AlFithrah

Perbanyak Dzikir di Bulan Rajab: Majlis Ahad Awal di Ponpes Assalafi Al Fithrah Surabaya

Surabaya (21/12) Hujan tak menyurutkan antusias para Jamaah Ath Thariqah, Al Khidmah dan umat muslim dari berbagai daerah untuk hadir di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya. Mereka hendak menyambungkan hati dan menambatkan ruhani mereka melalui hadir dalam Majlis Manaqib Ahad Awal Bulan Rajab 1447 H.

Rajab, Bulan Mulia untuk Menghidupkan Dzikir

Bulan Rajab 1447 Hijriyah kembali disambut dengan penuh kekhusyukan melalui Majlis Rutin Ahad Awal Bulan Rajab yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya. Kegiatan ini disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube dan diikuti oleh jamaah dari berbagai daerah.

Majlis dzikir ini bukan sekadar rutinitas bulanan, melainkan menjadi momentum ruhani untuk menghidupkan hati dengan mengingat Allah, terutama di bulan Rajab yang termasuk al-asyhur al-hurum (bulan-bulan yang dimuliakan).

Allah SWT berfirman:

> إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ … مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ

“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ada dua belas bulan… di antaranya ada empat bulan yang dimuliakan.” (QS. At-Taubah: 36)

Para ulama tafsir menjelaskan bahwa Rajab termasuk salah satu dari empat bulan mulia tersebut.

Dzikir: Amalan Paling Mudah dan Agung

Dalam Majlis Rutin Ahad Awal Bulan Rajab ini, jamaah diajak untuk memperbanyak dzikir karena dzikir adalah amalan yang paling ringan di lisan namun berat dalam timbangan pahala.

Rasulullah ﷺ bersabda:

أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرِ أَعْمَالِكُمْ، وَأَزْكَاهَا عِنْدَ مَلِيكِكُمْ… ذِكْرُ اللَّهِ

“Maukah aku kabarkan kepada kalian amal terbaik, paling suci di sisi Tuhan kalian…? Yaitu dzikir kepada Allah.” (HR. Tirmidzi)

Dalam kitab Al-Adzkar karya Imam An-Nawawi disebutkan:

> اعلم أن الذكر محبوب في جميع الأحوال، إلا في أحوال مخصوصة

“Ketahuilah, dzikir itu dicintai dalam setiap keadaan, kecuali pada kondisi-kondisi khusus.” (Al-Adzkar, Imam An-Nawawi)

Ini menunjukkan bahwa dzikir adalah amalan universal, bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja.

Rajab dan Tradisi Dzikir Berjamaah

Tradisi dzikir berjamaah sebagaimana yang dilaksanakan di Ponpes Assalafi Al Fithrah memiliki dasar kuat dalam literatur klasik. Imam As-Suyuthi dalam Natijah Al-Fikr menegaskan keutamaan majlis dzikir:

مجالس الذكر رياض الجنة

“Majlis dzikir adalah taman-taman surga.” (HR. Tirmidzi)

Karena itu, berkumpulnya jamaah dalam Majlis Rutin Ahad Awal Bulan Rajab bukan hanya mempererat ukhuwah, tetapi juga menjadi sarana turunnya rahmat dan ketenangan hati.

Allah SWT berfirman:

> أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra’d: 28)

Pesan Spiritual dari Majlis Ahad Awal Rajab

Majlis Rutin Ahad Awal Bulan Rajab di Ponpes Assalafi Al Fithrah mengajarkan bahwa memasuki Rajab bukan sekadar pergantian waktu, melainkan panggilan untuk memperbaiki hubungan dengan Allah SWT.

Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali رحمه الله berkata:

> رجب شهر الزرع، وشعبان شهر السقي، ورمضان شهر الحصاد

“Rajab adalah bulan menanam, Sya’ban bulan menyiram, dan Ramadhan bulan memanen.” (Latha’if Al-Ma’arif)

Maka memperbanyak dzikir di bulan Rajab adalah benih ruhani untuk menyambut Ramadhan dengan hati yang bersih.

Penutup

Majlis Rutin Ahad Awal Bulan Rajab 1447 H di Ponpes Assalafi Al Fithrah Surabaya menjadi pengingat bahwa dzikir adalah kunci kehidupan hati. Melalui dzikir, seorang hamba mendekat kepada Allah, menenangkan jiwa, dan memperkuat iman.

Sebagaimana namanya, Majlis Manaqib Ahad Awal adalah kegiatan majlis rutin setiap Ahad pertama bulan hijriyah yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya

Semoga majlis seperti ini terus hidup dan menjadi wasilah turunnya rahmat Allah bagi umat Islam, khususnya di bulan Rajab yang penuh kemuliaan.

اللهم اجعلنا من الذاكرين الله كثيرا والذاكرات

Dalam Majlis ini juga diumumkan akan diadakannya Majlis Ahad Kedua Bulan Rajab pada Hari Ahad, 28 Desember 2025 M / 8 Rajab 1447 H dan juga Haul Akbar Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya pada Sabtu malam dan Ahad pagi, 24-25 Januari 2026 M / 6 Sya’ban 1447 H. Semoga diberikan rezeki yang luas, kesehatan dan kesempatan, sehingga dapat hadir bersama keluarga dalam majlis-majlis yang mulia. Aamiiin

Sufi Sejati di Tengah Krisis Keteladanan Ulama

Dalam beberapa tahun terakhir, umat Islam dihadapkan pada fenomena yang cukup memprihatinkan: munculnya figur-figur yang disebut sebagai ulama atau tokoh agama, namun perilaku dan sikapnya justru jauh dari nilai keteladanan. Polemik moral, konflik kepentingan, hingga penyalahgunaan otoritas keagamaan membuat sebagian masyarakat bingung—bahkan kehilangan kepercayaan—terhadap sosok yang seharusnya menjadi panutan.

Kondisi ini memunculkan pertanyaan mendasar: siapakah ulama yang layak dijadikan teladan? Dan lebih jauh lagi, bagaimana Islam—khususnya melalui perspektif tasawuf—memandang hakikat keteladanan itu sendiri?

Artikel ini berupaya menjawab problem tersebut dengan mengulas konsep sufi sejati dalam tradisi Islam. Dengan menekankan keterpaduan antara ilmu, amal, dan keikhlasan, tulisan ini menawarkan kerangka objektif untuk menilai siapa yang pantas dijadikan teladan di tengah krisis figur keagamaan.


Tasawuf dan Ukuran Keteladanan Ulama

Tasawuf bukanlah aliran yang menjauh dari realitas, apalagi membenarkan penyimpangan syariat atas nama spiritualitas. Sebaliknya, tasawuf justru menjadi alat ukur paling jujur dalam menilai keaslian seorang ulama: apakah ilmunya melahirkan amal, dan apakah amalnya dilandasi keikhlasan.

Imam As-Sya‘rani dalam Anwarul Qudsiyah menegaskan:

فإن حقيقة الصوفي هو عالم عمل بعلمه
“Sufi sejati adalah orang berilmu yang mengamalkan ilmunya.”

Definisi ini sangat relevan untuk menjawab problem ulama yang kehilangan keteladanan. Dalam kacamata tasawuf, seseorang tidak cukup disebut alim hanya karena keluasan wawasannya atau kefasihan lisannya. Ilmu yang tidak membentuk akhlak dan perilaku hanyalah beban, bukan cahaya.


Ilmu sebagai Fondasi, Amal sebagai Bukti

Al-Qur’an memberikan posisi istimewa kepada orang-orang berilmu, sebagaimana firman Allah dalam Surah Ali Imran ayat 18:

شَهِدَ اللّٰهُ اَنَّهٗ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۙ وَالْمَلٰۤىِٕكَةُ وَاُولُوا الْعِلْمِ قَاۤىِٕمًا ۢ بِالْقِسْطِۗ

Namun, keutamaan ilmu ini bersyarat: ia harus menegakkan keadilan dan kebenaran. Rasulullah SAW juga menegaskan:

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
“Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim.”

Akan tetapi, tradisi keilmuan Islam sejak awal mengingatkan bahaya ilmu yang terlepas dari amal. Para ulama sering mengungkapkan hikmah:

العلم بلا عمل كالشجر بلا ثمر
“Ilmu tanpa amal ibarat pohon tanpa buah.”

Dalam konteks krisis keteladanan, ungkapan ini sangat tajam. Banyak kegaduhan umat hari ini bersumber dari figur yang memiliki otoritas keilmuan, tetapi tidak mencerminkan nilai ilmunya dalam sikap, keputusan, dan akhlak.


Shidqu Tawajjuh: Inti Tasawuf dan Ukuran Keikhlasan

Imam Ahmad Zarruq menyatakan bahwa ribuan definisi tasawuf pada hakikatnya bermuara pada satu konsep inti, yaitu:

ṣidqu tawajjuh — kesungguhan hati dalam menghadap kepada Allah.

Namun, kesungguhan ini tidak bersifat bebas tanpa batas. Imam Zarruq menegaskan:

صدق التوجه مشروط بكونه من حيث يرضاه الحق تعالى وبما يرضاه
“Kesungguhan menghadap kepada Allah harus dilakukan melalui hal-hal yang diridhai Allah dan dengan cara yang diridhai-Nya.”

Pernyataan ini menjadi kritik halus namun tegas terhadap mereka yang mengklaim keikhlasan, tetapi mengabaikan tuntunan syariat. Dalam tasawuf, keikhlasan bukan klaim batin semata, melainkan buah dari ilmu yang benar dan amal yang lurus.


Sufi Sejati sebagai Jawaban atas Krisis Keteladanan

Dari paparan di atas, jelas bahwa sufi sejati bukanlah sosok yang diukur dari simbol, penampilan, atau pengakuan publik, melainkan dari integritas antara:

  • Ilmu yang membimbing
  • Amal yang konsisten
  • Keikhlasan yang terjaga

Dengan standar ini, tidak semua yang bergelar ulama otomatis layak dijadikan teladan, dan sebaliknya, banyak orang sederhana yang justru lebih dekat pada hakikat kesufian karena ketulusan dan istiqamahnya.

Tasawuf mengajarkan bahwa keteladanan lahir dari perbaikan diri, bukan pencitraan; dari rasa takut kepada Allah, bukan dari ambisi pengaruh. Inilah jawaban mendasar atas kegelisahan umat hari ini.


Kesimpulan

Di tengah maraknya figur keagamaan yang kehilangan wibawa moral, konsep sufi sejati menawarkan kriteria jernih dalam memilih teladan. Islam tidak krisis ulama, tetapi krisis keteladanan yang lahir dari ilmu tanpa amal dan amal tanpa keikhlasan.

Sufi sejati adalah siapa pun yang mengamalkan ilmunya dengan tulus, menjaga integritas batin dan lahir, serta menghadapkan seluruh hidupnya kepada Allah sesuai tuntunan syariat. Dengan kembali pada standar ini, umat dapat membedakan antara figur yang sekadar berbicara tentang agama dan mereka yang benar-benar hidup bersama nilai-nilainya.

Oleh: Erik Zulfa

Ma’had Aly Al Fithrah Surabaya Raih Predikat Mumtaz dalam Asesmen Akreditasi Majelis Masyayikh Kemenag RI

Alhamdulillah, kabar gembira kembali menyelimuti keluarga besar Ma’had Aly Al Fithrah Surabaya. Lembaga pendidikan tinggi pesantren ini resmi meraih predikat Akreditasi Mumtaz, hasil dari asesmen yang dilakukan oleh Majelis Masyayikh Kemenag Republik Indonesia. Pencapaian tersebut bukan hanya membuktikan kualitas lembaga dari sisi administrasi, tetapi juga mencerminkan kedalaman tradisi keilmuan, kesungguhan para masyayikh, serta ketekunan para thullab dalam menempuh jalan ilmu.

Predikat Mumtaz merupakan tingkatan tertinggi dalam standar akreditasi Ma’had Aly. Ia menjadi simbol bahwa sebuah lembaga bukan hanya memenuhi standar, tetapi melampaui ekspektasi, baik dari aspek kurikulum, tradisi ilmiah, mutu pengajaran, hingga penguatan karakter santri. Keberhasilan ini merupakan karunia besar yang pantas disyukuri, sekaligus bukti nyata bahwa perjuangan panjang yang dijalankan selama ini berbuah manis.

Makna Predikat Mumtaz dan Pengakuan Majelis Masyayikh

Majelis Masyayikh Kemenag RI merupakan lembaga tertinggi yang mengatur standarisasi mutu pendidikan pesantren, termasuk Ma’had Aly. Ketika sebuah lembaga mendapatkan predikat Mumtaz, itu berarti lembaga tersebut telah memenuhi standar keilmuan, kelembagaan, dan atmosfir akademik yang sangat tinggi.

Bagi Ma’had Aly Al Fithrah, predikat ini menjadi stempel kehormatan bahwa lembaga tersebut tidak hanya sekadar berdiri, tetapi berdiri dengan kokoh di atas tradisi ilmiah pesantren yang telah diwariskan para ulama.

Nilai Mumtaz ini lahir dari proses panjang yang penuh dinamika—mulai dari penyusunan kurikulum yang menjaga keseimbangan antara turats dan keilmuan kontemporer, evaluasi internal berkala, hingga konsistensi dalam menjaga adab thalabul ‘ilmi. Semuanya berpadu menjadi bukti bahwa Ma’had Aly Al Fithrah menjalankan amanah pendidikan bukan setengah hati, tetapi dengan sepenuh keikhlasan dan ketekunan.

Perjalanan Panjang: Dari Muroja’ah, Diskusi, hingga Evaluasi Tanpa Henti

Dalam keterangan pihak Ma’had Aly, pencapaian ini bukanlah sesuatu yang muncul tiba-tiba. Ia adalah buah dari perjalanan panjang yang dipenuhi murāja’ah setiap malam, diskusi ilmiah yang tidak pernah surut, dan rapat-rapat evaluasi yang kadang berlangsung lebih lama daripada daftar hadir itu sendiri.

Para masyayikh dan muhadir (dosen) tak henti menanamkan ruh keilmuan, sementara para thullab dengan penuh semangat memakmurkan halaqah, kajian kitab, dan rutinitas akademik lainnya. Doa para pengasuh yang senantiasa mengalir ke langit menjadi energi yang tidak terlihat, namun sangat terasa keberkahannya.

Akreditasi Mumtaz ini menjadi bukti bahwa tradisi keilmuan yang dijalankan di Ma’had Aly Al Fithrah bukan formalitas, melainkan perjalanan ruhani dan intelektual yang hidup. Sebuah perjalanan yang menjadikan ilmu bukan sekadar materi dan ujian, tetapi juga adab, khidmah, dan kedekatan kepada Allah.

Mumtaz Bukan Garis Akhir, Tetapi Garis Awal untuk Melangkah Lebih Tinggi

Salah satu pesan penting dari pencapaian ini adalah bahwa predikat Mumtaz bukanlah garis akhir suatu perjuangan. Justru, ia menjadi garis start baru. Semakin tinggi pengakuan yang diraih, semakin besar pula amanah yang harus dipikul.

Predikat Mumtaz menjadi pengingat bahwa seluruh civitas Ma’had Aly—mulai dari mudir hingga para santri—harus terus memupuk kedisiplinan, memperkuat budaya ilmiah, serta menjaga adab dalam menuntut ilmu. Zona nyaman bukanlah tempat bagi mereka yang ingin terus maju. Oleh sebab itu, pencapaian ini menjadi momentum untuk melangkah lebih jauh, lebih dalam, dan lebih berkualitas dalam pengabdian dan penyebaran ilmu.

Harapannya, melalui pengakuan ini, Ma’had Aly Al Fithrah semakin mampu mencetak kader ulama yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga jernih hati, kuat adabnya, dan luas pengabdiannya kepada umat.

Penutup

Seluruh keluarga besar Ma’had Aly Al Fithrah Surabaya patut bersyukur dan berbahagia. Prestasi gemilang ini merupakan hasil kerja bersama—para masyayikh, muhadir, para santri, pengurus, dan seluruh pendukung pesantren. Semoga Allah menjaga keberkahan ilmu di lingkungan Ma’had Aly Al Fithrah dan menjadikannya wasilah lahirnya ulama-ulama yang istiqamah, tawadhu’, serta bermanfaat bagi umat. Aamiin

14 Kunci Pembuka Rezeki: Rahasia dari Kitab Kayfa Takunu Ghaniyan

Setiap kita adalah ingin dimudahkan urusan urusan rezekinya. Kalau perlu tidak harus usaha ngoyo tapi hasilnya limpah meruah. Apalagi masing-masing kita memiliki amanat dan tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhannya.

Rezeki itu sudah diatur dan dijamin oleh Allah SWT. Tugas manusia adalah berusaha dan beramal, tetapi hasil akhir sepenuhnya diserahkan kepada Allah. Yakin akan jaminan ini akan melahirkan ketenangan hati. Maka niatkanlah mencari rezeki adalah demi kewajiban menafkahi keluarga.

Sugih iku urusan liyo. seng penting nduwe roso gelemnyambut gawe, didorong minongko njogo awake, melaksanakno amanat kewajibane. Hasil gak hasil, sugih gak sugih, ojok kon urus. Nek sampeyan dadi urusan, akhire sugihne (seng dadi tujuan). Nek pun sugihne (tujuane), niku seng dikuatirno Kanjeng Nabi, ndadekno ngko laline karo Gusti Allah” dawuh KH. Achmad Asrori Al-Ishaqi.

“(tujuan) kaya itu urusan lain. Yang penting memiliki keinginan untuk bekerja, dengan didorong menjaga diri melaksanakan amanat tanggung jawabnya. Hasil atau tidak hasil, kaya atau tidak kaya, jangan jadi urusan. Kalau sampeyan jadikan tujuan, akhirnya kayanya (yang diprioritaskan). Kalau sudah kaya-nya (yang jadi tujuan), itu yang dikhawatirkan Rasulullah SAW menjadikan sebab lupa terhadap Allah subhanahu wa ta’ala” terj.

Berikut kami sampaikan 14 kunci pembuka rezeki yang dirangkum oleh Habib Muhammad bin Alawi bin Umar Alaydrus dalam kitab Kayfa Takunu Ghaniyan. Bukan sekadar teori, tetapi amalan yang telah diamalkan para salaf dan terbukti membawa keberkahan.

Apa saja kunci itu? Berikut penjelasan lengkapnya.

14 Kunci Rezeki dalam Kitab Kayfa Takunu Ghaniyan

Berikut 14 Kunci Pembuka Rezeki yang disebutkan dalam Kitab Kayfa Takunu Ghaniyan:

1. Taqwa dan Istiqamah

Allah berfirman:

وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجۡعَل لَّهُۥ مَخۡرَجٗا وَيَرۡزُقۡهُ مِنۡ حَيۡثُ لَا يَحۡتَسِبُۚ

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (QS. At-Talaq: 2–3)

Taqwa yang disertai istiqamah akan membuka jalan-jalan kemudahan dalam hidup.

2. Bersyukur

Syukur adalah magnet rezeki. Ketika kita mengakui, memuji, dan menggunakan nikmat Allah sesuai tujuan-Nya, maka nikmat itu akan bertambah.

لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ 

“Jika kamu bersyukur, pasti Aku tambah nikmatmu.” (QS. Ibrahim: 7)

3. Membaca Al-Qur’an

Al-Qur’an adalah sumber ketenangan dan kekayaan hati. Dalam sebuah riwayat:

مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ ؛ فَهُوَ غَنِيٌّ، لَا فَقْرَ بَعْدَهُ

“Siapa membaca Al-Qur’an, maka ia menjadi kaya; ia tidak akan fakir setelah itu.”

Surat yang dianjurkan untuk memperluas rezeki antara lain: Al-Waqi’ah, Thaha, Al-Ikhlas, Yasin, Al-Qadr, Al-Insyirah, dan lainnya.

4. Berdzikir kepada Allah

Dzikir adalah sumber ketenangan dan pembuka pintu rezeki. Dzikir La ilaha illallah disebut membuka 99 pintu rezeki.

5. Berdoa

الدُّعَاءُ سِلَاحُ الْمُؤْمِنِ 

“Doa adalah senjata orang mukmin.”

Doa adalah kunci besar pembuka rezeki.

6. Istighfar

فَقُلۡتُ ٱسۡتَغۡفِرُواْ رَبَّكُمۡ إِنَّهُۥ كَانَ غَفَّارٗا. يُرۡسِلِ ٱلسَّمَآءَ عَلَيۡكُم مِّدۡرَارٗا. وَيُمۡدِدۡكُم بِأَمۡوَٰلٖ وَبَنِينَ وَيَجۡعَل لَّكُمۡ جَنَّٰتٖ وَيَجۡعَل لَّكُمۡ أَنۡهَٰرٗا .

maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun-, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai. (Nuh: 10 -12)

Dosa menutup pintu rezeki; istighfar membukanya kembali.

7. Bershalawat

Shalawat mendatangkan rahmat, kemudahan urusan, dan membuka pintu rezeki.

8. Menjaga Shalat

وَأۡمُرۡ أَهۡلَكَ بِٱلصَّلَوٰةِ وَٱصۡطَبِرۡ عَلَيۡهَاۖ لَا نَسۡئلُكَ رِزۡقٗاۖ نَّحۡنُ نَرۡزُقُكَۗ وَٱلۡعَٰقِبَةُ لِلتَّقۡوَىٰ

Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa. (QS. Thaha: 132)

Shalat adalah penghubung dengan Allah dan sumber keberkahan.

Memperhatikan Orang Lain

Dalam memenuhi kebutuhan diri sendiri, kita juga memperhatikan orang lain. Kunci pembuka rezeki bukan hanya sekadar bekerja untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri. Justru, berkah membantu orang lain, menjadi sebab pembuka rezeki bagi diri sendiri.

9. Bersedekah

وَمَآ أَنفَقۡتُم مِّن شَيۡءٖ فَهُوَ يُخۡلِفُهُۥ 

“Apa yang kamu nafkahkan, Allah akan menggantinya.” (QS. Saba: 39)

Sedekah adalah investasi rezeki yang tidak pernah merugi.

10. Menjaga Silaturahim

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ… فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

“Siapa yang ingin dilapangkan rezekinya, sambunglah silaturahim.” (HR. Bukhari Muslim)

Hubungan baik membawa keberkahan hidup.

11. Berbudi Pekerti Luhur

Akhlak baik mendatangkan cinta manusia dan membuka banyak peluang rezeki.

12. Qana’ah

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ، وَرُزِقَ كَفَافًا، وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ

“Sungguh telah beruntung (berjaya) orang yang berislam, dan diberi rezeki sekadar cukup (kafaafan), dan Allah menjadikannya qana’ah (puas) terhadap apa yang diberikan-Nya kepadanya.” Shohih Muslim (Kitab Az-Zakat, Bab: Tentang Kecukupan dan Qana’ah). Nomor Hadis: No. 1054

Qana’ah membuat hati tenang dan hidup berkah.

13. Bersegera Mencari Rezeki di Pagi Hari

بَاكِرُوا طَلَبَ الرِّزْقِ وَالْحَوَائِجِ؛ فَإِنَّ الْغُدُوَّ بَرَكَةٌ وَنَجَاحٌ

“Berpagi-pagianlah kamu dalam mencari rezeki dan hajat (kebutuhan-kebutuhan), karena sesungguhnya pagi itu adalah keberkatan dan kejayaan (kesuksesan).” (HR. Ath-Thabarani)

Pagi adalah waktu rezeki dibagikan.

14. Menjamu Tamu dan Dermawan

“Siapa yang memperbanyak nafkahnya, Allah memperbanyak rezekinya.” (HR. Al-Baihaqi)

Kedermawanan meluaskan rezeki.

Pembuka Rezeki Terbuka Hati

Selain 14 Kunci Pembuka rezeki tersebut, KH. Ahmad Asrori Al-Ishaqy juga mengijazahkan kepada kami bacaan dzikir yang perlu diistikomahkan. Di antaranya adalah membaca doa dzikir tujuh kali setiap pagi dan sore hari agar dicukupkan urusan rezekinya. Berikut redaksinya:

حَسْبِيَ اللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۗ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِࣖ

“Cukuplah Allah bagiku. Tidak ada tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal dan Dia adalah Tuhan pemilik ‘Arasy (singgasana) yang agung.” (QS. At Taubah: 129)

Disamping itu, juga Beliau Kiai Asrori Al-Ishaqy mengijazahkan Sholat Ar-Rizq Al-Midrar agar deras rezekinya. Berikut redaksi sholawatnya:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً تُطِيلُ لَنَا بِهَا الْأَعْمَارَ، وَتُزِيلُ بِهَا عَنَّا جَمِيعَ الْأَسْقَامِ وَالْأَخْطَارِ، وَتُدِرُّ بِهَا عَلَيْنَا الرِّزْقَ الْمِدْرَارَ، وَتَقْضِيَ لَنَا بِهَا جَمِيعَ الْأَوْطَارِ، وَتُشَفِّعْهُ فِينَا عِنْدَكَ فِي دَارِ الدُّنْيَا وَدَارِ الْقَرَارِ، بِرَحْمَتِكَ يَا غَفَّارُ يَا غَفَّارُ يَا قَهَّارُ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ.

“Ya Allah, limpahkanlah salawat kepada junjungan kami Nabi Muhammad —salawat dengannya yang Engkau panjangkan umur kami, dan Engkau hilangkan dengannya dari kami seluruh penyakit dan segala bahaya, dan Engkau alirkan dengannya kepada kami rezeki yang deras, dan Engkau tunaikan dengannya seluruh hajat kami, dan Engkau jadikan beliau memberi syafaat bagi kami di sisi-Mu, di dunia dan di negeri akhir (akhirat). Dengan rahmat-Mu, wahai Maha Pengampun, wahai Maha Pengampun, wahai Maha Perkasa. Serta limpahkanlah salawat dan salam atas keluarga dan para sahabat beliau.”

Rezeki bukan hanya soal bekerja keras, tetapi tentang kedekatan dengan Allah dan akhlak terhadap sesama. Jika 14 amalan ini diamalkan dengan ikhlas, insyaaAllah pintu-pintu rezeki akan terbuka luas. Semoga, bukan hanya rezekinya aja yang dimudahkan, terbukanya hati juga.

Adab Berdoa Nabi Zakaria AS dari Surah Maryam: Kunci Doa Mustajab

Kita semua pernah berada di titik di mana kita merasa doa terasa jauh, entah karena permintaan itu terlalu besar atau kondisi kita secara logika mustahil. Namun, Al-Qur’an menyajikan sebuah pelajaran emas yang indah melalui kisah Nabi Zakaria AS dalam Surah Maryam (ayat 1–11).

Kisah ini bukan hanya tentang bagaimana Allah mengabulkan permintaan yang mustahil (keturunan di usia tua dan istri mandul), tetapi tentang adab yang beliau tunjukkan saat mengetuk pintu langit. Nabi Zakaria mengajarkan kita bahwa fokus utama bukanlah pada “apa” yang kita minta, melainkan “bagaimana” cara kita meminta.

Mari kita bongkar pelajaran emas adab berdoa dari Surah Maryam yang bisa membuat curahan hati kita lebih didengar dan dicintai oleh-Nya.

Memulai Doa dengan Kerendahan Hati dan Pengakuan Diri

Adab berdoa bukanlah sekadar rangkaian kata-kata, melainkan kondisi hati. Nabi Zakaria mengawalinya dengan cara yang menakjubkan. Beliau tidak langsung meminta, tetapi melakukan pengakuan tulus tentang kondisi dan kelemahannya.

Dalam firman-Nya,

قَالَ رَبِّ اِنِّيْ وَهَنَ الْعَظْمُ مِنِّيْ وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْبًا

Nabi Zakaria berkata: “Wahai Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah, kepalaku telah dipenuhi uban…” (QS. Maryam: 4)

Ada dua poin penting di sini:

  1. Memuji Allah dan Mengakui Kelemahan: Beliau memulai dengan memuji Allah, kemudian menyebutkan kelemahannya yang nyata. Ini adalah puncak kerendahan hati. Semakin kita merasa lemah dan fakir di hadapan Allah, semakin dekat kita dengan rahmat-Nya.
  2. Berdoa dengan Suara Lirih (Khafiyya): Surah Maryam ayat 3 menyebutkan,

اِذْ نَادٰى رَبَّهٗ نِدَاۤءً خَفِيًّا

(yaitu) ketika dia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lirih.

Ini menunjukkan tingkat kekhusyukan dan keintiman yang tinggi. Allah mendengar bisikan hati kita, bahkan suara selembut lirihan sekalipun. Adab ini adalah pintu mustajabnya doa.

Mencurahkan Kegelisahan dan Meminta Kebaikan Akhirat

Setelah memuji dan mengakui kelemahan, Nabi Zakaria tidak malu mengutarakan kegelisahan terdalamnya secara jujur.

Beliau khawatir tidak adanya penerus dakwah sepeninggalnya, terutama karena istrinya mandul. Beliau mencurahkan:

 وَاِنِّيْ خِفْتُ الْمَوَالِيَ مِنْ وَّرَاۤءِيْ وَكَانَتِ امْرَاَتِيْ عَاقِرًا فَهَبْ لِيْ مِنْ لَّدُنْكَ وَلِيًّا

Sesungguhnya aku khawatir terhadap keluargaku sepeninggalku, sedangkan istriku adalah seorang yang mandul. Anugerahilah aku seorang anak dari sisi-Mu (QS. Maryam: 5).

Doa adalah wadah pengaduan yang paling tulus kepada Sang Pencipta.

Namun, permohonan beliau tidak berhenti pada permintaan anak saja.

Dia melanjutkan doanya dengan meminta yang terbaik:

يَّرِثُنِيْ وَيَرِثُ مِنْ اٰلِ يَعْقُوْبَ وَاجْعَلْهُ رَبِّ رَضِيًّا

(Beliau meminta anak) yang akan mewarisi ilmu dan risalah, serta menjadikannya seorang yang diridai (QS. Maryam: 6).

Pelajaran emasnya: Curahkan semua isi hati Anda dengan jujur, tetapi selalu arahkan permintaan Anda pada kebaikan dan manfaat akhirat, bukan sekadar keinginan duniawi. Fokuslah memohon kesalehan dan keberkahan.

Keyakinan dan Kesabaran adalah Puncak Adab Berdoa

Adab berdoa tidak sempurna tanpa dua elemen krusial: keyakinan penuh dan kesabaran tanpa batas.

Nabi Zakaria berdoa dalam kondisi yang secara logika manusia, mustahil. Usia tua dan istri mandul adalah batasan yang tidak bisa ditembus oleh sains. Namun, beliau memiliki keyakinan mutlak bahwa Allah tidak tunduk pada kemungkinan manusia. Beliau tidak pernah putus asa, bahkan di ayat 4 disebutkan:

وَّلَمْ اَكُنْۢ بِدُعَاۤىِٕكَ رَبِّ شَقِيًّا ۝٤

 “dan aku tidak pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu, wahai Tuhanku.” (QS. Maryam: 4).

Adab terakhir yang beliau ajarkan adalah kesabaran. Beliau menunggu jawaban Allah dengan teguh. Setelah melalui penantian dan ujian kesabaran, barulah malaikat datang membawa kabar gembira tentang kelahiran putranya, Yahya

يٰزَكَرِيَّآ اِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلٰمِ ࣙاسْمُهٗ يَحْيٰىۙ لَمْ نَجْعَلْ لَّهٗ مِنْ قَبْلُ سَمِيًّا ۝

(Allah berfirman,) “Wahai Zakaria, Kami memberi kabar gembira kepadamu dengan seorang anak laki-laki yang bernama Yahya yang nama itu tidak pernah Kami berikan sebelumnya.” (QS. Maryam: 7).

Setelah doa dikabulkan, adab beliau pun berlanjut pada rasa syukur yang total. Beliau segera menjalankan perintah Allah untuk berzikir selama tiga hari penuh. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam ayat 11

فَخَرَجَ عَلٰى قَوْمِهٖ مِنَ الْمِحْرَابِ فَاَوْحٰٓى اِلَيْهِمْ اَنْ سَبِّحُوْا بُكْرَةً وَّعَشِيًّا ۝

Lalu, (Zakaria) keluar dari mihrab menuju kaumnya lalu dia memberi isyarat kepada mereka agar bertasbihlah kamu pada waktu pagi dan petang. (QS. Maryam: 11) sebagai bentuk ketaatan atas nikmat yang didapat.

Jika Nabi Zakaria, yang merupakan seorang Nabi, menunjukkan adab sebegitu indahnya, bagaimana dengan kita? Mari perbaiki kondisi hati dan cara kita meminta. Mulai sekarang, selalu awali doa dengan pujian, panjatkan dengan rendah hati, dan akhiri dengan keyakinan serta kesabaran. Yakinlah, Allah mendengar doamu, sekecil apapun bisikan itu.