Kajian

Keistimewaan Manusia dalam Pandangan KH. Achmad Asrori Al-Ishaqy (1)

Kitab al-Muntakhabat merupakan karya Magnum Opus KH. Achmad Asrori al-Ishaqy. Kitab ini adalah kitab tasawuf yang pembahasannya cukup rinci. Sehingga, sangat cocok dijadikan pegangan untuk menambah pengetahuan tentang dunia sufistik dan sebagai pengantar untuk bermakrifat kepada Allah.

Salah satu pembahasan menarik dalam kitab al-Muntakhabat ini ialah pembahasan tentang keistimewaan-keistimewaan manusia. Keistimewaan yang dimaksud di sini adalah keistimewaan yang Allah anugerahkan kepada manusia yang tidak dimiliki oleh selainnya dan bahkan tidak dimiliki oleh malaikat. Dengan demikian, tulisan ini akan mengurai keistimewaan-keistimewaan manusia perspektif Kiai Asrori.

Adanya tujuan mengetahui keistimewaan-keistimewaan manusia di sini bukan berarti untuk disombongkan melainkan untuk disyukuri sebagai anugerah dari Allah swt.

Dalam kitab al-Muntakahabat ini, Kiai Asrori memberikan judul pada tema ini dengan “min khasa’is al-insan” (sebagian dari keistimewaan manusia). Artinya, bermacam keistimewaan yang disebutkan dalam kitab ini hanya sebagian saja. Dan, tidak menutup kemungkinan ada keistimewaan-keistimewaan lain yang tidak disebutkan karena kata “min” pada judul tersebut berfaidah li al-tab’id.

Keistimewaan Manusia

Kiai Asrori menuliskan beberapa keistimewaan manusia dalam al-Muntakhabat. Pertama, Allah jadikan ruh manusia yang sifatnya lembut dan immaterial yang tidak bisa diraba, dimasukkan ke dalam raga manusia yang sifatnya material. Tujuannya adalah agar manusia dapat bergerak dan beraktifitas. Ruh yang dimaksud ini baik orientasinya pada ‘nyawa’ yang dapat menghidupkan jasad yang mati atau ruh al-mudrikah yakni ruh yang memiliki kemampuan untuk mengerti dan memahami. Dari kedua pengertian ruh tersebut, kedua-duanya masuk dalam bagian ini, sehingga manusia bisa bangkit, berkreasi dan melakukan apa saja karena ada ruh dalam jasadnya.

Lebih jauh, Ust. Abu Sari dalam kajian al-Muntakhabat mengutip pendapat Abu Hamid al-Ghazali dalam Mizan al-Amal mengenai jiwa dan raga. Eksistensi jiwa merupakan bagian yang berdiri sendiri karena jiwa dan raga berada pada dimensi yang berbeda. Jika raga bersifat material, terdiri dari unsur-unsur yang membentuk; kepala, tangan, kaki dan sebagainya, maka jiwa bersifat immaterial yang mempunyai daya mengerti dan memahami. Jadi, jiwa inilah yang kemudian berkaitan dengan qalb (hati), akal dan ruh itu sendiri.

Kedua, Allah jadikan raga manusia dalam ciptaan yang amat sempurna. Kemudian, Allah hiasai dengan berbagai keindahan dari makhluk-Nya. Dan, manusia merupakan makhluk yang diciptakan Allah dengan begitu mengagumkan.

Imam al-Ghazali dalam kitab Asrar al-Makhluqat (rahasia-rahasia dibalik semua ciptaan), membahas secara khusus tentang hikmah dan rahasia diciptakannya manusia. Melalui kitab ini al-Ghazali meyakinkan bahwa manusia adalah ciptaan yang sangat mengagumkan. Hal ini bisa dilihat dari asal mula proses penciptaannya yang berasal dari nutfah (air mani), setelah itu bertransformasi menjadi ‘alaqah (segumpal darah), lalu mudghah (segumpal daging). Kemudian, ada tulang-tulang yang dibungkus dengan daging dan daging diikat dengan otot. Otot-otot ini tersebar di seluruh tubuh dan memiliki fungsinya masing-masing. Pada akhirnya, dengan perincian yang cukup luas ini al-Ghazali menyimpulkan “jasaduka kulluha ‘ajaib” (jasadmu itu secara keseluruhan adalah keajaiban).

Ketiga, Allah jadikan hati manusia sebagai bejana yang dapat menampung makna, hikmah dan rahasia ketuhanan. Oleh sebab itu, Rasulullah dalam hadisnya menyatakan,

إِنَّ اللهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

“Sungguh Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, melainkan melihat hati dan amal kalian.” [HR. Muslim]

Kaitannya dengan bagian keistimewaan manusia yang ketiga ini ialah Allah tidak memandang manusia dari rupa dan harta melainkan apa yang hadir dalam hati manusia. Sehingga, makna yang muncul dalam hati adalah dimensi yang menjadi pusat perhtian bagi Allah. Dalam menjelaskan bagian yang ketiga ini, Kiai Asrori mengutip hadis dari Imam al-Thabrani yang artinya, “Sesungguhnya Allah mempunyai bejana di bumi yakni hati. Sedangkan bejana (hati) yang paling disenangi oleh Allah adalah bejana yang paling jernih, kuat dan lembut”. Menafsiri hadis ini, Ali bin Abi Thalib berkata, maksud dari hadis di atas ialah jernih dalam keyakinan, kuat dalam perpegang teguh pada agama dan lembut pada sesama.

Lailatul Qadar, di Malam 27 Ramadhan?

Di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah, setiap malam 27 Ramadhan diadakan majlis dzikir dan shalat malam. Majlis ini secara istikomah dilaksakan oleh Hadrotusy Syaikh KH. Achmad Asrori al-Ishaqi. Dalam sebuah kesempatan beliau menuturkan mengapa memilih malam 27 Ramadhan sebagai penempatan majlis ini. Harapan mendapat malam Lailatul Qadar di dalam majlis ini adalah jawabannya.

Lailatul Qadar di Sepuluh Malam Terakhir Ramadan

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا: أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «تَحَرَّوْا لَيْلَةَ القَدْرِ فِي الوِتْرِ، مِنَ العَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

Dari Sayyidah ‘Aisyah RAH, Rasulullah SAW bersabda, “carilah Lailatul Qadar pada malam ganjil di sepuluh malam terakhir Ramadan”.

Lailatul Qadar di Tujuh Malam Terakhir Ramadan

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا: أَنَّ رِجَالًا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، أُرُوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي المَنَامِ فِي السَّبْعِ الأَوَاخِرِ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَرَى رُؤْيَاكُمْ قَدْ تَوَاطَأَتْ فِي السَّبْعِ الأَوَاخِرِ، فَمَنْ كَانَ مُتَحَرِّيْهَا فَلْيَتَحَرَّهَا فِي السَّبْعِ الأَوَاخِرِ

Dari Ibnu ‘Umar RA, bahwa ada seorang dari sahabat Nabi SAW yang menyaksilan Lailatul Qadar dalam mimpi terjadi pada tujuh hari terakhir. Lalu Rasulullah SAW berkata, “Aku memandang bahwa mimpi kalian – tentang Lailatul Qadar – terjadi pada tujuh malam terakhir, maka siapa yang mencarinya, hendaknya ia mencari di tujuh malam terakhir”.

Lailatul Qadar di Malam 21, 23, dan 25 Ramadan

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا: أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «اِلْتَمِسُوْهَا فِي العَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ لَيْلَةَ القَدْرِ، فِي تَاسِعَةٍ تَبْقَى، فِي سَابِعَةٍ تَبْقَى، فِي خَامِسَةٍ تَبْقَى

Dari Ibnu ‘Abbas RAH bahwa Nabi SAW bersabda, “carilah Lailatul Qadar pada sepuluh malam yang akhir dari Ramadhan, pada sisa malam kesembilan, pada yang ketujuh, pada yang kelima”.

Lailatul Qadar di Malam 27 Ramadan

عَنِ ابْنِ عُمَر -رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا -قَالَ: “كَانُوْا لَا يَزَالُوْنَ يَقُصُّوْنَ عَلَى النَّبِي -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -الرُّؤْيَا مِنَ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ فَقَالَ النَّبِي -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: أَرَى رُؤْيَاكُمْ قَدْ تَوَاتَرَتْ إِنَّهَا لَيْلَةُ سَابِعَةٍ مِنَ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ، مَنْ كَانَ مُتَحَرِّيًا فَلْيَتَحَرَّهَا اللَّيْلَةَ السَّابِعَةِ مِنَ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ”

Dari Ibnu ‘Umar RA, beliau berkata, “beberapa sahabat terus-menerus bercerita tentang mimpi di sepuluh hari terakhir Ramadan. Lalu Rasulullah SAW berkata, “Aku melihat bahwa mimpi kalian – tentang Lailatul Qadar – berturut-turut terjadi di malam ketujuh dari sepuluh hari akhir Ramadan. Maka siapa yang mencarinya, hendaknya ia mencari di di malam ketujuh dari sepuluh hari akhir Ramadan “.

عَنِ ابْنِ عَبَّاس أَنَّهُ قَالَ: لَيْلَةُ الْقَدْرِ تِسْعَةُ أَحْرُفٍ وَهُوَ مَذْكُوْرٌ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ فَتَكُوْنُ الْجُمْلَةَ سَبْعَةِ وَعِشْرِيْنَ

Ibnu Abbas berkata, “lafadz lailatul qadar terdiri dari sembilan huruf. Lafadz ini diulang tiga kali – dalam surat al-Qadar -, sehingga jumlah semua hurufnya 27”.

Kesimpulan

Pemilihan malam 27 Ramadhan oleh Kiai Asrori sebagai pelaksanaan majlis yang istikomah dilaksanakan di ponpes Al Fithrah ternyata memiliki dasar. Baik itu hadits Nabi Saw, dan pendapat sahabat. Meskipun malam 27 adalah acara puncak qiyamul lail di ponpes Al Fithrah, tapi di malam setelahnya shalat malam pun masih diselenggarakan.

Sehingga membaca hal ini, diantara buah seseorang yang mendapatkan Lailatul Qadar ia masih beribadah hingga akhir Ramadhan. Dan, di bulan setelahnya Lailatul Qadar akan membekas di hatinya dengan wujud istikomah beribadah dan berbuat baik pada sesama manusia.

Referensi:

Shahihu al-Bukhari
al-Ghunyah li Thalibi Thariqi al-Haq
Muraahu Labiidi

Anjuran Bersegera Berbuka Puasa

Tak terasa kita telah berpuasa di hari ke-2 bulan Ramadhan. Bulan yang penuh dengan kesunahan dan berlipat balasan. Di antara kesunahan yang disampaikan langsung oleh Rasulullah SAW, adalah kesunahan menyegerakan berbuka puasa.

Kesunahan ini maklum diketahui oleh umat islam. Sehingga, bagi mereka yang menduga masih di jalan ketika waktu buka tiba, mereka telah menyiapkan air minum atau camilan untuk mendapat kesunahan berbuka. Tak hanya itu, menu berbuka meski sederhana juga tersedia di banyak masjid dan mushala. Bahkan akhir-akhir ini juga dibagikan di jalan raya.

Dalil menyegerakan berbuka

Ada banyak hadits yang menginformasikan anjuran Rasulullah SAW untuk menyegerakan berbuka.  Di antaranya yang diriwayatkan oleh Sahal bin Sa’ad ra., sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda:

لَا يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوْا الْفِطْرَ

“Manusia senantiasa dalam kebaikan selagi mereka menyegerakan berbuka.”

Para sahabat, seperti Abdullah bin Mas’ud ra juga menyegerakan berbuka puasa. Ketika Masyruq menanyakan perihal itu kepada Sayyidatina Aisyah RAH, Beliau RAH mengkonfirmasi bahwa hal serupa juga dilakukan oleh Rasulullah SAW.

Dari berbagai riwayat tadi, cukup bagi kita untuk mengambil informasi, Rasulullah Saw. menyegerakan berbuka puasa. Keluarga dan para sahabat beliaupun mengikutinya.

Berbuka sewajarnya

Ada satu hal yang sering terlewat dari anjuran menyegerakan berbuka. Yaitu, berbuka sewajarnya. Menilik pada hadits, Rasulullah SAW tidak berlebih-lebihan dalam berbuka. Beliau SAW hanya berbuka dengan kurma dan air. Setelah itu beliau bersegera melakukan shalat Maghrib.

Ini perlu menjadi perhatian. Karena lazim terjadi menu berbuka melebihi menu makan di hari biasa. Ditambah kenikmatan menyantap sambil bercakap-cakap, tanpa sadar waktu Maghrib begitu saja lenyap. Niat hati mendapat kesunahan malah tertigallah kewajiban.

Dan, tak jarang karena terlalu banyak mengonsumsi makanan saat berbuka, ibadah-ibadah lainnya juga terlewatkan. Kondisi perut yang seharian menahan lapar, seakan kaget begitu berbebagai makanan tersantap. Alih-alih mendapat tambahan kekuatan untuk mengisi malam bulan Ramadhan dengan beribadah, yang di dapah hanya bermimpi indah.

Berdo’a segera setelah berbuka

Lazim kita dengar do’a yang dibaca setelah adzan maghrib di televisi saat bulan Ramadhan. Dalam beberapa literatur fiqh do’a itu dibaca segera setelah berbuka. Bukan sebelum berbuka. Sebagaimana yang ditulis oleh Sayyid Abu Bakar Syatha dalam I’anatu al-Thalibin (2/279)

وَيُسَنُّ أَنْ يَّقُوْلَ عَقِبَ الْفِطْرِ: اَللّٰهُمَّ لَكَ صُمْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ، وَعَلى رِزْقِكَ أفْطَرْتُ، وَيَزِيْدُ – مَنْ أَفْطَرَ بِالْماَءِ -:  ذَهَبَ الظَّمَأُ، وَابْتَلَّتِ العُرُوقُ، وَثَبَتَ الْأَجْرُ، إِنْ شَاءَ اللهُ.

Disunnahkan setelaah berbuka mengucapkan: Allahumma laKa shumtu, wa biKa amantu, wa ‘alaa rizkiKa afthartu, bagi yang berbuka dengan air menambahkan dengan: dzahabadh dhama–u wabtalatil ‘uruuqu wa tsabatal ajru insyaa-aLlah.

Waba’du; selamat melanjutkan ibadah puasa Ramadhan dan merengkuh berbagai kesunnahan di dalamnya. Semoga segala hal yang kita lakukan selama Ramadhan bernilai ibadah dan mendapat Ridha dari-Nya. Amin.

Referensi:
(1) Riyadhu al-Shalihin hlm. 347,
(2) I’anatu al-Thalibin Juz 2 hlm. 277-279,
(3) Nihayatu al-Zain hlm. 194

Belajar menjadi tamu yang baik

Bertamu merupakan bagian dari menyambung silaturrahmi, Dan, salam kitab Jami’u al-Jawaami’ juz 1 halaman 372, ada hadits Nabi Saw.,

إِذَا دَخَلَ الضَّيْفُ عَلَى قَوْمٍ دَخَلَ بِرِزْقِهِ، وَإِذَا خَرَجَ خَرجَ بِمَغْفِرَةِ ذُنُوْبِهِمْ.

 “Ketika tamu datang pada suatu kaum, maka ia datang dengan membawa rezekinya. Ketika ia keluar dari kaum, maka ia keluar dengan membawa pengampunan dosa bagi mereka.”

Salah paham yang berulang

Di setiap penyelenggaraan Haul Akbar Al Fithrah, panitia selalu menyediakan tempat menginap bagi jama’ah yang hadir. Tugas ini ditangani oleh tim maktab. Sampai tulisan ini dimuat tim maktab sudah mendata 799 rumah dengan kapasitas 22.598 orang.

Rumah-rumah itu merupakan milik warga di sekitar ponpes Al Fithrah. Warga yang rumahnya dipergunakan untuk maktab tidak dibayar sepeser pun. Kesediaan mereka untuk menjadi tempat menginap jama’ah yang akan menghadiri haul, karena nderek bungah dengan terselanggaranya haul.

Para warga dengan suka rela mengkondisikan keluarganya, agar rumahnya lapang ditempati jama’ah. Tak hanya menyediakan tempat menginap, beberapa rumah bahkan menyediakan minuman dan makanan ringan. Dan, itu semua atas pembiyaan sendiri. Namun, beberapa kali sering terjadi salah paham, terkait iuran yang diselenggarakan oleh penyelenggara rombongan haul.

Di beberapa pamflet rombongan tertera maktab sebagai salah satu falisitas yang di dapat peserta rombongan. Bisa jadi uang itu memang diberikan kepada tuan rumah. Tapi, praktiknya ada jama’ah menuntut fasilitas kepada tuan rumah, karena merasa telah membayar, tapi tuan rumah tak merasa menjamin dan dibayar untuk fasilitas itu.

Adab bertamu

Agar bertamu menghasilkan hal yang baik, tentu harus memperhatikan adab dalam bertamu. Imam al-Khatib al-Syirbini (Mughni al-Muhtaj, hlm. 412), menuturkan tiga hal yang hendaknya dilakukan oleh tamu

أَنْ لَّا يَخْرُجَ إلَّا بِإِذْنِ صَاحِبِ الْمَنْزِلِ، وَأَنْ لَا يَجْلِسَ فِيْ مُقَابَلَةِ حُجْرَةِ النِّسَاءِ وَسُتْرَتِهِنَّ، وَأَنْ لَا يُكْثِرَ النَّظَرَ إلَى الْمَوْضِعِ الَّذِيْ يَخْرُجُ مِنْهُ الطَّعَامُ.

“berpamitan pada pemilik rumah ketika hendak keluar rumah, duduk di selain tempat yang searah dengan kamar perempuan, dan menghindari memandang tempat keluarnya makanan.”

Imam Muhammad al-Safaarini (Ghada’ul Albab, 2/151), menuturkan tentang adab bertamu,

أَنْ يُّبَادِرَ إلَى مُوَافَقَةِ الْمُضِيْفِ فِي أُمُورٍ: مِنْهَا أَكْلُ الطَّعَامِ، وَلَا يَعْتَذِرُ بِشِبَعٍ، وَأَنْ لَّا يَسْأَلَ صَاحِبَ الْمَنْزِلِ عَنْ شَيْءٍ مِنْ دَارِهِ سِوَى الْقِبْلَةِ وَمَوْضِعِ قَضَاءِ الْحَاجَةِ.

“Tamu hendaknya menyesuaikan diri dengan tuan rumah dalam berbagai hal, misal memakan makanan (yang dihidangkan), dan tidak beralasan kenyang. Dan, tamu hendaknya tidak bertanya pada tuan rumah tentang rumahnya selain mana arah kiblat dan kamar mandi.”

Soal suguhan tuan rumah pada tamu yang menginap, Imam Malik bin Anas (Muwatha’, 2/929) menuturkan hadits Nabi Muhammad Saw,

وَضِيَافَتُهُ ثَلَاثَةُ أَيَّامٍ، فَمَا كَانَ بَعْدَ ذَلِكَ فَهُوَ صَدَقَةٌ، وَلَا يَحِلُّ لَهُ أَنْ يَثْوِيَ عِنْدَهُ حَتَّى يُحْرِجَهُ.

“perjamuan untuk tamu itu sampai tiga hari, lebih dari itu, jamuan merupan sedekah, Tidak boleh bagi tamu untuk menginap di suatu rumah hingga ia menyusahkannya (pemilik rumah).”

Menjadi tamu yang baik

Dari hadits dan maqalah di atas, poin penting dalam bertamu atau menginap di rumah seseorang adalah menjaga kenyamanan dan privasi tuan rumah beserta keluarganya. Hal ini terlepas dari ketidak nyamanan tamu karena laku tuan rumah. Sebagimana keterangan Ulama’, adab yang baik adalah tentang apa yang kita lakukan pada orang lain, bukan sebaliknya.

Semoga pemilik rumah yang dijadikan maktab dan jama’ah yang menginap di maktab sama mendapat keberkahan dan tercatat sebagai hamba yang saling memuliakan saudaranya.

Wallahu a’lam

Haul Akbar Al Fithrah Bukan Ajang Mendulang Suara

Kadang–kadang subhanallah, sebagian para kiai niku napa?, mboten nyadari malah napa?, majlis–majlis sing koyok ngeten niku napa?, diisi dalam kepentingan sekilas perpolitikan. Niki teng pundi?. Ngomong!. Sampean jak mikir, pikirane atine niku. Lhah saaken sing dihauli, nggeh napa mboten?. Saaken, sing dihauli niku saaken, enggeh?. Nggak nduwe pengajian liya ta?, sak liyane musim–musiman niku?. Nggeh ndilok majlise, jangan diambil suatu kesempatan, nggeh napa mboten?. Ditumpangi, ditunggangi haul niku, maulid, isra’ mi’raj niku ditunggangi, enggeh?. Masio ngono ya ngono, tapi ojok kejelasen lah, enggeh?.
– Hadrotusy Syaikh KH. Achmad Asrori al-Ishaqy ra.

Tujuan utama terselenggaranya majlis haul

Haul Akbar Al Fithrah adalah majlis yang dirintis oleh Hadlrotusy Syaikh KH. Achmad Asrori al-Ishaqy ra.. Majlis ini diadakan secara istikomah pada ahad pertama bulan Sya’ban, di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah, Kedinding Lor, Surabaya. Dalam banyak pengajian beliau menuturkan keberadaan majlis ini adalah sebagai wujud syukur atas keberadaan orang-orang saleh yang telah mendahului kita.

Para orang saleh inilah yang melanjutkan Nabi Muhammad Saw., dalam membimbing dan menuntun umat beliau. Mereka menjadi guru yang telaten, membersamai umat di masa mereka masing-masing untuk melaksanakan syariat dengan benar dan menata laku batin yang baik. Mereka tidak hanya membimbing lewat kata-kata tapi juga menuntun kita lewat amaliyah dhahir dan bathin.

Tentunya kita ingin meniru orang-orang saleh tersebut. Meniru dalam artian tidak hanya mengkaji pemikiran dan amaliyahnya di tataran ilmiah. Namun lebih dari itu, bisa meniru amaliyah lahir dan batin mereka. Resep-kunci untuk meniru para orang-orang saleh adalah dengan bersyukur atau berterimakasih pada mereka. Dan, cara bersyukur pada mereka adalah dengan mendoakan mereka.

Kiai Asrori menginisiasi majlis dzikir dan haul yang kemudian hari dijalankan oleh Jama’ah Al Khidmah, sebagai wadah mendo’akan para orang saleh. Tidak hanya berkirim do’a pada mereka, beliau juga mengajak kita untuk mendo’akan orang tua kita. Mendo’akan orang tua merupakan satu dari tiga amal yang tak terputus setelah manusia wafat. Dan, Kiai Asrori menuntun kita untuk melaksanakannya secara berjama’ah.

Majlis berkirim do’a, bukan lomba ceramah apalagi mencari dukungan-suara

Haul Akbar Al Fithrah secara istikomah dilaksanakan pada Ahad pertama bulan Sya’ban. Pada tahun ini, Ahad pertama bulan Sya’ban jatuh pada tanggal 1 Sya’ban 1445 H. dan bertepatan dengan tanggal 10-11 Februari 2024 M. Tepat pada minggu tenang Pemilihan Umum 2024.

Kiai Asrori sudah menetapkan pedoman rangkaian acara haul akbar. Pedoman ini menjadi pakem pelaksanaan haul akbar setelah beliau – secara dhahir – tak lagi di tengah-tengah jama’ah. Sesuai dengan tujuan awalnya – untuk berkirim do’a pada orang-orang saleh, dan para leluhur kita –, tawasul, istighatsah, bacaan al-Qur’an, manaqib, tahlil, shalawat dan do’a menjadi rangkaian utama acara haul akbar.

Keberadaan sambutan hanya berisi ungkapan rasa syukur, pemohonan maaf dan do’a dari panitia penyelenggara. Kiai Asrori terbilang sangat jarang paring dawuh dalam majlis haul – baik di Al Fithrah maupun di tempat lain –, meskipun jama’ah tentu menantikannya. Beliau toh sudah punya majlis tersendiri yeng memang beliau khususkan untuk itu, seperti majlis ahad pertama (pagi) dan sowanan.

Jikapun ada ceramah dalam acara majlis haul, isinya adalah penguatan i’tiqad para jama’ah. Dan, durasinya sangat pendek dibanding rangkaian utama yang menjadi tujuan pokok dari terselanggaranya majlis haul, yaitu berkirim do’a. Apalagi bila dalam majlis haul diisi dengan ceramah yang berbau politis, untuk kepentingan pribadi. Tentu ini sangat kontra-produktif dari tujuan pokok terselenggaranya majlis haul.

Himbauan untuk jama’ah Haul Akbar Al Fithrah 2024

Sehingga perlu ditekankan pada seluruh jama’ah yang akan hadir di Haul Akbar Al Fithrah 2024 untuk sejenak menanggalkan atribut politiknya. Baik panitia, pengisi acara, dan hadirin pada umumnya, mungkin tidak hanya sebagai pemilih di Pemilu 2024. Bisa jadi, ada yang mencalonkan diri, tim pemenangan atau sekedar simpatisan di Pemilu 2024. Perlu adanya kesadaran bersama tujuan pokok majlis haul ini terselenggara, yakni mendo’akan para guru dan leluhur agar terjalin ikatan hati dan rohani antara kita dengan mereka.Wallahu A’lam.