AlFithrah

Kunjungan Rombongan Masjid Ar Raudhah Malaysia ke Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya

Pada hari Senin, 13 April 2026, Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah menerima kunjungan istimewa dari rombongan jamaah asal Malaysia. Kegiatan ini menjadi momentum penting dalam mempererat ukhuwah Islamiyah lintas negara sekaligus memperkuat nilai silaturahim antar lembaga keagamaan.

Rombongan dari Masjid Ar Raudhah Kelantan

Rombongan yang dipimpin oleh Asep Saepudin, pengurus perjalanan wisata religi dari Jakarta, membawa sebanyak 45 peserta yang berasal dari Masjid Ar Raudhah Lundang Kota Bharu Kelantan Malaysia. Adapun komposisi peserta terdiri dari 30 jamaah putra dan 15 jamaah putri.

Kunjungan ini bertujuan untuk belajar langsung dari sistem pendidikan pesantren, serta mengambil nilai-nilai positif yang dapat diterapkan di lingkungan mereka di Malaysia.

Waktu dan Tempat Pelaksanaan

Kegiatan dilaksanakan pada hari Senin, 13 April 2026 mulai pukul 13.00 – 14.00 WIB, bertempat di Pendopo Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya.

Acara berlangsung dengan khidmat dan penuh kehangatan, dengan susunan kegiatan dibuka dengan Tawasul dan Istighosah oleh Ust. Ilyas Rahman, S.Ud dilanjutkan Sambutan Pengurus Pondok oleh Ust. Dr. Fathur Rozi, M.H.I.

Sambutan Tamu disampaikan oleh Ust. Saibon yang dilanjutkan dengan Sesi Tanya Jawab serta diakhiri Penutup dan Doa oleh Ust. Mustaqim, M.Fil.I.

Silaturahim Ke Jawa

Rombongan dari Masjid Ar Raudhah Lundang Kota Bharu Kelantan Malaysia ini menempuh perjalanan selama 11 hari sejak 11 hingga 22 April 2026 dengan tema kegiatan “Jelajah Jawa”. Semoga perjalanan silaturrahmi mereka mendapatkan kemudahan rezeki, kesehatan dan panjang umur, sebagaimana janji Rasulullah SAW:

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

“Barang siapa ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung silaturahmi.” (HR. Sahih Bukhari No. 5986 dan HR. Sahih Muslim No. 2557)

Kunjungan ini juga diharapkan dapat menjadi jembatan kolaborasi antar pesantren dan lembaga Islam di Asia Tenggara, serta memperkuat semangat berbagi ilmu, pengalaman, dan nilai-nilai keislaman.

Pelajaran dari Apel Kanjeng Syaikh

Kanjeng Syaikh adalah julukan daripada Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani. Beliau adalah sosok ulama yang namanya tidak asing di telinga umat Islam Nusantara. Kisah tentangnya dibaca berulang melalui kegiatan majlis manaqib yang menceritakan kisah hidupnya.

Di antara kitab manaqib Kanjeng Syaikh yang tersebar luas di Indonesia adalah Kitab Al-Lujayn al-Dani karya Syaikh Abdul Karim Al-Barzanjy yang juga merupakan penulis kitab Maulid Al-Barzanjy.

Kitab Al-Lujayn Al-Dani ini kemudian dihimpun oleh Hadratusy Syaikh KH. Ahmad Asrori Al-Ishaqy ke dalam satu kitab yang berisikan runtutan Tawasul, Istighotsah, Yasin, Manaqib, Tahlil, Nasyid dan doa-doa yang biasa diamalkan oleh para Pengikut Tarekat Qodiriyah wan Naqsyabandiyah Al-Utsmaniyah.

Di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya, kegiatan manaqib diselenggarakan setiap Ahad Awal atau Ahad malam pertama bulan hijriyah. Ada kisah menarik tentang apel Kanjeng Syaikh. Berikut kisah lengkapnya.

Khalifah sowan Kanjeng Syaikh

Khalifah Abul Mudhoffar Yusuf (lahir 549 H / 1154 M.) adalah seorang keturunan raja yang hidup semasa dengan Kenjeng Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani (w. 561 H / 1166 M).

Beliau dikhabarkan sering sowan kepada Kanjeng Syaikh. Bukan jarang, beliau memaksa menunggu meskipun Kanjeng Syaikh tidak berkenan menemuinya. Dalam kunjungannya itu, Khalifah Abul Mudhoffar sering membawa buah tangan untuk diberikan kepada Kanjeng Syaikh.

أُرِيدُ شَيْاً مِنَ الْكَرَامَاتِ لِيَطْمَئِنَّ قَلْبِي

“Saya menginginkan karomah yang memenangkan hatiku” ungkap Khalifah Abul Mudhoffar.

“Apa yang kamu kehendaki” tanya Kanjeng Syaikh memperjelas.

Apel Keramat

تُفَاحًا مِنَ الغَيْبِ وَلَمْ يَكُنْ أَوَّانُهُ بِالْعِرَاقِ

“Sebuah apel dari alam gaib yang bentuknya tidak ada Irak” mantap Abul Mudhoffar.

Kanjeng Syaikh pun mengangkat tangannya ke langit dan tiba-tiba ada dua apel dalam genggamannya.

Kanjeng Syaikh pun memberikan salah satunya kepada Abul Mudhoffar.

Kanjeng Syaikh membelah apelnya dan ternampak putih bersih serta mengeluarkan bau misk apel tersebut. Abul Mudhoffar membelah apel di tangannya dan tampak busuk dipenuhi ulat.

يَا أَبَا الْمُطَفِّرِ هَذِهِ لَمَسَتْهَا يَدُ الظَّالِمِ فَدَوَّدَتْ كَمَا تَرَى وَهْذِهِ لَمَسَتْهَا يَدُ الْوِلَايَةِ فَطَابَتْ

“Yaa Abul Mudhoffar. Demikianlah apel yang dipegang oleh orang dalim, maka berulat sebagaimana Engkau lihat. Sedang apel yang ada di tangan kewalian ‘yadul wilayah’ akan menjadi bersih dan baik” jelas Kanjeng Syaikh.

Kesimpulan

Pisau di tangan orang yang baik akan menjadi peralatan pemenuhan kebutuhan yang kaya akan kemanfaatan.

Sebaliknya, pisau di tangan orang jahat akan mendatangkan kerugian dan mudarat. Wakadzalika al-waqtu

الوَقْتُ كَالسَّيْفِ إِنْ لَمْ تَقْطَعْهُ قَطَعَكَ

Waktu adalah seperti pisau. Jika kamu tidak menggunakannya untuk memotong, ia yang akan memotong mu.

Ada beberapa nama khalifah (raja) yang pernah semasa dengan Kanjeng Syaikh. Sebut ada Al-Muqtafi, memerintah: 530–555 H dan Al-Mustanjid, memerintah: 555–566 H. Tapi keduanya tidak meyakinkan sebagai objek cerita dalam kisah di atas, mengingat di akhir cerita Kanjeng Syaikh menyebut nama Yaa Abul Mudhoffar.

Kebaikan itu cahaya. Ia menyinari dan membuat bahagia sekitarnya.

Sebaliknya, kezaliman adalah kegelapan. Setiap apa yang ada di tangan kezaliman akan menjadi keburukan yang mematikan.

أَسْئَلُكَ بِجَاهِ الْجُدُودِ * وَالِي يُقِيمُ الْحُدُودَ

فِيْنَا وَيَكْفِي الْحَسُوْدَ * وَيَدْفَعُ الظَّالِمِينَ

As`aluka bijâhil-judûd(i) wâlî yuqîmul-hudûd(a)

Fînâ fayakfil-hasûd(a) wa yadfa’udh-dhâlimîn(a)

Kepada-Mu aku memohon dengan sunguh seorang pemimpin yang menegakkan batas-batas Di tengah kami, batas-batas yang mencegah orang-orang dengki dan membasmi orang-orang zalim.

Aamiin

Halal Bihalal Santri dan Asatidz Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah: Mengawali Hari Baik dengan Keberkahan Ilmu

Surabaya, 1 April 2026 — Setelah menikmati liburan selama satu bulan penuh di rumah masing-masing pada bulan Ramadhan dan Idul Fitri, para santri akhirnya kembali ke Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya pada Senin-Selasa, 30-31 Maret 2026. Hari ini mereka mengikuti kegiatan Halal Bihalal bersama seluruh jajaran Asatidz-asatidzah Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah. Momentum ini menjadi awal yang penuh keberkahan untuk memulai kembali perjalanan menuntut ilmu di tahun pelajaran berikutnya.

Mengawali Kegiatan di Hari Rabu: Hari yang Diberkahi dalam Tradisi Keilmuan

Dalam tradisi pesantren, pemilihan hari bukan sekadar kebiasaan, tetapi sarat nilai. Hari Rabu adalah hari baik untuk memulai suatu pekerjaan, sebagaimana disebutkan dalam Kitab Ta’limul Muta’allim:

مَا مِنْ شَيْئٍ بُدِئَ يَوْمَ الْأَرْبِعَاءِ إِلَّا وَقَدْ تَمَّ

“Tiada sesuatu yang dimulai pada hari Rabu kecuali akan selesai dengan sempurna.”

Tradisi keberkahan ini menjadi alasan mengapa kegiatan halal bihalal ini digelar pada hari Rabu, 1 April 2026, dengan harapan seluruh aktivitas pendidikan di tahun ini berjalan lancar dan paripurna.

Acara halal bihalal dimulai pukul 07.30 WIB, dibuka dengan rangkaian wadhifah yang dipimpin oleh jajaran asatidz sesepuh Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah. Tawasul oleh Ust. H. Khoirudin, S.Ud, Istighotsah oleh Ust. H. Moh. Sholeh, S.Ud, Maulid fi Hubby oleh Ust. H. Hadori, S.Ud, Doa fi Hubby oleh Ust. H. Lukman Bahrowi, S.Ud dan Ilahi Ya Karim oleh Ust. H. Ali, S.Ud.

Rangkaian ini menjadi penguat spiritual bagi seluruh santri sebelum memasuki masa belajar berikutnya.

Sambutan Kepala Pondok: Aturan untuk Mengawal Kesuksesan

Dalam sambutannya, Ust. Nashirudin, M.Pd selaku kepala pondok menyampaikan selamat datang kepada seluruh santri setelah masa liburan. Beliau juga memberikan apresiasi atas ketaatan santri terhadap aturan-aturan pondok.

“Aturan-aturan pondok itu dibuat untuk mengawal kita agar menjadi pribadi yang baik,” jelas Ust. Nashir.

Beliau juga menyampaikan permohonan maaf atas segala kekurangan yang terjadi selama ini, disertai doa:

جَعَلَنَا اللهُ وَإِيَّاكُمْ مِنَ الْعَائِدِيْنَ وَالْفَائِزِيْنَ وَالْمَقْبُوْلِيْنَ كُلُّ عَامٍ وَأَنْتُمْ بِخَيْرٍ

Semoga Allah menjadikan kami dan kalian semua termasuk golongan orang-orang yang kembali fitrah, orang-orang yang bahagia, diterima amal ibadahnya. Setiap tahun dalam keadaan baik.

Nasihat Sesepuh Pondok: Mondok Ibarat Menanam

Arahan dan nasihat kemudian disampaikan oleh sesepuh dan penasehat pondok, diwakili oleh Ust. H. Khoirudin, S.Ud. Beliau mengingatkan pentingnya kesabaran dan konsistensi dalam menuntut ilmu.

Beliau mengutip dawuh Hadratusy Syaikh KH. Ahmad Asrori Al-Ishaqi:

“Tolong sampaikan ke santri-santri. Wong mondok iku podo karo nandur.”

(Menjadi santri itu seperti menanam—butuh kesabaran hingga berbuah.)

Beliau juga menegaskan salah satu kunci sukses belajar yang tercantum dalam Ta’limul Muta’allim, yaitu irsyadu ustadz—mendapatkan bimbingan dan doa dari guru, bukan sekadar menerima pelajaran.

Penutup dengan Doa dan Mushafahah

Acara ditutup dengan doa bihaqqil Fatihah oleh Ust. Mustaqim, M.Fil.I. Setelah itu seluruh santri — baik putra maupun putri — melakukan mushafahah dengan para asatidz.

Kegiatan halal bihalal diikuti oleh seluruh unit pendidikan santri mukim di bawah naungan Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah. Meliputi PDF Wustha Al Fithrah, PDF Ulya Al Fithrah, Ma’had Aly Al Fithrah dan MDTJ Al Fithrah Surabaya

Halal bihalal sendiri identik dengan saling memaafkan dan bersalaman (mushafahah). Dalam sebuah hadis riwayat Abu Dawud disebutkan:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَلْتَقِيَانِ فَيَتَصَافَحَانِ إلاَّ غُفِرَ لَهُمَا قَبْلَ أنْ يَتَفَرَّقَا

“Tidaklah dua orang muslim bertemu lalu saling bersalaman, kecuali dosa-dosa keduanya diampuni sebelum mereka berpisah.”

Hadis ini menjadi dasar kuatnya tradisi mushafahah di lingkungan pesantren.

Kegiatan halal bihalal ini bukan sekadar formalitas tahunan, tetapi momentum menguatkan ukhuwah, membersihkan hati, dan memulai ikhtiar menuntut ilmu dengan semangat baru. Semoga seluruh aktivitas pendidikan di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah pada tahun ini senantiasa diberkahi dan disempurnakan oleh Allah SWT.

Rapat Koordinasi Guru PDF Ulya Al Fithrah: Menguatkan Tafaqqquh Fiddin dan Penyesuaian Kurikulum

Dalam rangka mengawali kembali kegiatan belajar mengajar pasca liburan Idul Fitri serta menyambut perubahan kalender pendidikan dari Hijriyah ke Masehi, Pendidikan Diniyah Formal (PDF) Ulya Al Fithrah Surabaya menggelar rapat koordinasi bagi seluruh ustadz dan ustadzah pada Selasa, 31 Maret 2026 bertempat di Pendopo.

Kegiatan ini menjadi momentum penting bagi lembaga dalam memperkuat kembali komitmen mencetak generasi tafaqquh fiddin, yaitu para pelajar yang mendalami ilmu agama secara utuh, mendalam, dan berkelanjutan. Dengan perubahan kalender dan dinamika pembelajaran modern, diperlukan penyusunan ulang strategi pembelajaran agar tetap selaras dengan visi pendidikan pesantren.

Acara dibuka dengan bacaan tawassul Al-Fatihah, dilanjutkan istighotsah dan Sholawat Fi Hubbi, sebagai bentuk permohonan keberkahan kepada Allah SWT agar rapat berjalan lancar dan membawa maslahat bagi lembaga. Dalam sesi ini dipandu beberapa asatidz sepuh. Tampak hadir Ust. Dr. H. Abdur Rosyid, M.Fil.I, Ust. H. Zainul Arif, S.Ud, Ust. H. Moh. Sholeh, S.Ud, Ust. H. Khoirudin, S.Ud, Ust. H. Ridwan, S.Ud dan asatid lainnya.

Apresiasi atas dedikasi

Dalam sambutannya, Kepala Pendidikan Diniyah Formal Ulya Al Fithrah, H. Nasiruddin, S.Pd., M.M., menekankan pentingnya ketepatan administrasi melalui sosialisasi jurnal mengajar dan absensi, serta perlunya menyesuaikan materi ajar dengan kalender pendidikan baru. Ini menjadi bagian dari peningkatan kualitas layanan pendidikan sekaligus bagian dari upaya menjaga kesinambungan belajar santri.

“Berdasarkan hasil penilaian assesor kemarin, kita (PDF Ulya Al Fithrah, red.) sudah mendapatkan nilai akreditasi A. Tapi ada satu yang kurang, berdasarkan saran yang disampaikan oleh salah seorang assesor yang merupakan dzurriyah Pondok Lirboyo, yaitu jurnal (mengajar)” jelas Ust. Nashir.

Dalam suasana masih bulan Syawal itu beliau juga tak lupa memohon maaf atas segala kurang dalam memberikan pelayanan.

“Kami juga menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada panjenengan semua atas dedikasinya dalam membersamai dan mengajar para santri semuanya” lanjut beliau.

Penyesuaian Materi Ajar

Agenda utama rapat kali ini adalah musyawarah materi ajar setiap mata pelajaran seiring perubahan kalender pendidikan. Dalan hal ini diisi dengan pengarahan dari Waka Kurikulum, Ust. Dzulfikar Nasrullah, S.Ud.

“Tahun ini santri kelas XII sudah tidak lagi kembali (karena sudah dinyatakan lulus), sehingga perlu adanya penyesuian terhadap kegiatan belajar mengajar” terang Ustadz Dzul.

Dalam kesempatan ini beliau juga memandu diskusi kelompok guru sesuai rumpun mata pelajaran yang fokus pembahasannya pada dua hal penting:

1. Penyesuaian materi ajar sesuai kalender Masehi

2. Pengaturan ulang waktu dan alokasi pembelajaran

Para pendidik diminta membawa kitab mata pelajaran untuk jenjang Isti’dad, kelas X, dan kelas XI agar proses musyawarah berjalan efektif dan terarah.

Mengawal Proses Tafaqquh fiddin

Melalui forum musyawarah tersebut, diharapkan tersusun langkah-langkah strategis yang mampu memperkuat proses pembelajaran, khususnya yang berorientasi pada pendalaman ilmu agama. Dengan demikian, setiap guru memiliki peran penting dalam menjaga ruh pendidikan pesantren, yaitu membentuk santri yang memahami agama secara menyeluruh (tafaqquh fiddin) sekaligus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Sebagai bentuk apresiasi, seluruh ustadz dan ustadzah yang hadir tepat waktu dan mengikuti acara hingga selesai akan memperoleh fasilitas transport dari panitia. Hal ini merupakan wujud penghargaan atas dedikasi dan partisipasi aktif tenaga pendidik dalam memajukan lembaga.

Acara ditutup dengan penyampaian hasil diskusi dan doa bersama, dipimpin oleh MC. Semoga seluruh rangkaian musyawarah ini membawa keberkahan dan menjadi langkah maju dalam meningkatkan mutu pendidikan di PDF Ulya Al Fithrah.

Menggapai Lailatul Qodar di Majlis Sholat Malam 27 Ramadhan

Bulan Ramadhan tidak lama lagi akan berpamitan. Gegap gempita ibadah di dalamnya akan kita rindukan. Yaa semestinya itu yang perlu kita hidupkan di bulan-bulan Ramadhan.

Di antara ‘hadiah besar’ yang ada di bulan Ramadhan adalah Lailatul Qodar. Malam Lailatul Qodar adalah modal yang sangat besar. Keistimewaannya yang berlipat ganda membuat semua hati ingin mengejar. Apakah semua orang berhak untuk mendapatkan keutamaan Lailatul Qodar?

Tanda-tanda Lailatul Qodar

Lailatul Qodar memiliki tanda-tanda yang bisa dirasakan oleh banyak orang. Tanda-tanda ini meliputi tanda-tanda alam dan tanda-tanda rasa.

Tanda-tanda alam Lailatul Qodar di antaranya adalah pada malam itu tidak terasa panas dan tidak pula dingin. Malam itu nyaman dan tenteram sekali. Pada pagi harinya, matahari terbit dan sinar sorot dan hanya menampakkan kuningnya selayaknya kuning telur.

Pada malam itu juga tidak terdengar gonggongan anjing. Atau maknanya adalah tidak terdengar suara yang tidak Allah ridai pada malam Lailatul Qodar.

Tanda-tanda rasa Lailatul Qodar bisa dirasakan oleh orang yang mendapatkannya. Pada malam itu hati terasa mudah tersentuh. Muncul perasaan rendah diri dan merasa banyak kesalahan dan dosa yang dilakukan.

Yang muncul hanyalah rasa tunduk. Hingga kemudian keluar air mata. Pada waktu itulah bertepatan dengan disalami oleh Malaikat Jibril.

Kapan Lailatul Qodar?

Para ulama berselisih tentang kapan Lailatul Qodar. Tak lain sebab Allah merahasiakan kapan Lailatul Qodar.

Ada banyak riwayat yang menyatakan bahwa para sahabat dan ulama salaf yang mengalami Lailatul Qodar di tanggal yang berbeda-beda.

Dari banyaknya pengalaman para sahabat didapati bahwa mereka ‘menemukan’ Lailatul Qodar pada malam 27 Ramadhan (pitulikur). Hal ini yang kemudian melandasi kegiatan Majlis Dzikir dan Sholat Malam di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya dilaksanan setiap malam 27 Ramadhan atau Pitulikuran. Tentu dengan tidak melupakan pelaksanaan dzikir dan sholat malam setiap malam selama bulan Ramadhan.

Berikut doa munajat yang biasa dibaca ketika Majlis Sholat Malam 27 Ramadhan di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya.

مُوَدَّعْ مُوَدَّعْ يَا رَمَضَانَ # عَوْدَةً عَلَيْنَا بِالْغُفْرَانِ

حُوَيْدِي أَعِدْ لِي يَا رَمَضَانُ # حَدِيْثُ الْحَبَائِبُ يَا رَمَضَانُ

وَمَا حَالَ مِنْهُمْ يَا رَمَضَانُ # عَنِ الْعَيْنِ غَائِبُ يَا رَمَضَانُ

جَمِيْلُ الْمُحَيَّا يَا رَمَضَانُ # جَعِيْدُ أَمْ ذَوَائِبْ يَا رَمَضَانُ

رَعَا اللهُ لَيَالِي يَا رَمَضَانُ # حُظِيْنَا بِوَصْلِهُ يَا رَمَضَانُ

وَطَابَ اتَّصَالِي يَا رَمَضَانُ # بِعَلَّهُ وَنَهْلِهْ يَا رَمَضَانٌ

فَيَا ذَا الْجَلَالِ يَا رَمَضَانُ # لُفْ شَمْلِي بِشَمْلِهُ يَا رَمَضَانُ

فَقَلْبِي مِنَ الْبُعْدِ يَا رَمَضَانُ # وَالْهَجْرُ ذَائِبْ يَا رَمَضَانُ

أَنَا سَأَتْرُكِ الْهَمَّ يَا رَمَضَانُ # وَوَاصِلْ سُرُورِي يَا رَمَضَانُ

وَشَادْخُلْ وَشَازْحَمْ يَا رَمَضَانُ # بِقَلْبٍ جَشُوْرِي يَا رَمَضَانُ

وَلِي رَبِّ يَعْلَمْ يَا رَمَضَانُ # بِخَافِي أُمُوْرِي يَا رَمَضَانُ

أَرَى اللَّوْمَ عِنْدِي يَا رَمَضَانُ # خَطَأً غَيْرُ صَائِبْ يَا رَمَضَانْ

أَنَا مُسْتَجِيْرُ بَالُ يَا رَمَضَانُ # جَمَالُ الْمُكَمَّلْ يَا رَمَضَانُ

وَمَنْ فِي النَّبِيِّينَ يَا رَمَضَانُ # أَفْضَلْ وَأَكْمَلْ يَا رَمَضَانُ

أَبُو الْقَاسِمْ أَحْمَدْ يَا رَمَضَانُ # لَنَا خَيْرُ مُرْسَلٌ يَا رَمَضَانُ

بِهِ تَنْقَضِيْ لِي يَا رَمَضَانُ # جَمِيعُ الْمَطَالِبُ يَا رَمَضَانُ

وَمَنْ كَانَ جَدُّهُ يَا رَمَضَانَ # مُحَمَّد تَبَجَّحْ يَا رَمَضَانْ

فَفِي كُلِّ وَزْنَةً يَا رَمَضَانُ # فَوَزْنَتُهُ أَرْجَحْ يَا رَمَضَانُ

بِبَرْكَتِه رَبِّي يَا رَمَضَانُ # يُجَاوِزُ وَيَسْمَحْ يَا رَمَضَانُ

إِذَا اعْيَتْ عَلَيْنَا يَا رَمَضَانُ # جَمِيعُ الْمَذَاهِبْ يَا رَمَضَانُ

Siapa yang berhak atas Lailatul Qodar

Kembali ke pertanyaan awal tentang apakah semua orang bisa ‘memetik keutamaan’ Lailatul Qodar?

Terkait ini Hadratusy Syaikh KH. Ahmad Asrori Al-Ishaqy pernah dawuh:

“Kulo kaleh panjenengan dipun pacu dening Gusti Allah. Dipun pacu dus pundi? Shidqut tawajjuh ilaa Allah. Mboten cuma ngelakoni, mboten cuma tunduk. Estu. Estu seng ndadosaken kulo kaleh panjenengan niku shidqut tawajjuh niku nopo? Iso ngumpulaken pikiran lan atine dadi siji. Dikumpulaken ten pundi? Madep dateng Gusti Allah. Coro dus pundi? Ilang rasane. Mboten cumak ngelakoni tok mboten”

(Dengan dirahasiakannya Lailatul Qodar) saya dan Anda sekaliyan dipacu oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Dipacu untuk apa? Bersungguh-sungguh menghadap kepada Allah (shidqut tawajjuh). Bersungguh-sungguh. Bukan hanya sekadar melaksanakan. Bukan hanya tunduk. Bersungguh-sungguh bagaimana yang menyebabkan saya dan Anda sekaliyan menghadap kepada Allah subhanahu wa ta’ala? Yaitu yang bisa mengumpulkan hati dan pikiran menjadi satu. Dikumpulkan ke mana? Menghadap kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Caranya bagaimana? Hilang rasanya (dari kepentingan). Bukan hanya melaksanakan-melaksanakan (ibadah) saja” (terj.)

Semoga kita senantiasa diberikan kemudahan dan keistikomahan dalam menghadap dan sibo kehadirat Allah subhanahu wa ta’ala. Aamiin