Agenda

Mutih: Agar Puasa Ramadhan Lebih Bermakna

Tak lama lagi Ramadhan tiba. Umat Islam menyambutnya dengan bahagia. Ramadhan adalah bulan penuh ampunan. Bulan diturunkannya Alquran. Bulan untuk berpuasa dan segala macam ibadah Allah mudahkan untuk dilakukan.

Ramadhan adalah waktunya untuk sama-sama merasakan apa yang orang tidak berpunya rasakan. Kita diwajibkan berpuasa dan berlapar-lapar selama berpuasa.

Dalam kenyataannya, lapar kita di bulan Ramadhan adalah pada saat siang hati saja, malamnya kebanyakan kita dalam keadaan kenyang. Puasanya hanyalah berganti jadwal makan aja. Sementara porsi makannya sama.

Oleh karenya, para guru menganjurkan untuk mutih. Tarak istilah lainnya. Tarak berasal dari kata berbahasa Arab taraka yang berarti meninggalkan. Dalam hal ini, tarak bermakna meninggalkan atau menjauhi makan makanan yang mengandung nyawa (hewani).

Mutih Sebagai Instrumen Mendekatkan diri Kepada Ilahi

Syaikh Abdul Wahab Asy-Sya’roni dalam Kitab Al-Anwar Al-Qudsiyah nya mengatakan bahwa memperbanyak lapar adalah bagian dari pada adab seorang murid dalam usaha mendekatkan diri kepada Allah. Dalam hal ini beliau mengatakan:

إِنَّ أَرْكَانَ الطَّرِيقِ أَرْبَعَةُ أَشْيَاءَ: الْجُوعُ وَالْعُزْلَةُ وَالسَّهَرُ وَقِلَّةُ الْكَلَامِ. فَإِذَا جَاعَ الْمُرِيدُ تَبِعَتْهُ الْأَرْكَانُ الثَّلَاثَةُ الْبَاقِيَةُ بِالْخَاصِّيَّةِ، فَمِنْ شَأْنِ الْإِنْسَانِ إِذَا جَاعَ أَنْ يَقِلَّ كَلَامُهُ وَيَكْثُرَ سَهَرُهُ وَيُحِبَّ الْعُزْلَةَ عَنِ النَّاسِ.

“Sesungguhnya pilar-pilar tarekat itu ada empat; lapar, menyendiri, berjaga dan sedikit bicara. Apabila seorang murid merasa lapar, maka tiga pilar lainnya akan secara otomatis mengikutinya. Memang sudah menjadi tabiat manusia, apabila ia lapar, maka ia sedikit bicaranya, lebih banyak terjaganya, dan ia cenderung menyukai menyendiri dari manusia lainnya.” (Anwarul Qudsiyah, Al-Haramain, 38-39).

Dalam praktiknya, puasa mutih bukanlah cara lapar ekstrem dengan tidak makan sama sekali. Mutih adalah komitmen pribadi untuk hanya mau makan makanan yang nabati saja. Nafsu makan ada, tapi tidak dengan memenuhinya. Mutih adalah cara kecil agar ‘tetap’ lapar meski sudah makan.

Tidak ada tatacara khusus dalam mutih yang diamalkan oleh para murid Tarekat Qadiriyyah wan Naqsyabandiyyah Al-Utsmaniyyah. Mereka berpuasa sebagaimana mestinya. Hanya saja ketika waktu sahur dan berbuka, mereka membatasi diri untuk tidak mengonsumsi semua makanan yang ada.

Setiap bulan Ramadlan tiba, para murid –terutama yang telah berbai’at TQN Al-Utsmaniyyah dimana Hadratusy Syaikh KH. Ahmad Asrori Al-Ishaqy adalah mursyidnya–, di-anjurkan [baca: didawuhi] untuk tidak mengonsumsi makanan dan minuman yang berasal dari makhluk yang bernyawa, atau yang salah satu campuran bahan pembuatannya terdapat unsur hewani. Ritual ini disebut dengan mutih atau tarak dalam bahasa Jawa.

Singkatnya, mutih, baik dilaksanakan ketika puasa ataupun ketika tidak berpuasa, adalah bertujuan untuk membatasi diri dari banyak makan dan agar tubuh tetap lapar. Dalam keadaan lapar itu diharapkan, tubuh dapat memperbanyak mendekatkan diri kepada Ilahi, sebagaimana yang disampaikan oleh Syaikh Abu Sulaiman Ad-Daroni yang dikutip oleh Syaikh Abdul Wahab Asy-Sya’roni:

وَكانَ أَبُو سُلَيْمانَ الدَّارانِيُّ يَقُولُ: «مِفْتاحُ الدُّنْيا الشِّبَعُ، وَمِفْتاحُ الآخِرَةِ الجُوعُ» يَعْنِي أَعْمالَها.

Dan Abu Sulaiman ad-Darani berkata: “Kunci (kesibukan dan ketergantungan pada) dunia adalah kenyang, dan kunci akhirat adalah lapar,” maksudnya adalah amal-amal untuk akhirat.

Waktu Pelaksanaan Mutih

Bagi jamaah laki-laki, mutih dilakukan mulai memasuki tanggal 21 Sya’ban. Di tahun ini akan dimulai sejak Ahad malam Senin, 8 Februari 2026 M. Sedangkan jamaah perempuan memulai mutihnya pada tanggal 1 Ramadlan. Ritual mutih dilakukan sampai bulan Ramadlan selesai, kecuali malam Jum’at pada bulan Ramadlan.

Artinya, setiap malam Jum’at bulan Ramadlan, mereka ‘libur’ serta tidak melakukan ritual mutih. Sebab, hari Jum’at –yang dimulai sejak terbenamnya matahari pada hari Kamis– adalah hari raya mingguan bagi umat Islam. Nisbatnya sebuah hari raya, mereka tak mempunyai pantangan apapun mengenai makanan apa yang tidak boleh dikonsumsi.

Namun pada malam (Jum’at) itu, para murid ‘melakukan ritual lain’, yaitu membaca tiga macam shalawat yang telah ditentukan, yaitu Sholawat Habibil Mahbub, Sholawat Thibbil Qulud dan Sholawat Qod Dloqot, masing-masing dibaca sebanyak 1000 kali. Meskipun begitu, mutih bagi jamaah lelaki yang dimulai pada 10 hari (terakhir) bulan Sya’ban tidak ada ‘liburnya’, meskipun pada malam Jum’at.

Tujuan Mutih

Ritual mutih dilakukan agar ketika berbuka puasa, mereka tidak bersenang-senang dan ‘mengumbar’ hawa nafsunya dengan makanan ataupun minuman yang lezat. Sehingga, kemungkinan kekenyangan yang dapat mengakibatkan nafsu kembali menjadi kuat setelah seharian nafsu dikekang dengan berpuasa, bisa diminimalisir.

Tujuan utama mutih adalah untuk riyadhoh (melatih jiwa), mujahadah (memerangi nafsu), taqliluth thoam (menyedikitkan makan) agar hawa nafsu bisa dikendalikan, semangat beribadah (Jawa: rikat) dan agar dibersihkan dari pengaruh-pengaruh makanan syubhat dan haram.

Oleh karenanya, selain agar puasa Ramadhan lebih bermakna, perintah mutih dari Guru Mursyid kepada murid lebih pada sisi menghasilkan kesempurnaan bagi murid. Jika dirasa bermanfaat kemudian ia meninggalkan, maka ia termasuk melakukan adab yang buruk (su’ul adab).

Referensi:

Anwarul Qudsiyah, Sangkapura, Al-Haramain, 38-39

Surat Edaran Maklumat Mutih 1447 H

Majlis Dzikir, Maulidur Rasul SAW & Haul Akbar Al Fithrah 2026 Berlangsung Khidmat dan Penuh Makna

Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya kembali menjadi pusat berkumpulnya ratusan ribu jamaah dari berbagai penjuru Indonesia dalam Majlis Dzikir, Maulidur Rasul SAW, dan Haul Akbar, yang diselenggarakan pada Ahad pagi, 06 Sya’ban 1447 H / 25 Januari 2026 M. Kegiatan akbar ini berlangsung dengan penuh kekhusyukan, nuansa mahabbah, serta semangat birrul walidain dan khidmah kepada para masyayikh.

Rangkaian Acara Pagi yang Sarat Dzikir dan Doa

Acara diawali dengan pembacaan Al-Fatihah yang dipimpin oleh KH. Ali Syairozi (Lamongan), dilanjutkan Istighotsah oleh KH. Abdul Kholiq (Jawa Tengah). Suasana semakin khidmat saat Surat Yasin dilantunkan oleh Mas Fadhol Al Abror (Gresik), kemudian disambung Tawassul Manaqib oleh KH. Abu Althof (Pekalongan).

Pembacaan Manaqib disampaikan oleh Tim Santri Al Fithrah, lalu ditutup dengan Doa Manaqib oleh KH. Najib Zamzami (Kediri). Rangkaian dzikir berlanjut dengan Tahlil dan Talqin yang dipimpin KH. Mujib Qulyubi (Jakarta) serta Doa Tahlil oleh Habib Najib bin Hasan Al Haddad.

Puncak rasa cinta kepada Rasulullah SAW terasa dalam Maulidur Rasul SAW yang dilantunkan oleh santri Al Fithrah bersama para habaib, kemudian ditutup dengan Doa Maulid oleh Habib Hamid bin Salim Mauladawilah (Malang).

Sambutan, Mauidhoh Hasanah, dan Ziarah Maqbarah

Sambutan keluarga ndalem disampaikan oleh KH. Muhammad Ayn El Yaqin Al Ishaqy dan Habib Abbas bin Abu Bakar Al Haddad (Pekalongan). Sementara sambutan mewakili panitia disampaikan oleh H. Muhammad Uripan, Ketua Umum Jamaah Al Khidmah Indonesia. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan ucapan ahlan wa sahlan kepada seluruh jamaah, terima kasih kepada Keluarga Ndalem, para panitia, serta unsur Forkopimda atas dukungan dan izin penyelenggaraan acara, sekaligus permohonan maaf atas segala kekurangan selama pelaksanaan haul.

Panitia sudah berkoordinasi dengan pihak berwajib, teman-teman Ukhsafi Copler Community untuk memastikan keamanan, kenyamanan dan kekhusyuan selama majlis berlangsung. Adapun jika terdapat ketidaknyaman dari jamaah yang hadir, warga ataupun pengguna jalan semoga lebih diperbaiki lagi di tahun yang akan datang.

Mauidhoh hasanah disampaikan oleh Dr. Syaikh Abdul Qodir Al-Kattani dari Maroko, yang ceramahnya diterjemahkan oleh Habib Abbas bin Abu Bakar Al Haddad. Dalam kesempatan tersebut, beliau menyinggung karya beliau Shofwatal Ahadits Nabawiyah, kitab ringkasan hadits-hadits shahih dari Kutubus Sittah yang disusun selama lebih dari 20 tahun berdasarkan hadits yang disepakati kesahihannya.

Syaikh Abdul Qodir Al-Kattani juga menyampaikan doa dan kesaksian tentang keistiqamahan Habib Umar Al-Jilani, yang wafat dalam perjalanan dakwah menuju Haul Akbar Al Fithrah pada Jumat, 23 Januari 2026 M / 04 Sya’ban 1447 H. Beliau dikenal sebagai sosok yang siap menghadapi perpisahan bahkan kematian demi dakwah, serta memiliki kedekatan khusus dengan Hadratusy Syaikh Romo KH. Ahmad Asrori Al Ishaqy. Sepeninggal Romo Kyai Asrori, Habib Umar Al-Jilani diminta untuk terus membersamai Jamaah Al Khidmah, bahkan menganggap putra-putri beliau sebagai anak sendiri.

Acara ditutup dengan Doa Penutup bi Haqqil Fatihah oleh KH. Husni Mubarok (Surabaya), dilanjutkan Ziarah Maqbarah yang diikuti para habaib sepuh dan keluarga ndalem, serta salam penutup “Salamullah Ya Sadat” yang dipimpin Habib Umar Assegaf.

Menuju Haul Hadratusy Syaikh KH. Ahmad Asrori Al Ishaqy

Sebagai penutup rangkaian besar ini, jamaah juga diingatkan akan Haul ke-17 Hadratusy Syaikh Romo KH. Ahmad Asrori Al Ishaqy, pendiri Jamaah Al Khidmah, yang akan diselenggarakan pada Sabtu malam Ahad, 27 Sya’ban 1447 H / 14 Februari 2026 M.

Majlis Haul Akbar Al Fithrah bukan sekadar peringatan, tetapi momentum menyambung sanad cinta, doa, dan pengabdian kepada Allah SWT, Rasulullah SAW, serta para wali dan ulama pewaris risalah.

Semoga kita semuanya dipertemukan dengan kegiatan Haul Akbar Al Fithrah di tahun-tahun selanjutnya. Aamiiin

Haul Akbar Al Fithrah: Bukti Bakti Kepada Orang Tua

Haul Akbar Al Fithrah sering dikenal sebagai majelis doa untuk Kanjeng Syaikh, Sunan Ampel,KH. Muhammad Ustman Al Isahqy Yai Sepuh, dan KH. Asrori Al-Ishaqy. Namun sejatinya, akar utama haul adalah mendoakan kedua orang tua. Para masyayikh hanyalah wasilah dan merk yang mengingatkan umat akan kewajiban agung bernama birrul walidain.

Sebagaimana dawuh KH. Asrori Al-Ishaqy, keberkahan hidup dan kemudahan urusan sangat erat kaitannya dengan bakti kepada orang tua. Doa orang tua—terutama yang telah wafat—adalah pintu langit yang tidak pernah tertutup. Maka haul bukan sekadar tradisi, tetapi majelis penuh harap agar Allah melimpahkan rahmat dan ampunan kepada kedua orang tua kita.

Susunan Acara Haul Akbar Al Fithrah 2026

Susunan acara dalam Majlis Haul Akbar Al Fithrah adalah rangkaian kegiatan kebaikan. Di dalamnya diisi dengan Majlis Dzikir, Maulidurrasul SAW & Haul Akbar Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya pada Sabtu malam, 06 Sya’ban 1446 H / 24 Januari 2026 adalah sebagai berikut:

1. Al-Fatihah oleh Ust. H. Wahdi Alawi (Surabaya)

2. Istighotsah oleh KH. Anwari (Grobogan)

3. Khotmil Qur’an oleh Tim Santri Al Fithrah

4. Al-Ikhlas 7x, Mu’awwidzatain 1x, Al-Fatihah 1x & Al-Baqarah ayat 1–5 oleh KH. Subhan Syukur (Makassar)

5. Doa Khotmil Qur’an oleh KH. Habibullah (Demak)

6. Dzikir Fida’ (1650–3200x ±15 menit) oleh KH. Munir Abdullah (Grobogan)

7. Doa Tahlil oleh KH. Badrus Salam (Singapura)

8. Doa Birrul Walidain oleh KH. Ulil Albab (Pemalang)

9. Maulidur Rasul SAW oleh Tim Santri Al Fithrah & Para Habaib

10. Doa Maulidur Rasul SAW oleh Habib Umar bin Abdullah Assegaf

11. Sambutan & Ungkapan Duka atas Wafatnya Al-Habib Umar Al-Jilany oleh KH. M. Husni Mubarok

12. Doa Bihaqqil Fatihah oleh KH. Fadhil (Palembang)

13. MC & Pengatur Mic oleh Tim Panitia

Berbakti Kepada Orang Tua: Dalil dan Rahasia Doa yang Paling Mustajab

Hadrastusy Syaikh Romo KH. Ahmad Asrori Al Ishaqy mengatakan bahwa majlis Haul Akbar Al Fithrah ini ada yang ‘menungganggi’. Orang-orang ini sebenarnya tidak hanya menghauli Kanjeng Syaikh ataupun Sunan Ampel, melainkan mendoakan diri sendiri dan kedua orang tuanya.

Banyak muatan isi doa yang dibaca dalam Haul Akbar Al Fithrah adalah mendoakan orang tua. Mendoakan orang tua adalah merupakan di antara ciri anak sholeh. Allah SWT berfirman:

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak.”

(QS. Al-Isra: 23)

Rasulullah SAW juga bersabda bahwa ridha Allah tergantung pada ridha orang tua. Inilah sebabnya doa birrul walidain menjadi inti dalam Haul Akbar Al Fithrah. Sebagaimana dawuh para kiai, doa yang dibaca oleh banyak orang saleh, di majelis dzikir, dengan niat bakti kepada orang tua, sangat dekat dengan ijabah.

Haul Akbar Al Fithrah bukan hanya mengenang para wali dan ulama, tetapi menghidupkan kembali kesadaran umat bahwa jalan paling cepat menuju keberkahan adalah berbakti dan mendoakan orang tua, baik yang masih hidup maupun yang telah wafat.

Liburan Pulang Santri Al Fithrah: Jadwal Kepulangan, Teknis, dan Pesan Penting Selama Liburan

Liburan pulang santri merupakan salah satu momentum yang paling dinanti, selain agenda besar Haul Akbar Al Fithrah. Di masa inilah para santri kembali ke rumah untuk menyulam kebersamaan, melepas rindu dengan ayah bunda, saudara, dan keluarga besar.

Sebagai bentuk ikhtiar memberikan waktu istirahat yang berkualitas sekaligus mempererat hubungan santri dengan keluarga, Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah menetapkan jadwal liburan pulang santri yang teratur, tertib, dan penuh tanggung jawab. Berikut informasi lengkap yang perlu diperhatikan oleh santri dan wali santri.


Jadwal Liburan dan Waktu Kembali Santri

Liburan pulang santri dilaksanakan dengan ketentuan sebagai berikut:

  • Waktu kepulangan santri:
    Setelah Majelis Haul Akbar Al Fithrah, pada Ahad, 6 Sya’ban 1447 H / 25 Januari 2026 M
  • Waktu kembali ke pesantren:
    Senin, 14 Sya’ban 1447 H / 2 Februari 2026 M

Santri diharapkan kembali tepat waktu. Santri yang datang di atas pukul 17.00 WIB akan dianggap terlambat dan dapat dikenakan sanksi sesuai dengan peraturan pesantren.


Teknis Kepulangan dan Kembali Santri

Agar pelaksanaan liburan berjalan tertib, aman, dan lancar, berikut teknis yang harus diperhatikan:

a. Ketentuan Kepulangan

  • Santri wajib dijemput oleh wali santri atau pihak yang diberi kuasa.
  • Khusus santri putri, penjemput diwajibkan menunjukkan kartu mahrom.
  • Selama berada di rumah, santri sepenuhnya menjadi tanggung jawab orang tua/wali.
  • Santri tidak diperkenankan mengadakan kegiatan atau acara yang mengatasnamakan santri Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah.

b. Ketentuan Kembali ke Pesantren

  • Santri wajib hadir sesuai jadwal yang telah ditentukan.
  • Membawa perlengkapan pribadi, kitab, dan kebutuhan belajar.
  • Tidak membawa barang-barang terlarang sesuai tata tertib pesantren.
  • Pastikan kondisi fisik dan mental siap untuk kembali mengikuti kegiatan pesantren.

Pesan dan Saran untuk Santri Selama Liburan

Liburan bukan hanya waktu istirahat, tetapi juga kesempatan untuk mengamalkan nilai-nilai yang telah dipelajari di pesantren. Oleh karena itu, santri diharapkan:

  • Tetap menjaga shalat lima waktu, adab, dan akhlak Islami.
  • Menghormati dan berbakti kepada orang tua.
  • Membantu pekerjaan rumah dan menjaga keharmonisan keluarga.
  • Mengisi waktu dengan kegiatan bermanfaat seperti mengaji, membaca, dan silaturahmi.
  • Menjaga nama baik diri, keluarga, dan almamater pesantren.
  • Menghindari pergaulan dan aktivitas yang tidak bermanfaat.

Penutup

Demikian pengumuman liburan pulang santri Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah disampaikan. Semoga masa liburan ini membawa keberkahan, mempererat ikatan keluarga, serta menambah semangat santri untuk kembali menuntut ilmu dengan hati yang segar dan niat yang lurus.

Atas perhatian dan kerja sama wali santri, kami sampaikan terima kasih.
Jazakumullahu khoiron katsiro, wafiron, ma’furan fiddarain. Amin.

Perluas Hingga Barat Kali, Tim Maktab Haul Akbar Al-Fithrah 2026 Siap Layani Puluhan Ribu Jamaah

Surabaya– Dalam rangka menyukseskan Haul Akbar Pondok Pesantren Assalafi Al-Fithrah Surabaya Tahun 2026 yang akan digelar pada 24–25 Januari 2026, Tim Maktab telah memulai persiapan sejak tiga bulan sebelum puncak acara. Langkah ini dilakukan sebagai respons atas terus meningkatnya jumlah jamaah dari tahun ke tahun.

Haul Akbar Al-Fithrah dikenal sebagai salah satu agenda keagamaan terbesar di Surabaya, bahkan di Indonesia. Puluhan hingga ratusan ribu jamaah dipastikan hadir, tidak hanya dari berbagai daerah di Tanah Air, tetapi juga dari luar negeri seperti Malaysia, Singapura, dan Thailand.

Kebutuhan akan tempat istirahat atau maktab pun menjadi aspek krusial yang harus dipersiapkan secara matang agar seluruh jamaah dapat mengikuti rangkaian haul dengan aman dan nyaman.


Maktab: Wujud Memuliakan Tamu dan Menjaga Tradisi Masyayikh

Dalam sejarahnya, pendirian maktab merupakan tradisi mulia yang telah dirintis langsung oleh Hadratusy Syaikh KH. Achmad Asrori Al-Ishaqy. Beliau secara pribadi dahulu meminta kesediaan rumah-rumah warga sekitar untuk dijadikan tempat menginap jamaah haul.

Apa yang dilakukan beliau sejatinya merupakan pengamalan sabda Rasulullah SAW:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ
“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya ia memuliakan tamunya.” (HR. Muslim)

Tradisi ini terus dilestarikan hingga kini oleh Tim Maktab Haul Akbar Al-Fithrah sebagai bentuk khidmah dan penghormatan kepada para tamu haul.


Strategi Tim Maktab: Koordinasi Daerah dan Perluasan Wilayah

Pada tiga bulan awal persiapan, Tim Maktab berfokus pada penyusunan RAB, jadwal kegiatan, rapat persiapan, pelatihan tim, serta koordinasi dengan warga. Sosialisasi juga dilakukan secara daring melalui Zoom, menjangkau koordinator dari Jawa, luar Jawa, hingga luar negeri.

Alhamdulillah, dalam tiga tahun terakhir kami sudah membentuk koordinator daerah. Pendaftaran maktab kini satu pintu melalui koordinator daerah masing-masing yang terhubung dengan admin pusat,” jelas Ust. Moh. Arista, S.Ag, Koordinator Maktab Haul Akbar Al-Fithrah 2026.

Tim Maktab sendiri beranggotakan lebih dari 100 santri, didukung oleh Tim IT dan Tim Penjemputan khusus untuk melayani jamaah dari luar pulau dan luar negeri.

Secara umum, maktab dibagi menjadi dua kategori, yaitu Maktab VIP untuk tamu luar pulau dan luar negeri, serta Maktab Umum untuk jamaah lainnya.


1.121 Lokasi Maktab, Kapasitas Lebih dari 35 Ribu Jamaah

Tingginya jumlah pendaftar maktab pada tahun ini mendorong Tim Maktab untuk melakukan strategi tambahan berupa perluasan wilayah jangkauan maktab. Jika sebelumnya maktab terpusat di wilayah timur kali, kini jangkauan telah meluas hingga wilayah barat kali dan bahkan wilayah utara, termasuk kawasan Gang Tambak Wedi Baru.

Dalam proses pendataan, anggota Tim Maktab mendatangi rumah-rumah warga secara langsung. Respons masyarakat pun sangat menggembirakan. Warga dengan penuh keikhlasan menawarkan rumah, gedung, musala, masjid, hingga gudang, garasi, dan area parkir untuk dijadikan maktab, tanpa pungutan biaya apa pun kepada jamaah.

Hingga Senin, 19 Januari 2026, tercatat sebanyak 1.121 lokasi maktab dengan total kapasitas mencapai 35.756 jamaah.


Sinergi Panitia dan Warga Demi Haul yang Khidmat

Dengan capaian tersebut, Tim Maktab Haul Akbar Al-Fithrah 2026 menegaskan komitmennya untuk terus memberikan pelayanan terbaik. Sinergi antara panitia dan masyarakat sekitar pondok menjadi kekuatan utama dalam menjaga kelancaran, ketertiban, dan kekhidmatan Haul Akbar.

Diharapkan, penyelenggaraan maktab pada Haul Akbar 2026 ini tidak hanya menjadi solusi teknis bagi jamaah, tetapi juga menjadi teladan nyata tentang khidmah, keikhlasan, dan semangat memuliakan tamu dalam tradisi pesantren.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai Maktab silakan hubungi: Admin Maktab WA 085755697207

Pewarta: Erik Zulfa