AlFithrah

Kajian Al-Muntakhobat: Bermimpi Nabi Saw.

Majelis Kebersamaan dalam Pembahasan Ilmiah (MKPI) Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya kembali menyelenggarakan kajian Kitab al-Muntakhobat. Dalam kesempatan ini, bab “bermimpi Nabi SAW “ menjadi kajiannya. Dr. KH. Muhammad Musyafa’, M.Th.I menjadi pengkaji utama. Ia menyampaikan materi ini via zoom meeting. Selain itu, kajian ini juga dihadiri secara virtual oleh Dr. KH. M. Mujib Qulyubi, S.Ag, M.H, yang merupakan Imam Khushushi DKI Jakarta sekaligus dosen di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Ketua Pembina Yayasan UNINUS Bandung.

Kajian kitab al-Muntakhobat sendiri mulanya adalah kegiatan MKPI Al-Fithrah yang dilaksanakan secara online. Kegiatan dimulai di masa pandemi dan diikuti oleh santri dan pengajar aktif pondok Al Fithrah dan alumni. Seiring waktu, banyak orang yang tidak berafiliasi secara langsung dengan pondok Al Fithrah, juga berminat mengikuti kajian ini. Dan, sejak bulan lalu kajian ini dilaksanakan secara hybrid. Secara langsung di gedung PW Al Khidmah Jawa Timur, yang berlokasi di selatan pondok, dan bisa diikuti via zoom dan live youtube.

Setelah diawali dengan bacaan Tawasul al-Fatihah, Kiai Musyafa’ menyampaikan bahwa di al-Muntakhobat edisi lama belum ada bahasan dengan tema bermimpi Nabi SAW. Artinya, tema bermimpi Nabi SAW ini baru Hadlratusy Syaikh KH. Achmad Asrori al-Ishaqy tuliskan pada edisi revisi, menjelang beliau wafat.

Bermimpi Nabi SAW termasuk anugerah yang sangat besar dan keberkahan yang tinggi di sisi Allah. Akan tetapi, mimpi bertemu Nabi SAW bukan hanya terjadi pada orang saleh saja, melainkan juga bisa dialami oleh orang awam.

Bertemu dengan Nabi SAW terkadang terjadi dalam mimpi dan ini yang sering terjadi. Tapi terkadang juga terjadi di alam sadar (yaqdzah). Diceritakan oleh Kiai Musyafa’ bahwa Hadlratusy Syaikh muda pernah bermimpi Nabi SAW. Dalam mimpi itu, Nabi SAW memberikan sepotong roti dan Hadlratsuy Syaikh memakannya setengah. Waktu terbangun, Hadlratusy Syaikh menjumpai separoh rotinya. Cerita ini juga diamini oleh Ust. Ahmad yang merupakan abdi Gus Tajul Mafakhir, Probolinggo. Dari sini, kita ketahui bahwa bermimpi Nabi SAW adalah nyata sebagaimana bertemu di alam nyata.

Disebutkan dalam sebuah riwayat hadits yang artiya, “Barang siapa mimpi bertemu dengan aku, maka ia benar-benar melihatku, karena setan tidak mampu menyerupaiku”.

Mimpi yang terjadi pada para Nabi Saw. adalah wahyu yang bisa dijadikan sebagai landasan hukum. Hal ini pernah terjadi pada Nabi Ibrahim As. yang diberi ilham untuk menyembelih putranya melalui mimpi. Sedangkan mimpi yang terjadi pada selain Nabi tidak bisa dijadikan hukum. Karena masih ada kemungkinan mimpi itu berasal dari nafsu (nafsaniyah), berasal dari setan (syaitoniyah) atau ditakdirkan oleh Allah SWT (robbaniyah).

Dalam sesi selanjutnya, Dr. Qulyubi mengungkapkan kebahagiaannya dapat kembali mengkaji isi kandungan kitab al-Muntakhobat karya Hadlratusy Syaikh KH. Ahmad Asrori Al-Ishaqy. Beliau mengusulkan agar asatid yang menerima langsung al-Muntakhobat secara langsung dari Hadlratusy Syaikh untuk turun gunung menyampaikan isi al-Muntakhobat ke wilayah-wilayah.

Apakah ada amalan yang bisa menjadikan kita bisa bermimpi Nabi SAW? Pertanyaan ini yang tentu akan muncul begitu mendengar kajian ini. Ada beberapa amalan yang bisa diistikomahkan. Diantaranya adalah dengan mendawamkan bacaan sholawat kepada beliau SAW. Tapi, yang paling pokok adalah dengan sering mikiri dan kepikiran Nabi SAW.

Ada salah satu kitab yang paling direkomendasikan untuk dibaca untuk mengetahui detail tentang sifat dan karakter Nabi SAW, yakni Kitab Syamail Muhammadiyah, karya Imam Tirmidzi.

Kajian berakhir pada pukul 23.00 WIB dengan ditutup dengan doa Bihaqqil Fatihah oleh Ust. Ahmad Syatori, M.Fil.I. Semoga kajian ini menjadi wasilah untuk lebih dekat dan diberi kesempatan bermimpi Nabi Saw, serta memperoleh syafaatnya yang agung. Aamiin.

Kunjungan Dari Pondok Pesantren Baitul Hikmah Tasikmala

Senin, tanggal 31 Oktober, Pondok Pesantren Assalafi Al FIthrah Surabaya mendapat kunjungan rombongan Pondok Pesantren Baitul Hikmah Tasikmalaya. Kunjungan ini merupakan bagian rangkaian Rihlah Ziyaroh Wali Songo dan Muhibbah Pesantren Jawa – Madura – Bali.

Rombongan terdiri dari 7 dewan Kiai, 343 santri putra, dan 157 santri putri. Penyambutan dan penerimaan rombongan dari ujung barat pulau Jawa ini dilaksanakan di masjid. Acara penyambutan sendiri dimulai dengan mengikuti tradisi yang sudah dituntunkan oleh Hadrotusy Syaikh KH. Achmad Asrori al-Ishaqy, yakni dengan pembacaan tawasul dan istighotsah.

Acara dilanjutkan dengan sambutan perwakilan dari tamu. Dalam sambutannya, ia menyampaikan terimakasih atas keramahan yang diberikan oleh warga Al Fithrah. Ia juga sedikit menceritakan tentang pondok Baitul Hikmah, dan rihlah yang sedang mereka lakukan. Rihlah ini merupakan acara berkelanjutan, yang insyaAllah di bulan-bulan mendatang, akan datang lagi rombongan dari pondok didirikan pada tanggal 18 Agustus 1964 oleh KH Saepudin Zuhri.

Kunjungan dari PP. Baitul Hikmah Tasikmalaya-1

Dari pondok Al Fithrah, Ust. H. Abdur Rosyid menjadi wakil untuk membalas sambutan tamu. Ia juga menceritakan secara singkat tentang pondok Al Fithrah dan Kiai Asrori. Dalam sambutannya ia juga menerima dengan terbuka kunjungan yang akan datang dari pondok Baitul Hikmah.

Penyerahan cindera mata menjadi tanda menjelang usainya acara ini. Dan, acara ini ditutup dengan pembacaan do’a oleh Ust. Syatori.

Generasi ke-11, Sarjana STAI Al Fithrah Surabaya

Tahun 2013, Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al Fithrah Surabaya untuk pertama kali mengadakan wisuda sarjana. Jurusan Tafsir-Hadits dan Tasawuf adalah dua jurusan pertama yang menyumbang nama-nama lulusan STAI Al Fithrah.

Kampus yang semula bernama Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin ini mulanya memang hanya satu fakultas dengan dua jurusan. Pada tahun ke-3 barulah ada jurusan Manajemen Pendidikan Islam (MPI). Menyusul kemudian ada jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) dan Perbankan Syari’ah (PS).

Tahun ini, generasi sarjana ke-11 diwisuda dari kampus ini. Setelah melewati masa pandemi yang mengakibatkan wisuda sempat dilaksanakan secara onlinen, tahun ini wisuda Kembali digelar secara offline.

Wisuda Sarjana XI STAI Al Fithrah

Dilaksanakan di auditorium lantai 4 gedung STAI Al Fithrah, 106 mahasiswa dari lima jurusan melangsungkan prosesi wisuda. Jurusan Manajemen Pendidikan Islam menjadi penyumbang terbanyak nama mahasiswa yang diwisuda tahun ini, tercatat 51 mahasiswa. Disusul Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah sebanyak 24 mahasiswa dan Perbankan Syari’ah sebanyak 19 mahasiswa.

Sementara dari jurusan Tasawuf yang kini berubah menjadi Akhlak  dan Tasawuf ada 13 mahasiswa yang diwisuda. Paling buncit jurusan Ilmu Al Qur’an dan Tafsir – yang semula jurusan Tafsir-Hadits, meluluskan 9 mahasiswa.

Wisuda Sarjana XI STAI Al Fithrah

Dr. Abdur Rosyid, selaku ketua STAI Al Fithrah dalam kesempatan itu berpesan agar para mahasiswa yang akan diwisuda tetap mengedepankan akhlak ketika sudah membaur dengan masyarakat. Ia menyampaikan bahwa kesuksesan hanya bisa diraih dengan tetap menjaga nilai dan sikap luhur para pendahulu. Apapun profesi yang kelak akan ditempuh.

Apa yang ia sampaikan senada dengan yang tertuang dalam al-malhudzat, yang ditulis oleh KH. Achmad Asrori al-Ishaqy, yang merupakan penggagas berdirinya STAI Al Fithrah. Kampus yang dulunya berada di area Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah, sebelum kini memiliki gedung sendiri.

Hadir juga dalam wisuda ke-11 ini,  Wakil Koordinator Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Swasta (Kopertais) 4 Surabaya, KH. Ilhamuddin Sumarkan. Dalam kesempatan itu, ia menyampaikan bahwa menuntut ilmu itu merupakan perintah agama. Ia juga menekankan bahwa kelak ketika mereka sudah bekerja, hendaknya mereka yakin itu bukan bagian dari dunia melainkan bagian dari agama.

Wisuda Sarjana XI STAI Al Fithrah

Pada kesempatan tersebut, Wakil Ketua I Bidang Akademik H Abd Azis menyampaikan lulusan terbaik di hadapan para pimpinan,  dosen, wisudawan, orang tua wisudawan dan tamu undangan . Utami Novita Lestari dari prodi PGMI dengan IPK 3.66 meraih gelar wisudawan terbaik. Selisih 0,06, Muhammad Nur Ridho Waliden dari manajemen pendidikan Islam dengan IPK 3.6. Sementara dari prodi Akhlak dan Tasawuf Navida Zulfa Safitri dengan IPK 3.53, dari Perbankan Syari’ah Ahlul Maghfiroh  dengan IPK 3.52,  dan Nurul Ismiyah dari prodi ilmu tafsir dengan IPK 3.51.

Hari Santri: Berdaya Menjaga Martabat Kemanusiaan

22 Oktober 2022, upacara hari santri kembali digelar secara terbuka di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah. Setelah dua tahun acara diselenggarakan secara terbatas, acara hari santri tahun menjadi spesial karena pada tanggal yang sama putri pertama KH. Achmad Asrori, Nyai Siera en-Nadia berulang tahun.

Agak berbeda dengan upacara hari santri sebelumnya. Tahun ini, tidak ada acara pengibaran bendera. Hanya saja, ada pembentangan bendera dengan panjang lebih dari 100 meter.

Upacara Hari Santri Nasional Th. 2022

Acara ini diikuti oleh seluruh santri Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah, baik yang mukim ataupun yang tidak. Mulai dari jenjang Raudlatul Athfal hingga Ma’had Aly, berbaris sesuai dengan waktu geladi bersih.

H. Wisnu dari Yayasan Al-Khidmah Indonesia (YAKIN) Kembali ditunjuk untuk menjadi Pembina upacara, setelah upacara 17 Agustus lalu, ia juga melaksanakan tugas yang sama. Dalam kesempatan itu ia membacakan teks Sambutan Menteri Agama Republik Indonesia pada upacara Peringatan Hari Santri 2022.

“Dulu, ketika Indonesia masih dijajah, para santri turun ke medan laga, berperang melawan penjajah. Menggunakan senjata bambu runcing yang terlebih dahulu didoakan Kiai Subchi Parakan Temanggung, mereka tidak gentar melawan musuh.” Teks ini sesuai dengan sejarah perjuangan awal mula agama islam. Dan tentu ini sesuai dengan kondisi santri ketika masih di pesantren.

Selama di pesantren, santri berperang melawan nafsu yang senantiasa ingin menguasai dirinya. Berbekal niat, tekat dan tentu do’a para Kiai, santri berusaha mengisi hari-harinya dengan beribadah dan menuntut ilmu. Harapannya? Apalagi kalau bukan untuk merdeka dari penjajahan nafsu.

Upacara Hari Santri Nasional Th. 2022

“Pascakemerdekaan Indonesia, santri lebih semangat lagi memenuhi panggilan Ibu Pertiwi. Mereka tidak asyik dengan dirinya sendiri, tetapi terlibat secara aktif di dunia perpolitikan, pendidikan, sosial, ekonomi dan ilmu pengetahuan, selain juga agama.” Ini adalah tantangan selanjutnya, selepas santri menyelesaikan masa belajarnya di pesantren.

Ya, predikat santri tak lantas menguap setelah seorang santri menyelesaikan masa belajarnya di pesantren. Dan selepas dari pesantren bukan berarti masa belajar seorang santri berarti berakhir. Sekali lagi bukan seperti itu.

Setelah selesai dengan dirinya sendiri tentu santri punya tugas mulia, yaitu menyebarkan hal-hal baik yang ia ketahui di masyarakat di manapun ia tinggal. Lebih dari itu, faktanya, sejak sebelum Indonesia merdeka hingga hari ini, banyak nama orang yang terlibat dalam perkembangan di negeri ini adalah santri.

Upacara Hari Santri Nasional Th. 2022

Tanpa menafikan, mereka yang bukan santri. Santri-santri hari ini harus tahu betul bahwa ada titipan dari para santri pendahulu untuk ikut serta aktif dalam menjaga keberlangsungan Negara Indonesia sesuai bidang dan kemampuan yang dimiliki.

Meski demikian, tentu santri tak boleh lupa dengan tugas utamanya, yaitu menjaga agama itu sendiri. Dengan wujud mengedepankan nilai-nilai agama dalam setiap perilakunya. Dan, diantara satu tujuan agama diturunkan di bumi ini adalah menjaga martabat kemanusiaan atau hifdzunnas.

Sebagai manusia yang menjunjung tinggi nilai-nilai agama, santri juga punya peran dalam menjaga martabat kemanusiaan, yang menjadi tema besar dalam hari santri tahun 2022. Santri harus berprinsip bahwa menjaga martabat kemanusiaan adalah esensi ajaran agama. Apalagi, di tengah kehidupan Indonesia yang sangat majemuk. Bagi santri, menjaga martabat kemanusiaan juga berarti menjaga Indonesia.

Semarak Maulid Nabi Saw di Al Fithrah

Setiap bulan Rabi’ul Awal tiba, ada yang berbeda di masjid ponpes Assalafi Al FIthrah, Surabaya. Dinding bagian depan dan empat pilar masjid dihias sedemikian rupa, wujud bahagia atas datangnya hari kelahiran Nabi Muhammad Saw.

Di bulan maulid, ada tiga agenda rutin yang dilaksanakan tiap tahunnya. Ahad Awal bulan hijriyah, peringatan Maulid Nabi Saw di tanggal 12 Rabi’ul Awal,  dan puncaknya Ahad ke-2.

Setelah dua kali bulan Rabi’ul Awal acara ini terselenggara secara tertutup, tahun ini acara ini dibuka kembali secara umum. Ribuan jama’ah memadati halaman dan gedung ponpes Al Fithrah. Kerinduan mereka untuk ikut majlis ini terobati sudah.

Tenda yang disediakan panitia, yang hanya menyisakan tak lebih seperempat halaman pondok, terisi penuh. Hingga pembacaan Ya Nabi Salam ‘Alaika banyak jama’ah masih bertahan di panas matahari. Apalagi yang membuat mereka bertahan untuk tidak beranjak dari lokasi yang mulai panas, kalau bukan harapan, sebagaimana yang disampaikan habib Segaf Baharun.

Dalam tausiahnya beliau menyampaikan, bahwa makna uswatun hasanah dalam al-Qur’an itu bukan hanya Nabi Muhammad Saw sebagai tauladan. Lebih dari itu Nabi Saw adalah barometer. Dengan kata lain, jika kita ingin mendapat kebaikan-kebaikan yang diterima oleh Nabi Saw, maka perlu kita tanyakan kepada diri kita berapa persen kita meniru Nabi Saw.

Beliau mengutip hadits Nabi Saw, yang menjelaskan kesenangan di dunia ini tidak ada. Sehingga menurut beliau, hidup di dunia ini hanya ada dua macam; hidup di dunia ini tidak enak dan nyaman menjalaninya, dan hidup di dunia ini tidak enak dan tidak nyaman menjalaninya.

Suasana di halaman ponpes Al Fithrah saat ahad ke-2

Jika kita ingin hidup di dunia yang tidak enak ini, nyaman dalam menjalani hidup maka ikuti Nabi Saw. Jika tidak, maka kiata hanya akan menjalani hidup yang tidak ini, dan tidak nyaman menjalaninya. Harapan bahwa dengan meniru Nabi Muhammad Saw, kelak kita akan berada di satu tempat dan bertemu dengan beliau.

Harapan inilah yang barangkali membuat jama’ah tetap bertahan hingga rangkaian majlis ini selesai, walaupun suhu di hari itu terus naik seiring siang datang. Taudiyah yang tidak lebih dari lima puluh menit ini diakhiri oleh Habib Segaff dengan pengijazahan Shalawat Busyro.

Para Habib, Kiai, dan jama’ah saat mahallul qiyam

Lazimnya Majlis Dzikir yang diadakan oleh Jama’ah Al Khidmah dan ponpes Al Fithrah, durasi mauidhoh biasanya lebih pendek dari rangkaian majlis. Seperti itu pula Majlis Ahad ke-2 bulan Rabi’ul Awal, setelah mauidhoh yang disampaikan oleh Habib Segaf Baharun, acara dilanjutkan dengan pembacaan  fihubbi.

Sebelum fihubbi dibacakan, panitia mengajak para jama’ah mengumpulkan khidmah untuk Haul Akbar Al Fithrah 2023. Setelah rangkaian pembacaan fihubbi dan dipungkasi dengan do’a oleh putra Hadrotusy Syaikh KH. Achmad Asrori al-Ishaqy, KH. Muhammad Ayn el-Ishaqy, acara dilanjutkan dengan pengumuman.

Pembacaan kasidah Qabul oleh Habib Umar Assegaf dari Pasuruan, dan do’a bihaqqil Fatihah oleh KH. Abdullah Faqih dari Lamongan, menandari acara ini menjelang usai. Dan, seperti yang sudah ada sejak zaman Kiai Asrori masih bersama-sama dengan kita, majlis ini ditutup dengan lemparan buah oleh para Habib dan Kiai, lalu makan talaman bersama.

Kegembiraan tibanya maulid Nabi Saw, tidak hanya berhenti di ahad ke-2. MI dan RA Al Fithrah, juga ikut mengadakan acara tersendiri, menyambut hari kelahiran Nabi Saw. Bahkan, di MI juga diadakan lomba-lomba dalam mengisi rangkaian kegembiraan datangnya hari kelahiran Nabi.

Semua tadi tentu dengan harapan kelak di akhirat, kita semua akan dikumpulkan bersama Nabi Muhammad Saw.