, santri justru dilatih untuk tidak mudah percaya. Mereka diajarkan untuk memverifikasi, menelusuri sumber asli, dan memahami mana yang benar-benar memiliki dasar ilmiah.

Baca Juga  Bahtsul Masail Al Fithrah: Bahas Feodalisme Pesantren dalam Rangka Milad ke-39

Karena itu, santri tidak mudah dibodohi.

Mereka tidak hanya cerdas secara informasi, tetapi juga kuat secara prinsip. Mereka mampu membedakan mana hasil pemikiran ulama, dan mana sekadar hasil olahan teknologi.

Pesantren juga membekali santri dengan sesuatu yang jauh lebih dalam: keikhlasan, keteguhan hati, dan semangat untuk tidak mudah menyerah.

Di tengah tantangan dunia kerja yang semakin kompleks, nilai-nilai ini menjadi kekuatan yang tidak tergantikan. Santri mungkin tidak selalu dibentuk untuk mengejar pekerjaan semata, tetapi mereka dibentuk untuk siap menghadapi kehidupan.

Kini, wajah pesantren mulai berubah. Bukan meninggalkan tradisi, tetapi memperkuatnya dengan teknologi.

Dari papan kapur ke layar digital. Dari metode pasif ke pembelajaran interaktif. Dari keterbatasan menjadi peluang.

Harapannya, ke depan semakin banyak pesantren yang mendapatkan akses terhadap teknologi seperti Interactive Flat Panel (IFP). Agar pendidikan tidak hanya berkualitas, tetapi juga merata dan menarik.

Karena sejatinya, pendidikan terbaik bukan hanya yang menjaga nilai, tetapi juga yang mampu menyampaikannya dengan cara yang relevan dengan zamannya.

Dan pesantren—dengan segala kesederhanaannya—sedang menuju ke arah itu.

Oleh: Muhammad Zakki. Pendidik PDF Ulya Al Fithrah