Kajian

Shalawat Penyelamat

Dikisahkan, seorang kekasih Allah Swt. yang bernama Syaikh Shalih Musa al-Dlarir ra. sedang berlayar di tengah samudra. Lalu, kapal yang dinaikinya bertemu dengan badai yang dikenal dengan nama Aqlabiyah. Badai yang terkenal akan keganasannya, dan sedikit orang yang bisa selamat dari terjangannya. Para penumpang kapal berteriak, panik, takut badai itu akan menenggelamkan mereka. Tiba-tiba Syaikh Shalih diserang rasa kantuk yang amat berat, hingga beliau tertidur.

Dalam kondisi tertidur itu, beliau melihat Nabi Muhammad Saw.. Nabi pun bersabda: โ€œkatakan pada penumpang kapal untuk membaca ini sebanyak seribu kali,

ุงูŽู„ู„ู‘ูฐู‡ูู…ูŽู‘ ุตูŽู„ูู‘ ุนูŽู„ูŽู‰ ุณูŽูŠูู‘ุฏูู†ูŽุง ู…ูุญูŽู…ูŽู‘ุฏูุŒ ุตูŽู„ุงูŽุฉู‹ ุชูู†ู’ุฌููŠู’ู†ูŽุง ุจูู‡ูŽุง ู…ูู†ู’ ุฌูŽู…ููŠู’ุนู ุงู„ู’ุฃูŽู‡ู’ูˆูŽุงู„ู ูˆูŽุงู„ู’ุงูฐููŽุงุชูุŒ ูˆูŽุชูŽู‚ู’ุถููŠู’ ู„ูŽู†ูŽุง ุจูู‡ูŽุง ุฌูŽู…ููŠุนูŽ ุงู„ู’ุญูŽุงุฌูŽุงุชูุŒ ูˆูŽุชูุทูŽู‡ูู‘ุฑูู†ูŽุง ุจูู‡ูŽุง ู…ูู†ู’ ุฌูŽู…ููŠู’ุนู ุงู„ุณูŽูŠูู‘ุฆูŽุงุชูุŒ ูˆูŽุชูŽุฑู’ููŽุนูู†ูŽุง ุจูู‡ูŽุง ุฃูŽุนู’ู„ูŽู‰ ุงู„ุฏูŽู‘ุฑูŽุฌูŽุงุชูุŒ ูˆูŽุชูุจูŽู„ูู‘ุบูู†ูŽุง ุจูู‡ูŽู€ู€ู€ุง ุฃูŽู‚ู’ุตูŽู‰ ุงู„ู’ุบูŽุงูŠูŽุงุชูุŒ ู…ูู†ู’ ุฌูŽู…ููŠู’ุนู ุงู„ู’ุฎูŽูŠู’ุฑูŽุงุชู ููู‰ ุงู„ู’ุญูŽูŠูŽุงุฉู ูˆูŽุจูŽุนู’ุฏูŽ ุงู„ู’ู…ูŽู…ูŽู€ู€ู€ุงุชู.

Allaahumma shalli โ€˜alaa Sayyidinaa Muhammadin, shalaatan tunjiinaa bihaa min jamiiโ€™il ahwaali wal aafaat, wa taqdhii lanaa bihaa jamiiโ€™al haajaat, wa tuthahhirunaa bihaa min jamiiโ€™is sayyiaat, wa tarfaโ€™unaa bihaa aโ€™lad darajaat, wa tuballighunaa bihaa aqshal ghaayaat, min jamiโ€™il khairaati fil hayaati wa baโ€™dal mamaat.

โ€œYa Allah limpahkanlah rahmat kepada junjungan kami Nabi Muhammad, (yang) dengan shalawat itu, Engkau akan menyelamatkan kami dari semua keadaan dan dari semua cobaan; dengan shalawat itu, Engkau akan mengabulkan semua hajat kami; dengan shalawat itu, Engkau akan menyucikan kami dari segala keburukan; dengan shalawat itu, Engkau akan mengangkat kami ke derajat paling tinggi; dengan shalawat itu pula, Engkau akan menyampaikan kami kepada tujuan yang paling sempurna dari semua kebaikan, ketika hidup dan setelah mati.โ€

Kemudian ia terbangun, dan menceritakan mimpi yang barusan ia alami kepada penumpang kapal. Mereka pun membaca shalawat tersebut. Dan, ketika bacaan shalawat itu mencapai 300 kali, badaipun reda. (al-Fajru al-Muniru fi al-Shalaati โ€˜ala al-Basyiri wa al-Nadziri, hlm. 21)

***

Di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah shalawat ini jadi pembuka doโ€™a setelah sholat lima waktu. Sebagaimana yang telah dituntunkan oleh Hadratusy Syaikh KH. Achmad Asrori al-Ishaqy, dan tertulis dalam kumpulan wirid dan doโ€™a setelah sholat di kitab Fathatu al-Nuriyah. Kitab ini selain diamalkan oleh santri Al Fithrah, juga diamalkan oleh jamaโ€™ah Al Khidmah.

Dalam kitab itu Kiai Asrori memang tak menyertakan kisah Syaikh Shalih dalam kitab Fathatu al-Nuriyah. Pun juga dengan amaliah-amaliah lain yang beliau tuntunkan dalam kitab tersebut, beliau tidak menyertakan dalil atau keterangan pendukung. Namun, kealpaan keterangan itu tentu, sama sekali tidak mengurangi keutamaan membaca amaliyah itu.

Mengingat, keutamaan membaca shalawat itu sudah disepakati oleh ulamaโ€™. Bahkan di dalam al-Qurโ€™an, Allah Swt. sudah berfirman:

ุฅูู†ูŽู‘ ุงู„ู„ู‡ูŽ ูˆูŽู…ูŽู„ุงุฆููƒูŽุชูŽู‡ู ูŠูุตูŽู„ูู‘ูˆู†ูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู†ูŽู‘ุจููŠูู‘ ูŠูŽุง ุฃูŽูŠูู‘ู‡ูŽุง ุงู„ูŽู‘ุฐููŠู†ูŽ ุขู…ูŽู†ููˆุง ุตูŽู„ูู‘ูˆุง ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ูู‘ู…ููˆุง ุชูŽุณู’ู„ููŠู…ู‹ุง

โ€œSesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bershalawatlah kamu untuk nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanyaโ€ (QS. al-Ahzab: 56)

Ayat ini merupakan penegasan anjuran membaca shalawat.

Di dalam kitab al-Muntakhobat, Kiai Asrori menerangkan jika seseorang memperbanyak (membaca) sholawat dan semua doanya dijadikan sebagai sholawat kepada Nabi, maka ia betul-betul telah mewujudkan apa yang telah dibawa oleh Syari’at. Sebagaimana yang telah diwujudkan oleh Shohabat yang telah menjadikan semua doanya sebagai sholawat kepada Nabi. Sehingga, ia diampuni semua dosanya, dipenuhi segala hajat-kebutuhannya dan terjaga dari segala yang mengkhawatirkan. (al-Muntakhobat, juz I lm 37-38).

Keterangan Kiai Asrori dalam kitab al-Muntakhobat ini tentunya menjadi landasan anjuran membaca berbagai bentuk shalawat yang telah dituntunkan oleh beliau. Sebagai santri, alumni, jamaโ€™ah dan umat islam pada umumnya, anjuran yang baik ini tentu perlu ditindaklanjuti dengan pengamalan yang istikomah.

Wabaโ€™du; semoga shalawat dan doโ€™a-doโ€™a yang menyertainya membuat kita terampuni dari segala dosa, terpenuhi segala kebutuhan dan terjaga dari segala hal yang mengkhawatirkan. Amin.

Kajian al-Muntakhobat: Rasulullah Saw Sebagai Panutan

Majelis Kebersamaan dalam Pembahasan Ilmiah (MKPI) adalah organisasi yang didirikan untuk menaungi kegiatan musyawarah di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya. Baik musyawarah sughra di kelas, maupun musyawarah kubro yang diselenggarakan di area masjid Al Fithrah.

Salah satu agenda penting MKPI ini adalah kajian Kitab al-Muntakhobat fi Rabithah al-Qalbiyyah wa Silati al-Ruhiyah yang merupakan masterpiece dari Hadlratusy Syaikh Romo KH. Ahmad Asrori Al-Ishaqy ra. Kajian yang tahun kemarin masih terselenggara secara online, Rabu malam ini dilaksanakan secara hybrid (online dan offline). Acara offline bertempat di Gedung PW lantai dua Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah. Sementara yang online dapat diikuti via zoom meeting dan siaran di channel YouTube alwava media.

Pembukaan acara

Dengan tetap menjaga tradisi lama yang baik, maka sebagaimana kegiatan-kegiatan di Al Fithrah pada umumnya, Kajian Al-Muntakhobat kali ini dimulai dengan pembacaan Tawasul, Istighosah dan Maulid fi Hubby. Sesi Pembukaan ini dipimpin oleh Ust. Ahmad Mahbub, M.Ag dan Ust. Nur Yasin, M.Pd.

Pandangan Umum sebelum memasuki acara inti disampaikan oleh Ust. Nasiruddin, M.Pd. Sebagai Kepala Bagian Pendidikan Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah, beliau berharap agar Kajian al-Muntakhobat ini dapat memotivasi para santri untuk kembali mengkaji kitab kuning (turats), terutama mempelajari kembali kitabnya Hadlratusy Syaikh Romo KH. Ahmad Asrori al-Ishaqy. Terlebih, bab yang dikaji malam itu adalah tentang “Rasulullah Saw Sebagai Panutan”. Harapan besarnya disampaikan beliau, dapat memupuk kecintaan kepada Rasulullah Saw.

Dr. Kusroni, M.Th.I sebagai narasumber dalam kajian ini mengingatkan kita kembali bahwa adanya Kitab Al-Muntakhobat ini ditulis oleh Hadlratusy Syaikh dipersembahkan dan diprioritaskan kepada para santri, alumni Al Fithrah, dan juga Jama’ah Al Khidmah. Maka menjadi penting, bagi para santri di lingkungan Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah untuk mengkaji kitab ini. Pun juga, bagi para alumni dan juga Jama’ah Al Khidmah agar sepeninggal beliau, pemikiran-pemikiran beliau tetap lestari, selain amaliah tuntunan beliau yang selalu diistikomahkan.

Di awal sub judul, Hadlratusy Syaikh sudah memberikan judul berlapis kepada Rasulullah Saw, al-Qudwah al-Husna, al-Uswah al-Ulya, al-Wasithah al-Kubra. Ada dua kalimat yang memiliki arti sama, yakni al-Qudwah dan al-Uswah. Bedanya, menurut Dr. Kusroni adalah, bahwa al-Qudwah adalah tuntunan (role model) yang berlaku tatkala masa hidupnya, sedang al-Uswah berlaku selepas wafatnya. Pada diri Rasulullah Saw terkandung keduanya.

Perjalanan kepada Allah SWT, atau bahasa jelasnya, keberislaman seseorang tidak akan sempurna, kecuali ia mengikuti tuntunan, tatanan dan bimbingan seorang mursyid, dengan ia berbaiat (janji), talqin (menerima langsung) dan tahkim (mengakui).

ู„ูŽุง ูŠูŽุนู’ุฑููู ุงู„ู’ูˆูŽู„ููŠ ุจูุงู„ู„ู‡ู ุชูŽุนูŽุงู„ู‰ ุญูŽู‚ูŽู‘ ู…ูŽุนู’ุฑูููŽุชูู‡ู ุจูู‡ู ุฅูู„ูŽู‘ุง ุจูŽุนู’ุฏูŽ ู…ูŽุนู’ุฑูููŽุฉู ู†ูŽุจููŠูู‘ู‡ู ูˆูŽ ุฑูŽุณููˆู’ู„ูู‡ู ูˆูŽ ุตูŽูููŠูู‘ู‡ู ูˆูŽุญูŽุจููŠู’ุจูู‡ู ุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽ ุตูŽุญู’ุจูู‡ู ูˆูŽ ุณูŽู„ูŽู‘ู…ูŽ

Para wali mursyid tersebut, tidak akan mencapai makrifat kepada Allah SWT, kecuali setelah mereka bermakrifat kepada Rasulullah Saw. “Ibarat kata, Rasulullah Saw itu jalan dan para wali adalah pintunya” jelas pemateri.

Bahkan lebih jelas lagi disampaikan:

ููŽู‡ููˆูŽ ุฃูŽุนู’ุธูŽู…ู ุณูŽุจูŽุจู ูููŠ ุงู„ู’ูˆูุตููˆู’ู„ู ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ุณูŽู‘ุนูŽุงุฏูŽุฉู ุงู„ู’ุฃูŽุจู’ุฏููŠูŽู‘ุฉู ูˆูŽุงู„ู’ุฎูŽูŠู’ุฑูŽุงุชู ุงู„ุฏูู‘ู†ู’ูŠูŽูˆููŠูŽู‘ุฉู ูˆูŽุงู„ู’ุฃูุฎู’ุฑูŽูˆููŠูŽู‘ุฉู

Beliau Rasulullah Saw adalah sebab paling utama dalam mencapai kebahagiaan abadi dan kebaikan dunia akhirat.

Tak heran jika Kitab al-Muntakhobat ini dimulai dengan bahasan al-Nur al-Muhammady. Maka, sudah pantas bagi kita untuk senantiasa melanggengkan sholawat kepada Rasulullah Saw.

“Sholawat ini posisinya adalah setara dengan Mursyid dalam hal tarbiyah. Bahkan berlaku bagi orang yang punya ataupun tidak punya guru Mursyid,” terang pemateri ketika memberikan terjemah atas Kitab al-Muntakhobat. “Perbanyak baca Sholawat al-Husainiyah. Demikian kata guru-guru saya,” tegas beliau.

Sayangnya, ada sebagian orang yang masih keliru dalam memposisikan guru mursyidnya. Mereka mendudukkan gurunya di atas segalanya. Mereka meyakini bahwa manfaat dan madharat adalah berasal dari gurunya, seraya lalai akan ‘campur tangan’ Allah SWT.

Orang semacam ini telah salah dalam mengambil keputusan. Perlu diketahui bahwa seharusnya guru mursyid hanyalah sebagai wasilah atau wasithah (perantara), bukan maqshad (tujuan). Akibatnya, mereka akan meninggalkan gurunya ketika suatu saat sang guru gagal memenuhi kehendaknya.

Melalui zoom, Dr. KH. Muhammad Musyafa’ menambahkan agar tidak berhenti kepada mursyid. Jangan menjadi seperti yang telah terjadi kepada kaum Syiah yang terlalu mengkultuskan imam-imamnya. Keterangan tentang ketergantungan kepada mursyid ini semakin menarik dengan adanya tambahan komentar dari Ust. Tajul Muluk, M.Ag dari Jogja dan Ust. A. Miftachul Ulum, M.Ag dari Malang.

Maka menjadi penting untuk berpegang kepada para ulama yang pantas disebut pewaris para nabi. Pewaris dalam arti mewarisi ilmu dan amalnya. Yakni, ulama yang dengan ilmunya memunculkan ketakutan (khos.yah) dan pengagungan (‘udmah) kepada Allah SWT.

Hal ini mengutip QS. Fathir ayat 28. Mata rantai para wali yang bersumber dari para nabi ini akan terus berjalan hingga sampai hari akhir nanti. Hal ini diisyarahkan oleh Syaikh Abul Abas Al-Mursyi dalam menafsir QS. al-Baqarah ayat 106. Tidaklah Kami akan mencabut seorang wali, melainkan akan didatangkan yang lebih baik atau setara dengannya.

Dalam berbagai kesempatan, Hadlratusy Syaikh seringkali menampilkan ayat al-Qur’an dengan disertai penafsirannya. Begitu juga dengan haditsnya. Sehingga bukan tidak mungkin jika beliau pantas mendapatkan julukan sebagai Sufi Mufassir yang Muhaddits.

Terinspirasi dari beliau, sebagai doktor di bidang tafsir, sekaligus Kaprodi IAT di STAI Al Fithrah Surabaya, Dr. Kusroni berharap agar kajian tafsir sufistik dapat dikembangkan di lembaganya, “Saya pingin agar IAT di STAI Al Fithrah, kalau di list perguruan tinggi, menjadi rujukan dalam bidang tafsir sufistiknya” sambung beliau.

Majelis Kajian al-Muntakhobat ini ditutup dengan pembacaan Doa Fatihah. Semoga semakin menambah keberkahan ilmu yang telah didapatkan. Aamiiin.

Penulis : Muhammad Zakki

Puasa Tarwiyah & Arafah

Diantara kesunahan yang terdapat dalam bulan Dzulhijjah adalah puasa di tujuh hari pertama bulan Dzulhijjah, dilanjutkan dengan puasa pada tanggal 8 dan 9 bulan Dzulhijjah. Keterangan ini tertuang dalam kitab I’anatuth Thalibin Juz II hlm. 300.

Dalam kitab ini disebutkan hadits Nabi Saw yang artinya:

โ€œTidak ada hari-hari yang lebih Allah sukai untuk beribadah selain sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, satu hari berpuasa di dalamnya setara dengan satu tahun berpuasa, satu malam mendirikan shalat malam setara dengan shalat pada malam Lailatul Qadarโ€

Hadits ini menyampaikan kabar gembira terutama bagi umat islam yang belum berkesempatan menunaikan ibadah haji di manapun berada. Di bulan Dzulhijjah di mana mereka yang berkesempatan menunaikan ibadah haji yang tentunya pahala besar sudah menanti, umat islam lainnya bisa beribadah dengan janji pahala yang besar pula.

Dalam sebuah riwayat yang ditampilkan dalam kitab ini disampaikan bagi orang yang berpuasa di tanggal 9 Dzulhijjah maka ia akan mendapat pengampunan dosa yang sudah ia lakukan setahun sebelumnya dan yang โ€“ semoga tidak โ€“ ia lakukan di setahun yang akan datang.

Anjuran puasa di tanggal 9 Dzulhijjah ini juga berdasar pada apa yang sudah pernah dilakukan oleh Nabi Saw, semasa hidup beliau.

Adapun puasa di tanggal 8 Dzulhijjah (Tarwiyah) dianjurkan sebagai bentuk sebagai bentuk ihtiyath terhadap hari Arafah dan juga termasuk 10 hari pertama Dzulhijjah, selain hari Idul Adha.

Adapun niat puasa tarwiyah (8 Dzulhijjah), adalah sebagai berikut:

ู†ูŽูˆูŽูŠู’ุชู ุตูŽูˆู’ู…ูŽ ุชูŽุฑู’ูˆููŠูŽุฉูŽ ุณูู†ูŽู‘ุฉู‹ ู„ูู„ู‘ูฐู‡ู ุชูŽุนูŽุงู„ูŽู‰ย ย ย 

Nawaitu shauma tarwiyata sunnatan liLlaahi taโ€˜aalaa.ย ย 

Artinya: Saya berniat puasa sunah Tarwiyah karena Allah taโ€™ala.

Adapun niat puasa arafah (9 Dzulhijjah), adalah sebagai berikut:

ู†ูŽูˆูŽูŠู’ุชู ุตูŽูˆู’ู…ูŽ ุนูŽุฑูŽููŽุฉูŽ ุณูู†ูŽู‘ุฉู‹ ู„ูู„ู‘ูฐู‡ู ุชูŽุนูŽุงู„ูŽู‰ย 

Nawaitu shauma arafata sunnatan liLlaahi taโ€˜aalaa.ย ย ย 

Artinya:ย Saya niat puasa sunah Arafah karena Allah taโ€™ala.ย ย 

Semoga segala bentuk ibadah kita di bulan Dzulhijjah ini diterima oleh Allah Swt. Amin, amin. Ya Rabbal ‘alamin

HISAB AWAL SYAWAL 1443 H.

Lajnah Falakiyah Ponpes Al Fithrah akan menyelanggarakan rukyatulhilal 1 Syawal 1443 H. Rencanamya akan ada dua tim yang diutus ke dua titik rukyat, bukit Condrodipo Gresik dan pantai Gebang Bangkalan. Dua tim ini selain berbekal alat untuk melakukan rukyatul hilal, juga dibekali dengan data hisab awal bulan Syawal 1443 H.

Data hisab ini penting untuk mengetahui prediksi kemunculan hilal, mulai dari azimut, ketinggian dan elongasi hilal. data hisab ini akan menjadi cuan dalam mengoperasikan alat bantu dalam proses rukyatulhilal. Ada lima metode hitung yang ditampilkan di data hisab LF Al Fithrah, yaitu ephimeris, sullam nairoin, irsyad al-murid, tsamarot al-fikar, dan al-duru al-anieq.

Dari kelima metode itu didapat data ketinggian hilal hari ini, 29 Ramadan 1443 H. bertepatan 1 Mei 2022 M, antara 4ยฐ – hingga 7ยฐ. Sementara itu letak hilal ada di sekitar 17ยฐ dari arah barat. Elongasi hilal pada maghrib hari ini antara 4ยฐ hingga 6ยฐ. Matahari diperkirakan akan tenggelam di ufuk pada jam 17.22 WIB. Saat ghurub usia hilal sudah mencapai 13 jam lebih. Hal ini dikarenakan ijtima’ sudah terjadi hari ini jam 4.27 WIB pagi tadi.

Dilansir dari nu.or.id menurut kriteria baru MABIMS, imkanur rukyat dianggap memenuhi syarat apabila posisi hilal mencapai ketinggian 3 derajat dengan sudut elongasi 6,4 derajat. Kriteria ini merupakan pembaruan dari kriteria sebelumnya, yakni 2 derajat dengan sudut elongasi 3 derajat yang mendapat masukan dan kritik.ย 

Dari data hisab LF Al Fithrah satu syarat imkanur rukyat yakni ketinggian hilal telah terpenuhi. Sore nanti LF Al Fithrah akan menguji hasil hitungan elongasi hilal. Apakah dengan elongasi yang hanya di 06ยฐ 34′ 45″, hilal bisa dilihat sore ini?

ZAKAT FITRAH PENYEMPURNA IBADAH PUASA, BENTUK PEDULI PADA SESAMA

Islam adalah satu-satunya agama yang mewajibkan adanya zakat. Mengeluarkan sedikit bagian hartanya untuk kaum papa dan melarat. Tidak main-main, Islam menjadikan kewajiban zakat sebagai bagian rukun yang tidak bisa diganggugugat. Barang siapa yang diberi kemampuan menunaikan tapi enggan melakukan, maka baginya tidak hanya dosa karena telah melanggar syariat.

Menjelang akhir Ramadan, biasanya masjid-masjid atau lembaga tertentu, menerima penyaluran zakat; baik zakat fitrah maupun zakat mal. Zakat fithrah sendiri adalah zakat yang wajib dikeluarkan oleh seorang muslim di bulan Ramadan.

Zakat Fitrah

Secara bahasa zakat bermakna membersihkan dan menambahkan. Secara istilah, zakat adalah nama barang yang dikeluarkan dari harta yang dimiliki. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), zakat fitrah adalah zakat yang wajib diberikan oleh umat Islam setiap setahun sekali saat Idul Fitri, yang berupa makanan pokok sehari-hari seperti beras dan jagung.

Sejarah

Zakat fitrah baru disyariโ€™atakan di tahun ke-2 setelah Nabi Saw. Hijrah ke Madinah. Perintah untuk membayar zakat fitrah ini bersamaan dengan perintah puasa. Tak lama setelah perintah zakat fitrah, umat islam juga mendapat perintah diwajibkannya zakat harta (zakat mal). Perintah itu juga berisi kentuan jenis harta yang wajib dizakati serta kadar ukurannya.

Syarat wajib berzakat fitrah

Syarat sesorang wajib mengeluarkan zakat fitrah adalah:

1) Beragama Islam, tanpa ada batasan usia, gender ataupun status sosial.

2) Sudah masuk waktu Maghrib hari terakhir Ramadan.

3) Adanya kelebihan harta pada hari raya untuk dirinya, ataupun keluarga muslim yang wajib dinafkahinya.

Seseorang yang sudah berkeluarga dan mempunyai kelebihan harta untuk hari raya, juga berkewajiban membayarkan zakat orang-orang yang wajib dinafkahinya.

Orang yang berhak menerima zakat

Zakat tidak bisa diberikan ke sembarang orang. Dalam Al-Qurโ€™an sudah disebutkan tentang 8 golongan yang menerima zakat:

ุฅูู†ูŽู‘ู…ูŽุง ุงู„ุตูŽู‘ุฏูŽู‚ูŽุงุชู ู„ูู„ู’ููู‚ูŽุฑูŽุงุกู ูˆูŽุงู„ู’ู…ูŽุณูŽุงูƒููŠู†ู ูˆูŽุงู„ู’ุนูŽุงู…ูู„ููŠู†ูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูŽุง ูˆูŽุงู„ู’ู…ูุคูŽู„ูŽู‘ููŽุฉู ู‚ูู„ููˆุจูู‡ูู…ู’ ูˆูŽูููŠ ุงู„ุฑูู‘ู‚ูŽุงุจู ูˆูŽุงู„ู’ุบูŽุงุฑูู…ููŠู†ูŽ ูˆูŽูููŠ ุณูŽุจููŠู„ู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ูˆูŽุงุจู’ู†ู ุงู„ุณูŽู‘ุจููŠู„ู ููŽุฑููŠุถูŽุฉู‹ ู…ูู†ูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ูˆูŽุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุนูŽู„ููŠู…ูŒ ุญูŽูƒููŠู…ูŒย  [ุงู„ุชูˆุจุฉ: 60]

Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk (1) orang-orang fakir, (2) orang-orang miskin, (3) pengurus-pengurus zakat, (4) para mu’allaf yang dibujuk hatinya, (5) untuk (memerdekakan) budak, 6) orang-orang yang dililit hutang, 7) untuk jalan Allah dan 8) untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksanaโ€ (QS. At-Taubah: 60).

Ukuran Zakat Fitrah

Besar zakat fitrah untuk satu orang adalah satu shoโ€™makanan pokok yang umumnya dikonsumsi di daerah orang yang menunaikan zakat. dikonversikan menjadi 2,7 kg. Di Indonesia, beras merupakan makanan pokok sebagian besar penduduknya. Sehingga lumrtahnya beras adalah makanan pokok yang dikeluarkan sebagai zakat. Nilai zakat jika dirupiahkan kira-kira Rp. 30.000, atau Rp. 35.000, sesuai kualitas berasnya.

Waktu Menunaikan Zakat Fitrah

Ada beberapa waktu pelaksanaan zakat terdapat lima jumlahnya.

  1. Waktu yang diperbolehkan (jawaz) adalah berlaku sejak bulan Ramadan tiba.
  2. Waktu yang penuh keutamaan (fadhilah) adalah sebelum keluar menuju sholat Id hari raya.
  3. Waktu wajib berlaku setelah buka puasa terakhir di malam hari raya.
  4. Waktu makruh (dibenci atau tidak dianjurkan) berlaku dengan mengakhirkan zakat setelah sholat Id, kecuali karena adanya udzur. Dan
  5. waktu haram berlaku dengan mengakhirkan pada hari raya tersebut.

Niat memberi dan menerima zakat

Berikut niat ketika menyerahkan harta zakat fitrah, meliputi untuk:

1. diri sendiri

ู†ูŽูˆูŽูŠู’ุชู ุฃูŽู†ู’ ุฃูุฎู’ุฑูุฌูŽ ุฒูŽูƒูŽุงุฉูŽ ุงู„ู’ููุทู’ุฑู ุนูŽู†ู’ ู†ูŽูู’ุณููŠู’ ููŽุฑู’ุถู‹ุง ู„ูู„ูŽู‘ู‡ู ุชูŽุนูŽุงู„ูŽู‰

2. istri

ู†ูŽูˆูŽูŠู’ุชู ุฃูŽู†ู’ ุฃูุฎู’ุฑูุฌูŽ ุฒูŽูƒูŽุงุฉูŽ ุงู„ู’ููุทู’ุฑู ุนูŽู†ู’ ุฒูŽูˆู’ุฌูŽุชููŠู’ ููŽุฑู’ุถู‹ุง ู„ูู„ูŽู‘ู‡ู ุชูŽุนูŽุงู„ูŽู‰

3. anak laki-lakiku

ู†ูŽูˆูŽูŠู’ุชู ุฃูŽู†ู’ ุฃูุฎู’ุฑูุฌูŽ ุฒูŽูƒูŽุงุฉูŽ ุงู„ู’ููุทู’ุฑู ุนูŽู†ู’ ูˆูŽู„ูŽุฏููŠู’ ููŽุฑู’ุถู‹ุง ู„ูู„ูŽู‘ู‡ู ุชูŽุนูŽุงู„ูŽู‰

4. anak perempuanku

ู†ูŽูˆูŽูŠู’ุชู ุฃูŽู†ู’ ุฃูุฎู’ุฑูุฌูŽ ุฒูŽูƒูŽุงุฉูŽ ุงู„ู’ููุทู’ุฑู ุนูŽู†ู’ ุจูู†ู’ุชููŠู’ ููŽุฑู’ุถู‹ุง ู„ูู„ูŽู‘ู‡ู ุชูŽุนูŽุงู„ูŽู‰

5. orang yang nafkahnya menjadi kewajibanku.

ู†ูŽูˆูŽูŠู’ุชู ุฃูŽู†ู’ ุฃูุฎู’ุฑูุฌูŽ ุฒูŽูƒูŽุงุฉูŽ ุงู„ู’ููุทู’ุฑู ุนูŽู†ูู‘ูŠู’ ูˆูŽุนูŽู†ู’ ุฌูŽู…ููŠู’ุนู ู…ูŽุง ูŠูŽู„ู’ุฒูŽู…ูŽู†ููŠู’ ู†ูŽููŽู‚ูŽุงุชูู‡ูู…ู’ ุดูŽุฑู’ุนู‹ุง ููŽุฑู’ุถู‹ุง ู„ูู„ูŽู‘ู‡ู ุชูŽุนูŽุงู„ูŽู‰

Sementara itu bagi penerima zakat fitrah, berikut doa yang dibaca:

ุงูŽุฌูŽุฑูŽูƒูŽ ุงู„ู„ู‡ู ูููŠู’ู…ูŽุง ุฃูŽุนู’ุทูŽูŠู’ุชูŽ ูˆูŽุจูŽุงุฑูŽูƒูŽ ูููŠู’ู…ูŽุง ุฃูŽุจู’ู‚ูŽูŠู’ุชูŽ ูˆูŽุฌูŽุนูŽู„ูŽู‡ู ู„ูŽูƒูŽ ุทูŽู‡ููˆู’ุฑู‹ุง

โ€œSemoga Allah memberikan pahala atas apa yang engkau berikan dan semoga Allah memberikan berkah atas harta yang kau simpan dan menjadikannya pembersih bagimuโ€.

Perlu menjadi catatan bahwa melafalkan niat (talaffudz) tidak diwajibkan. Begitu juga penggunaan redaksi niatnya dalam bahasa Arab. Seseorang boleh berniat dengan bahasanya masing-masing, sebab hanya sebagai sarana untuk memantapkan niat. Yang terpenting adalah terbersit dalam hati keinginan bersengaja untuk menunaikan zakat fitrah.

Tujuan Zakat

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa โ€˜diterimanya amal puasa adalah bergantung pada dikeluarkannya zakat fitrahโ€™. Zakat fitrah mampu mengangkat derajat puasa, sebagaimana sholawat mampu mengangkat doโ€™a.

Guru dari Imam Syafiโ€™i, Syaikh Wakiโ€™ bin Al-Jarah memiliki pandangan tersendiri tentang zakat fitrah sebagaimana disebutkan dalam Al-Fiqh al-Islami wa adillatuh:

ุฒูŽูƒูŽุงุฉู ุงู„ู’ููุทู’ุฑู ู„ูุดูŽู‡ู’ุฑู ุฑูŽู…ูŽุถูŽุงู†ูŽ ูƒูŽุณูŽุฌู’ุฏูŽุฉู ุงู„ุณูŽู‘ู‡ู’ูˆู ู„ูู„ุตูŽู‘ู„ูŽุงุฉูุŒ ุชูŽุฌู’ุจูุฑู ู†ูู‚ู’ุตูŽุงู†ูŽ ุงู„ุตูŽู‘ูˆู’ู…ูุŒ ูƒูŽู…ูŽุง ูŠูŽุฌู’ุจูุฑู ุงู„ุณูู‘ุฌููˆู’ุฏู ู†ูู‚ู’ุตูŽุงู†ูŽ ุงู„ุตูŽู‘ู„ูŽุงุฉู

โ€œZakat fitrah terhadap bulan Ramadan memiliki posisi sebagaimana sujud sahwi dalam sholat, yang โ€“dikerjakan- guna menambali kekurangan dan cacat dalam puasa seperti halnya sujud sahwi yang menyempurnakan kembali kekurangan dalam sholatโ€.

Praktiknya zakat bukan hanya ibadah kepada Allah Swt., dalam zakat juga ada kepedulian sosial. Dengan menyisihkan sedikit dari harta kita ke dalam zakat, maka kita telah turut menebarkan kebaikan kepada orang-orang yang membutuhkan.

Di hari idul fitri – yang lazimnya disebut hari kemenangan, dan penuh kebahagiaan – zakat-zakat kita besar kemungkinan adalah sumber kabahagiaan mereka yang sedang kekurang di hari itu. Semoga puasa, zakat, sedekah, ifak dan segala bentu ibadah kita diterima semuanya oleh Allah Swt. Aamiin aamiin yaa Rabbal โ€˜alamiin.

ย 

Referensi:

Wahbah Zuhayli, Al-Fiqh al-Islami wa adillatuh 3

Zainudin al-Malibari, Fathu al-Muโ€™in

Yusuf Qaradawi, Fiqh al-Zakat

Abu Syujaโ€™, Matn al-Taqrib

Ibnul Qasim al-Ghazi, Fathu al-Qarib