Telaah

Haul Akbar Al Fithrah Bukan Ajang Mendulang Suara

Kadang–kadang subhanallah, sebagian para kiai niku napa?, mboten nyadari malah napa?, majlis–majlis sing koyok ngeten niku napa?, diisi dalam kepentingan sekilas perpolitikan. Niki teng pundi?. Ngomong!. Sampean jak mikir, pikirane atine niku. Lhah saaken sing dihauli, nggeh napa mboten?. Saaken, sing dihauli niku saaken, enggeh?. Nggak nduwe pengajian liya ta?, sak liyane musim–musiman niku?. Nggeh ndilok majlise, jangan diambil suatu kesempatan, nggeh napa mboten?. Ditumpangi, ditunggangi haul niku, maulid, isra’ mi’raj niku ditunggangi, enggeh?. Masio ngono ya ngono, tapi ojok kejelasen lah, enggeh?.
– Hadrotusy Syaikh KH. Achmad Asrori al-Ishaqy ra.

Tujuan utama terselenggaranya majlis haul

Haul Akbar Al Fithrah adalah majlis yang dirintis oleh Hadlrotusy Syaikh KH. Achmad Asrori al-Ishaqy ra.. Majlis ini diadakan secara istikomah pada ahad pertama bulan Sya’ban, di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah, Kedinding Lor, Surabaya. Dalam banyak pengajian beliau menuturkan keberadaan majlis ini adalah sebagai wujud syukur atas keberadaan orang-orang saleh yang telah mendahului kita.

Para orang saleh inilah yang melanjutkan Nabi Muhammad Saw., dalam membimbing dan menuntun umat beliau. Mereka menjadi guru yang telaten, membersamai umat di masa mereka masing-masing untuk melaksanakan syariat dengan benar dan menata laku batin yang baik. Mereka tidak hanya membimbing lewat kata-kata tapi juga menuntun kita lewat amaliyah dhahir dan bathin.

Tentunya kita ingin meniru orang-orang saleh tersebut. Meniru dalam artian tidak hanya mengkaji pemikiran dan amaliyahnya di tataran ilmiah. Namun lebih dari itu, bisa meniru amaliyah lahir dan batin mereka. Resep-kunci untuk meniru para orang-orang saleh adalah dengan bersyukur atau berterimakasih pada mereka. Dan, cara bersyukur pada mereka adalah dengan mendoakan mereka.

Kiai Asrori menginisiasi majlis dzikir dan haul yang kemudian hari dijalankan oleh Jama’ah Al Khidmah, sebagai wadah mendo’akan para orang saleh. Tidak hanya berkirim do’a pada mereka, beliau juga mengajak kita untuk mendo’akan orang tua kita. Mendo’akan orang tua merupakan satu dari tiga amal yang tak terputus setelah manusia wafat. Dan, Kiai Asrori menuntun kita untuk melaksanakannya secara berjama’ah.

Majlis berkirim do’a, bukan lomba ceramah apalagi mencari dukungan-suara

Haul Akbar Al Fithrah secara istikomah dilaksanakan pada Ahad pertama bulan Sya’ban. Pada tahun ini, Ahad pertama bulan Sya’ban jatuh pada tanggal 1 Sya’ban 1445 H. dan bertepatan dengan tanggal 10-11 Februari 2024 M. Tepat pada minggu tenang Pemilihan Umum 2024.

Kiai Asrori sudah menetapkan pedoman rangkaian acara haul akbar. Pedoman ini menjadi pakem pelaksanaan haul akbar setelah beliau – secara dhahir – tak lagi di tengah-tengah jama’ah. Sesuai dengan tujuan awalnya – untuk berkirim do’a pada orang-orang saleh, dan para leluhur kita –, tawasul, istighatsah, bacaan al-Qur’an, manaqib, tahlil, shalawat dan do’a menjadi rangkaian utama acara haul akbar.

Keberadaan sambutan hanya berisi ungkapan rasa syukur, pemohonan maaf dan do’a dari panitia penyelenggara. Kiai Asrori terbilang sangat jarang paring dawuh dalam majlis haul – baik di Al Fithrah maupun di tempat lain –, meskipun jama’ah tentu menantikannya. Beliau toh sudah punya majlis tersendiri yeng memang beliau khususkan untuk itu, seperti majlis ahad pertama (pagi) dan sowanan.

Jikapun ada ceramah dalam acara majlis haul, isinya adalah penguatan i’tiqad para jama’ah. Dan, durasinya sangat pendek dibanding rangkaian utama yang menjadi tujuan pokok dari terselanggaranya majlis haul, yaitu berkirim do’a. Apalagi bila dalam majlis haul diisi dengan ceramah yang berbau politis, untuk kepentingan pribadi. Tentu ini sangat kontra-produktif dari tujuan pokok terselenggaranya majlis haul.

Himbauan untuk jama’ah Haul Akbar Al Fithrah 2024

Sehingga perlu ditekankan pada seluruh jama’ah yang akan hadir di Haul Akbar Al Fithrah 2024 untuk sejenak menanggalkan atribut politiknya. Baik panitia, pengisi acara, dan hadirin pada umumnya, mungkin tidak hanya sebagai pemilih di Pemilu 2024. Bisa jadi, ada yang mencalonkan diri, tim pemenangan atau sekedar simpatisan di Pemilu 2024. Perlu adanya kesadaran bersama tujuan pokok majlis haul ini terselenggara, yakni mendo’akan para guru dan leluhur agar terjalin ikatan hati dan rohani antara kita dengan mereka.Wallahu A’lam.

Hal Yang Perlu Diperhatikan Saat Makan Talaman

Jika ditanya, apa ciri khas majlis yang diadakan di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah dan oleh Jama’ah Al Khidmah? Makan talaman, pasti jadi satu dari sekian ciri khasnya. Sajian nasi beserta lauk pauk dan pendukung lainnya, yang dihidangkan dalam nampan. Biasanya satu porsi talam diperuntukkan untuk dimakan tiga sampai empat orang, bahkan lebih.

Makan talaman biasanya dibagikan setelah majlis rampung. Makan dengan cara seperti ini, sudah ada sejak Hadrotusy Syaikh KH. Achmad Asrori al-Ishaqy ra. masih di tengah-tengah jama’ah. Dan, terus dilestarikan hingga hari ini karena dalam makan talaman terlimpah banyak keberkahan. Namun, belakangan semangat berebut barokah lebih unggul dari berbagi keberkahan.

Dalil makan talaman

Imam Nawawi (Riyadhu al-Shalihin, 238-241), menyebutkan bayak hadits yang menerangkan anjuran Nabi Muhammad Saw dalam menikmati makanan. Di antaranya ada dua hadits yang mengarah pada anjuran makan talaman. Pertama, hadits yang diriwayatkan oleh Wahsyi bin Harb ra.,

أَنَّ أَصْحَابَ رَسُوْلِ الله ِ- صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، إِنَّا نَأْكُلُ وَلَا نَشْبَعُ. قَالَ: «فَلَعَلَّكُمْ تَفْتَرِقُونَ؟» قَالُوْا: نَعَمْ. قَالَ: «فَاجْتَمِعُوا عَلَى طَعَامِكُمْ، وَاذْكُرُوْا اسْمَ اللهِ، يُبَارَكْ لَكُمْ فِيهِ». رَوَاهُ أَبُوْ دَاوُدَ.

Para sahabat Rasulullah Saw. berkata, “wahai Rasulullah, kami makan tapi tak kunjung kenyang.” Beliau bertanya, “mungkin kalian makan sendiri-sendiri?” Mereka menjawab, “iya.” Beliupun bersabda, “berkumpullah dalam makanan kalian, dan sebutlah nama Allah, niscaya makanan kalian akan mendapat keberkahan.” (HR. Abu Dawud)

Hadits lain yang mengarah pada anjuran makan talaman, diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra.,

قَالَ رَسُولُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «طَعَامُ الْإِثْنَيْنِ كَافِي الثَّلَاثَةِ، وَطَعَامُ الثَّلَاثَةِ كاَفِي الْأَرْبَعَةِ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Rasulullah Saw. bersabda, “makanan untuk dua orang cukup untuk tiga orang, dan makanan untuk tiga orang cukup untuk empat orang.” (HR. Imam Bukhari – Imam Muslim)

Hal yang perlu diingat saat makan talaman

Makan talaman memang penuh berkah, sehingga banyak jama’ah yang kadang berupaya untuk berebut keberkahan itu. Hanya saja, ada spirit lain yang sepertinya terabaikan dalam makan talaman. Spirit berbagi keberkahan. Dua hadits di atas sangat menekankan hal ini.

Praktiknya, semangat berebut talam terkadang malah berujung tumpahnya beberapa talam. Selain memubadzirkan makanan, hal ini juga mengotori tempat majlis. Tentu saja ada saja alasan bagi pelakunya untuk membenarkan kondisi ini. Tapi, hal ini sangat bisa dihindari jika mau bersabar menunggu talam dibagikan dan antri secara tertib.

Beberapa jama’ah juga enggan mengajak jama’ah lain untuk makan bersama. Padahal talam yang porsinya untuk tiga sampai empat orang baru disantap dua orang. Dan, disaat yang sama ada jama’ah yang tidak kebagian talam. Ditambah lagi sisa yang tidak termakan lebih banyak, tentu hal ini bertentangan dengan anjuran Nabi Saw.

Makan talaman momen berbagi keberkahan

Panitia di majlis manapun yang diselenggarakan di ponpes Al Fithrah dan oleh Jama’ah Al Khidmah, selalu ada petugas khusus untuk membagikan talaman. Ini sebagai usaha dari penyelanggara majlis, agar talaman bisa terdistribusikan dengan tertib dan menyeluruh. Menjangkau semua jama’ah yang hadir.

Baiknya, jama’ah juga mengambil peran dalam makan talaman. Jama’ah yang sudah mendapat talam, dan baru berdua apalagi sendirian, menawarkan jama’ah lain yang belum mendapat talam untuk makan bersama. Hendaknya jama’ah makan dengan tenang, sehingga tidak tercecer. Dan, tidak meletakkan talam di tempat sembarangan, sehingga menngganggu akses jalan.

Wallahu a’lam

Mengakhirkan Salat Isya’ Saat Menghadiri Majlis

Lazim diketahui, salat lebih utama dikerjakan di awal waktu. Namun, bagiamana jika di awal waktu ada suatu hal yang menyebabkan seseorang tidak bisa mengerjakannya? Seperti mengikuti majlis dzikir yang biasanya dimulai setelah Maghrib yang otomatis menabrak waktu Isya’.

Dan, yang jadi soal lagi adalah kelelahan dan munculnya kantuk setelah mengikuti haul, bisa menjadi sebab seseorang alpa mengerjakan salat Isya’. Berdzikir, bershalawat dan amaliyah sejenisnya adalah anjuran, sementara salat hukumnya jelas wajib.

Waktu utama mengerjakan salat Isya’

Imam Syihabudin al-Qulyubi (Hasyiataa Qulyubi wa ‘Umairah, 1/132) menyebutkan dua pendapat mengenai waktu utama mengerjakan salat Isya’. Pertama salat Isya’ lebih utama dikerjakan di awal waktu. sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas’ud ra,

سَأَلْتُ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: أَيُّ الْأَعْمَالِ أَفْضَلُ؟ قَالَ: الصَّلَاةُ لِأَوَّلِ وَقْتِهَا

Aku bertanya pada Nabi Muhammad Saw., “apakah amal yang utama?” Beliau menjawab, “salat di awal waktunya.” (HR. Imam Daruqutni)

Hadits di atas menginformasikan secara umum, waktu paling utama mengerjakan salat adalah di awal waktu. Hal ini lazim dipraktikkan oleh umat islam. Praktiknya di beberapa tempat ibadah, sebagian muslim mengisi waktu setelah maghrib dengan amaliyah tertentu untuk menunggu masuknya waktu isya’. Kemudian mengerjakannya berjama’ah.

Pendapat kedua mengenai waktu utama mengerjakan salat isya’ adalah mengakhirkannya. Hal ini berdasar pada hadits yang diriwayatkan oleh Abi Hurairah ra.,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتَحِبُّ أَنْ يُؤَخِّرَ الْعِشَاءَ

Rasulullah Saw, menyukai mengakhirkan isya’ (HR. Imam Bukhari)

Selain hadits di atas, Imam al-Nawawi (al-Majmu’, 3/56-57) menuliskan cukup banyak hadits yang menginfomasikan Nabi Muhammad Saw. mengakhirkan salat Isya’nya. Untuk waktu tepatnya, ada sebagian yang berpendapat di pertengahan malam, dan sebagian lagi di sepertiga malam. Namun, ada catatan untuk waktu kedua ini,

فَإِنْ عَلِمَ مِنْ نَفْسِهِ أَنَّهُ إذَا أَخَّرَهَا لَا يَغْلِبُهُ نَوْمٌ وَلَا كَسَلٌ اُسْتُحِبَّ تَأْخِيرُهَا وَإِلَّا فَتَعْجِيلُهَا

Jika seseorang tahu diri, bahwa dengan mengakhirkan isya’, ia tidak akan tertidur atau malas – sehingga menyebabkan meninggalkannya – maka mengakhirkannya dianjurkan baginya. Jika tidak, maka menyegerakannya lebih dianjurkan.

Solusi

Sebagaimana yang dipraktikkan oleh santri ponpes Al Fithrah yang sering mengikuti majlis dzikir di malam hari. Mereka bersegera mengerjakan salat isya’ begitu sampai di lokasi pondok. Hal ini juga dilakukan oleh banyak jama’ah yang menghadiri majlis dzikir. Mereka menyempatkan diri mengerjakan isya’ sebelum beristirahat.

Penundaan salat isya’ yang demikian, tentu tidak bertentangan dengan apa yang telah diajarkan oleh Nabi Muhammad Saw. Ditambah lagi, penyebab penundaannya adalah hadir dalam majlis, yang diisi dengan pembacaan Alqur’an, manaqib, dzikir dan maulid. Penundaan ini bukan karena sengaja menyepelekan karena panjangnya waktu isya’.

Wallahu a’lam.

Qath’iy Rukyah: Solusi Menjaga Hitungan Bulan Hijriyah (2)

Qath’iy Rukyat yang dirumuskan Lajnah Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LF PBNU) menjadi jawaban. Mengapa? Dengan berpatokan pada Qath’iy Rukyat Nahdlatul Ulama (QRNU) – kondisi hilal pasti bisa dilihat – dengan elongasi 9,9 derajat, maka bulan Jumadil Akhir tidak harus disempurnakan menjadi 30 hari.

Mengingat dua bulan sebelumnya – Rabi’ut Tsani dan Jumadil Awal 1445 H. – sudah berjumlah 30 hari. Jika mengacu pada hadits Nabi Muhammad Saw. maka jumlah hari bulan setelahnya, Jumadil Akhir 1445 H. harusnya berjumlah 29 hari. Ditambah lagi, berdasarkan data hisab, ijtimak akhir Rajab 1445 H. jatuh pada tanggal 10 Februari 2024 M. jam 5.56 WIB. Dan data hilal pada tanggal 29 Rajab 1445 H., bertepatan dengan Jum’at, tanggal 10 Februari 2024 M. tinggi 06° 33′ 47,54” dan elongasi 08° 00′ 58,08”.

Melihat data hisab tersebut, di tanggal 10 Februari 2024 potensi hilal terlihat sangat tinggi. Selain sudah melewati batas imkan, juga nyaris mendekati batas . Jika mengabaikan QRNU, dan hilal tidak terlihat di tanggal 29 Jumadil Akhir 1445 H./ 12 Januari 2024 M. maka bulan Jumadil Akhir akan diikmalkan (digenapkan) menjadi 30 hari.

Hal ini akan menimbulkan potensi bulan Rajab 1445 H. hanya berumur 28 hari. Mengapa? Karena sesuai dengan data di atas pada tanggal 10 Februari 2024 – yang jika bulan Jumadil Akhir digenapkan – bertepatan dengan tanggal 28 Rajab 1445 H. kondisi hilal sudah masuk kriteria IRNU. Jika hilal terlihat di hari itu, maka bulan Rajab 1445 H. hanya akan berumur 28 hari. Dan, hal ini tentu menyelesihi ketentuan yang ada.

Kondisi seperti ini bisa saja terulang di bulan dan tahun yang selanjutnya. Oleh karena itu, dari kasus seperti ini, QRNU perlu ditetapkan untuk menjaga hitungan bulan Hijriyah. Dengan hadits Nabi Muhammad Saw. sebagai pakem utama, bahwa jumlah hari bulan Hijriyah 30 dan 29 hari.

Qath’iy Rukyah: Solusi Menjaga Hitungan Bulan Hijriyah (1)

Awal bulan Jumadil Akhir 1445 H./ 2023 M. terjadi perbedaan antara tanggal yang sudah tertera di kalender, dengan hasil rukyat Hilal. Menurut hisab (perhitungan) dari beberapa metode, ijtima’ akhir bulan Jumadi Awal 1445 H. jatuh pada tanggal 13 Desember 2023 M. jam 6.32 WIB.

Ketinggian hilal di tanggal 29 Jumadil Awal 1445 H/13 Desember 2023 M. pun sudah masuk kriteria Imkanu Rukyat (kondisi memungkinkan untuk dilihat), dengan tinggi mar’i 04° 54′ 40,57” dan elongasi 07° 31′ 07,17”. Sementara batas minimal Imkanu Rukyat Nahdlatul Ulama’ (IRNU), tinggi 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat.

Namun, dari hasil laporan dari beberapa lajnah falakiyah dan para pelaku rukyat yang melakukan rukyat hilal di berbagai lokasi di tanggal itu, hilal tidak terlihat. Beberapa perukyat mengirimkan foto-foto ufuk barat saat rukyat berlangsung. Dan, di semua foto itu mendung memang terlihat cukup rapat dan tebal di ufuk barat.

Lajnah Falakiyah Al Fithrah bersama santri kelas XII PDF Ulya Al Fithrah Surabaya melakukan rukyat dua kali Rabu-Kamis (13-14/12/2023). Rukyat berlokasi di Wisata Bahari Lamongan. Di dua rukyat itu hilal tidak terlihat. Penyebab utamanya sama dengan di hari pertama, mendung.

Rukyat ke dua itu memang tidak berdampak hukum. Karena di tanggal 14 Desember 2023 M. bulan Jumadil Akhir 1445 H. sudah memasuki 30 hari. Sehingga secara otomatis, 1 Jumadil Akhir 1445 H. jatuh pada tanggal 15 Desember 2023 M. Merujuk Hadits Nabi Muhammad Saw, jumlah hari dalam satu bulan Hijriyah 30 dan 29 hari.

Namun, di kalender 2023 dan 2024 yang dikeluarkan Kementerian Agama Republik Indonesia, dan berbagai kalender yang ada, hari bulan Jumadil Awal 1445 H. hanya 29 dan hari bulan Jumadi Akhir 1445 H. 30. Sementara jika berpedoman pada hasil rukyat, maka di tanggal 30 Jumadil Akhir 1445 H. bertepatan 12 Januari 2024 M. baru masuk tanggal 29.

Mangacu pada tiga metode hisab – irsyad al-murid, tsamarot al-fikar, dan duru al-aniq -, ijtimak akhir bulan Jumadil Akhir 1445 H. jatuh pada hari Kamis 11 Januari 2024 M. jam 18.55 WIB. Sementara data hilal pada tanggal 29 Jumadil Akhir 1445 H. – menurut hasil rukyat bertepatan dengan hari Jum’at, 12 Januari 2024 M. –, ketinggian 12° 27′ 16″, dengan elongasi 13° 57′ 22″. Data ini menunjukkan posisi hilal sudah masuk kriteria IRNU.

Lalu, jika hilal tidak terlihat di tanggal 12 Januari 2024, apakah bulan Jumadil Akhir 1445 H. harus diistikmalkan (disempurnakan 30)?