Year: 2023

Jurnal Putih Ma’had Aly Al Fithrah Surabaya Raih Akreditasi Sinta 5

Ma’had Aly Al Fithrah Surabaya kembali menorehkan prestasi dalam Bidang Akademik. Kali ini, jurnal Putih Ma’had Aly (MAY) Al Fithrah mulai dari Vol. 06, No. 1 tahun 2021 sampai Vol. 10 No. 2 tahun 2025 meraih akreditasi Science and Technology Index (Sinta) 5 dari Kementrian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (No. 79/E/KPT/2023) periode I Tahun 2023 (24/07/2023).

Tercatat, jurnal Putih Ma’had Aly Al Fithrah merupakan salah satu jurnal yang paling tua. Selisih satu tahun dengan jurnal Nabawi Ma’had Aly Hasyim Asy’ari, Tebuireng. Sedangkan Ma’had Aly lain di Jawa Timur, seperti Salafiyah Situbondo dan Lirboyo masih fokus pada penerjemahan dan penerbitan kitab dan buku. Informasi ini berdasarkan Halaqoh Penguatan Jejaring Media dan Layanan Bagi Penyelenggara Pendidikan Al-Qur’an (5-7/12/2022).

Tak dapat dipungkiri, jurnal Putih merupakan jurnal pesantren yang pertama kali meraih akreditasi Sinta. Sehingga, hal ini menunjukkan, Ma’had Aly atau perguruan tinggi yang berbasis pesantren pada dasarnya memiliki nilai riset dan penelitian yang tinggi. Oleh karenanya, perlu untuk terus dikembangkan dengan menyesuaikan perkembangan dan tantangan zaman yang semakin kompleks.

Ditemui di kantor Ma’had Aly Al Fithrah Surabaya, Ust. Ahmad Imam Bashori M.Th.I, Mudir Ma’had Aly Al Fithrah beserta jajarannya merasa bangga atas capaian yang diperoleh jurnal Putih. Ia menyampaikan bahwa jurnal Putih yang berada di bawah naungan LPPM Ma’had Aly Al Fithrah ini harus terus dikembangkan dan melakukan upaya perbaikan dalam aspek pengelolaan jurnal agar dapat terakreditasi dan naik peringkat.

“Alhamdulillah, jurnal (Putih) Ma’had Aly Al Fithrah saat ini sudah meraih akreditasi Sinta 5 dan menjadi jurnal pesantren pertama yang telah terakreditasi. Kedepannya, jurnal Ma’had Aly Al Fithrah harus terus melakukan evaluasi pada manajemen jurnal. Mulai dari segi OJS (Online Journal Sistem), pengajuan ISSN serta pelatihan terhadap kualitas artikel jurnal dan juga kepada editor jurnal,” terang Ust. Abbas, panggilan akrab beliau.

Ketua LPPM Ma’had Aly Al-Fithrah, Ust. M. Abdullah Bahanan, M.Pd. menyampaikan agar jurnal Putih tidak berhenti pada akreditasi Sinta 5, namun terus berkembang hingga mencapai peringkat Sinta 3, bahkan menjadi jurnal yang terindeks Scopus.

“Proses Panjang yang kami lalui, syukur Alhamdulillah untuk jurnal Putih saat ini sudah terakreditasi Sinta 5. Harapan untuk kedepannya jurnal Ma’had Aly lebih aktif lagi dan harapan besarnya bisa terideks Scopus. Juga, menjadi teladan perguruan tinggi berbasis pesantren lainnya,” ujar Ust. Abdullah.

lh/dfn

Silaturrahmi Wali Santri Baru (2): Pesan Dari Keluarga Ndalem

Acara kemudian dilanjutkan dengan sambutan keluarga Ndalem ponpes Al Fithrah. KH. Muhammad Husni Mubarok, suami dari Nyai Saviera binti KH. Achmad Asrori al-Ishaqy, mewakili keluarga Ndalem menyampaikan sambutan ini.

“Semoga adik-adik semua, anak-anakku semua, semoga semuanya kerasan. Semoga semuanya diberikan kemudahan di dalam menuntut ilmu, di dalam memahami ilmu. Dan kelak ketika keluar dari Pondok Assalafi Al Fithrah panjenengan Semua menjadi orang-orang yang bermanfaat di tengah-tengah masyarakat Amin Amin Allahumma Amin,” do’a Kiai Husni di pembukaan sambutannya.

Kiai Husni menyampaikan bahwa segala nikma dari Allah Swt harus disyukuri tidak hanya dengan berucap Alhamdulillah tadi juga meningkatkan ibadah kepadaNya. Dan, diantara nikmat yang didapat oleh wali santri di hari ini adalah bersedianya putra-putra mereka untuk menjadi santri di ponpes Al Fithrah.

“Adek-adekku anak-anakku sekalian manfaatkan waktu yang adik-adik saat ini jalani menjadi seorang santri itu tidak semua orang mendapatkan nikmat itu yang mendapatkan nikmat itu hanya orang-orang yang dipilih oleh Allah subhanahu wa ta’ala,” pesan Kiai Husni pada para santri.

Kiai Husni juga berpesan kepada para santri, untuk benar-benar memanfaatkan waktunya selama di pesantren. Beliau mengutip maqalah Ulama, “kesempatan itu sering begitu cepat berlalu.” Beliau juga mengutip dawuh Guru beliau, “keraslah kepada dirimu ketika engkau masih muda, maka kelak Ketika engkau sudah dewasa dunia akan lunak kepadamu.”

Kiai Husni menyampaikan, di zaman pesebaran informasi dan media yang mudah diakses, rawan bagi manusia untuk terjebak di dalamnya. Pesantren menjadi jawaban atas itu. Santri yang belajar agama di pesantren akan mengetahui mana perkara halal dan haram, bagaimana cara beribadah yang benar.

Menutup sambutannya Kiai Husni menyampaikan Kunci keberhasilan seorang santri dibutuhkan keseriusan dari tiga pihak. “Yang pertama adalah santrine tekun Pak. Santrine tekun. Karena ilmu niku tidak akan bisa didapat, kecuali dengan belajar. Mboten wonten tiang turu terus tiba-tiba alim, mboten wonten” terang Kiai Husni.

“Yang kedua, orang tuanya tekun. Maksude orang tuanya tekun nopo?  Nopo nderek belajar? Nggeh mboten. Tekun dalam mensupport putra-putri kita dalam berproses belajar di pondok pesantren Assalafi Al Fithrah,” lanjut Kiai Husni. Support atau dukungan wali santri kepada santri tidak hanya berupa pembiayaan, tapi juga dengan do’a-do’a untuk putra-putrinya.

Kiai Husni menyebutkan beberapa nama Ulama’ yang dalam dalam proses belajarnya didukung oleh orang tua mereka. Tidak hanya dukungan biaya tapi juga dukungan do’a yang terpanjat dari para orang tua mereka untuk keberhasilan anak-anak mereka.

“Dan yang ketiga, yang terpenting adalah ketekunan dari guru-gurunya, dari para ustadz-ustadznya,” lanjut Kiai Husni. Beliau menyampaikan ketiga pihak ini harus sama tekun, guna keberhasilan dalam proses belajar. Salah satu saja di antara ketiganya tidak tekun maka kegagalan dalam proses belajar besar terjadi.

Kiai Husni mengakhiri sambutannya dengan mendoakan santri agara diberikan kemudahan dalam proses belajar. Beliau juga menaruh harapan, kelak jika sudah boyong dari ponpes Al Fithrah, para santri bisa melanjutkan dakwah Hadrotusy Syaikh KH. Achmad Asrori al-Ishaqy.

Turut hadir dalam acara ini putra-putri Hadhrotus Syaikh KH. Achmad Asrori Al Ishaqy; Nyai Siera En Nadia dan suami Mas Ahmad Iqbal Yanuardi, Nyai Saviera Es Salavia dan suami KH. Husni Mubarok, Mas Muhammad Nur El Yaqin El Ishaqy, dan Nyai Shella Es Shabarina.

Acara ini ditutup dengan do’a bihaqqil fatihah oleh Ust. Nashiruddin. Setelah acara ditutup, wali santri dan satri bersalaman dengan kelurga Ndalem, pengurus dan asatidz ponpes Al Fithrah.

Silaturrahmi Wali Santri Baru (1): Sosialisasi Buku Profil dan Tata Tertib Pondok

Hampir satu bulan setelah PSB gelombang 3 dilaksanakan, Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah mengadakan silaturrahmi wali santri baru dengan keluarga Ndalem dan pengurus (Sabtu,29/07/2023). Acara bertujuan untuk sosialisai peraturan ponpes Al Fithrah sekaligus penyampaian pesan keluarga Ndalem pada wali santri baru.

Lazimnya acara lain yang diadakan di ponpes yang didirikan oleh KH. Achmad Asrori al-Ishaqy, acara ini juga dibuka dengan rangkaian pembacaan tawasul, istighotsah, maulid fi hubbi dan do’ fi hubbi. Ust. H. Arif, Ust. Hadhori, Ust. H. Sholeh dan Ust. H. Khoiruddin mendapat amanat untuk mengisi rangkaian acara ini.

Selanjutnya, acara dilanjutkan dengan pemutaran video kegiatan harian santri baru di ponpes Al Fithrah. Kegiatan santri mulai dari kegiatan wadhifah hingga sekolah didokumentasikan dengan baik oleh Al Wava, tim dokumentasi yang dibentuk langsung oleh Kiai Asrori. Wali santri pun terlihat antusias melihat video tersebut.

Setelah pemutaran video selesai, acara dilanjutkan dengan sambutan ketua ponpes Al Fithrah sekaligus sosialisasi kegiatan dan peraturan di ponpes Al Fithrah. Sambutan ini disampaikan langsung oleh Ust. Ahmad Kunawi, ketua ponpes Al Fithrah.

Dalam sambutannya, Ust. Kunawi menjabarkan profil Al Fithrah secara singkat, berikut unit pendidikan yang ada di lingkungan ponpes Al Fithrah. Beliau juga menyampaikan kegiatan santri mulai dari bangun tidur hingga kembali tidur. Dan, beliu menegaskan bahwa semua kegiatan tadi sesuai dengan yang dituntunkan oleh Kiai Asrori.

Ust. Kunawi juga menekankan agar wali santri tidak lepas perhatian begitu saja pada putra-putrinya selama di pesantren. “Tetap harus komunikasi terus dengan para ustadnya, dengan ketua kamarnya, dengan gurunya, wali kelasnya dan seterusnya. Karena apa? Kita bersama-sama agar anak-anak kita menjadi lebih baik,” terang beliau.

Ust. Kunawi juga menyampaikan poin-poin penting yang penjabarannya ada dalam buku profil dan tata tertib ponpes Al Fithrah. Buku ini juga dibagikan dalam acara ini. Dalam buku ini sudah dijabarkan terkait proses izin, persambangan, pelanggaran sekaligus konsekuensianya juga ketentuan-ketentuan lain terkait kenaikan kelas.

“Sampeyan buka nanti dilihat-lihat aturan-aturan yang ada di pondok pesantren Assalafi Al Fithrah. Karena kita pondok pesantren Assalafiyah Al Fithrah ada aturan, mohon Bapak Ibu mengikuti aturan yang sudah ada,” tekan Ust. Kunawi.

dfn

Al Fithrah Terima Kunjungan Perwakilan 6 Negara Muslim

Sebanyak 15 tokoh muslim dari 6 negara di kawasan Asia dan Afrika didampingi jajaran BKKBN datang ke Pondok Pesantren Assalafi Al Fitrah Surabaya.  Kedatangan ini dalam rangka untuk menimba ilmu terkait pola pengajaran di Pondok Pesantren, khususnya terkait pembelajaran kesehatan reproduksi bagi santri.

15 tokoh muslim ini merupakan bagian dari program SSTC Offline Training on Strategic Partnership Between Government and Muslim Religious Leaders (MRLs) in Reproductive Health, Family, Prevention of Child Marriage an Reducing Stunting.

15 tokoh muslim yang berasal dari Negara Ethiopia, Burundi, Nepal, Malaysia, Filipina dan Myanmar datang untuk belajar tentang Keluarga Berencana (KB) dan penurunan stunting di Indonesia, khususnya Kota Surabaya.

Rabu, 26 Juli 2023 di Pondok Pesantren Al Fitrah, 15 tokoh muslim melihat langsung proses pendidikan dari pengajar (ustadz) ke santri. Dalam sesi Tanya jawab, delegasi dari Somalia bahkan mengaku iri atas sistem pengajaran di Pondok Pesantren di Indonesia.

Pasalnya, di negaranya berlaku sistem sekulerisme yang memisahkan antara agama dengan pemerintahan, meskipun mayoritas warganya adalah muslim. Sehingga tidak ada pengajaran agama dalam pendidikan formal dinegaranya seperti halnya di Indonesia.

Bagi ponpes Al Fithrah ini bukan kali pertama menerima tamu dari luar negeri. Sebelumnya Al FIthrah menerima tamu dari Australia. Selain itu, setiap tahun Al Fithrah akan kerawuhan tamu dari Saudi Arabia, yang menghadiri Haul Akbar Al FIthrah di minggu pertama bulan Sya’ban.

Sumber: @sehatsurabayaku

‘Asyura: Peristiwa Penting, Berlabuhnya Kapal Nabi Nuh as, dan Tradisi Membuat Bubur.

Di beberapa daerah di Indonesia hidangan utama peringatan hari ‘Asyura adalah bubur. Masing-masing daerah punya bubur khas untuk memperingati hari penting para Nabi ini. Pembutan bubur ini ternyata bukan tradisi yang dibuat-buat. Lalu, sejak kapan ‘Asyura’ diperingati dengan membuat bubur?

Peristiwa penting di hari ‘Asyura

Ibnu al-Jauzi (Bustaanu al-Waa’idhin, 250) menuliskan, kejadian yang dialami oleh para Nabi di bulan Asyura’.

Pertama, Nabi Adam as. diciptakan di dalam surga dan beliau diterima taubatnya

Kedua, Nabi Idris as. diangkat ke langit

Ketiga, Bahtera Nabi Nuh as. berlabuh dengan selamat di atas bukit Judi (Armenia sebelah selatan)

Keempat, Nabi Ibrahim as. dilahirkan dan diselamatkan dari api.

Kelima, Nabi Yusuf as. dikeluarkan dari dalam sumur tua yang gelap-gulita, dan kedua mata ayahnya, Nabi Ya’kub as. disembuhkan.

Keenam, Terbelahnya lautan untuk dilewati Nabi Musa as. dan tenggelamnya Fir’aun dan pasukannya.

Ketujuh, Nabi Yunus as. dikeluarkan dari perut Ikan dan kaumnya diterima taubat mereka

Kedelapan, Nabi Ayyub as. disembuhkan dari penyakit yang menimpanya

Kesembilan, Nabi Dawud as. diampuni, dan putranya, Nabi Sulaiman as. mendapat kerajaan

Kesepuluh, Nabi Isa as. dilahirkan dan diangkat ke langit.

Berlabuhnya kapal Nabi Nuh as.

Imam Nawawi (Nihayatu al-Zain, 196) menuliskan kisah, kapal Nabi Nuh as. berlabuh dengan selamat di atas bukit Judi (Armenia sebelah selatan) pada Hari ‘ Asyura. Beliau kemudian berkata kepada orang-orang yang bersama dengannya, “kumpulkanlah sisa dari perbekalanmu ! . . .”.

Lalu diantara mereka membawa segenggam kacang, segenggam kedelai, segenggam beras, segenggam gandum merah dan segengam gandum putih. Setelah semuanya terkumpul, Nabi Nuh as. berkata, “masaklah semuanya ! . . . , semoga kalian berbahagia dengan keselamatan yang telah dianugerahkan kepada kalian.”

Tradisi membuat bubur

Kisah Nabi Nuh inilah yang melatarbelakangi umat islam membuat selamatan dengan makanan yang terbuat dari biji-bijian (bubur merah). Makanan itulah adalah permulaan makanan yang ada dipermukaan bumi setelah air bah. Dan, hal yang demikian itu sudah menjadi adat-kebiasaan pada hari ‘Asyura.(Nihayatu al-Zain, 196)

Di hari ‘Asyura umat Islam juga bersyukur atas selamatnya Nabi Musa as. dan Bani Isra’il dari kejaran Fir’aun. Sehingga umat Yahudi pun juga mensyukuri hari ini dengan berpuasa. Selain kisah Nabi Nuh as. dan Nabi Musa as., hari ‘Asyura adalah hari penting bagi banyak Nabi as., yang tentunya harus disyukuri pula.