Bersholawat Mengharapkan Rezeki

Silahkan share

Mencari nafkah adalah bagian dari ibadah panjang manusia. Ia tidak kalah pentingnya dengan sholat, puasa dan bentuk-bentuk penghambaan lainnya. Ibadah yang panjang, sebab pelaksanaannya adalah selama hayat masih dikandung badan.

Memberi nafkah kepada keluarga adalah wajib bagi seorang ayah sebagai kepala keluarga. Terpenuhinya rezeki adalah bagian dari kebutuhan pokok yang harus dicukupi setiap harinya.

Terdapat banyak ayat dan hadits yang memerintahkan kita untuk menggapai rezeki-Nya yang telah ditebar di muka bumi. Tugas kita adalah berikhtiyar mendapatkannya, serta bertawakal untuk mendapat rezeki yang halalan lagi thoyiban.

Ibadah Bermotivasikan Rezeki

Di sebuah kelas ada seorang santri yang bertanya: “Wahai guru, bukankah ibadah itu seharusnya adalah dilakukan secara ikhlas. Tapi kenapa justru ketika dalam sholat pun, kita memohon kemudahan rezeki. Warzuqnii, ketika duduk di antara dua sujud misalnya”

Sang guru tersentak sejenak dengan pertanyaan muridnya. Ia membenarkan bahwa berharap imbalan tidak dianjurkan. Ia juga menegaskan bahwa memohon kelancaran rezeki, kesehatan, atau urusan duniawi kepada Allah SWT setelah menunaikan ibadah sangat dianjurkan.

Allah SWT menyukai hambanya yang mau berdoa memohon kepada-Nya. Secara jelas di dalam surat Al-Fatihah dikatakan: “Hanya kepada-Mu lah kami menyembah dan hanya kepada-Mu lah kami meminta pertolongan” (QS. Al Fatihah ayat 5).

Allah SWT berjanji akan mengabulkan doa hamba-Nya yang memohon kebaikan di dunia maupun di akhirat. Bahkan ada juga beberapa ibadah yang pernah dipraktikkan dan diajarkan oleh Rasulullah SAW yang tujuannya ‘menarik rezeki’.

Sholat Hajat, Sholat Dhuha, Membaca Waqi’ah, Beristighfar, dan lain sebagainya. Mengharapkan rezeki dari amalan-amalan ini sama artinya dengan meyakini janji Allah SWT. Dalam Alquran disebutkan:

قُلْتُ اسْتَغْفِرُوْا رَبَّكُمْ اِنَّهٗ كَانَ غَفَّارًاۙ   ۝١٠ يُّرْسِلِ السَّمَاۤءَ عَلَيْكُمْ مِّدْرَارًاۙ ۝١١

Lalu, aku berkata (kepada mereka), “Mohonlah ampun kepada Tuhanmu. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun. (QS. Nuh · Ayat 10) (Jika kamu memohon ampun,) niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu, (QS. Nuh · Ayat 11)

Baca Juga  Belajar menjadi tamu yang baik

Allah SWT memerintahkan kita untuk beribadah. Menghambakan diri kepada-Nya. Dalam ke-sah-an pelaksanakannya, tidak ada kewajiban untuk ikhlas dalam melaksanakannya. Untuk keperluan kelancaran rezeki disunahkan untuk Sholat Liqadail Hajat dan Sholat Duha.

Para ulama menjelaskan bahwa derajat ibadah tertinggi adalah ikhlas, yakni beribadah murni karena cinta dan untuk mencari rida Allah SWT. Menjadikan rezeki sebagai motivasi pendorong semangat beribadah itu dibolehkan, tetapi tujuan utama ibadah haruslah tetap untuk mengabdi kepada-Nya.

Dalam pengajiannya, Hadratusy Syaikh bahwa yang penting jangan terang-terangan melaksanakan sholat, baca Alquran dan baca Sholawat dengan niat agar dimudahkan rezekinya. Tetap dengan niat lillahi ta’ala.

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَّحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ﴾ [ طه: 132]

Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa. [TaHa: 132]

Sholawat Agar Rezeki Deras

Sholawat memiliki akar kata yang sama dengan sholat. Sholat sendiri mempunyai arti doa secara bahasa. Artinya, orang yang sedang sholat ataupun bersholawat, sama halnya sedang berdoa.

Dalam kebanyakan shighot redaksi sholawat yang banyak dibaca, isinya adalah permohonan kepada Allah SWT untuk memberikan rahmat kepada Rasulullah SAW.

Di antara shighot sholawat yang berlaku di kalangan ulama salafus shalih adalah Sholawat Ar-Rizq al-Midrar. Redaksi Sholawat Ar-Rizq Al-Midrar ini tercatat dan terbukukan dalam Kitab An-Nafahat fi Maa Yata’allaqu bi al-Tarawih wa al-Witr wa al-Tasbih wa al-Hajat yang diterbitkan oleh Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya. Tepatnya di halaman 61.

Hadratusy Syaikh KH. Ahmad Asrori Al-Ishaqy mengijazahkan sholawat ini disamping ijazah bacaan Yasin fadhilah dan Waqi’ah fadhilah, serta hasbiyallah.

Baca Juga  Hal-hal Yang Perlu Diperhatikan Dalam Niat Puasa Ramadhan

Lajeng, Ten mriki Kulo nambahi maleh nopo ijazah sholawat. Seng Endi ijazah sholawat niku kanggo nopo rizkine Ben deres. (terj: Kemudian, di sini Saya menambahkan ijazah sholawat. Yang mana bacaan sholawat ini bertujuan agar rezekinya deras)” kata beliau.

Jamaah seketika berseru amin setelah Hadratusy Syaikh KH. Ahmad Asrori memberikan ijazah ini.

Coba sampeyan, Kulo ngongkon Ten sampeyan. ‘Sampeyan waos nggih Niki ngken ndalu, insya Allah sampeyan mlebu suwargo’. Paling, mbenjeng mawon Yai. “Rizkine”, “nggih”. Wong Panceng sampeyan njaluk seng lang nyoto ngeten”.

(terj: Coba, kalau Saya memerintahkan kalian semua. ‘Anda nanti baca ini nanti malam ya, insya Allah masuk surga’. Paling ‘besok saja Yai’ (jawabannya)”. “Rezekinya (supaya lancar)”, “yaa”. Memang kalian ini sukanya yang langsung nyata” kata Hasratusy Syaikh dengan sesekali bercanda.

Berikut redaksi Sholawat Ar-Rizq al-Midrar tersebut:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً تُطِيلُ لَنَا بِهَا الْأَعْمَارَ وَتُزِيلُ بِهَا عَنَّا جَمِيعَ الْأَسْقَامِ وَالْأَخْطَارِ وَتُدِرُّ بِهَا عَلَيْنَا الرِّزْقَ الْمِدْرَارَ وَتَقْضِي لَنَا بِهَا جَمِيعَ الْأَوْطَارِ وَتُشَفِّعْهُ فِيْنَا عِنْدَكَ فِي دَارِ الدُّنْيَا وَدَارِ الْقَرَارِ بِرَحْمَتِكَ يَا غَفَّارُ يَا قَهَّارُ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ.
Allohumma Sholli ‘Ala Sayyidina Muhammadin Sholatan Tuthilu Lana Bihal A’mar Wa Tuzilu Biha ‘Anna Jami’al Asqom Wal Akhthor Wa Tudirru Biha ‘Alainar-Rizqol Midror Wa Taqdi Lana Biha Jami’al Author Wa Tusyaffi’hu fina ‘Indaka Fi Darid-Dunya Wa Daril Qoror Birohmatika Ya Goffar Ya Qohhar Wa ‘Ala Alihi Wa Shahbihi Wa Sallim
Artinya :
“Ya Alloh, limpahkanlah tambahan Rahmat dan keselamatan atas junjungan kami Nabi Muhammad Saw, keluarga dan para sahabatnya yang mana dengan limpahan Rahmat itu, Engkau memanjangkan Umur kami, Engkau menghilangkan segala penyakit dari diri kami, Engkau mengucurkan rezeki yang melimpah kepada kami, Engkau mengabulkan kebutuhan kami, Engkau memberikan Syafa’at di Dunia dan Akhirat kepada kami, wahai Zat yang Maha Pengampun lagi Maha Perkasa.”

Baca Juga  Rapat Koordinasi Guru PDF Ulya Al Fithrah: Menguatkan Tafaqqquh Fiddin dan Penyesuaian Kurikulum

Mengharap Dunia dengan Amal akhirat

Beliau Hadratusy Syaikh KH. Ahmad Asrori Al-Ishaqy menegaskan bahwa jika ada urusan duniawi yang diperoleh dengan menggunakan amal akhirat (dengan perantara membaca ayat-ayat atau surat tertentu dari Al-Quran, misalnya), itu pada hakikatnya bukan untuk memenuhi urusan duniawi secara murni.

Artinya, amal ibadah dan bacaan-bacaan doa yang dilaksanakan adalah bentuk tawakal. Sementara ikhtiyarnya adalah dengan melakukan pekerjaan-pekerjaan secara profesional.

Tidak bisa dipungkiri bahwa sebagai manusia sekaligus hamba, kita membutuhkan rezeki untuk kuat mendirikan ibadah dan memenuhi kebutuhan dunianya.

Rasulullah SAW sendiri secara umum mendoakan:

اَللَّهُمَّ اجْعَلْ رِزْقَ آلِ مُحَمَّدٍ قُوْتًا

“Ya Allah jadikanlah Rezeki keluarga Muhammad (seluruh umat yang beriman kepada Rasulullah SAW) berkecukupan.” (Al -Bukhari 4/222), Muslim 3/103, 8/217).

Mengakhiri tulisan ini. Jika ada yang mengadu ‘Saya sudah amalkan ini, baca ini, baca itu, tapi begini-begini aja’, maka kita perlu kita perlu luruskan bahwa rezeki itu terdiri dari dua macam. Ada rezeki dohir yang kelihatan mata dan ada rezeki bathin yang tidak nampak oleh mata.

Rezeki dohir berupa terpenuhinya kebutuhan duniawi dan rezeki yang batin berupa menerimanya hati terhadap keadaan yang menimpa. “Seng jeneng wong sugeh niku nopo? Wong seng atine nerimo” (Yang dinamakan kaya itu apa? Orang yang hatinya mudah menerima) dawuh Hadratusy Syaikh.

اَللَّهُمَّ اجْعَلْ رِزْقَنَا فِيْ هَذِهِ الدُّنْيَا قُوْتًا وَكَفَافًا

Ya Allah jadikanlah Rezeki kami di dunia ini sebagai kekuatan (melaksanakan ibadah) dan mencukupi kebutuhan. Aamiiin.

Oleh: Muhammad Zakki