Liputan

Ma’had Aly Al Fithrah Surabaya Raih Predikat Mumtaz dalam Asesmen Akreditasi Majelis Masyayikh Kemenag RI

Alhamdulillah, kabar gembira kembali menyelimuti keluarga besar Ma’had Aly Al Fithrah Surabaya. Lembaga pendidikan tinggi pesantren ini resmi meraih predikat Akreditasi Mumtaz, hasil dari asesmen yang dilakukan oleh Majelis Masyayikh Kemenag Republik Indonesia. Pencapaian tersebut bukan hanya membuktikan kualitas lembaga dari sisi administrasi, tetapi juga mencerminkan kedalaman tradisi keilmuan, kesungguhan para masyayikh, serta ketekunan para thullab dalam menempuh jalan ilmu.

Predikat Mumtaz merupakan tingkatan tertinggi dalam standar akreditasi Ma’had Aly. Ia menjadi simbol bahwa sebuah lembaga bukan hanya memenuhi standar, tetapi melampaui ekspektasi, baik dari aspek kurikulum, tradisi ilmiah, mutu pengajaran, hingga penguatan karakter santri. Keberhasilan ini merupakan karunia besar yang pantas disyukuri, sekaligus bukti nyata bahwa perjuangan panjang yang dijalankan selama ini berbuah manis.

Makna Predikat Mumtaz dan Pengakuan Majelis Masyayikh

Majelis Masyayikh Kemenag RI merupakan lembaga tertinggi yang mengatur standarisasi mutu pendidikan pesantren, termasuk Ma’had Aly. Ketika sebuah lembaga mendapatkan predikat Mumtaz, itu berarti lembaga tersebut telah memenuhi standar keilmuan, kelembagaan, dan atmosfir akademik yang sangat tinggi.

Bagi Ma’had Aly Al Fithrah, predikat ini menjadi stempel kehormatan bahwa lembaga tersebut tidak hanya sekadar berdiri, tetapi berdiri dengan kokoh di atas tradisi ilmiah pesantren yang telah diwariskan para ulama.

Nilai Mumtaz ini lahir dari proses panjang yang penuh dinamika—mulai dari penyusunan kurikulum yang menjaga keseimbangan antara turats dan keilmuan kontemporer, evaluasi internal berkala, hingga konsistensi dalam menjaga adab thalabul ‘ilmi. Semuanya berpadu menjadi bukti bahwa Ma’had Aly Al Fithrah menjalankan amanah pendidikan bukan setengah hati, tetapi dengan sepenuh keikhlasan dan ketekunan.

Perjalanan Panjang: Dari Muroja’ah, Diskusi, hingga Evaluasi Tanpa Henti

Dalam keterangan pihak Ma’had Aly, pencapaian ini bukanlah sesuatu yang muncul tiba-tiba. Ia adalah buah dari perjalanan panjang yang dipenuhi murāja’ah setiap malam, diskusi ilmiah yang tidak pernah surut, dan rapat-rapat evaluasi yang kadang berlangsung lebih lama daripada daftar hadir itu sendiri.

Para masyayikh dan muhadir (dosen) tak henti menanamkan ruh keilmuan, sementara para thullab dengan penuh semangat memakmurkan halaqah, kajian kitab, dan rutinitas akademik lainnya. Doa para pengasuh yang senantiasa mengalir ke langit menjadi energi yang tidak terlihat, namun sangat terasa keberkahannya.

Akreditasi Mumtaz ini menjadi bukti bahwa tradisi keilmuan yang dijalankan di Ma’had Aly Al Fithrah bukan formalitas, melainkan perjalanan ruhani dan intelektual yang hidup. Sebuah perjalanan yang menjadikan ilmu bukan sekadar materi dan ujian, tetapi juga adab, khidmah, dan kedekatan kepada Allah.

Mumtaz Bukan Garis Akhir, Tetapi Garis Awal untuk Melangkah Lebih Tinggi

Salah satu pesan penting dari pencapaian ini adalah bahwa predikat Mumtaz bukanlah garis akhir suatu perjuangan. Justru, ia menjadi garis start baru. Semakin tinggi pengakuan yang diraih, semakin besar pula amanah yang harus dipikul.

Predikat Mumtaz menjadi pengingat bahwa seluruh civitas Ma’had Aly—mulai dari mudir hingga para santri—harus terus memupuk kedisiplinan, memperkuat budaya ilmiah, serta menjaga adab dalam menuntut ilmu. Zona nyaman bukanlah tempat bagi mereka yang ingin terus maju. Oleh sebab itu, pencapaian ini menjadi momentum untuk melangkah lebih jauh, lebih dalam, dan lebih berkualitas dalam pengabdian dan penyebaran ilmu.

Harapannya, melalui pengakuan ini, Ma’had Aly Al Fithrah semakin mampu mencetak kader ulama yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga jernih hati, kuat adabnya, dan luas pengabdiannya kepada umat.

Penutup

Seluruh keluarga besar Ma’had Aly Al Fithrah Surabaya patut bersyukur dan berbahagia. Prestasi gemilang ini merupakan hasil kerja bersama—para masyayikh, muhadir, para santri, pengurus, dan seluruh pendukung pesantren. Semoga Allah menjaga keberkahan ilmu di lingkungan Ma’had Aly Al Fithrah dan menjadikannya wasilah lahirnya ulama-ulama yang istiqamah, tawadhu’, serta bermanfaat bagi umat. Aamiin

Peringati Hari Santri 2025 Al Fithrah Selenggarakan Doa Bersama

Rabu (22/10) Peringatan Hari Santri tahun ini diselenggarakan dengan suasana berbeda di Al Fithrah Surabaya. Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya tidak menyenangkan upacara hari santri.

“Tahun ini Kita menyelenggarakan peringatan hari santri dengan kemasan sederhana. Kita benar-benar menunjukkan identitas kita, sebagai santri Al Fithrah” Ungkap Kepala Pondok, Ust. Nashiruddin, M.Pd dalam  sambutan yang disampaikannya.

Iya, Peringatan Hari Santri di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah dilaksanakan di Masjid Al Fithrah. Acara yang dimulai pukul 06.30 WIB ini diisi dengan Tawasul, Istighotsah, Yasin dan Maulidurrasul SAW. Para ustadz senior diamanahi untuk mengisinya. Di antaranya ada Ust. H. Sholeh, S.Ud, Ust. H. Hadori, S.Ud, Ust. H. Wahdy Alawy, S.Ud, Ust. H. Khoiruddin, S.Ud, dan Ust. H. Ridwan, S.Ud.

Kegiatan tahunan ini diikuti oleh seluruh peserta didik, pendidik dan tenaga kependidikan dari semua unit pendidikan di bawah naungan Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya. Turut hadir peserta didik RA Al Fithrah, MI Al Fithrah, PDF Wustho Al Fithrah, PDF Ulya Al Fithrah, Ma’had Aly Al Fithrah dan MDTJ Al Fithrah beserta guru-gurunya.

Agenda tahunan ini semakin istimewa dengan kehadiran putri-putri dari Hadratusy Syaikh Romo KH. Achmad Asrori Al Ishaqy. Rawuhnya beliau adalah pelipur lara hati para santri Al Fithrah semuanya. Di momentum hari santri kali ini, Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya turut menyumbang doa-doa terbaiknya.

Harapan untuk Santri Masa Depan

Peringatan Hari Santri tahun ini mengangkat tema ‘Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Dunia’. Tema ini mengandung makna bahwa keberadaan para kiai dan santri memiliki peran yang penting dalam mengupayakan kemerdekaan bangsa.

“Tentunya dalam mengawal ini, di zaman sekarang ini, tentunya bukan mengawal dengan otot, melainkan mengawal dengan ilmu, dengan adab, dengan akhlak, dengan keterampilan, sehingga bisa menuju peradaban dunia” jelas Ust. Nashiruddin.

“Dalam konteks Al Fithrah, kita punya tanggung jawab, punya tugas untuk mengawal bagaimana cita-cita ini (ilmu agamanya menjadi teladan, ilmu umumnya tidak ketinggalan) terealisasikan” tambah Ustadz yang juga pernah menjabat sebagai kepala PDF Wustho Al Fithrah.

Di antara caranya, sebagaimana dituturkan beliau adalah dengan bersatulangkah searah seirama antar para asatidz dan santrinya.

Para perintis lembaga pendidikan pondok pesantren seluruh Indonesia memiliki cita-cita yang sama agar para santri menjadi bagian bagi warna cerah peradaban dunia. Waktu para kiai dihabiskan untuk memperhatikan para santrinya.

Siapa itu kiai? Mereka yang mampu bersabar. Mereka yang tidak ada waktu untuk istirahat, melainkan 24 jam mendoakan santrinya. Bukan berfoya-foya dengan memanfaatkan santrinya. Mereka mengamalkan hadits Nabi untuk senantiasa mengasihi seluruh makhluk-Nya.

“Santri harus punya dua tujuan; pertama, istifadah min ilmi al-ulama, mencari ilmunya para ulama; istifadhoh bi nuril ulama, menjadi corong lubernya ilmu dan keberkahan” jelas Ust. Wahdy

مَنْ عَلِمَ وَعَمِلَ وَعَلَّمَ فَذَاكَ يُدْعَى عَظِيمًا فِي مَلَكُوتِ السَّمَاوَاتِ

“Barang siapa berilmu, beramal, dan mengajarkan (ilmu), maka dia disebut sebagai orang yang agung di dalam kerajaan langit.” Musnad al-Firdaws karya ad-Daylamī dan Ihya karya Imam Ghozali

Contohnya adalah melaksanakan sholat sesegera mungkin setelah mengetahui keutamaan sholat adalah dilaksanakan pada awal waktunya.

Contoh nyata keberhasilan adalah Syaikh Syamsuddin. Beliau mampu ber-istifadhoh sebab keestuan ngajinya kepada guru. Syaikh Syamsuddin ngaji kepada Syaikh Abdul Karim dengan berjalan kaki dari Bangkalan ke Pamekasan setiap hari.

“Kebetulan pada hari ini, Beliau Nyai Siera En Nadia juga berulang tahun. Mudah-mudahan diberikan panjang umur, kesehatan dan keberkahan, sehingga senantiasa mendoakan panjenengan semua menjadi santri yang saleh dan salehah” tutup Ust. Wahdy diaminkan oleh seluruh santri.

“Mudah-mudahan seluruh santri Indonesia, khususnya santri Al Fithrah, mendapatkan siraman keberkahan dari para guru-guru” Ust. H. Wahdy Alawy, S.Ud.

Meningkatkan Kesejahteraan Santri

Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya berupaya untuk meningkatkan kesejahteraan santri. Peringatan Hari Santri tahun ini diselenggarakan beberapa rangkaian terkait pelayanan kesehatan, baik untuk masyarakat di luar pesantren, maupun para santri.

Pengurus Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah adakan acara bakti sosial sebagai bagian dari rangkaian acara hari santri. Bakti sosial pembersihan karang gigi ini diadakan pada 19 Oktober 2025. Kegiatan yang diselenggarakan di Poskestren Al Fithrah ini dikawal oleh Drg. Yolanda dan dr. Faradila, serta diikuti 50 warga sekitar pondok.

Selain itu, Pengurus Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Kota Surabaya menggelar kegiatan Gerakan Aksi Bergizi Cegah Stunting. Dalam kegiatan ini juga dilaksnakanan edukasi tentang kesehatan Perilaku Hidup Sehat (PHBS) untuk cegah stunting, edukasi kesehatan pola gizi seimbang bagi santri dan skrinning kesehatan santri.

Semoga momentum hari santri ini bukan sekadar doa bersama, melainkan juga menjadi batu pijakan agar para santri menjadi lebih baik lagi, senantiasa dalam rahmah, maghfiroh, dan ma’unah Allah subhanahu wa ta’ala. Aamiiin

Estafet Kepemimpinan Menuju Al Fithrah yang Lebih Berkah

Selasa (30/9) Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya selenggarakan pemindahan estafet kepemimpian kepengurusan kepada pengurus baru. Acara yang diselenggarakan di Pendopo Al Fithrah ini dibuka dengan Tawasul, Istigotsah dan Maulid fi Hubby, sebagaimana yang telah ditentukan oleh para guru.

“Acara (estafet kepemimpinan) ini akan menjadi momentum yang akan menentukan masa depan Al Fithrah dalam 4 tahun ke depan” Ucap Ust. Mustaqim, M.Ag, selaku Ketua Komisi Pemilihan Umum Kepengurusan Pesantren (KPUKP).

“Semoga melalui ini tercipta kerjasama yang baik antar rasionalitas dan spiritual. Sebagai implementasi ayat:


إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ ۚ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا

“Sungguh Allah memerintahkan kalian untuk menyampaikan amanat kepada yang bersedia, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia agar kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang terbaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (QS. An-Nisa ayat 58).

“Teriring doa semoga Allah SWT senantiasa melindungi kita semua, guyub rujun dalam berkhidmah” Tutup beliau.

Pengukuhan Kepemimpinan Baru

Pembacaan Surat Keputusan Kepengurusan Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya disampaikan oleh Ust. Ahmad Syathori, M.Fil.I. Selanjutnya dibacakan susunan pengurus baru Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya oleh Ust. Ali Mastur, M.Pd.

Dalam kesempatan ini, Ust. Nashiruddin, M.Pd dilantik menjadi Kepala Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya periode 2025-2029 menggantikan Ust. Kunawi, M.Pd.

Dokumentasi Penyerahan Estafet Kepemimpinan Kepengurusan Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya dari Ust. Kunawi, M.Pd kepada Ust. Nashiruddin, M.Pd

Agenda empat tahunan yang dihadiri oleh seluruh dewan pengurus Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya ini dibacakan para kepala baru unit lembaga pendidikan di Al Fithrah. RA Al Fithrah dikepalai oleh Usth. Nuriyah, S.Pd. MI Al Fithrah dikepalai Ustdh. Zumrotul Fauziyah, S.Pd.I, Kepala PDF Wustha Al Fithrah oleh Ust. Nur Yasin, S.Ud, PDF Ulya Al Fithrah dikepalai Ust. Nashiruddin, S.Pd, M.M, dan Mudir Ma’had Aly dan MDTJ adalah Ust. Abdullah, S.Ud, M.Pd

Struktural Lengkap Kepengurusan Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya baca di sini

Pakta Integritas Kepemimpinan

Setelah penyerahan jabatan dari kepemimpinan lama kepada kepemimpinan baru, pembacaan pakta integritas dipimpin oleh Ust. Ilyas Rahman, S.Ud. Para pengurus yang hadir turut berdiri membacakan pakta integritas kepemimpinan secara bersama-sama.

Selesai pembacaan pakta integritas dilanjutkan dengan sambutan-sambutan. Sambutan mewakili pengurus lama disampaikan oleh Ust. Kunawi, M.Pd selaku Kepala Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya periode 2021-2025 memohon maaf apabila terdapat kekurangan selama melaksanakan tugas empat tahun di Al Fithrah.

Ust. Nashiruddin, M.Pd mewakili pengurus baru juga turut menyampaikan sambutannya.
“Bahwa pernah didawuhkan oleh Hadratusy Syaikh, Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya ini harus menjadi contoh terdepan dalam hal agama. Baik itu dalam hal pendidikan, kewadzifahan, administrasi dan keuangan” Ucap Kepala Pondok periode tahun 2025-2029.

“Kami sangat mengharapkan tuntunan dan bimbingan, terutama dari para dewan penasehat” tutup beliau.

Nasihat Kepemimpinan

Penyampaian nasehat disampaikan salah satu dewan penasehat Al Fithrah. Dalam hal ini disampaikan oleh Ust. Khoiruddin, S.Ud.
“Saya yakin, panjenengan semua di sini tidak ada keinginan untuk menjadi pemimpin di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya” buka beliau yang kemudian mengutip ayat Alquran.

إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنْسَانُ ۖ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا

“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh”, (QS. Al Ahzab 72)


Beliau berpesan agar para pengurus selalu mengutamakan keterbukaan dan saling berkoordinasi dalam menjalankan masing-masing khidmahnya.

Semoga, kepemimpinan baru Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya ini akan membawa dampak kemajuan bagi Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya. Mewujudkan Al Fithrah yang lebih berkah, manfaat dan maslahat. Aamiin

Majlis Ahad Kedua Bulan Muharram 1447 H (Bag. 2)

Meneladani Ulama Pewaris Nabi

Di era penuh fitnah dan kemunculan berbagai aliran baru yang menyimpang dari jalan Rasulullah SAW, keberadaan ulama Ahlussunnah wal Jama’ah menjadi mercusuar penuntun. Hal ini ditegaskan oleh Habib Musthofa Jamal Alaydrus yang mengutip sabda Rasulullah SAW mengenai perpecahan umat menjadi 73 golongan, di mana hanya satu yang selamat: mereka yang mengikuti jalan Nabi dan para Sahabatnya.

Habib Musthofa mengingatkan akan bahaya kelompok-kelompok seperti Syiah Rafidhah, Jahmiyah, Qadariyah, dan Jabariyah, yang menyimpang dari akidah yang benar. Ia juga mengutip Kitab Hasyiyah al-Sinwani yang menegaskan bahwa berbagai paham sesat termasuk dalam bid’ah muharromah (bid’ah yang diharamkan).

Dalam penjelasannya, Habib Musthofa merinci pembagian bid’ah menurut Syaikh Izzudin Ibnu Abdissalam: ada yang wajib, sunnah, mubah, makruh, dan haram. Contohnya, belajar ilmu Nahwu adalah bid’ah wajib karena menjadi sarana memahami syariat. Sesuai kaidah fikih:

ماَ لاَ يَتِمُ الْوَاجِبُ اِلَّا بِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ

“Sesuatu yang wajib dan tidak sempurna kecuali dengan sarana tertentu, maka sarana itu menjadi wajib.”

Sebaliknya, madzhab Jabariyah dan Qadariyah termasuk dalam bid’ah yang haram karena menyandarkan dosa dan kehendak manusia sepenuhnya kepada takdir, menghilangkan tanggung jawab pribadi.

Warisan Ahlussunnah wal Jama’ah

Ciri khas ulama Ahlussunnah wal Jama’ah adalah ilmu yang dalam, akhlak yang luhur, dan amal saleh yang tersembunyi dari riya. Mereka adalah pewaris Nabi yang tidak hanya menjaga syariat, tetapi juga memelihara umat dengan kasih sayang dan kebijaksanaan. Sebagaimana digambarkan oleh Imam al-Bushiri dalam Qasidah Burdah:

وَالْآلِ وَالصَّحْبِ ثُمَّ التَّابِعِيْنَ فَهُمْ   أَهْلُ التُّقَى وَالنَّقَا وَالْحِلْمِ وَالْكَرَمِ

“(Keridaan juga untuk) keluarga Nabi, para Sahabat, dan para Tabi’in; mereka adalah orang-orang bertakwa, berhati bersih, penuh kesabaran dan kemuliaan.”

Majlis Ahad Kedua Muharram 1447 H ini kembali mengingatkan kita akan pentingnya berpegang teguh pada jalan para ulama Ahlussunnah wal Jama’ah—mereka yang mewarisi ilmu, akhlak, dan perjuangan Rasulullah Saw. serta para Sahabatnya.

Semoga kita senantiasa diberi kekuatan untuk meneladani para pendahulu yang saleh. Aamiin.

Majlis Ahad Kedua Bulan Muharram 1447 H (1)

Majlis Ahad Kedua merupakan salah satu majlis rutin yang diselenggarakan oleh Jamaah Al Khidmah di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya. Majlis ini telah diinisiasi sejak masa hidup Hadhratusy Syaikh Romo KH. Achmad Asrori Al Ishaqi ra. Rangkaian majlis meliputi pembacaan Tawasul Fatihah, Istighotsah, Khotmil Qur’an, dan Maulid. Setelah serangkain munajat dan dzikir Kiai Asrori akan menyampaikan pengajian dengan bahasa Indonesia atau Jawa

Setelah beliau wafat, tradisi Majlis Ahad Kedua tetap dilestarikan dan kini diadakan setiap Ahad Kedua pada bulan Muharram, Rabiul Awal, Rajab, dan Dzulqaidah. Khusus pada bulan Dzulqaidah, turut dibacakan Manaqib Sayyidatina Khadijah al-Kubra dari kitab al-Busyra karya Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki.

Menyambut Tahun Baru Hijriyah dengan Kebaikan

Tahun ini, Majlis Ahad Kedua Muharram 1447 H. bertepatan dengan Hari Asyura, tanggal 10 Muharram—hari yang sarat makna dalam sejarah Islam. Di antaranya adalah keselamatan Nabi Nuh as. dari banjir besar, keselamatan Nabi Ibrahim as. dari api Raja Namrud, serta keberhasilan Nabi Musa As. lolos dari kejaran Fir’aun.

Berbagai amalan dianjurkan pada Hari Asyura, seperti memotong kuku, memperluas nafkah kepada keluarga, bersilaturahmi, sowan kepada para ulama (baik yang masih hidup maupun telah wafat), bersedekah, berpuasa, dan amalan-amalan kebajikan lainnya sebagai bentuk syukur dan peningkatan spiritual.

Dalam Naungan Ahlussunnah wal Jama’ah

Salah satu agenda penting dalam majlis ini adalah pengajian kitab al-Muntakhobat fi Rabithah al-Qalbiyah wa Shilah al-Ruhiyah karya Hadhratusy Syaikh KH. Achmad Asrori al Ishaqi ra. Pada kesempatan ini, pengajian disampaikan oleh Habib Musthofa Jamal Alaydrus, yang membahas bab Fi Dhilal Ahlussunnah wa al-Jama’ah dalam jilid pertama kitab tersebut.

Habib Musthofa menekankan bahwa setelah wafatnya Rasulullah Saw. dan masa Sahabat, muncul tantangan besar dalam memahami syariat, khususnya terhadap ayat-ayat mutasyabihat. Lemahnya keilmuan dan minimnya ulama yang berhikmah membuat umat rentan terhadap penyimpangan. Namun Allah SWT menjaga agama ini melalui kehadiran para ulama Ahlussunnah wal Jama’ah yang bersih fitrahnya, jernih hatinya, dan tidak mudah tergoda dunia.

Mereka diibaratkan seperti pohon yang baik, yang tumbuh kokoh dan menghasilkan buah sepanjang waktu, sebagaimana disebutkan dalam QS. Ibrahim ayat 24–25.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

اَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللّٰهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ اَصْلُهَا ثَابِتٌ وَّفَرْعُهَا فِى السَّمَاۤءِۙ    تُؤْتِيْٓ اُكُلَهَا كُلَّ حِيْنٍ ۢبِاِذْنِ رَبِّهَاۗ وَيَضْرِبُ اللّٰهُ الْاَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُوْنَ

Tidakkah engkau memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimah ṭayyibah? (Perumpamaannya) seperti pohon yang baik, akarnya kuat, cabangnya (menjulang) ke langit. Dan menghasilkan buahnya pada setiap waktu dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan untuk manusia agar mereka mengambil pelajaran.
QS. Ibrahim: 24-25