Mikiri Kanjeng Nabi

Silahkan share

Di dalam Kitab Qowaidul Asasiyah (Kaidah Dasar) fi Ilmu Hadits, Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki mengutip salah satu hadits tentang motivasi mempelajari ilmu hadits. Di sana, beliau mengutip sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Tirmidzi, Ibnu Hiban dan Baihaqi

إنَّ أولى النَّاسِ بي يَومَ القيامةِ أَكْثرُهُم عليَّ صلاةً

“Sungguh manusia yang paling utama kepadaku pada hari kiamat adalah yang paling banyak sholawatnya”

Hadits ini mengabarkan bahwa orang yang paling istimewa di sisi Rasulullah SAW, si paling dekat dengan beliau dan si paling berhak atas syafaat Rasulullah SAW, adalah orang yang paling banyak bersholawat kepadanya.

Memperbanyak Sholawat Kepada Kanjeng Nabi

Banyak bersholawat yang dimaksud di sini adalah banyak berdzikir mengingatnya. Batas banyaknya adalah memperbanyak bacaan sholawat dari pada mengingat hal lainnya selama sehari semalamnya. Dan menurut Sayyid Muhammad Al-Maliki, membaca hadits dan mempelajari ilmu hadits adalah bagian dari pada memperbanyak mengingat Rasulullah SAW.

Bersholawat, sebagaimana dalam QS. Al-Ahzab ayat 56, adalah bagian ibadah yang Allah SWT perintahkan dan Allah SWT juga melakukannya. Dan sekali lagi, memperbanyak sholawat adalah bukti cinta dan termasuk kesempurnaan hubungan dengan Rasulullah SAW. Kedudukan seseorang di akhirat adalah berdasar tingkatannya dalam bersholawat.

Bersholawat yang dimaksud di sini adalah berdzikir mengingat Rasulullah SAW. Yang perlu digaris bawahi adalah bersholawat yang ada ingat Rasulullah SAW di dalamnya. Bukan hanya membaca sholawat di lisan saja.

Baca Juga  Pemberitahuan Pembayaran Syahriyah

Mengingat-ingat bahwa Rasulullah SAW adalah sosok yang daimul hazn, senanti dalam kesedihan. Bahwa Rasulullah SAW adalah sosok yang hidupnya dipenuhi keprihatinan, bahkan sejak masa kecilnya. Rasulullah SAW adalah si paling berpengalaman tentang kesedihan.

Kita tidak pernah tahu apa yang terjadi di balik Rasulullah SAW mengganjal perutnya dengan batu untuk menghilangkan rasa laparnya. Yang sama-sama kita tahu, Rasulullah SAW adalah pribadi yang welas. Bisa jadi beliau lupa atau tidak tega menanyakan jatah makan beliau kepada istrinya. Akhirnya, beliau menghabiskan hari-harinya tanpa ada makanan masuk ke dalam perutnya.

Beliau Rasulullah SAW adalah orang yang tidak tegaan. Hati beliau rapuh untuk berbuat keras terhadap orang lain. Beliau orang yang lembut dan mudah tersentuh dengan keadaan sekitar. Meski itu kepada orang yang membenci dan memusuhinya.

Kasih Sayang Kanjeng Nabi

Dalam kamus hidupnya, Rasulullah SAW tidak sekalipun melakukan sesuatu, kecuali dilandasi rahmah di dalamnya. Sama sekali tidak ada tujuan memenuhi kebutuhan dan kepentingan dirinya sendiri. Beliau tidak bisa marah kepada orang. Ucapannya lembut dan penuh kasih sayang.

Dalam sebuah riwayat dikatakan Rasulullah SAW pulang sudah terlarut malam. Beliau tidak berani mengetuk pintu karena takut mengganggu istrinya yang sudah tidur. Sementara itu di dalam rumah, Sayyidah Aisyah sedang menunggu kedatangan suaminya. Beliau Sayyidah Aisyah menunggu di depan pintu, bersiap kapan saja pintu diketuk oleh Rasulullah SAW, hingga membuatnya terkantuk dan tidur di depan pintu dalam rumah. Di lain sisi, Rasulullah SAW juga menunggu di depan pintu dan akhirnya memutuskan untuk tidur di sana.

Baca Juga  Klasifikasi Ilmu Syariat Perspektif Kyai Asrori: Menyatukan Zahir dan Batin

Catat, Rasulullah SAW tidak mampu mengganggu istrinya. Beliau adalah contoh sebaik-baiknya pribadi pemimpin kepala keluarga. Tidak heran jika kemudian Rasulullah SAW -sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat Tirmidzi- mengaku:

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِى

“Sebaik-baik kalian adalah (suami) yang paling baik terhadap keluarganya dan aku adalah yang paling baik terhadap keluargaku.”

Beliau bukan hanya jago memimpin agama dan negara, melainkan juga memimpin keluarganya. Beliau sibuk dengan urusan di luar rumah, tapi tidak meninggalkan kewajiban sebagai suami bagi istri dan ayah yang baik bagi putra-putrinya.

Beliau senantiasa mesra, komunikatif dan humoris dalam berkomunikasi. Beliau orang yang tidak pernah mengecewakan orang yang diajak dan mengajaknya bicara. Beliau akan menampakkan wajah tersenyum dan menghadapkan badan sepenuhnya kepada lawan bicaranya.

Selain dalam bersosial kepada manusia lainnya, Rasulullah SAW adalah pimpinan agama. Beliau penyampai risalah Islam ke alam semesta. Bukan rahasia bahwa Rasulullah SAW adalah orang yang banyak menghabiskan waktunya untuk beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Ibadahnya Kanjeng Nabi

Beliau adalah sebaik-baiknya contoh dan tauladan dalam ibadah, meski telah dijamin surga. Tak lain adalah sebagai pelajaran untuk umatnya. Dalam petikan Maulid Fii Hubby disebutkan:

Baca Juga  Anjuran Bersegera Berbuka Puasa dan Do’a Berbuka Puasa

أَحْيَا الدُّجَى زَمَنًا مُحَمَّدُ   حَتَّى اشْتَكَتْ قَدَمٌ مُوَرَّمٌ

Beliau Rasulullah SAW senantiasa menghidupkan malamnya sepanjang masa, sehingga kedua kakinya menjadi bengkak

Membayangkan dan memikirkan Rasulullah SAW adalah membayangkan sosok sempurnah dengan indah perangainya. Beliau istimewa tanpa cela. Kitab Syamail Muhammadiyah karya Imam Tirmidzi menjelaskan sosoknya. Imam Ad-Diba’y menyebutkan indah sejarahnya. Demikian pula Simtud Durar, Ad-Diya’ul Lami’ dan banyak kitab maulid tentang Rasulullah SAW lainnya.

فَإنَّ فَضْلَ رَسُولِ اللَّهِ لَيْسَ لَهُ ۞ حَدٌّ فَيُعْرِبُ عَنْهُ نَاطِقٌ بِفَمِ

“Sesungguhnya keutamaan Rasulullah itu tiada batasnya, sehingga lisan kesulitan menguraikannya”.

Bagaimana bisa kita mampu paham dan memahami tentang Rasulullah SAW, sementara kita tidak mampu mengenalnya, atau minimal dengan membayangkannya berdasarkan kisah sirah dan maulid-maulid tentang Rasulullah SAW. “Bagaimana mau bermimpi –apalagi berjumpa- Kanjeng Nabi, jika tidak pernah mikiri Kanjeng Nabi” demikian dawuh Hadratusy Syaikh Romo KH. Ahmad Asrori Al-Ishaqi.