alkhidmah

Haul Akbar Al Fithrah Semarang: Digagas Berasas Takwa

Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Meteseh Semarang kembali menyelenggarakan Haul Akbar Al Fithrah yang menjadi agenda tahunan setiap Ahad pagi ketiga bulan Shafar. Tahun ini, kegiatan berlangsung pada Ahad, 2 Agustus 2026 M, dan dihadiri ribuan jamaah Al Khidmah dari berbagai daerah di Indonesia.

Haul Akbar bukan sekadar agenda rutin, tetapi menjadi momentum mempererat ukhuwah, memperkuat kecintaan kepada para ulama, serta menghidupkan syiar dzikir dan shalawat yang telah diwariskan oleh Hadratusy Syaikh KH. Ahmad Asrori Al-Ishaqy.

Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Meteseh memiliki sejarah yang sangat penting dalam perjalanan dakwah beliau. Di tempat inilah Perkumpulan Jamaah Al Khidmah dideklarasikan sebagai wadah untuk menghimpun umat dalam majelis dzikir, shalawat, dan mahabbah kepada Allah SWT serta Rasulullah SAW.

Berlokasi di Jalan Prof. Soeharso No. 99, Meteseh, Tembalang, Kota Semarang, pondok pesantren yang berdiri di kawasan perbukitan ini secara istiqamah menyelenggarakan Majelis Dzikir, Maulidurrasul SAW, dan Pembacaan Manaqib Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani setiap malam sebelas bulan Hijriah. Tradisi tersebut menjadi salah satu warisan dakwah Hadratusy Syaikh yang hingga kini terus hidup dan berkembang.

Persiapan Matang Demi Khidmah kepada Jamaah

Kesuksesan penyelenggaraan Haul Akbar tidak lepas dari kerja keras panitia bersama masyarakat sekitar. Sejak jauh hari, berbagai persiapan dilakukan demi memberikan kenyamanan kepada seluruh jamaah yang hadir.

Perbaikan fasilitas pondok, perluasan area parkir, penataan dekorasi, hingga penyediaan konsumsi dipersiapkan dengan penuh semangat khidmah.

Masyarakat sekitar pondok pun turut berpartisipasi dengan membuka rumah mereka sebagai tempat singgah bagi jamaah dari luar kota maupun luar provinsi yang telah hadir sejak malam Ahad.

Berdasarkan data Panitia Maktab, terdapat 111 rumah warga yang siap menampung jamaah. Rumah-rumah tersebut terbagi dalam lima sektor dengan kapasitas mencapai 4.529 orang, mencerminkan kuatnya semangat gotong royong dan persaudaraan yang telah lama menjadi ciri khas Jamaah Al Khidmah.

Mewakili panitia, Jamaah Al Khidmah, dan Keluarga Ndalem, H. Amir Mahmud, S.Sos., M.T. menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya Haul Akbar tahun ini.

“Semoga perkumpulan ini senantiasa dijaga oleh Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā sehingga acara ini terus terselenggara hingga hari kiamat.”

Sementara itu, sambutan dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah disampaikan oleh Gunawan Sudharsono, S.E., S.H., M.Si. Beliau menegaskan pentingnya pesantren sebagai pusat pembentukan karakter generasi bangsa.

“Pesantren merupakan pusat pendidikan karakter yang membentuk generasi beriman, berakhlak mulia, memiliki moralitas yang tinggi, serta mampu bersaing di tengah perkembangan zaman.”

Haul Menjadi Momentum Berbakti kepada Orang Tua

Mau’idhah hasanah disampaikan oleh KH. Muhammad Husni Mubarok, M.Ag. Beliau mengajak seluruh jamaah untuk memahami bahwa kehadiran dalam haul bukan sekadar menghadiri sebuah acara, melainkan memperkuat mahabbah kepada Allah SWT, Rasulullah SAW, para ulama, serta memperbanyak dzikir dan shalawat.

Beliau mengingatkan bahwa setiap majelis dzikir mendapatkan perhatian dari para malaikat Allah SWT.

Kemudian beliau menyampaikan sebuah atsar dari Ka’b al-Aḥbār:

لَوْ أَنَّ ثَوَابَ مَجَالِسِ الْعُلَمَاءِ بَدَا لِلنَّاسِ لَاقْتَتَلُوا عَلَيْهِ بِالسُّيُوفِ، حَتَّى يَتْرُكَ كُلُّ ذِي إِمَارَةٍ إِمَارَتَهُ، وَكُلُّ ذِي سُوقٍ سُوقَهُ

“Seandainya pahala menghadiri majelis para ulama tampak nyata bagi manusia, niscaya mereka akan saling memperebutkannya dengan pedang, hingga setiap pemegang kekuasaan meninggalkan kekuasaannya dan setiap pedagang meninggalkan pasar serta perdagangannya.”

Beliau juga mengingatkan bahwa salah satu tujuan utama menghadiri haul ialah memohon ampunan Allah SWT bagi diri sendiri dan kedua orang tua.

“Tidaklah seseorang keluar dari majelis ini kecuali dengan harapan dosa-dosanya dan dosa kedua orang tuanya diampuni oleh Allah SWT. Semoga siapa pun yang sedang mengalami kesulitan diberikan kemudahan oleh Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā.”

Sebagai penguat, beliau mengutip hadis Nabi ﷺ:

أَيُّ الْأَعْمَالِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ؟ قَالَ: الصَّلَاةُ عَلَى وَقْتِهَا، ثُمَّ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ

“Amalan apakah yang paling dicintai Allah?” Beliau menjawab, “Shalat pada waktunya, kemudian berbakti kepada kedua orang tua.”
(HR. al-Bukhari dan Muslim)

Beliau menambahkan bahwa bakti kepada orang tua tidak berhenti ketika mereka wafat. Justru setelah wafat, salah satu bentuk bakti yang paling utama adalah senantiasa mendoakan mereka. Karena itu, hakikat haul adalah menghadiahkan doa dan memohon rahmat Allah SWT untuk kedua orang tua serta para guru dan masyayikh.

Digagas Berasas Takwa, Bukan Kepentingan Dunia

Sejak awal berdirinya, Hadratusy Syaikh KH. Ahmad Asrori Al-Ishaqy telah menegaskan bahwa Jamaah Al Khidmah bukanlah organisasi politik maupun wadah kepentingan duniawi. Jamaah Al Khidmah dibentuk sebagai sarana berkumpulnya umat Islam untuk berdzikir kepada Allah SWT, mempererat ukhuwah, serta menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah SAW dan para ulama.

Landasan tersebut sejalan dengan firman Allah SWT:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

“Dan berpegangteguhlah kalian semuanya kepada tali (agama) Allah, serta janganlah bercerai-berai.”
(QS. Āli ‘Imrān: 103)

Persatuan yang diperintahkan dalam ayat ini adalah persatuan yang dibangun di atas Al-Qur’an, Sunnah, dan ketakwaan kepada Allah SWT.

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَجْمَعُ أُمَّتِي عَلَى ضَلَالَةٍ، وَيَدُ اللَّهِ مَعَ الْجَمَاعَةِ

“Sesungguhnya Allah tidak akan menghimpunkan umatku di atas kesesatan, dan pertolongan Allah bersama jamaah.”
(HR. at-Tirmidzi no. 2167)

Keutamaan berkumpul dalam majelis ibadah juga ditegaskan dalam hadis sahih:

وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ، إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ، وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ، وَحَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ، وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ

“Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah untuk membaca Kitab Allah dan mempelajarinya bersama-sama, melainkan ketenangan turun kepada mereka, rahmat meliputi mereka, malaikat menaungi mereka, dan Allah menyebut mereka di hadapan makhluk yang berada di sisi-Nya.”
(HR. Muslim no. 2699)

Imam al-Ghazali dalam Iḥyā’ ‘Ulūm ad-Dīn juga menjelaskan:

الْمُجَالَسَةُ مَعَ أَهْلِ الدِّينِ تُورِثُ زِيَادَةَ الْإِيمَانِ.

“Duduk bersama orang-orang yang taat kepada agama akan menambah keimanan.”

Karena itu, tujuan utama menghadiri majelis-majelis Al Khidmah adalah menyambungkan hati dengan Allah SWT melalui perantara kecintaan kepada Rasulullah SAW, para ulama, dan orang-orang saleh. Dengan fondasi takwa inilah Jamaah Al Khidmah terus menjaga istiqamah sebagai majelis dzikir, majelis ilmu, dan majelis yang menguatkan ukhuwah Islamiyah lintas daerah hingga hari ini.

Kemenag Luncurkan Gerakan Nasional Pesantren Ramah Anak, Target Seluruh Indonesia Tercapai pada 2029

Pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag) terus memperkuat komitmennya dalam menciptakan lingkungan pendidikan Islam yang aman, nyaman, dan bebas dari segala bentuk kekerasan. Komitmen tersebut diwujudkan melalui implementasi Keputusan Menteri Agama (KMA) Nomor 91 Tahun 2025 tentang Pesantren Ramah Anak, yang menjadi landasan utama dalam membangun budaya perlindungan anak di lingkungan pesantren dan madrasah.

Sebagai bentuk penguatan implementasi kebijakan tersebut, Kemenag secara resmi meluncurkan Gerakan Nasional Ruang Aman Nyaman Anak (RANA) beserta aplikasi pendukung dan kanal pengaduan Telepontren. Seluruh program ini diarahkan untuk memastikan setiap santri memperoleh haknya untuk belajar, tumbuh, dan berkembang dalam lingkungan yang aman serta penuh kasih sayang.

Peluncuran Gerakan Nasional RANA dilaksanakan pada Ahad, 12 Juli 2026 secara luring di Pondok Pesantren Al-Hamidiyah, Depok, serta disiarkan secara daring melalui Zoom yang diikuti oleh perwakilan pondok pesantren dan Kantor Kementerian Agama dari seluruh Indonesia. Sebanyak 20 santri Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya mengikuti kegiatan ini via zoom bersama Kepala Pondok, Ust. Nashiruddin, M.Pd dan 3 perwakilan Kementerian Agama Kota Surabaya di Auditorium Al Fithrah Surabaya.

Pesantren Ramah Anak Menjadi Prioritas Nasional

Pondok Pesantren Al-Hamidiyah dipilih sebagai lokasi pencanangan Gerakan Nasional RANA karena dinilai berhasil memadukan sistem pendidikan salafiyah (tradisi kitab kuning) dengan pendekatan pendidikan modern (khalafiyah). Kegiatan ini menjadi agenda nasional yang dihadiri oleh berbagai pejabat tinggi negara, antara lain:

  • Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK)
  • Menteri Agama Republik Indonesia
  • Menteri Komunikasi dan Digital
  • Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak
  • Pejabat Pemerintah Kota Depok
  • Pimpinan lembaga negara dan kementerian terkait

Gerakan ini merupakan bagian dari target besar pemerintah untuk menghadirkan standar Pesantren Ramah Anak di seluruh Indonesia pada tahun 2029. Program tersebut juga disinergikan dengan pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) agar sejak hari pertama memasuki lingkungan pendidikan, anak-anak telah merasakan suasana yang aman, nyaman, dan menghargai martabat mereka.

Menteri Agama: Anak Adalah Amanah yang Harus Dijaga Bersama

Dalam sambutannya, Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, menegaskan bahwa pesantren harus terus menjadi tempat paling aman bagi anak-anak.

“Kenapa aman? Karena aman lahir dari amanah dan iman, sehingga kelak akan melahirkan generasi yang Al-Amin.”

Beliau menjelaskan bahwa pesantren merupakan lembaga pendidikan tertua di Indonesia yang lahir dari rahim masyarakat. Oleh sebab itu, seluruh elemen bangsa memiliki kewajiban untuk terus merawat keberadaan pesantren sebagai pusat pendidikan, pembentukan karakter, dan peradaban.

Menurut Menag, perlindungan anak bukan sekadar kewajiban administratif, melainkan bagian dari implementasi Maqāṣid al-Syarī’ah, khususnya dalam menjaga lima kebutuhan pokok manusia (al-ḍarūriyyāt al-khams), yaitu menjaga agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta.

Ia juga menegaskan bahwa segala bentuk kekerasan, baik fisik, seksual, psikis, maupun bentuk perundungan lainnya, tidak boleh mendapatkan toleransi sedikit pun di lingkungan pendidikan Islam.

Selain itu, Menteri Agama juga memperkenalkan rencana penguatan program Ekoteologi, sebagai bagian dari pembentukan karakter peserta didik yang peduli terhadap sesama dan lingkungan.

Telepontren dan Gerakan RANA Perkuat Perlindungan Santri

Sebagai langkah konkret mewujudkan Pesantren Ramah Anak, Kementerian Agama telah menyiapkan berbagai program strategis, di antaranya:

  • 512 pondok pesantren ditetapkan sebagai percontohan nasional.
  • Pembentukan Satuan Tugas Pencegahan Kekerasan di berbagai daerah.
  • Peluncuran kanal pengaduan Telepontren berbasis WhatsApp yang cepat, aman, mudah diakses, dan menjaga kerahasiaan pelapor.
  • Integrasi program dengan Gerakan Nasional Ruang Aman Nyaman Anak (RANA).

Melalui Gerakan RANA, pemerintah mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menciptakan ruang yang aman bagi anak, baik di rumah, sekolah, pesantren, madrasah, lingkungan sosial, maupun ruang digital.

Anak-anak diharapkan memperoleh perlindungan dari berbagai bentuk kekerasan, meliputi:

  • kekerasan fisik,
  • kekerasan seksual,
  • kekerasan psikis,
  • serta kekerasan di ruang digital.

Apabila masyarakat melihat, mengetahui, atau mengalami tindak kekerasan terhadap anak, pemerintah mengimbau agar segera melaporkannya melalui layanan SAPA 129, sehingga korban dapat memperoleh perlindungan dan pendampingan secara cepat.

Gerakan Nasional RANA juga sejalan dengan pelaksanaan Gerakan Bulan Bersama Lindungi Anak (BERLIAN) yang melibatkan berbagai kementerian dan lembaga. Kolaborasi lintas sektor ini diharapkan mampu membangun budaya perlindungan anak yang semakin kuat di seluruh satuan pendidikan Islam.

Melalui berbagai langkah tersebut, Kementerian Agama berharap pesantren benar-benar menjadi rumah kedua yang aman dan nyaman, tempat para santri tidak hanya memperoleh ilmu pengetahuan dan pendidikan agama, tetapi juga tumbuh dalam lingkungan yang penuh kasih sayang, penghormatan terhadap martabat manusia, serta bebas dari segala bentuk kekerasan.

Dengan target implementasi nasional pada tahun 2029, Pesantren Ramah Anak diharapkan menjadi wajah baru pendidikan Islam Indonesia yang lebih inklusif, humanis, dan mampu melahirkan generasi yang berilmu, berakhlak mulia, serta siap membangun masa depan bangsa.

Kemuliaan dan Keutamaan Akal dalam Islam Menurut Imam Al-Mawardi dan Imam Al-Ghazali

Majlis Dzikir, Maulidurrasul SAW dan Pengajian Ahad Kedua Bulan Muharram 1448 H telah usai diselenggarakan di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya pada Ahad pagi, 28 Juni 2026 M. / 13 Muharram 1448 H. Dalam majlis itu dibacakan Kitab Al-Muntakhobat fi Rabithah Al-Qolbiyah wa Shilah Al-Ruhiyah Karya Hadratusy Syaikh KH. Ahmad Asrori Al-Ishaqy, tepatnya pada jilid dua bab kemuliaan dan keutaman akal.

Akal merupakan salah satu nikmat terbesar yang Allah Ta’ala anugerahkan kepada manusia. Dengannya manusia mampu membedakan antara yang benar dan yang batil, mengenal Rabb-nya, memahami syariat, serta menjalani kehidupan dengan penuh hikmah. Oleh karena itu, para ulama menempatkan akal sebagai pondasi ilmu, sumber adab, dan sebab sempurnanya taklif (beban syariat).

Dalam khazanah Islam, banyak ulama yang menjelaskan kedudukan akal, di antaranya Sayyiduna Imam Abul Hasan Al-Mawardi dan Imam Hujjatul Islam Al-Ghazali. Penjelasan mereka menunjukkan bahwa akal bukan sekadar kecerdasan berpikir, tetapi juga sarana menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.

Kemuliaan Akal sebagai Dasar Agama dan Kehidupan

Sayyiduna Imam Abul Hasan Al-Mawardi menjelaskan bahwa seluruh keutamaan memiliki dasar, dan seluruh adab mempunyai sumber. Dasar tersebut adalah akal yang Allah jadikan sebagai pondasi agama sekaligus pilar kehidupan dunia.

Beliau berkata bahwa Allah mengaitkan kewajiban syariat dengan kesempurnaan akal. Dengan akal pula manusia mampu menjalankan hukum-hukum Allah serta hidup berdampingan meskipun memiliki keinginan, kebutuhan, dan tujuan yang berbeda-beda.

Hal ini menunjukkan bahwa akal merupakan amanah yang harus dijaga. Semakin baik seseorang menggunakan akalnya untuk menaati Allah, semakin tinggi pula derajatnya di sisi-Nya.

Akal adalah Sumber Ilmu Menurut Imam Al-Ghazali

Imam Hujjatul Islam Al-Ghazali raḥimahullāh menjelaskan hubungan yang sangat erat antara akal dan ilmu.

وَقَالَ سَيِّدُنَا الْإِمَامُ الْحُجَّةُ الْغَزَالِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ: «الْعَقْلُ: مَنْبَعُ الْعِلْمِ وَمَطْلَعُهُ وَأَسَاسُهُ، وَالْعِلْمُ يَجْرِي مِنْهُ مَجْرَى الثَّمَرَةِ مِنَ الشَّجَرَةِ، وَالنُّورِ مِنَ الشَّمْسِ، وَالرُّؤْيَةِ مِنَ الْعَيْنِ، فَكَيْفَ لَا يَشْرُفُ مَا هُوَ وَسِيلَةُ السَّعَادَةِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ؟ …»

Artinya:

“Akal adalah sumber ilmu, tempat terbitnya ilmu, dan fondasinya. Ilmu berasal dari akal sebagaimana buah berasal dari pohon, cahaya berasal dari matahari, dan penglihatan berasal dari mata. Maka, bagaimana mungkin sesuatu yang menjadi sarana menuju kebahagiaan di dunia dan di akhirat tidak memiliki kemuliaan?”

Melalui penjelasan ini, Imam Al-Ghazali memberikan tiga perumpamaan yang sangat indah mengenai hubungan akal dan ilmu.

  • Ilmu berasal dari akal sebagaimana buah berasal dari pohon. Pohon menjadi sebab lahirnya buah.
  • Ilmu berasal dari akal sebagaimana cahaya berasal dari matahari. Cahaya tidak akan ada tanpa sumbernya.
  • Ilmu berasal dari akal sebagaimana penglihatan berasal dari mata. Mata menjadi alat yang memungkinkan seseorang melihat.

Karena ilmu merupakan jalan menuju kebahagiaan dunia dan akhirat, maka akal sebagai fondasi ilmu memiliki kedudukan yang sangat mulia. Akal hendaknya digunakan untuk mengenal Allah, mencari kebenaran, memahami syariat, serta mengamalkan ilmu dengan penuh keikhlasan.

Tanda-Tanda Orang yang Berakal dalam Islam

Kemuliaan akal tidak hanya diukur dari kecerdasan berpikir, tetapi juga tercermin dalam kemampuan mengendalikan diri dan memperbaiki akhlak.

Dalam Al-Ḥikam aṣ-Ṣughrā al-‘Aṭā’iyyah disebutkan:

يُعْرَفُ الْعَاقِلُ بِثَلَاثٍ: بِمَلَكَتِهِ نَفْسَهُ عِنْدَ الشَّهْوَةِ، وَبِمَلَكَتِهِ لَهَا عِنْدَ الْغَضَبِ، وَبِتَرْكِهِ مَا لَا يَعْنِيهِ مَعَ الْقُدْرَةِ عَلَى الدُّخُولِ فِيهِ.

Artinya:

“Seseorang yang berakal dikenali dari tiga perkara: kemampuannya menguasai dirinya ketika dorongan syahwat muncul, kemampuannya mengendalikan dirinya ketika sedang marah, dan kesediaannya meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat baginya, padahal ia mampu untuk turut campur di dalamnya.”

Selain itu disebutkan pula sepuluh tanda kesempurnaan akal.

عَلَامَةُ الْعَقْلِ عَشْرٌ، خَمْسَةٌ مِنْهَا فِي الظَّاهِرِ، وَخَمْسَةٌ مِنْهَا فِي الْبَاطِنِ. أَمَّا الظَّاهِرُ: فَالصَّمْتُ، وَالتَّوَاضُعُ، وَحُسْنُ الْخُلُقِ، وَصِدْقُ الْقَوْلِ، وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ. وَأَمَّا الْبَاطِنُ: فَالتَّفَكُّرُ، وَالِاعْتِبَارُ، وَالْخُشُوعُ، وَالْخَوْفُ، وَذِكْرُ الْمَوْتِ.

Artinya:

“Tanda-tanda orang yang berakal ada sepuluh. Lima di antaranya tampak secara lahiriah, dan lima lainnya bersifat batiniah.

Adapun yang lahiriah ialah:

  1. Diam (menjaga lisan).
  2. Rendah hati.
  3. Akhlak yang baik.
  4. Jujur dalam perkataan.
  5. Beramal saleh.

Adapun yang batiniah ialah:

  1. Gemar berpikir dan merenung.
  2. Mengambil pelajaran dari setiap peristiwa.
  3. Khusyuk.
  4. Takut kepada Allah.
  5. Selalu mengingat kematian.”

Ungkapan ini menegaskan bahwa kesempurnaan akal tidak hanya tampak dari kecerdasan intelektual, tetapi juga dari kemuliaan akhlak dan kebersihan hati. Orang yang benar-benar berakal adalah mereka yang mampu mengendalikan hawa nafsu, menjaga lisan, memperbaiki perilaku, serta menghidupkan hati dengan tafakur, mengambil ibrah, takut kepada Allah, dan senantiasa mengingat kehidupan akhirat.

Penutup

Akal merupakan karunia agung yang Allah Ta’ala berikan kepada manusia sebagai dasar memahami agama, memperoleh ilmu, dan menjalani kehidupan dengan penuh hikmah. Imam Al-Mawardi menegaskan bahwa akal adalah pondasi agama dan sumber adab, sedangkan Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa akal merupakan sumber lahirnya ilmu yang mengantarkan manusia menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.

Oleh sebab itu, setiap muslim hendaknya memelihara akalnya dengan ilmu yang bermanfaat, memperindahnya dengan akhlak yang mulia, serta menggunakannya untuk semakin dekat kepada Allah Ta’ala. Inilah hakikat kemuliaan akal dalam Islam, yaitu akal yang membimbing pemiliknya menuju kebenaran, ketakwaan, dan keselamatan di dunia maupun di akhirat.

Referensi:

Al-Muntakhobat fi Rabithah Al-Qolbiyah wa Shilah Al-Ruhiyah Karya Hadratusy Syaikh KH. Ahmad Asrori Al-Ishaqy, jilid 1, hal. 276.

Al Fithrah Surabaya Wisuda 721 Santri, Pesan Menjaga Identitas Santri Menggema

SURABAYA – Suasana haru dan penuh kebanggaan menyelimuti pelaksanaan Wisuda Ke-24 Tahun Ajaran 2025/2026 Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya yang digelar pada 3–4 Juni 2026. Kegiatan yang berlangsung di Masjid Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah ini dihadiri oleh segenap Keluarga Ndalem Pengasuh Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya, dewan asatidz, wali santri, serta tamu undangan dari Kementerian Agama.

Pada hari pertama, hadir Kepala Bidang Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur, Imam Turmidi, S.Ag., M.H.I. Sementara pada hari kedua, hadir Kepala Seksi Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama Kota Surabaya, Fathul Mubin, S.Pd., M.Pd.I.

Sebanyak 721 santri resmi diwisuda yang terdiri atas 416 santri Program Pendidikan Diniyah Formal (PDF) Wustha Al Fithrah, 266 santri PDF Ulya Al Fithrah, 14 santri Ma’had Aly Al Fithrah, dan 25 santri MDT Jami’ah Al Fithrah. Prosesi diawali dengan pembacaan Tawasul, Istighotsah, Maulid fi Hubby, serta pembacaan surat keputusan kelulusan. Hari pertama dilaksanakan wisuda santri putri dan hari kedua dilaksanakan wisuda untuk santri putra.

Perjalanan Panjang Menuju Ilmu

Dalam sambutannya, Mewakili Keluarga Ndalem Pengasuh Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah, Nyai Siera En Nadia El Ishaqia menyampaikan rasa syukur atas keberhasilan para santri menyelesaikan pendidikan. Beliau menegaskan bahwa kelulusan bukanlah akhir dari proses belajar, melainkan awal dari pengamalan ilmu yang lebih luas di tengah masyarakat.

“Kita ini saat pertama kali masuk ke dalam pondok pesantren ibarat gelas yang kosong. Perlahan, gelas itu kini telah terisi dengan banyaknya ilmu, disertai dengan pengalaman dan banyaknya pelajaran hidup yang bisa menjadi pegangan anak-anakku semua di luar sana. Apa yang telah kalian istikomahkan di dalam pondok, semoga bisa diistikomahkan di rumah” pesan beliau.

Sementara pada Sambutan Kepala Pondok hari kedua, Ustadz Nashiruddin, M.Pd mengingatkan bahwa capaian para wisudawan lahir dari proses panjang yang penuh perjuangan. Menurutnya, setiap santri pernah berada pada fase sulit saat mempelajari kitab-kitab yang belum dipahami, namun akhirnya mampu bertahan hingga mencapai titik kelulusan.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Keluarga Ndalem yang senantiasa memberikan doa dan dukungan kepada para santri. Selain itu, para lulusan diharapkan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi agar ilmu yang diperoleh semakin berkembang dan berkelanjutan.

“Kami sangat berharap agar para santri terus melanjutkan pendidikan pada jenjang berikutnya. Apa yang telah diperoleh di pondok ini hendaknya diamalkan ketika berada di tengah masyarakat. Jika ingin sukses, maka harus dengan ilmu,” ujarnya.

Menjaga Identitas dan Martabat Santri

Sambutan mewakili wisudawan pada hari kedua disampaikan oleh Ahmad Hasan Hariri. Dalam pesannya, ia mengingatkan bahwa tantangan terbesar setelah lulus bukanlah meraih profesi tertentu, melainkan mempertahankan identitas sebagai santri.

“Yang susah bukan menjadi tentara atau dokter, tetapi tetap menjadi santri dan mempertahankan identitas santri,” ungkapnya.

Ia juga menekankan pentingnya adab dalam menuntut ilmu, khususnya penghormatan kepada guru sebagai bagian dari ta’dzimul ilmi. Menurutnya, keberhasilan seorang santri tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan, tetapi juga oleh keberkahan ilmu yang diperoleh melalui penghormatan kepada para pendidik, serta doa-doa yang tak pernah usai.

“Hari ini kita berdiri di tempat yang sama, tetapi setelah ini kita akan melangkah menuju jalan yang berbeda-beda. Meski langkah kita nanti tidak lagi berjalan berdampingan seperti hari ini, semoga kita tetap terhubung oleh doa dan nilai-nilai yang telah tumbuh di dalam tubuh kita” ujar Yunita Hikmatal Karimah dalam sambutannya mewakili wisudawati.

Momen haru semakin terasa ketika para wisudawan menerima medali dan sertifikat kelulusan yang diserahkan secara simbolis oleh pengasuh pesantren dan para guru. Sejumlah wali santri tampak meneteskan air mata sebagai ungkapan rasa syukur atas keberhasilan putra-putri mereka menyelesaikan pendidikan pesantren.

Ilmu yang Bermanfaat dan Pendidikan Berkelanjutan

Dalam sambutannya, Kepala Seksi Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama Kota Surabaya, Fathul Mubin, menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh wisudawan. Ia berpesan agar para lulusan terus mengajarkan Al-Qur’an dan menjaga nama baik pesantren di mana pun berada.

“Kalau sudah lulus pondok, jangan sampai lupa mengajar, terutama mengajarkan Al-Qur’an. Karena yang diajarkan adalah Al-Qur’an,” tuturnya.

Ia juga mengingatkan bahwa ukuran keberhasilan ilmu bukan hanya pada banyaknya pengetahuan yang dimiliki, tetapi pada manfaat yang diberikan kepada masyarakat. Menurutnya, salah satu faktor terbesar keberhasilan seseorang adalah doa orang tua yang menyertai setiap langkah perjuangan anak-anaknya.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah senantiasa menanamkan ilmu yang mengantarkan santri untuk semakin mengenal Allah SWT, memperkuat akhlak, serta menumbuhkan semangat pengabdian kepada umat.

“Ayok kita bersinergi, bagaimana anak-anak kita ini menjadi anak-anak yang berilmu, bertakwa sekaligus berakhlakul karimah. Karena kita harus yakin dengan ilmu yang tinggi, dengan akhlak yang mantap, insya Allah kita bisa eksis di manapun kita berada. Karena janji Allah, dalam QS. Al-Mujadalah ayat 11” jelas Bapak Imam Turmudi mewakili Kepada Kanwil Kemenag Jawa Timur.

Selain prosesi wisuda, acara juga dimeriahkan dengan penampilan hadrah, pembacaan puisi, dan persembahan dari para santri sebagai bentuk penghormatan kepada guru serta orang tua. Kegiatan ditutup dengan doa bersama dan sesi foto wisuda.

Melalui wisuda ini, Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya berharap para lulusan dapat menjadi generasi yang berilmu, berakhlakul karimah, serta mampu memberikan kontribusi positif bagi agama, bangsa, dan masyarakat.

Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya Selenggarakan Sholat Idul Adha Terbuka untuk Santri & Masyarakat


Ada yang berbeda di Idul Adha tahun ini. Momentum penyatuan hari raya antara Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama menjadi warna tersendiri bagi umat Islam di Indonesia. Kebersamaan itu terasa semakin kuat ketika ribuan jamaah memadati halaman Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya untuk mengumandangkan takbir dan melaksanakan sholat Idul Adha berjamaah.

Idul Adha 1447 H di Al Fithrah: Syiar, Kebersamaan, dan Tabarruk

Pada Rabu, 27 Mei 2026 M / 10 Dzulhijjah 1447 H, suasana di Masjid Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya sudah dipenuhi jamaah sejak dini hari. Tahun ini, sholat Idul Adha kembali dibuka untuk santri dan masyarakat umum.

Sholat dimulai pukul 06.09 WIB, yakni sekitar 10 menit setelah masuknya awal waktu duha, sebagaimana mengikuti anjuran agar pelaksanaan Id dilakukan pada waktu yang lapang.

صَلُّوا قَبْلَ الْخُطْبَةِ
“Laksanakanlah sholat sebelum khutbah.” (HR. Bukhari & Muslim)

Setelah rangkaian sholat dan khutbah selesai, jamaah mengikuti tradisi khas Al Fithrah: ziarah ke maqbarah Hadratusy Syaikh Romo KH. Ahmad Asrori Al-Ishaqy, Pengasuh Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah, yang kemudian dilanjutkan ramah tamah dengan hidangan nasi talaman yang menjadi sajian kebersamaan setiap Idul Adha.

Ribuan Daging Qurban untuk Masyarakat

Tahun ini, amanah qurban yang dititipkan oleh Keluarga Ndalem, para jamaah, serta masyarakat luar daerah kembali meningkat. Total hewan qurban: 23 ekor sapi, 17 ekor kambing dan 92 ekor domba (termasuk domba kiriman jamaah dari Singapura)

Hewan-hewan tersebut berasal dari jamaah di Surabaya, Gresik, Malang, serta beberapa daerah luar pulau.

Distribusi daging qurban diberikan kepada:

Tidak hanya dibagikan kepada santri, daging hewan qurban di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya juga akan didistribusikan kepada Keluarga Ndalem, Warga sekitar pesantren, Warga yang rumahnya digunakan sebagai maktab saat Haul Akbar Al Fithrah, Para pejabat yang berafiliasi dengan pesantren, para pengurus Al Khidmah serta para ulama sekitar.

Proses penyembelihan dilakukan bertahap selama tiga hari: Hari Raya Idul Adha + dua hari Tasyrik (11–13 Dzulhijjah), sesuai tuntunan syariat. Hal ini selaras dengan bunyi hadits:

أَيَّامُ التَّشْرِيقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ
Terjemah: “Hari-hari Tasyrik adalah hari makan, minum, dan mengingat Allah.” (HR. Muslim)

Kebersamaan yang Meneguhkan Syiar

Idul Adha tahun ini menjadi momen yang indah. Kesatuan momen berlebaran antara dua ormas besar semakin menambah spirit ukhuwah. Sementara di Al Fithrah, kebersamaan antara santri, masyarakat, dan para jamaah memberikan warna khas yang hangat, penuh barakah, dan sarat nilai keikhlasan.

Bukan hanya ibadah dan ritual, tetapi juga rasa syukur, sedekah, silaturahmi, serta tabarruk pada para muassis yang menjadi ruh keberkahan pesantren ini.