Surabaya, 24 Agustus 2026 — Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya terus berupaya menghadirkan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan mendukung perkembangan karakter santri. Salah satu upaya tersebut diwujudkan melalui Seminar dan Sosialisasi Anti Bullying dengan tema “Mondok Nyaman, Prestasi Gemilang: Mewujudkan Pesantren Bebas Bullying.”
Kegiatan yang digelar pada Senin, 24 Agustus 2026 M atau 11 Rabiul Awal 1448 H ini diinisiasi oleh Bimbingan Konseling (BK) Al Fithrah dan berlangsung di Gedung Lantai 5 Al Fithrah. Seminar diikuti oleh seluruh santri kelas VII PDF Wustha Al Fithrah dan Isti’dad Ulya Al Fithrah.
Kegiatan ini menjadi bagian dari ikhtiar pesantren untuk membangun kesadaran bersama mengenai pentingnya menjaga hubungan antarsantri agar tetap sehat, saling menghormati, dan jauh dari berbagai bentuk perundungan.
Acara dimulai dengan Tawassul Istighotsah oleh Ust. Abdulloh, M.Ag Mudir Ma’had aly dan Maulid Fi hubby oleh Ust. M. Khoiri, S.Ud, Pendidik PDF Wustha Al Fithrah, serta dilanjutkan dengan sambutan-sambutan.
Sambutan pertama disampaikan oleh Ust. Nur Yasin, S.Ud. Selaku Kepala PDF wustha Al Fithrah, beliau menyampaikan agar para santri tidak lagi malu untuk untuk datang ke ruang BK Al Fithrah. Sementara itu, Ust. M. Toha, S.Ud dalam sambutannya selaku Kepala Bagian Kewadhifahan meminta kerja sama santri untuk bersama membentuk lingkungan pesantren yang aman dan nyaman.

Membangun Kesadaran tentang Bullying di Lingkungan Pesantren
Pemateri pertama dalam seminar ini disampaikan oleh M. Nasir, S.Pd.,Gr. Beliau menjelaskan bahwa bullying atau perundungan merupakan perilaku yang dapat menyakiti, merendahkan, mengintimidasi, atau mengucilkan orang lain. Dampaknya tidak hanya berupa luka secara fisik, tetapi juga dapat memengaruhi kondisi psikologis korban, seperti munculnya rasa takut, tertekan, malu, tidak aman, hingga kehilangan kepercayaan diri.
Dalam kehidupan pesantren, persoalan tersebut perlu menjadi perhatian bersama. Santri hidup dan belajar dalam lingkungan yang sama dengan berbagai latar belakang karakter, kebiasaan, serta kemampuan. Perbedaan tersebut seharusnya menjadi ruang untuk belajar saling memahami, bukan menjadi alasan untuk merendahkan satu sama lain.
Waka Kesiswaan SMP YPP Nurul Huda ini juga meminta beberapa bentuk bullying yang perlu diwaspadai antara lain memukul, mengejek nama orang tua, mempermalukan teman, mengucilkan seseorang dari kelompok, mengancam, hingga menyebarkan aib melalui media sosial.
Hal penting yang ditekankan dalam seminar adalah bahwa tindakan bullying tidak selalu harus terjadi berkali-kali untuk mendapatkan perhatian. Tindakan serius yang dilakukan sekali pun, misalnya ancaman kekerasan atau mempermalukan seseorang di hadapan banyak orang, tetap perlu dihentikan dan ditindaklanjuti.
Karena itu, jangan menunggu perundungan terjadi berulang kali baru mengambil tindakan. Setiap tindakan yang berpotensi menyakiti, merendahkan, atau membahayakan orang lain perlu dicegah sejak awal.
Bercanda, Konflik, atau Bullying? Kenali Perbedaannya
Salah satu hal yang penting dipahami santri adalah membedakan antara bercanda, konflik biasa, dan bullying. Bercanda pada dasarnya dilakukan untuk bersenang-senang dan membuat kedua pihak merasa nyaman. Bercanda tidak bertujuan menyakiti atau merendahkan orang lain.
Sementara itu, konflik biasa dapat muncul karena adanya perbedaan pendapat atau kepentingan antara dua pihak yang relatif memiliki posisi seimbang. Konflik dapat diselesaikan melalui komunikasi, dialog, dan musyawarah.
Adapun bullying memiliki unsur tindakan menyakiti, merendahkan, mengintimidasi, atau menguasai orang lain. Korban biasanya berada dalam kondisi takut, tertekan, tidak berdaya, atau kesulitan menghentikan perlakuan tersebut.
Karena itu, kalimat “Saya cuma bercanda” tidak otomatis membuat sebuah tindakan menjadi benar. Jika seseorang merasa terluka, dipermalukan, atau takut akibat candaan tersebut, maka candaan itu perlu dihentikan dan dievaluasi. Pesan sederhananya: bercanda boleh, tetapi menyakiti bukan budaya.
Seminar juga mengajak santri untuk mengubah kebiasaan negatif menjadi perilaku positif. Perubahan tersebut dapat dimulai dari hal-hal sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Dari mengejek menjadi menyemangati. Dari mengucilkan menjadi mengajak berteman. Dari menyakiti menjadi menolong. Dari menyebarkan aib menjadi menjaga privasi. Dan dari ikut-ikutan menjadi berani mengatakan, “Stop, itu tidak baik.”
Pesantren yang aman bukan hanya tanggung jawab guru, kiai, pengasuh, atau pengurus. Menciptakan lingkungan yang nyaman merupakan tanggung jawab seluruh warga pesantren.
Setiap santri dapat mengambil peran dengan menjadi teman yang membuat orang lain merasa diterima, dihargai, dan aman.
Semangat tersebut dirangkum dalam pesan “STOP BULLYING • START CARING • SPREAD KINDNESS.” STOP BULLYING, hentikan segala bentuk perundungan dan kekerasan. START CARING, mulailah peduli, menyayangi, dan memperhatikan sesama. SPREAD KINDNESS, sebarkan kebaikan, keramahan, serta sikap saling menghargai.
Pesantren Aman, Santri Nyaman
Materi berikutnya disampaikan oleh Faiz Ihsan Munir Al Faruq, mahasiswa S1 Psikologi Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya. Dalam pemaparannya, ia mengangkat tema “Pesantren Aman, Santri Nyaman: Membangun Lingkungan Pesantren yang Aman dan Bebas Bullying.”
Pesantren, menurut materi yang disampaikan, bukan hanya tempat menuntut ilmu. Pesantren juga menjadi ruang pembentukan karakter, akhlak, dan kepribadian santri. Karena itu, lingkungan pesantren perlu memberikan rasa aman, baik secara fisik maupun psikologis dan sosial.
Membangun pesantren bebas bullying membutuhkan keterlibatan seluruh unsur pesantren. Pengasuh, ustaz, pengurus, serta santri memiliki peran penting dalam membangun budaya saling menghormati dan menjaga martabat sesama.
Santri juga perlu memiliki keberanian untuk mencegah perundungan. Perbedaan karakter bukan alasan untuk merendahkan. Kekurangan seseorang bukan bahan untuk dijadikan ejekan. Dan sebuah masalah tidak harus diselesaikan dengan kekerasan.
Pesantren yang aman pada akhirnya bukan sekadar pesantren yang bebas dari kekerasan. Pesantren aman adalah tempat ketika setiap santri merasa dihargai, dilindungi, didengar, dan diterima.
Ketika rasa nyaman tumbuh, proses belajar pun dapat berjalan dengan lebih baik. Dari lingkungan yang sehat, lahir santri yang percaya diri, berakhlak, dan mampu membangun hubungan sosial secara positif.

Deklarasi Anti Bullying Al Fithrah
Seminar kemudian dilanjutkan dengan mini talkshow dan sesi tanya jawab, yang memberikan ruang kepada santri untuk menyampaikan pertanyaan dan berdiskusi mengenai persoalan perundungan dalam kehidupan sehari-hari.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan Deklarasi Anti Bullying Santri Al Fithrah yang dipandu oleh Ust. Abdul Rouf, S.Ag. Deklarasi ini menjadi simbol komitmen bersama untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan bebas dari bullying.
Ice breaking yang dipandu Ust. Badrul Chomar, M.Psi semakin menambah keseruan acara pagi ini. Akma, santri asal Tegal Jawa Tengah berharap agar acara ini dapat membuahkan hasil berupa tidak lagi ada bully di antara santri. Sementara itu Shobirin asal Bawean Gresik sangat senang dengan acara semacam ini dan berharap agar sering ada sosialisasi semacam ini.
Melalui seminar ini, Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya menegaskan bahwa kenyamanan santri bukan sekadar pelengkap dalam proses pendidikan. Mondok nyaman adalah bagian dari ikhtiar menuju prestasi yang gemilang.
Sebab, pesantren yang baik bukan hanya tempat seseorang menjadi pintar, tetapi juga tempat seseorang belajar menghargai, menyayangi, dan menjaga sesama.
Pesantren aman, santri nyaman. Ketika lingkungan dijaga dengan kasih sayang, ilmu tumbuh dengan tenang dan akhlak berkembang dengan gemilang.
- Seminar Anti Bullying di Al Fithrah: Membentuk Pesantren yang Nyaman dan Bebas Perundungan - August 25, 2026
- Majlis Ahad Kedua Rabiul Awal 1448 H: Menyambut Cinta Rasulullah - August 24, 2026
- Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya Peringati Milad Ke-40 bersamaan dengan HUT Ke-81 Republik Indonesia - August 17, 2026


