alfithrah

Menjadi Santri, Menggali Potensi, Meraih Prestasi

Santri Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya, terus menuai prestasi. Para santri tidak hanya sekedar menjadi partisipan dalam berbagai lomba dan kompetisi, baik yang berkaitan dengan turats ataupun umum, dari tingkat regional hingga nasional.

Meskipun hari-harinya disibukkan dengan mengaji dan wadhifah, para santri tetap bisa menggali dan menyalurkan potensi bakatnya. Para santri bisa mengikuti berbagai ekstrakurikuler yang diselenggarakan di ponpes Al Fithrah.

Ekstrakurikuler yang diadakan, diisi oleh ahli dibidangnya. Sehingga, para santri tidak hanya menyalurkan bakat, tapi juga mengukir prestasi yang membanggakan. Meskipun dengan persiapan yang serba mepet dan terbatas.

Terbaru, santri tingkat PDF Ulya Al Fithrah berhasil meraih juara dalam Kompetisi Nasional

Bahasa Arab & Bahasa Inggris tingkat SMA sederajat. Kompetisi ini diadakan oleh Lembaga Pengembangan Bahasa Universitas Hasyim Asy’ari (Unhasy) Jombang.

14 Santri dari kelas XI dan XII PDF Ulya ikut berpartisipasi dalam kompetisi yang diadakan tanggal 05 Oktober 2023 di Unhasyi. Khitobah, speech, news anchor dan arabic champion adalah kategori kompetisi yang diikuti.

Dari empat kategori itu, dua di antarnya berhasil dimenangkan oleh santri Al Fithrah;

Muhammad Fayrus Zam Zamy (Juara I Khitobah), Yusuf Surya Kusuma (Juara II Khitobah), Muna Izatun Nisa'( Juara I News Anchor), dan Ulya (Juara III News Anchor).

Kemenangan ini tentu diharapkan menularkan semangat ke santri-santri lain. Kemenangan ini juga mengabarkan bahwa para santri dengan segala kesibukan dan keterbatasannya, tetap bisa menorehkan prestasi di bidang yang mereka memiliki potensi.

dfn

Majlis Ahad Ke-2 Bulan Rabiul Awal 1445 H. (1)

Ribuan jama’ah memadati Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya, Ahad, 24 September 2023. Mereka datang dari berbagai daerah untuk bersama-sama mengikuti majlis ahad ke-2 bulan Rabiul Awal. Majlis yang dirintis dan secara istikomah diselenggarakan oleh Hadrotusy Syaikh KH. Achmad Asrori al-Ishaqy ra. – Allahu yarhamuhu -, pendiri dan pengasuh Al Fithrah.

Majlis ahad ke-2 bulan Rabiul Awal sekaligus menjadi majlis merayakan kelahiran Nabi Muhammad Saw. Sosok yang membawa pesan cinta dan kasih sayang pada seluruh semesta. Sosok yang mengentaskan manusia dari melakukan hal yang tercela dan sia-sia, menuju hal baik yang diridhai oleh Allah.

Sosok yang Allah jadikan tidak hanya tutur kata, perbuatan dan ketetapannya sebagai landasan dalam menjalankan agama Islam. Lebih dari itu pada Rasulullah, seluruh umat manusia menemukan panutan dan teladan dalam menjalani kehidupan di dunia. Tentang beragaul pada sesame manusia, dan berdampingan dengan makhluk lainnya

Jalannya Majlis

Kiai Asrori secara istikomah memulai majlis yang diselanggarakan di pagi hari pada jam 07.00 WIB. Setelah beliau meninggal, majlis-majlis yang ditinggalkan beliau juga secara istikomah mengikuti waktu mulai dari beliau. Majlis ini dibuka dengan pembacaan tawasul – berkirim fatihah kepada Nabi, sahabat, ulama’ dan ahlul arwah – yang dibacakan oleh KH. Najib Zamzami dari Kediri.

Majlis dilanjutkan dengan pembacaan Istighotsah berjama’ah yang dipimpin oleh KH. Althof, dari Pekalongan. Selepas istighotsah para jama’ah membaca Al-Qur’an yang disediakan perjuz. Bagi yang tidak kebagian, dianjurkan membaca surat al-Ikhlas sebanyak mungkin. Khatmil Qur’an ditutup dengan pembacaan surat al-Ikhlas dan al-Mu’awwidzatain oleh KH. Nur Slamet, dari Jombang.

Do’a Khatmil Qur’an menjadi acara selanjutnya yang dibacakan oleh KH. Mujib Qulyubi dari Jakarta. Selanjutnya para jama’ah membaca tahlil berjama’ah dipimpin oleh KH. Ma’ruf, dari Lamongan. Tahlil ditutup dengan pembcaan talqin oleh KH. Hilmi Basyaiban, dari Surabaya. Kemudian Habib Musthofa al-Jufri membacakan do’a tahlil.

dfn

Al Fithrah Adakan Pembinaan Kebersihan Tempat Pengelolaan Pangan

Siapa yang tak suka dengan jajanan yang dijual di tepi jalan? Entah itu yang dimasak dengan cara direbus, dikukus, digoreng atau dimasak lainnya. Jajanan memang cocok dikonsumsi apalagi jika kondisi perut tidak terlalu lapar. Tapi, apakah anda yakin jajanan yang anda konsumsi diproduksi secara higienis dan di tempat yang juga higienis?

Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya bekerja sama dengan Puskesman Tanah Kali Kedinding, menjawab keresahan ini dengan mengadakan Pembinaan Kebersihan Tempat Pengelolaan Pangan (Selasa, 19/09/2023). Memiliki kantin yang memproduksi makanan untuk 3000 lebih santri, dan ribuan jama’ah di acara rutinnya, tentu kebersihan tempat dan proses produksi makanan mutlak diperhatikan.

Tak hanya itu, banyak tenaga pendidik dan kependidikan Al Fithrah terlibat bahkan memiliki usaha di sektor makanan dan minuman. Mereka pun diundang dalam pembinaan ini. Selain itu warga sekitar yang memiliki usaha di sektor makanan dan minuman juga diundang dalam pembinaan ini.

Ibu Arofah Pinang TW, bagian sanitasi lingkungan Puskesman Tanah Kali Kedinding, menadi narasumber utama pembinaan ini dihadiri. Kurang lebih 30 peserta mengisi kursi duduk menyimak penjelasan dalam pembinaan yang terselenggara di auditorium ponpes Al Fithrah.

Harapan dengan adanya pembinaan ini, para pelaku usaha di bidang makanan dan minuman, khususnya yang kait erat dengan kegiatan-kegiatan di Al Fithrah, tetap menjaga dan meningkatkan kontrol kebersihan tempat dan proses pengelolaan makanan dan minuman. Dengan begitu makanan dan minuman yang diproduksi pun otomatis terjaga kebersihannya.

Kebersihan makanan  dan minuman tentu sangat berpengaruh terhadap kondisi tubuh setelah mengonsumsinya. Tidak sedikit penyakit yang bermula dari mengonsumsi makanan dan minuman yang tidak jelas kebersihannya. Maka benar sekali agama Islam menaruh perhatian besar pada kebersihan dan makanan.

dfn

Selalu Berhusnudhon: Sikap Terhadap Sahabat Dan Ahlul Bait Nabi Muhammad SAW.

Mengikuti petunjuk dan meneladani sahabat Rasulullah Saw merupakan salah satu pembahasan dalam kitab al-Muntakhobat karya KH. Ahmad Asrori al-Ishaqy – Allahu yarhamuhu -. Meskipun judulnya hanya sahabat, namun disitu juga menjelaskan  ahlul bait (keluarga) Rasulullah Saw. Pembahasan ini penting untuk dikaji mengingat tidak sedikit dari umat islam yang mencela para sahabat dan ahlul bait Rasulullah Saw sejak dulu hingga sekarang. Seperti kelompok Khawarij yang membenci keduanya, Nawasib yang membenci ahlul bait, Rafidhah yang mencela sahabat, dan kelompok-kelompok lainnya yang seragam dan serupa. Menanggapi tersebut, Kiai Asrori memberikan penjelasan bagaimana harusnya kita bersikap sebagai ahlussunnah terhadap sahabat dan ahlul bait Rasulullah Saw yang telah dijelaskan dalam kitab al-Muntakhobat.

Sahabat Rasulullah Saw, adalah setiap orang yang bertemu dengan Rasulullah Saw, beriman kepadanya, dan meninggal dalam kondisi muslim walaupun pernah murtad (keluar dari islam) di masa hidupnya. Tentu saja derajat dan keutamaan antar sahabat Rasulullah Saw berbeda-beda. Ada sahabat yang senantiasa mendampingi Rasulullah Saw, ada yang hanya sebentar saja. Ada sahabat yang lebih dahulu masuk Islam, ada pula yang belakangan masuk Islam. Akan tetapi semua sahabat Rasulullah Saw adalah orang-orang yang terpercaya dan merupakan generasi terbaik umat Islam sepanjang masa.

Adapun Istilah ahlul bait baik ditinjau secara bahasa maupun syara’ pada asalnya digunakan atau ditujukan khususnya untuk istri-istri Rasulullah Saw, dan diperluas penggunaannya untuk menyebut semua orang yang memiliki hubungan kekerabatan dengan Rasulullah Saw. Dalam pengertian lain, makna ahlul bait yang dimaksud bukan hanya sebagai hubungan kekerabatan saja, namun orang-orang yang sesuai dengan manhaj Rasulullah dan bertaqwa. Pengertian ini lebih relevan saat ini, mengingat tidak sedikit juga orang-orang yang hanya mengandalkan nasab saja tanpa meniru hal ihwal perilaku yang diajarkan oleh Rasulullah Saw.

Pujian Terhadap Sahabat Rasulullah

Allah Swt dalam Al-Qur’an memberi pujian pada sahabat dan ahlul bait dalam beberapa ayat, di antaranya dalam QS. al-Fath ayat 29,

مُحَمَّدٌ رَّسُوْلُ اللّٰهِ وَالَّذِيْنَ مَعَهُ اَشِدَّآءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَآءُ بَيْنَهُمْ تَرٰىهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَّبْتَغُوْنَ فَضْلًا مِّنَ اللّٰهِ وَرِضْوَانًا  سِيْمَاهُمْ فِيْ وُجُوْهِهِمْ مِّنْ اَثَرِ السُّجُوْدِ ذٰلِكَ مَثَلُهُمْ فِى التَّوْرٰىةِ وَمَثَلُهُمْ فِى الْاِنْجِيْلِ كَزَرْعٍ اَخْرَجَ شَطْئَهُ فَاٰزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوٰى عَلٰى سُوْقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيْظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوْا الصّٰلِحٰتِ مِنْهُمْ مَّغْفِرَةً وَّاَجْرًا عَظِيْمًا 

Nabi Muhammad adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengannya bersikap keras terhadap orang-orang kafir (yang bersikap memusuhi), tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu melihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridaan-Nya. Pada wajah mereka tampak tanda-tanda bekas sujud (bercahaya). Itu adalah sifat-sifat mereka (yang diungkapkan) dalam Taurat dan Injil, yaitu seperti benih yang mengeluarkan tunasnya, kemudian tunas itu makin kuat, lalu menjadi besar dan tumbuh di atas batangnya. Tanaman itu menyenangkan hati orang yang menanamnya. (Keadaan mereka diumpamakan seperti itu) karena Allah hendak membuat marah orang-orang kafir. Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.

Kiai Asrori – dalam al-Muntakhobat, memaparkan bahwa Allah – lewat ayat ini – memuji sahabat dan ahlul bait  Rasulullah sebagai “orang-orang yang bersama Rasulullah”. Selain itu, ayat ini juga menginformasikan bahwa keduanya terjamin, ternaungi dan terjaga (dari kemurtadan). Sehingga ayat ini juga sebagai ancaman bagi orang-orang yang membenci sahabat dan ahlul bait Rasulullah Saw.

Imam al-Baihaqi meriwayatkan hadits yang menjelaskan para sahabat Rasulullah Saw laksana nujum, bintang yang mengeluarkan sinarnya sendiri. Dalam hadits ini, Rasulullah Saw menjelaskan bahwa mencari petunjuk itu dengan cara mengikuti mereka dalam segala perilaku dan suri tauladan mereka, baik lahir maupun batin.

Dalam mengikuti sahabat dan ahlul bait, Kiai Asrori menyebutkan harus secara secara dhahir pun batin. Mengikuti sahabat Rasulullah secara dhahir, telah masyhur di kalangan ulama dan fuqaha’ seperti hukum-hukum tentang halal, haram, pidana, denda, cerai, masalah rumah tangga dan lainnya. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah Saw. yakni,

Orang yang paling sayang terhadap umatku adalah Abu Bakar, yang paling kuat dalam agama Allah adalah Umar, yang paling adalah Utsman, yang paling alim dalam ilmu faraidh adalah Zaid bin Tsabit,, yang paling tahu tentang halal dan haram adalah Mu’adz bin Jabal, yang paling ahli dalam putusan hukum adalah Ali bin Thalib, dan tidak ada langit yang menjadi atap serta tidak ada bumi yang menjadi alas bagi manusia yang lebih jujur dari Abu Dzar.

Hadits di atas mengindikasikan bahwa Rasulullah Saw sendiri yang telah melegitimasi sahabat dalam menyampaikan suatu hukum-hukum (dhahir) Allah SWT.

Selain itu, perilaku batin juga telah masyhur bahkan mutawatir mengenai semua ucapan, perbuatan dan ahwal para sahabat. Salah satu contohnya seperti riwayat dari sayyidina Abu Bakar ra., beliau berkata, “tiga ayat yang telah menyibukkanku dari hal lain, adalah: dari QS. Yunus 107 yang mengingatkan tentang keimanan qadha qadar, QS. Al Baqarah yang mengingatkan dzikir, dan QS Hud yang mengingatkan tentang pengaturan rezeki.” Riwayat ini mengindikasikan bahwa Sayyidina Abu Bakar memberikan pengalaman spiritualnya agar umat tidak lalai dengan nikmat duniawi.

Walhasil, dalam menanggapi kelompok yang mencela para sahabat dan ahlul bait Rasulullah Saw, Kiai Asrori justru memberikan pemahaman bahwa merekalah yang sebenarnya tercela. Beliau menyebutkan dalil-dalil Alquran dan hadis disertai penafsiran yang menunjukkan kemuliaan sahabat yang dipuji secara langsung oleh Allah Swt dan Rasulullah Saw. Bagaimana mungkin kita sebagai umat islam mencela orang-orang yang jelas dipuji oleh Allah Swt dan punya posisi penting di sisi Rasulullah Saw? Mengikuti laku para sahabat secara dhahir dan batin tentu sah hukumnya. Apalagi mereka adalah orang-orang yang secara langsung mengamati dan pengamal  laku Rasulullah Saw. Lalu bagaimana sikap kita kala menemukan berbagai perbedaan di kalangan para sahabat atau ahlul bait? Husnudhon, tidak ada yang lain. Meyakini bahwa sahabat telah berijtihad sesuai pengetahuan dan keilmuan mereka masing-masing. Seyogyanya kita mengikuti sahabat yang sesuai dengan hal ihwal dan kondisi kita tanpa mencela sahabat lainnya.

(Kajian Muntakhobat MKPI Al fithrah oleh Dr, Muhammad Khudori M. Th.I)

zsa/dfn

Peringati Hari Kemerdekaan: Al Fithrah Adakan Lomba dan Penampilan Santri

Selain upacara bendera, pelaksanaan lomba adalah kegiatan wajib di bulan Agustus. Bulan merdekan bangsa Indonesia. Demikian ini dilaksanakan di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah.

Lomba di hari kemerdekaan merupakan upaya napak tilas perjuangan. Memeriahkannya adalah bagian dari mengingat betapa sulitnya para pahlawan dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Terlibat dalam pelaksanaan lomba adalah upaya mengenang memori tentang Indonesia pada masa lalu dan mensyukurinya pada masa kini.

Lomba balap karung misalnya. Karung goni sempat menjadi pakaian pokok nenek moyang kita pada masa penjajahan dulu. Mereka perlu berjalan terseok-seok untuk sampai pada tujuan yang diharapkannya.

Al Fithrah adakan lomba hari kemerdekaan

Untuk memperingati hari kemerdekaan maka setiap tanggal 17 Agustus diadakan aktivitas-aktivitas yang meningkatkan kecintaan. Di antara aktivitas tersebut adalah lomba tujuh belasan. Selain meningkatkan kecintaan, lomba memperingati tujuh belas Agustus juga bisa mempererat kebersamaan. Menghilangkan sekat perbedaan ras, suku, agamanya.

Lomba memperingati hari kemerdekaan ke-78 Republik Indonesia di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya dilaksanakan selama beberapa hari. Lomba dibuka pada Ahad 13 Agustus 2023. Pembukaan lomba diawali dengan pertandingan persahabatan futsal antara pengajar PDF Wustho dan PDF Ulya Al Fithrah.

Lomba tujuh belasan yang dilaksanakan di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah ini terdiri dari lomba ilmiah dan lomba hiburan. Lomba ilmiah yang dimaksud adalah lomba yang bisa meningkatkan keahlian di bidang pelajaran. Sedang lomba hiburan yang dimaksud adalah olahraga badan.

Kategori lomba hari kemerdekaan

Kategori lomba hari kemerdekaan di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya sangat beragam. Pelaksanaannya tahun ini dipanitiai per unit pendidikan. Santri PDF Wustho dan Ulya dibedakan sesuai tingkatannya. Juga antara santri putra dan putri.

Untuk kegiatan lomba santri putri berpusat di area asrama putri, sementara lomba santri putra di area asrama putra di timur masjid Al Fithrah. Lomba-lomba yang dilaksanakan tak kalah meriah dengan lomba di luaran sana. Terutama dalam antusiasme para pesertanya. Dari lomba ini juga bisa diketahui mana-mana santri dengan bakat khusus yang dimilikinya.

Di jenjang PDF Wustho, diadakan lomba qiroatul kitab. Kitab yang dibaca dalam lomba ini adalah Kitab Safinatun Najah. Ada juga lomba manaqib, hafalan Imrithi, lalaran Imrithi, lomba adzan, lomba tartil, lomba puisi Bahasa Inggris, lomba pidato Bahasa Arab. Dalam kategori lomba hiburan ada lomba futsal dan balap karung.

Di jenjang PDF Ulya, setiap santri diberi pilihan untuk mengikuti beberapa kategori lomba yang diadakan. Di antaranya adalah lomba qiroatul kitab Fathul Qorib, lomba hafalan alfiyah, speech, khitobah, debat Bahasa Indonesia, hafalan tashrif, cerdas cermat Islam, lalaran Alfiyah dan futsal.

Selain lomba di unit pendidikan, rangkaian lomba tujuh belas Agustus juga diadakan oleh Majelis Kebersamaan dalam kajian dan Pembahasan Ilmiah (MKPI) Putri. Di antara lomba yang diadakan adalah lomba menulis cerpen dan lomba kaligrafi. Selama tiga hari masa lomba ini kegiatan belajar mengajar diliburkan.

Penutupan lomba hari kemerdekaan

Acara penutupan lomba hari kemerdekaan dilaksanakan di lapangan Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah. Kegiatan di lapangan ini dikhususkan untuk santri putra. Sementara untuk santri dilaksanakan di area asrama putri.

Di acara penutupan ini juga diberikan penghargaan kepada para juara. Dalam sambutannya, Ust. Nasiruddin, M.Pd menyampaikan perlunya para santri tidak berhenti pada lomba saja.

“Yang sangat penting dalam lomba ini adalah keberlanjutan dalam belajar. Siyap?” kata Kepala Bagian Pendidikan Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya disambut pernyataan siap para santri.

“Kalau sampeyan belajar dan berhasil, mulai Sekolah Dasar, Wustho, Ulya dan sarjana. Nanti di masyarakat akan merdeka” tambah beliau lagi. “Terima kasih kepada semua santri, baik wustho maupun ulya. Para asatid yang telah terlibat dalam acara ini. Jazakumullah ahsanal jaza. Semoga Allah SWT berkenan memberikan balasan yang tebaik” tutup beliau.

mz/dfn