Liputan

Haul Akbar Al Fithrah: Bukti Bakti Kepada Orang Tua

Haul Akbar Al Fithrah sering dikenal sebagai majelis doa untuk Kanjeng Syaikh, Sunan Ampel,KH. Muhammad Ustman Al Isahqy Yai Sepuh, dan KH. Asrori Al-Ishaqy. Namun sejatinya, akar utama haul adalah mendoakan kedua orang tua. Para masyayikh hanyalah wasilah dan merk yang mengingatkan umat akan kewajiban agung bernama birrul walidain.

Sebagaimana dawuh KH. Asrori Al-Ishaqy, keberkahan hidup dan kemudahan urusan sangat erat kaitannya dengan bakti kepada orang tua. Doa orang tua—terutama yang telah wafat—adalah pintu langit yang tidak pernah tertutup. Maka haul bukan sekadar tradisi, tetapi majelis penuh harap agar Allah melimpahkan rahmat dan ampunan kepada kedua orang tua kita.

Susunan Acara Haul Akbar Al Fithrah 2026

Susunan acara dalam Majlis Haul Akbar Al Fithrah adalah rangkaian kegiatan kebaikan. Di dalamnya diisi dengan Majlis Dzikir, Maulidurrasul SAW & Haul Akbar Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya pada Sabtu malam, 06 Sya’ban 1446 H / 24 Januari 2026 adalah sebagai berikut:

1. Al-Fatihah oleh Ust. H. Wahdi Alawi (Surabaya)

2. Istighotsah oleh KH. Anwari (Grobogan)

3. Khotmil Qur’an oleh Tim Santri Al Fithrah

4. Al-Ikhlas 7x, Mu’awwidzatain 1x, Al-Fatihah 1x & Al-Baqarah ayat 1–5 oleh KH. Subhan Syukur (Makassar)

5. Doa Khotmil Qur’an oleh KH. Habibullah (Demak)

6. Dzikir Fida’ (1650–3200x ±15 menit) oleh KH. Munir Abdullah (Grobogan)

7. Doa Tahlil oleh KH. Badrus Salam (Singapura)

8. Doa Birrul Walidain oleh KH. Ulil Albab (Pemalang)

9. Maulidur Rasul SAW oleh Tim Santri Al Fithrah & Para Habaib

10. Doa Maulidur Rasul SAW oleh Habib Umar bin Abdullah Assegaf

11. Sambutan & Ungkapan Duka atas Wafatnya Al-Habib Umar Al-Jilany oleh KH. M. Husni Mubarok

12. Doa Bihaqqil Fatihah oleh KH. Fadhil (Palembang)

13. MC & Pengatur Mic oleh Tim Panitia

Berbakti Kepada Orang Tua: Dalil dan Rahasia Doa yang Paling Mustajab

Hadrastusy Syaikh Romo KH. Ahmad Asrori Al Ishaqy mengatakan bahwa majlis Haul Akbar Al Fithrah ini ada yang ‘menungganggi’. Orang-orang ini sebenarnya tidak hanya menghauli Kanjeng Syaikh ataupun Sunan Ampel, melainkan mendoakan diri sendiri dan kedua orang tuanya.

Banyak muatan isi doa yang dibaca dalam Haul Akbar Al Fithrah adalah mendoakan orang tua. Mendoakan orang tua adalah merupakan di antara ciri anak sholeh. Allah SWT berfirman:

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak.”

(QS. Al-Isra: 23)

Rasulullah SAW juga bersabda bahwa ridha Allah tergantung pada ridha orang tua. Inilah sebabnya doa birrul walidain menjadi inti dalam Haul Akbar Al Fithrah. Sebagaimana dawuh para kiai, doa yang dibaca oleh banyak orang saleh, di majelis dzikir, dengan niat bakti kepada orang tua, sangat dekat dengan ijabah.

Haul Akbar Al Fithrah bukan hanya mengenang para wali dan ulama, tetapi menghidupkan kembali kesadaran umat bahwa jalan paling cepat menuju keberkahan adalah berbakti dan mendoakan orang tua, baik yang masih hidup maupun yang telah wafat.

Majlis Dzikir, Maulidurrasul SAW, dan Pengajian Ahad Kedua Rajab 1447 H digelar di Al Fithrah Surabaya

Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya kembali menjadi pusat kegiatan keagamaan dengan terselenggaranya Majlis Dzikir, Maulidurrasul SAW, dan Pengajian Ahad Kedua Bulan Rajab 1447 H. Kegiatan ini dilaksanakan pada Ahad, 28 Desember 2025 M bertepatan dengan 8 Rajab 1447 H, bertempat di Jln. Kedinding Lor 99 Surabaya.

Majlis tersebut dihadiri oleh berbagai kalangan, meliputi para Habaib, Masyayikh, Jamaah Ath Thoriqoh, Jamaah Al Khidmah, Ukhsafi Copler Community, serta umat Islam dari berbagai daerah. Kehadiran jamaah yang membludak menambah kekhidmatan suasana majlis yang sarat dengan nilai spiritual dan kebersamaan.

Rangkaian Acara Penuh Nilai Ruhani

Acara berlangsung dengan tertib dan penuh kekhusyukan. Rangkaian majlis diawali dengan tawasul, dilanjutkan pembacaan Surah Al-Fatihah, istighotsah, khotmul Qur’an, dzikir fida, serta pembacaan Maulidurrasul SAW. Setiap rangkaian menjadi wasilah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT sekaligus menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah SAW.

Mauidlotul Hasanah: Keistimewaan Ruh Manusia

Pada sesi mauidlotul hasanah, Dr. Habib Abdurrahman bin Agil menyampaikan kajian dari Kitab Al-Muntakhobat fi Robithah al-Qalbiyah wa Shilah al-Ruhiyah, bab Min Khoshoishul Insan (Di antara keistimewaan manusia).

Beliau menjelaskan bahwa setiap manusia memiliki ruh yang lembut. Ruh tersebut pada hakikatnya bercahaya, namun menjadi persoalan bagaimana cara menjaga dan memperolehnya agar tetap hidup dan bercahaya. Salah satu jalannya adalah bersyukur atas setiap kenikmatan yang Allah berikan, terutama dengan bersyukur melalui dzikir kepada Allah SWT.

Habib Abdurrahman menegaskan bahwa setiap manusia dilahirkan dalam keadaan suci dan memiliki kemuliaan yang sangat agung, bahkan melebihi kemuliaan Ka’bah sekalipun jika dilihat dari sisi kehormatan seorang hamba di hadapan Allah SWT.

Beliau mengutip kalimat penuh makna:

إِذَا ذَكَرْتَنِي شَكَرْتَنِي، وَإِذَا نَسِيتَنِي كَفَرْتَنِي

“Jika engkau mengingat-Ku, engkau bersyukur kepada-Ku; dan jika engkau melupakan-Ku, engkau mengingkari-Ku.”

Sehingga Rasulullah SAW sendiri mendedikasikan dirinya untuk beribadah kepada Allah, hingga bengkak kedua kakinya. Beliau mengatakan bahwa itu adalah sebagai bentuk rasa syukurnya.

أَفَلَا أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا

“Maka tidakkah aku menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?”

Serta membacakan firman Allah SWT :

ٱللَّهُ ٱلَّذِی خَلَقَ ٱلسَّمَـٰوَ ٰ⁠تِ وَٱلۡأَرۡضَ وَأَنزَلَ مِنَ ٱلسَّمَاۤءِ مَاۤءࣰ فَأَخۡرَجَ بِهِۦ مِنَ ٱلثَّمَرَ ٰ⁠تِ رِزۡقࣰا لَّكُمۡۖ وَسَخَّرَ لَكُمُ ٱلۡفُلۡكَ لِتَجۡرِیَ فِی ٱلۡبَحۡرِ بِأَمۡرِهِۦۖ وَسَخَّرَ لَكُمُ ٱلۡأَنۡهَـٰرَ ۝٣٢

“Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air (hujan) dari langit, kemudian dengan (air hujan) itu Dia mengeluarkan berbagai buah-buahan sebagai rezeki untukmu; dan Dia telah menundukkan kapal bagimu agar berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan sungai-sungai bagimu.

Makna Taslim kepada Qadha dan Qadar

Mengutip penjelasan Syaikh Ibnu Ajibah, beliau menyampaikan makna bahwa Allah menahan fuyudhot ilahiyah agar seorang hamba benar-benar siap dijadikan sebagai kekasih-Nya. Seorang hamba yang telah memahami hakikat ini akan mampu menerima qadha dan qadar Allah SWT dengan lapang dada.

Sebagaimana firman Allah SWT:

﴿وَسَخَّرَ لَكُم مَّا فِی ٱلسَّمَـٰوَ ٰ⁠تِ وَمَا فِی ٱلۡأَرۡضِ جَمِیعࣰا مِّنۡهُۚ إِنَّ فِی ذَ ٰ⁠لِكَ لَـَٔایَـٰتࣲ لِّقَوۡمࣲ یَتَفَكَّرُونَ﴾ [الجاثية ١٣]

Beliau juga mengingatkan pentingnya menjaga ketenangan hati dan tidak dikalahkan oleh hawa nafsu, sebagaimana disebutkan:

أن النفس لامارة بالسوء

Di akhir mauidlotul hasanah, beliau berdoa agar Allah SWT memberikan limpahan rahmat, hidayah, dan keteguhan iman kepada seluruh jamaah. Aamiin.

Pengumuman Agenda Majlis Dzikir Al-Khidmah

Pada kesempatan tersebut juga diumumkan beberapa agenda Majlis Dzikir Al-Khidmah terdekat, di antaranya:

Haul Desa Ambar Ambir, Rabu malam, 30 Desember 2025 M

Haul KH. Yusuf PPRM Wanar Pucuk Lamongan, 5 Januari 2026 M

Haul Akbar Malang, pada Ahad pagi, 6 Januari 2026, bertempat di depan Masjid Jami’ Alun-alun Kota Malang

Hari Amal Bakti, pada Selasa pagi 7 Januari 2026, Kantor Kemenag Trenggalek

Haul Sesepuh Desa Kendung Benowo Surabaya

Haul Akbar Cirebon dan Jakarta serta Ziarah Walisongo, 29 Januari – 2 Februari 2026

Jamaah didoakan agar diberikan keluasan rezeki, kesehatan lahir dan batin, sehingga dapat menghadiri majlis-majlis penuh keberkahan tersebut.

Dari hasil pengumpulan dana khidmah dilaporkan Khidmah Haul Akbar Al Fithrah 2026 terhimpun, yaitu: Rp 19.535.200, 1 US Dollar, 15 Ringgit Malaysia, 10.000 Dong Vietnam.

Semoga seluruh khidmah tersebut diterima sebagai amal shalih dan membawa keberkahan bagi semua pihak.

Penutup

Majlis Dzikir, Maulidurrasul SAW, dan Pengajian Ahad Kedua Bulan Rajab 1447 H di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya menjadi momentum penting untuk memperkuat ruhani, memperdalam makna syukur, serta menumbuhkan ketenangan hati dalam menjalani kehidupan.

Semoga keberkahan meliputi kita semuanya. Aamiin.

Multaqo Media Pondok Jawa Timur 2025: Ajang Silaturahmi Media Pondok Pesantren Se-Jawa Timur

Jum’at malam, 19 Desember 2025, menjadi momentum penting bagi perkembangan media pesantren di Jawa Timur. Pembukaan Multaqo Media Pondok Jawa Timur (MPJ) secara resmi digelar di Pondok Pesantren Nurul Islam Jember, dengan dihadiri oleh perwakilan insan media pondok pesantren dari berbagai daerah se-Jawa Timur.

Kegiatan ini menjadi wadah strategis untuk mempererat silaturahmi, memperkuat jejaring, serta menyatukan visi insan media pesantren dalam menghadirkan dakwah yang santun, mencerahkan, dan relevan dengan perkembangan zaman digital.

Sebagai tuan rumah, Pondok Pesantren Nurul Islam Jember menyambut hangat seluruh delegasi yang hadir, menciptakan suasana kekeluargaan yang khas pesantren sejak awal acara.

Sesi Perkenalan Antar Regional Penuh Keakraban

Sesi malam pada pembukaan MPJ 2025 diisi dengan perkenalan antar regional media pondok pesantren. Setiap daerah diberikan kesempatan untuk memperkenalkan diri, berbagi pengalaman, serta menyampaikan semangat kebersamaan dalam membangun media pesantren.

Dalam suasana santai namun penuh makna, muncul ungkapan yang menggambarkan semangat MPJ:

“Meskipun bukan yang terbaik, yang penting yang terbanyak.”

Ungkapan ini merujuk pada antusiasme keikutsertaan peserta dari berbagai wilayah. Sebagai catatan, pada Multaqo Media Pondok Jawa Timur tahun sebelumnya, Madura Raya tercatat mendelegasikan hingga 90 peserta, menjadi salah satu regional dengan jumlah delegasi terbanyak.

Hal tersebut menunjukkan besarnya semangat dan kepedulian pesantren terhadap peran media sebagai sarana dakwah dan informasi.

Syair Persahabatan dan Makna Kebersamaan

Suasana semakin hangat ketika Pak Ali menyampaikan sebuah syair penuh makna yang mencerminkan eratnya ukhuwah antar insan media pondok pesantren:

فِي قَلْبِنَا أَنْتُمْ جَلِيلُ # فَإِنَّكُمْ خَلِيلُنَا الخَلِيلُ

Syair tersebut menggambarkan kedekatan batin dan persaudaraan yang tulus, bahwa insan media pondok pesantren bukan sekadar mitra kerja, melainkan sahabat yang memiliki tempat mulia di hati.

Makna ini sejalan dengan semangat Multaqo Media Pondok Jawa Timur, yang tidak hanya berorientasi pada peningkatan kualitas media, tetapi juga menanamkan nilai kebersamaan, keikhlasan, dan adab pesantren dalam setiap langkah perjuangan.

MPJ sebagai Pilar Penguatan Media Pesantren

Multaqo Media Pondok Jawa Timur diharapkan menjadi ruang konsolidasi gagasan, peningkatan kapasitas, serta penguatan peran media pesantren dalam menghadapi tantangan era digital. Dengan sinergi antar pondok pesantren, media diharapkan mampu menjadi corong dakwah yang berimbang, menyejukkan, dan berlandaskan nilai Ahlussunnah wal Jama’ah.

Pembukaan MPJ 2025 di Pondok Pesantren Nurul Islam Jember menjadi langkah awal yang penuh harapan, menandai komitmen bersama insan media pesantren untuk terus berkhidmah melalui tulisan, visual, dan narasi yang beradab serta bertanggung jawab.

Perbanyak Dzikir di Bulan Rajab: Majlis Ahad Awal di Ponpes Assalafi Al Fithrah Surabaya

Surabaya (21/12) Hujan tak menyurutkan antusias para Jamaah Ath Thariqah, Al Khidmah dan umat muslim dari berbagai daerah untuk hadir di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya. Mereka hendak menyambungkan hati dan menambatkan ruhani mereka melalui hadir dalam Majlis Manaqib Ahad Awal Bulan Rajab 1447 H.

Rajab, Bulan Mulia untuk Menghidupkan Dzikir

Bulan Rajab 1447 Hijriyah kembali disambut dengan penuh kekhusyukan melalui Majlis Rutin Ahad Awal Bulan Rajab yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya. Kegiatan ini disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube dan diikuti oleh jamaah dari berbagai daerah.

Majlis dzikir ini bukan sekadar rutinitas bulanan, melainkan menjadi momentum ruhani untuk menghidupkan hati dengan mengingat Allah, terutama di bulan Rajab yang termasuk al-asyhur al-hurum (bulan-bulan yang dimuliakan).

Allah SWT berfirman:

> إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ … مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ

“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ada dua belas bulan… di antaranya ada empat bulan yang dimuliakan.” (QS. At-Taubah: 36)

Para ulama tafsir menjelaskan bahwa Rajab termasuk salah satu dari empat bulan mulia tersebut.

Dzikir: Amalan Paling Mudah dan Agung

Dalam Majlis Rutin Ahad Awal Bulan Rajab ini, jamaah diajak untuk memperbanyak dzikir karena dzikir adalah amalan yang paling ringan di lisan namun berat dalam timbangan pahala.

Rasulullah ﷺ bersabda:

أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرِ أَعْمَالِكُمْ، وَأَزْكَاهَا عِنْدَ مَلِيكِكُمْ… ذِكْرُ اللَّهِ

“Maukah aku kabarkan kepada kalian amal terbaik, paling suci di sisi Tuhan kalian…? Yaitu dzikir kepada Allah.” (HR. Tirmidzi)

Dalam kitab Al-Adzkar karya Imam An-Nawawi disebutkan:

> اعلم أن الذكر محبوب في جميع الأحوال، إلا في أحوال مخصوصة

“Ketahuilah, dzikir itu dicintai dalam setiap keadaan, kecuali pada kondisi-kondisi khusus.” (Al-Adzkar, Imam An-Nawawi)

Ini menunjukkan bahwa dzikir adalah amalan universal, bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja.

Rajab dan Tradisi Dzikir Berjamaah

Tradisi dzikir berjamaah sebagaimana yang dilaksanakan di Ponpes Assalafi Al Fithrah memiliki dasar kuat dalam literatur klasik. Imam As-Suyuthi dalam Natijah Al-Fikr menegaskan keutamaan majlis dzikir:

مجالس الذكر رياض الجنة

“Majlis dzikir adalah taman-taman surga.” (HR. Tirmidzi)

Karena itu, berkumpulnya jamaah dalam Majlis Rutin Ahad Awal Bulan Rajab bukan hanya mempererat ukhuwah, tetapi juga menjadi sarana turunnya rahmat dan ketenangan hati.

Allah SWT berfirman:

> أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra’d: 28)

Pesan Spiritual dari Majlis Ahad Awal Rajab

Majlis Rutin Ahad Awal Bulan Rajab di Ponpes Assalafi Al Fithrah mengajarkan bahwa memasuki Rajab bukan sekadar pergantian waktu, melainkan panggilan untuk memperbaiki hubungan dengan Allah SWT.

Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali رحمه الله berkata:

> رجب شهر الزرع، وشعبان شهر السقي، ورمضان شهر الحصاد

“Rajab adalah bulan menanam, Sya’ban bulan menyiram, dan Ramadhan bulan memanen.” (Latha’if Al-Ma’arif)

Maka memperbanyak dzikir di bulan Rajab adalah benih ruhani untuk menyambut Ramadhan dengan hati yang bersih.

Penutup

Majlis Rutin Ahad Awal Bulan Rajab 1447 H di Ponpes Assalafi Al Fithrah Surabaya menjadi pengingat bahwa dzikir adalah kunci kehidupan hati. Melalui dzikir, seorang hamba mendekat kepada Allah, menenangkan jiwa, dan memperkuat iman.

Sebagaimana namanya, Majlis Manaqib Ahad Awal adalah kegiatan majlis rutin setiap Ahad pertama bulan hijriyah yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya

Semoga majlis seperti ini terus hidup dan menjadi wasilah turunnya rahmat Allah bagi umat Islam, khususnya di bulan Rajab yang penuh kemuliaan.

اللهم اجعلنا من الذاكرين الله كثيرا والذاكرات

Dalam Majlis ini juga diumumkan akan diadakannya Majlis Ahad Kedua Bulan Rajab pada Hari Ahad, 28 Desember 2025 M / 8 Rajab 1447 H dan juga Haul Akbar Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya pada Sabtu malam dan Ahad pagi, 24-25 Januari 2026 M / 6 Sya’ban 1447 H. Semoga diberikan rezeki yang luas, kesehatan dan kesempatan, sehingga dapat hadir bersama keluarga dalam majlis-majlis yang mulia. Aamiiin

Ma’had Aly Al Fithrah Surabaya Raih Predikat Mumtaz dalam Asesmen Akreditasi Majelis Masyayikh Kemenag RI

Alhamdulillah, kabar gembira kembali menyelimuti keluarga besar Ma’had Aly Al Fithrah Surabaya. Lembaga pendidikan tinggi pesantren ini resmi meraih predikat Akreditasi Mumtaz, hasil dari asesmen yang dilakukan oleh Majelis Masyayikh Kemenag Republik Indonesia. Pencapaian tersebut bukan hanya membuktikan kualitas lembaga dari sisi administrasi, tetapi juga mencerminkan kedalaman tradisi keilmuan, kesungguhan para masyayikh, serta ketekunan para thullab dalam menempuh jalan ilmu.

Predikat Mumtaz merupakan tingkatan tertinggi dalam standar akreditasi Ma’had Aly. Ia menjadi simbol bahwa sebuah lembaga bukan hanya memenuhi standar, tetapi melampaui ekspektasi, baik dari aspek kurikulum, tradisi ilmiah, mutu pengajaran, hingga penguatan karakter santri. Keberhasilan ini merupakan karunia besar yang pantas disyukuri, sekaligus bukti nyata bahwa perjuangan panjang yang dijalankan selama ini berbuah manis.

Makna Predikat Mumtaz dan Pengakuan Majelis Masyayikh

Majelis Masyayikh Kemenag RI merupakan lembaga tertinggi yang mengatur standarisasi mutu pendidikan pesantren, termasuk Ma’had Aly. Ketika sebuah lembaga mendapatkan predikat Mumtaz, itu berarti lembaga tersebut telah memenuhi standar keilmuan, kelembagaan, dan atmosfir akademik yang sangat tinggi.

Bagi Ma’had Aly Al Fithrah, predikat ini menjadi stempel kehormatan bahwa lembaga tersebut tidak hanya sekadar berdiri, tetapi berdiri dengan kokoh di atas tradisi ilmiah pesantren yang telah diwariskan para ulama.

Nilai Mumtaz ini lahir dari proses panjang yang penuh dinamika—mulai dari penyusunan kurikulum yang menjaga keseimbangan antara turats dan keilmuan kontemporer, evaluasi internal berkala, hingga konsistensi dalam menjaga adab thalabul ‘ilmi. Semuanya berpadu menjadi bukti bahwa Ma’had Aly Al Fithrah menjalankan amanah pendidikan bukan setengah hati, tetapi dengan sepenuh keikhlasan dan ketekunan.

Perjalanan Panjang: Dari Muroja’ah, Diskusi, hingga Evaluasi Tanpa Henti

Dalam keterangan pihak Ma’had Aly, pencapaian ini bukanlah sesuatu yang muncul tiba-tiba. Ia adalah buah dari perjalanan panjang yang dipenuhi murāja’ah setiap malam, diskusi ilmiah yang tidak pernah surut, dan rapat-rapat evaluasi yang kadang berlangsung lebih lama daripada daftar hadir itu sendiri.

Para masyayikh dan muhadir (dosen) tak henti menanamkan ruh keilmuan, sementara para thullab dengan penuh semangat memakmurkan halaqah, kajian kitab, dan rutinitas akademik lainnya. Doa para pengasuh yang senantiasa mengalir ke langit menjadi energi yang tidak terlihat, namun sangat terasa keberkahannya.

Akreditasi Mumtaz ini menjadi bukti bahwa tradisi keilmuan yang dijalankan di Ma’had Aly Al Fithrah bukan formalitas, melainkan perjalanan ruhani dan intelektual yang hidup. Sebuah perjalanan yang menjadikan ilmu bukan sekadar materi dan ujian, tetapi juga adab, khidmah, dan kedekatan kepada Allah.

Mumtaz Bukan Garis Akhir, Tetapi Garis Awal untuk Melangkah Lebih Tinggi

Salah satu pesan penting dari pencapaian ini adalah bahwa predikat Mumtaz bukanlah garis akhir suatu perjuangan. Justru, ia menjadi garis start baru. Semakin tinggi pengakuan yang diraih, semakin besar pula amanah yang harus dipikul.

Predikat Mumtaz menjadi pengingat bahwa seluruh civitas Ma’had Aly—mulai dari mudir hingga para santri—harus terus memupuk kedisiplinan, memperkuat budaya ilmiah, serta menjaga adab dalam menuntut ilmu. Zona nyaman bukanlah tempat bagi mereka yang ingin terus maju. Oleh sebab itu, pencapaian ini menjadi momentum untuk melangkah lebih jauh, lebih dalam, dan lebih berkualitas dalam pengabdian dan penyebaran ilmu.

Harapannya, melalui pengakuan ini, Ma’had Aly Al Fithrah semakin mampu mencetak kader ulama yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga jernih hati, kuat adabnya, dan luas pengabdiannya kepada umat.

Penutup

Seluruh keluarga besar Ma’had Aly Al Fithrah Surabaya patut bersyukur dan berbahagia. Prestasi gemilang ini merupakan hasil kerja bersama—para masyayikh, muhadir, para santri, pengurus, dan seluruh pendukung pesantren. Semoga Allah menjaga keberkahan ilmu di lingkungan Ma’had Aly Al Fithrah dan menjadikannya wasilah lahirnya ulama-ulama yang istiqamah, tawadhu’, serta bermanfaat bagi umat. Aamiin