alfithrah

Kunjungan Rombongan Masjid Ar Raudhah Malaysia ke Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya

Pada hari Senin, 13 April 2026, Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah menerima kunjungan istimewa dari rombongan jamaah asal Malaysia. Kegiatan ini menjadi momentum penting dalam mempererat ukhuwah Islamiyah lintas negara sekaligus memperkuat nilai silaturahim antar lembaga keagamaan.

Rombongan dari Masjid Ar Raudhah Kelantan

Rombongan yang dipimpin oleh Asep Saepudin, pengurus perjalanan wisata religi dari Jakarta, membawa sebanyak 45 peserta yang berasal dari Masjid Ar Raudhah Lundang Kota Bharu Kelantan Malaysia. Adapun komposisi peserta terdiri dari 30 jamaah putra dan 15 jamaah putri.

Kunjungan ini bertujuan untuk belajar langsung dari sistem pendidikan pesantren, serta mengambil nilai-nilai positif yang dapat diterapkan di lingkungan mereka di Malaysia.

Waktu dan Tempat Pelaksanaan

Kegiatan dilaksanakan pada hari Senin, 13 April 2026 mulai pukul 13.00 – 14.00 WIB, bertempat di Pendopo Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya.

Acara berlangsung dengan khidmat dan penuh kehangatan, dengan susunan kegiatan dibuka dengan Tawasul dan Istighosah oleh Ust. Ilyas Rahman, S.Ud dilanjutkan Sambutan Pengurus Pondok oleh Ust. Dr. Fathur Rozi, M.H.I.

Sambutan Tamu disampaikan oleh Ust. Saibon yang dilanjutkan dengan Sesi Tanya Jawab serta diakhiri Penutup dan Doa oleh Ust. Mustaqim, M.Fil.I.

Silaturahim Ke Jawa

Rombongan dari Masjid Ar Raudhah Lundang Kota Bharu Kelantan Malaysia ini menempuh perjalanan selama 11 hari sejak 11 hingga 22 April 2026 dengan tema kegiatan “Jelajah Jawa”. Semoga perjalanan silaturrahmi mereka mendapatkan kemudahan rezeki, kesehatan dan panjang umur, sebagaimana janji Rasulullah SAW:

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

“Barang siapa ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung silaturahmi.” (HR. Sahih Bukhari No. 5986 dan HR. Sahih Muslim No. 2557)

Kunjungan ini juga diharapkan dapat menjadi jembatan kolaborasi antar pesantren dan lembaga Islam di Asia Tenggara, serta memperkuat semangat berbagi ilmu, pengalaman, dan nilai-nilai keislaman.

Pelajaran dari Apel Kanjeng Syaikh

Kanjeng Syaikh adalah julukan daripada Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani. Beliau adalah sosok ulama yang namanya tidak asing di telinga umat Islam Nusantara. Kisah tentangnya dibaca berulang melalui kegiatan majlis manaqib yang menceritakan kisah hidupnya.

Di antara kitab manaqib Kanjeng Syaikh yang tersebar luas di Indonesia adalah Kitab Al-Lujayn al-Dani karya Syaikh Abdul Karim Al-Barzanjy yang juga merupakan penulis kitab Maulid Al-Barzanjy.

Kitab Al-Lujayn Al-Dani ini kemudian dihimpun oleh Hadratusy Syaikh KH. Ahmad Asrori Al-Ishaqy ke dalam satu kitab yang berisikan runtutan Tawasul, Istighotsah, Yasin, Manaqib, Tahlil, Nasyid dan doa-doa yang biasa diamalkan oleh para Pengikut Tarekat Qodiriyah wan Naqsyabandiyah Al-Utsmaniyah.

Di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya, kegiatan manaqib diselenggarakan setiap Ahad Awal atau Ahad malam pertama bulan hijriyah. Ada kisah menarik tentang apel Kanjeng Syaikh. Berikut kisah lengkapnya.

Khalifah sowan Kanjeng Syaikh

Khalifah Abul Mudhoffar Yusuf (lahir 549 H / 1154 M.) adalah seorang keturunan raja yang hidup semasa dengan Kenjeng Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani (w. 561 H / 1166 M).

Beliau dikhabarkan sering sowan kepada Kanjeng Syaikh. Bukan jarang, beliau memaksa menunggu meskipun Kanjeng Syaikh tidak berkenan menemuinya. Dalam kunjungannya itu, Khalifah Abul Mudhoffar sering membawa buah tangan untuk diberikan kepada Kanjeng Syaikh.

أُرِيدُ شَيْاً مِنَ الْكَرَامَاتِ لِيَطْمَئِنَّ قَلْبِي

“Saya menginginkan karomah yang memenangkan hatiku” ungkap Khalifah Abul Mudhoffar.

“Apa yang kamu kehendaki” tanya Kanjeng Syaikh memperjelas.

Apel Keramat

تُفَاحًا مِنَ الغَيْبِ وَلَمْ يَكُنْ أَوَّانُهُ بِالْعِرَاقِ

“Sebuah apel dari alam gaib yang bentuknya tidak ada Irak” mantap Abul Mudhoffar.

Kanjeng Syaikh pun mengangkat tangannya ke langit dan tiba-tiba ada dua apel dalam genggamannya.

Kanjeng Syaikh pun memberikan salah satunya kepada Abul Mudhoffar.

Kanjeng Syaikh membelah apelnya dan ternampak putih bersih serta mengeluarkan bau misk apel tersebut. Abul Mudhoffar membelah apel di tangannya dan tampak busuk dipenuhi ulat.

يَا أَبَا الْمُطَفِّرِ هَذِهِ لَمَسَتْهَا يَدُ الظَّالِمِ فَدَوَّدَتْ كَمَا تَرَى وَهْذِهِ لَمَسَتْهَا يَدُ الْوِلَايَةِ فَطَابَتْ

“Yaa Abul Mudhoffar. Demikianlah apel yang dipegang oleh orang dalim, maka berulat sebagaimana Engkau lihat. Sedang apel yang ada di tangan kewalian ‘yadul wilayah’ akan menjadi bersih dan baik” jelas Kanjeng Syaikh.

Kesimpulan

Pisau di tangan orang yang baik akan menjadi peralatan pemenuhan kebutuhan yang kaya akan kemanfaatan.

Sebaliknya, pisau di tangan orang jahat akan mendatangkan kerugian dan mudarat. Wakadzalika al-waqtu

الوَقْتُ كَالسَّيْفِ إِنْ لَمْ تَقْطَعْهُ قَطَعَكَ

Waktu adalah seperti pisau. Jika kamu tidak menggunakannya untuk memotong, ia yang akan memotong mu.

Ada beberapa nama khalifah (raja) yang pernah semasa dengan Kanjeng Syaikh. Sebut ada Al-Muqtafi, memerintah: 530–555 H dan Al-Mustanjid, memerintah: 555–566 H. Tapi keduanya tidak meyakinkan sebagai objek cerita dalam kisah di atas, mengingat di akhir cerita Kanjeng Syaikh menyebut nama Yaa Abul Mudhoffar.

Kebaikan itu cahaya. Ia menyinari dan membuat bahagia sekitarnya.

Sebaliknya, kezaliman adalah kegelapan. Setiap apa yang ada di tangan kezaliman akan menjadi keburukan yang mematikan.

أَسْئَلُكَ بِجَاهِ الْجُدُودِ * وَالِي يُقِيمُ الْحُدُودَ

فِيْنَا وَيَكْفِي الْحَسُوْدَ * وَيَدْفَعُ الظَّالِمِينَ

As`aluka bijâhil-judûd(i) wâlî yuqîmul-hudûd(a)

Fînâ fayakfil-hasûd(a) wa yadfa’udh-dhâlimîn(a)

Kepada-Mu aku memohon dengan sunguh seorang pemimpin yang menegakkan batas-batas Di tengah kami, batas-batas yang mencegah orang-orang dengki dan membasmi orang-orang zalim.

Aamiin

Rapat Koordinasi Guru PDF Ulya Al Fithrah: Menguatkan Tafaqqquh Fiddin dan Penyesuaian Kurikulum

Dalam rangka mengawali kembali kegiatan belajar mengajar pasca liburan Idul Fitri serta menyambut perubahan kalender pendidikan dari Hijriyah ke Masehi, Pendidikan Diniyah Formal (PDF) Ulya Al Fithrah Surabaya menggelar rapat koordinasi bagi seluruh ustadz dan ustadzah pada Selasa, 31 Maret 2026 bertempat di Pendopo.

Kegiatan ini menjadi momentum penting bagi lembaga dalam memperkuat kembali komitmen mencetak generasi tafaqquh fiddin, yaitu para pelajar yang mendalami ilmu agama secara utuh, mendalam, dan berkelanjutan. Dengan perubahan kalender dan dinamika pembelajaran modern, diperlukan penyusunan ulang strategi pembelajaran agar tetap selaras dengan visi pendidikan pesantren.

Acara dibuka dengan bacaan tawassul Al-Fatihah, dilanjutkan istighotsah dan Sholawat Fi Hubbi, sebagai bentuk permohonan keberkahan kepada Allah SWT agar rapat berjalan lancar dan membawa maslahat bagi lembaga. Dalam sesi ini dipandu beberapa asatidz sepuh. Tampak hadir Ust. Dr. H. Abdur Rosyid, M.Fil.I, Ust. H. Zainul Arif, S.Ud, Ust. H. Moh. Sholeh, S.Ud, Ust. H. Khoirudin, S.Ud, Ust. H. Ridwan, S.Ud dan asatid lainnya.

Apresiasi atas dedikasi

Dalam sambutannya, Kepala Pendidikan Diniyah Formal Ulya Al Fithrah, H. Nasiruddin, S.Pd., M.M., menekankan pentingnya ketepatan administrasi melalui sosialisasi jurnal mengajar dan absensi, serta perlunya menyesuaikan materi ajar dengan kalender pendidikan baru. Ini menjadi bagian dari peningkatan kualitas layanan pendidikan sekaligus bagian dari upaya menjaga kesinambungan belajar santri.

“Berdasarkan hasil penilaian assesor kemarin, kita (PDF Ulya Al Fithrah, red.) sudah mendapatkan nilai akreditasi A. Tapi ada satu yang kurang, berdasarkan saran yang disampaikan oleh salah seorang assesor yang merupakan dzurriyah Pondok Lirboyo, yaitu jurnal (mengajar)” jelas Ust. Nashir.

Dalam suasana masih bulan Syawal itu beliau juga tak lupa memohon maaf atas segala kurang dalam memberikan pelayanan.

“Kami juga menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada panjenengan semua atas dedikasinya dalam membersamai dan mengajar para santri semuanya” lanjut beliau.

Penyesuaian Materi Ajar

Agenda utama rapat kali ini adalah musyawarah materi ajar setiap mata pelajaran seiring perubahan kalender pendidikan. Dalan hal ini diisi dengan pengarahan dari Waka Kurikulum, Ust. Dzulfikar Nasrullah, S.Ud.

“Tahun ini santri kelas XII sudah tidak lagi kembali (karena sudah dinyatakan lulus), sehingga perlu adanya penyesuian terhadap kegiatan belajar mengajar” terang Ustadz Dzul.

Dalam kesempatan ini beliau juga memandu diskusi kelompok guru sesuai rumpun mata pelajaran yang fokus pembahasannya pada dua hal penting:

1. Penyesuaian materi ajar sesuai kalender Masehi

2. Pengaturan ulang waktu dan alokasi pembelajaran

Para pendidik diminta membawa kitab mata pelajaran untuk jenjang Isti’dad, kelas X, dan kelas XI agar proses musyawarah berjalan efektif dan terarah.

Mengawal Proses Tafaqquh fiddin

Melalui forum musyawarah tersebut, diharapkan tersusun langkah-langkah strategis yang mampu memperkuat proses pembelajaran, khususnya yang berorientasi pada pendalaman ilmu agama. Dengan demikian, setiap guru memiliki peran penting dalam menjaga ruh pendidikan pesantren, yaitu membentuk santri yang memahami agama secara menyeluruh (tafaqquh fiddin) sekaligus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Sebagai bentuk apresiasi, seluruh ustadz dan ustadzah yang hadir tepat waktu dan mengikuti acara hingga selesai akan memperoleh fasilitas transport dari panitia. Hal ini merupakan wujud penghargaan atas dedikasi dan partisipasi aktif tenaga pendidik dalam memajukan lembaga.

Acara ditutup dengan penyampaian hasil diskusi dan doa bersama, dipimpin oleh MC. Semoga seluruh rangkaian musyawarah ini membawa keberkahan dan menjadi langkah maju dalam meningkatkan mutu pendidikan di PDF Ulya Al Fithrah.

Menggapai Lailatul Qodar di Majlis Sholat Malam 27 Ramadhan

Bulan Ramadhan tidak lama lagi akan berpamitan. Gegap gempita ibadah di dalamnya akan kita rindukan. Yaa semestinya itu yang perlu kita hidupkan di bulan-bulan Ramadhan.

Di antara ‘hadiah besar’ yang ada di bulan Ramadhan adalah Lailatul Qodar. Malam Lailatul Qodar adalah modal yang sangat besar. Keistimewaannya yang berlipat ganda membuat semua hati ingin mengejar. Apakah semua orang berhak untuk mendapatkan keutamaan Lailatul Qodar?

Tanda-tanda Lailatul Qodar

Lailatul Qodar memiliki tanda-tanda yang bisa dirasakan oleh banyak orang. Tanda-tanda ini meliputi tanda-tanda alam dan tanda-tanda rasa.

Tanda-tanda alam Lailatul Qodar di antaranya adalah pada malam itu tidak terasa panas dan tidak pula dingin. Malam itu nyaman dan tenteram sekali. Pada pagi harinya, matahari terbit dan sinar sorot dan hanya menampakkan kuningnya selayaknya kuning telur.

Pada malam itu juga tidak terdengar gonggongan anjing. Atau maknanya adalah tidak terdengar suara yang tidak Allah ridai pada malam Lailatul Qodar.

Tanda-tanda rasa Lailatul Qodar bisa dirasakan oleh orang yang mendapatkannya. Pada malam itu hati terasa mudah tersentuh. Muncul perasaan rendah diri dan merasa banyak kesalahan dan dosa yang dilakukan.

Yang muncul hanyalah rasa tunduk. Hingga kemudian keluar air mata. Pada waktu itulah bertepatan dengan disalami oleh Malaikat Jibril.

Kapan Lailatul Qodar?

Para ulama berselisih tentang kapan Lailatul Qodar. Tak lain sebab Allah merahasiakan kapan Lailatul Qodar.

Ada banyak riwayat yang menyatakan bahwa para sahabat dan ulama salaf yang mengalami Lailatul Qodar di tanggal yang berbeda-beda.

Dari banyaknya pengalaman para sahabat didapati bahwa mereka ‘menemukan’ Lailatul Qodar pada malam 27 Ramadhan (pitulikur). Hal ini yang kemudian melandasi kegiatan Majlis Dzikir dan Sholat Malam di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya dilaksanan setiap malam 27 Ramadhan atau Pitulikuran. Tentu dengan tidak melupakan pelaksanaan dzikir dan sholat malam setiap malam selama bulan Ramadhan.

Berikut doa munajat yang biasa dibaca ketika Majlis Sholat Malam 27 Ramadhan di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya.

مُوَدَّعْ مُوَدَّعْ يَا رَمَضَانَ # عَوْدَةً عَلَيْنَا بِالْغُفْرَانِ

حُوَيْدِي أَعِدْ لِي يَا رَمَضَانُ # حَدِيْثُ الْحَبَائِبُ يَا رَمَضَانُ

وَمَا حَالَ مِنْهُمْ يَا رَمَضَانُ # عَنِ الْعَيْنِ غَائِبُ يَا رَمَضَانُ

جَمِيْلُ الْمُحَيَّا يَا رَمَضَانُ # جَعِيْدُ أَمْ ذَوَائِبْ يَا رَمَضَانُ

رَعَا اللهُ لَيَالِي يَا رَمَضَانُ # حُظِيْنَا بِوَصْلِهُ يَا رَمَضَانُ

وَطَابَ اتَّصَالِي يَا رَمَضَانُ # بِعَلَّهُ وَنَهْلِهْ يَا رَمَضَانٌ

فَيَا ذَا الْجَلَالِ يَا رَمَضَانُ # لُفْ شَمْلِي بِشَمْلِهُ يَا رَمَضَانُ

فَقَلْبِي مِنَ الْبُعْدِ يَا رَمَضَانُ # وَالْهَجْرُ ذَائِبْ يَا رَمَضَانُ

أَنَا سَأَتْرُكِ الْهَمَّ يَا رَمَضَانُ # وَوَاصِلْ سُرُورِي يَا رَمَضَانُ

وَشَادْخُلْ وَشَازْحَمْ يَا رَمَضَانُ # بِقَلْبٍ جَشُوْرِي يَا رَمَضَانُ

وَلِي رَبِّ يَعْلَمْ يَا رَمَضَانُ # بِخَافِي أُمُوْرِي يَا رَمَضَانُ

أَرَى اللَّوْمَ عِنْدِي يَا رَمَضَانُ # خَطَأً غَيْرُ صَائِبْ يَا رَمَضَانْ

أَنَا مُسْتَجِيْرُ بَالُ يَا رَمَضَانُ # جَمَالُ الْمُكَمَّلْ يَا رَمَضَانُ

وَمَنْ فِي النَّبِيِّينَ يَا رَمَضَانُ # أَفْضَلْ وَأَكْمَلْ يَا رَمَضَانُ

أَبُو الْقَاسِمْ أَحْمَدْ يَا رَمَضَانُ # لَنَا خَيْرُ مُرْسَلٌ يَا رَمَضَانُ

بِهِ تَنْقَضِيْ لِي يَا رَمَضَانُ # جَمِيعُ الْمَطَالِبُ يَا رَمَضَانُ

وَمَنْ كَانَ جَدُّهُ يَا رَمَضَانَ # مُحَمَّد تَبَجَّحْ يَا رَمَضَانْ

فَفِي كُلِّ وَزْنَةً يَا رَمَضَانُ # فَوَزْنَتُهُ أَرْجَحْ يَا رَمَضَانُ

بِبَرْكَتِه رَبِّي يَا رَمَضَانُ # يُجَاوِزُ وَيَسْمَحْ يَا رَمَضَانُ

إِذَا اعْيَتْ عَلَيْنَا يَا رَمَضَانُ # جَمِيعُ الْمَذَاهِبْ يَا رَمَضَانُ

Siapa yang berhak atas Lailatul Qodar

Kembali ke pertanyaan awal tentang apakah semua orang bisa ‘memetik keutamaan’ Lailatul Qodar?

Terkait ini Hadratusy Syaikh KH. Ahmad Asrori Al-Ishaqy pernah dawuh:

“Kulo kaleh panjenengan dipun pacu dening Gusti Allah. Dipun pacu dus pundi? Shidqut tawajjuh ilaa Allah. Mboten cuma ngelakoni, mboten cuma tunduk. Estu. Estu seng ndadosaken kulo kaleh panjenengan niku shidqut tawajjuh niku nopo? Iso ngumpulaken pikiran lan atine dadi siji. Dikumpulaken ten pundi? Madep dateng Gusti Allah. Coro dus pundi? Ilang rasane. Mboten cumak ngelakoni tok mboten”

(Dengan dirahasiakannya Lailatul Qodar) saya dan Anda sekaliyan dipacu oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Dipacu untuk apa? Bersungguh-sungguh menghadap kepada Allah (shidqut tawajjuh). Bersungguh-sungguh. Bukan hanya sekadar melaksanakan. Bukan hanya tunduk. Bersungguh-sungguh bagaimana yang menyebabkan saya dan Anda sekaliyan menghadap kepada Allah subhanahu wa ta’ala? Yaitu yang bisa mengumpulkan hati dan pikiran menjadi satu. Dikumpulkan ke mana? Menghadap kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Caranya bagaimana? Hilang rasanya (dari kepentingan). Bukan hanya melaksanakan-melaksanakan (ibadah) saja” (terj.)

Semoga kita senantiasa diberikan kemudahan dan keistikomahan dalam menghadap dan sibo kehadirat Allah subhanahu wa ta’ala. Aamiin

Qasidah Ramadhan Arab, Latin dan Terjemahnya

Ramadhan adalah bulan yang dinantikan umat muslim sedunia. Hati mereka merindukannya. Pada bulan Ramadhan, pintu surga dibuka selebar-lebarnya, sementara setan dalam belenggu-Nya. Artinya, pada bulan Ramadhan Allah membuka pintu rahmatnya dan pengaruh setan ‘melemah’.

Banyak orang mengisi Ramadhan dengan berbagai macam amal kebaikan. Ada yang membaca Alquran, memperbanyak dzikir dan sholawat, menambah ilmu dan pengetahuan, bersedakah serta banyak amal kebaikan lainnya.

Di antaranya adalah berdzikir dengan bacaan Qasidah Ramadhan. Qasidah ini tidak asing di hampir seluruh kalangan umat muslim Indonesia. Hanya saja dalam pengamalannya ada yang memulainya dengan redaksi berbeda. Dalam sebagian kalangan menggunakan redaksi Syai’lillah yaa Ramadhan ataupun Syirillah yaa Ramadhan.

Qasidah Ramadhan biasa dibaca di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya setiap malam bulan Ramadhan, tepatnya setelah selesai salam kesepuluh sholat Tarawih. Berikut redaksi lengkap Qasidah Ramadhan, Arab, indonesia dan terjemahnya.

Redaksi Lengkap Qasidah Ramadhan

Berikut redaksi lengkap Qasidah Ramadhan yang dibaca di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah

لَا إلهَ إِلَّا اللهُ              لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ

يَا حَنَّانُ يَا مَنَّانُ         جُدْ لَنَا بِالْغُفْرَانِ

يَا حَنَّانُ يَا مَنَانُ         يَا قَدِيمَ الْإِحْسَانُ

بَحْرِ جُودِكَ مَلْيَانُ      جُد لَنَا بِالْغُفْرَانِ

جُدْ لِهَذَا الْإِنْسَانِ        عَبْدَ سُوءٍ خَزْيَان

مِنْ ذُنُوْبِ وَحْلَانْ      خَائِفْ إِنَّكَ غَضْبَانْ

رَبَّنَا نَسْتَعْفِيكَ            رَبَّنَا نَسْتَرْضِيْكَ

وَلَنَا ظَنٌّ فِيكَ             يَارَجَا أَهْلَ الْإِيْمَانِ

لَا تُخَيِّبُ رَاجِي         تَحْتَ بَابِكْ لَاجِي

لَمْ يَزَلْ فِي الدَّجِي      قَائِلاً يا حَنَّانْ

بِالنَّبِيِّ الْأُمِّي             وَخَدِيجَةُ أُمِّي

وَالْبَتُوْلِ الخَتْمِي         سَيِّدَاتِ النِّسْوَانُ

بِالنَّبِيِّينَ الْجَمْ             مِنْ أَبِيْنَا آدَمْ

وَ بِنُوْحِ الْأَقْدَامْ           وَخَلِيلِ الرَّحْمن

بِأَهْلِ تُرْبَةٌ بَشَار        وَالْفَقِيهِ الْمِشْهَارُ

وَبَأَلِ عَلْوِى الْأَبْرَارِ   مَنْ بِهِمْ حَالِي زَان

وَبِحَدَّادِ الْقُلُوبْ          يُنَالُ كُلُّ الْمَرْغُوب

وَزَالَ جُلُّ الْكُرُوْبِ    دَائِمَا فِي الْأَمَانُ

وَسُلْطَانِهِمْ مَنْظُوْرٌ      وَسَيْفِهِمْ مَشْهُوْرٌ

وَقَوْسِهِمْ مَوْتُوْرْ         عَبْدُ الْقَادِرِ الْجِيْلَانِ

وَبِالْبَطَلِ الْعَبْقَرِي      وَسِرُّهُ السَّارِيْ

لِمُحِبِّيْهْ يَسْرِيْ           شَيْخُنَا عُثْمَان

وَبِأَحْمَدْ أَسْرَارِي       ذِي الْأَخْلَاقِ النَّقِيُّ

لِمُعْتَقِدِيْهِ وَافِيْ           فِي مَدَى الْأَزْمَانُ

وَأَحْزَابِهِ مَنْصُوْرٌ      فِي الْأَفَاقِ مَشْهُوْرٌ

وَمُتَّبِعِيْهْ مَحْصُونَ     فِيْ رِضَا الرَّحْمَنْ

وَالْأَوْلِيَاءْ وَالصِّدِّيْقِيْنْ وَالشُّهَدَاءْ وَالصَّالِحِيْنْ

وَالْأَتْقِيَاءْ وَالْمُسْلِمِيْنْ  يَا رَجَا أَهْلَ الْعِرْفَانْ

يَا صَمَدُ يَا مُعْطِيْ      بِالْعَطَا لَا تُبْطِيْ

جُدْ لِهَذَا الْمُخْطِيْ       بِالرِّضَا وَالْغُفْرَان

جُدْ لَنَا بِالْمَطْلُوبُ       وَالْفَرَحْ مِثْلَ أَيُّوبُ

وَبِفَرْحَةْ يَعْقُوْبْ         حِيْنَ زَالَتِ الْأَحْزَان

الْفَقِيرِ الْمُحْضَارِ        قَائِمًا فِي الْأَسْحَارِ

قَائِلًا يَا سَتَارُ             جُدْ لَنَا بِالْغُفْرَان

وَالصَّلَاةُ الدَّائِمُ          عَلَى النَّبِيِّ بْنِ هَاشِم

عَدَّ مَنْ هُوَ قَائِمْ          بِالْعِبَادَةْ سَهْرَانِ

Redaksi Latin Qasidah Ramadhan

Redaksi Latin Qasidah Ramadhan ala Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah

Lā ilāha illallāh
Lā ilāha illallāh

Yā Ḥannān yā Mannān
Jud lanā bil-ghufrān

Yā Ḥannān yā Manān
Yā qadīmal-iḥsān

Baḥru jūdika malyān
Jud lanā bil-ghufrān

Jud lihādzal-insān
‘Abda sū’in khazyān

Min dzunūbin waḥlān
Khāif innaka ghaḍbān

Rabbanā nasta‘fīka
Rabbanā nastarḍīka

Wa lanā ẓannun fīka
Yā rajā’a ahlal-īmān

Lā tukhayyib rājī
Taḥta bābika lājī

Lam yazal fid-dajā
Qā’ilan yā Ḥannān

Bin-nabiyyil-ummī
Wa Khadījatu ummī

Wal-batūlil-khatmī
Sayyidātin-niswān

Bin-nabiyyīnal-jam‘
Min abīnā Ādam

Wa bi Nūḥil-aqdām
Wa Khalīlir-Raḥmān

Bi ahli turbati Bashār
Wal-faqīhil-mishhār

Wa bi Āli ‘Alawiyil-abrār
Man bihim ḥālī zān

Wa bi Ḥaddādil-qulūb
Yunālu kullul-marghūb

Wa zāla jullul-kurūb
Dā’iman fil-amān

Wa sulṭānihim manẓūr
Wa saifihim mashhūr

Wa qawsihim mawtūr
‘Abdul Qādir al-Jīlānī

Wa bil-baṭalil-‘abqarī
Wa sirruhūs-sārī

Li muḥibbīhi yasrī
Syaikhunā ‘Utsmān

Wa bi Aḥmad Asrārī
Dzil-akhlāqin-naqī

Li mu‘taqidīhi wāfī
Fī madal-azmān

Wa aḥzābihī manṣūr
Fil-āfāqi mashhūr

Wa muttabi‘īhi maḥṣūn
Fī riḍar-Raḥmān

Wal-awliyā’i wash-ṣiddīqīn
Wash-shuhadā’i wash-ṣāliḥīn

Wal-atqiyā’i wal-muslimīn
Yā rajā’a ahlal-‘irfān

Yā Ṣamad yā Mu‘ṭī
Bil-‘aṭā lā tubṭī

Jud lihādzal-mukhṭī
Bir-riḍā wal-ghufrān

Jud lanā bil-maṭlūb
Wal-faraḥ mitsla Ayyūb

Wa bifarḥati Ya‘qūb
Ḥīna zālatil-aḥzān

Al-faqīril-Muḥḍār
Qā’iman fil-asḥār

Qā’ilan yā Sattār
Jud lanā bil-ghufrān

Wash-ṣalātud-dā’im
‘Alan-nabiyyi ibni Hāsyim

‘Adda man huwa qā’im
Bil-‘ibādati sahrān

Terjemahan Lengkap Qasidah Ramadhan

Berikut terjemahan lengkap Qasidah Ramadhan

Tiada Tuhan selain Allah.
Tiada Tuhan selain Allah.

Wahai Yang Maha Pengasih, Wahai Maha Pemberi,
Anugerahkanlah kepada kami ampunan.

Wahai Maha Pengasih, Wahai Maha Pemberi,
Wahai Dzat yang sejak dahulu melimpahkan kebaikan.

Lautan kemurahan-Mu penuh melimpah,
Anugerahkanlah kepada kami ampunan.

Karuniakanlah kepada manusia ini,
Seorang hamba yang buruk dan hina.

Yang tenggelam dalam lumpur dosa,
Takut karena Engkau murka.

Wahai Tuhan kami, kami memohon ampunan-Mu,
Wahai Tuhan kami, kami memohon keridaan-Mu.

Dan kami berbaik sangka kepada-Mu,
Wahai harapan orang-orang beriman.

Jangan Engkau kecewakan orang yang berharap,
Yang berlindung di bawah pintu-Mu.

Yang terus berada dalam gelap malam,
Seraya berkata: Wahai Maha Pengasih.

Dengan (perantaraan) Nabi yang ummi,
Dan Sayyidah Khadijah ibuku.

Dan wanita suci yang utama,
Pemimpin para wanita.

Dengan seluruh para nabi,
Dari ayah kami Nabi Adam.

Dan Nabi Nuh yang teguh,
Dan kekasih Allah (Nabi Ibrahim).

Dengan para penghuni Turbah Basyar,
Dan para fuqaha yang masyhur.

Dengan keluarga Alawi yang saleh,
Yang dengan mereka keadaanku menjadi indah.

Dengan penempaan hati,
Dengannya tercapai segala harapan.

Dan hilanglah segala kesusahan,
Selamanya dalam keamanan.

Dan sultan mereka tampak nyata,
Dan pedang mereka masyhur.

Dan busur mereka yang kuat,
(Ya Allah, dengan wasilah) Abdul Qadir al-Jilani.

Dengan sang pahlawan yang luar biasa,
Dan rahasianya yang mengalir.

Kepada para pecintanya mengalir,
Guru kami Syekh Utsman Al-Ishaqy.

Dengan (keberkahan) Syaikh Ahmad Asrori (Al-Ishaqy),
Yang berakhlak suci.

Bagi para pengikutnya setia,
Sepanjang zaman.

Dan hizibnya mendapat pertolongan,
Terkenal di seluruh penjuru.

Para pengikutnya terlindungi,
Dalam keridaan Ar-Rahman.

Dan para wali, para shiddiqin,
Para syuhada dan orang-orang saleh.

Para muttaqin dan kaum muslimin,
Wahai harapan ahli makrifat.

Wahai Dzat Maha Dibutuhkan, Wahai Maha Pemberi,
Dalam memberi jangan Engkau tunda.

Karuniakan kepada hamba yang bersalah ini,
Keridaan dan ampunan.

Karuniakan kepada kami apa yang kami harapkan,
Dan kebahagiaan seperti Nabi Ayyub.

Dan kebahagiaan Nabi Ya‘qub,
Ketika kesedihan telah hilang.

Hamba yang fakir, Al-Muhdhar,
Berdiri di waktu sahur.

Seraya berkata: Wahai Maha Menutup Aib,
Anugerahkanlah kepada kami ampunan.

Dan shalawat yang terus-menerus,
Atas Nabi keturunan Bani Hasyim.

Sebanyak orang yang berdiri,
Dalam ibadah di malam hari.