Year: 2026

Mikiri Kanjeng Nabi

Di dalam Kitab Qowaidul Asasiyah (Kaidah Dasar) fi Ilmu Hadits, Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki mengutip salah satu hadits tentang motivasi mempelajari ilmu hadits. Di sana, beliau mengutip sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Tirmidzi, Ibnu Hiban dan Baihaqi

إنَّ أولى النَّاسِ بي يَومَ القيامةِ أَكْثرُهُم عليَّ صلاةً

“Sungguh manusia yang paling utama kepadaku pada hari kiamat adalah yang paling banyak sholawatnya”

Hadits ini mengabarkan bahwa orang yang paling istimewa di sisi Rasulullah SAW, si paling dekat dengan beliau dan si paling berhak atas syafaat Rasulullah SAW, adalah orang yang paling banyak bersholawat kepadanya.

Memperbanyak Sholawat Kepada Kanjeng Nabi

Banyak bersholawat yang dimaksud di sini adalah banyak berdzikir mengingatnya. Batas banyaknya adalah memperbanyak bacaan sholawat dari pada mengingat hal lainnya selama sehari semalamnya. Dan menurut Sayyid Muhammad Al-Maliki, membaca hadits dan mempelajari ilmu hadits adalah bagian dari pada memperbanyak mengingat Rasulullah SAW.

Bersholawat, sebagaimana dalam QS. Al-Ahzab ayat 56, adalah bagian ibadah yang Allah SWT perintahkan dan Allah SWT juga melakukannya. Dan sekali lagi, memperbanyak sholawat adalah bukti cinta dan termasuk kesempurnaan hubungan dengan Rasulullah SAW. Kedudukan seseorang di akhirat adalah berdasar tingkatannya dalam bersholawat.

Bersholawat yang dimaksud di sini adalah berdzikir mengingat Rasulullah SAW. Yang perlu digaris bawahi adalah bersholawat yang ada ingat Rasulullah SAW di dalamnya. Bukan hanya membaca sholawat di lisan saja.

Mengingat-ingat bahwa Rasulullah SAW adalah sosok yang daimul hazn, senanti dalam kesedihan. Bahwa Rasulullah SAW adalah sosok yang hidupnya dipenuhi keprihatinan, bahkan sejak masa kecilnya. Rasulullah SAW adalah si paling berpengalaman tentang kesedihan.

Kita tidak pernah tahu apa yang terjadi di balik Rasulullah SAW mengganjal perutnya dengan batu untuk menghilangkan rasa laparnya. Yang sama-sama kita tahu, Rasulullah SAW adalah pribadi yang welas. Bisa jadi beliau lupa atau tidak tega menanyakan jatah makan beliau kepada istrinya. Akhirnya, beliau menghabiskan hari-harinya tanpa ada makanan masuk ke dalam perutnya.

Beliau Rasulullah SAW adalah orang yang tidak tegaan. Hati beliau rapuh untuk berbuat keras terhadap orang lain. Beliau orang yang lembut dan mudah tersentuh dengan keadaan sekitar. Meski itu kepada orang yang membenci dan memusuhinya.

Kasih Sayang Kanjeng Nabi

Dalam kamus hidupnya, Rasulullah SAW tidak sekalipun melakukan sesuatu, kecuali dilandasi rahmah di dalamnya. Sama sekali tidak ada tujuan memenuhi kebutuhan dan kepentingan dirinya sendiri. Beliau tidak bisa marah kepada orang. Ucapannya lembut dan penuh kasih sayang.

Dalam sebuah riwayat dikatakan Rasulullah SAW pulang sudah terlarut malam. Beliau tidak berani mengetuk pintu karena takut mengganggu istrinya yang sudah tidur. Sementara itu di dalam rumah, Sayyidah Aisyah sedang menunggu kedatangan suaminya. Beliau Sayyidah Aisyah menunggu di depan pintu, bersiap kapan saja pintu diketuk oleh Rasulullah SAW, hingga membuatnya terkantuk dan tidur di depan pintu dalam rumah. Di lain sisi, Rasulullah SAW juga menunggu di depan pintu dan akhirnya memutuskan untuk tidur di sana.

Catat, Rasulullah SAW tidak mampu mengganggu istrinya. Beliau adalah contoh sebaik-baiknya pribadi pemimpin kepala keluarga. Tidak heran jika kemudian Rasulullah SAW -sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat Tirmidzi- mengaku:

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِى

“Sebaik-baik kalian adalah (suami) yang paling baik terhadap keluarganya dan aku adalah yang paling baik terhadap keluargaku.”

Beliau bukan hanya jago memimpin agama dan negara, melainkan juga memimpin keluarganya. Beliau sibuk dengan urusan di luar rumah, tapi tidak meninggalkan kewajiban sebagai suami bagi istri dan ayah yang baik bagi putra-putrinya.

Beliau senantiasa mesra, komunikatif dan humoris dalam berkomunikasi. Beliau orang yang tidak pernah mengecewakan orang yang diajak dan mengajaknya bicara. Beliau akan menampakkan wajah tersenyum dan menghadapkan badan sepenuhnya kepada lawan bicaranya.

Selain dalam bersosial kepada manusia lainnya, Rasulullah SAW adalah pimpinan agama. Beliau penyampai risalah Islam ke alam semesta. Bukan rahasia bahwa Rasulullah SAW adalah orang yang banyak menghabiskan waktunya untuk beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Ibadahnya Kanjeng Nabi

Beliau adalah sebaik-baiknya contoh dan tauladan dalam ibadah, meski telah dijamin surga. Tak lain adalah sebagai pelajaran untuk umatnya. Dalam petikan Maulid Fii Hubby disebutkan:

أَحْيَا الدُّجَى زَمَنًا مُحَمَّدُ   حَتَّى اشْتَكَتْ قَدَمٌ مُوَرَّمٌ

Beliau Rasulullah SAW senantiasa menghidupkan malamnya sepanjang masa, sehingga kedua kakinya menjadi bengkak

Membayangkan dan memikirkan Rasulullah SAW adalah membayangkan sosok sempurnah dengan indah perangainya. Beliau istimewa tanpa cela. Kitab Syamail Muhammadiyah karya Imam Tirmidzi menjelaskan sosoknya. Imam Ad-Diba’y menyebutkan indah sejarahnya. Demikian pula Simtud Durar, Ad-Diya’ul Lami’ dan banyak kitab maulid tentang Rasulullah SAW lainnya.

فَإنَّ فَضْلَ رَسُولِ اللَّهِ لَيْسَ لَهُ ۞ حَدٌّ فَيُعْرِبُ عَنْهُ نَاطِقٌ بِفَمِ

“Sesungguhnya keutamaan Rasulullah itu tiada batasnya, sehingga lisan kesulitan menguraikannya”.

Bagaimana bisa kita mampu paham dan memahami tentang Rasulullah SAW, sementara kita tidak mampu mengenalnya, atau minimal dengan membayangkannya berdasarkan kisah sirah dan maulid-maulid tentang Rasulullah SAW. “Bagaimana mau bermimpi –apalagi berjumpa- Kanjeng Nabi, jika tidak pernah mikiri Kanjeng Nabi” demikian dawuh Hadratusy Syaikh Romo KH. Ahmad Asrori Al-Ishaqi.

Haul Akbar Al Fithrah Semarang: Digagas Berasas Takwa

Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Meteseh Semarang kembali menyelenggarakan Haul Akbar Al Fithrah yang menjadi agenda tahunan setiap Ahad pagi ketiga bulan Shafar. Tahun ini, kegiatan berlangsung pada Ahad, 2 Agustus 2026 M, dan dihadiri ribuan jamaah Al Khidmah dari berbagai daerah di Indonesia.

Haul Akbar bukan sekadar agenda rutin, tetapi menjadi momentum mempererat ukhuwah, memperkuat kecintaan kepada para ulama, serta menghidupkan syiar dzikir dan shalawat yang telah diwariskan oleh Hadratusy Syaikh KH. Ahmad Asrori Al-Ishaqy.

Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Meteseh memiliki sejarah yang sangat penting dalam perjalanan dakwah beliau. Di tempat inilah Perkumpulan Jamaah Al Khidmah dideklarasikan sebagai wadah untuk menghimpun umat dalam majelis dzikir, shalawat, dan mahabbah kepada Allah SWT serta Rasulullah SAW.

Berlokasi di Jalan Prof. Soeharso No. 99, Meteseh, Tembalang, Kota Semarang, pondok pesantren yang berdiri di kawasan perbukitan ini secara istiqamah menyelenggarakan Majelis Dzikir, Maulidurrasul SAW, dan Pembacaan Manaqib Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani setiap malam sebelas bulan Hijriah. Tradisi tersebut menjadi salah satu warisan dakwah Hadratusy Syaikh yang hingga kini terus hidup dan berkembang.

Persiapan Matang Demi Khidmah kepada Jamaah

Kesuksesan penyelenggaraan Haul Akbar tidak lepas dari kerja keras panitia bersama masyarakat sekitar. Sejak jauh hari, berbagai persiapan dilakukan demi memberikan kenyamanan kepada seluruh jamaah yang hadir.

Perbaikan fasilitas pondok, perluasan area parkir, penataan dekorasi, hingga penyediaan konsumsi dipersiapkan dengan penuh semangat khidmah.

Masyarakat sekitar pondok pun turut berpartisipasi dengan membuka rumah mereka sebagai tempat singgah bagi jamaah dari luar kota maupun luar provinsi yang telah hadir sejak malam Ahad.

Berdasarkan data Panitia Maktab, terdapat 111 rumah warga yang siap menampung jamaah. Rumah-rumah tersebut terbagi dalam lima sektor dengan kapasitas mencapai 4.529 orang, mencerminkan kuatnya semangat gotong royong dan persaudaraan yang telah lama menjadi ciri khas Jamaah Al Khidmah.

Mewakili panitia, Jamaah Al Khidmah, dan Keluarga Ndalem, H. Amir Mahmud, S.Sos., M.T. menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya Haul Akbar tahun ini.

“Semoga perkumpulan ini senantiasa dijaga oleh Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā sehingga acara ini terus terselenggara hingga hari kiamat.”

Sementara itu, sambutan dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah disampaikan oleh Gunawan Sudharsono, S.E., S.H., M.Si. Beliau menegaskan pentingnya pesantren sebagai pusat pembentukan karakter generasi bangsa.

“Pesantren merupakan pusat pendidikan karakter yang membentuk generasi beriman, berakhlak mulia, memiliki moralitas yang tinggi, serta mampu bersaing di tengah perkembangan zaman.”

Haul Menjadi Momentum Berbakti kepada Orang Tua

Mau’idhah hasanah disampaikan oleh KH. Muhammad Husni Mubarok, M.Ag. Beliau mengajak seluruh jamaah untuk memahami bahwa kehadiran dalam haul bukan sekadar menghadiri sebuah acara, melainkan memperkuat mahabbah kepada Allah SWT, Rasulullah SAW, para ulama, serta memperbanyak dzikir dan shalawat.

Beliau mengingatkan bahwa setiap majelis dzikir mendapatkan perhatian dari para malaikat Allah SWT.

Kemudian beliau menyampaikan sebuah atsar dari Ka’b al-Aḥbār:

لَوْ أَنَّ ثَوَابَ مَجَالِسِ الْعُلَمَاءِ بَدَا لِلنَّاسِ لَاقْتَتَلُوا عَلَيْهِ بِالسُّيُوفِ، حَتَّى يَتْرُكَ كُلُّ ذِي إِمَارَةٍ إِمَارَتَهُ، وَكُلُّ ذِي سُوقٍ سُوقَهُ

“Seandainya pahala menghadiri majelis para ulama tampak nyata bagi manusia, niscaya mereka akan saling memperebutkannya dengan pedang, hingga setiap pemegang kekuasaan meninggalkan kekuasaannya dan setiap pedagang meninggalkan pasar serta perdagangannya.”

Beliau juga mengingatkan bahwa salah satu tujuan utama menghadiri haul ialah memohon ampunan Allah SWT bagi diri sendiri dan kedua orang tua.

“Tidaklah seseorang keluar dari majelis ini kecuali dengan harapan dosa-dosanya dan dosa kedua orang tuanya diampuni oleh Allah SWT. Semoga siapa pun yang sedang mengalami kesulitan diberikan kemudahan oleh Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā.”

Sebagai penguat, beliau mengutip hadis Nabi ﷺ:

أَيُّ الْأَعْمَالِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ؟ قَالَ: الصَّلَاةُ عَلَى وَقْتِهَا، ثُمَّ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ

“Amalan apakah yang paling dicintai Allah?” Beliau menjawab, “Shalat pada waktunya, kemudian berbakti kepada kedua orang tua.”
(HR. al-Bukhari dan Muslim)

Beliau menambahkan bahwa bakti kepada orang tua tidak berhenti ketika mereka wafat. Justru setelah wafat, salah satu bentuk bakti yang paling utama adalah senantiasa mendoakan mereka. Karena itu, hakikat haul adalah menghadiahkan doa dan memohon rahmat Allah SWT untuk kedua orang tua serta para guru dan masyayikh.

Digagas Berasas Takwa, Bukan Kepentingan Dunia

Sejak awal berdirinya, Hadratusy Syaikh KH. Ahmad Asrori Al-Ishaqy telah menegaskan bahwa Jamaah Al Khidmah bukanlah organisasi politik maupun wadah kepentingan duniawi. Jamaah Al Khidmah dibentuk sebagai sarana berkumpulnya umat Islam untuk berdzikir kepada Allah SWT, mempererat ukhuwah, serta menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah SAW dan para ulama.

Landasan tersebut sejalan dengan firman Allah SWT:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

“Dan berpegangteguhlah kalian semuanya kepada tali (agama) Allah, serta janganlah bercerai-berai.”
(QS. Āli ‘Imrān: 103)

Persatuan yang diperintahkan dalam ayat ini adalah persatuan yang dibangun di atas Al-Qur’an, Sunnah, dan ketakwaan kepada Allah SWT.

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَجْمَعُ أُمَّتِي عَلَى ضَلَالَةٍ، وَيَدُ اللَّهِ مَعَ الْجَمَاعَةِ

“Sesungguhnya Allah tidak akan menghimpunkan umatku di atas kesesatan, dan pertolongan Allah bersama jamaah.”
(HR. at-Tirmidzi no. 2167)

Keutamaan berkumpul dalam majelis ibadah juga ditegaskan dalam hadis sahih:

وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ، إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ، وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ، وَحَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ، وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ

“Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah untuk membaca Kitab Allah dan mempelajarinya bersama-sama, melainkan ketenangan turun kepada mereka, rahmat meliputi mereka, malaikat menaungi mereka, dan Allah menyebut mereka di hadapan makhluk yang berada di sisi-Nya.”
(HR. Muslim no. 2699)

Imam al-Ghazali dalam Iḥyā’ ‘Ulūm ad-Dīn juga menjelaskan:

الْمُجَالَسَةُ مَعَ أَهْلِ الدِّينِ تُورِثُ زِيَادَةَ الْإِيمَانِ.

“Duduk bersama orang-orang yang taat kepada agama akan menambah keimanan.”

Karena itu, tujuan utama menghadiri majelis-majelis Al Khidmah adalah menyambungkan hati dengan Allah SWT melalui perantara kecintaan kepada Rasulullah SAW, para ulama, dan orang-orang saleh. Dengan fondasi takwa inilah Jamaah Al Khidmah terus menjaga istiqamah sebagai majelis dzikir, majelis ilmu, dan majelis yang menguatkan ukhuwah Islamiyah lintas daerah hingga hari ini.

Guyub, Rukun, Istiqamah: Tiga Pesan Utama HUT Ke-17 UCC di Al Fithrah Gresik

GRESIK – Suasana penuh kekhusyukan menyelimuti Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah yang terletak di Jln Lingkar Selatan Desa Kembangan 99, Kebomas, Gresik pada Sabtu malam Ahad, 18 Juli 2026. Ribuan jamaah, keluarga besar Ukhsafi Copler Community (UCC), Jamaah Al Khidmah, para habaib, kiai, dan masyarakat berkumpul dalam Majelis Dzikir dan Maulidurrasul SAW dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-17 Ukhsafi Copler Community (UCC).

Kegiatan ini menjadi ungkapan rasa syukur atas perjalanan UCC selama 17 tahun sekaligus momentum mempererat tali persaudaraan yang dibangun di atas kecintaan kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW.

Acara diisi dengan pembacaan Tawasul Fatihah, Surat Yasin, Manaqib Syaikh Abdul Qodir Al-Jilany, Maulidurrasul SAW, mauidhoh hasanah, serta doa bersama yang dipanjatkan untuk keberkahan seluruh anggota UCC, para masyayikh, dan kaum muslimin.

Syukur atas Usia Ke-17, Perkuat Ukhuwah karena Allah

Dalam sambutannya yang mewakili Jamaah Al Khidmah, panitia HUT UCC, dan Keluarga Ndalem, KH. Muhammad Husni Mubarok menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya peringatan HUT ke-17 UCC.

Beliau mengucapkan selamat kepada seluruh anggota UCC seraya mendoakan agar kebersamaan yang telah terjalin semakin kuat.

“Selamat ulang tahun untuk teman-teman semuanya. Semoga semakin guyub, semakin rukun, semakin kompak. Yang sudah waktunya menikah, semoga Allah segera memberikan jodoh terbaik.”

Beliau juga mengajak seluruh anggota UCC agar terus istiqamah mengamalkan ajaran Hadratusy Syaikh KH. Ahmad Asrori Al Ishaqy serta menjaga niat dalam berorganisasi semata-mata mengharap ridha Allah SWT.

Menurut beliau, lahirnya UCC patut disyukuri melalui amalan-amalan yang mendekatkan diri kepada Allah, seperti berdzikir, membaca manaqib, dan memperbanyak shalawat kepada Rasulullah SAW.

“Semoga tidak ada yang keluar dari tempat ini kecuali Allah mengampuni dosa-dosanya,” doa beliau yang diamini seluruh jamaah.

KH. Muhammad Husni Mubarok juga mengapresiasi seluruh panitia yang telah mempersiapkan acara selama berminggu-minggu hingga berlangsung dengan lancar.

Beliau berharap seluruh anggota diberikan umur panjang sehingga dapat kembali dipertemukan pada HUT UCC ke-18 tahun 2027.

Persaudaraan karena Takwa Tidak Akan Terputus

Dalam kesempatan tersebut disampaikan pula pesan penting mengenai hakikat persaudaraan dalam Islam.

Mengutip firman Allah SWT:

الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ

“Teman-teman akrab pada hari itu saling bermusuhan, kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az-Zukhruf ayat 67).

Pesan ini menjadi pengingat bahwa hubungan duniawi akan berakhir, sedangkan persaudaraan yang dibangun karena ketakwaan akan tetap membawa keberkahan hingga akhirat.

Semangat inilah yang menjadi ruh berdirinya UCC, yakni membangun persahabatan tanpa memandang latar belakang. Ada anggota yang pernah mondok maupun yang belum pernah mengenyam pendidikan pesantren, namun semuanya dipersatukan oleh kecintaan kepada Allah, Rasulullah SAW, para ulama, serta keinginan untuk terus memperbaiki diri.

Para jamaah juga diajak untuk senantiasa menjaga kekompakan dan persatuan karena rahmat Allah SWT senantiasa turun kepada orang-orang yang hidup dalam kebersamaan.

Pada kesempatan tersebut juga diumumkan sejumlah agenda besar Jamaah Al Khidmah yang akan datang, di antaranya:

  • Haul Akbar Al Fithrah Semarang pada 2 Agustus 2026.
  • Haul Hadratusy Syaikh KH. Ahmad Asrori Al Ishaqy di Masjid Al Fithrah Kepanjen, Malang pada Jum’at malam, 14 Agustus 2026.
  • Haul KH. Afifi dan KH. Ali Afifi pada Selasa, 18 Agustus 2026.

Jamaah turut memanjatkan doa untuk kesembuhan Ketua Umum Pengurus Jamaah Al Khidmah, H. Muhammad Uripan, agar segera dianugerahi kesehatan dan dapat kembali berkhidmah bersama jamaah.

Mauidhoh Hasanah: Taubat Membuka Jalan Kemuliaan

Mauidhoh hasanah disampaikan oleh Habib Abas bin Abu Bakar Al-Haddad dari Tegal, Jawa Tengah.

Beliau mengajak jamaah agar senantiasa memuliakan Rasulullah SAW, para ulama, dan para kiai sebagai penyambung risalah Nabi Muhammad SAW.

Habib Abas juga mendoakan agar seluruh ulama, habaib, kiai, serta para ustaz diberikan umur panjang, kesehatan, dan kemudahan dalam menjalankan dakwah.

Tak lupa beliau turut mendoakan seluruh jamaah.

“Semoga yang belum mendapatkan jodoh segera dipertemukan dengan pasangan terbaik. Yang sudah berumah tangga semoga Allah menambahkan mawaddah, rahmah, dan sakinah.”

Dalam tausiyahnya, beliau mengisahkan perjalanan hidup Imam Fudhail bin Iyadh yang diringkas dari Kitab Hilyatul Auliya’.

Dikisahkan bahwa sebelum menjadi seorang ulama besar, Fudhail bin Iyadh dikenal sebagai seorang yang sangat disegani karena keburukannya. Namun ketika hendak menemui kekasihnya pada suatu malam, beliau mendengar firman Allah SWT dalam QS. Al-Hadid ayat 16:

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ

Seketika beliau berkata, “Qad āna (sudah saatnya).”

Ayat tersebut menjadi titik balik kehidupannya hingga beliau bertaubat, berangkat ke Makkah, menuntut ilmu, dan akhirnya menjadi salah satu ulama besar yang dikenang sepanjang sejarah.

Habib Abas juga menjelaskan adab berdoa sebagaimana diajarkan para ulama Ahlussunnah wal Jamaah, yakni menghadapkan hati kepada Allah SWT serta menjadikan Rasulullah SAW sebagai wasilah dalam memohon kepada-Nya.

Beliau mengutip sejumlah atsar dan pendapat ulama, di antaranya dari Imam Makruf Al-Karkhi sebagaimana dinukil dalam I’anatut Thalibin:

مَنْ هَيَّأَ طَعَامًا لِأَجْلِ قِرَاءَةِ مَوْلِدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَجَمَعَ إِخْوَانًا، وَأَوْقَدَ سِرَاجًا، وَلَبِسَ جَدِيدًا، وَتَبَخَّرَ، وَتَعَطَّرَ تَعْظِيمًا لِمَوْلِدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، حَشَرَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَعَ الْفِرْقَةِ الْأُولَى مِنَ النَّبِيِّينَ، وَكَانَ فِي أَعْلَى عِلِّيِّينَ.

“Barangsiapa menyediakan makanan untuk pembacaan Maulid Nabi SAW, mengumpulkan saudara-saudaranya, menyalakan lampu, memakai pakaian yang baru, memasang harum-haruman dan memakai wangi-wangian karena mengagungkan kelahiran Nabi SAW, niscaya Allah akan mengumpulkannya pada hari kiamat bersama golongan orang-orang yang pertama di kalangan para nabi dan dia akan ditempatkan di syurga yang paling atas (‘Illiyyin).”

Acara ditutup dengan doa bersama agar UCC senantiasa mendapatkan keberkahan di usianya yang ke-17, diberikan kekuatan untuk terus istiqamah dalam kebaikan, serta menjadi wadah persaudaraan yang semakin kokoh karena Allah SWT.

Semoga seluruh jamaah yang hadir memperoleh ampunan dosa, diangkat derajatnya, dimudahkan segala urusannya, serta senantiasa berada dalam lindungan dan rahmat Allah SWT.

Kemenag Luncurkan Gerakan Nasional Pesantren Ramah Anak, Target Seluruh Indonesia Tercapai pada 2029

Pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag) terus memperkuat komitmennya dalam menciptakan lingkungan pendidikan Islam yang aman, nyaman, dan bebas dari segala bentuk kekerasan. Komitmen tersebut diwujudkan melalui implementasi Keputusan Menteri Agama (KMA) Nomor 91 Tahun 2025 tentang Pesantren Ramah Anak, yang menjadi landasan utama dalam membangun budaya perlindungan anak di lingkungan pesantren dan madrasah.

Sebagai bentuk penguatan implementasi kebijakan tersebut, Kemenag secara resmi meluncurkan Gerakan Nasional Ruang Aman Nyaman Anak (RANA) beserta aplikasi pendukung dan kanal pengaduan Telepontren. Seluruh program ini diarahkan untuk memastikan setiap santri memperoleh haknya untuk belajar, tumbuh, dan berkembang dalam lingkungan yang aman serta penuh kasih sayang.

Peluncuran Gerakan Nasional RANA dilaksanakan pada Ahad, 12 Juli 2026 secara luring di Pondok Pesantren Al-Hamidiyah, Depok, serta disiarkan secara daring melalui Zoom yang diikuti oleh perwakilan pondok pesantren dan Kantor Kementerian Agama dari seluruh Indonesia. Sebanyak 20 santri Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya mengikuti kegiatan ini via zoom bersama Kepala Pondok, Ust. Nashiruddin, M.Pd dan 3 perwakilan Kementerian Agama Kota Surabaya di Auditorium Al Fithrah Surabaya.

Pesantren Ramah Anak Menjadi Prioritas Nasional

Pondok Pesantren Al-Hamidiyah dipilih sebagai lokasi pencanangan Gerakan Nasional RANA karena dinilai berhasil memadukan sistem pendidikan salafiyah (tradisi kitab kuning) dengan pendekatan pendidikan modern (khalafiyah). Kegiatan ini menjadi agenda nasional yang dihadiri oleh berbagai pejabat tinggi negara, antara lain:

  • Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK)
  • Menteri Agama Republik Indonesia
  • Menteri Komunikasi dan Digital
  • Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak
  • Pejabat Pemerintah Kota Depok
  • Pimpinan lembaga negara dan kementerian terkait

Gerakan ini merupakan bagian dari target besar pemerintah untuk menghadirkan standar Pesantren Ramah Anak di seluruh Indonesia pada tahun 2029. Program tersebut juga disinergikan dengan pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) agar sejak hari pertama memasuki lingkungan pendidikan, anak-anak telah merasakan suasana yang aman, nyaman, dan menghargai martabat mereka.

Menteri Agama: Anak Adalah Amanah yang Harus Dijaga Bersama

Dalam sambutannya, Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, menegaskan bahwa pesantren harus terus menjadi tempat paling aman bagi anak-anak.

“Kenapa aman? Karena aman lahir dari amanah dan iman, sehingga kelak akan melahirkan generasi yang Al-Amin.”

Beliau menjelaskan bahwa pesantren merupakan lembaga pendidikan tertua di Indonesia yang lahir dari rahim masyarakat. Oleh sebab itu, seluruh elemen bangsa memiliki kewajiban untuk terus merawat keberadaan pesantren sebagai pusat pendidikan, pembentukan karakter, dan peradaban.

Menurut Menag, perlindungan anak bukan sekadar kewajiban administratif, melainkan bagian dari implementasi Maqāṣid al-Syarī’ah, khususnya dalam menjaga lima kebutuhan pokok manusia (al-ḍarūriyyāt al-khams), yaitu menjaga agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta.

Ia juga menegaskan bahwa segala bentuk kekerasan, baik fisik, seksual, psikis, maupun bentuk perundungan lainnya, tidak boleh mendapatkan toleransi sedikit pun di lingkungan pendidikan Islam.

Selain itu, Menteri Agama juga memperkenalkan rencana penguatan program Ekoteologi, sebagai bagian dari pembentukan karakter peserta didik yang peduli terhadap sesama dan lingkungan.

Telepontren dan Gerakan RANA Perkuat Perlindungan Santri

Sebagai langkah konkret mewujudkan Pesantren Ramah Anak, Kementerian Agama telah menyiapkan berbagai program strategis, di antaranya:

  • 512 pondok pesantren ditetapkan sebagai percontohan nasional.
  • Pembentukan Satuan Tugas Pencegahan Kekerasan di berbagai daerah.
  • Peluncuran kanal pengaduan Telepontren berbasis WhatsApp yang cepat, aman, mudah diakses, dan menjaga kerahasiaan pelapor.
  • Integrasi program dengan Gerakan Nasional Ruang Aman Nyaman Anak (RANA).

Melalui Gerakan RANA, pemerintah mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menciptakan ruang yang aman bagi anak, baik di rumah, sekolah, pesantren, madrasah, lingkungan sosial, maupun ruang digital.

Anak-anak diharapkan memperoleh perlindungan dari berbagai bentuk kekerasan, meliputi:

  • kekerasan fisik,
  • kekerasan seksual,
  • kekerasan psikis,
  • serta kekerasan di ruang digital.

Apabila masyarakat melihat, mengetahui, atau mengalami tindak kekerasan terhadap anak, pemerintah mengimbau agar segera melaporkannya melalui layanan SAPA 129, sehingga korban dapat memperoleh perlindungan dan pendampingan secara cepat.

Gerakan Nasional RANA juga sejalan dengan pelaksanaan Gerakan Bulan Bersama Lindungi Anak (BERLIAN) yang melibatkan berbagai kementerian dan lembaga. Kolaborasi lintas sektor ini diharapkan mampu membangun budaya perlindungan anak yang semakin kuat di seluruh satuan pendidikan Islam.

Melalui berbagai langkah tersebut, Kementerian Agama berharap pesantren benar-benar menjadi rumah kedua yang aman dan nyaman, tempat para santri tidak hanya memperoleh ilmu pengetahuan dan pendidikan agama, tetapi juga tumbuh dalam lingkungan yang penuh kasih sayang, penghormatan terhadap martabat manusia, serta bebas dari segala bentuk kekerasan.

Dengan target implementasi nasional pada tahun 2029, Pesantren Ramah Anak diharapkan menjadi wajah baru pendidikan Islam Indonesia yang lebih inklusif, humanis, dan mampu melahirkan generasi yang berilmu, berakhlak mulia, serta siap membangun masa depan bangsa.

Kemuliaan dan Keutamaan Akal dalam Islam Menurut Imam Al-Mawardi dan Imam Al-Ghazali

Majlis Dzikir, Maulidurrasul SAW dan Pengajian Ahad Kedua Bulan Muharram 1448 H telah usai diselenggarakan di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya pada Ahad pagi, 28 Juni 2026 M. / 13 Muharram 1448 H. Dalam majlis itu dibacakan Kitab Al-Muntakhobat fi Rabithah Al-Qolbiyah wa Shilah Al-Ruhiyah Karya Hadratusy Syaikh KH. Ahmad Asrori Al-Ishaqy, tepatnya pada jilid dua bab kemuliaan dan keutaman akal.

Akal merupakan salah satu nikmat terbesar yang Allah Ta’ala anugerahkan kepada manusia. Dengannya manusia mampu membedakan antara yang benar dan yang batil, mengenal Rabb-nya, memahami syariat, serta menjalani kehidupan dengan penuh hikmah. Oleh karena itu, para ulama menempatkan akal sebagai pondasi ilmu, sumber adab, dan sebab sempurnanya taklif (beban syariat).

Dalam khazanah Islam, banyak ulama yang menjelaskan kedudukan akal, di antaranya Sayyiduna Imam Abul Hasan Al-Mawardi dan Imam Hujjatul Islam Al-Ghazali. Penjelasan mereka menunjukkan bahwa akal bukan sekadar kecerdasan berpikir, tetapi juga sarana menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.

Kemuliaan Akal sebagai Dasar Agama dan Kehidupan

Sayyiduna Imam Abul Hasan Al-Mawardi menjelaskan bahwa seluruh keutamaan memiliki dasar, dan seluruh adab mempunyai sumber. Dasar tersebut adalah akal yang Allah jadikan sebagai pondasi agama sekaligus pilar kehidupan dunia.

Beliau berkata bahwa Allah mengaitkan kewajiban syariat dengan kesempurnaan akal. Dengan akal pula manusia mampu menjalankan hukum-hukum Allah serta hidup berdampingan meskipun memiliki keinginan, kebutuhan, dan tujuan yang berbeda-beda.

Hal ini menunjukkan bahwa akal merupakan amanah yang harus dijaga. Semakin baik seseorang menggunakan akalnya untuk menaati Allah, semakin tinggi pula derajatnya di sisi-Nya.

Akal adalah Sumber Ilmu Menurut Imam Al-Ghazali

Imam Hujjatul Islam Al-Ghazali raḥimahullāh menjelaskan hubungan yang sangat erat antara akal dan ilmu.

وَقَالَ سَيِّدُنَا الْإِمَامُ الْحُجَّةُ الْغَزَالِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ: «الْعَقْلُ: مَنْبَعُ الْعِلْمِ وَمَطْلَعُهُ وَأَسَاسُهُ، وَالْعِلْمُ يَجْرِي مِنْهُ مَجْرَى الثَّمَرَةِ مِنَ الشَّجَرَةِ، وَالنُّورِ مِنَ الشَّمْسِ، وَالرُّؤْيَةِ مِنَ الْعَيْنِ، فَكَيْفَ لَا يَشْرُفُ مَا هُوَ وَسِيلَةُ السَّعَادَةِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ؟ …»

Artinya:

“Akal adalah sumber ilmu, tempat terbitnya ilmu, dan fondasinya. Ilmu berasal dari akal sebagaimana buah berasal dari pohon, cahaya berasal dari matahari, dan penglihatan berasal dari mata. Maka, bagaimana mungkin sesuatu yang menjadi sarana menuju kebahagiaan di dunia dan di akhirat tidak memiliki kemuliaan?”

Melalui penjelasan ini, Imam Al-Ghazali memberikan tiga perumpamaan yang sangat indah mengenai hubungan akal dan ilmu.

  • Ilmu berasal dari akal sebagaimana buah berasal dari pohon. Pohon menjadi sebab lahirnya buah.
  • Ilmu berasal dari akal sebagaimana cahaya berasal dari matahari. Cahaya tidak akan ada tanpa sumbernya.
  • Ilmu berasal dari akal sebagaimana penglihatan berasal dari mata. Mata menjadi alat yang memungkinkan seseorang melihat.

Karena ilmu merupakan jalan menuju kebahagiaan dunia dan akhirat, maka akal sebagai fondasi ilmu memiliki kedudukan yang sangat mulia. Akal hendaknya digunakan untuk mengenal Allah, mencari kebenaran, memahami syariat, serta mengamalkan ilmu dengan penuh keikhlasan.

Tanda-Tanda Orang yang Berakal dalam Islam

Kemuliaan akal tidak hanya diukur dari kecerdasan berpikir, tetapi juga tercermin dalam kemampuan mengendalikan diri dan memperbaiki akhlak.

Dalam Al-Ḥikam aṣ-Ṣughrā al-‘Aṭā’iyyah disebutkan:

يُعْرَفُ الْعَاقِلُ بِثَلَاثٍ: بِمَلَكَتِهِ نَفْسَهُ عِنْدَ الشَّهْوَةِ، وَبِمَلَكَتِهِ لَهَا عِنْدَ الْغَضَبِ، وَبِتَرْكِهِ مَا لَا يَعْنِيهِ مَعَ الْقُدْرَةِ عَلَى الدُّخُولِ فِيهِ.

Artinya:

“Seseorang yang berakal dikenali dari tiga perkara: kemampuannya menguasai dirinya ketika dorongan syahwat muncul, kemampuannya mengendalikan dirinya ketika sedang marah, dan kesediaannya meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat baginya, padahal ia mampu untuk turut campur di dalamnya.”

Selain itu disebutkan pula sepuluh tanda kesempurnaan akal.

عَلَامَةُ الْعَقْلِ عَشْرٌ، خَمْسَةٌ مِنْهَا فِي الظَّاهِرِ، وَخَمْسَةٌ مِنْهَا فِي الْبَاطِنِ. أَمَّا الظَّاهِرُ: فَالصَّمْتُ، وَالتَّوَاضُعُ، وَحُسْنُ الْخُلُقِ، وَصِدْقُ الْقَوْلِ، وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ. وَأَمَّا الْبَاطِنُ: فَالتَّفَكُّرُ، وَالِاعْتِبَارُ، وَالْخُشُوعُ، وَالْخَوْفُ، وَذِكْرُ الْمَوْتِ.

Artinya:

“Tanda-tanda orang yang berakal ada sepuluh. Lima di antaranya tampak secara lahiriah, dan lima lainnya bersifat batiniah.

Adapun yang lahiriah ialah:

  1. Diam (menjaga lisan).
  2. Rendah hati.
  3. Akhlak yang baik.
  4. Jujur dalam perkataan.
  5. Beramal saleh.

Adapun yang batiniah ialah:

  1. Gemar berpikir dan merenung.
  2. Mengambil pelajaran dari setiap peristiwa.
  3. Khusyuk.
  4. Takut kepada Allah.
  5. Selalu mengingat kematian.”

Ungkapan ini menegaskan bahwa kesempurnaan akal tidak hanya tampak dari kecerdasan intelektual, tetapi juga dari kemuliaan akhlak dan kebersihan hati. Orang yang benar-benar berakal adalah mereka yang mampu mengendalikan hawa nafsu, menjaga lisan, memperbaiki perilaku, serta menghidupkan hati dengan tafakur, mengambil ibrah, takut kepada Allah, dan senantiasa mengingat kehidupan akhirat.

Penutup

Akal merupakan karunia agung yang Allah Ta’ala berikan kepada manusia sebagai dasar memahami agama, memperoleh ilmu, dan menjalani kehidupan dengan penuh hikmah. Imam Al-Mawardi menegaskan bahwa akal adalah pondasi agama dan sumber adab, sedangkan Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa akal merupakan sumber lahirnya ilmu yang mengantarkan manusia menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.

Oleh sebab itu, setiap muslim hendaknya memelihara akalnya dengan ilmu yang bermanfaat, memperindahnya dengan akhlak yang mulia, serta menggunakannya untuk semakin dekat kepada Allah Ta’ala. Inilah hakikat kemuliaan akal dalam Islam, yaitu akal yang membimbing pemiliknya menuju kebenaran, ketakwaan, dan keselamatan di dunia maupun di akhirat.

Referensi:

Al-Muntakhobat fi Rabithah Al-Qolbiyah wa Shilah Al-Ruhiyah Karya Hadratusy Syaikh KH. Ahmad Asrori Al-Ishaqy, jilid 1, hal. 276.