AlFithrah

HISAB AWAL RAMADHAN 1443 H.

Ada dua cara menentukan awal bulan Hijriyah yang masyhur digunakan; hisab dan ru’yah. Hisab biasanya identik dengan ormas Muhammadiyah, sementara Nahdlatul Ulama’ identik dengan rukyah. Faktanya kedua ormas ini memadukan keduanya dalam menentukan awal bulan Hijriyah.

Demikian juga Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah, walaupun di kalender resmi Al Fithrah sudah ditentukan tanggal masehi yang bertepatan dengan awal bulan Hijiriyah. Terutama untuk bulan Sya’ban, Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah, Lajnah Falakiyah (LF) Al Fithrah juga melakukan kegiatan ru’yatul hilal, untuk menentukan awal bulan tersebut.

Sebelum melakukan ru’yah, LF Al Fithrah juga melakukan hisab. Hal ini diperlukan untuk memprediksi kemunculan hilal, baik ketinggian maupun perkiraan letaknya. Beberapa metode hisab dipakai untuk mendapatkan penghitungan yang akurat.

Untuk lokasi ru’yah sendiri, biasanya LF Al Fithrah mengutus tim ke lima titik di empat daerah. WBL di Lamongan, Condrodipo di Gresik, pantai Gebang dan pantai Petenteng di Bangkalan, dan pantai Ambet di Pamekasan.

Di lima titik tersebut tim sudah dibekali data hisab. Selain itu sebelum hari pelaksanaan ru’yah, biasanya tim sudah melakukan simulasi ru’yah secara digital lewat aplikasi Stellarium. Tim juga sudah melakukan pemanasan ringan dengan menggelar alat bantu dalam kegiatan ru’yah baik tamaya maupun teodolit.

Berikut kami lampirkan hasil hisab awal Ramadhan 1443 H. Untuk penentuan 1 Ramadhan mohon bersabar menunggu maklumat yang akan dikeluarkan Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah pada penghujung tanggal 29 Sya’ban 1443 H., bertepatan dengan hari Jum’at tanggal 1 April 2022 M.

HAFLAH AKHIRUSSANAH DAN WISUDA XX PONDOK PESANTREN ASSALAFI AL FITHRAH

Al Fithrah Kembali menggelar acara untuk santri tingkat akhir di jenjang PDF Wustho, PDF Ulya, Ma’had Aly, dan Madrasa Diniyah Takmiliha Jami’ah (MDTJ). Haflah akhirus sanah dan wisuda ke 20 diadakan untuk menandai seslesainya para santri belajar di empat unit pendidikan tersebut. Diselenggarakan selama dua hari, rabu 20 Sya’ban untuk santri putra dan kamis 21 Sya’ban 1443 H untuk santri putri.

Berlokasi di masjid pondok pesantren assalafi al fithrah, acara ini juga dihadiri oleh putra-putri KH. Achmad Asrori Al Ishaqy. Mengingat terbatasnya lokasi, hanya pengurus pondok, pengurus satuan unit pendidikan, semua wali kelas serta sebagian pendidik yang diundang hadir dilokasi.

Haflah ini juga yang ke tiga kalinya wali santri tidak bisa menyaksikan secara langsung putra-putrinya diwisuda. Wali santri hanya bisa menyaksikan jalannya prosesi wisuda putra-putrinya lewat siaran langsung dari Al Wava, selaku media resmi al fithrah.

Dimulai pada pukul 06.30 WIB, hafalah ini dibuka dengan bacaan Tawasul Fatihah, Istighotsah, dan Maulid Fi Hubby. Selepas rangkaian pembukaan itu, acara ini dilanjutkan dengan sambutan dari pengurus Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah.

PESAN DARI PENGURUS PONDOK

Ustadz Kunawi, ketua pondok Al Fithrah turun langsung di hari pertama untuk memberikan sambutan sekaligus pesan kepada para lulusan. Di hari kedua, Ustadzah Mufarrohah, wakil ketua pondok Al Fithrah yang didaulat untuk memberikan sambutan sekaligus pesan kepada santri putri yang lulus.

“Ketika nanti sudah lulus dari Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah ini, saya berharap tetap menjadi santrinya Hadlratusy Syaikh Romo KH. Achmad Asrori Al-Ishaqy di manapun berada. Amalkan apa-apa yang telah didapat di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah ini. Laksanakan wadhifah-wadhifah yaumiyah. Insya Allah dengan berbekal mengamalkan amalan-amalan yang telah dibimbingkan dituntunkan oleh Hadlratusy Syaikh, kita akan selamat, menjadi orang saleh, selamat di dunia dan di akhirat.” Pesan Ustadz Kunawi kepada para lulusan di hari pertama.

“Pesan terakhir kami sebelum kalian menginjak ke perjalanan selanjutnya dan sebelum Romadhon ini tiba, minta maaf kepada ustad dan ustadzah kalian. Karena ridho mereka begitu berharga. Lebih-lebih minta maaflah kepada orang tua kalian. Karena ridhallah fi ridhol walidain wa sukhtullah bi sukhtil walidayn.” Pesan Ustadzah Mufar di hari ke dua haflah.

JUMLAH SANTRI YANG DIWISUDA

Ust. Moh. Yasin, Kepala bagian (kabag) umum dan administrasi Pondok Al Fithrah, diminta untuk membacakan surat kelulusan di hari pertama. Di hari kedua, Kabag. Pendidikan, Ustadz Nasiruddin diminta membacakan surat kelulusan pada haflah ini.

Sebanyak 615 santri PDF Wustho yang terdiri dari 359 santri putra dan 256 santri putri dinyatakan lulus dalam haflah ini. Adapun PDF Ulya meluluskan 262 santri yang terdiri dari 108 santri putra dan 154 santri putri. Sementara di unit Ma’had Aly sebanyak 14 santri siap dikhidmahkan, terdiri dari 7 santri putra dan 7 santri putri. Ma’had Diniyah Takmilyah Jami’ah mewisuda 49 santri, yang terdiri dari 33 santri putra dan 16 santri putri.

PROSESI WISUDA DAN PENGUMUMAN SANTRI BERPRESTASI

Prosesi pemindahan kuncir dan pemberian ijazah dilakukan oleh kepala dan wakil masing-masing unit Pendidikan di hari pertama. Sedang di hari kedua, prosesi ini dilakukan oleh wakil kepala dan ustadzah masing-masing unit Pendidikan. Dua putri Kiai Asrori berkenan untuk memindah kuncir santri putri yang diwisuda di hari ke dua, Nyai Hj. Saviera Es Salavia El Ishaqy dan Nyai Hj. Siera Annadia El Ishaqy.

Ustadz Agus ditunjuk untuk menyampaikan nama-nama santri berprestasi di hari pertama haflah. Berikut nama santri berprestasi mulai dari setiap tingkatan, M. Fawaid Azzahir bin Afdolul Mukarom (PDF Wustho), Dwi Hizami bin Muhammad Khalili (PDF Ulya), M. Sofyan Andriyan bin Mustaqim (Ma’had ‘Aly), dan Lukman Hakim bin Sudarus (MDTJ).

Di hari kedua, ustadz mustaqim yang ditunjuk menyampaikan nama-nama santri berprestasi. Berikut nama santri di setiap tingkatan, Wahdatul Khoiriyah binti Muhammad Hoiri (PDF Wustho Hanna Dhiea Ma’lufah binti Ahmad Syatori (PDF Ulya), Dhofi Mufidah binti Karsono (Ma’had ‘Aly) dan Nurul Mufarrohah binti (alm) Kyai Sholihin (MDTJ).

Putra putri Kiai Asrori berkenan menyampaikan piagam penghargaan kepada para santri berprestasi. Agus M. Ayn El-Yaqin El-Ishaqy dan Agus M. Qushay Qarrafy El-Ishaqy berkenan menyampaikan penghargaan di hari pertama. Di hari kedua, Nyai Hj. Siera dan Nyai Hj. Saviera berkenan memberikan penghargaan.

KESAN DAN PESAN SANTRI YANG DIWISUDA

Dwi Hizami santri PDF Ulya Al Fithrah mendapat kesempatan menyampaikan kesan dan pesan mewakili para santri yang diwisuda di hari pertama. Ia mengucapkan rasa syukur karena ditakdirkan belajar di Pondok Al Fithrah. Ia juga menyampaikan terimakasih kepada keluarga Ndalem, dan segenap pendidik yang menemaninya belajar, baik secara fisik maupun lewat do’a.

Wisudawan asal Bawean ini megutip narasi dalam kitab Ihya’ Ulumiddin

“Barangsiapa yang harinya sekarang lebih baik dari kemarin, maka dia termasuk orang yang beruntung. Barang siapa yang harinya sekarang  sama dengan kemarin, maka ia orang yang merugi. Barang siapa harinya sekarang lebih jelek dari kemarin, maka ia termasuk orang yang terlaknat”

Di hari kedua, Fitriata Rormatun yang didapuk membeikan pesan dan kesan mewakili wisudawati dalam haflah ini. Senada dengan kesan dan pesan di hari pertama, ia juga menyampaikan syukur telah ditakdirkan mondok di Al Fithrah. Dan ia pun meminta do’a khususnya kepada keluarga Ndalem, agar ia dan teman-temannya mendapatkan ilmu yang bermanfaat.

“Semoga kelak apa yang kita citakan bukan hanya asa dalam mimpi. Al Fithrah akan menjadi bukti. Semoga kelak kita kan dipertemukan kembali, bersama Hadlratusy Syaikh Romo KH. Achmad Asrori Al Ishaqy.” Begitu do’a dalam kesan dan pesan Fitriata.

TAUJIHAT DAN NASIHAT DARI KELUARGA NDALEM

Dalam haflah ke 20 ini, para santri yang diwisuda juga mendapatkan taujihat dan nasihat dari keluarga Ndalem. Di hari pertama H. drg. Jusuf Sjamsuddin, Sp.Ort (K), ditunjuk untuk mewakili keluarga ndalam memberikan nasihat kepada para wisudawan.

“Saya tidak mendidik santri menjadi pinter. Tapi saya kepingin menjadikan anak-anak yang mondok di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah memiliki akhlak yang baik. Itu dawuhnya Yai. Jadi, pinter gak ada gunanya kalau tidak mempunyai akhlak yang baik.” Nasihat yang nyaris sama dengan yang H. Jusuf sampaikan di haflah tahun lalu.

Di hari kedua putri pertama Kiai Asrori, Nyai Hj. Siera berkenan langsung memberikan taujihat dan nasihat mewakili keluarga Ndalem. Beliau berpesan agar para santri menumbuhkan sikap welas asih terhadap sesama dalam bentuk membiasakan diri untuk saling tolong menolong, dan gemar memberi kepada siapapun tanpa pandang bulu.

“Beliau, ayahanda, guru kita semua, Hadlratusy Syaikh Ahmad Asrori Al Ishaqi. Beliau sangat memiliki sifat welas asih yang sangat. Beliau tidak pernah memilih kepada siapa beliau akan berbagi dan memberi. Siapapun dan di manapun dalam perjalanan beliau, beliau sangat senang sekali berbagi dengan orang lain. Beliau tidak pernah membedakan orang lain, beliau pun tidak pernah menilai seseorang dari segi apapun dan dari kalangan manapun.” Begitu nasihat Nyai Siera menggambarkan sosok Romo Kiai Asrori.

Beliau mengajak agar para santri meneladani sosok Romo Kiai. Juga mengamalkan apa yang sudah diajarkan oleh Romo Kiai Asrori. Hal ini sebagai perwujudan pendakuan para santri sebagai murid Romo Kiai Asrori. Beliau juga mendoakan para santri agar dimudahkan langkah dalam mencapai cita-cita.

“Semoga anak-anakku semua bisa, selalu menjaga nama baik pondok tercinta kita. Semoga anak-anakku semua, dilancarkan dan dimudahkan langkahnya dalam mencapai cita-cita. Ingatlah anak-anakku. Jaga akhlak kalian. Sepintar apapun kalian, jika kalian tidak memiliki akhlak yang baik, semua tidak ada artinya.” Do’a dan pesan Nyai Siera.

YANG ISTIMEWA DI HAFLAH KE 20

Haflah tahun ini mencatatkan rekor jumlah santri wisuda terbanyak sepanjang 20 tahun haflah ini digelar. Tercatat 930 santri dari empat unit pendidikan yang dinyatakan lulus dan diwisuda haflah ini.

Para santri yang diwisuda dalah haflah tahun ini juga menyampaikan cinderamata untuk keluarga Ndalem. Cindera mata ini diwujudkan dalam bentuk dua buah AC yang diperuntukkan untuk pesarean Hadlratusy Syaikh KH. Achmad Asrori Al-Ishaqy.

Rangkaian doa dan pesan nasihat semoga senantiasa tertancap dalam relung hati. Haflah tahun ini dibahagiakan dengan kehadiran keluarga besar, putra putri Hadlratusy Syaikh KH. Achmad Asrori Al-Ishaqy. Keberkenan dan keridaan beliau-beliau sangat kami harapkan senantiasa tercurahkan kepada kami. Aamiiin.

PROGRES PEMBANGUNAN GEDUNG TIMUR AL FITHRAH BULAN FEBRUARI 2022

Progres pembangunan gedung timur Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah sudah mencapai 50% lebih. Pembangunan yang sudah dimulai sejak tahun 2018 ini direncanakan akan menghabiskan dana 26,5 milyar rupiah. Target yang dicanangkan, bangunan ini akan selesai di tahun 2023.

Proses pemasangan usuk atap

Laporan dari bagian pembangunan, di bulan ini fokus utama pembangunan pada penyelesaian pengerjaan atap. Penyelesaian ini diperkirakan menghabiskan anggaran sebesar 310 juta rupiah. Anggaran itu untuk keperluan belanja usuk/reng dari baja ringan, genteng kanmuri, dan wuwung/nok kanmauri.

Penyelesaian ruang kelas lantai 3

Untuk proses pembangunan sektor yang lain juga tetap berlanjut. Pembangunan berfokus pada penyelesaian ruang kelas di lantai 3. Rencananya gedung timur ini memang akan dipergunakan untuk kegiatan belajar-mengajar. Selain itu, di lantai bawah nantinya akan dipergunakan untuk ruang parkir. Sementara di lantai empat juga akan dipergunakan untuk ruang belajar sedang di lantai 5 akan dijadikan auditorium dan ruang observasi tim falak.

Di tengah pembangunan gedung timur ini, sudah dijumpai aktifitas belajar mengjar di lantai 2. Di lantai ini ada 12 ruang kelas, 2 kantor, 1 ruang UKS, dan 4 kamar mandi, yang semuanya sudah siap digunakan. Sejak mendapat izin melakukan pembelajaran tatap muka bulan Januari lalu, Madrasah Ibtida’iyah Al Fithrah menggunakan ruangan di lantai ini.

Yayasan Al Khidmah Indonesia dan UPZ YAKIN masih membuka donasi untuk penyelesaian pembangunan gedung timur Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah. Bagi Jama’ah Al Khidmah atau masyarakat umum, yang hendak menyalurkan sebagian rizkinya untuk pembangunan gedung ini melalui nomor rekening a.n YAYASAN AL KHIDMAH INDONESIA berikut:
BCA Syariah 469 300 95 99
BSI 510 510 510 3
MANDIRI 142 00 1554247 4
BNI 6661 6662 59

Untuk konfirmasi transfer, bisa menghubungi nomor berikut:
0852 5978 4448 (Admin UPZ)
0822 3167 5885 (Ust. Ridwan)
0822 3167 5885 (Ust. Ridwan)

Semoga pembangunan gedung timur Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah segera rampung, setidaknya sesuai dengan rencana. Dan semoga para donatur yang menyisihkan rizkinya untuk pembangunan gedung ini, mendapat balasan yang sebaik-baiknya.

MUTIH

Setiap bulan Ramadan tiba, para murid -terutama yang telah mengikuti bai’at tarekat al-Qadiriyyah wa al-Naqsyabandiyyah al-Utsmaniyyah  dimana Kiai Asrori adalah mursyidnya-, dianjurkan [baca: didawuhi] untuk tidak mengonsumsi makanan dan minuman yang berasal dari makhluk yang bernyawa, atau yang salah satu campuran bahan pembuatannya terdapat unsur hewani. Ritual ini disebut dengan mutih atau tarak  dalam bahasa Jawa.

Bagi jamaah laki-laki, mutih dilakukan mulai memasuki tanggal 21 Sya’ban. Sedangkan jamaah perempuan memulai mutihnya pada tanggal 1 Ramadan. Ritual mutih dilakukan sampai bulan Ramadan selesai, kecuali malam Jum’at pada bulan Ramadan. Artinya, setiap malam Jum’at bulan Ramadan, mereka libur melakukan ritual mutih. Sebab, hari Jum’at -yang dimulai sejak terbenamnya matahari pada hari Kamis- adalah hari raya mingguan bagi umat Islam.

Nisbatnya sebuah hari raya, mereka tak mempunyai pantangan apapun mengenai makanan apa yang tidak boleh dikonsumsi. Namun pada malam (Jum’at) itu, para murid melakukan ritual yang lain, yaitu membaca tiga macam shalawat yang telah ditentukan masing-masing dibaca sebanyak 1000 kali.

Tujuan utama mutih adalah untuk Riyadhoh, Mujahadah, Taqliluth Thoam (menyedikitkan makan) agar hawa nafsu bisa dikendalikan, semangat beribadah (Jawa: rikat) dan dibersihkan dari pengaruh-pengaruh makanan syubhat dan haram. Oleh karenanya, perintah Mutih dari guru Mursyid kepada murid lebih pada sisi menghasilkan kesempurnaan bagi murid. Jika dirasa bermanfaat kemudian ia meninggalkan, maka ia termasuk melakukan adab yang buruk (su’ul adab).

Ritual ‘mutih’ telah dilakukan sejak dulu oleh para tokoh sufi dari berbagai macam aliran tarekat. Menurut sebagian Sufi -seperti yang dikutip oleh Syaikh Abdul Wahhab al-Syaraniy RA dalam kitab beliau al-Anwar al-Qudsiyyah-, rukun atau tiang penyangga pelaku tarekat itu ada empat, yaitu: menahan rasa lapar, tidak banyak bergaul jika tidak ada manfaatnya (al ‘uzlah ), bangun malam, dan tidak berbicara jika tidak bermanfaat.

Kunci pokok dari ke-empat hal ini adalah rasa lapar. Artinya jika seorang murid sudah terbiasa lapar, maka tiga hal sisanya niscaya akan mengikutinya secara otomatis. Sebab, secara tabiat, seorang yang lapar akan cenderung mengirit energinya dengan sedikit bicara, badannya menjadi mudah atau ringan untuk bangun malam, serta mempunyai kecenderungan untuk menghindari pergaulan yang tidak bermanfaat.  

Manfaat dari terbiasa menahan lapar adalah seorang murid tidak akan mudah tergoda oleh hawa nafsunya sendiri juga tidak mudah digoda oleh setan. Sehingga, hatinya akan menjadi bersih. Rasulullah Saw. pernah bersabda yang artinya: “Sesungguhnya setan mengalir pada diri anak cucu Adam mengikuti aliran darah. Maka, sempitkanlah semua jalan setan dengan (cara) lapar.” [HR. Ibnu Abi Dunya].

Syaikh Abdul Wahab al-Sya’raniy ra dalam karya beliau yang lain, yaitu al-Mizan al-Kubra menyebutkan beberapa syarat yang hendaknya dilakukan oleh penempuh jalan tarekat [baca; salik]. Satu di antara dari beberapa syarat tersebut adalah tidak mengonsumsi makanan yang mempunyai ruh/nyawa yang dalam tarekat kita dikenal dengan istilah mutih ini.

Dengan melakukan ritual mutih ini, seorang murid akan mudah dalam mengontrol serta mengekang hawa nafsunya. Sebab, awal timbulnya semua maksiat adalah nafsu dan kekuatan (diri). Sedangkan esensi atau sumber energi dari nafsu serta kekuatan itu sendiri adalah makanan. Maka, dengan menyedikitkan makan (melalui mutih), otomatis akan bisa melemahkan nafsu dan syahwat.

Sebenarnya, dalam kitab tersebut Asy Sya’rani ra. tidak menyebutkan bahwa aktivitas mutih hanya tertentu dan khusus dilakukan pada bulan Ramadan saja. Artinya, seorang murid tarekat idealnya dituntut untuk melakukan aktivitas mutih ini sepanjang tahun dan bahkan sepanjang hayatnya. Hanya saja, karena faktor kewelasan serta kemurah hati-an dari guru kita Syaikh Achmad Asrori al Ishaqy RA dan karena beberapa faktor lain [baca: sirri-rahasia] yang hanya diketahui oleh beliau, mutih bagi murid tarekat Qadiriyah wan Naqsyabandiyyah Al Utsmaniyyah ini -seperti yang pernah Beliau dawuhkan– hanya perlu dilakukan pada tiap bulan Ramadan saja. Itupun masih dikurangi dengan ‘libur’ mutih setiap malam Jum’at.

Wal hasil, secara global, ritual mutih ini bisa dibilang adalah nilai plus dari puasanya seorang murid tarekat. Artinya, dengan  dilakukannya ritual mutih ini, akan ada perbedaan antara puasanya seorang murid tarekat dengan puasanya seorang yang bukan murid tarekat. Kalau yang non tarekat syahwat makannya dikekang pada siang hari bulan Ramadan dan lalu ‘dilepas’ lagi pada malam harinya, seorang murid tarekat tidak begitu. Akan tetapi, syahwat makan seorang murid tarekat tetap dikontrol serta dibatasi, meskipun pada malam hari.

Mumpung momennya pun juga pas: Ramadan!. Jadi, hanya satu bulan dalam setahun, jika dibandingkan dengan tidak mutih nya yang sudah dijalani selama 11 bulan, mengapa tidak bersungguh-sungguh?  Wa Allahu a’lam.                 

Sumber: (1) Rubrik Ribath Buletin Al Fithrah edisi 56, (2) Maklumat PP. Ath Thoriqoh Al Qodiriyyah wan Naqsabandiyah Al Oesmaniyyah

KELAHIRAN SANG GURU MURSYID

Lima tahun setelah kemerdekaan Repubik Indonesia, sosok panutan, tokoh karismatik, penyejuk hati, penuntun, dan pembimbing umat, KH. Achmad Asrori al-Ishaqi dilahirkan di lingkungan pondok pesantren Dar al-‘Ubudiyah Raudat al-Muta’allimin Jati Purwo Surabaya Jawa Timur. Tepatnya pada tanggal 17 Agustus 1950. Ayah sekaligus Guru Mursyidnya bernama KH. Muhammad Usman bin Nadi, dan ibunya Nyai Hj. Siti Qomariyah binti Munaji.

Selama mengandung Kiai Asrori, Nyai Sepuh (panggilan para santri untuk ibu Kiai Asrori) merasakan kesejukan, kedamaian, dan seakan-akan tidak ada beban mengandung, sehingga tidak terasa seperti orang yang mengandung. Beliau juga selalu semangat beribadah, terutama salat malam dan puasa, seakan-akan ada kekuatan yang mendorong lubuk hatinya untuk melakukan berbagai amal shalih sebagai bentuk mujahadah dan riyadhah.

Ketika usia Kiai Asrori berumur tujuh bulan di dalam kandungan, rahim Nyai Sepuh diusap dan didoakan oleh Gus Mas‘ud (dari Pager Wojo, Sidoarjo) seraya berkata: “Nyai, ini yang menjadi mursyid tarekat pengganti (baca: khalifah) Kiai ‘Utsman”. Oleh karenanya, ketika Kiai Asrori ditanya oleh seseorang yang ingkar terhadap kemursyidannya: “Kapan engkau menjadi mursyid?”, beliau menjawab: “Sejak dalam kandungan”. Artinya, sejak dalam kan­dung­an Kiai Asrori sudah diisyaratkan menjadi mursyid oleh orang-orang yang shalih.

Sebagai sosok panutan, Kiai ‘Utsman mempunyai jejaring dengan para habaib dan para kiai khash seperti KH. Ma’shum ‘Ali (dari Lasem). Kiai ‘Utsman selalu minta doa kepada mereka agar putra dan putrinya dijadikan orang yang saleh (hatinya genah).

Kiai Asrori adalah putra ketujuh dari sebelas bersaudara sekandung, yaitu; Nyai Hj. ‘Afifah, Syamsul, KH. Fath al‘Arifin, Mukhlis, KH. Minan al-Rahman, KH. Achmad Qamar al-Anam, Nyai Hj. Luthfiyyah, KH. Achmad Ansharullah, Nyai Hj. Zakiyyat al-Miskiyyah, Nyai Hj. Juwairiyyah. Sedangkan saudara se-ayah dari Nyai Khafifah binti Imam Rusydi ada empat, yaitu; KH. Achmad Tajul Mufakhir, KH. Achmad Fakhrul ‘Alam, Nyai. Hj. Faihat al-Miskiyyah, dan Nyai Hj. Cahyowati.

Sumber: Muhammad Musyafa’, Relevansi Nilai-Nilai Al Thariqah Pada Kehidupan Kekinian, Studi Penafsiran Ayat-ayat Al-Qur’an dalam Al Muntakhobat Karya KH. Achmad Asrori al-Ishaqy.