AlFithrah

Silaturahmi Nasional Yayasan Al Khidmah Indonesia & Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah

Yayasan Al Khidmah Indonesia (YAKIN) mendakan Silaturrahmi Nasional (Silatnas) dengan pengurus YAKIN daerah dan Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya, daerah dan pondok yang berafiliasi dengan ponpes Al Fithrah (Sabtu, 23/09/2023). Silatnas ini diselanggrakan di Auditorium ponpes Al Fithrah Surabaya, setelah Launching Digitalisasi Elbayu.

Silatnas ini dihadiri oleh pengurus daerah YAKIN Tuban, YAKIN Lamongan, YAKIN Gresik, YAKIN Bustanul Arifin, YAKIN Batang, dan YAKIN Semarang. Hadir juga pengurus pondok Al Fithrah daerah dan pondok yang berafiliasi dengan Al Fithrah; Al Fithrah Semarang, Al Fithrah Batang, Al Fithrah Lamongan, Bustanul Ulum Gresik dan Miftahul Huda Ngroto.

Silatnas pada tahun ini diisi dengan pemaparan problematika yang dialami pengurus YAKIN dan Al FIthrah di masing-masing daerah. Berbagai problem yang dipaparkan mulai dari bidang SDM, keuangan, penggalian dana dan badan usaha, umum dan administrasi, pendidikan, pembangunan, hingga IT.

Problematika yang terkumpul dalam Silatnas ini akan dijadikan pembahasan utama dalam Rakernas tahun ini. Tentunya dengan mendokumentasikan berbagai problem terlebih dahulu, harapan agara Rakernas bisa menghasilkan rumusan yang terbaik tentu sangat diharapkan.

Acara berakhir pada pukul 15.00 WIB, ditutup dengan ziyaroh bersama di pesarean Hadhrotusy Syaikh KH. Achmad Asrori al-Ishaqy ra.

vk/dfn

Launching Digitalisasi Elbayu

Radio Elbayu tengah memasuki tsranformasi baru. Radio yang berkantor siaran di Gresik, mulai tahun ini akan merambah ke siaran digital. Berbagai program menarik akan disajikan untuk menemani program siaran utama Mutiara Hikmah.

Elbayu merupakan diantara radio resmi yang menyiarkan pengajian Hadhrotusy Syaikh KH. Achmad Asrori al-Ishaqy dalam program Mutiara Hikmah. Selain Elbayu, ada Rasika USSA (Unggaran, Semarang, Salatiga dan Ambarawa) dan Citra Nusantara yang dulu berkantor siaran di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya.

Launching Digitalisasi Elbayu (Sabtu, 23/09/2023) diselanggarakan di Auditorium Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya. Acara ini digelar bersamaan dengan acara Silaturahmi Nasional Yayasan Al Khidmah Indonesia dan Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Se Indonesia.

Lazimnya acara yang diselenggarakan di ponpes Al Fithrah, acara ini dibuka dengan serangkaian pembukaan yang diisi dengan bacaan Tawasul, Istighotsah dan Shalawat Fi Hubbi. Acara ini dilanjutkan dengan peresmian Digitalisasi Elbayu oleh Habib Ahmad Al Hadar, Ust Abd. Rosyid (Ketua STAI Al Fithrah), Pak Jusuf Sjamsuddin (Ketua Yayasan Al Khidmah Indonesia (YAKIN)), Pak Ainul dan Ust Kunawi (Ketua Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya).

Acara ini juga dihadiri pengurus daerah YAKIN Tuban, YAKIN Lamongan, YAKIN Gresik, YAKIN Bustanul Arifin, YAKIN Batang, dan YAKIN Semarang. Hadir juga pengurus pondok Al Fithrah daerah dan pondok yang berafiliasi dengan Al Fithrah; Al Fithrah Semarang, Al Fithrah Batang, Al Fithrah Lamongan, Bustanul Ulum Gresik dan Miftahul Huda Ngroto.

vk/dfn

Al Fithrah Adakan Pembinaan Kebersihan Tempat Pengelolaan Pangan

Siapa yang tak suka dengan jajanan yang dijual di tepi jalan? Entah itu yang dimasak dengan cara direbus, dikukus, digoreng atau dimasak lainnya. Jajanan memang cocok dikonsumsi apalagi jika kondisi perut tidak terlalu lapar. Tapi, apakah anda yakin jajanan yang anda konsumsi diproduksi secara higienis dan di tempat yang juga higienis?

Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya bekerja sama dengan Puskesman Tanah Kali Kedinding, menjawab keresahan ini dengan mengadakan Pembinaan Kebersihan Tempat Pengelolaan Pangan (Selasa, 19/09/2023). Memiliki kantin yang memproduksi makanan untuk 3000 lebih santri, dan ribuan jama’ah di acara rutinnya, tentu kebersihan tempat dan proses produksi makanan mutlak diperhatikan.

Tak hanya itu, banyak tenaga pendidik dan kependidikan Al Fithrah terlibat bahkan memiliki usaha di sektor makanan dan minuman. Mereka pun diundang dalam pembinaan ini. Selain itu warga sekitar yang memiliki usaha di sektor makanan dan minuman juga diundang dalam pembinaan ini.

Ibu Arofah Pinang TW, bagian sanitasi lingkungan Puskesman Tanah Kali Kedinding, menadi narasumber utama pembinaan ini dihadiri. Kurang lebih 30 peserta mengisi kursi duduk menyimak penjelasan dalam pembinaan yang terselenggara di auditorium ponpes Al Fithrah.

Harapan dengan adanya pembinaan ini, para pelaku usaha di bidang makanan dan minuman, khususnya yang kait erat dengan kegiatan-kegiatan di Al Fithrah, tetap menjaga dan meningkatkan kontrol kebersihan tempat dan proses pengelolaan makanan dan minuman. Dengan begitu makanan dan minuman yang diproduksi pun otomatis terjaga kebersihannya.

Kebersihan makanan  dan minuman tentu sangat berpengaruh terhadap kondisi tubuh setelah mengonsumsinya. Tidak sedikit penyakit yang bermula dari mengonsumsi makanan dan minuman yang tidak jelas kebersihannya. Maka benar sekali agama Islam menaruh perhatian besar pada kebersihan dan makanan.

dfn

Selalu Berhusnudhon: Sikap Terhadap Sahabat Dan Ahlul Bait Nabi Muhammad SAW.

Mengikuti petunjuk dan meneladani sahabat Rasulullah Saw merupakan salah satu pembahasan dalam kitab al-Muntakhobat karya KH. Ahmad Asrori al-Ishaqy – Allahu yarhamuhu -. Meskipun judulnya hanya sahabat, namun disitu juga menjelaskan  ahlul bait (keluarga) Rasulullah Saw. Pembahasan ini penting untuk dikaji mengingat tidak sedikit dari umat islam yang mencela para sahabat dan ahlul bait Rasulullah Saw sejak dulu hingga sekarang. Seperti kelompok Khawarij yang membenci keduanya, Nawasib yang membenci ahlul bait, Rafidhah yang mencela sahabat, dan kelompok-kelompok lainnya yang seragam dan serupa. Menanggapi tersebut, Kiai Asrori memberikan penjelasan bagaimana harusnya kita bersikap sebagai ahlussunnah terhadap sahabat dan ahlul bait Rasulullah Saw yang telah dijelaskan dalam kitab al-Muntakhobat.

Sahabat Rasulullah Saw, adalah setiap orang yang bertemu dengan Rasulullah Saw, beriman kepadanya, dan meninggal dalam kondisi muslim walaupun pernah murtad (keluar dari islam) di masa hidupnya. Tentu saja derajat dan keutamaan antar sahabat Rasulullah Saw berbeda-beda. Ada sahabat yang senantiasa mendampingi Rasulullah Saw, ada yang hanya sebentar saja. Ada sahabat yang lebih dahulu masuk Islam, ada pula yang belakangan masuk Islam. Akan tetapi semua sahabat Rasulullah Saw adalah orang-orang yang terpercaya dan merupakan generasi terbaik umat Islam sepanjang masa.

Adapun Istilah ahlul bait baik ditinjau secara bahasa maupun syara’ pada asalnya digunakan atau ditujukan khususnya untuk istri-istri Rasulullah Saw, dan diperluas penggunaannya untuk menyebut semua orang yang memiliki hubungan kekerabatan dengan Rasulullah Saw. Dalam pengertian lain, makna ahlul bait yang dimaksud bukan hanya sebagai hubungan kekerabatan saja, namun orang-orang yang sesuai dengan manhaj Rasulullah dan bertaqwa. Pengertian ini lebih relevan saat ini, mengingat tidak sedikit juga orang-orang yang hanya mengandalkan nasab saja tanpa meniru hal ihwal perilaku yang diajarkan oleh Rasulullah Saw.

Pujian Terhadap Sahabat Rasulullah

Allah Swt dalam Al-Qur’an memberi pujian pada sahabat dan ahlul bait dalam beberapa ayat, di antaranya dalam QS. al-Fath ayat 29,

مُحَمَّدٌ رَّسُوْلُ اللّٰهِ وَالَّذِيْنَ مَعَهُ اَشِدَّآءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَآءُ بَيْنَهُمْ تَرٰىهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَّبْتَغُوْنَ فَضْلًا مِّنَ اللّٰهِ وَرِضْوَانًا  سِيْمَاهُمْ فِيْ وُجُوْهِهِمْ مِّنْ اَثَرِ السُّجُوْدِ ذٰلِكَ مَثَلُهُمْ فِى التَّوْرٰىةِ وَمَثَلُهُمْ فِى الْاِنْجِيْلِ كَزَرْعٍ اَخْرَجَ شَطْئَهُ فَاٰزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوٰى عَلٰى سُوْقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيْظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوْا الصّٰلِحٰتِ مِنْهُمْ مَّغْفِرَةً وَّاَجْرًا عَظِيْمًا 

Nabi Muhammad adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengannya bersikap keras terhadap orang-orang kafir (yang bersikap memusuhi), tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu melihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridaan-Nya. Pada wajah mereka tampak tanda-tanda bekas sujud (bercahaya). Itu adalah sifat-sifat mereka (yang diungkapkan) dalam Taurat dan Injil, yaitu seperti benih yang mengeluarkan tunasnya, kemudian tunas itu makin kuat, lalu menjadi besar dan tumbuh di atas batangnya. Tanaman itu menyenangkan hati orang yang menanamnya. (Keadaan mereka diumpamakan seperti itu) karena Allah hendak membuat marah orang-orang kafir. Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.

Kiai Asrori – dalam al-Muntakhobat, memaparkan bahwa Allah – lewat ayat ini – memuji sahabat dan ahlul bait  Rasulullah sebagai “orang-orang yang bersama Rasulullah”. Selain itu, ayat ini juga menginformasikan bahwa keduanya terjamin, ternaungi dan terjaga (dari kemurtadan). Sehingga ayat ini juga sebagai ancaman bagi orang-orang yang membenci sahabat dan ahlul bait Rasulullah Saw.

Imam al-Baihaqi meriwayatkan hadits yang menjelaskan para sahabat Rasulullah Saw laksana nujum, bintang yang mengeluarkan sinarnya sendiri. Dalam hadits ini, Rasulullah Saw menjelaskan bahwa mencari petunjuk itu dengan cara mengikuti mereka dalam segala perilaku dan suri tauladan mereka, baik lahir maupun batin.

Dalam mengikuti sahabat dan ahlul bait, Kiai Asrori menyebutkan harus secara secara dhahir pun batin. Mengikuti sahabat Rasulullah secara dhahir, telah masyhur di kalangan ulama dan fuqaha’ seperti hukum-hukum tentang halal, haram, pidana, denda, cerai, masalah rumah tangga dan lainnya. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah Saw. yakni,

Orang yang paling sayang terhadap umatku adalah Abu Bakar, yang paling kuat dalam agama Allah adalah Umar, yang paling adalah Utsman, yang paling alim dalam ilmu faraidh adalah Zaid bin Tsabit,, yang paling tahu tentang halal dan haram adalah Mu’adz bin Jabal, yang paling ahli dalam putusan hukum adalah Ali bin Thalib, dan tidak ada langit yang menjadi atap serta tidak ada bumi yang menjadi alas bagi manusia yang lebih jujur dari Abu Dzar.

Hadits di atas mengindikasikan bahwa Rasulullah Saw sendiri yang telah melegitimasi sahabat dalam menyampaikan suatu hukum-hukum (dhahir) Allah SWT.

Selain itu, perilaku batin juga telah masyhur bahkan mutawatir mengenai semua ucapan, perbuatan dan ahwal para sahabat. Salah satu contohnya seperti riwayat dari sayyidina Abu Bakar ra., beliau berkata, “tiga ayat yang telah menyibukkanku dari hal lain, adalah: dari QS. Yunus 107 yang mengingatkan tentang keimanan qadha qadar, QS. Al Baqarah yang mengingatkan dzikir, dan QS Hud yang mengingatkan tentang pengaturan rezeki.” Riwayat ini mengindikasikan bahwa Sayyidina Abu Bakar memberikan pengalaman spiritualnya agar umat tidak lalai dengan nikmat duniawi.

Walhasil, dalam menanggapi kelompok yang mencela para sahabat dan ahlul bait Rasulullah Saw, Kiai Asrori justru memberikan pemahaman bahwa merekalah yang sebenarnya tercela. Beliau menyebutkan dalil-dalil Alquran dan hadis disertai penafsiran yang menunjukkan kemuliaan sahabat yang dipuji secara langsung oleh Allah Swt dan Rasulullah Saw. Bagaimana mungkin kita sebagai umat islam mencela orang-orang yang jelas dipuji oleh Allah Swt dan punya posisi penting di sisi Rasulullah Saw? Mengikuti laku para sahabat secara dhahir dan batin tentu sah hukumnya. Apalagi mereka adalah orang-orang yang secara langsung mengamati dan pengamal  laku Rasulullah Saw. Lalu bagaimana sikap kita kala menemukan berbagai perbedaan di kalangan para sahabat atau ahlul bait? Husnudhon, tidak ada yang lain. Meyakini bahwa sahabat telah berijtihad sesuai pengetahuan dan keilmuan mereka masing-masing. Seyogyanya kita mengikuti sahabat yang sesuai dengan hal ihwal dan kondisi kita tanpa mencela sahabat lainnya.

(Kajian Muntakhobat MKPI Al fithrah oleh Dr, Muhammad Khudori M. Th.I)

zsa/dfn

Meremajanya Jama’ah Yang Menghadiri Majlis Dzikir

Manaqib, dzikir, shalawat, kata-kata itu yang pasti pertama kali muncul ketika Al Khidmah disebutkan. Sebuah perkumpulan yang dirintis dan dibentuk oleh Hadratusy Syaikh KH. Achmad Asrori al-Ishaqy – Allahu yarhamuhu -. Yai Asrori menuntun perkumpulan ini untuk berkegiatan yang telah diamalkan oleh para Guru Thariqah atau para Ulama’ Al Salafu al-Shaleh.

Kegiatan-kegiatan seperti ini betahun lalu lazimnya didominasi oleh jama’ah dengan usia di atas 30 tahunan. Dalam perkembanganya, sepeninggal Yai Asrori, jama’ah yang hadir di kegiatan ini semakin banyak dari kalangan remaja. Sebagian ikut karena diajak atau dikenalkan oleh orang tuanya, sebagian lagi oleh temannya.

Dan, di zaman informasi semakin bebas menyebar, kehadiran para ramaja dalam majlis yang diselenggarakan oleh Al Khidmah ini semakin menjadi. Adalah putra-putri Yai Asrori yang melanjutkan estafet perjuangan, jama’ah dan amaliyah Yai Asrori.

Lewat Ukhsafi yang mengumpulkan santri Al Fithrah – pondok yang didirikan Yai Asrori – baik yang masih aktif, lulusan ataupun yang hanya sehari mukim lalu boyong, dan Copler Community yang mengumpulkan anak-anak muda dari berbagai latar belakang. Kedua rombongan ini meremajakan usia jama’ah yang menghadiri majlis-majlis dzikir.

Lewat mereka majlis dzikir menjadi daya tarik tersendiri. Segala bentuk aktivitas yang mereka unggah di media sosial – apapun niat awalnnya – di majlis-majlis dzikir yang mereka ikuti menjadi magnet bagi pengguna media sosial yang lain.

Mulanya kehadiran jama’ah baru dari kalangan remaja bisa jadi hanya rasa penasaran. Seiring waktu rasa penasaran itu tumbuh menjadi kecintaan dan kebutuhan. Hal ini, bisa dilihat dari semakin banyaknya unggahan yang berisi ajakan hingga kabar hadirnya para pengguna media sosial dari kalangan remaja di majlis dzikir.

Perkembangan ini tentu seirama dengan yang didawuhkan oleh Yai Asrori. Yai Asrori sering menyampaikan agar para orang tua untuk mengajak putra-putrinya menghadiri majlis dzikir. Beliau juga megajak para pengelola lembaga pendidikan, untuk mengadakan haul para pendirinya. Mengajak para santri atau siswanya untuk berkirim do’a kepada para pendirinya.

Pendidikan secara dhahir berupa kegiatan belajar mengajar perlu ditopang dengan pendidikan batin, berupa dzikir dan shalawat yang dibungkus dalam majlis-majlis dzikir. Tujuannya untuk melatih kepekaan hati santri, siswa dan  remaja umumnya, bahwa dimanapun mereka beraktifitas Allah mengawasi mereka, dan untuk beribadah kepadanyalah mereka diciptakan.

dfn