Qona’ah dalam Secangkir Kopi

Silahkan share

Rabu, 28 Oktober 2026, malam itu kami membuka lembar demi lembar kitab al-Risālah al-Qusyairiyyah bersama para mahasantri Ma’had Aly Al Fithrah Putri. Kegiatan tersebut merupakan agenda rutin setiap Rabu malam yang mereka kenal dengan sebutan Diskusi Ilmiah (DISMI). Bertempat di Aula Kitab Romo Yai, sebuah ruangan yang menyimpan segudang koleksi maktabah milik Kiai Asrori al-Ishaqi yang tertata dengan rapi.

Tak perlu dibayangkan berapa banyak mahasantri yang hadir. Lebih dari 50 mahasantri mengikuti kajian malam itu dengan penuh tafakkur wa tadabbur. Mereka menyelami pemikiran Imam al-Qusyairi melalui sebuah karya monumental dalam khazanah keilmuan tasawuf, yakni al-Risālah al-Qusyairiyyah.

Di tengah suasana kajian, secangkir kopi seduhan dan sebotol air mineral berukuran tanggung bermerek An-Najwa tersaji di hadapan kami. Sajian sederhana yang seolah telah menjadi bagian dari rutinitas dalam setiap pertemuan. Malam itu, pembahasan kami sampai pada satu tema yang menarik untuk direnungkan, yaitu Qona’ah. Sebuah tema yang kemudian mengilhami lahirnya tulisan populer ini.

Setidaknya, ada beberapa hal yang mengusik pikiran kami dan terasa penting untuk dibagikan:

Qona’ah sebagai Kekayaan yang Tidak Pernah Habis.

Dalam salah satu redaksi yang dikutip Imam al-Qusyairi, qona’ah diungkapkan dengan istilah kanzun lā yafna, yang secara sederhana dapat dimaknai sebagai “harta simpanan yang tidak akan pernah habis”. Ungkapan ini menyimpan makna yang begitu dalam. Kekayaan tidak selalu berkaitan dengan banyaknya harta yang dimiliki, luasnya tempat tinggal, atau berlimpahnya sesuatu yang dapat dikumpulkan. Ada bentuk kekayaan lain yang justru tidak dapat diukur dengan angka, tidak mudah terlihat oleh mata, dan tidak akan habis meskipun waktu terus berjalan itulah yang disebut dengan kekayaan hati.

Qona’ah mengajarkan seseorang untuk menerima apa yang telah Allah anugerahkan, tanpa kehilangan semangat untuk berusaha dan memperbaiki keadaan. Ia bukan alasan untuk berhenti berikhtiar, melainkan cara untuk menjaga hati agar tidak terus-menerus diperbudak oleh keinginan yang tidak berkesudahan.

Baca Juga  Anjuran Bersegera Berbuka

Jika kita amati secara mendalam, andai seseorang merasa sudah tercukupi dengan apa yang ia rasakan maka betapa banyaknya nikmat yang telah mereka peroleh dalam hidupnya, seperti halnya hirupan nafas, secawuk (terj: suapan) makan dan masih banyak yang lain itu semua ialah kekayaan yang telah kita miliki di saat ini. Kebutuhan itu memang sepantasnya perlu kita penuhi namun kebutuhan apa dulu kebutuhan hajiyat (primer), dhoruriyat (sekunder), atau tahsiniyat (tersier), mana yang perlu kita dahulukan itulah kebutuhan. Karena kutipan dalam Kaedah Fiqih menganjurkan kita untuk memilah mana yang al-Aham tsuma al-Aham.

Kaya Tapi Miskin, Miskin Tapi Kaya?

Dalam redaksi lain yang disebutkan dalam pembahasan tersebut terdapat ungkapan Al-fuqarā’u amwātun illā man aḥyāhullāhu bi ‘izzi al-qanā’ah.

“Orang-orang fakir itu seolah-olah mati, kecuali mereka yang dihidupkan oleh Allah melalui kemuliaan qona’ah.”

Ungkapan ini mengantarkan kita pada sebuah pemahaman bahwa qona’ah tidak semata-mata berbicara tentang status seseorang, apakah ia tergolong kaya atau miskin secara materi. Sebab, kemiskinan yang dimaksud dalam konteks ini bukanlah semata-mata kemiskinan harta benda, melainkan kemiskinan hati. Seseorang boleh jadi memiliki kekayaan yang melimpah, tetapi jika hatinya senantiasa merasa kekurangan, maka sesungguhnya ia masih berada dalam lingkaran kefakiran. Sebaliknya, seseorang yang secara materi hidup sederhana, tetapi hatinya dipenuhi rasa cukup, justru memiliki kekayaan yang tidak mudah diperoleh oleh setiap orang.

Lantas, jika dihadapkan pada dua pilihan, manakah yang lebih baik: miskin harta tetapi kaya hati, atau kaya harta tetapi miskin hati?

Pertanyaan ini mungkin terasa ambigu apabila kita membawanya ke tengah kehidupan masyarakat kita. Sebab, bukankah lebih baik jika seseorang mampu menjadi kaya hati sekaligus kaya harta? Daripada sudah miskin secara materi, masih pula miskin secara batin. Tentu, memiliki keduanya merupakan keadaan yang patut disyukuri. Namun, persoalan utamanya bukan terletak pada seberapa banyak harta yang dimiliki, melainkan bagaimana hati memperlakukan harta tersebut.

Qona’ah tumbuh dari hati yang mampu merasa cukup terhadap apa yang dimilikinya. Cukup bukan berarti menolak segala bentuk keinginan atau berhenti dari usaha untuk memperoleh sesuatu. Akan tetapi, cukup berarti memahami mana yang benar-benar dibutuhkan dan mana yang sekadar diinginkan. Jika sesuatu memang dibutuhkan, keberadaannya patut diusahakan. Namun, jika tidak dibutuhkan, ketiadaannya tidak harus menjadi alasan untuk merasa kekurangan.

Baca Juga  Langkah Nyata Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya Wujudkan Asrama Santri Sehat dan Bebas TBC

Orang yang memiliki kesadaran semacam ini sesungguhnya sedang menumbuhkan sifat qona’ah dalam dirinya. Ia tidak lagi menjadikan harta sebagai ukuran kebahagiaan, apalagi membiarkan keinginan terhadap sesuatu yang tidak dibutuhkan menguasai kehidupannya.

Dalam hal ini, qona’ah memiliki hubungan yang sangat erat dengan syukur. Bahkan, kita dapat mengatakan bahwa qona’ah merupakan salah satu jalan menuju kesempurnaan syukur. Ketika hati telah mampu merasa cukup, seseorang akan lebih mudah menyadari dan mensyukuri segala anugerah yang telah diberikan Allah kepadanya. Sebaliknya, hati yang terus-menerus merasa kurang akan kesulitan menemukan ruang untuk bersyukur, sekalipun berbagai kenikmatan telah berada dalam genggamannya.

Qonaah sejatinya merupakan kemuliaan yang tumbuh dalam hati seorang mukmin. Ketika hatinya telah dipenuhi keyakinan kepada Allah, ia tidak lagi menjadikan kekuasaan duniawi sebagai satu-satunya sandaran kehidupan. Ia menyadari bahwa segala sesuatu yang dimiliki hanyalah titipan, sedangkan Allah adalah sumber segala kecukupan.

Alangkah kayanya seorang mukmin ketika ia telah mencapai tingkatan qona’ah. Ia mungkin tidak memiliki segalanya, tetapi tidak merasa kehilangan segalanya. Sebab, kekayaan yang sesungguhnya bukan terletak pada apa yang berhasil dikumpulkan oleh tangan, melainkan pada hati yang senantiasa merasa cukup atas pemberian Tuhan.

Secangkir Kopi dan Pelajaran tentang Qona’ah

Lantas, apa hubungannya semua pembahasan ini dengan secangkir kopi yang tersaji di hadapan kami malam itu?

Barangkali inilah bagian paling sederhana, tetapi justru menyimpan ruang perenungan yang cukup dalam. Secangkir kopi yang disuguhkan dalam kegiatan DISMI malam itu bukan sekadar minuman untuk menemani diskusi atau mengusir rasa kantuk. Ia dapat menjadi metafora kecil tentang bagaimana qona’ah bekerja dalam kehidupan sehari-hari.

Bayangkan, ketika secangkir kopi telah tersaji di hadapan kita, apakah kita masih sibuk memikirkan kopi lain yang belum kita miliki? Apakah kenikmatan kopi yang sedang kita teguk menjadi berkurang hanya karena kita mengetahui bahwa ada kopi yang lebih mahal, lebih nikmat, atau disajikan dengan cara yang lebih istimewa?

Baca Juga  3 Tingkatan Puasa dan Cara Menapakinya.

Di sinilah qona’ah menemukan relevansinya. Seseorang yang memiliki sifat qona’ah bukan berarti tidak mengenal sesuatu yang lebih baik. Ia boleh saja mengetahui bahwa ada kopi yang lebih mahal dan lebih istimewa, tetapi pengetahuan itu tidak lantas membuatnya kehilangan kenikmatan atas secangkir kopi yang sedang berada di hadapannya.

Qona’ah bukan tentang membatasi diri untuk menikmati kehidupan, melainkan membebaskan hati dari keharusan memiliki segala sesuatu. Sebab, sebanyak apa pun keinginan manusia, dunia tidak pernah benar-benar selesai menyediakan sesuatu yang baru untuk diinginkan.

Secangkir kopi itu pada akhirnya mengajarkan sebuah pelajaran bahwa kenikmatan tidak selalu hadir dari sesuatu yang paling mahal, tetapi dari hati yang mampu menghargai apa yang telah diterimanya. Kita tidak sedang diajarkan untuk berhenti menginginkan sesuatu yang lebih baik, melainkan agar tidak kehilangan rasa syukur atas apa yang telah ada.

Mungkin, inilah yang dapat kita bawa pulang dari diskusi malam itu. Bahwa qona’ah tidak harus menunggu seseorang memiliki kekayaan berlimpah, tidak pula harus menunggu seseorang hidup dalam kesederhanaan. Qona’ah dapat dimulai dari hal-hal kecil, bahkan dari cara kita menikmati secangkir kopi. Sebab, pada akhirnya, yang membuat seseorang kaya bukanlah seberapa banyak kopi yang dapat ia pesan, melainkan seberapa besar rasa cukup yang mampu ia hadirkan dalam hatinya.

Muhammad Nurush Shobah, M.Ag. Dosen Ma’had Aly Al Fithrah