Agenda

Rapat Khidmah Pengurus Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah

Senin-Selasa, 22-23 Juni 2026. Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya selenggarakan rapat khidmah pengurus. Rapat yang diselenggarakan di Gedung Timur Lantai 5ย  ini diikuti oleh semua jajaran tenaga pendidik dan kependidikan di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya. Nampak hadir dalam rapat khidmah ini para pendidikan dan tenaga kependidikan dari tingkat RA Al Fithrah, MI Al Fithrah, PDF Wustha Al Fithrah, PDF Ulya Al Fithrah, Ma’had Aly dan MDT Jami’ah Al Fithrah.

Rapat khidmah yang dilaksanakan selama dua hari ini dibuka dengan bacaan Tawasul, Istighotsah, Maulid dan Doa fi hubby. Dalam hal ini dipimpin oleh Ust. H. Zainul Arif, S.Ud, Ust. H. Khoiruddin, S.Ud, Ust. H. Hadori, S.Ud, Ust. Syirojul Munir, S.Ud, dan Ust. Dr. H. Abdur Rosyid, M.Fil.I.

Mewujudkan Cita-Cita Besar

Sambutan oleh Kepala Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah disampaikan oleh Ust. Nashiruddin, S.Ud, M.Pd.I. Beliau menyampaikan bahwa dalam rapat khidmah ini akan disusun rencana kegiatan selama satu tahun ke depan. “Besar harapan kami terhadap doa, dukungan dan arahan panjenengan semua” kata beliau.

Beliau mengingatkan kembali tentang cita-cita besar dan harapan Hadratusy Syaikh KH. Ahmad Asrori Al-Ishaqy terhadap Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah.

“Pondok pesantren ini perlu dikelola secara profesional, sehingga masyarakat melihat (keunggulan) pondok ini, tidak hanya melihat Hadratusy Syaikh” pesan beliau.

Secara umum, unit-unit lembaga di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah sudah terakreditasi baik oleh pihak stakeholder. RA Al Fithrah terakreditasi B, MI Al Fithrah terakreditasi A, PDF Ulya Al Fithrah terakreditasi A, Ma’had Aly Al Fithrah akreditasi A, Institut Al Fithrah terakreditasi B.

Sistem pendidikan di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah tidak hanya untuk belajar agama, melainkan juga ilmu umum, serta pengamalannya. Sesuai dengan jargon yang biasa digaungkan “Pendidikan agama menjadi tauladan dan pendidikan umum tidak ketinggalan”.

Untuk mencapai tujuan santri menjadi tauladan, setidaknya membutuhkan dua kekuatan; kekuatan ruhani dan kekuatan tata kelola yang baik.

Kekuatan ruhani kita jamak ketahui bisa berupa doa, kesungguhan dan keikhlasan hati. Sementara kekuatan tata kelola bisa berupa laporan-laporan yang terdokumentasikan dan manajemen yang jelas. Pelaporan dan transparansi ini tentu untuk menghindari adanya kepentingan pribadi, serta tercapainya cita-cita Al Fithrah.

Nasehat terhadap Pendidik dan Tenaga Kependidikan

Sambutan penasehat dan mauidoh disampaikan oleh Ust. H. Wahdi Alawy, S.Ud. Beliau mengharapkan agar para pendidik dan tenaga pendidik sebagai pembantu dan penerima amanah Hadratusy Syaikh KH. Ahmad Asrori Al-Ishaqy harus memiliki himmatun aliyah (kesungguhan yang tinggi) dan lebih banyak belajar lagi.

“Jangan hanya iktifa’an bima kaana” (merasa cukup dengan keadaan) pesan beliau.

Dalam melaksanakan amanah dan tanggung jawabnya, jangan jadi ‘pembantu’ yang buruk.

ุงู„ุฃุฌูŠุฑ ุงู„ุณูˆุก ู„ุง ูŠุนู…ู„ ุฅู„ุง ุจุงู„ุฃุฌุฑุฉ

“Seng estu. Seng temen. Lek nang kene, ojok itung-itungan bayaran. Insya Allah, Allah yang akan mencukupi. (Yang ikhlas. Yang sungguh-sungguh. Kalau di sini, jangan perhitungan bayaran. Insya Allah, Allah yang mencukupi)” pesan beliau.

Beliau berpesan juga agar para pendidik dan tenaga pendidikan untuk banyak membaca kitab. Mengingat bahwa Hadratusy Syaikh sendiri adalah pribadi yang rajin membaca, di manapun berada. “Jangan sampai orang menilai bahwa Al Fithrah hanya bisa manaqib saja” tegas beliau.

Acara dilanjutkan dengan sidang komisi per bidang kepengurusan dalam struktural pengurus Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya. Total ada empat bidang yang mengampu kepengurusan Al Fithrah Surabaya, yaitu Bidang Pendidikan, Bidang Kewadhifahan, Bidang Umum dan Administrasi dan Bidang Keuangan.

Merumuskan Program

Selama dua hari ini dilakukan diskusi mendalam terkait program-program yang akan dilaksanakan selama satu tahun ke depan. Hasil pemaparan, pengayaan dan kesimpulan yang dihasilkan dalam sidang komisi ini kemudian dipaparkan Kepala bidang masing-masing dalam Sidang Pleno di hari kedua.

Dalam sesi ini, semua kepala pengurus Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya mengisi panggung. Tampak hadir Kepala Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Ust. Nashiruddin, S.Ud, M.Pd, Wakil Kepala Pondok I Ust. Ilyas Rahman, M.Pd, Wakil Kepala II Ustadzah Mufarohah, S.Ud, Kepala Bagian Pendidikan Ust. Dr. Fathur Rozi, M.H.I, Kepala Bagian Umum dan Administrasi Ust. Mustaqim, M.Ag, Kepala Bagian Kewadhifahan Ust. M. Toha, Kepala Bagian Keuangan Ust. Nashruddin, S.Ud,

Semoga setiap agenda dan program yang telah dan akan dilaksanakan ini dapat membawa perbaikan dan kebaikan untuk Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah di masa depan. Aamiiin.

Al Fithrah Surabaya Wisuda 721 Santri, Pesan Menjaga Identitas Santri Menggema

SURABAYA โ€“ Suasana haru dan penuh kebanggaan menyelimuti pelaksanaan Wisuda Ke-24 Tahun Ajaran 2025/2026 Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya yang digelar pada 3โ€“4 Juni 2026. Kegiatan yang berlangsung di Masjid Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah ini dihadiri oleh segenap Keluarga Ndalem Pengasuh Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya, dewan asatidz, wali santri, serta tamu undangan dari Kementerian Agama.

Pada hari pertama, hadir Kepala Bidang Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur, Imam Turmidi, S.Ag., M.H.I. Sementara pada hari kedua, hadir Kepala Seksi Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama Kota Surabaya, Fathul Mubin, S.Pd., M.Pd.I.

Sebanyak 721 santri resmi diwisuda yang terdiri atas 416 santri Program Pendidikan Diniyah Formal (PDF) Wustha Al Fithrah, 266 santri PDF Ulya Al Fithrah, 14 santri Maโ€™had Aly Al Fithrah, dan 25 santri MDT Jamiโ€™ah Al Fithrah. Prosesi diawali dengan pembacaan Tawasul, Istighotsah, Maulid fi Hubby, serta pembacaan surat keputusan kelulusan. Hari pertama dilaksanakan wisuda santri putri dan hari kedua dilaksanakan wisuda untuk santri putra.

Perjalanan Panjang Menuju Ilmu

Dalam sambutannya, Mewakili Keluarga Ndalem Pengasuh Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah, Nyai Siera En Nadia El Ishaqia menyampaikan rasa syukur atas keberhasilan para santri menyelesaikan pendidikan. Beliau menegaskan bahwa kelulusan bukanlah akhir dari proses belajar, melainkan awal dari pengamalan ilmu yang lebih luas di tengah masyarakat.

“Kita ini saat pertama kali masuk ke dalam pondok pesantren ibarat gelas yang kosong. Perlahan, gelas itu kini telah terisi dengan banyaknya ilmu, disertai dengan pengalaman dan banyaknya pelajaran hidup yang bisa menjadi pegangan anak-anakku semua di luar sana. Apa yang telah kalian istikomahkan di dalam pondok, semoga bisa diistikomahkan di rumahโ€ pesan beliau.

Sementara pada Sambutan Kepala Pondok hari kedua, Ustadz Nashiruddin, M.Pd mengingatkan bahwa capaian para wisudawan lahir dari proses panjang yang penuh perjuangan. Menurutnya, setiap santri pernah berada pada fase sulit saat mempelajari kitab-kitab yang belum dipahami, namun akhirnya mampu bertahan hingga mencapai titik kelulusan.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Keluarga Ndalem yang senantiasa memberikan doa dan dukungan kepada para santri. Selain itu, para lulusan diharapkan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi agar ilmu yang diperoleh semakin berkembang dan berkelanjutan.

“Kami sangat berharap agar para santri terus melanjutkan pendidikan pada jenjang berikutnya. Apa yang telah diperoleh di pondok ini hendaknya diamalkan ketika berada di tengah masyarakat. Jika ingin sukses, maka harus dengan ilmu,” ujarnya.

Menjaga Identitas dan Martabat Santri

Sambutan mewakili wisudawan pada hari kedua disampaikan oleh Ahmad Hasan Hariri. Dalam pesannya, ia mengingatkan bahwa tantangan terbesar setelah lulus bukanlah meraih profesi tertentu, melainkan mempertahankan identitas sebagai santri.

“Yang susah bukan menjadi tentara atau dokter, tetapi tetap menjadi santri dan mempertahankan identitas santri,” ungkapnya.

Ia juga menekankan pentingnya adab dalam menuntut ilmu, khususnya penghormatan kepada guru sebagai bagian dari taโ€™dzimul ilmi. Menurutnya, keberhasilan seorang santri tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan, tetapi juga oleh keberkahan ilmu yang diperoleh melalui penghormatan kepada para pendidik, serta doa-doa yang tak pernah usai.

โ€œHari ini kita berdiri di tempat yang sama, tetapi setelah ini kita akan melangkah menuju jalan yang berbeda-beda. Meski langkah kita nanti tidak lagi berjalan berdampingan seperti hari ini, semoga kita tetap terhubung oleh doa dan nilai-nilai yang telah tumbuh di dalam tubuh kitaโ€ ujar Yunita Hikmatal Karimah dalam sambutannya mewakili wisudawati.

Momen haru semakin terasa ketika para wisudawan menerima medali dan sertifikat kelulusan yang diserahkan secara simbolis oleh pengasuh pesantren dan para guru. Sejumlah wali santri tampak meneteskan air mata sebagai ungkapan rasa syukur atas keberhasilan putra-putri mereka menyelesaikan pendidikan pesantren.

Ilmu yang Bermanfaat dan Pendidikan Berkelanjutan

Dalam sambutannya, Kepala Seksi Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama Kota Surabaya, Fathul Mubin, menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh wisudawan. Ia berpesan agar para lulusan terus mengajarkan Al-Qurโ€™an dan menjaga nama baik pesantren di mana pun berada.

“Kalau sudah lulus pondok, jangan sampai lupa mengajar, terutama mengajarkan Al-Qurโ€™an. Karena yang diajarkan adalah Al-Qurโ€™an,” tuturnya.

Ia juga mengingatkan bahwa ukuran keberhasilan ilmu bukan hanya pada banyaknya pengetahuan yang dimiliki, tetapi pada manfaat yang diberikan kepada masyarakat. Menurutnya, salah satu faktor terbesar keberhasilan seseorang adalah doa orang tua yang menyertai setiap langkah perjuangan anak-anaknya.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah senantiasa menanamkan ilmu yang mengantarkan santri untuk semakin mengenal Allah SWT, memperkuat akhlak, serta menumbuhkan semangat pengabdian kepada umat.

โ€œAyok kita bersinergi, bagaimana anak-anak kita ini menjadi anak-anak yang berilmu, bertakwa sekaligus berakhlakul karimah. Karena kita harus yakin dengan ilmu yang tinggi, dengan akhlak yang mantap, insya Allah kita bisa eksis di manapun kita berada. Karena janji Allah, dalam QS. Al-Mujadalah ayat 11โ€ jelas Bapak Imam Turmudi mewakili Kepada Kanwil Kemenag Jawa Timur.

Selain prosesi wisuda, acara juga dimeriahkan dengan penampilan hadrah, pembacaan puisi, dan persembahan dari para santri sebagai bentuk penghormatan kepada guru serta orang tua. Kegiatan ditutup dengan doa bersama dan sesi foto wisuda.

Melalui wisuda ini, Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya berharap para lulusan dapat menjadi generasi yang berilmu, berakhlakul karimah, serta mampu memberikan kontribusi positif bagi agama, bangsa, dan masyarakat.

Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya Selenggarakan Sholat Idul Adha Terbuka untuk Santri & Masyarakat


Ada yang berbeda di Idul Adha tahun ini. Momentum penyatuan hari raya antara Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama menjadi warna tersendiri bagi umat Islam di Indonesia. Kebersamaan itu terasa semakin kuat ketika ribuan jamaah memadati halaman Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya untuk mengumandangkan takbir dan melaksanakan sholat Idul Adha berjamaah.

Idul Adha 1447 H di Al Fithrah: Syiar, Kebersamaan, dan Tabarruk

Pada Rabu, 27 Mei 2026 M / 10 Dzulhijjah 1447 H, suasana di Masjid Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya sudah dipenuhi jamaah sejak dini hari. Tahun ini, sholat Idul Adha kembali dibuka untuk santri dan masyarakat umum.

Sholat dimulai pukul 06.09 WIB, yakni sekitar 10 menit setelah masuknya awal waktu duha, sebagaimana mengikuti anjuran agar pelaksanaan Id dilakukan pada waktu yang lapang.

ุตูŽู„ูู‘ูˆุง ู‚ูŽุจู’ู„ูŽ ุงู„ู’ุฎูุทู’ุจูŽุฉู
โ€œLaksanakanlah sholat sebelum khutbah.โ€ (HR. Bukhari & Muslim)

Setelah rangkaian sholat dan khutbah selesai, jamaah mengikuti tradisi khas Al Fithrah: ziarah ke maqbarah Hadratusy Syaikh Romo KH. Ahmad Asrori Al-Ishaqy, Pengasuh Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah, yang kemudian dilanjutkan ramah tamah dengan hidangan nasi talaman yang menjadi sajian kebersamaan setiap Idul Adha.

Ribuan Daging Qurban untuk Masyarakat

Tahun ini, amanah qurban yang dititipkan oleh Keluarga Ndalem, para jamaah, serta masyarakat luar daerah kembali meningkat. Total hewan qurban: 23 ekor sapi, 17 ekor kambing dan 92 ekor domba (termasuk domba kiriman jamaah dari Singapura)

Hewan-hewan tersebut berasal dari jamaah di Surabaya, Gresik, Malang, serta beberapa daerah luar pulau.

Distribusi daging qurban diberikan kepada:

Tidak hanya dibagikan kepada santri, daging hewan qurban di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya juga akan didistribusikan kepada Keluarga Ndalem, Warga sekitar pesantren, Warga yang rumahnya digunakan sebagai maktab saat Haul Akbar Al Fithrah, Para pejabat yang berafiliasi dengan pesantren, para pengurus Al Khidmah serta para ulama sekitar.

Proses penyembelihan dilakukan bertahap selama tiga hari: Hari Raya Idul Adha + dua hari Tasyrik (11โ€“13 Dzulhijjah), sesuai tuntunan syariat. Hal ini selaras dengan bunyi hadits:

ุฃูŽูŠูŽู‘ุงู…ู ุงู„ุชูŽู‘ุดู’ุฑููŠู‚ู ุฃูŽูŠูŽู‘ุงู…ู ุฃูŽูƒู’ู„ู ูˆูŽุดูุฑู’ุจู
Terjemah: โ€œHari-hari Tasyrik adalah hari makan, minum, dan mengingat Allah.โ€ (HR. Muslim)

Kebersamaan yang Meneguhkan Syiar

Idul Adha tahun ini menjadi momen yang indah. Kesatuan momen berlebaran antara dua ormas besar semakin menambah spirit ukhuwah. Sementara di Al Fithrah, kebersamaan antara santri, masyarakat, dan para jamaah memberikan warna khas yang hangat, penuh barakah, dan sarat nilai keikhlasan.

Bukan hanya ibadah dan ritual, tetapi juga rasa syukur, sedekah, silaturahmi, serta tabarruk pada para muassis yang menjadi ruh keberkahan pesantren ini.

Bahtsul Masail Shughra: Berjamaah Tidak di Masjid

Selasa (5 Mei 2026) Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya selenggarakan Bahtsul Masail bulanan. Kegiatan yang dilaksanakan di Pendopo Al Fithrah ini diikuti oleh perwakilan dari Santri PDF Wustha Al Fithrah dan PDF Ulya Al Fithrah.

Bahtsul Masail sendiri adalah forum ilmiah khas pesantren untuk mendiskusikan dan menjawab berbagai masalah keagamaan, sosial, dan kemasyarakatan kontemporer berdasarkan kajian kitab kuning. Bahstul masail di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya dilaksanakan sekali setiap bulannya yang merupakan puncak dari kegiatan Musyawarah Kubro mingguan dan musyawarah harian.

Kegiatan dikoordinatori Majlis Kebersamaan dalam Kajian dan Pembahasan Imiah Al Fithrah ini kerap menyelesaikan permasalahan ibadah keseharian maupun muamalah yang sedang hangat diperdebatkan. Dalam majlis malam Rabu kali ini dibahas permasalahan sholat Jamaah.

Deskripsi Masalah

Mayoritas masyarakat muslim melaksanakan shalat berjamaah di masjid, terlebih pada momen hari raya seperti Idul Fitri dan Idul Adha. Pada momen itu jumlah jamaah biasanya membludak hingga melampaui kapasitas masjid. Oleh karena itu, area di luar bangunan masjid seperti halaman atau pelataran kerap digunakan untuk menampung jamaah tambahan.

Dalam suatu pelaksanaan shalat Idul Fitri, Fajar mendapati masjid di lingkungannya telah direnovasi menjadi bangunan yang lebih besar dan megah. Namun, karena banyaknya jamaah, sebagian pelaksanaan shalat meluas hingga ke pelataran luar masjid yang secara fisik bukan lagi bagian dari bangunan masjid.

Permasalahan muncul ketika pelataran tersebut terpisah dari area imam oleh tembok pembatas, sehingga makmum yang berada di pelataran tidak memiliki akses langsung untuk menuju imam. Dengan kata lain, tidak terdapat jalan yang menghubungkan posisi makmum dengan imam, baik secara langsung maupun melalui celah yang memungkinkan untuk dilalui.

Di sisi lain, dalam ketentuan fiqh shalat berjamaah, terdapat syarat tersambungnya jamaah dengan imam, baik melalui kesinambungan shaf maupun adanya kemungkinan ุงู„ูˆุตูˆู„ ุฅู„ู‰ ุงู„ุฅู…ุงู… (kemungkinan untuk menuju imam). Selain itu, status tempat (apakah termasuk bagian dari masjid atau tidak) juga berimplikasi pada hukum ibadah tertentu seperti iโ€˜tikaf yang mensyaratkan dilakukan di dalam masjid.

Pertanyaan:

  1. Apakah sah shalat berjamaah yang dilaksanakan di pelataran luar masjid, sementara antara makmum dan imam terhalang tembok serta tidak terdapat akses yang menghubungkan keduanya?
  2. Apakah sah pelaksanaan iโ€˜tikaf di pelataran luar masjid tersebut yang secara fisik terpisah dari bangunan masjid?

Jawaban:

  1. Hukum berjamaahnya makmum di bagian depan shof yang sejajar dengan pintu samping tidak sah.

ุญุงุดูŠุฉ ุงู„ุจูุฌูŽูŠู’ุฑูู…ููŠ ุนู„ู‰ ุงู„ุฎุทูŠุจ (5/149)

( ูˆูŽุฅูู†ู’ ุตูŽู„ูŽู‘ู‰) ุงู„ู’ุฅูู…ูŽุงู…ู ูููŠ ุงู„ู’ู…ูŽุณู’ุฌูุฏู ูˆูŽุงู„ู’ู…ูŽุฃู’ู…ููˆู…ู (ุฎูŽุงุฑูุฌูŽ ุงู„ู’ู…ูŽุณู’ุฌูุฏู) ุญูŽุงู„ูŽุฉูŽ ูƒูŽูˆู’ู†ูู‡ู (ู‚ูŽุฑููŠุจู‹ุง ู…ูู†ู’ู‡ู) ุฃูŽูŠู’ ู…ูู†ูŽ ุงู„ู’ู…ูŽุณู’ุฌูุฏู ุจูุฃูŽู†ู’ ู„ูŽุง ูŠูŽุฒููŠุฏูŽ ู…ูŽุง ุจูŽูŠู’ู†ูŽู‡ูู…ูŽุง ุนูŽู„ูŽู‰ ุซูŽู„ูŽุงุซูู…ูุงุฆูŽุฉู ุฐูุฑูŽุงุนู ุชูŽู‚ู’ุฑููŠุจู‹ุง ู…ูุนู’ุชูŽุจูŽุฑู‹ุง ู…ูู†ู’ ุขุฎูุฑู ุงู„ู’ู…ูŽุณู’ุฌูุฏู ู„ูุฃูŽู†ูŽู‘ ุงู„ู’ู…ูŽุณู’ุฌูุฏูŽ ูƒูู„ูŽู‘ู‡ู ุดูŽูŠู’ุกูŒ ูˆูŽุงุญูุฏูŒ ู„ูุฃูŽู†ูŽู‘ู‡ู ู…ูŽุญูŽู„ูู‘ ุงู„ุตูŽู‘ู„ูŽุงุฉู ููŽู„ูŽุง ูŠูŽุฏู’ุฎูู„ู ูููŠ ุงู„ู’ุญูŽุฏูู‘ ุงู„ู’ููŽุงุตูู„ู (ูˆูŽู‡ููˆูŽ ุนูŽุงู„ูู…ูŒ ุจูุตูŽู„ูŽุงุชูู‡ู) ุฃูŽูŠู’ ุงู„ู’ุฅูู…ูŽุงู…ู ุงู„ูŽู‘ุฐููŠ ูููŠ ุงู„ู’ู…ูŽุณู’ุฌูุฏู ุจูุฃูŽุญูŽุฏู ุงู„ู’ุฃูู…ููˆุฑู ุงู„ู’ู…ูุชูŽู‚ูŽุฏูู‘ู…ูŽุฉู (ูˆูŽู„ูŽุง ุญูŽุงุฆูู„ูŽ ู‡ูู†ูŽุงูƒูŽ) ุจูŽูŠู’ู†ูŽู‡ูู…ูŽุง ูƒูŽุงู„ู’ุจูŽุงุจู ุงู„ู’ู…ูŽูู’ุชููˆุญู ุงู„ูŽู‘ุฐููŠ ู„ูŽุง ูŠูŽู…ู’ู†ูŽุนู ุงู„ูุงุณู’ุชูุทู’ุฑูŽุงู‚ูŽ ูˆูŽุงู„ู’ู…ูุดูŽุงู‡ูŽุฏูŽุฉูŽ (ุฌูŽุงุฒูŽ) ุงู„ูุงู‚ู’ุชูุฏูŽุงุกู ุญููŠู†ูŽุฆูุฐูุŒ ููŽู„ูŽูˆู’ ูƒูŽุงู†ูŽ ุงู„ู’ู…ูŽุฃู’ู…ููˆู…ู ูููŠ ุงู„ู’ู…ูŽุณู’ุฌูุฏู ูˆูŽุงู„ู’ุฅูู…ูŽุงู…ู ุฎูŽุงุฑูุฌูŽู‡ู ุงุนู’ุชูุจูุฑูŽุชู ุงู„ู’ู…ูŽุณูŽุงููŽุฉู ู…ูู†ู’ ุทูŽุฑูŽููู‡ู ุงู„ูŽู‘ุฐููŠ ูŠูŽู„ููŠ ุงู„ู’ุฅูู…ูŽุงู…ูŽุŒ ููŽุฅูู†ู’ ุญูŽุงู„ูŽ ุฌูุฏูŽุงุฑูŒ ู„ูŽุง ุจูŽุงุจูŽ ูููŠู‡ู ุฃูŽูˆู’ ุจูŽุงุจูŒ ู…ูุบู’ู„ูŽู‚ูŒ ู…ูู†ูุนูŽ ุงู„ูุงู‚ู’ุชูุฏูŽุงุกู ู„ูุนูŽุฏูŽู…ู ุงู„ูุงุชูู‘ุตูŽุงู„ูุŒ ูˆูŽูƒูŽุฐูŽุง ุงู„ู’ุจูŽุงุจู ุงู„ู’ู…ูŽุฑู’ุฏููˆุฏู ูˆูŽุงู„ุดูู‘ุจูŽู‘ุงูƒู ูŠูŽู…ู’ู†ูŽุนู ู„ูุญูุตููˆู„ู ุงู„ู’ุญูŽุงุฆูู„ู ู…ูู†ู’ ูˆูŽุฌู’ู‡ูุŒ ุฅูุฐู ุงู„ู’ุจูŽุงุจู ุงู„ู’ู…ูŽุฑู’ุฏููˆุฏู ู…ูŽุงู†ูุนูŒ ู…ูู†ูŽ ุงู„ู’ู…ูุดูŽุงู‡ูŽุฏูŽุฉู ูˆูŽุงู„ุดูู‘ุจูŽู‘ุงูƒู ู…ูŽุงู†ูุนูŒ ู…ูู†ูŽ ุงู„ูุงุณู’ุชูุทู’ุฑูŽุงู‚ู.

ู‚ูŽุงู„ูŽ ุงู„ู’ุฅูุณู’ู†ูŽูˆููŠูู‘: ู†ูŽุนูŽู…ู’ุŒ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุงู„ู’ุจูŽุบูŽูˆููŠูู‘ ูููŠ ููŽุชูŽุงูˆููŠู‡ู: ู„ูŽูˆู’ ูƒูŽุงู†ูŽ ุงู„ู’ุจูŽุงุจู ู…ูŽูู’ุชููˆุญู‹ุง ูˆูŽู‚ู’ุชูŽ ุงู„ู’ุฅูุญู’ุฑูŽุงู…ู ููŽุงู†ู’ุบูŽู„ูŽู‚ูŽ ูููŠ ุฃูŽุซู’ู†ูŽุงุกู ุงู„ุตูŽู‘ู„ูŽุงุฉู ู„ูŽู…ู’ ูŠูŽุถูุฑูŽู‘. ุงู†ู’ุชูŽู‡ูŽู‰. ุฃูŽู…ูŽู‘ุง ุงู„ู’ุจูŽุงุจู ุงู„ู’ู…ูŽูู’ุชููˆุญู ููŽูŠูŽุฌููˆุฒู ุงู‚ู’ุชูุฏูŽุงุกู ุงู„ู’ูˆูŽุงู‚ููู ุจูุญูุฐูŽุงุฆูู‡ู ูˆูŽุงู„ุตูŽู‘ููู‘ ุงู„ู’ู…ูุชูŽู‘ุตูู„ู ุจูู‡ู ูˆูŽุฅูู†ู’ ุฎูŽุฑูŽุฌููˆุง ุนูŽู†ู’ ุงู„ู’ู…ูุญูŽุงุฐูŽุงุฉูุŒ ุจูุฎูู„ูŽุงูู ุงู„ู’ุนูŽุงุฏูู„ู ุนูŽู†ู’ ู…ูุญูŽุงุฐูŽุงุชูู‡ู ููŽู„ูŽุง ูŠูŽุตูุญูู‘ ุงู‚ู’ุชูุฏูŽุงุคูู‡ู ู„ูู„ู’ุญูŽุงุฆูู„ู.

Jika imam shalat di dalam masjid, dan makmum di luar masjid namun dekat dengannya โ€” yaitu jarak antara keduanya tidak lebih dari kira-kira 300 hasta (+/- 150 meter), dihitung dari ujung masjid โ€” karena seluruh masjid dianggap satu kesatuan, maka:

  • Jika makmum mengetahui shalat imam (melalui melihat atau mendengar),
  • dan tidak ada penghalang (seperti pintu terbuka yang tidak menghalangi lewat dan melihat),

maka sah bermakmum kepadanya.

Namun:

  • Jika ada dinding tanpa pintu, atau pintu tertutup โ†’ tidak sah (karena terputus).
  • Pintu tertutup atau jendela juga menghalangi (karena menghalangi pandangan atau akses).

Tambahan:

  • Jika pintu terbuka saat takbir lalu tertutup di tengah shalat โ†’ tidak membatalkan.
  • Orang yang sejajar pintu terbuka masih boleh bermakmum.
  • Tapi yang menyimpang dari jalur sejajar โ†’ tidak sah karena terhalang.

ุญุงุดูŠุฉ ุงู„ุจูŠุฌูˆุฑูŠ (2/101)

ู‚ูŽูˆู’ู„ูู‡ู: (ูˆูŽู‡ููˆูŽ โ€“ ุฃูŽูŠู’: ุงู„ู’ู…ูŽุฃู’ู…ููˆู…ู โ€“ ุนูŽุงู„ูู…ูŒ ุจูุตูŽู„ูŽุงุชูู‡ูุ› ุฃูŽูŠู’: ุงู„ู’ุฅูู…ูŽุงู…ู) ุฃูŽูŠู’: ุจูุฃูŽุญูŽุฏู ุงู„ู’ุฃูู…ููˆุฑู ุงู„ู’ู…ูุชูŽู‚ูŽุฏูู‘ู…ูŽุฉูุ› ูƒูŽุงู„ุฑูู‘ุคู’ูŠูŽุฉู ู„ูู„ู’ุฅูู…ูŽุงู…ู ุฃูŽูˆู’ ู„ูุจูŽุนู’ุถู ุตูŽููู‘ุŒ ูˆูŽูƒูŽุณูŽู…ูŽุงุนู ุตูŽูˆู’ุชูู‡ู ุฃูŽูˆู’ ุตูŽูˆู’ุชู ู…ูุจูŽู„ูู‘ุบู. ู‚ูŽูˆู’ู„ูู‡ู: (ูˆูŽู„ูŽุง ุญูŽุงุฆูู„ูŽ ู‡ูู†ูŽุงูƒูŽ) ุฃูŽูŠู’: ุจูุญูŽูŠู’ุซู ูŠูู…ู’ูƒูู†ู ุงู„ู’ูˆูุตููˆู„ู ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ู’ุฅูู…ูŽุงู…ูุŒ ูˆูŽูŠูุดู’ุชูŽุฑูŽุทู ู‡ูู†ูŽุง ุฃูŽู†ู’ ูŠูู…ู’ูƒูู†ูŽ ุงู„ู’ูˆูุตููˆู„ู ุฅูู„ูŽูŠู’ู‡ู ู…ูู†ู’ ุบูŽูŠู’ุฑู ุงุฒู’ูˆูุฑูŽุงุฑู ูˆูŽุงู†ู’ุนูุทูŽุงููุŒ ุจูุฎูู„ูŽุงููู‡ู ูููŠู…ูŽุง ุชูŽู‚ูŽุฏูŽู‘ู…ูŽ.

(Di antara syarat berjamaah adalah) Makmum harus mengetahui keadaan imam, misalnya:

  • melihat imam atau saf,
  • atau mendengar suara imam / penyampai (muballigh).

Dan syarat tidak ada penghalang artinya:

  • bisa ุงู„ูˆุตูˆู„ (akses) ke imam,
  • tanpa harus berbelok atau berputar (jalur langsung).
  • b. Hukum Iโ€™tikaf di tempat tersebut tidak sah karena tidak bukan bagian daripada masjid

ูุชุญ ุงู„ู‚ุฑูŠุจ ุงู„ู…ุฌูŠุจ (ุต 142)

(ููŽุตู’ู„ูŒ) ูููŠ ุฃูŽุญู’ูƒูŽุงู…ู ุงู„ูุงุนู’ุชููƒูŽุงูู. ูˆูŽู‡ููˆูŽ ู„ูุบูŽุฉู‹ ุงู„ู’ุฅูู‚ูŽุงู…ูŽุฉู ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ุดูŽู‘ูŠู’ุกู ู…ูู†ู’ ุฎูŽูŠู’ุฑู ุฃูŽูˆู’ ุดูŽุฑูู‘ุŒ ูˆูŽุดูŽุฑู’ุนู‹ุง ุฅูู‚ูŽุงู…ูŽุฉูŒ ุจูู…ูŽุณู’ุฌูุฏู ุจูุตูููŽุฉู ู…ูŽุฎู’ุตููˆุตูŽุฉู.

Iโ€™tikaf: secara bahasa: menetap pada sesuatu (baik atau buruk), sedangkan secara syariat: diam di masjid dengan cara tertentu

ุญุงุดูŠุฉ ุงู„ุจูŠุฌูˆุฑูŠ (2/461)

ุงู„ูุงุนู’ุชููƒูŽุงูู ุฃูŽุฑู’ุจูŽุนูŽุฉูŒุ› ูˆูŽู‡ููŠูŽ: ุงู„ู„ูู‘ุจู’ุซูุŒ ูˆูŽุงู„ู’ู…ูŽุณู’ุฌูุฏู ุงู„ู’ู…ูุนู’ุชูŽูƒูŽูู ูููŠู‡ูุŒ ูˆูŽุงู„ุดูŽู‘ุฎู’ุตู ุงู„ู’ู…ูุนู’ุชูŽูƒูููุŒ ูˆูŽุงู„ู†ูู‘ูŠูŽู‘ุฉู. ู„ูŽูƒูู†ู’ ุจูŽุนู’ุถูู‡ูŽุง ุจูุทูŽุฑููŠู‚ู ุงู„ุชูŽู‘ุตู’ุฑููŠุญูุ› ูˆูŽู‡ููˆูŽ ุงู„ู„ูู‘ุจู’ุซู ูˆูŽุงู„ู’ู…ูŽุณู’ุฌูุฏูุŒ ููŽุฅูู†ูŽู‘ ุงู„ู’ุฅูู‚ูŽุงู…ูŽุฉูŽ ู‡ููŠูŽ ุงู„ู„ูู‘ุจู’ุซู. ูˆูŽุจูŽุนู’ุถูู‡ูŽุง ู„ูŽุง ุจูุทูŽุฑููŠู‚ู ุงู„ุชูŽู‘ุตู’ุฑููŠุญูุ› ูˆูŽู‡ููˆูŽ ุงู„ุดูŽู‘ุฎู’ุตูุŒ ููŽุฅูู†ูŽู‘ ุงู„ู’ุฅูู‚ูŽุงู…ูŽุฉูŽ ุชูŽุณู’ุชูŽู„ู’ุฒูู…ู ุงู„ู’ู…ูู‚ููŠู…ูŽุŒ ูˆูŽุงู„ู†ูู‘ูŠูŽู‘ุฉู ุงู„ูŽู‘ุชููŠ ุฃูŽุดูŽุงุฑูŽ ุฅูู„ูŽูŠู’ู‡ูŽุง ุจูู‚ูŽูˆู’ู„ูู‡ู: (ุจูุตูููŽุฉู ู…ูŽุฎู’ุตููˆุตูŽุฉู)ุŒ ูƒูŽู…ูŽุง ุฃูŽุดูŽุงุฑูŽ ุจูู‡ู ุฅูู„ูŽู‰ ุดูุฑููˆุทู ุงู„ุดูŽู‘ุฎู’ุตู ุงู„ู’ู…ูุนู’ุชูŽุจูŽุฑูŽุฉู ูููŠ ุงู„ู’ู…ูุนู’ุชูŽูƒููู ุงู„ู’ุขุชููŠูŽุฉูุŒ ูˆูŽู„ูŽูˆู’ ู‚ูŽุงู„ูŽ ูƒูŽู…ูŽุง ู‚ูŽุงู„ูŽ ุบูŽูŠู’ุฑูู‡ู: (ู…ูู†ู’ ุดูŽุฎู’ุตู ู…ูŽุฎู’ุตููˆุตู ุจูู†ููŠูŽู‘ุฉู) ู„ูŽูƒูŽุงู†ูŽ ุฃูŽูˆู’ุถูŽุญูŽ.

Rukun iโ€™tikaf ada 4:

  1. Berdiam (ู„ุจุซ)
  2. Masjid
  3. Orang yang beriโ€™tikaf
  4. Niat

Penjelasan:

  • โ€œdiam di masjidโ€ sudah mencakup:
    • tempat (masjid)
    • aktivitas (diam)
  • Sedangkan:
    • orang โ†’ dipahami secara implisit
    • niat โ†’ ditunjukkan oleh โ€œdengan sifat khususโ€

Kalau disebut: โ€œdari orang tertentu dengan niatโ€ itu lebih jelas.

Terlepas dari keadaan berpisah jauh dari imam, pada dasarnya berjamaah itu harusnya saling berdekatan antar satu jamaah dengan jamaah lainnya. Sebagaimana disebutkan oleh Rasulullah SAW:


ุฃูŽู‚ููŠู’ู…ููˆุง ุงู„ุตูู‘ูููˆู’ููŽุŒ ููŽุฅูู†ูŽู‘ู…ูŽุง ุชูŽุตูููู‘ูˆู’ู†ูŽ ุจูุตููููˆู’ูู ุงู„ู’ู…ูŽู„ูŽุงุฆููƒูŽุฉูุŒ ูˆูŽุญูŽุงุฐููˆู’ุง ุจูŽูŠู’ู†ูŽ ุงู„ู’ู…ูŽู†ูŽุงูƒูุจูุŒ ูˆูŽุณูุฏูู‘ูˆุง ุงู„ู’ู€ุฎูŽู„ูŽู„ูŽุŒ ูˆูŽู„ููŠู’ู†ููˆู’ุง ููู€ูŠู’ ุฃูŽูŠู’ุฏููŠ ุฅูุฎู’ูˆูŽุงู†ููƒูู…ู’ุŒ ูˆูŽู„ูŽุง ุชูŽุฐูŽุฑููˆู’ุง ููุฑูุฌูŽุงุชู  ู„ูู„ุดูŽู‘ูŠู’ุทูŽุงู†ูุŒ ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ูˆูŽุตูŽู„ูŽ ุตูŽูู‹ู‘ุง ูˆูŽุตูŽู„ูŽู‡ู ุงู„ู„ู‡ู ุŒ ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ู‚ูŽุทูŽุนูŽ ุตูŽูู‹ู‘ุง ู‚ูŽุทูŽุนูŽู‡ู ุงู„ู„ู‡ู
.

โ€œLuruskanlah shaf (di dalam shalat) kalian sebagaimana bershafnya para Malaikat, ratakanlah pundak-pundak kalian, tutupilah celah-celah, dan berlakulah lemah-lembut terhadap saudara (di sisi kiri dan kanan) kalian! Jangan biarkan satu celah pun untuk setan! Barangsiapa yang menyambung shaf, maka Allah Tabaraka wa Taโ€™ala akan menyambung (rahmat)Nya, dan barangsiapa yang memutuskan shaf, maka Allah akan memutuskan (rahmat)Nya.โ€[Shahih: HR. Ahmad (II/97-98), Abu Dawud (no. 666) dan al-Baihaqi dalam as-Sunanul Kubra (III/101). Lihat Shahiih at-Targiib wat Tarhiib (no. 495)]

Rapat Koordinasi Guru PDF Ulya Al Fithrah: Menguatkan Tafaqqquh Fiddin dan Penyesuaian Kurikulum

Dalam rangka mengawali kembali kegiatan belajar mengajar pasca liburan Idul Fitri serta menyambut perubahan kalender pendidikan dari Hijriyah ke Masehi, Pendidikan Diniyah Formal (PDF) Ulya Al Fithrah Surabaya menggelar rapat koordinasi bagi seluruh ustadz dan ustadzah pada Selasa, 31 Maret 2026 bertempat di Pendopo.

Kegiatan ini menjadi momentum penting bagi lembaga dalam memperkuat kembali komitmen mencetak generasi tafaqquh fiddin, yaitu para pelajar yang mendalami ilmu agama secara utuh, mendalam, dan berkelanjutan. Dengan perubahan kalender dan dinamika pembelajaran modern, diperlukan penyusunan ulang strategi pembelajaran agar tetap selaras dengan visi pendidikan pesantren.

Acara dibuka dengan bacaan tawassul Al-Fatihah, dilanjutkan istighotsah dan Sholawat Fi Hubbi, sebagai bentuk permohonan keberkahan kepada Allah SWT agar rapat berjalan lancar dan membawa maslahat bagi lembaga. Dalam sesi ini dipandu beberapa asatidz sepuh. Tampak hadir Ust. Dr. H. Abdur Rosyid, M.Fil.I, Ust. H. Zainul Arif, S.Ud, Ust. H. Moh. Sholeh, S.Ud, Ust. H. Khoirudin, S.Ud, Ust. H. Ridwan, S.Ud dan asatid lainnya.

Apresiasi atas dedikasi

Dalam sambutannya, Kepala Pendidikan Diniyah Formal Ulya Al Fithrah, H. Nasiruddin, S.Pd., M.M., menekankan pentingnya ketepatan administrasi melalui sosialisasi jurnal mengajar dan absensi, serta perlunya menyesuaikan materi ajar dengan kalender pendidikan baru. Ini menjadi bagian dari peningkatan kualitas layanan pendidikan sekaligus bagian dari upaya menjaga kesinambungan belajar santri.

โ€œBerdasarkan hasil penilaian assesor kemarin, kita (PDF Ulya Al Fithrah, red.) sudah mendapatkan nilai akreditasi A. Tapi ada satu yang kurang, berdasarkan saran yang disampaikan oleh salah seorang assesor yang merupakan dzurriyah Pondok Lirboyo, yaitu jurnal (mengajar)โ€ jelas Ust. Nashir.

Dalam suasana masih bulan Syawal itu beliau juga tak lupa memohon maaf atas segala kurang dalam memberikan pelayanan.

โ€œKami juga menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada panjenengan semua atas dedikasinya dalam membersamai dan mengajar para santri semuanyaโ€ lanjut beliau.

Penyesuaian Materi Ajar

Agenda utama rapat kali ini adalah musyawarah materi ajar setiap mata pelajaran seiring perubahan kalender pendidikan. Dalan hal ini diisi dengan pengarahan dari Waka Kurikulum, Ust. Dzulfikar Nasrullah, S.Ud.

โ€œTahun ini santri kelas XII sudah tidak lagi kembali (karena sudah dinyatakan lulus), sehingga perlu adanya penyesuian terhadap kegiatan belajar mengajarโ€ terang Ustadz Dzul.

Dalam kesempatan ini beliau juga memandu diskusi kelompok guru sesuai rumpun mata pelajaran yang fokus pembahasannya pada dua hal penting:

1. Penyesuaian materi ajar sesuai kalender Masehi

2. Pengaturan ulang waktu dan alokasi pembelajaran

Para pendidik diminta membawa kitab mata pelajaran untuk jenjang Istiโ€™dad, kelas X, dan kelas XI agar proses musyawarah berjalan efektif dan terarah.

Mengawal Proses Tafaqquh fiddin

Melalui forum musyawarah tersebut, diharapkan tersusun langkah-langkah strategis yang mampu memperkuat proses pembelajaran, khususnya yang berorientasi pada pendalaman ilmu agama. Dengan demikian, setiap guru memiliki peran penting dalam menjaga ruh pendidikan pesantren, yaitu membentuk santri yang memahami agama secara menyeluruh (tafaqquh fiddin) sekaligus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Sebagai bentuk apresiasi, seluruh ustadz dan ustadzah yang hadir tepat waktu dan mengikuti acara hingga selesai akan memperoleh fasilitas transport dari panitia. Hal ini merupakan wujud penghargaan atas dedikasi dan partisipasi aktif tenaga pendidik dalam memajukan lembaga.

Acara ditutup dengan penyampaian hasil diskusi dan doa bersama, dipimpin oleh MC. Semoga seluruh rangkaian musyawarah ini membawa keberkahan dan menjadi langkah maju dalam meningkatkan mutu pendidikan di PDF Ulya Al Fithrah.