Surabaya – Majlis Kebersamaan dalam Pembahasan Ilmiah (MKPI) bersama pengurus Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya sukses menggelar Bahtsul Masail Se-Gerbang Kertosusila dalam rangka Milad ke-39 Ponpes Assalafi Al Fithrah. Kegiatan ilmiah ini berlangsung selama dua hari, 25–26 Agustus 2025, di Gedung Timur lantai 5 Ponpes Al Fithrah, Surabaya.
Acara pembukaan dimulai dengan tawassul dan istighatsah oleh Ust. Khoiruddin, dilanjutkan dengan sholawat Fi Hubbi oleh Ust. Ahmad Syatori serta doa Fi Hubbi yang dipimpin oleh Ust. Fathur Razi. Dalam sambutannya, Kepala Pondok Ust. Nashiruddin menyampaikan bahwa Bahtsul Masail ini diharapkan menjadi wasilah keberkahan bagi kemajuan pondok.
“Semoga dengan mujalasah dalam rangka tasyakuran Milad Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah ke-39 ini, bisa menjadikan Pondok lebih berkah, berkembang, dan maju,” ungkap beliau.
Beliau juga menuturkan sejarah singkat berdirinya Al Fithrah yang dimulai pada bulan Maulid tahun 1997, bersamaan dengan lahirnya berbagai kegiatan ilmiah dan sosial yang menjadi ciri khas pesantren ini.
Merawat Tradisi, Membangun Generasi Santri Berilmu dan Berakhlak
Mengusung tema “Merawat Tradisi, Membangun Generasi”, acara ini menjadi momentum penting bagi para santri untuk memperdalam keilmuan turats sekaligus menjawab tantangan zaman. Ust. Nashiruddin menegaskan bahwa santri Al Fithrah diharapkan tak hanya memahami kitab kuning, tetapi juga mampu menjadi muhaqqiq (peneliti) dalam menghadapi problematika modern tanpa meninggalkan nilai-nilai amaliah pesantren.
Bahtsul Masail kali ini diikuti oleh 20 pondok pesantren dari berbagai daerah seperti Lirboyo, Al Falah Ploso, Sidogiri, dan Al Fatich Osowilangun, serta beberapa perwakilan dari MWC NU Bubutan Surabaya. Para mushohih yang hadir antara lain KH. Asyar Shofwan, KH. Dr. Musyaffa’, K. Soelaiman, KH. Ma’ruf Khozin, dan K. Abu Sari, dengan moderator Ust. Abdullah dan Ust. M. Nurush Shobah.
Feodalisme Pesantren: Antara Ta’dhim dan Pendidikan Akhlak
Topik pertama yang dibahas pada Jalsah malam hari adalah “Feodalisme Pesantren”, yang diangkat oleh Ponpes Lirboyo Induk. Dalam forum yang berlangsung hingga pukul 23.30 WIB itu, para peserta sepakat bahwa sikap ta’dhim santri kepada kiai bukanlah bentuk pengkultusan, melainkan bagian dari pendidikan akhlak dan tarbiyah sebagaimana diajarkan Rasulullah SAW, sahabat, dan para ulama salaf. Artinya, tradisi penghormatan kepada guru tetap membuka ruang dialog dan tabayyun selama dijaga dengan adab yang baik.
Pada hari kedua, 26 Agustus 2025, topik dilanjutkan dengan pembahasan “Meminta Amal dengan Mengatasnamakan Lembaga Lain” yang merupakan kontribusi soal dari Al Fithrah. Hasil musyawarah menyimpulkan bahwa tindakan tersebut haram karena mengandung unsur penipuan (gharar), namun amal pemberi tetap sah selama niatnya tulus.
Acara ditutup dengan pembacaan hasil keputusan dan doa oleh KH. Ma’ruf Khozin, Ketua Fatwa MUI Jawa Timur, yang menegaskan:
“Pondok Pesantren Al Fithrah yang dikenal dari sisi tasawuf dan spiritualnya, ternyata juga memiliki kedalaman dalam kajian fikihnya.”
Untuk hasil keputusan bahtsul masail nya bisa dilihat di sini.
Dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional 22 Oktober 2025, Dinas Kesehatan Kota Surabaya menggelar kegiatan Gerakan Aksi Bergizi Cegah Stunting di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah, Rabu (22/10). Kegiatan ini diikuti oleh 655 santri MTs dan MA Al Fithrah, dengan tujuan menumbuhkan kebiasaan hidup sehat melalui sarapan bergizi, aktivitas fisik, konsumsi tablet tambah darah (TTD), serta edukasi kesehatan dan gizi seimbang.
Gerakan Aksi Bergizi, Langkah Nyata Cegah Stunting
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kota Surabaya, dr. Kartika Sri Redjeki, M.Kes, menjelaskan bahwa kegiatan ini bukan hanya peringatan semata, tetapi diharapkan menjadi rutinitas mingguan bagi para santri. Menurutnya, program Siber Casting (Aksi Bergizi Cegah Stunting) idealnya dilakukan setiap minggu melalui kegiatan senam pagi, sarapan bersama, minum TTD, serta penyuluhan pentingnya gizi seimbang.
“Melalui kebiasaan kecil seperti sarapan sehat dan olahraga rutin, kita bisa membentuk generasi muda yang lebih kuat dan produktif,” ungkap dr. Kartika.
Pesantren Dukung Santri Sehat Lahir Batin
Kepala Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah, Ust. Nashiruddin, S.Ud., M.Pd., menyambut positif kegiatan ini. Ia berharap Gerakan Nasional Aksi Bergizi dapat membantu menjaga kesehatan dan semangat belajar para santri. “Jika santri sehat lahir dan batin, insyaAllah semangat belajarnya akan semakin meningkat,” ujarnya.
Antusiasme Santri Warnai Rangkaian Kegiatan
Rangkaian kegiatan berlangsung meriah dan penuh antusiasme. Acara diawali dengan senam cuci tangan bersama, dilanjutkan sarapan bergizi, serta minum tablet tambah darah serentak bagi remaja putri.
Para santri juga mendapatkan edukasi kesehatan tentang PHBS yang disampaikan oleh Atik Qurrota A’Yunin Al Isyrofi, S.KM., M.Kes., dan materi pola gizi seimbang dari Dr. Novera Herdiani, S.KM., M.Kes. dari Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa). Acara dimoderatori oleh Irma Dian Permata, S.KM., M.Kes. dari PPPKMI (Perkumpulan Promotor dan Pendidik Kesehatan Masyarakat Indonesia) cabang Surabaya.
Dengan semangat kolaborasi antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan tenaga kesehatan, kegiatan ini menjadi langkah nyata menuju generasi santri yang sehat, cerdas, dan berdaya saing tinggi.
Rabu (22/10) Peringatan Hari Santri tahun ini diselenggarakan dengan suasana berbeda di Al Fithrah Surabaya. Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya tidak menyenangkan upacara hari santri.
“Tahun ini Kita menyelenggarakan peringatan hari santri dengan kemasan sederhana. Kita benar-benar menunjukkan identitas kita, sebagai santri Al Fithrah” Ungkap Kepala Pondok, Ust. Nashiruddin, M.Pd dalam sambutan yang disampaikannya.
Iya, Peringatan Hari Santri di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah dilaksanakan di Masjid Al Fithrah. Acara yang dimulai pukul 06.30 WIB ini diisi dengan Tawasul, Istighotsah, Yasin dan Maulidurrasul SAW. Para ustadz senior diamanahi untuk mengisinya. Di antaranya ada Ust. H. Sholeh, S.Ud, Ust. H. Hadori, S.Ud, Ust. H. Wahdy Alawy, S.Ud, Ust. H. Khoiruddin, S.Ud, dan Ust. H. Ridwan, S.Ud.
Kegiatan tahunan ini diikuti oleh seluruh peserta didik, pendidik dan tenaga kependidikan dari semua unit pendidikan di bawah naungan Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya. Turut hadir peserta didik RA Al Fithrah, MI Al Fithrah, PDF Wustho Al Fithrah, PDF Ulya Al Fithrah, Ma’had Aly Al Fithrah dan MDTJ Al Fithrah beserta guru-gurunya.
Agenda tahunan ini semakin istimewa dengan kehadiran putri-putri dari Hadratusy Syaikh Romo KH. Achmad Asrori Al Ishaqy. Rawuhnya beliau adalah pelipur lara hati para santri Al Fithrah semuanya. Di momentum hari santri kali ini, Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya turut menyumbang doa-doa terbaiknya.
Harapan untuk Santri Masa Depan
Peringatan Hari Santri tahun ini mengangkat tema ‘Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Dunia’. Tema ini mengandung makna bahwa keberadaan para kiai dan santri memiliki peran yang penting dalam mengupayakan kemerdekaan bangsa.
“Tentunya dalam mengawal ini, di zaman sekarang ini, tentunya bukan mengawal dengan otot, melainkan mengawal dengan ilmu, dengan adab, dengan akhlak, dengan keterampilan, sehingga bisa menuju peradaban dunia” jelas Ust. Nashiruddin.
“Dalam konteks Al Fithrah, kita punya tanggung jawab, punya tugas untuk mengawal bagaimana cita-cita ini (ilmu agamanya menjadi teladan, ilmu umumnya tidak ketinggalan) terealisasikan” tambah Ustadz yang juga pernah menjabat sebagai kepala PDF Wustho Al Fithrah.
Di antara caranya, sebagaimana dituturkan beliau adalah dengan bersatulangkah searah seirama antar para asatidz dan santrinya.
Para perintis lembaga pendidikan pondok pesantren seluruh Indonesia memiliki cita-cita yang sama agar para santri menjadi bagian bagi warna cerah peradaban dunia. Waktu para kiai dihabiskan untuk memperhatikan para santrinya.
Siapa itu kiai? Mereka yang mampu bersabar. Mereka yang tidak ada waktu untuk istirahat, melainkan 24 jam mendoakan santrinya. Bukan berfoya-foya dengan memanfaatkan santrinya. Mereka mengamalkan hadits Nabi untuk senantiasa mengasihi seluruh makhluk-Nya.
“Santri harus punya dua tujuan; pertama, istifadah min ilmi al-ulama, mencari ilmunya para ulama; istifadhoh bi nuril ulama, menjadi corong lubernya ilmu dan keberkahan” jelas Ust. Wahdy
“Barang siapa berilmu, beramal, dan mengajarkan (ilmu), maka dia disebut sebagai orang yang agung di dalam kerajaan langit.” Musnad al-Firdaws karya ad-Daylamī dan Ihya karya Imam Ghozali
Contohnya adalah melaksanakan sholat sesegera mungkin setelah mengetahui keutamaan sholat adalah dilaksanakan pada awal waktunya.
Contoh nyata keberhasilan adalah Syaikh Syamsuddin. Beliau mampu ber-istifadhoh sebab keestuan ngajinya kepada guru. Syaikh Syamsuddin ngaji kepada Syaikh Abdul Karim dengan berjalan kaki dari Bangkalan ke Pamekasan setiap hari.
“Kebetulan pada hari ini, Beliau Nyai Siera En Nadia juga berulang tahun. Mudah-mudahan diberikan panjang umur, kesehatan dan keberkahan, sehingga senantiasa mendoakan panjenengan semua menjadi santri yang saleh dan salehah” tutup Ust. Wahdy diaminkan oleh seluruh santri.
“Mudah-mudahan seluruh santri Indonesia, khususnya santri Al Fithrah, mendapatkan siraman keberkahan dari para guru-guru” Ust. H. Wahdy Alawy, S.Ud.
Meningkatkan Kesejahteraan Santri
Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya berupaya untuk meningkatkan kesejahteraan santri. Peringatan Hari Santri tahun ini diselenggarakan beberapa rangkaian terkait pelayanan kesehatan, baik untuk masyarakat di luar pesantren, maupun para santri.
Pengurus Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah adakan acara bakti sosial sebagai bagian dari rangkaian acara hari santri. Bakti sosial pembersihan karang gigi ini diadakan pada 19 Oktober 2025. Kegiatan yang diselenggarakan di Poskestren Al Fithrah ini dikawal oleh Drg. Yolanda dan dr. Faradila, serta diikuti 50 warga sekitar pondok.
Selain itu, Pengurus Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Kota Surabaya menggelar kegiatan Gerakan Aksi Bergizi Cegah Stunting. Dalam kegiatan ini juga dilaksnakanan edukasi tentang kesehatan Perilaku Hidup Sehat (PHBS) untuk cegah stunting, edukasi kesehatan pola gizi seimbang bagi santri dan skrinning kesehatan santri.
Semoga momentum hari santri ini bukan sekadar doa bersama, melainkan juga menjadi batu pijakan agar para santri menjadi lebih baik lagi, senantiasa dalam rahmah, maghfiroh, dan ma’unah Allah subhanahu wa ta’ala. Aamiiin
Tampil sempurna di hadapan banyak orang adalah keinginan semua orang. Masing-masing kita ingin terlihat tanpa kekurangan. Perilaku, penampilan hingga ucapan. Dalam praktiknya, tidak jarang ada orang yang berkebalikan. Antar luarnya berbeda dengan apa yang hatinya simpan. “Bermuka dia” atau munafik orang-orang menyebutnya.
Pemberian warning munafik sangat keras sekali Alquran menyebutnya. Di sana dikatakan bahwa kelak orang munafik berada di jurang terdalam neraka. Al-Qur’an menegaskannya:
“Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat penolongpun bagi mereka” (QS. An-Nisa; 42).
Ancaman bagi orang munafik sedemikian dahsyatnya. Maka menjadi wajib bagi kita untuk mengetahui bagaimana ciri-ciri munafik itu sebenarnya. Tujuan mengetahui ciri-ciri munafik tidak lain agar kita mampu menjauhinya. Rasulullah SAW dengan jelas menyebutkan ciri-ciri munafik dalam sabdanya:
“Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga; pertama, jika berbicara ia berbdusta, jika berjanji ia mengingkarinya, dan jika dipercaya ia mengkhianatinya”. (HR Bukhari)
Sahabat Yang ‘Munafik’
Setelah tahu munafik itu apa. Maka menjadi mudah bagi kita untuk mengidentifikasi diri, apakah ada sifat munafik pada diri kita. Dalam ayat yang lain, disebutkan sifat orang munafik berikut:
“Sesungguhnya orang munafik itu hendak menipu Allah, tetapi Allah lah yang menipu mereka. Apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka lakukan dengan malas. Mereka bermaksud tujuan ria atau (ingin dipuji) di hadapan manusia. Dan mereka tidak mengingat Allah kecuali sedikit sekali,” (QS. An-Nisa: 142).
Munafik adalah sifat yang tersembunyi. Kita tidak boleh menghakimi sifat munafik pada diri orang lain. Bahkan, kedekatan seseorang kepada Allah tidak serta merta membuatnya bebas dari sifat munafik ini.
Ketika mendengar ayat-ayat tentang munafik, para sahabat Nabi tidak main tuduh kepada orang lain, mereka mengintrospeksi diri masing-masing. Mereka takut dan khawatir, jangan-jangan munafik yang disebut dalam ayat itu adalah mereka sendiri.
Ibnu Abu Malikah, dari kalangan tabiin berkata:
أَدْرَكْتُ ثَلاَثِيْنَ مِنْ أَصْحَابِ النَّبيِّ – صلى الله عليه وسلم – كُلُّهُمْ يَخَافُ النِّفَاقَ عَلَى نَفْسِهِ
“Aku telah mendapati 30 orang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, semuanya khawatir pada dirinya terdapat tanda-tanda kemunafikan.” (HR. Bukhari No. 36)
“Wahai Allah jauhkanlah aku dari khusyuk munafik.” Para sahabat bertanya, “Apa maksudmu?” “Yaitu kekhusyukan palsu: hanya fisik, bukan hati.”
Agar Jauh Dari Munafik
Selain doa agar jari dari munafik di atas, ada resep yang bisa kita ambil dari kisah Sahabat Handzolah. Beliau termasuk di antara sekretaris Rasulullah SAW. Suatu Ketika berjumpa dengan Sahabat Abu Bakar dan menyatakan kegelisahannya.
“Sungguh telah munafik Handzolah, ya Abu Bakar” ucap Sahabat Handzolah.
“Subhanallah, apa yang kau katakana wahai Handzolah?” tanya Sahabat Abu Bakar.
“Ketika saya berada di majelis Rasulullah SAW dan beliau berbicara tentang surga dan neraka, seakan-akan terlihat oleh mata kepala saya. Namun, begitu saya keluar dari majelisnya Rasulullah SAW dan disibukkan dengan istri, anak dan keperluan hidup lainnya, saya menjadi lalai dan lupa segalanya.‘
Maka Abu Bakar pun berkata: “Demi Allah, Aku pun merasakan hal yang sama”.
Maka beliau berdua pun sowan kepada Rasulullah SAW.
“Sungguh telah munafik Handzolah, Ya Rasulullah” kata Sahabat Handzolah mengadukan permasalahannya. Rasulullah SAW, selaku ‘mursyidul a’dzom’ pun memberikan wejangannya:
“Demi Allah yang menguasai diriku, apabila kalian senantiasa melanggengkan diri seperti saat kalian berada di sisiku, dan ketika berzikir, niscaya para malaikat akan mensalami tangan kalian, dan membersamai dalam semua langkah hidup kalian. Akan tetapi wahai Handzolah, pelan-pelan” (HR. Muslim No. 2750)
Kisah ‘munafik’ Sahabat Handzolah ini memberikan pelajaran untuk istikomah dalam menghadiri majlisnya Rasulullah SAW. Dalam hal ini adalah majlis dzikir maupun majlis ilmu yang di dalamnya disampaikan tentang kebaikan, sehingga akan termotivasi untuk melakukan kebaikan tersebut.
Kalau pun tidak mampu senantiasa berada dalam majlis kebaikan, maka usahakanlah untuk menghidupkan dzikir kepada Allah SWT. Semampunya. Allah knows the best.
Kanjeng Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani adalah di antara ulama yang namanya dikenang sepanjang masa. Ajarannya dipelajari, dikaji dan dibacakan di seluruh penjuru dunia. Indonesia di antaranya.
Biografi atau manaqib kanjeng Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani dibacakan di mana-mana. Terutama di setiap setiap malam tanggal sebelas bulan hijriyah. Terlebih di bulan Rabiul Akhir di mana sembilan abad lalu beliau berpulang ke hadirat Allah subhanahu wataala.
Tulisan ini akan mengungkapkan Kanjeng Syaikh beserta peran sosialnya. Tapi sebelumnya mari kita simak biografi singkat Kanjeng Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani berikut ini.
Biografi Kanjeng Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani
Biografi Kanjeng Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani telah terdokumentasikan rapi. Di antara penulisnya adalah Syaikh Abdul Karim Al-Barzanji. Beliau menulis biografi Kanjeng Syaikh dalam kitabnya berjudul Al-Lujayn Al-Dani.
Dalam Kitab Al-Lujayn Al-Dani ini disebutkan bahwa lahir Kanjeng Syaikh pada tahun 471 H di Jilan, Persia yang sekarang masuk daerah Iran. Kanjeng Syaikh lahir pada 1 Ramadhan 470 H dalam salah satu pendapat.
Di masa mudanya, Kanjeng Syaikh banyak menghabiskan waktunya untuk riyadoh dan belajar. Beliau adalah pribadi yang sederhana. Dalam Kitab Al-Lujayn Al-Dani disebutkan:
“Pakaian yang dipakainya adalah jubah dari berbahan bulu, kepalanya ditutupi secarik kain, berjalan tanpa sandal saat melintasi tempat-tempat berduri di tanah terjal. Yang demikian itu dilakukan Kanjeng Syaikh karena tidak menemukan sandal. Sementara makanannya adalah buah buahan yang masih dipohon, sayuran yang sudah dibuang, serta daun rerumputan yang berada di tepian sungai. Namun, lebih seringnya, Kanjeng Syaikh lebih banyak tidur dan tidak minum”.
Setidaknya ada 13 jenis keilmuan yang beliau pelajari setiap harinya. Berikut dikatakan oleh Syaikh Abdul Karim Al-Barzanji:
Syekh Abdul Qadir Al-Jilani tiap hari mengajarkan tiga belas macam ilmu yaitu: Tafsir Al-Qur’an, Hadits, ilmu Khilaf, ilmu Ushul yakni Ushulul Kalam/Ushulul Fiqih, ilmu Nahwu, ilmu Qira’ah/Tajwid, ilmu Huruf, ilmu Arudl/Qawâfi, ilmu Ma’âni, ilmu Badi’, ilmu Bayan, Tashawuf/Thariqah. ilmu Manthiq, dan sebagainya.
Beliau Kanjeng Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani wafat pada 11 Rabiuts Tsani 571 H pada usia 91 tahun. Setiap malam tanggal sebelas bulan Rabiuts Tsani diselenggarakan Haul Akbar Kanjeng Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani di PP Darul Ubudiyah Raudlatul Muta’alimin Jatipurwo Surabaya.
Peran Sosial Kanjeng Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani
Kanjeng Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani telah banyak menyampaikan pesan-pesan kebaikan. Banyak secara lisan dalam majlis pengajian maupun dalam tulisan.
Pengajian Kanjeng Syaikh biasa diselenggarakan pada Ahad pagi sebagaimana Kitab Futuhul Ghaib menjelaskannya.
Selain penyampaian lisan dan tulisan, Kanjeng Syaikh juga memberikan tuntunan. Beliau mentauladankan untuk lebih banyak berkhidmah kepada orang-orang yang tak berpunya.
Dalam bersosialisasi, beliau cenderung menghindari para pejabat dan orang-orang kaya. Beliau lebih sering membersamai orang-orang papa, bahkan membersihkan pakaian mereka.
Kanjeng Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani mempunyai derajad tinggi. Namanya harum ke mana-mana. Terkenal mau menghormati fakir miskin, menemani duduk mereka, membersihkan sendiri kutu-kutu yang ada di pakaian mereka.
Ajaran Kanjeng Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani
Ada banyak ajaran Kanjeng Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani. Baik yang didokumentasikan dalam kitab tentang biografi sendiri, maupun yang beliau tauladankan.
Berikut kami sampaikan sedikit di antara ajaran Kanjeng Syaik Abdul Qodir Al-Jilany:
Tidak jatuh karena cobaan
Sebagai figur spiritual, Kanjeng Syaikh sering untuk mengingatkan agar tidak mudah untuk terjatuh karena cobaan.
Syekh Abdul Qadir Al-Jilany berkata: Janganlah engkau hanya inginkan kenikmatan dan menolak cobaan. Sungguh kenikmatan pasti datang kepadamu sesuai takaran Allah, baik engkau mengupayakannya maupun tidak. Demikian pula cobaan, meskipun kau membencinya, pasti akan datang kepadamu. Maka serahkanlah segala urusan kepada Allah, yang melakukan apa pun yang Dia kehendaki.
Tatkala kenikmatan datang menghampirimu, sibukkanlah diri dengan mengingat Allah dan bersyukur. Sementara bila cobaan yang datang, sibukkanlah diri dengan kesabaran dan kesadaran. Kemudian, jika engkau ingin mendapat tempat yang lebih tinggi lagi dari semula, maka kau harus rida dan berusaha menikmati ujian. Ketahuilah bahwa ujian turun bukan untuk membinasakan orang mukmin, tetapi untuk mengujinya.
Syekh Abdul Qadir: Berhati-hatilah kalian! Jangan sampai mencintai atau membenci seseorang, kecuali setelah menimbang perbuatan-perbuatannya dengan ketentuan Al-Qur’an dan Sunnah. Tujuannya agar kalian tidak menyukai atau membencinya karena hawa nafsu.
Berikut tulisan singkat tentang Kanjeng Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani yang bisa kita ambil pelajaran dan hikmahnya. Semoga kita digolongkan sebagai murid-muridnya, serta mampu menauladani dan mengamalkan ajarannya. Aamiin